Home >Documents >Visi Misi Jokowi-jk

Visi Misi Jokowi-jk

Date post:19-Jan-2016
Category:
View:101 times
Download:0 times
Share this document with a friend
Transcript:
  • JALAN PERUBAHANUNTUK INDONESIA YANGBERDAULAT,MANDIRIDAN

    BERKEPRIBADIAN

    VISI MISI,DANPROGRAM AKSI

    JUSUF KALLA1 4

    JAKARTAMEI2014

  • PENDAHULUAN:BERJALANDIATAS AMANAT KONSTITUSI

    Reformasi 1998 menjanjikan lahirnya Indonesia baru yang lebihdemokratis, sejahtera,berkeadilan,danbermartabat. Namun,16 tahunkemudian,jalan menuju pemenuhan janji-janji reformasi itu tampak semakin teijal danpenuh dengan ketidakpastian. Selama 16 tahun itu pula Indonesia terbelenggudalam transisi yang berkepanjangan. Ketidakpastiandan transisi berkepanjanganituhamssegera dihentikanuntuk memberijalan bagikelahiranIndonesiaHebat.Perubahanmenjadisebuah keniscayaan.

    Jalan pembahan adalah jalan ideologis. Secara historis, jalan ideologis itubersumber pada Proklamasi, Pancasila 1Juni 1945, dan Pembukaan UUD 1945.Proklamasi dan Pancasila 1Juni 1945 menegaskan jati diri dan identitas kitasebagai sebuah bangsa yang merdeka dan berdaulat. Pembukaan UUD 1945dengan jelas mengamanatkan arah tujuan nasional dari pembentukan NegaraKesatuan Republik Indonesia (NKRI) imtuk melindungi segenap bangsaIndonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraanumum, mencerdaskan kehidupanbangsa dan ikutmelaksanakanketertibanduniaberdasarkankemerdekaan,perdamaianabadidankeadilansosial.

    TIGA PROBLEMPOKOK BANGSADalam peijuangan mencapai tujuan nasional, bangsa Indonesia

    dihadapkan pada tiga masalah pokok bangsa, yakni (1) merosotnya kewibawaannegara, (2) melemahnya sendi-sendi perekonomiannasional, dan (3) merebaknyaintoleransidankrisiskepribadianbangsa.

    Ancaman Terhadap Wibawa Negara. Wibawa negara merosot ketikanegara tidak kuasa memberikan rasa aman kepada segenap warganegara, tidakmampu mendeteksi ancaman terhadap kedaulatan wilayah, membiarkanpelanggaran hak asasi manusia (HAM), lemah dalam penegakan hukum, dantidak berdaya dalam mengelola konflik sosial. Negara semakin tidak berwibawaketika masyarakat semakin tidak percaya kepada institusipublik, dan pemimpintidak memiliki kredibilitas yang cukup untuk menjadi teladan dalam menjawabharapan publik terhadap pembahan kearah yang lebih baik. Harapan untukmenegakkan wibawa negara semakin pudar ketika negara mengikat diri padasejumlah perjanjian internasional yang mencederai karakter dan maknakedaulatan, yang lebih memberi keuntungan bagi perseorangan, kelompokmaupunperusahaanmultinasionalketimbangbagikepentingannasional.

    Kelemahan Sendi Perekonomian Bangsa. Lemahnya sendi-sendiperekonomianbangsa terlihat daribelum terselesaikannya persoalankemiskinan,kesenjangan sosial, kesenjangan antarwilayah, kerusakan lingkungan hidupsebagai akibat dari eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan, danketergantungan dalamhalpangan, energi, keuangandan teknologi. Negara tidak

  • mampu memanfaatkan kandungan kekayaan alam yang sangat besar, baik yangmewujud (tangible) maupun bersifat non-fisik (intangible), bagi kesejabteraanrakyatnya. Harapan akan perkuatan sendi-sendi ekonomi bangsa menjadisemakinjauh ketiganegara tidak kuasa memberijaminan kesehatan dan kualitashidup yang layak bagi warganya, gagal dalam memperkecil ketimpangan danketidakmerataan pendapatan nasional, melanggengkan ketergantungan atashutangluar negeri danpenyediaanpanganyang mengandalkanimpor, dan tidaktanggap dalammenghadapipersoalankrisis energi akibat dominasi alat produksidanmodalkorporasiglobalserta berkurangnya cadanganminyaknasional.

