Home >Documents >WRAP UP SK 1 MPT ()

WRAP UP SK 1 MPT ()

Date post:21-Oct-2015
Category:
View:141 times
Download:1 times
Share this document with a friend
Description:
gjgj
Transcript:

SKENARIO MENCEGAH PENYAKIT DENGAN VAKSINASISeorang bayi berumur 2 bulan mendapat vaksinasi BCG di lengan kanan atas untuk mencegah penyakit dan mendapatkan kekebalan. Empat minggu kemudian bayi tersebut di bawa kembali ke RS karena timbul benjolan di ketiak kanan. Setelah dokter melakukan pemeriksaan didapatkan pembesaran nodus limfatikus di regio aksila dekstra. Hal ini disebabkan adanya reaksi terhadap antigen yang terdapat dalam vaksin tersebut dan menimbulkan respon imun tubuh.

KATA SULIT

1. Vaksinasi : Tindakan memberi vaksin untuk pembentukan imun di dalan tubuh.2. Bacillus Colmette Guerin (BCG): Jenis vaksin untuk mengurangi resiko penyakit TBC berkembang menjadi komplikasi3. Nodus limfatikus: Sama dengan limfonodus, terdiri dari jaringan limfosit4. Antigen: Substansi yang mampu menstimulasi antibodi5. Respon Imun: Respon kekebalan tubuh terhadap benda asing

PERTANYAAN1. Kenapa pemberian vaksinasi harus dilakukan di lengan kanan atas?2. Mengapa timbul benjolan di axilla dekstra?3. Apa reaksi/dampak setelah dilakukan vaksinasi BCG?4. Mengapa pemberian vaksin bisa menghasilkan antibodi?

JAWABAN1. Letak pemberian vaksinasi tergantung jenis vaksin yang di berikan dan tujuan pemberian vaksin.2. Bayi 2 bulan diberi vaksin, tetapi kondisi bayi (respon imun) rendah sehingga vaksin (antigen) ditangkap oleh makrofag dibawa ke nn.II terdekat, sehingga sel limfosit berpoliferasi dan timbul benjolan.3. Reaksi lokal yaitu di tempat penyuntikan timbul rubor dan benjolan kecil. Reaksi regional yaitu ada pembesaran limfonodus.4. Karena ada antibody.

HIPOTESIS

Bayi 2 bulan di beri vaksin BCG (antigen) respon imun makrofag membawa antigen ke nn.II terdekat sel limfosit berpoliferasi timbul benjolan

SASARAN BELAJAR

LI 1.Memahami dan Menjelaskan Vaksin dan Imunisasi (Secara Umum)LO 1.1Memahami dan Menjelaskan Vaksin

LI 2.Memahami dan Menjelaskan Organ LimfoidLO 2.1Memahami Anatomi Makroskopik Organ LimfoidLO 2.2Memahami Anatomi Mikroskopik Organ Limfoid

LI 3.Memahami dan Menjelaskan Respon ImunLO 3.1Memahami dan Menjelaskan Respon Imun Alamiah dan di DapatLO 3.2Memahami dan Menjelaskan Sistem Imun Humoral dan Selular

LI 4.Memahami dan Menjelaskan AntigenLO 4.1Definisi AntigenLO 4.2Klasifikasi Antigen

LI 5.Memahami dan Menjelaskan AntibodiLO 5.1Definisi AntibodiLO 5.2Klasifikasi Antibodi

LI 6.Memahami dan Menjelaskan Vaksin menurut Syariat Islam

LI 1.Memahami dan Menjelaskan Vaksin atau Imunisasi (Secara Umum)LO 1.1Definisi Vaksin atau Imunisasi Imunisasi adalah pemberian vaksin untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu. Vaksin adalah suatu obat yang diberikan untuk membantu mencegah suatu penyakit. Vaksin membantu tubuh untuk menghasilkan antibodi. Antibodi ini berfungsi melindungi terhadap penyakit. Vaksin tidak hanya menjaga agar anak tetap sehat, tetapi juga membantu membasmi penyakit yang serius yang timbul pada masa kanak-kanak. Vaksin secara umum cukup aman. Keuntungan perlindungan yang diberikan vaksin jauh lebih besar daripada efek samping yang mungkin timbul. Dengan adanya vaksin maka banyak penyakit masa kanak-kanak yang serius, yang sekarang ini sudah jarang ditemukan.

LO 1.2Tujuan Vaksin Mencegah terjadinya penyakit tertentu pada seseorang Menghilangkan penyakit tertentu pada populasi Keberhasilan Imunisasi tergantung faktor:1) Status Imun Penjamu: Adanya Ab spesifik pada penjamu keberhasilan vaksinasi, mis: campak pada bayi kolustrum ASI IgA polio Maturasi imunologik: neonatus fungsi makrfag, kadar komplemen, aktifasi optonin. Pembentukan Ab spesifik terhadap Ag kurang hasil vaksinasi ditunda sampai umur 2 bulan. Cakupan imunisasi semaksimal mungkin agar anak kebal secara simultan, bayi diimunisasi Frekuensi penyakit , dampaknya pada neonatus berat imunisasi dapat diberikan pada neonatus. Status imunologik (spt defisiensi imun) respon terhadap vaksin kurang.2) GenetikSecara genetik respon imun manusia terhadap Ag tertentu baik, cukup, rendah keberhasilan vaksinasi tidak 100%3) Kualitas vaksina. Cara pemberian, misal polio oral imunitas lokal dan sistemikb. Dosis vaksin: Tinggi = menghambat respon, menimbulkan efek samping Rendah = tidak merangsang sel imunokompetenc. Frekuensi PemberianRespon imun sekunder = Sel efektor aktif lebih cepat, lebih tinggi produksinya, afinitas lebih tinggi. Frekuensi pemberian mempengaruhi respon imun yang terjadi . Bila vaksin berikutnya diberikan pada saat kadar Ab spesifik masih tinggi Ag dinetralkan oleh Ab spesifik tidak merangsang sel imunokompeten.d. Ajuvan : Zat yang meningkatkan respon imun terhadap Ag Mempertahankan Ag tidak cepat hilang Mengaktifkan sel imunokompetene. Jenis VaksinVaksin hidup menimbulkan respon imun lebih baik.4) Kandungan vaksin Vaksin yang dilemahkan: polio, campak, BCG Vaksin mati : pertusis Eksotoksin : Toksoid, dipteri, tetanus1. Ajuvan : persenyawaan aluminium2. Cairan pelarut : air, cairan garam fisiologis, kultur jaringan, telur.5) Hal hal yang merusak vaksin: Panas: semua vaksin Sinar matahari: BCG Pembekuan : toxoid Desinfeksi/antiseptik : sabun6) Jadwal Imunisasi Untuk keseragaman Mendapatkan respon imun yang baik berdasarkan keadaan epidemiologi, prioritas penyebab kematian, kesakitan

LO 1.3Jenis-jenis dan mekanisme vaksina. Imunisasi BCG

Vaksinasi BCG memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit tuberkulosis (TBC). BCG diberikan 1 kali sebelum anak berumur 2 bulan. BCG ulangan tidak dianjurkan karena keberhasilannya diragukan. Vaksin disuntikkan secara intrakutan pada lengan atas, untuk bayi berumur kurang dari 1 tahun diberikan sebanyak 0,05 mL dan untuk anak berumur lebih dari 1 tahun diberikan sebanyak 0,1 mL. Vaksin ini mengandung bakteri Bacillus Calmette-Guerrin hidup yang dilemahkan, sebanyak 50.000-1.000.000 partikel/dosis. Kontraindikasi untuk vaksinasi BCG adalah penderita gangguan sistem kekebalan (misalnya penderita leukemia, penderita yang menjalani pengobatan steroid jangka panjang, penderita infeksi HIV).

