tugs prof

Date post:13-Jul-2016
Category:
View:240 times
Download:7 times
Share this document with a friend
Transcript:

Mekanisme hemostasis, sistem koagulasi, obat antikoagulan, anti trombosis, dan trombolitik

Oleh Ghany Hendra Wijaya, 0806451385

Mekanisme Hemostasis

Hemostasis adalah rangkaian proses untuk menghentikan perdarahan dari pembuluh darah yang luka. Proses-proses yang terjadi adalah sebagai berikut:

Gambar 1

Yang pertama terjadi adalah penyempitan (vasokonstriksi) pada daerah yang luka. Luka pada pembuluh darah kecil biasanya cukup dengan proses ini. Contohnya pada mimisan, cukup dengan kapas diberi adrenalin (yang bersifat vasokonstriktor) maka darah bisa berhenti. Jikapun belum bisa dihentikan (misalnya pembuluh darahnya cukup besar), setidaknya akan mengurangi darah yang keluar. Proses ini merupakan peran vaskuler dalam hemostasis.Yang kedua adalah proses terbentuknya sumbat platelet. Trombosit menggumpal membentuk sumbat/ plug agar darah tidak keluar. Namun sumbatan ini belum terlalu kuat untuk menutup dan masih bersifat semipermeabel (makanya jika sedang penyembuhan luka, kita lihat ada luka yang masih basah, darahnya memang sudah berhenti tapi ada yang keluar seperti getah. Getah adalah plasma). Dari sumbat trombosit ini plasma masih bisa melewati celah-celahnya, eritrosit tidak bisa.

Terakhir adalah proses koagulasi darah, akan terbentuk benang-benang fibrin. Sumbatan yang terbentuk lebih rapat, bersifat nonpermeabel. Saat ini luka sudah mengering.

Ketiga proses diatas adalah proses hemostasis, proses tubuh untuk menghentikan perdarahan karena trauma. Namun hemostasis juga berperan untuk mencegah perdarahan spontan. Makanya kita lihat orang-orang dengan kelainan hemostasis gampang mengalami perdarahan bahkan tanpa trauma. Hemostasis juga berperan untuk menjaga agar darah tidak menggumpal dan tetap cair, agar bisa mengalir baik tanpa ada sumbatan.

Gambar 2Skema ini menunjukkan proses yang sama seperti yang dijelaskan diatas. Saat terjadi luka pada pembuluh darah, maka akan terjadi vasokonstriksi. Selain itu platelet akan mendekat ke endotel, kemudian platelet-platelet akan saling beragregat membentuk mula-mula primary platelet aggregation (PPA). PPA ini sifatnya reversible, sudah menempel tapi masih bisa lepas-lepas. Setelah terjadi pelepasan granul maka berubah menjadi secondary platelet aggregation (SPA) yang lebih stabil, namun masih semipermeabel. Barulah setelah ada fibrin (hasil proses koagulasi) sumbatan ini menjadi nonpermeabel, tidak dapat dilewati cairan. Fibrin ini sendiri merupakan hasil proses koagulasi dari jalur ekstrinsik maupun instrinsik, yang akan dijelaskan dibawah.

Jadi dalam proses hemostatik itu ada tiga reaksi. Pertama reaksi vaskuler (vasokontriksi tadi), kedua reaksi seluler (platelet membuat sumbatan). Kedua reaksi ini berperan pada hemostasis primer. Jadi jika ada istilah gangguan pada hemostasis primer, maksudnya itu pada dua reaksi ini. Ketiga reaksi biokimia (interaksi antar faktor koagulasi hingga menghasilkan fibrin), reaksi ini adalah hemostasis sekunder.

