Home >Data & Analytics >UU RI NO 4 TAHUN 2009 TENTANG PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA

UU RI NO 4 TAHUN 2009 TENTANG PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA

Date post:29-Nov-2014
Category:
View:1,035 times
Download:1 times
Share this document with a friend
Description:
 
Transcript:
  • 1. UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA LAW OF THE REPUBLIC OF INDONESIA NUMBER 4 OF 2009 CONCERNING MINERAL AND COAL MINING Table of Contents Pasal / Article BAB I KETENTUAN UMUM 1 CH. I GENERAL PROVISIONS BAB II ASAS DAN TUJUAN 23 CH. II PRINCIPLES AND OBJECTIVES BAB III PENGUASAAN MINERAL DAN BATUBARA 45 CH. III CONTROL OF MINERALS AND COAL BAB IV KEWENANGAN PENGELOLAAN PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA 68 CH. IV AUTHORITY IN THE MANAGEMENT OF MINERALS AND COAL BAB V WILAYAH PERTAMBANGAN CH. V MINING ZONES Bagian Kesatu: Umum 913 Part One: General Bagian Kedua: Wilayah Usaha Pertambangan 1419 Part Two: Mining Areas Bagian Ketiga: Wilayah Pertambangan Rakyat 2026 Part Three: Small-Scale Mining Areas Bagian Keempat: Wilayah Pertambangan Rakyat 2733 Part Four: State Reserve Areas BAB VI USAHA PERTAMBANGAN 3435 CH. VI MINING BUSINESS BAB VII IZIN USAHA PERTAMBANGAN CH. VII MINING PERMITS Bagian Kesatu: Umum 3641 Part One: General Bagian Kedua: IUP Eksplorasi 4245 Par Two: Exploration Mining Permits Bagian Ketiga: IUP Operasi Produksi 4649 Part Three: Production Operation Mining Permits Bagian Keempat: Pertambangan Mineral Part Four: Mineral Mining Paragraf 1: Pertambangan Mineral Radioaktif 50 Paragraph 1: Radioactive Mineral Mining Paragraf 2: Pertambangan Mineral Logam 5153 Paragraph 2: Metal Mineral Mining Paragraf 3: Pertambangan Mineral Bukan Logam 5456 Paragraph 3: Nonmetal Mineral Mining Paragraf 4: Pertambangan Batuan 5759 Paragraph 4: Rock Mining Bagian Kelima: Pertambangan Batubara 6063 Part Five: Coal Mining Translated by: Wishnu Basuki (ABNR) wbasuki@abnrlaw.com
  • 2. Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro 2 BAB VIII PERSYARATAN PERIZINAN USAHA PERTAMBANGAN 6465 CH. VIII REQUIREMENTS FOR MINING PERMITS BAB IX IZIN PERTAMBANGAN RAKYAT 6673 CH. IX SMALL-SCALE MINING PERMITS BAB X IZIN USAHA PERTAMBANGAN KHUSUS 7484 CH. X SPECIAL MINING PERMITS BAB XI PERSYARATAN PERIZINAN USAHA PERTAMBANGAN KHUSUS 8586 CH. X REQUIREMENTS FOR SPECIAL MINING PERMITS BAB XII DATA PERTAMBANGAN 8789 CH. XII DATA ON MINING BAB XIII HAK DAN KEWAJIBAN CH. XIII RIGHTS AND OBLIGATIONS Bagian Kesatu: Hak 9094 Part One: Rights Bagian Kedua: Kewajiban 95112 Part Two: Obligations BAB XIV PENGHENTIAN SEMENTARA KEGIATAN IZIN USAHA PERTAMBANGAN DAN IZIN USAHA PERTAMBANGAN KHUSUS 113116 CH. XIV SUSPENSION OF MINING PERMIT ACTIVITIES AND SPECIAL MINING PERMIT ACTIVITIES BAB XV BERAKHIRNYA IZIN USAHA PERTAMBANGAN DAN IZIN USAHA PERTAMBANGAN KHUSUS 117123 BAB XV TERMINATION OF MINING PERMITS AND SPECIAL MINING PERMITS BAB XVI USAHA JASA PERTAMBANGAN 124127 CH. XVI MINING SERVICES BUSINESS BAB XVII PENDAPATAN NEGARA DAN DAERAH 128133 CH. XVII STATE AND REGIONAL INCOME BAB XVIII PENGGUNAAN TANAH UNTUK KEGIATAN USAHA PERTAMBANGAN 134138 CH. XVIII USE OF LAND FOR MINING BUSINESS ACTIVITIES BAB XIX PEMBINAAN, PENGAWASAN, DAN PERLINDUNGAN MASYARAKAT CH. XIX DIRECTION, SUPERVISION, AND PUBLIC PROTECTION Bagian Kesatu: Pembinaan dan Pengawasan 139144 Part One: Direction and Supervision Bagian Kedua: Perlindungan Masyarakat 145 Part Two: Public Protection BAB XX PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN SERTA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN CH. XX RESEARCH AND DEVELOPMENT AS WELL AS EDUCATION AND TRAINING Bagian Kesatu: Penelitian dan Pengembangan 146 Part One: Research and Development Bagian Kedua: Pendidikan dan Pelatihan 147148 Part Two: Education and Training BAB XXI PENYIDIKAN 149150 CH. XXI INVESTIGATIONS BAB XXII SANKSI ADMINISTRATIF 151157 CH. XXII ADMINISTRATIVE SANCTIONS BAB XXIII KETENTUAN PIDANA 158165 CH. XXIII PENAL PROVISIONS BAB XXIV KETENTUAN LAIN-LAIN 166168 CH. XXIV MISCELLANEOUS PROVISIONS BAB XXV KETENTUAN PERALIHAN 169172 CH. XXV TRANSITIONAL PROVISIONS BAB XXVI KETENTUAN PENUTUP 173175 CH. XXVI CONCLUDING PROVISIONS
