Home >Documents >vaksin-rotavirus CENDOL

vaksin-rotavirus CENDOL

Date post:02-Jan-2016
Category:
View:59 times
Download:8 times
Share this document with a friend
Description:
mantap poenya
Transcript:

Obstruktive Sleep Apnea Syndrome Risma Kamilah (406107053)

Referat Vaksin Rotavirus Hernita Ferliyani (030.07.107)

BAB IPENDAHULUAN

Rotavirus merupakan golongan famili Reoviridae yang berperan dalam penyebaran diare. Diare merupakan beban masalah kesehatan baik di tingkat global, regional maupun nasional. Rotavirus adalah penyebab diare paling banyak pada anak balita dan anak-anak. Anak-anak dapat terkena infeksi rotavirus beberapa kali dalam hidupnya, dan hampir setiap anak akan terkena infeksi ini. Dilaporkan oleh WHO bahwa setiap tahun diare rotavirus menyebabkan > 500.000 kematian anak usia balita di seluruh dunia dan >80% di antaranya terjadi di Negara berkembang Gejala berentang dari ringan sampai terjadi dehidrasi berat disertai muntah-muntah, suhu badan tinggi serta kematian. Rotavirus dapat menular dengan mudah dari anak ke anak. Mencegah infeksi dengan cara menjaga higiene, rajin mencuci tangan dan menjaga kebersihan adalah sangat penting. Pengobatan diare karena rotavirus bersifat suportif seperti rehidrasi, nutrisi, pemberian zinc. Perbaikan sanitasi lingkungan dan higiene serta upaya rehidrasi oral dengan oralit saja tidak dapat menurunkan angka mortalitas dan morbiditas diare rotavirus, sehingga vaksinasi merupakan upaya pencegahan yang paling efektif. WHO merekomendasikan semua lembaga kesehatan dunia untuk memberikan vaksinasi rotavirus.

BAB IIROTAVIRUS

1.DefinisiRotavirus adalah virus golongan famili Reoviridae yang berperan dalam penyebab utama penyakit diare akut pada bayi dan anak-anak.1,2 Diare merupakan masalah kesehatan baik di tingkat global, regional maupun nasional. Di daerah tropis infeksi rotavirus terjadi sepanjang tahun dan kebanyakan menyebar melalui jalur fekal oral dan sebagian melalui saluran nafas.2

2. EpidemiologiRotavirus menjadi penyebab utama diare berat pada anak usia balita baik di negara maju maupun negara berkembang. Dilaporkan oleh WHO bahwa setiap tahun diare rotavirus menyebabkan > 500.000 kematian anak usia balita di seluruh dunia dan >80% di antaranya terjadi di Negara berkembang. Pada daerah empat musim, infeksi rotavirus umumnya terjadi pada musim dingin. Di Indonesia, kejadian rotavirus terjadi sepanjang tahun dengan kejadian tertinggi pada musim panas yaitu sekitar bulan Juli Agustus.2 Gambar 1. Distribusi kasus diare rotavirus rawat inap.8Rotavirus umumnya menyerang anak berusia di bawah 0 - 5 tahun dan insidens tertinggi diare rotavirus dijumpai pada kelompok usia 1-2 tahun (42,2%). Kelompok usia 1-5 tahun (63,7%) berisiko lebih sering menderita diare rotavirus dibanding usia bayi (36,2% ). Tidak ada perbedaan jenis kelamin antara pasien, laki-laki (59,5%) dan perempuan (40,5%).8