Peran pembuluh darah pada hemostasis:

Vasokonstriksi. Tujan nya agar mempersempit lumen sehingga darah yang keluar lebih sedikit (jikapun ternyata tidak cukup menghentikan perdarahan) Saat ada luka endotel pembuluh darah bisa merangsang faktor koagulasi dan platelet Endotel bisa mensintesis berbagai macam substansi seperti von Willebrand factor, tissue plasminogen activator (t-PA), plasminogen activator inhibitor -1 (PAI-1), prostacyclin (PGI2), thrombomodulin (PC activation), Glycosaminoglycan (heparan sulphate, dermatan sulphate).

Trombosit. Merupakan sel yang berasal dari sitoplasma megakariosit (hanya fragmentasi saja), ukurannya sangat kecil dan bentuknya discoid (seperti cakram), bikonveks. Tidak memiliki inti namun sitoplasmanya punya banyak granula (granula dan granula padat) yang isinya macam-macam dan dilepaskan saat proses release. Membran trombosit juga memiliki reseptor glikoprotein dan memiliki dua lapis fosfolipid (phospholipid bilayer) yang asimetris karena berbeda lapisan dalam dan luarnya. Fosfolipid yang bermuatan negative contohnya fosfatidil serin menghadap ke sebelah dalam. Namun saat trombosit teraktivasi, maka terjadi perubahan orientasi (dalam jadi luar, dan sebaliknya) sehingga fosfatidil serin jadi keluar dan menyebabkan trombosit jadi bermuatan negative. Sifat negative ini yang menyebabkannya berperan dalam koagulasi, penjelasannya dibawah. Adapun isi-isi granul trombosit: Granula berisi PF4, b-thromboglobulin, platelet derived growth factor, vWF, fibrinogen, F V

granula padat berisi Ca, ADP, ATP

Seperti yang telah diketahui, trombosit asalnya dari megakarioblas, kemudian matur menjadi megakariosit (ada gambar-gambar sel-sel ini di slide). Pinggir-pinggir megakariosit akan menjadi platelet yang dilepas ke sirkulasi. 1/3 trombosit akan tersimpan di limpa. Makanya bila terjadi splenomegali, yang disimpan juga akan bertambah, sehingga jumlah yang ada didarah turun/ terjadi trombositopeni). Sementara 2/3 nya bersirkulasi di darah. Half time nya 3-4 hari, 15% digunakan setiap hari untuk hemostasis, dan jumlah normalnya 140-360 x 109/l . Gambar potongan horizontal trombosit, terlihat bundar, ada granul (granul dan granul padat), serta ada kanal-kanal yang bermuara pada membran. Kanal ini adalah invaginasi membran yang masuk ke sitoplasma, fungsinya sebagai jalan keluar zat-zat granul. Bila trombosit teraktivasi (gambar yang sebelah kanan tanda panah) maka trombosit menjadi bulat plus punya tonjolan (pseudopodia) yang berguna saat beragregasi, agar saling mengikat dengan kuat. Di bawahnya jadi ada mikrotubulus yang akan membuat trombosit berkontraksi, sehingga organel-organel mengumpul di tengah dan semua isi granula dikeluarkan (proses release).

Peran trombosit:

Membentuk sumbat platelet. Adapun sumbat ini dimulai dengan penempelan trombosit ke jaringan subendotel (subendotel yang berupa jaringan kolagen jadi terekspos saat ada luka pembuluh darah). Yang menjembatani penempelen trombosit-subendotel ini adalah von Willebrand Factor. vWF ada di di endotel dan trombosit. Dalam kasus defisiensi vWF, penderita jadi gampang berdarah karena adhesi trombosit terganggu. Setelah menempel, trombosit-trombosit jadi beragregasi dengan stimulasi ADP, thrombin, thromboxan A2, epinephrine, collagen. Setelah beragregasi, dilepaskanlah isi granul seperti ADP (merangsang agregasi trombosit lain), PF4 dan -thromboglobulin (menetralkan heparin), PDGF (merangsang proliferasi dan migrasi otot polos yang asalnya dari media ke intima untuk mempertebal pembuluh darah. Berperan pada aterogenesis juga)