Reaksi yang mungkin terjadi: 1) Reaksi lokal : 1-2 minggu setelah penyuntikan, pada tempat penyuntikan timbul kemerahan dan benjolan kecil yang teraba keras. Kemudian benjolan ini berubah menjadi pustula (gelembung berisi nanah), lalu pecah dan membentuk luka terbuka (ulkus). Luka ini akhirnya sembuh secara spontan dalam waktu 8-12 minggu dengan meninggalkan jaringan parut. 2) Reaksi regional : pembesaran kelenjar getah bening ketiak atau leher, tanpa disertai nyeri tekan maupun demam, yang akan menghilang dalam waktu 3-6 bulan. Komplikasi yang mungkin timbul adalah: Pembentukan abses (penimbunan nanah) di tempat penyuntikan karena penyuntikan yang terlalu dalam. Abses ini akan menghilang secara spontan. Untuk mempercepat penyembuhan, bila abses telah matang, sebaiknya dilakukan aspirasi (pengisapan abses dengan menggunakan jarum) dan bukan disayat. Limfadenitis supurativa, terjadi jika penyuntikan dilakukan terlalu dalam atau dosisnya terlalu tinggi. Keadaan ini akan membaik dalam waktu 2-6 bulan.

b. Imunisasi DPT

Imunisasi DPT adalah suatu vaksin 3-in-1 yang melindungi terhadap difteri, pertusis dan tetanus. Difteri adalah suatu infeksi bakteri yang menyerang tenggorokan dan dapat menyebabkan komplikasi yang serius atau fatal. Pertusis (batuk rejan) adalah inteksi bakteri pada saluran udara yang ditandai dengan batuk hebat yang menetap serta bunyi pernafasan yang melengking. Pertusis berlangsung selama beberapa minggu dan dapat menyebabkan serangan batuk hebat sehingga anak tidak dapat bernafas, makan atau minum. Pertusis juga dapat menimbulkan komplikasi serius, seperti pneumonia, kejang dan kerusakan otak. Tetanus adalah infeksi bakteri yang bisa menyebabkan kekakuan pada rahang serta kejang. Vaksin DPT adalah vaksin 3-in-1 yang bisa diberikan kepada anak yang berumur kurang dari 7 tahun.Biasanya vaksin DPT terdapat dalam bentuk suntikan, yang disuntikkan pada otot lengan atau paha. Imunisasi DPT diberikan sebanyak 3 kali, yaitu pada saat anak berumur 2 bulan (DPT I), 3 bulan (DPT II) dan 4 bulan (DPT III); selang waktu tidak kurang dari 4 minggu. Imunisasi DPT ulang diberikan 1 tahun setelah DPT III dan pada usia prasekolah (5-6 tahun). Jika anak mengalami reaksi alergi terhadap vaksin pertusis, maka sebaiknya diberikan DT, bukan DPT. Setelah mendapatkan serangkaian imunisasi awal, sebaiknya diberikan booster vaksin Td pada usia 14-16 tahun kemudian setiap 10 tahun (karena vaksin hanya memberikan perlindungan selama 10 tahun, setelah 10 tahun perlu diberikan booster). Hampir 85% anak yang mendapatkan minimal 3 kali suntikan yang mengandung vaksin difteri, akan memperoleh perlindungan terhadap difteri selama 10 tahun. DPT sering menyebakan efek samping yang ringan, seperti demam ringan atau nyeri di tempat penyuntikan selama beberapa hari. Efek samping tersebut terjadi karena adanya komponen pertusis di dalam vaksin. Pada kurang dari 1% penyuntikan, DTP menyebabkan komplikasi berikut : demam tinggi (lebih dari 40,5 Celsius) kejang kejang demam (resiko lebih tinggi pada anak yang sebelumnya pernah mengalami kejang atau terdapat riwayat kejang dalam keluarganya) syok (kebiruan, pucat, lemah, tidak memberikan respon).

Jika anak sedang menderita sakit yang lebih serius dari pada flu ringan, imunisasi DPT bisa ditunda sampai anak sehat. Jika anak pernah mengalami kejang, penyakit otak atau perkembangannya abnormal, penyuntikan DPT sering ditunda sampai kondisinya membaik atau kejangnya bisa dikendalikan. 1-2 hari setelah mendapatkan suntikan DPT, mungkin akan terjadi demam ringan, nyeri, kemerahan atau pembengkakan di tempat penyuntikan. Untuk mengatasi nyeri dan menurunkan demam, bisa diberikan asetaminofen (atau ibuprofen). Untuk mengurangi nyeri di tempat penyuntikan juga bisa dilakukan kompres hangat atau lebih sering menggerak-gerakkan lengan maupun tungkai yang bersangkutan.

c. Imunisasi DT

Imunisasi DT memberikan kekebalan aktif terhadap toksin yang dihasilkan oleh kuman penyebab difteri dan tetanus. Vaksin DT dibuat untuk keperluan khusus, misalnya pada anak yang tidak boleh atau tidak perlu menerima imunisasi pertusis, tetapi masih perlu menerima imunisasi difteri dan tetanus. Cara pemberian imunisasi dasar dan ulangan sama dengan imunisasi DPT. Vaksin disuntikkan pada otot lengan atau paha sebanyak 0,5 mL. Vaksin ini tidak boleh diberikan kepada anak yang sedang sakit berat atau menderita demam tinggi. Efek samping yang mungkin terjadi adalah demam ringan dan pembengkakan lokal di tempat penyuntikan, yang biasanya berlangsung selama 1-2 hari.

d. Imunisasi TT

Imunisasi tetanus (TT, tetanus toksoid) memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit tetanus. ATS (Anti Tetanus Serum) juga dapat digunakan untuk pencegahan (imunisasi pasif) maupun pengobatan penyakit tetanus. Kepada ibu hamil, imunisasi TT diberikan sebanyak 2 kali, yaitu pada saat kehamilan berumur 7 bulan dan 8 bulan. Vaksin ini disuntikkan pada otot paha atau lengan sebanyak 0,5 mL. Efek samping dari tetanus toksoid adalah reaksi lokal pada tempat penyuntikan, yaitu berupa kemerahan, pembengkakan dan rasa nyeri.

e. Imunisasi Polio

Imunisasi polio memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit poliomielitis. Polio bisa menyebabkan nyeri otot dan kelumpuhan pada salah satu maupun kedua lengan/tungkai. Polio juga bisa menyebabkan kelumpuhan pada otot-otot pernafasan dan otot untuk menelan. Polio bisa menyebabkan kematian. Terdapat 2 macam vaksin polio : IPV (Inactivated Polio Vaccine, Vaksin Salk), mengandung virus polio yang telah dimatikan dan diberikan melalui suntikan OPV (Oral Polio Vaccine, Vaksin Sabin), mengandung vaksin hidup yang telah dilemahkan dan diberikan dalam bentuk pil atau cairan. Bentuk trivalen (TOPV) efektif melawan semua bentuk polio, bentuk monovalen (MOPV) efektif melawan 1 jenis polio. Imunisasi dasar polio diberikan 4 kali (polio I,II, III, dan IV) dengan interval tidak kurang dari 4 minggu. Imunisasi polio ulangan diberikan 1 tahun setelah imunisasi polio IV, kemudian pada saat masuk SD (5-6 tahun) dan pada saat meninggalkan SD (12 tahun).

Di Indonesia umumnya diberikan vaksin Sabin. Vaksin ini diberikan sebanyak 2 tetes (0,1 mL) langsung ke mulut anak atau dengan menggunakan sendok yang berisi air gula. Kontra indikasi pemberian vaksin polio: Diare berat Gangguan kekebalan (karena obat imunosupresan, kemoterapi, kortikosteroid) Kehamilan.

Efek samping yang mungkin terjadi berupa kelumpuhan dan kejang-kejang. Dosis pertama dan kedua diperlukan untuk menimbulkan respon kekebalan primer, sedangkan dosis ketiga dan keempat diperlukan untuk meningkatkan kekuatan antibobi sampai pada tingkat yang tertinggi. Setelah mendapatkan serangkaian imunisasi dasar, kepada orang dewasa tidak perlu dilakukan pemberian booster secara rutin, kecuali jika dia hendak bepergian ke daerah dimana polio masih banyak ditemukan. Kepada orang dewasa yang belum pernah mendapatkan imunisasi polio dan perlu menjalani imunisasi, sebaiknya hanya diberikan IPV. Kepada orang yang pernah mengalami reaksi alergi hebat (anafilaktik) setelah pemberian IPV, streptomisin, polimiksin B atau neomisin, tidak boleh diberikan IPV. Sebaiknya diberikan OPV. Kepada penderita gangguan sistem kekebalan (misalnya penderita AIDS, infeksi HIV, leukemia, kanker, limfoma), dianjurkan untuk diberikan IPV. IPV juga diberikan kepada orang yang sedang menjalani terapi penyinaran, terapi kanker, kortikosteroid atau obat imunosupresan lainnya. IPV bisa diberikan kepada anak yang menderita diare. Jika anak sedang menderita penyakit ringan atau berat, sebaiknya pelaksanaan imunisasi ditunda sampai mereka benar-benar pulih. IPV bisa menyebabkan nyeri dan kemerahan pada tempat penyuntikan, yang biasanya berlangsung hanya selama beberapa hari.

