Home >Documents >UNIMED Undergraduate 22769 5. BAB II

UNIMED Undergraduate 22769 5. BAB II

Date post:11-Nov-2015
Category:
View:221 times
Download:0 times
Share this document with a friend
Transcript:
  • BAB II

    TINJAUAN PUSTAKA

    2.1. Pengenalan Lichenes

    Lichenes atau lumut kerak adalah dua macam organisme yaitu alga dan

    jamur yang hidup bersimbiosis. Banyak jenis Ascomycotina dan beberapa jenis

    Basidiomycotina hidup bersimbiosis dengan alga hijau atau alga biru yang

    umumnya bersel satu yang membentuk lichenes. Lichenes dapat ditemukan pada

    batu-batuan, pada kulit pohon atau berupa lumut janggut. Menurut Hasairin

    (2007), alga pada lichenes dapat hidup tanpa bersimbiosis, tapi hampir semua

    jamur pada lichenes hanya dapat hidup jika bersimbiosis dengan alga. Alga yang

    ikut menyususn tubuh lichenes disebut gonidium, dapat bersel tunggal ataupun

    berbentuk koloni. Kebanyakan gonidium adalah alga biru (Cyanophyceae) antara

    lain Choococcus dan Nostoc, kadang-kadang juga alga hijau (Cholorophyceae)

    misalnya Cystococcus dan Trentopohlia. (Aththorick dan Siregar, 2006)

    Setiap jenis alga akan menghasilkan lain jenis lichenes. Jadi bentuk

    lichenes tergantung pada macam cara hidup bersama antara kedua macam

    organisme yang menyusunnya. Dapat juga hubungan antara kedua alga dan jamur

    itu dianggap sebagai suatu helotisme. Keuntungan yang timbal balik itu hanya

    bersifat sementara, yang pada permulaannya saja, tetapi akhirnya alga diperalat

    oleh cendawan, dan hubungan mana menyerupai hubungan seorang majikan

    dengan budaknya (helot). (Aththorick dan Siregar, 2006)

    Tumbuhan lichenes ini tergolong tumbuhan perintis yang ikut berperan

    dalam pembentukan tanah. Tumbuhan ini bersifat endolitik karena dapat masuk

    pada bagian pinggir batu. Lichenes ini menghasilkan asam, dan kemudian asam

    itu melubangi batu dan lama kelaman memecahnya. Begitu batu menjadi tanah,

    tanaman lain pun bisa tumbuh di sana. Dalam hutan yang sudah mantap, lumut

    dan lichenes akan menyerap air dari hujan dan salju yang mencair. Hal ini

    mengurangi kemungkinan adanya banjir dalam musim semi dan kekeringan

    sungai dalam musim panas. Juga mengurangi hilangnya tanah oleh erosi air

    (Kimbal, 1999).

  • Lumut kerak ini bahkan bisa tumbuh di tengkorak binatang yang mati.

    Dalam hidupnya lichenes tidak memerlukan syarat hidup yang tinggi dan tahan

    terhadap kekurangan air dalam jangka waktu yang lama. Lichenes tumbuh sangat

    lambat dan umurnya pun panjang. Lichenes yang hidup pada batuan dapat

    menjadi kering karena teriknya matahari, tetapi tumbuhan ini tidak mati, dan jika

    turun hujan bisa hidup kembali. Pertumbuhan talusnya sangat lambat, dalam 1

    tahun jarang lebih dari 1 cm. Tubuh buah baru terbentuk setelah mengadakan

    pertumbuhan vegetatif bertahun-tahun. Satu hal yang tak disukai oleh tumbuhan

    ini adalah udara dan air yang beracun. Itulah sebabnya kita tidak akan bisa

    menjumpai tumbuhan ini tumbuh dekat pabrik-pabrik. Karena sifatnya yang peka

    ini lichenes sering dipakai sebagai penunjuk adanya pencemaran udara di suatu

    daerah (Bold, 1987 ; Sutiyo dan Perkerti, 2010). Dengan pertumbuhan kerak tidak

    hanya mengalami kemunduran di daerah yang terkena polusi berat tetapi menjadi

    langka atau menghilang. Hampir sebagian besar spesies lichenes sangat sensitif

    terhadap gas belerang dioksida (SO2) dan gas buang lainnya yang berasal dari

    industri dan kendaraan bermotor. (Pratiwi, 2006 ; Suwarso, 1995)

