Home >Documents >Weekly Report - pasca implementasi regulasi PSAK 71, 72 dan 73 terbaru yang memiliki dampak yang...

Weekly Report - pasca implementasi regulasi PSAK 71, 72 dan 73 terbaru yang memiliki dampak yang...

Date post:29-Feb-2020
Category:
View:6 times
Download:0 times
Share this document with a friend
Transcript:
  • 1

    Research Department - email : [email protected]

    NEWS HEADLINES JAKARTA COMPOSITE INDEX CHART

    \

    Koreksi IHSG yang beruntun terjadi hampir dua pekan terakhir, memberikan sinyal potensi koreksi cenderung terbatas. Hal tersebut terkonfirmasikan dari indikator Stochastic yang mengisyaratkan IHSG dalam ruang jenuh jual. Selain itu, peluang up reversal juga terindikasi dari MACD, kendati dari lagging indikator sinyal terkonfirmasi nagatif.

    JAKARTA INDICES STATISTICS CLOSE CHANGE VOLUME (Mn) VALUE (Rp Bn)

    IHSG 5867.523 +0.578 6504.972 5701.735 LQ-45 954.172 +0.218 1158.392 4290.309

    MARKET REVIEW MARKET VIEW Bursa saham global memulai perdagangan awal pekan secara

    mixed ditengah ketidakpastian virus corona yang masih menjadi momok pertumbuhan ekonomi global.

    Pemerintah China merencanakan langkah untuk mengurangi pajak korporasi serta memotong anggaran pembelanjaan pemerintah untuk membantu stimulasi perekonomian guna menangkal efek dari COVID- 19 tersebut. Akan tetapi, kebijakan tersebut harus mengorbankan keseimbangan anggaran pemerintah, dimana saat ini tengah mengalami defisit yang semakin melebar.

    Kebijakan fiskal yang diambil sejalan dengan kebijakan moneter ekspansif yang juga diambil oleh Bank Sentral China (PBoC) dengan pemotongan tingkat suku bunga lanjutan sebesar 10 basis poin (bps) menjadi 3.15% dibandingkan 3.25% pada operasi pasar terakhir. Pemotongan suku bunga sejalan dengan konsensus para analis. Sementara itu, PBoC juga menambahkan pendanaan sebesar US$29miliar, namun hal tersebut tergolong minim bila digabungkan dengan jatuh tempo pendanaan sebelumnya hingga terjadi net off sebesar US$ 100miliar.

    Sentimen negatif pada bursa regional di Asia berasal dari Jepang yang baru saja merilis data pertumbuhan PDB per kuartal IV 2019 yang jauh lebih buruk dibandingkan proyeksi konsensus. PDB Jepang mengalami kontraksi sebesar 6.3% YoY dan 1.6% QoQ. Perlambatan juga terjadi pada aktifitas belanja modal yang susut 3.7% QoQ, lebih rendah dibandingkan perkiraan di 1.6% QoQ. Sama halnya dengan aktifitas konsumsi swasta yang terkontraksi 2.9% QoQ. Indeks Nikkei 225 turun 0.69%, ditengah antisipasi investor yang konservatif dikala sebelumnya.

    Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada akhir kuartal IV 2019 tumbuh melambat menjadi 7.7% YoY dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar 10.4% YoY. Adanya perlambatan pertumbuhan mendukung kesehatan struktur ULN Indonesia secara keseluruhan.

    IHSG diperdagangkan secara sideways dengan ditutup datar di level 5867.523, dipimpin oleh penguatan sektor property sebesar 1.17%. Investor mencerna kondisi laporan keuangan sejumlah emiten pasca implementasi regulasi PSAK 71, 72 dan 73 terbaru yang memiliki dampak yang signifikan pada laba/rugi emiten. Investor asing memulai perdagangan di awal pekan dengan aksi net sell hingga Rp 585.14 miliar sementara nilai tukar Rupiah diperdagangkan menguat disekitar Rp13693 per dolar AS.