f. Imunisasi Campak

Imunisasi campak memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit campak (tampek). Imunisasi campak diberikan sebanyak 1 dosis pada saat anak berumur 9 bulan atau lebih. Pada kejadian luar biasa dapat diberikan pada umur 6 bulan dan diulangi 6 bulan kemudian. Vaksin disuntikkan secara subkutan dalam sebanyak 0,5 mL. Kontra indikasi pemberian vaksin campak : infeksi akut yang disertai demam lebih dari 38?Celsius gangguan sistem kekebalan pemakaian obat imunosupresan alergi terhadap protein telur hipersensitivitas terhadap kanamisin dan eritromisin wanita hamil. Efek samping yang mungkin terjadi berupa demam, ruam kulit, diare, konjungtivitis dan gejala kataral serta ensefalitis (jarang).

g. Imunisasi MMR

Imunisasi MMR memberi perlindungan terhadap campak, gondongan dan campak Jerman dan disuntikkan sebanyak 2 kali. Campak menyebabkan demam, ruam kulit, batuk, hidung meler dan mata berair. Campak juga menyebabkan infeksi telinga dan pneumonia. Campak juga bisa menyebabkan masalah yang lebih serius, seperti pembengkakan otak dan bahkan kematian. Gondongan menyebabkan demam, sakit kepala dan pembengkakan pada salah satu maupun kedua kelenjar liur utama yang disertai nyeri. Gondongan bisa menyebabkan meningitis (infeksi pada selaput otak dan korda spinalis) dan pembengkakan otak. Kadang gondongan juga menyebabkan pembengkakan pada buah zakar sehingga terjadi kemandulan. Campak Jerman (rubella) menyebabkan demam ringan, ruam kulit dan pembengkakan kelenjar getah bening leher. Rubella juga bisa menyebakban pembengkakan otak atau gangguan perdarahan. Jika seorang wanita hamil menderita rubella, bisa terjadi keguguran atau kelainan bawaan pada bayi yang dilahirkannya (buta atau tuli). Terdapat dugaan bahwa vaksin MMR bisa menyebabkan autisme, tetapi penelitian membuktikan bahwa tidak ada hubungan antara autisme dengan pemberian vaksin MMR. Vaksin MMR adalah vaksin 3-in-1 yang melindungi anak terhadap campak, gondongan dan campak Jerman. Vaksin tunggal untuk setiap komponen MMR hanya digunakan pada keadaan tertentu, misalnya jika dianggap perlu memberikan imunisasi kepada bayi yang berumur 9-12 bulan. Suntikan pertama diberikan pada saat anak berumur 12-15 bulan. Suntikan pertama mungkin tidak memberikan kekebalan seumur hidup yang adekuat, karena itu diberikan suntikan kedua pada saat anak berumur 4-6 tahun (sebelum masuk SD) atau pada saat anak berumur 11-13 tahun (sebelum masuk SMP). Imunisasi MMR juga diberikan kepada orang dewasa yang berumur 18 tahun atau lebih atau lahir sesudah tahun 1956 dan tidak yakin akan status imunisasinya atau baru menerima 1 kali suntikan MMR sebelum masuk SD. Dewasa yang lahir pada tahun 1956 atau sebelum tahun 1956, diduga telah memiliki kekebalan karena banyak dari mereka yang telah menderita penyakit tersebut pada masa kanak-kanak. Pada 90-98% orang yang menerimanya, suntikan MMR akan memberikan perlindungan seumur hidup terhadap campak, campak Jerman dan gondongan. Suntikan kedua diberikan untuk memberikan perlindungan adekuat yang tidak dapat dipenuhi oleh suntikan pertama. Efek samping yang mungkin ditimbulkan oleh masing-masing komponen vaksin: Komponen campak 1-2 minggu setelah menjalani imunisasi, mungkin akan timbul ruam kulit. Hal ini terjadi pada sekitar 5% anak-anak yang menerima suntikan MMR. Demam 39,50 Celsius atau lebih tanpa gejala lainnya bisa terjadi pada 5-15% anak yang menerima suntikan MMR. Demam ini biasanya muncul dalam waktu 1-2 minggu setelah disuntik dan berlangsung hanya selama 1-2 hari. Efek samping tersebut jarang terjadi pada suntikan MMR kedua.

Komponen gondongan Pembengkakan ringan pada kelenjar di pipi dan dan dibawah rahang, berlangsung selama beberapa hari dan terjadi dalam waktu 1-2 minggu setelah menerima suntikan MMR.

Komponen campak Jerman Pembengkakan kelenjar getah bening dan atau ruam kulit yang berlangsung selama 1-3 hari, timbul dalam waktu 1-2 mingu setelah menerima suntikan MMR. Hal ini terjadi pada 14-15% anak yang mendapat suntikan MMR. Nyeri atau kekakuan sendi yang ringan selama beberapa hari, timbul dalam waktu 1-3 minggu setelah menerima suntikan MMR. Hal ini hanya ditemukan pada 1% anak-anak yang menerima suntikan MMR, tetapi terjadi pada 25% orang dewasa yang menerima suntikan MMR. Kadang nyeri/kekakuan sendi ini terus berlangsung selama beberapa bulan (hilang-timbul). Artritis (pembengkakan sendi disertai nyeri) berlangsung selama 1 minggu dan terjadi pada kurang dari 1% anak-anak tetapi ditemukan pada 10% orang dewasa yang menerima suntikan MMR. Jarang terjadi kerusakan sendi akibat artritis ini. Nyeri atau mati rasa pada tangan atau kaki selama beberapa hari lebih sering ditemukan pada orang dewasa. Meskipun jarang, setelah menerima suntikan MMR, anak-anak yang berumur dibawah 6 tahun bisa mengalami aktivitas kejang (misalnya kedutan). Hal ini biasanya terjadi dalam waktu 1-2 minggu setelah suntikan diberikan dan biasanya berhubungan dengan demam tinggi.

Keuntungan dari vaksin MMR lebih besar jika dibandingkan dengan efek samping yang ditimbulkannya. Campak, gondongan dan campak Jerman merupakan penyakit yang bisa menimbulkan komplikasi yang sangat serius. Jika anak sakit, imunisasi sebaiknya ditunda sampai anak pulih. Imunisasi MMR sebaiknya tidak diberikan kepada: anak yang alergi terhadap telur, gelatin atau antibiotik neomisin anak yang 3 bulan yang lalu menerima gamma globulin anak yang mengalami gangguan kekebalan tubuh akibat kanker, leukemia, limfoma maupun akibat obat prednison, steroid, kemoterapi, terapi penyinaran atau obati imunosupresan. wanita hamil atau wanita yang 3 bulan kemudian hamil.

h. Imunisasi Hib

Imunisasi Hib membantu mencegah infeksi oleh Haemophilus influenza tipe b. Organisme ini bisa menyebabkan meningitis, pneumonia dan infeksi tenggorokan berat yang bisa menyebabkan anak tersedak. Vaksin Hib diberikan sebanyak 3 kali suntikan, biasanya pada saat anak berumur 2, 4 dan 6 bulan.

i. Imunisasi Varisella

Imunisasi varisella memberikan perlindungan terhadap cacar air. Cacar air ditandai dengan ruam kulit yang membentuk lepuhan, kemudian secara perlahan mengering dan membentuk keropeng yang akan mengelupas. Anak yang berumur 12-18 bulan dan belum pernah menderita cacar air dianjurkan untuk menjalani imunisasi varisella. Anak-anak yang mendapatkan suntikan varisella sebelum berumur 13 tahun hanya memerlukan 1 dosis vaksin. Kepada anak-anak yang berumur 13 tahun atau lebih, yang belum pernah mendapatkan vaksinasi varisella dan belum pernah menderita cacar air, sebaiknya diberikan 2 dosis vaksin dengan selang waktu 4-8 minggu. Cacar air disebabkan oleh virus varicella-zoster dan sangat menular. Biasanya infeksi bersifat ringan dan tidak berakibat fatal; tetapi pada sejumlah kasus terjadi penyakit yang sangat serius sehingga penderitanya harus dirawat di rumah sakit dan beberapa diantaranya meninggal. Cacar air pada orang dewasa cenderung menimbulkan komplikasi yang lebih serius. Vaksin ini 90-100% efektif mencegah terjadinya cacar air. Terdapat sejumlah kecil orang yang menderita cacar air meskipun telah mendapatkan suntikan varisella; tetapi kasusnya biasanya ringan, hanya menimbulkan beberapa lepuhan (kasus yang komplit biasanya menimbulkan 250-500 lepuhan yang terasa gatal) dan masa pemulihannya biasanya lebih cepat. Vaksin varisella memberikan kekebalan jangka panjang, diperkirakan selama 10-20 tahun, mungkin juga seumur hidup. Efek samping dari vaksin varisella biasanya ringan, yaitu berupa : demam nyeri dan pembengkakan di tempat penyuntikan ruam cacar air yang terlokalisir di tempat penyuntikan.