  • 3. Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro 3 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA LAW OF THE REPUBLIC OF INDONESIA NUMBER 4 OF 2009 CONCERNING MINERAL AND COAL MINING DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WITH THE BLESSING OF GOD ALMIGHTY PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, THE PRESIDENT OF THE REPUBLIC OF INDONESIA, Menimbang: Considering: a. bahwa mineral dan batubara yang terkandung dalam wilayah hukum pertambangan Indonesia merupakan kekayaan alam tak terbarukan sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa yang mempunyai peranan penting dalam memenuhi hajat hidup orang banyak, karena itu pengelolaannya harus dikuasai oleh Negara untuk memberi nilai tambah secara nyata bagi perekonomian nasional dalam usaha mencapai kemakmuran dan kesejahteraan rakyat secara berkeadilan; a. that minerals and coal contained within mining jurisdiction of Indonesia are nonrenewable natural riches God Almighty has granted, and have important roles in meeting the life of many people; therefore, the management thereof is subject to control by the State to bring real added value to the national economy in efforts to arrive at public welfare and prosperity in a just manner; b. bahwa kegiatan usaha pertambangan mineral dan batubara yang merupakan kegiatan usaha pertambangan di luar panas bumi, minyak dan gas bumi serta air tanah mempunyai peranan penting dalam memberikan nilai tambah secara nyata kepada pertumbuhan ekonomi nasional dan pembangunan daerah secara berkelanjutan; b. that mineral and coal mining business activities that constitute mining business activities other than geothermal, petroleum and natural gas, and ground water have important roles in bringing continuously real added value to the national economic growth and development in regions; c. bahwa dengan mempertimbangkan perkembangan nasional maupun internasional, Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan sudah tidak sesuai lagi sehingga dibutuhkan perubahan peraturan perundang-undangan di bidang pertambangan mineral dan batubara yang dapat mengelola dan mengusahakan potensi mineral dan batubara secara mandiri, andal, transparan, berdaya saing, efisien, dan berwawasan lingkungan, guna menjamin pembangunan nasional secara berkelanjutan; c. that in consideration of national and international developments, Law Number 11 of 1967 concerning Basic Provisions of Mining is no longer current so that revision of laws and regulations in the field of mineral and coal mining is required in order to manage and seek potential minerals and coal in independent, reliable, transparent, competitive, efficient and environmentally- sound manners to sustainably assure national development;
  • 4. Ali Budiardjo, Nugroho, Reksodiputro 4 d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu membentuk Undang- Undang tentang Pertambangan Mineral dan Batubara; d. that on the grounds as intended by point (a), point (b), and point (c), it is necessary to make a Law concerning Mineral and Coal Mining; PENJELASAN UMUM GENERAL ELUCIDATION Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 33 ayat (3) menegaskan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Mengingat mineral dan batubara sebagai kekayaan alam yang terkandung di dalam bumi merupakan sumber daya alam yang tak terbarukan, pengelolaannya perlu dilakukan seoptimal mungkin, efisien, transparan, berkelanjutan dan berwawasan lingkungan, serta berkeadilan agar memperoleh manfaat sebesar-besar bagi kemakmuran rakyat secara berkelanjutan. Article 33 section (3) of the 1945 Constitution asserts that the land, the waters, and the natural riches contained therein shall be controlled by the state and exploited in the greatest prosperity of the people. Given minerals and coal as natural riches contained in the land are nonrenewable natural resources, the management thereof needs to be optimally conducted in efficient, transparent, sustainable, environmentally-sound, and just manners in order to reap the continuous benefits in the greatest prosperity of the people. Guna memenuhi ketentuan Pasal 33 ayat (3) Undang- Undang Dasar 1945 tersebut, telah diterbitkan Undang- Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan- ketentuan Pokok Pertambangan. Undang-Undang tersebut selama lebih kurang empat dasawarsa sejak diberlakukannya telah dapat memberikan sumbangan yang penting bagi pembangunan nasional. To implement the provisions of Article 33 section (3) of the 1945 Constitution, Law Number 11 of 1967 concerning Basic Provisions on Mining is thus enacted. The Law has about four decades since its enactment given important contributions to national development. Dalam perkembangan lebih lanjut, undang-undang tersebut yang materi muatannya bersifat sentralistik sudah tidak sesuai dengan perkembangan situasi sekarang dan tantangan di masa depan. Di samping itu, pembangunan pertambangan harus menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan strategis, baik bersifat nasional maupun internasional. Tantangan utama yang dihadapi oleh pertambangan mineral dan batubara adalah pengaruh globalisasi yang mendorong demokratisasi, otonomi daerah, hak asasi manusia, lingkungan hidup, perkembangan teknologi dan informasi, hak atas kekayaan intelektual serta tuntutan peningkatan peran swasta dan masyarakat. As time passes, the law with centralized contents no longer keeps pace with the current situations and future challenges. In addition, mines development must adjust itself to both national and international strategic environmental changes. The primary challenge faced by m
Embed Size (px)
Recommended