Home >Documents >Upaya Mengatasi Masalah Pelajar Smp Mts Dikota Smi

Upaya Mengatasi Masalah Pelajar Smp Mts Dikota Smi

Date post:09-Jul-2015
Category:
View:50 times
Download:0 times
Share this document with a friend
Transcript:

Remaja merupakan satu tahap dalam kehidupan manusia, tahap ini merupakan tahap yang kritis, karena merupakan tahap transisi dari masa anak, anak masa dewasa. Pada masa ini gejolak mudanya sedang bangkitnya keinginan, sebagai mana kita ketahui kejadian tersebut dibeberapa tempat di Kota Sukabumi, seperti misalnya di Lapang Merdeka, Pekuburan Cina Kerkop, Jalur Lingkar Selatan, Jl.Ir.H.Juanda dan tempat-tempat lainnya.

Sebagai orang tua, guru, masyarakat, juga Kepolisian merasa ikut bertanggung jawab kepada keadaan pelajar yang ada di Kota Sukabumi ini, kita harus melakukan sesuatu mulai yang terkecil yang bisa kita lakukan. Misalnya mulai memberikan perhatian terhadap anak, adik, kemenalan, cucu, tetangga, pelajar, apapun setatus mereka dengan kita.

1. Masalah Tawuran

Siapapun kita harus peduli terhadap masalah ini. Semua komponen pemerintah, orangtua, dinas pendidikan, guru, kepala sekolah, TU, RT, RW, LSM, dsb. Masalah masalah yang terjadi pada remaja ini diantaranya :

1. Masalah Tawuran 2. Penyimpangan Seksual 3. Penyimpangan Perilaku

Pengertian :Tawuran adalah suatu tindakan anarkis yang dilakukan oleh dua kelompok dalam bentuk perkelahian masal di tempat umum sehingga menimbulkan keributan dan rasa ketakutan (teror) pada warga yang ada di sekitar tempat kejadian perkara tawuran. Tawuran bisa terjadi antar pelajar sekolah, antar mahasiswa kampus, antar warga, antar pendukung / suporter, antar pemeluk agama, antar suku, dan bisa juga antara warga dengan pelajar, antara pendukung parpol dengan Polisi dan lain sebagainya. Pelaku Tawuran : 1. 2. 3. 4. Anak-anak Pelajar Mahasiswa Orang Tua

1. 2. 3.

Saling mengejek Adanya perlombaan / pertandingan Balas dendam akibat adanya korban (harta denda / jiwa)

4.5. 6.

Sengketa perbatasan / wilayahPerbedaan budaya / kebiasaan Lokasi berdekatan

7.8. 9.

Adanya provokasiTimbulnya ksalahpahaman antar kelompok Adanya Tradisi yang turun temurun dari senior

10. Adanya Gengsi 11. Merasa paling kuat diantara kelompok lain

1. Dialog 2. Pemasangan Spanduk/Pamflet/Brosur

3. Kerjasama Media Masa/Elektronik4. Tatap Muka 5. Olah Raga 6. Upacara Bersama 7. Istighosah 8. Muhasafah

PATROLI

PENJAGAAN

PELAKU TAWURAN

SIDIK POLRI

TUNTUT JAKSA

DIADIL I PN

MELAKSANAKA N VONIS (DITAHAN LP)

1. Disekolah2. Kampus

3. Desa / perkampungan4. Jalan protokol 5. Gang 6. Lapangan

1. 2. 3. 4. 5.

Pisau Samurai Celurit Stick/Balok Kayu Gir Sepeda Motor

6.7. 8. 9.

Golok/ParangBom molotof Taring binatang Panah

10. Ketapel 11. Garpu 12. Sabuk

1. Pelajar tersebut tidak mematuhi tata tertib 2. Fasilitas yang ada disekolah tidak ada / mencukupi 3. Aturan / tata tertib tersebut tidak ditegakan 4. Guru yang mengajar terlambat / tidak masuk 5. Kurangnya pemahaman terhadap aturan hukum 6. Lemahnya pemahaman terhadap agama

1. Kerugian harta benda 2. Kehilangan nyawa 3. Luka luka (berat / ringan ) 4. Kerusakan / kehancuran

fasilitas umum5. Kehilangan kepercayaan 6. Kehilangan harga diri

7. Situasi tidak kondusif8. Mengganggu perekonomian

1. 2. 3. 4. 5. 6.