Efek samping yang lebih berat adalah : kejang demam, yang bisa terjadi dalam waktu 1-6 minggu setelah penyuntikan pneumonia reaksi alergi sejati (anafilaksis), yang bisa menyebabkan gangguan pernafasan, kaligata, bersin, denyut jantung yang cepat, pusing dan perubahan perilaku. Hal ini bisa terjadi dalam waktu beberapa menit sampai beberapa jam setelah suntikan dilakukan dan sangat jarang terjadi. ensefalitis penurunan koordinasi otot.

Imunisasi varisella sebaiknya tidak diberikan kepada : Wanita hamil atau wanita menyusui Anak-anak atau orang dewasa yang memiliki sistem kekebalan yang lemah atau yang memiliki riwayat keluarga dengan kelainan imunosupresif bawaan Anak-anak atau orang dewasa yang alergi terhadap antibiotik neomisin atau gelatin karena vaksin mengandung sejumlah kecil kedua bahan tersebut Anak-anak atau orang dewasa yang menderita penyakit serius, kanker atau gangguan sistem kekebalan tubuh (misalnya AIDS) Anak-anak atau orang dewasa yang sedang mengkonsumsi kortikosteroid Setiap orang yang baru saja menjalani transfusi darah atau komponen darah lainnya Anak-anak atau orang dewasa yang 3-6 bulan yang lalu menerima suntikan immunoglobulin.

j. Imunisasi HBV

Imunisasi HBV memberikan kekebalan terhadap hepatitis B. Hepatitis B adalah suatu infeksi hati yang bisa menyebabkan kanker hati dan kematian. Dosis pertama diberikan segera setelah bayi lahir atau jika ibunya memiliki HBsAg negatif, bisa diberikan pada saat bayi berumur 2 bulan. Imunisasi dasar diberikan sebanyak 3 kali dengan selang waktu 1 bulan antara suntikan HBV I dengan HBV II, serta selang waktu 5 bulan antara suntikan HBV II dengan HBV III. Imunisasi ulangan diberikan 5 tahun setelah suntikan HBV III. Sebelum memberikan imunisasi ulangan dianjurkan untuk memeriksa kadar HBsAg. Vaksin disuntikkan pada otot lengan atau paha. Kepada bayi yang lahir dari ibu dengan HBsAg positif, diberikan vaksin HBV pada lengan kiri dan 0,5 mL HBIG (hepatitis B immune globulin) pada lengan kanan, dalam waktu 12 jam setelah lahir. Dosis kedua diberikan pada saat anak berumur 1-2 bulan, dosis ketiga diberikan pada saat anak berumur 6 bulan. Kepada bayi yang lahir dari ibu yang status HBsAgnya tidak diketahui, diberikan HBV I dalam waktu 12 jam setelah lahir. Pada saat persalinan, contoh darah ibu diambil untuk menentukan status HBsAgnya; jika positif, maka segera diberikan HBIG (sebelum bayi berumur lebih dari 1 minggu). Pemberian imunisasi kepada anak yang sakit berat sebaiknya ditunda sampai anak benar-benar pulih. Vaksin HBV dapat diberikan kepada ibu hamil. Efek samping dari vaksin HBV adalah efek lokal (nyeri di tempat suntikan) dan sistemis (demam ringan, lesu, perasaan tidak enak pada saluran pencernaan), yang akan hilang dalam beberapa hari.

k. Imunisasi Pneumokokus Konjugata

Imunisasi pneumokokus konjugata melindungi anak terhadap sejenis bakteri yang sering menyebabkan infeksi telinga. Bakteri ini juga dapat menyebabkan penyakit yang lebih serius, seperti meningitis dan bakteremia (infeksi darah). Kepada bayi dan balita diberikan 4 dosis vaksin. Vaksin ini juga dapat digunakan pada anak-anak yang lebih besar yang memiliki resiko terhadap terjadinya infeksi pneumokokus.

LI 2.Memahami dan Menjelaskan Organ LimfoidLO 2.1Memahami Anatomi Makroskopik Organ LimfoidSejumlah ogan limfoid dan jaringan limfoid yang morfologis dan fungsional berlainan berperan dalam respons imun. Organ limfoid dapat dibagi menjadi: Organ limfoid primer (tmpt pembentukan dan pematangan limfosit) : sumsum tulang dan timus Organ limfoid perifer (tmpt proliferasi dan diferensiasi limfosit) : lien/ limpa, KGB, tonsil, appendix, plaque peyeri Yang termasuk sistem limfaticus adalah:1. Cairan limfe. 2. Pembuluh/saluran limfe (ductus limfaticus). Cairan limfe dari kapiler jaringan limfoid dari seluruh tubuh masuk kedalam ductus limfaticus dextra dan ductus limfaticus sinistra.1. Ductus limfaticus dextra adalah saluran limfe yang pendek (1,25 cm), menerima aliran cairan limfe dari daerah : Kepala dan leher bagian dextra. Thorax dan extremitas superior bagian dextra.Ductus limfaticus dextra vena brachiocephalica dextra (v. anonyma) tepat pada sudut antara vena jugularis interna dan vena subclavia dextra vena cava superior (sirkulasi umum) Ductus limfaticus sinistra (ductus thoracicus) adalah saluran limfe yang panjang (40 cm) dengan diameter 4-6 mm serta terletak dalam ruangan mediastinum (posterior), menerima aliran cairan limfe dari daerah: Daerah regio kepala dan pangkal leher sinistra Daerah extremitas superior dan bahu sinistra Daerah regio thorax sinistra Daerah extremitas inferior, panggul dan abdomen terutama dari intestinum yang kemudian ke cisterna chyleKepentingan klinis saluran limfe: Limfangitis: bila infeksi pada saluran limfe (pembuluh limfe) Limfadenitis: bila infeksi pada limfonodus . Limfedema: edema pembuluh limfe bila terjadi obstruksi pembuluh limfe oleh parasit contoh : penyakit kaki gajah atau penekanan oleh tumor, sehingga tekanan pada pembuluh limfe meningkat kemudian edema dan membengkak .3. Sumsum tulang 4. Limfonodulus/ folikel limfoid/ jaringan limfoid5. Nodulus limfaticus (limfonodus)/ kelenjar limfa Berbentuk oval seperti kacang tanah mempunyai pinggiran yang cekung disebut dengan hillus. Besarnya satu limfonodus sebesar kepala peniti sampai sebesar buah kenari dan dapat diraba terutama pada daerah leher, axilla, inguinale. Terletak disekitar pembuluh darah yang berfungsi untuk memproduksi limfosit dan antibody, untuk mencegah penyebaran infeksi lanjutan, contoh : ada infeksi pada daerah kaki maka limfonodus pada regio inguinale membesar selama proses infeksi. Daerah tubuh yang mempunyai nodus limfaticus adalah daerah kepala dan leher bagian lateral dan belakang, daerah extremitas superior, daerah mamae dibawah m.pectoralis, daerah torax, daerah abdomen dan pelvis, dan daerah extremitas inferior.

