Home >Documents >Warta 16 Agustus 2015

Warta 16 Agustus 2015

Date post:14-Dec-2015
Category:
View:44 times
Download:8 times
Share this document with a friend
Description:
Warta 16 Agustus 2015
Transcript:
  • halam

    an 1

    Warta Thomas Warta Mingguan Paroki St. Thomas Kelapa Dua Edisi : Minggu, 16 Agustus 2015 HR. SP Maria Diangkat Ke Surga Nomor : 38 Th. XVIII

    Gereja Katolik Paroki Santo Thomas

    Kelapadua Jalan Kompleks Ksatrian, Korps Brimob, Kelapa Dua, Cimanggis 16951, Telepon (021) 8715526

    Fax. (021) 87706362. Email: sekreparoki@thomas.

    keuskupanbogor.or.id Website: http://

    thomas.keuskupanbogor.or.id

    Berita Gereja Ekaristi harian dalam

    minggu ini Senin s/d Jumat Pukul 05.30 di Gereja. Sabtu pukul 06.00 di Susteran.

    Senin, 17 Agst. : Hari Raya Kemerdekaan Republik Indonesaia

    Kamis, 20 Agst : Peringatan Wajib St. Bernardus, Abas Pujangga Gereja

    Jumat, 21 Agst : Peringatan WAJIB St. Pius X, Paus.

    Sabtu, 22 Agst : Peringatan Wajib St. Maria, Ratu. TIDAK DIPERKENANKAN BAGI UMAT UNTUK MEMARKIRKAN KENDARAAN DI HALAMAN

    RUMAH PINTAR, GPIB GIDEON, MINI MARKET, DAN LAPANGAN

    MAKO BRIMOB.

    Maria Diangkat Ke Surga

    Bacaan Injil pada perayaan hari ini (Luk 1:39-56) memuat dua bagian, yakni kisah Maria mengunjungi Elisabet (ay. 39-45) dan Kidung Pujian Magnifikat (ay. 46-55) yang berakhir dengan ay. 56 sebagai penutup kisah. Bagian pertama mengisahkan dua orang perempuan yang mendapati diri beruntung. Elisabet yang termasuk kaum yang kena aib karena tidak mengandung sampai usia senja kini akan melahirkan Yohanes Pembaptis. Dan dia yang masih ada dalam rahim itu melonjak kegirangan mendengar salam yang diucapkan Maria yang datang berkunjung. Maria sendiri harus melewati hari-hari tak enak memikirkan bagaimana menjelaskan keadaan dirinya kepada Yusuf, tunangannya. Ia bertanya kepada malaikat yang datang kepadanya, bagai-mana mungkin semuanya terjadi. Jawab malaikat menunjuk pada peran Roh Kudus. Begitulah kisah yang disampaikan kepada kita oleh Lukas. Dan kelanjutannya kita ketahui. Maria membiarkan Roh Kudus bekerja dalam dirinya. Itu dia Tuhan yang mengubah diri menjadi suara hati manusia. Dan suara hatinya itu jugalah yang membuatnya berkata Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu! Roh yang sama itu juga yang membuat Maria mengkidungkan pujian yang dibacakan hari ini. Kidung itu mulai pada ay. 46 dengan pujian bagi Tuhan yang turun untuk menyelamatkan. Ia membuat hidup ini berarti. Ia membuat penderi-taan bermakna. Kemudian dalam ay. 48 terungkap pengakuan bahwa Tuhan menyayangi orang-orang yang kecil sehingga mereka menjadi besar di mata orang. Tak perlu kita tafsirkan ini sebagai teologi pembalikan nasib orang miskin jadi kaya dan orang kaya jadi melarat. Ayat itu mewartakan kebesaran Tuhan yang tidak takut berdekatan dengan orang kecil, bukan karena tindakan ini romantik, ideal,

  • halam

    an 2

    Penanggungjawab: DPP Paroki St. Thomas - Komsos Penasihat: RD. Robertus Eeng Gunawan Koordinator: K. Tatik Pelaksana: Sekretariat Paroki Sirkulasi/Iklan: Pieter Fernandez - 0218715526 Email: warta@thomas.keuskupanbogor.or.id. Tim Warta menerima sumbangan tulisan berita/non berita dengan maksimum panjang tulisan 2000 karakter termasuk spasi dikirim via email paling lambat hari Rabu. Tim Warta berhak mengedit tulisan atau tidak menerbitkan jika mengandung SARA atau bertentangan dengan Etika, Moral, Hukum dan HAM.