Antar kampung Antar geng / kelompok

tertentuAntar desa Antar suku Antar pelajar / mahasiswa Antar Supporter

1. Kuasai aturan aturan hukum baik yang tertulis maupun tidak tertulis 2. Tidak mudah terhasut / terprovokasi 3. Tingkatkan pemahaman agama sejak diri

4. Perlu diingat setiap perbuatan yang melanggarhukum apabila dilakukan pasti ada sangsinya 5. Perlu adanya pengawasan dari orang tua , guru,

dan masyarakat

1. Penyimpangan Seksual

Penyimpangan seksual adalah aktivitas seksual yang ditempuh seseorang untuk mendapatkan kenikmatan seksual dengan tidak sewajarnya. Biasanya, cara yang digunakan oleh orang tersebut adalah menggunakan obyek seks yang tidak wajar. Penyebab terjadinya kelainan ini bersifat psikologis atau kejiwaan, seperti pengalaman sewaktu kecil, dari lingkungan pergaulan, dan faktor genetik.

1. Masturbasi, biasanya dilakkukan dengan tangan atau dengan barang-barang pengganti lainnya. Umumnya baik laki-laki maupun wanita banyak melakukan ini. 2. Fetishisme, suatu kelainan seksual uang biasanya dialami oleh remaja putra. Yaitu perasaan puas dan senang dengan benda-benda pengganti dari seorang wanita. Misalnya sapu tangan, celana dalam, baju, BH, selendang, dan lain-lain. 3. Exhibiosinisme, suatu penyimpangan seksual yang umumnya dilakukan oleh wanita. Pelakunya merasakan kesenangan dan kepuasan dengan memperlihatkan anggota kelaminnya kepada orang lain lawan jenisnya.( bahkan konon ada yang terhadap sejenisnya )

4. Veyeurisme, kepuasan seksual yang dirasakan dengan kesenangan mengintip. Misalnya mengintip orang yang sedang mandi. Wanita yang sedang ganti baju dan lainnya. 5. Pergaulan bebas, free sex. Berhubungan dengan banyak pasangan, saling tukar menukar pasangan,berpesta seks dan lain-lain. Hal ini banyak terjadi di Barat, namun konon di Indonesia pun kalangan remaja sudah terjangkiti.

1. Penyimpangan Gaya Hidup

Mengubah penampilan: 1. Potongan dan Warna Rambut 2. Cara berpakaian 3. Memasang asing di

badan4. Gaya Hidup

1. Wanita berpenampilan laki-laki 2. laki-laki berpenampilan wanita.

Upaya Yang Dilakukan...

Preventif (Pencegahan)

Represif (Penegakan Hukum)

Preemtif (Himbauan)

1. Keamanan dan kenyamanan lingkungan sekolah : Pagar Sekolah Petugas Keamanan Kantin Sekolah Keluar masuk tamu atau pelajar terawasi 2. Masuk dan keluar pelajar dengan jelas 3. Ketertiban dalam penggunaan seragam sekolah 4. Tegas dalam menerapkan sanksi atau tata tertib 5. Guru bukan hanya sebagai pengajar tetapi sebagai pendidik atau orang tua diawali dengan kegiatan : Dikelas melakukan absensi terhadap sisiwa. ( hadir atau tidak hadir ) Memperhatikan secara fisik murid atau pelajar yang ada di dalam kelas Memperhatikan pakaian, perilaku dari pelajar tersebut Memeriksa barang-barang yang dibawa oleh murid/pelajar tersebut

6.

Guru atau wali kelas masing-masing memiliki catatan tentang murid atau pelajar yang ditemukannya sewaktu belajar atau berada di lingkungan sekolah / luar sekolah 7. Tidak ada ketersinggungan atau hindari adanya salah paham diantara muridnya atau anak didiknya di temukan ada permasalahan dengan orang lain 8. Adanya keterbukaan dari pada semua pihak dengan tujuan untuk menyelamatkan anak murid. 9. Hindari adanya pahlwan kesiangan 10. Kebersamaan antara pihak sekolah, guru, walikelas, TU, dalam menghadapi anak terutama yang memiliki masalah 11. Menerima saran atau masukan dari orang tua, instansi lain, media masa, LSM, dst.

Embed Size (px)
Recommended