6. TimusOrgan limfoid terletak pada sternum bagian atas belakang di daerah mediastinum superior dan bertumbuh terus sampai pubertas. Setelah mulai pubertas, timus mengalami involusi dan setelah dewasa makin mengecil, tapi masih dapat berfungsi untuk menghasilkan limfosit T yang baru.Timus yang besar terlihat setelah lahir pada saat bayi dan neonatus. Mempunyai dua buah lobulus, mempunyai bagian korteks san medulla, berbentuk segitiga, gepeng dan kemerahan. Secara anatomi timus mempunyai batas-batas : Batas anterior : manubrium sterni dan rawan costae Batas atas : regio colli inferior (trachea)Pendarahan timus : berasal dari aretria thymica yang berasal dari arteri thyroidea inferior dan mamaria interna dan kembali lagi melalui vena thyroidea inferior dan vena mamaria interna.7. TonsilTonsil termasuk salah satu dari organ limfoid yang terdiri dari atas 3 buah tonsila :a. Tonsila Palatinab. Tonsila Lingualisc. Tonsila PharyngealisKetiga tonsila di atas membentuk satu cincin (melingkar) pada saluran limfe yang dikenal dengan Ring of Waldeyer.a. Tonsila PalatinaOrgan limfoid yang terletak pada dinding lateralis oropharynx dextra dan sinistra. Terletak dalam satu lekukan yang dikenal dengan Fossa Tonsillaris yang dibatasi oleh 2 buah otot yang melengkung berbentuk arcus yaitu arcus palatoglossus dan arcus palatopharyngeus.Pada anak sering terjadi infeksi berulang dan terlihat pembesaran tonsil keluar fossa dan bisa sampai ke uvula(anak lidah). Pembesaran tonsil tidak mengecil lagi dan keadaan tersebut dinamakan amandel. Klinis infeksi tonsil dinamakan tonsillitis acut dan kronis pengangkatan tonsil disebut dengan tonsil ectomi.Perdarahan berasal dari arteria tonsillaris cabang a.maxillaris externa dan a.pharyngica ascendens.b. Tonsila LingualisAdalah salah satu organ limfoid yang terletak dibelakang lidah => 1/3 bagian posterior dan tidak mempunyai papilla sehingga terlihat permukaan berbenjol-benjol.Pendarahan tonsil berasal dari cabang a.dorsalis lingue => dari cabang a.lingualis => a.carotis externa.c. Tonsila PharyngealisDikenal dengan adenoid. Terkenal di daerah nasopharynx tepatnya di atas torus tubaris dan O.P.T.A. bila adenoid membesar dapat menyebabkan sesak nafas, sebab dapat menyumbat pintu choanae (nares posterior).8. LimpaLimpa/lien adalah organ limfoid yang terbesar, lunak, rapuh dan vascular berwarna kemerahan dan bentuk oval.Terletak pada regio hipochondrium sinsitra dalam ruangan intra peritoneal diproyeksikan dari luar pada costae 9, 10 dan 11 setinggi vertebrae thoracalis 11 sampai 12.Besar lien sebesar kepalan tangan sendiri. Dibungkus oleh jaringan perlekatan peritoneum pada permukaan yang dinamakan Capsula Lienalis. Dalam lien terdapat pusat imunologis yaitu folikel limfoid (folikel putih) yang tersebar di seluruh sinusoid yang sangat vascular (folikel merah).Pembesaran limpa disebut dengan splenomegali. Terdapat pada keadaan : leukemia, cirrosis hepatis, anemia berat.

LO 2.2Memahami Anatomi Mikroskopik Organ LimfoidSistem lifoid mencakup semua sel, jaringan, dan organ yang mengandung kumpulan limfosit. Limfosit tersebar di seluruh tubuh berupa kumpulan sel terisolasi, yaitu nodulus limfatikus (limfonodus) tanpa simpai/kapsul pada jaringan ikat longgar, atau sebagai organ limfoid bersimpai. Karena sumsum tulang dapat pula dianggap sebagai organ limfoid dan bagian system limfoid. Organ limfoid utama tubuh yang terisi kumpulan limfosit adalah limfonodus, tonsila, timus, dan limpa.1. LimfonodusLimfonodus terdiri atas kumpulan limfosit yang diselingi sinus-sinus limfatik, ditunjang kerangka serat-serat reticular dan dikelilingi oleh simpai jaringan ikat. Limfonodus terdiri atas kortesks dan medula.Korteks limfonodus mengandung kelompok limfosit yang membentuk limfonoduli atau juga disebut noduli kortikal. Pada banyak noduli kortikal, tampak pusatnya yang lebih pucat. Daerah pucat ini adalah pusat germinal yang merupakan tempat aktif proliferasi limfosit.Di dalam medulla limfonodus, limfosit tersusun berupa korda (deretan) jaringan limfatik tidak teratur yaitu korda medularis yang mengandung makrofag, sel plasma, dan limfosit kecil. Sinus medularis berjalan di antara korda ini.Simpai nodus dikelilingi jaringan ikat dan lemak perikapsular. Dari simpai, trabekula jaringan ikat meluas ke dalam nodus, mula-mula di antara nodul kortikal dan kemudian bercabang-cabang di dalam medulla diantara korda medularis dan sinus-sinus. Trabekula mengandung pembuluh darah utama limfonodus.Pembuluh limfatik aferen berjalan di dalam jaringan ikat limfonodus dan pada interval tertentu, menmbus simpai memasuki sinus subkapsularis. Dari sini, sinus trabekularis (sinus kortikal) berjalan di sepanjang trabekula memasuki sinus medularis.2. TonsilSelain jaringan limfoid yang terorganisir baik menjadi suatu organ yang utuh seperti pada limfonodus, terdapat pula jaringan limfoid yang menjadi bagian dari organ lain. Tonsil terdapat dalam variasi bentuk:a. Tonsila lingualisTerdapat pada 1/3 bagian posterior lidah, tepat dibelakang papila sirkumvalata, bercampur dengan muskular skelet. Terdiri dari sekitar 35 90 nodulus limfatikus yang dilapisi oleh epitel berlapis gepeng tanpa zat tanduk, seperti epitel yang melapisi palatum molle. Limfonodulus umumnya mempunyai germinal center yang umumnya terisi limfosit dan sel plasma. Pada peradangan atau infeksi juga terlihat lekosit granular. Lipatan epitelium membentuk kriptus yang relativ bersih dari debris karena tersapu oleh sekresi kelenjar lidah.b. Tonsila palatinaPermukaan tosila palatina dittutupi epitel berlapis gepeng yang juga melapisi invaginasi atau kripti tonsila. Banyak limfonodus terletak di bawah jaringan ikat dan tersebar sepanjang kriptus. Limfonoduli terbenam di dalam stroma jaringan ikat reticular dan jaringan limfatik difus. Noduli sering saling menyatu dan umumnya memperlihatkan pusat germinal.Jaringan ikat fibroelastis terdapat di bawah tonsila dan membentuk simpainya. Septa (trabekula) berasal dari simpai dan menyusup di antara limfonoduli sebgai pusat jaringan ikat dan membentuk dinding kripti. Serat otot rangka membentuk lapisan di bawah tonsila.c. Tonsila faringea atau adenoidTerdapat pada permukaan medial dari dinding dorsal nasofaring. Epitel yang meliputi jaringan limfoid ini adalah epitel bertingkat torak bersilia, epitel khas saluran respirasi, dengan membrana basalis yang tegas. Epitel ini sama dengan epitel yang melapisi rongga hidung, dimana juga terdapat sel goblet. Operasi pengangkatan tonsil ini dipermudah dengan adanya kapsula jaringan ikat yang membatasi dengan dinding nasofaring. Pengangkatan yang tidak komplit dapat menimbulkan regenerasi.3. Kelenjar TimusKelenjar timus adalah organ limfoid yang berlobul-lobul. Timus diliputi oleh kapsul jaringan ikat tempat banyak trabekula berasal. Trabekula meluas ked an membagi kelenjar timus menjadi lobulus yang tidak utuh. Setiap lobulus tidak utuh, medulla memperlihatkan kontinuitas di antara lobulus di sebelahya. Banyak pembuluh darah yang memasuki kelenjar timus melalui jaringan ikat kapsul dan trabekula.Korteks setiap lobulus mengandung limfosit yang memadat tanpa pembentukan limfonodus. Sebaliknya, medulla mengandung limfosit lebih sedikit, tetapi mempunyai sel reticular epitel yang lebih banyak. Medulla juga mengandung badan Hassall (corpuscles thymic) yang menjadi cirri yang sangat karakteristik pada kelnjar timus,Histology kelenjar timus bervariasi, tergantung usia individu. Kelenjar ini mencapai perkembangan terbesarnya segera lahir, namus, kelenjar ini mulai berivolusi pada masa pubertas. Produksi limfosit menurun dan badan Hassall menjadi lebih besar. Selain itu, parenkim kelenjar secara bertahap digantikan oleh jaringan ikat longgar dan sel lemak.4. LimpaLimpa dibungkus sesuai simpai jaringan ikat padat yang menjulurkan trabekula jaringan ikat ke bagian dalam limpa. Trabekula utama memasuki limpa di hilus dan bercabang-cabang menyusup seluruh organ. Pada trabekula, terdapat arteri trabekularis dan vena trabekularis. Trabekula yang terpotong melintang tampak bulat atau nodular.Limpa ditandai dengan sejumlah agregat limfonodus, noduli ini mebentuk pulpa alba organ. Limfonoduli mengandung pusat germinal, jumlahnya secara progresif berkurang bersama dengan penambahan umur. Arteri sentralis melewati setiap limfonodulus, namun, arteri ini umunya tidak terletak di pusat. Arteri sentralis adalah cabang dari arteri trabekularis yang mendapat selubung jaringan limfatik saat meninggalkan trabekula. Selubung ini juga membentuk limfonodulus yang kemudian membentuk pulpa alba limpa.Di sekitar limfonodulus dan trabekula, terdapat anyaman sel merata yang membentuk bagian terbesar organ dan secara koleltif membentuk pulpa rubra atau pulpa limpa. Sediaan segar pulpa rubra tampak merah karena jaringan vaskularnya. Pulpa rubra juga mengandung ateri pulpa, sinus venosus, dan korda limpa (Billlroth), hal ini tampak sebagai untaian difusi jaringan limfatik di antara sinus venosus. Korda limpa membentuk anyaman longgar jaringan ikat reticular yang biasanya tertutup jaringan padat lain.Limpa tidak memperlihatkan adanya korteks dan medulla seperti pada limfonodi, namun limfonodus terdapat di seluruh bagian limpa. Selain itu, limpa mengandung sinus venosus, berbeda dengan sinus limfatik pada limfonodi. Namun, pada limpa tidak ada sinus subkapsularis ataupun sinus trabekularis. Simpai dan trabekula pada limpa lebih tebal daripada simpai dan trabekula di limfonodus dan mengandung sedikit sel otot polos.(Eroschenko, Victor P, 2003)