    Bank Indonesia (BI) mencatat utang luar negeri (ULN) Indonesia kuartal IV 2019 tumbuh melambat ke USD404,3 miliar. Posisi ULN pemerintah pada akhir kuartal IV 2019 tercatat sebesar USD199,9 miliar atau tumbuh 9,1% (yoy), lebih rendah dari pertumbuhan pada triwulan sebelumnya sebesar 10,3% (yoy). Pertumbuhan ULN pemerintah tersebut ditopang oleh arus masuk investasi nonresiden pada Surat Berharga Negara (SBN) domestik dan penerbitan dual currency global bonds dalam mata uang USD dan Euro. Hal tersebut mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian domestik yang tinggi dan imbal hasil aset keuangan domestik tetap menarik, serta ketidakpastian pasar keuangan global yang menurun.

    Neraca perdagangan Indonesia Januari 2020 mencatat defisit US$0,86 miliar atau setara Rp 1.178 triliun. Jumlah ini meningkat dibandingkan dengan defisit pada bulan sebelumnya sebesar US$0,06 miliar. Neraca perdagangan Januari lalu mengindikasikan permintaan domestik yang tetap baik.

    Pelaku pasar menanti arah suku bunga acuan BI atau BI 7-day reverse repo rate (7-day-RR) pada rapat dewan gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 19-20 Februari 2020. Ekspektasi pasar mayoritas menanti pemotongan 7-day-RR. Keputusan RDG BI tidak akan berdampak signifikan terhadap IHSG dalam jangka pendek. Sebab, saat ini IHSG sedang mengalami tekanan dari eksternal, di antaranya soal penyebaran virus Corona.

    Setelah perang dagang AS dengan Cina yang berlangsung hingga dua tahun Trump pun mengalihkan pandangannya ke Uni Eropa. AS memutuskan untuk menaikkan tarif impor armada pesawat produksi Airbus dari Eropa sebesar 15% pada 18 Maret mendatang. Pengumuman dari kantor Perwakilan Perdagangan AS tersebut dilakukan usai Presiden Donald Trump mengatakan soal melakukan pembicaraan perdagangan yang sangat serius dengan Uni Eropa. Pelaku industi baik di Eropa maupun AS gelisah menunggu setiap pengumuman baru dari otoritas perdagangan. Trump menginginkan agar Uni Eropa membuka pasar untuk produk pertanian AS.

    Setelah rilis data ekonomi Indonesia neraca perdagangan Senin kemarin, pelaku pasar di BEI akan menyikapi hasil dari RDG BI pada Rabu, dimana ekspektasi pasar mayoritas menanti pemotangan. Sementara itu, sentimen pasar domestik tetap dihadapi ketidakpastian global, wabah virus Corona dan target Trump untuk tarif perdagangan dengan Eropa yang dapat menuai kecemasan pasar global. Diperkirakan IHSG pada perdagangan hari ini bergerak mixed, peluang melemah. Sisi lain, emiten yang mempublikasi laporan laba terbatas serta saham AS pada hari Senin ditutup melemah tipis.

    Weekly Report 18 February 2020

     Laba ADHI 2019 tumbuh 9,37% YoY  MRT & ADHI-Shimizu tandatangan kontrak MRT fase 2A  ADHI targetkan Rp5,9 triliun dari rights issue dan PMN  ADHI dan WIKA garap proyek properti strategis  WSKT akan divestasi 6 ruas tol pada 2020  WTON tambah kapasitas produksi  PPRO perkuat pemasaran dengan Tokopedia  ANTM bukukan produksi feronikel 2019 sebesar 25.713 Tni  PGAS lakukan restrukturisasi dalam 2 tahun  ELSA anggarkan capex Rp1,4 triliun  ELSA targetkan pendapatan Rp9,1 triliun tahun ini  BBTN bukukan laba bersih 2019 Rp209,26 miliar  BBTN bidik laba bersih Rp3 triliun pada tahun ini  BBTN akan tekan NPL ke level 3,5%  BBRI targetkan 500 ribu agen BRILink  TLKM agresif modernisasi jaringan untuk persiapan 5G  ISAT kurangi 677 karyawan  ABMM raih kontrak jasa pertambangan Rp7,4 triliun  BIRD anggarkan capex Rp1,5 triliun  ASPI fokus perumahan

    Support Level 5855/5842/5830 Resistance Level 5879/5891/5904 Major Trend Down Minor Trend Down