    Para ahli mengemukakan berbagai pendapat mengenai pengelompokan

    atau klasifikasi lichenes dalam dunia tumbuhan. Ada yang berpendapat bahwa

    lichenes dimasukkan kedalam kelompok yang tidak terpisah dari jamur, tapi

    kebanyakan ahli berpendapat bahwa lichenes perlu dipisahkan dari jamur atau

    memiliki kelompok sendiri. Alasan dari pendapat yang kedua ini adalah karena

    jamur yang membangun tubuh lichenes tidak akan membentuk tubuh lichenes

    tanpa alga. Hal lain didukung oleh karena adanya zat-zat hasil metabolisme yang

    tidak ditemui pada alga dan jamur yang hidup terpisah. (Yurnaliza , 2002)

    Menurut Pandey & Trivendi (1977), simbiosis antara alga dan fungi,

    memberikan dua penafsiran yang berbeda, yaitu :

    1) Disebut simbiosis mutualisme, bila dipandang ke dua simbion dapat

    memperoleh keuntungan dari hidup bersama. Pada simbiosis tersebut alga

    memberikan hasil fotosintesisnya, terutama yang berupa karbohidrat kepada

    fungi, dan sebaliknya fungi memberikan air dan garam-garam kepada alga.

  • 2) Disebut helotisme, bila keuntungan yang timbal balik itu hanya sementara,

    yaitu pada permulaannya saja, tetapi pada akhirnya alga akan diperalat oleh

    fungi.

    2.2. Morfologi Thallus

    2.2.1. Morfologi Luar

    Tubuh lichenes dinamakan thallus yang secara vegetatif mempunyai

    kemiripan dengan alga dan jamur. Thallus ini berwarna abu-abu atau abu-abu

    kehijauan. Beberapa spesies ada yang berwarna kuning, oranye, coklat atau merah

    dengan habitat yang bervariasi. Bagian tubuh yang memanjang secara selluler

    dinamakan hifa. Hifa merupakan organ vegetatif dari thallus atau miselium yang

    biasanya tidak dikenal pada jamur yang bukan lichenes. Alga selalu berada pada

    bagian permukaan dari thallus (Hawksworth, 1984). Berdasarkan bentuknya,

    lichenes dibedakan atas empat bentuk :

    a. Crustose

    Gambar 2.1. Haematomma accolens Gambar 2.2. Acarospora

    Sumber : Sharnoff (2002)

    Lichenes yang memiliki thallus yang berukuran kecil, datar, tipis dan

    selalu melekat ke permukaan batu, kulit pohon atau di tanah. Jenis ini susah untuk

    mencabutnya tanpa merusak substratnya. Contoh : Graphis scipta, Haematomma

    puniceum, carospora atau Pleopsidium.Lichen Crustose yang tumbuh terbenam di

    dalam batu hanya bagian tubuh buahnya yang berada di permukaan disebut

    endolitik, dan yang tumbuh terbenam pada jaringan tumbuhan disebut endoploidik

    atau endoploidal. Lichenes yang longgar dan bertepung yang tidak memiliki

    struktur berlapis, disebut leprose. (Sutiyo dan Perkerti. 2010)

  • b. Foliose

    Gambar 2.3. Xantoria elegans

    Sumber : Sharnoff (2002)

    Lichenes foliose memiliki struktur seperti daun yang tersusun oleh lobus-

    lobus. Lichenes ini relatif lebih longgar melekat pada substratnya. Thallusnya

    datar, lebar, banyak lekukan seperti daun yang mengkerut berputar. Bagian

    permukaan atas dan bawah berbeda. Permukaan bawah berwarna lebih terang atau

    gelap dan pada bagian tepi talus biasanya menggulung ke atas (Vashishta 1982,

    dalam Januardania 1995). Lichenes ini melekat pada batu, ranting dengan

    rhizines. Rhizines ini juga berfungsi sebagai alat untuk mengabsorbsi makanan.