3.Struktur VirusRotavirus adalah virus double helix RNA dari famili Reoviridea.1 Rotavirus terdiri dari 7 serotype, yaitu dari Grup A hingga Grup G. Virus memiliki sifat sebagai parasit, di mana virus memerlukan sel inang untuk memproduksi protein, memodifikasi genom dalam proses replikasinya dan dalam propagasi virion agar memiliki sifat infeksius. Akibat dari propagasi tersebut adalah kerusakan sel inang yang menyebabkan terjadinya penyakit. Dalam proses replikasinya beberapa virus dapat menyebabkan infeksi laten sebagai hasil dari interaksi genom virus ke dalam sel inang, dan beberapa jenis virus dapat menimbulkan transformasi pada sel inang.Rotavirus termasuk dalam anggota keluarga virus Reoviridae, memiliki kapsid yang berbentuk icosahedral, berukuran 70 nm, dan tidak memiliki envelope. Virus ini terdiri dari tiga lapisan yaitu kapsid luar, kapsid dalam dan inti. Tiga kapsid terluar terbagi menjadi sub unit kapsid yang membentuk gambaran seperti roda (rota= wheel). Kapsid tersebut berbentuk konsentris yang mengitari suatu genom dan terdiri atas 11 segmen RNA untai ganda di dalam lapisan inti. Virus ini terdiri dari grup A, B, C, D, E dan F. Rotavirus grup A yang merupakan golongan rotavirus yang paling banyak menginfeksi manusia, dapat dibagi menjadi dua berdasarkan jenis kapsid protein VP7 (viral protein-7) yang disebut sebagai tipe G, dan kapsid protein VP4 (viral protein-4) yang disebut sebagai tipe P. 1

Gambar 2. Susunan virion rotavirus 1Dua struktur protein yaitu VP7 yang terdiri dari protein G dan glikoprotein dan VP4 yang terdiri dari protein P dan protease pembelahan protein, merupakan protein yang melapisi bagian luar dari virus dan merupakan pertimbangan yang penting untuk membuat vaksin dari rotavirus. Protein pembuat kapsid bagian dalam paling banyak adalah VP6, dan sangat mudah ditemukan dalam pemeriksaan antigen, sedangkan protein nonstruktur kapsid bagian dalam adalah NSP4 yang merupakan sebagai faktor virulensi dari rotavirus. 1

4.PatogenesisMekanisme terjadinya diare rotavirus dimulai dengan rusaknya sel epitel yang melapisi permukaan dinding usus halus yang fungsinya sebagai penyerap garam dan air yang berasal dari makanan.2,3 Virus menyerang dan memasuki sel enterosit yang matang pada ujung vili usus kecil. Virus ini menyebabkan perubahan pada struktur dari mukosa usus kecil, berupa pemendekan villi dan terdapatnya infiltrat sel-sel radang mononuklear pada lamina propria. Sel enterosit yang rusak digantikan oleh sel sekretorik yang berasal dari kripte vilus usus halus yang kemudian mensekresi garam maupun air secara berlebihan ke dalam lumen usus.

Gambar 3. Patofisiologi infeksi rotavirus 1Secara histologi perubahan pada jaringan sel akibat infeksi rotavirus ditandai dengan adanya akumulasi sel - sel enterosit yang mengalami vakuolisasi, apoptosis dan terjadinya proliferasi yang meningkat pada hari kesatu sampai hari ketujuh pasca infeksi. Semua proses tersebut menyebabkan vilus atrofi, disamping itu juga banyak sel yang hilang akibat proses apoptosis. Selain itu terjadi juga percepatan masa penggantian antar sel yang berakibat terbentuknya sel - sel epitel yang kurang terdeferensiasi yang kesemuanya berakibat pada penurunan fungsi absorpsi dari sel epitel intestinal. Sebagian dari sel epitel yang melapisi permukaan dinding usus halus juga bersifat sebagai sel endokrin penghasil ensim disakaridase. Rusaknya sel epitel akibat invasi virus menyebabkan kadar ensim disakharidase usus juga menurun dan pencernaan disakarida terganggu. Disakarida yang tidak tercerna akan menarik lebih banyak air sehingga terjadi diare osmotik.