LI 3.Memahami dan Menjelaskan Respon ImunRespon imun adalah terjadinya resistensi (imunitas) terhadap zat asing (missal agen infeksius). Respon imun dapat diperantarai antibody (humoral) , diperantarai sel (selular), atau keduanya.

LO 3.1Memahami dan Menjelaskan Respon Imun Alamiah dan di DapatRespon imun terbagi atas 2 macam yaitu: respon imun non-spesifik dan respon imun spesifik.1. Respon Imun Non Spesifik Respon imun non spesifik disebut juga komponen nonadaptif atau innate, atau imunitas alamiah, artinya mekanisme pertahanan yang tidak ditujukan hanya untuk satu jenis antigen, tetapi untuk berbagai macam antigen. Imunitas alamiah sudah ada sejak individu dilahirkan dan terdiri atas berbagai macam elemen non spesifik. Jadi , bukan merupakan pertahanan khusus untuk antigen tertentu. Dilihat dari caranya diperoleh, respon imun non spesifik disebut juga respon imun alamiah. Respon imun non spesifik pada tubuh kita adalah kulit dengan kelenjarnya, lapisan mukosa dengan enzimnya, serta kelenjar lain dengan enzimnya seperti kelenjar air mata. Demikian pula sel fagosit (sel makrofag, monosit) dan komplemennya, berperan pada respon imun non spesifik (Judarwanto, 2009).2. Respon Imun SpesifikRespon imun spesifik atau disebut juga komponen adaptif atau imunitas didapat adalah mekanisme pertahanan yang ditujukan khusus terhadap satu jenis antigen, karena itu tidak dapat berperan terhadap antigen jenis lain. Perbedaanya dengan pertahanan tubuh non spesifik adalah pertahanan tubuh spesifik harus kontak atau ditimbulkan terlebih dahulu oleh antigen tertentu, baru ia akan terbentuk. Sedangkan pertahanan tubuh non spesifik sudah ada sebelum ia kontak dengan antigen (Judarwanto ,2009).Bila respon imum non spesifik tidak dapat mengatasi invasi mikroorganisme maka imunitas spesifik akan terangsang. Mekanisme pertahanan (respon imun) spesifik adalah mekanisme pertahanan yang diperankan oleh sel limfosit, dengan atau tanpa bantuan komponen sistem imun lainnya seperti sel makrofag. Dilihat dari caranya diperoleh maka mekanisme pertahanan spesifik disebut juga respons imun didapat (adaptive immunity) (Albert, 2002).Imunitas spesifik hanya ditujukan terhadap antigen tertentu yaitu antigen yang merupakan ligannya. Di samping itu, respons imun spesifik juga menimbulkan memori imunologis yang akan cepat bereaksi bila host terpapar kembali dengan antigen yang sama di kemudian hari. Pada respon imun spesifik akan terbentuk antibodi dan limfosit efektor yang spesifik terhadap antigen yang merangsangnya, sehingga terjadi eliminasi antigen (Judarwanto, 2009).Sel yang berperan dalam respon imun ini adalah sel yang mempresentasikan antigen (APC = antigen presenting cell = makrofag) sel limfosit T dan sel limfosit B. Sel limfosit T dan limfosit B masing-masing berperan pada imunitas selular dan imunitas humoral. Sel limfosit T akan meregulasi respons imun dan melisis sel target yang dihuni antigen. Sel limfosit B akan berdiferensiasi menjadi sel plasma dan memproduksi antibodi yang akan menetralkan atau meningkatkan fagositosis antigen dan lisis antigen oleh komplemen, serta meningkatkan sitotoksisitas sel yang mengandung antigen yang dinamakan proses antibody dependent cell mediated cytotoxicy (ADCC) (Judarwanto, 2009).Macam-Macam Respon Imun Spesifik:Imunitas SelularImunitas selular adalah imunitas yang diperankan oleh limfosit T dengan atau tanpa bantuan komponen sistem imun lainnya. Limfosit T adalah limfosit yang berasal dari sel pluripotensial yang pada embrio terdapat pada yolk sac; hati dan limpa, serta sumsum tulang. Dalam perkembangannya , sel pluripotensial yang akan menjadi limfosit T memerlukan lingkungan timus untuk menjadi limfosit T matur (Albert , 2002).Di dalam timus, sel prekusor limfosit T akan mengekspresikan molekul tertentu pada permukaan membrannya yang akan menjadi ciri limfosit T. Molekul-molekul pada permukaan membran ini dinamakan juga petanda permukaan atau surface marker dan dapat dideteksi oleh antibodi monoklonal . Di samping munculnya petanda permukaan, di dalam timus juga terjadi penataan kembali gen (gene rearrangement) yang nantinya dapat memproduksi molekul yang merupakan reseptor antigen dari sel limfosit T . Jadi pada waktu meninggalkan timus , setiap limfosit T sudah memperlihatkan reseptor terhadap antigen diri (self antigen) (Albert, 2002).Secara fungsional, sel limfosit T dibagi atas limfosit T regulator dan limfosit T efektor. Limfosit T regulator terdiri atas limfosit T penolong (Th = CD4) yang akan menolong meningkatkan aktivasi sel imunokompeten lainnya dan limfosit T penekan (Ts = CD8) yang akan menekan aktivasi sel imunokompeten lainnya bila antigen mulai tereliminasi. Sedangkan limfosit T efektor terdiri atas limfosit T sitotoksik (Tc = CD8) yang melisis sel target dan limfosit T yang berperan pada hipersensitivitas lambat (Td = CD4) yang merekrut sel radang ke tempat antigen berada (Judarwanto, 2009).Imunitas HumoralImunitas humoral adalah imunitas yang diperankan oleh sel limfosit B dengan atau tanpa bantuan sel imunokompeten lainnya. Tugas sel B akan dilaksanakan oleh imunoglobulin yang disekresi oleh sel plasma. Terdapat lima kelas imunoglobulin yang kita kenal, yaitu IgM, IgG, IgA, IgD, dan IgE (Albert, 2002).Limfosit B juga berasal dari sel pluripotensial yang perkembangannya pada mamalia dipengaruhi oleh lingkungan bursa fabricius dan pada manusia oleh lingkungan hati, sumsum tulang dan lingkungan yang dinamakan gut-associated lymphoid tissue (GALT). Dalam perkembangan ini terjadi penataan kembali gen yang produknya merupakan reseptor antigen pada permukaan membran. Pada sel B ini reseptor antigen merupakan imunoglobulin permukaan (surface immunoglobulin). Pada mulanya imunoglobulin permukaan ini adalah kelas IgM, dan pada perkembangan selanjutnya sel B juga memperlihatkan IgG, IgA dan IgD pada membrannya dengan bagian F(ab) yang serupa. Perkembangan ini tidak perlu rangsangan antigen hingga semua sel B matur mempunyai reseptor antigen tertentu (Albert, 2002).Hasil akhir aktivasi sel B adalah eliminasi antigen dan pembentukan sel memori yang kelak bila terpapar lagi dengan antigen serupa akan cepat berproliferasi dan berdiferensiasi. Hal inilah yang diharapkan pada imunisasi. Walaupun sel plasma yang terbentuk tidak berumur panjang, kadar antibodi spesifik yang cukup tinggi mencapai kadar protektif dan berlangsung dalam waktu cukup lama dapat diperoleh dengan vaksinasi tertentu atau infeksi alamiah. Hal ini disebabkan karena adanya antigen yang tersimpan dalam sel dendrit dalam kelenjar limfe yang akan dipresentasikan pada sel memori sewaktu-waktu di kemudian hari (Albert, 2002).