    Contoh : Xantoria, Physcia, Peltigera, Parmelia dll.

    c. Fruticose

    Gambar 2.4. Cladonia portentosa

    Sumber : Sharnoff (2002)

    Thallusnya berupa semak dan memiliki banyak cabang dengan bentuk

    seperti pita. Thallus tumbuh tegak atau menggantung pada batu, daun-daunan atau

    cabang pohon. Tidak terdapat perbedaan antara permukaan atas dan bawah. Talus

    hanya menempati bagian dasar dengan cakram bertingkat. Lumut kerak fruticose

    ini memperluas dan menunjukan perkembangannya hanya pada batu-batuan,

    daun, dan cabang pohon (Vashishta 1982, dalam Januardania 1995). Contoh :

    Usnea, Ramalina dan Cladonia

  • d. Squamulose

    Gambar 2.5. Psora pseudorusselli

    Sumber : Sharnoff (2002)

    Lichenes ini memiliki lobus-lobus seperti sisik, lobus ini disebut

    squamulus yang biasanya berukuran kecil dan saling bertindih dan sering

    memiliki struktur tubuh buah yang disebut podetia. Talus ini memiliki bentuk

    seperti sisik yang tersusun oleh banyak cuping (lobes) yang kecil tetapi tidak

    memiliki rizin (Vashishta 1982, dalam Januardania 1995). Contoh: Psora

    pseudorusselli, Cladonia carneola.

    Gambar 2. 6 Morfologi Talus

    Sumber : Sharnoff (2002)

    2.2.2. Morfologi Dalam (Anatomi)

    Struktur dalam (anatomi) diwakili oleh jenis foliose, karena jenis ini

    mempunyai empat bagian tubuh yang dapat diamati secara jelas yaitu. (Brown,

    1987)

    a. Korteks atas, berupa jalinan yang padat disebut pseudoparenchyma dari hifa

    jamurnya. Sel ini saling mengisi dengan material yang berupa gelatin. Bagian

  • ini tebal dan berguna untuk perlindungan. (Sutiyo dan Perkerti. 2010). Lapisan

    teratas disebut sebagai lapisan hifa fungi. Lapisan ini tidak memiliki ruang

    antar sel dan jika ada maka ruang antar sel biasanya diisi oleh gelatin. Pada

    beberapa jenis lumut kerak yang bergelatin, kulit atas juga kekurangan satu

    atau beberapa sel tipis. Namun, permukaan tersebut dapat ditutupi oleh

    epidermis. Secara umum, lapisan atas alga diketahui dapat menerima cahaya

    sinar matahari. Simbiosis yang terjadi mengakibatkan kedua komponen

    tersebut saling tergantung satu sama lain. Lumut kerak dapat mengabsorbsi air

    dari hujan, aliran permukaan, dan embun. (Misra & Agrawal, 1978).

    b. Daerah alga, merupakan lapisan biru atau biru hijau yang terletak di bawah

    korteks atas yang terdiri atas lapisan gonidial. Bagian ini terdiri dari jalinan

    hifa yang longgar fungi yang bercampur dengan alga. Diantara hifa-hifa itu

    terdapat sel-sel hijau, yaitu Gleocapsa, Nostoc, Rivularia dan Chrorella.

    Lapisan thallus untuk tempat fotosintesa disebut lapisan gonidial sebagai

    organ reproduksi. Berdasarkan penyebaran lapisan alga pada talusnya, lumut

    kerak telah diklasifikasikan menjadi dua katagori yaitu homoiomerus dan

    heteromerous. Pad