5. Gejala dan TandaInfeksi rotavirus khas mulai sesudah masa inkubasi kurang dari 48 jam dengan demam yang disertai dengan mulainya BAB cair yang sering. Muntah dan demam khas mereda selama hari kedua sakit, tapi diare sering berlanjut selama 5-7 hari. Dehidrasi mungkin terjadi dan memburuk dengan cepat, terutama pada bayi. 2,3 Walaupun kebanyakan neonatus yang terinfeksi dengan rotavirus tidak bergejala. Rotavirus ada dimana-mana. Penularan Virus ini biasa melalui fekal oral.Pada bayi dan anak, mula-mula akan menjadi rewel, gelisah, suhu badan mungkin meningkat, nafsu makan berkurang atau bahkan tidak ada kemudian akan timbul diare. Karena seringnya defekasi, anus dan sekitarnya lecet karena tinja makin lama menjadi asam akibat banyaknya asam laktat yang terjadi dari pemecahan laktosa yang tidak dapat di absorbsi oleh usus. Bila penderita telah banyak kehilangan air dan elektrolit, terjadilah gejala dehidrasi. Berat badan turun, pada bayi akan terlihat ubun-ubun cekung. Tonus dan turgor kulit berkurang, selaput lendir mulut dan bibir terlihat kering.

6.Diagnosis Diagnosis diare akut yang disebabkan infeksi rotavirus sering hanya berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan fisik. Anamnesis didapatkan : Demam BAB cair Muntah Batuk dan pilek (ISPA) Gejala - Gejala Dehidrasi mulai ringan, sedang sampai berat.Pada Pemeriksaan fisik didapatkan : Keadaan Umum : kesadaran, mulai rewel, gelisah, apatis, sampai terjadinya penurunan kesadaran, status gizi, derajat sakit, keaktifan dan kondisi yang relevan dengan penyakit. Tanda Vital : Normal atau meningkat jika sudah mencapai dehidrasi berat. Kepala : ubun ubun cekung Mata : Cowong, air mata berkurang. Hidung : Sekret , Nafas cuping hidung Mulut : bibir dan mukosa kering, stomatitis, sianosis, lidah kotor. Thoraks : Retraksi jika sudah terjadi dehidrasi berat. Abdomen : cembung , bising usus meningkat, hipertimpani, turgor normal, lambat atau sangat lambat. Anus : perianal eritema Ekstremitas : akral hangat atau dingin, sianosi, capillary refill time normal atau lambat.Pemeriksaan laboratorium meliputi darah rutin, feses rutin, pemeriksaan gula darah sewaktu, elektrolit dan BGA. Untuk memastikan diagnosis dari diare akut karena infeksi rotavirus diperlukan pemeriksaan feses dengan metode rapid antigen test.3 Salah satunya dengan enzyme immunoassay (EIA) dengan sensitivitas dan spesifik lebih dari 98 % atau latex agglutination test yang kurang sensitif dibanding EIA. Antibodi anti rotavirus yaitu imunoglobulin A dan M diekresikan difeses setelah hari pertama terinfeksi rotavirus. Tes antibodi masih positif sampai 10 hari setelah infeksi pertama dan dapat lebih lama lagi jika terjadi infeksi berulang. Oleh karena itu pemeriksaan tes antibodi dapat digunakan untuk mendiagnosa rotavirus. Namun dalam praktek sehari-hari bila manifestasi klinis sudah jelas biasanya tidak diperlukan lagi pemeriksaan serologis tersebut.

7.PenatalaksanaanPengobatan diare karena rotavirus bersifat suportif.2,3 Tujuan dari farmakoterapi adalah untuk mengurangi morbiditas, mencegah komplikasi, dan untuk profilaksis. Agen anti diare (misalnya, kaolin-pektin) dan antimotility (yaitu, loperamide) dikontraindikasikan dalam pengobatandiare karena infeksi viruspada anak-anak karena kurangnya manfaat dan meningkatkan risiko efek samping, termasuk ileus, mengantuk, dan mual. Pemberian antibiotika tidak dianjurkan dan direkomendasikan. Karena infeksi rotavirus adalah penyakit Self limiting Disea

Embed Size (px)
Recommended