Gambar Mekanisme Kerja Respon Imun. Ketika sel normal tidak berhubungan dengan sel limfosit , sel akan mati ketika terinfeksi. Namun sel normal akan tetap bertahan meskipun terinfeksi apabila sel berikatan (berhubungan) dengan limfosit. Sel yang terinfeksi tersebut nantinya akan semakin mengintensifkan ikatan dengan limfosit sehingga terbentuklah suatu respon imun

LO 3.2Memahami dan Menjelaskan Sistem Imun Humoral dan SelularSistem imun spesifikA. Sistem imun spesifik humoral Pemeran utama dalam sistem imun spesifik humoral adalah limfosit B atau sel B. Sel B berasal dari sel asal multipoten disumsum tulang. Sel B yang dirangsang oleh benda asing akan berpoliferasi, berdiferensiasi dan berkembang menjadi sel plasma yang memproduksi antibodi.B. Sistem imun spesifik selulerLimfosit T atau sel T berperan pada sistem imun spesifik seluler. Pada orang dewasa, sel T dibentuk di dalam sumsum tulang, tetapi proliferasi dan deferensiasinya terjadi di dalam kelenjar timus atas pengaruh berbagai faktor asal timus.

LI 4.Memahami dan Menjelaskan AntigenLO 4.1Definisi Antigen Secara umum Imunogen atau antigen adalah bahan yang dikandung atau dihasilkan oleh patogen dan dapat menginduksi semua respons imun. Secara spesifik pengertian keduanya jelas berbeda Imunogen adalah bahan yang dapat merangsang sel B atau sel T ataupun keduanya. Antigen adalah bahan yang berinteraksi dengan produk respon imun yang dirangsang oleh imunogen spesifik.Imunogenitas dan antigenitas Imunogenitas adalah kemampuan untuk menginduksi respon imun humoral atau selular Semua molekul dengan sifat imunogenitas mempunyai sifat antigenitas , tetapi molekul yang bersifat antigenitas tidak mempunyai imunogenitas.

LO 4.2Klasifikasi AntigenCiri-ciri antigen1. Keasingan Molekul harus bersifat nonself2. Ukuran molecularImunogen yang paling poten adalah imunogen yang berukuran besar. Hapten dapat menjadi imunogenik jika berikatan dengan protein pembawa3. Kompleksitas struktural dan kimiawiDiperlukan tingkat kompleks tertentu. Contoh homopolimer kurang bersifat imunogenik dibandingkan heteropolimer yang menganduk 2-3 AA yang berbeda.4. Determinan antigen ( Epitop)Merupan unit terkecil dr suatu antigen kompleks yang mampu berikatan dengan antibodi.5. Konstitusi penjamu6. Dosis, rute dan waktu pemberian antigen

Klasifikasi antigena. Pembagian antigen menurut epitop Unideterminan, univalent = hanya satu jenis determinan/epitop pada satu molekul Unideterminan, multivalent = hanya satu jenis determinan tetapi dua atau lebih determinan tersebut ditemukan pada satu molekul Multideterminan, univalent = banyak epitop yang bermacam-macam tetapi hanya satu dari setiap macamnya (kebanyakan protein) Multideterminan, multivalent = banyak macam determinan dan banyak dari setiap macam pada satu molekul (antigen dengan berat molekul yang tinggi dan kompleks secara kimiawi)

b. Pembagian antigen menurut spesifiksitas Heteroantigen = dimiliki oleh banyak spesies Xenoantigen = dimiliki spesies tertentu Aloantigen (isoantigen) = spesifik untuk individu dalam satu spesies Antigen organ spesifik = dimiliki organ tertentu Autoantigen = dimiliki alat tubuh sendiri

c. Pembagian antigen menurut ketergantungan terhadap sel T T dependent = memerlukan pengenalan oleh sel T terlebih dahulu untuk dapat menimbulkan respons antibody. Kebanyakan antigen protein termasuk dalam golongan ini T independent = dapat merangsang sel B tanpa bantuan sel T untuk membentuk antibody. Kebanyakan antigen golongan ini berupa molekul besar poliremik yang dipecah di dalam tubuh secara perlahan-lahan, misalnya lipopolisakarida, ficcol, dekstran, levan dan flagelin polimerik bakteri

d. Pembagian antigen menurut sifat kimiawi Hidrat arang (polisakarida) = pada umumnya imunogenik, glikoprotein yang merupakan bagian permukaan sel banyak mikroorganisme dapat menimbulkan respon imun terutama pembentukan antibody. Contoh lain adalah respon imun yang ditimbulkan golongan darah ABO, sifat antigen dan spesifitas imunnya berasal dari polisakarida pada permukaan sel darah merah Lipid = biasanya tidak imunogenik, tetapi menjadi imunogenik bila diikat protein pembawa. Lipid dianggap hapten, contohnya adalah sfingolipid Asam nukleat = tidak imunogenik, tetapi bisa menjadi imunogenik bila diikat protein molekul pembawa. DNA dalam bentuk heliksnya biasanya tidak imunogenik. Respons imun terhadap DNA terjadi pada penderita LES Protein = biasanya imunogenik dan umumnya multideterminan dan univalent

LI 5.Memahami dan Menjelaskan AntibodiLO 5.1Definisi AntibodiAntibodi adalah molekul immunoglobulin yang bereaksi dengan antigen spesifik yang menginduksi sintesisnya dan dengan molekul yang sama; digolongkan menurut cara kerja seperti agglutinin, bakteriolisin, hemolisin, opsonin, atau presipitin. Antibodi disintesis oleh limfosit B yang telah diaktifkan dengan pengikatan antigen pada reseptor permukaan sel. Antibodi biasanya disingkat penulisaanya menjadi Ab. (Dorlan).Antibodi terdiri dari sekelompok protein serum globuler yang disebut sebagai immunoglobulin (Ig). Sebuah molekul antibody umumnya mempunyai dua tempat pengikatan antigen yang identik dan spesifik untuk epitop (determinan antigenik) yang menyebabkan produksi antibody tersebut. Masing-masing molekul antibody terdiri atas empat rantai polipeptida, yaitu dua rantai berat (heavy chain) yang identik dan dan dua rantai ringan (light chain) yang identik, yang dihubungkan oleh jembatan disulfida untuk membentuk suatu molekul berbentuk Y. Pada kedua ujung molekul berbentuk Y itu terdapat daerah variabel (V) rantai berat dan ringan. Disebut demikian karena urutan asam amino pada bagian ini sangat bervariasi dari satu antibodi ke antibodi yang lain. Daerah V rantai berat dan daerah V rantai ringan secara bersama-sama membentuk suatu kontur unik tempat pengikatan antigen milik antibodi. Interaksi antara tempat pengikatan antigen dengan epitopnya mirip dengan interaksi enzim dan substratnya: ikatan nonkovalen berganda terbentuk antara gugus-gugus kimia pada masing-masing molekul. (Campbell).