    Warta Thomas

    melainkan karena orang kecil itu dapat memberinya naungan dan mengu-rangi kesepiannya! Orang sederhana biasanya ingat Tuhan dan itu cukup membuatNya menemukan kembali secercah kegembiraan yang telah hilang dari surga dulu. Ini teologi sehari-hari. Ayat-ayat selanjutnya, yakni 49-55, berupa pembacaan kembali sejarah terjadinya umat Israel. Ditekankan tindakan-tindakan hebat Tuhan yang membela orang-orang yang dikasihiNya di hadapan pihak-pihak yang mau menindas mereka. Puji-pujian yang terungkap dalam Magnifikat ini senada dengan ungkapan kegembiraan dan kepercayaan akan perlindungan ilahi seperti terdapat dalam Kidung Hana dalam 1Sam 2:1-10. Sering ada anggapan bahwa penderitaan, kemelaratan, ketidakberuntungan, aib, semuanya ini dikenakan sebagai hukuman bagi suatu kesalahan. Juga dianggap bahwa hukuman bisa juga diturunkan kepada keturunan orang yang bersalah. Dosa menurun, hukuman berkelanjutan. Dalam Kidung Magnifikat pendapat seperti ini tidak diikuti. Malah ditegaskan bahwa Tuhan membela orang yang percaya kepadanya yang meminta pertolongan dariNya. Bagaimana dengan orang yang hidupnya beruntung, menikmati kelebihan, tidak kurang suatu apa? Apakah mereka itu akan dikenai malapetaka? Kiranya bukan itulah yang dimaksud. Orang-orang yang beruntung dihimbau agar mengambil sikap seperti Tuhan sendiri, yakni memperhatikan mereka yang kurang beruntung. Sama sekali bertolak belakang bila orang membiarkan kekayaan, kedudukan, kepintaran membuat sesama yang kurang beruntung menjadi terpojok atau kurang mendapat kesempatan untuk maju. Inilah yang kiranya hendak disampaikan dalam ay. 52-53 yang mengatakan bahwa kaum congkak hati akan diceraib-eraikan, orang berkedudukan akan direndahkan, orang kaya akan disuruh pergi dengan tangan hampa. Kidung Magnifikat mengajak orang-orang yang merasa beruntung diberkati oleh Tuhan dengan kelebihan bukan untuk menikmatinya, melainkan untuk memungkinkan sesama ikut beruntung. Di sini tidak ditawarkan sebuah teologi penjungkirbalikan nasib, melainkan pelurusan hakikat kehidupan sendiri. Kepercayaan akan kebesaran Tuhan tidak bisa diterapkan begitu saja untuk memerangi ketimpangan sosial yang mengakibatkan adanya ketidakadilan yang melembaga. Namun demikian, kepercayaan ini dapat membuat manu-sia makin peka dan mencari jalan memperbaiki kemanusiaan sendiri. Keter-bukaan kepada dimensi ilahi akan membuat orang makin lurus. RD. Yustinus Joned Saputra.

  • halam

    an 3

    Apa yang Bisa Dilakukan oleh Tuhan dengan 57 sen?

    Seorang gadis kecil menangis berdiri di dekat sebuah gereja kecil yang

    enggan ia hampiri karena terlalu ramai.

    Aku tidak bisa pergi ke Sekolah Minggu, isaknya ketika seorang pendeta

    berjalan mendekatinya. Melihat penampilannya yang lusuh, acak-acakan,

    pendeta itu menduga, pasti itu alasannya mengapa ia merasa tidak bisa ke

    Sekolah Minggu. Pendeta itu pun menggandeng tangan anak itu, mem-

    bawanya ke dalam, dan menemukan tempat untuknya di kelas Sekolah

    Minggu. Anak itu sangat tersentuh hingga ia pergi tidur di malam hari masih

    memikirkan anak-anak yang tidak memiliki tempat untuk menyembah Yesus.