Menstabilkan sumbatan ini dengan membantu teraktivasinya proses koagulasi. Diperankan oleh trombosit bermuatan negative tadi (disebut platelet factor 3, PF3)

Gambar tahap-tahap yang dilalui trombosit:

Saat terjadi luka, platelet akan menempel ke subendotel

Untuk menempel, butuh vWF. vWF/ FVIII didalam darah keduanya membentuk kompleks

Terjadi pelepasan granul. Jadi sebenarnya pelepasan granul bisa sebelum/ sesudah agregasi. ADP yang dikeluarkan merangsang agregasi trombosit lain sehingga lama-lama jadi gumpalan.

Gambaran trombosit berlekuk-lekuk menandakan trombosit teraktivasi dan telah bermuatan negatif

Trombosit bermuatan negative penting untuk proses koagulasi karena bisa membantu pembentukan benang-benang fibrin, dan sumbat jadi nonpermeabel

Gambar 3

Gambar diatas menunjukkan trombosit yang teraktivasi lebih bulat dan berpseudopodi. Isi granul dikeluarkan lewat kanal. Dimembrannya ada glikoprotein yang berfungsi sbg reseptor. Misalnya Gp IIb/IIIa (reseptor untuk fibrinogen, sebab saat proses agregasi trombosit fibrinogen menjadi jembatan antara trombosit). Antibodi thd reseptor ini menjadi strategi obat jantung mencegah agregasi trombosit. Gp Ia/IIa menjadi reseptor kolagen. GpIb/IX menjadi reseptor vWF.

Gambar 4Strategi lain menghambat agregasi trombosit adalah dengan menghambat thromboxan A2 (obat aspirin). Sebab thromboxan A2 merangsang agregasi trombosit dan bersifat vasokonstriktor. Proses pembentukannya ada di skema. Fosfolipid membran teraktivasi oleh enzim-enzim dalam trombosit (fosfolipase A2) sehingga melepaskan asam arakidonat. Oleh COX dirubah menjadi prostaglandin, mula-mula PGG2, kemudian PGH2. Dengan thromboxan sintetase maka berubah menjadi thromboxan A2. Aspirin mengasetilasi COX sehingga menghambat pembentukan tromboxan A2. Namun yang terjadi di endotel lain, prostaglandin akan dirubah menjadi prostasiklin dengan prostasiklin sintetase. Prostasiklin bersifat menghambat agregasi trombosit dan menjadi vasodilator. Normalnya, keduanya ada dalam kondisi seimbang.

SISTEM KOAGULASI. Adapun faktor-fakor koagulasi jumlahnya ada 14, dinomori sesuai penemuannya.

Keterangan:

Kolom 1 dan 2 itu namanya, kolom ketiga sifat faktornya

Serin protease berarti enzim proteolitik yang bersifat akan memotong pada aa serine (active site nya di serine)

Faktor I/ fibrinogen, membantu agregasi trombosit dan menjadi prekusor fibrin (jadi perannya ada di sumbatan platelet dan di proses koagulasi)

Faktor II/ protrombin, suatu proenzim yang diaktifkan menjadi enzim, bersifat serine protease

Faktor III, satu-satunya yang berasal dari jaringan, maka kadang disebut tissue factor. Harusnya ada di luar di tunika adventisia, tapi jadinya ketemu darah karena ada luka. Makanya jalur koagulasi yang diaktivasinya disebut jalur ekstrinsik. Tapi disebutkan jika monosit bisa juga menghasilkan blood borne tissue factor bila teraktivasi.

Selebihnya bisa dibaca dari tabel. Jika dua faktor terakhir tidak dinomori karena awalnya ada di sistem kinin

JALUR-JALUR PROSES KOAGULASIJalur instrinsik mulai dari sini

Jalur ekstrinsik mulai dari sini

Gambar 5Jalur e

Click here to load reader

Embed Size (px)
Recommended