Jenis-jenis AntibodiIgG (Imuno globulin G)Merupakan antibodi yang paling umum. Dihasilkan hanya dalam waktu beberapa hari, ia memiliki masa hidup berkisar antara beberapa minggu sampai beberapa tahun. IgG beredar dalam tubuh dan banyak terdapat pada darah, sistem getah bening, dan usus. Mereka mengikuti aliran darah, langsung menuju musuh dan menghambatnya begitu terdeteksi. Mereka mempunyai efek kuat anti-bakteri dan penghancur antigen. Mereka melindungi tubuh terhadap bakteri dan virus, serta menetralkan asam yang terkandung dalam racun.Selain itu, IgG mampu menyelip di antara sel-sel dan menyingkirkan bakteri serta musuh mikroorganis yang masuk ke dalam sel-sel dan kulit. Karena kemampuannya serta ukurannya yang kecil, mereka dapat masuk ke dalam plasenta ibu hamil dan melindungi janin dari kemungkinan infeksi.Jika antibodi tidak diciptakan dengan karakteristik yang memungkinkan mereka untuk masuk ke dalam plasenta, maka janin dalam rahim tidak akan terlindungi melawan mikroba. Hal ini dapat menyebabkan kematian sebelum lahir. Karena itu, antibodi sang ibu akan melindungi embrio dari musuh sampai anak itu lahir.IgA (Imuno globulin A)Terdapat pada daerah peka tempat tubuh melawan antigen seperti air mata, air liur, ASI, darah, kantong-kantong udara, lendir, getah lambung, dan sekresi usus. Kepekaan daerah tersebut berhubungan langsung dengan kecenderungan bakteri dan virus yang lebih menyukai media lembap seperti itu.Secara struktur, IgA mirip satu sama lain. Mereka mendiami bagian tubuh yang paling mungkin dimasuki mikroba. Mereka menjaga daerah itu dalam pengawasannya layaknya tentara andal yang ditempatkan untuk melindungi daerah kritis.Antibodi ini melindungi janin dari berbagai penyakit pada saat dalam kandungan. Setelah kelahiran, mereka tidak akan meninggalkan sang bayi, melainkan tetap melindunginya. Setiap bayi yang baru lahir membutuhkan pertolongan ibunya, karena IgA tidak terdapat dalam organisme bayi yang baru lahir. Selama periode ini, IgA yang terdapat dalam ASI akan melindungi sistem pencernaan bayi terhadap mikroba. Seperti IgG, jenis antibodi ini juga akan hilang setelah mereka melaksanakan semua tugasnya, pada saat bayi telah berumur beberapa minggu.IgM (Imuno globulin M)Antibodi ini terdapat pada darah, getah bening, dan pada permukaan sel B. Pada saat organisme tubuh manusia bertemu dengan antigen, IgM merupakan antibodi pertama yang dihasilkan tubuh untuk melawan musuh.Janin dalam rahim mampu memproduksi IgM pada umur kehamilan enam bulan. Jika musuh menyerang janin, jika janin terinfeksi kuman penyakit, produksi IgM janin akan meningkat. Untuk mengetahui apakah janin telah terinfeksi atau tidak, dapat diketahui dari kadar IgM dalam darah.IgD (Imuno globulin D)IgD juga terdapat dalam darah, getah bening, dan pada permukaan sel B. Mereka tidak mampu untuk bertindak sendiri-sendiri. Dengan menempelkan dirinya pada permukaan sel-sel T, mereka membantu sel T menangkap antigen. IgE (Imuno globulin E)IgE merupakan antibodi yang beredar dalam aliran darah. Antibodi ini bertanggung jawab untuk memanggil para prajurit tempur dan sel darah lainnya untuk berperang. Antibodi ini kadang juga menimbulkan reaksi alergi pada tubuh. Karena itu, kadar IgE tinggi pada tubuh orang yang sedang mengalami alergi. (Yahya, Harun. 2005)

IgG1-4IgAIgMIgDIgE

Sifat utamaPaling banyak ditemukan dalam cairan tubuh terutama ekstravaskular untuk memerangi mikroorganisme dan toksinnya.Ig utama dalam sekresi seromukosa untuk menjaga permukaan luar tubuh.Aglutinator yang sangat efektif; diproduksi dini pada respons imun. Pertahanan terdepan terhadap bakteremia.Umumnya ditemukan pada permukaan limfosit.Pengerahan agens anti microbial. Meningkat pada infeksi parasit. Berperan pada gejala alergi atopi.

FungsiOpsonisasiADCCImunitas neonatalDitemukan dalam sekresi (asam lambung)Proteksi terhadap mukosa disekresi dalam air susu.Meningkat komplemenOpsonin baikMenimbulkan alergi, syok anafilaksis.Pertahanan terhadap parasit.

Ikataan selMononuklearLimfositNeutrofilTrombositLimfositneutrofilLimfositReseptor sel BReseptor sel BSel mast BasofilLimfosit

Fiksasi komplemen Klasik AlternatifNnnnnnnnnnnn nnnnnnnnnnn ++-

Ghghghghgh hjhjhjhjhjh-+Hjhjhjhjhh hjhjhjhjhj+++-Ghghghghg ffgfgfgfg --Fgfgfgfgfg fhfghghgh--

Lewat plasenta++----

Sensitisasi sel mast dan basofil----+++

Ikatan dengan makrofag dan polimorfisme++++--+

LO 6. Memahami dan menjelaskan Vaksin menurut Syariat IslamImunisasi hukumnya boleh dan tidak terlarang, karena termasuk penjagaan diri dari penyakit sebelum terjadi. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda : Barangsiapa yang memakan tujuh butir kurma ajwah, maka dia akan terhindar sehari itu dari racun dan sihir(HR. Bukhari : 5768, Muslim : 4702).Hadits ini menunjukkan secara jelas tentang disyariatkannya mengambil sebab untuk membentengi diri dari penyakit sebelum terjadi. Demikian juga kalau dikhawatirkan terjadi wabah yang menimpa maka hukumnya boleh sebagaimana halnya boleh berobat tatkala terkena penyakit.Boleh dalam kondisi darurat dalil firman Allah : Sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. (QS. Al- Anam [6]:119)

Penggunaan Vaksin Polio Khusus (IPV)Setelah sekelumit informasi tantang imunisasi di atas, sekarang kita masuk kepada permasalahan inti yang menjadi polemik hangat akhir-akhir ini, yaitu imunisasi dengan menggunakan vaksin polio khusus (IPV) yang dalam proses pembuatannya menggunakan enzim yang berasal dari babi. Bagaimanakah gambaran permasalahan yang sebenarnya ? Dan bagaimanakah status hukumnya?1. Dhorurat dalam ObatDhorurat (darurat) adalah suatu keadaan terdesak untuk menerjang keharaman, yaitu ketika seorang memilki keyakinan bahwa apabila dirinya tidak menerjang larangan tersebut niscaya akan binasa atau mendapatkan bahaya besar pada badanya, hartanya atau kehormatannya. Dalam suatu kaidah fiqhiyyah dikatakan:

Darurat itu membolehkan suatu yang dilarang

Namun kaidah ini harus memenuhi dua persyaratan: tidak ada pengganti lainya yang boleh (mubah/halal) dan mencukupkan sekadar untuk kebutuhan saja.Oleh karena itu, al-Izzu bin Abdus Salam mengatakan : Seandainya seorang terdesak untuk makan barang najis maka dia harus memakannya, sebab kerusakan jiwa dan anggota badan lebih besar daripada kerusakan makan barang najis.202. Kemudahan Saat Kesempitan

Sesungguhnya syariat islam ini dibangun di atas kemudahan. Banyak sekali dalil-dalil yang mendasari hal ini, bahkan Imam asy-Syathibi mengatakan: Dalil-dalil tentang kemudahan bagi umat ini telah mencapai derajat yang pasti.20

Semua syariat itu mudah. Namun, apabila ada kesulitan maka akan ada tambahan kemudahan lagi. Alangkah bagusnya ucapan Imam asy-Syafii tatkala berkata :Kaidah syariat itu dibangun (di atas dasar) bahwa segala sesuatu apabila sempit maka menjadi luas.21

DAFTAR PUSTAKA

Baratawidjaja KG, Rengganis I. Imunologi Dasar: Edisi 10. Jakarta. FKUI. 2011

Bloom, 2002, Buku Ajar Histologi, Edisi 12, diterjemahkan oleh Jan Tambayong, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.Jawetz, Melnick, dan Adelberg. 2008. Mikrobiologi Kedokteran edisi 23. Jakarta: EGC Junqueira, Luiz Carlos dan Jos Carneiro. Histologi Dasar : Teks dan Atlas Edisi 10. Jakarta. EGC. 2007

Medicastore. Imunisasi.http://medicastore.com/penyakit/81/Imunisasi.html

ET Shirly, R Okki. 2010. Vaksin Pneumokok. http://www.imunisasidewasa.com/index.php?option=com_content&view=article&id=64:vaksin-pneumokok&catid=37:umum&Itemid=56

1

of 41/41
SKENARIO MENCEGAH PENYAKIT DENGAN VAKSINASI Seorang bayi berumur 2 bulan mendapat vaksinasi BCG di lengan kanan atas untuk mencegah penyakit dan mendapatkan kekebalan. Empat minggu kemudian bayi tersebut di bawa kembali ke RS karena timbul benjolan di ketiak kanan. Setelah dokter melakukan pemeriksaan didapatkan pembesaran nodus limfatikus di regio aksila dekstra. Hal ini disebabkan adanya reaksi terhadap antigen yang terdapat dalam vaksin tersebut dan menimbulkan respon imun tubuh. 1
Embed Size (px)
Recommended