    Dua tahun kemudian, anak itu terbaring mati di salah satu bangunan rumah

    petak miskin dan orangtuanya meminta kepada Pendeta, yang telah berte-

    man baik dengan putri mereka, untuk memberikan penghormatan terakhir.

    Ketika tubuh yang kurus kecil itu dipindahkan, sebuah tas usang dan kusut

    ditemukan di bawahnya, tampaknya gadis kecil itu menemukannya di

    tempat sampah. Di dalamnya ditemukan uang sebesar 57 sen dan secarik

    kertas bertuliskan tulisan tangan kekanak-kanakany yang bunyinya, Ini

    untuk membantu membangun Gereja agar lebih besar, sehingga anak-anak

    sepertiku bisa pergi Sekolah Minggu.

    Rupanya gadis kecil itu telah menyimpannya selama dua tahun. Ketika

    pendeta itu menangis membaca surat gadis kecil itu, ia langsung tahu apa

    yang harus dilakukannya. Ia membaca catatan dari sobekan kertas dan tas

    merah usang itu ke mimbar. Ia menceritakan kisah cinta yang tidak egois

    dan penuh pengabdian itu. Ia menantang umatnya untuk mengumpulkan

    cukup uang demi mendapatkan bangunan Gereja yang lebih besar.

    Tapi, cerita itu belum berakhir! Sebuah koran besar menerbitkan kisah

    pendeta tadi. Lalu, kisah itu dibaca oleh seorang makelar yang menawarkan

    sebidang tanah senilai ribuan dolar. Ketika diberitahu bahwa Gereja tidak

    bisa membayar begitu banyak, ia menawarkan dengan harga 57 sen. Jemaat

    Gereja pun membuat sumbangan besar. Cek datang silih berganti, lebih

    banyak dan luas jangkauan para penyumbang. Dalam lima tahun, hadiah

    dari gadis kecil itu telah meningkat menjadi 250 ribu dolar. Jumlah yang

    besar waktu itu, ketika pergantian abad dimulai. Cinta tidak egois dari gadis

    kecil itu telah terbayarkan dalam jumlah besar.

  • halam

    an 4

    Ketika kita berada di kota Philadelphia, cobalah mencari Temple Baptis

    Church, dengan kapasitas tempat duduk 3.300 dan Temple University,

    tempat ratusan mahasiswa belajar. Lihat juga, Good Samaritan Hospital dan

    sebuah gedung Sekolah Minggu yang merumahkan ratusan anak-anak di

    daerah itu yang merasa tidak perlu ditinggalkan di luar selama minggu

    waktu sekolah. Dalam salah satu ruang bangunan tersebut, tampak terlihat

    gambar wajah manis gadis kecil si pemberi 57 sen, yang disebut oleh

    Conwell dengan nama Hattie Mei Wiatt, sehingga sesamanya telah membuat

    sejarah. Dan di sampingnya adalah potret pendeta itu, Dr. Russel H. Con-

    well, penulis buku Acres of Diamonds, sebuah kisah nyata.

    Kini, apa yang sudah kita berikan untuk Gereja kita yang juga sedang

    melakukan renovasi agar lebih layak lagi? (Tatik inspire21)

    ============================================================

    Sering Menggunakan Pembersih Tangan

    Sebelum Menerima Komuni?

    Dari mana datangnya kebiasaan ini, tidak ada yang tahu. Siapa yang

    memulainya, pasti sulit juga untuk

    diketahui. Tapi yang jelas, sekarang

    ini banyak umat, terutama di perko-

    taan, yang sibuk menggunakan pro-

    duk pembersih tangan (hand sani-

    tizer) sebelum menyambut Komuni.

    Lho, apakah itu salah?

    Problemnya bukan tentang salah atau

    benar. Malah, niat umat yang seperti

    itu patut dipuji (asumsikan saja n