  • Daily News 18 February 2020

    2

    Laba bersih 2019 Adhi Karya (ADHI) sebesar Rp0,7 triliun (unaudited) tumbuh 9,37% YoY dibandingkan pada periode tahun sebelumnya sebesar Rp644 miliar. Pendapatan perseroan tercatat turun tipis 2,29% menjadi Rp15,30 triliun dari Rp15,66 triliun pada tahun 2018. Dikatakan bahwa saat ini rencana investasi ADHI hingga 2024 terdiri dari 12 proyek, berikut dengan pendanaan proyek pemindahan ibu kota negara (IKN) dengan total belanja modal mencapai Rp190,1 triliun. Salah satu proyek yang sedang dikerjakan ADHI adalah LRT Jabodebek yang total progress fisiknya kini sudah mencapai 70,2%.

    MRT Jakarta dengan Adhi Karya (ADHI) dan Shimizu Corporation Indonesia telah menandatangani kontrak pembangunan proyek MRT Fase 2A dari Bundaran HI hingga Harmoni (CP 201) senilai Rp4,5 triliun. Adapun fase 2A ini memiliki total panjang jalur enam kilometer dan terdiri dari tujuh stasiun bawah tanah yaitu Stasiun Thamrin, Stasiun Monas, Stasiun Harmoni, Stasiun Sawah Besar, Stasiun Mangga Besar, Stasiun Glodok, dan Stasiun Kota. Pembangunan akan dibagi ke dalam tiga paket kontrak sipil, terdiri dari paket kontrak CP 201, CP 202 dan CP 203 dengan periode konstruksi dari Maret 2020 dan direncanakan selesai pada Desember 2024.

    Adhi Karya (ADHI) berencana melakukan rights issue senilai Rp2,9 triliun pada 2021. Perseroan juga mengharapkan adanya penyertaan modal negara (PMN) sebesar Rp3 triliun. ADHI mengalokasikan dana hasil rights issue untuk membiayai proyek investasi jalan tol Solo-Yogyakarta. Adapun saham baru yang diterbitkan dalam rights issue setara 49% dari modal disetor. Sebelum rights issue, perseroan akan memproses PMN. Tahun ini, ADHI menganggarkan belanja modal sebesar Rp18 triliun. Perseroan menargetkan kontrak baru senilai Rp35 triliun tahun ini yang masih akan didominasi proyek infrastruktur seperti jalan tol.

    Adhi Karya (ADHI) melalui anak usahanya, Adhi Commuter Properti, menggarap 12 proyek transit oriented development (TOD) di Jabodetabek. Sedangkan Wijaya Karya (WIKA) melalui Wika Realty siap menggarap sedikitnya lima proyek properti strategis dalam 5 tahun ke depan. Pada 2020, Wika Realty siap mengembangkan township dan kawasan industri di Subang, Jawa Barat, Pulomas Jakarta tahap 1, TOD Kereta Cepat Indonesia- China (KCIC). Pada 2021 akan mengembangkan township dan kawasan industri Subang tahap I, TOD KCIC tahap 1, dan Pulomas tahap 1 serta Walini (Jabar) tahap 1. Sedangkan pada 2022 dan 2023, pengembangan township dan kawasan industri Subang, TOD KCIC, Pulomas, dan Walini dilanjutkan, serta mulai 2024 menggarap proyek-proyek terkait dengan big capital city.

    Waskita Karya (WSKT) berencana melepas konsesi jalan tol yang dari enam ruas baik yang sudah beroperasi penuh maupun yang belum beroperasi secara penuh pada tahun 2020. Potensi penurunan outstanding pinjaman dengan pelepasan konsesi jalan tol dapat mencapai Rp18,9 triliun, meski WSKT masih belum bisa memastikan ruas mana saja yang akan didivestasi. Namun WSKT melalui anak usaha Waskita Toll Road (WTR) sedang melakukan valuasi atas ruas tol yang akan didivestasi tersebut. Hingga saat ini WSKT memiliki 16 konsesi jalan tol dengan total panjang 821 kilometer. Adapun sembilan ruas tol sudah beropera

Click here to load reader

Reader Image
Embed Size (px)
Recommended