    Intoleransi dan Krisis Kepribadian Bangsa. Folitik penyeragaman telahmengikis karakter Indonesia sebagai bangsa pejuang, memudarkan solidaritasdan gotong royong, serta meminggirkan kebudayaan lokal. Jati diri bangsaterkoyak oleh merebaknya konflik sektarian dan berbagai bentuk intoleransi.Negara abai dalammenghormati danmengelola keragaman danperbedaanyangmenjadi karakter Indonesia sebagai bangsa yang majemuk. Sikap untuk tidakbersediahidupbersama dalamsebuah komunitasyangberagamtelah melahirkanekspresi intoleransi dalam bentuk kebencian, permusuhan, diskriminasi dantindakankekerasan terhadap "yangberbeda".Kegagalanpengelolaankeragamanituterkait denganmasalahketidakadilandalamrealokasidanredistribusisumberdaya nasional yang memperuncing kesenjangan sosial. Pada saat yang sama,kemajuan teknologi informasi dan transportasi yang begitu cepat telahmelahirkan"dunia tanpa batas" (borderless-state), yangpadagilirannya membawadampak negatif berupa kejut budaya (culture shock) dan ketunggalan identitasglobal di kalangan generasi muda Indonesia. Hal ini mendorong pencariankembali basis-basis identitas primordial sebagai representasi simbolik yangmenjadi pembeda dengan yang lainnya. Konsekuensinya, bangsa ini berada ditengah pertarunganantara dua arus kebudayaan. Disatu sisi, manusia Indonesiadihadapkan pada arus kebudayaan yang didorong oleh kekuatan pasar yangmenempatkan manusia sebagai komoditas semata. Di sisi lain, muncul aruskebudayaan yang menekankan penguatan identitas primordial ditengahderasnya arus globalisasi. Akumulasi dari kegagalan mengelola dampakpersilangan dua arus kebudayaan tersebut menjadi ancaman bagi pembangunankarakter bangsa (nation and character building).

    MENEGUHKANKEMBALIJALANIDEOLOGISKami berkeyakinan bahwa bangsa ini mampu bertahan dalam deraan

    gelombang sejarah apabila dipandu oleh suatu ideologi. Ideologi sebagaipenuntun; ideologi sebagai penggerak; ideologi sebagai pemersatu perjuangan;dan ideologi sebagai bintangpengarah. Ideologi ituadalah PANCASILA 1JUNI1945 danTRISAKTI.

  • Partcasila 1Juni 1945 meletakkan dasar dan sekaligus memberikan arahdalam membangun jiwa bangsa untuk menegakkan kembali kedaulatan,martabat dan kebanggaan sebagai sebuah bangsa; menegaskan kembali fungsipublik negara; menggelorakan kembali harapan di tengah krisis sosial yangmendalam; menemukan jalan bagi masa depan bangsa; dan, meneguhkankembalijiwa gotong-royong.

    TRISAKTI memberikan pemahaman mengenai dasar untuk memulihkanharga diribangsa dalam pergaulan antar-bangsa yang sederajat danbermartabat,yakni berdaulat dalam bidang politik, berdikari dalam bidang ekonomi danberkepribadian dalam kebudayaan. Jalan TRISAKTI menjadi basis dalampembangunankarakter kebangsaandanlandasankebijakannasionalmasa depan.TRISAKTI mewadahi semangat peijuangan nasional yang diteijemahkan dalamtiga aspek kehidupan berbangsa dan bernegara yaitu berdaulat dalam politik,berdikaridalamekonomi, danberkepribadiandalamkebudayaan.PenjabaranTRISAKTI diwujudkandalambentuk:1) Kedaulatandalampolitik diwujudkandalampembangunandemokrasipolitik

    yangberdasarkanhikmat kebijaksanaan dalampermusyawaratanperwakilan.Kedaulatan rakyat menjadi karakter, nilai dan semangat yang dibangunmelaluigotongroyongdanpersatuanbangsa.

    2) Berdikari dalam ekonomi diwujudkan dalam pembangunan demokrasiekonomi yang menempatkan rakyat sebagai pemegang kedaulatan di dalampengelolaan keuangan negara dan pelaku utama dalam pembentukanproduksi dan distribusi nasional. Negara memiliki karakter kebijakan dankewibawaan pemimpin yang kuat dan berdaulat dalam mengambilkeputusan-keputusan ekonomi rakyat melalui penggunakan sumber dayaekonomi nasional dan anggaran negara untuk memenuhi hak dasarwarganegara.

    3) Kepribadian dalam kebudayaan diwujudkan melalui pembangunan karakterdan kegotong-royongan yang berdasar pada realitas kebhinekaan dankemaritiman sebagai kekuatan potensi bangsa dalam mewujudkanimplementasi demokrasi politik dan demokrasi ekonomi Indonesia masadepan.

    Dengan demikian, prinsip dasar dalam TRISAKTI ini menjadi basissekaligus arah perubahanyang berdasarkanpada mandat konstitusidanmenjadipilihan sadar dalam pengembangan daya hidup kebangsaan Indonesia, menolakketergantungan dan diskriminasi, serta terbuka dan sederajat dalammembangunkerjasama yangproduktif dalamtataranpergaulanintemasional.

  • Untuk itu, untuk lima tahun kedepan, pemerintahan kami akan dipanduolehVISI sebagaiberikut:

    Gotongroyongmerupakanintisari dari ideologiPancasila1Juni 1945.Kamiberkeyakinanbahwa tanggungjawab untuk membangunbangsa ke depan hamsdilakukan dengan cara musyawarah dalam memutuskan dan gotong royongdalamkeija.Kekuatanrakyat adalahGotongRoyong,dimana rakyat secara bahu-membahumenyelesaikanberbagaihambatandan tantangannya ke depan.

    Kami menyadari untuk mewujudkan ideologi itu bukan keija orangperorang ataupun kelompok. Ideologi memerlukan alat kolektif yang namanyagotong royong. Dengan kolektivitas itulah "ruh" ideologi akan memiliki "raga",keberlanjutan dan sekaligus kekuatan maha dahsyat. Sedangkan kata-kata"berdaulat, mandiri dan berkepribadian" adalah amanat Pancasila 1Juni 1945danTRISAKTI.

    Berdaulat adalahhakikat darikemerdekaan,yaituhak setiap bangsauntukmenentukan nasibnya sendiri dan menentukan apa yang terbaik bagi diribangsanya. Oleh karena itu, pembangunan, sebagai usaha untuk mewujudkankedaulatan sebagai negara merdeka, mempakan upaya membangunkemandirian. Namun, kemandirian yang dimaksudkan bukanlah kemandiriandalam keterisolasian, tetapi didasarkan pada kesadaran akan adanya kondisisalingketergantungandalamkehidupanbermasyarakat,baik dalamsuatunegaramaupun antar-bangsa. Kemandirianyang demikian adalah paham yang proaktifdan bukan reaktif atau defensif. Bangsa yang berdaulat dan mandiri adalahbangsa yang mampu mewujudkan kehidupan sejajar dan sederajat denganbangsa lain.Oleh karena itu,untuk membangunkemandirian,mutlak diperlukanperkuatan kemampuan nasional di bidang ideologi, politik, ekonomi, sosialbudaya dan pertahanan keamanan. Kemampuan untuk berdaya saing menjadikunciuntukmencapaikemajuansekaligus kemandirian.

    Bangsa yang berdaulat dan mandiri adalah bangsa yang mampumewujudkankehidupansejajar dan sederajat denganbangsa lainyang telah majudengan mengandalkanpada kemampuandankekuatansendiri. Olehkarena itu,untuk membangun kemandirian, mutlak harus dibangun dengan memperkuatkemampuan nasional di bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya danpertahanan keamanan. Kemampuan untuk be

Embed Size (px)
Recommended