Home >Education >Tugas Kelompok - Contoh Masing Masing Syair dan analisisnya

Tugas Kelompok - Contoh Masing Masing Syair dan analisisnya

Date post:17-Jan-2017
Category:
View:5,255 times
Download:10 times
Share this document with a friend
Transcript:

Klipping Syair dan Analisisnya

Klipping Syair dan Analisisnya

Adam HarviansaLaurentius Kevin HendinataGabriel Aaron SetyawanMaria Dany PertiwiKATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan karena berkat rahmat-Nya, kelompok kami telah mengerjakan klipping dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Diharapkan dengan mengumpulkan tugas ini kami dapat memenuhi tugas kelompok dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia mengenai syair. Sebelumnya, kami mohon maaf bila ada kesalahan kata, bahasa, dll harap dimaklumi. Kritik dan saran selalu kami terima.

Adam Harviansa ( 1) Laurentius Kevin Hendinata(21) Gabriel Aaron Setyawan (16) Maria Dany Pertiwi (22)

Daftar isi

Kata pengantar2Daftar isi3

Syair Panji-Syair Ken Tambunan4Syair Romantis-Syair Cinta Di Hujung Hari9Syair Kiasan-Syair Burung Nuri10Syair Sejarah-Syair Perang Mengkasar13Syair Agama-Syair Perahu18

Daftar Pustaka 23

1. Syair Panji Syair Ken TambunanDengarkan tuan kisa bermulaCitranya ratu dahulu kalaSaban dari batara kalaNegerinya besar tidak bercelaNama negerinya Cempaka JajarTahta kerajaan amatlah besarTidak terbilang rakyat dan laskarSegenap negeri kedengaran khabarBeberapa banyak menteri dimatiTakluk kepada ratu yang saktiDatang menghadap tidak berhentiSebilang tahun menghantarkan upetiBeberapa raja-raja yang bermahkotaNunduk hidmat ke bawah tahtaMenghantarkan putranya emas dan hartaSekalianlah di bawah titah Sang NataDemikianlah pesannya Ratu KuripanNegerinya cukup alat kelengkapanGagah berani usulnya tampanBanyaklah raja-raja malu dan sopanBeberapa pula bawahan negeriPersembahkannya putranya putriSerta segala anak-anak menteriKe bawah duli Ratu Bastari

Masyhurlah wartanya ratu terbilangNegerinya ramai bukan kepalangDengan permainan tidak berselangBerjamu menteri punggawa hulubalangTerlalu suka Ratu PastariSerta dengan permaisuriMelihat paras segala putriDipeliharakannya seperti putranya sendiriDiperbuatkan baginda taman suatuDipagarnya dengan kota batuTerlalu indah tamannya ituTempat menaruh anak para ratuDi tengah taman sebuah kolamDi tepinya diikat dengan batu itamAirnya jernih tiba dalam-dalamSekedarnya boleh tempat menyelamBeberapa banyak bawahan istanaBeratur dengan jembatan ratnaKuntum dan bunga berbagai warnaBurung dan angkasa berjenis di sana

Di dalam taman sebuah balaiPerhiasannya inda tidak ternilaiBertulis awan bunga bertangkaiKalau angkasa berbagai-bagaiBalainya diperbuat empat puluh ruangTingkapnya berukir berkerawangDi batu di cermin kaca diselangDisinar syams gilang-gemilangDi sanalah berhimpun segala putriBeserta sekalian anak menteriDititahkan oleh permaisuriDuduk bertenun sehari-hariSebermula Sri Nara IndraBaginda tua konon sudah berputraSeorang laki-laki tiada bertaraRaden tua tidak bersaudaraNamanya Inu KertapatiArif dan bijak perwira saktiParasnya laksana yang sesejatiSegala yang melihat gila beringatiDiperbuatkan baginda sebuah istanaLengkaplah dengan jambangan setanaSegala permainan ada di sanaTempatnya itu yang bijaksana

Tujuh belas tahun umurnya anakandaTerlalu kasih ayahanda dan bundaBeberapa kedayan yang muda-mudaSekaliannya anak menteri berbedaSelamanya besar raden menteriMungkin bertambah sayangnya negeriMemalu gamelan sehari-hariBerjenis permainan sahaja dicahariSegala anak menteri yang muda-mudaBerlajar memanah di atas kudaSentiasa hadirlah adaSedia melayani putra bagindaTersebutlah kisahnya suatu periCitranya ratu diangkat diriBaginda berputra seorang putriParasnya laksana anak-anak sang biduariNamanya Raden Puspa KencanaElok manjelis terlalu binaDengan perintah dewa yang ganaPutri pun lenyap di taman setanaAdalah kepada suatu hariBermain ke taman raden putriDiiringkan sekalian anak-anak menteriInang pengasuh kanan dan kiri

Sudah bersiram lagu memakaiKalah pun duduk di atas balaiMangku berbunga berbagai-bagaiAda yang berkarang ada yang bertangkaiRamainya tidak lagi terperiDengan dayang-dayang anak-anak menteriAda yang setengah bertindak menariDatanglah pertanda Dewa Johari

Sekonyong-konyong gelap gulitaMatahari tidak kelihatan nyataKilat dan petir jangan dikataSekaliannya tersujutlah anggotaDatanglah dewa dengan hebatnyaDisambarnya putri serta pengasuhnyaGaib dermata dayang sekaliannyaMasing-masing tersujut dengan tangannyaGempar dan geger dayang sekalianMasing-masing berteriak berlarianAda yang dahulu ada yang kemudianSambil menyeru sengkuta dan binaLenyaplah sudah raden putriSekalian menangis pulang berlariMenghadap Sang Nata dewa laki istriBaginda pun tersujut tidak terperiSekaliannya mengharu dikataBerdatang sembah dengan airnya mataAnakanda disambar sukma dewataBina dan sengkuta bersama semataSetelah baginda mendengarkan sembahKedua laki istri pinginlah merabahSeisi istana baginda gelabahSelaku belalang yang kena tubahMenderulah ratu di dalam puriMengatakan hilang raden menteriMasuklah patih sekalian menteriMengerahkan punggawa pergi mencahariSekalian menyembah membawa angkatanPergi mencahari segenap hutanMeratalah padang gunung daratanAda kulon ada yang ke wetanHati beberapa bulan dan termasyaPunggawa mencahari sehabis kuasaSegenap negeri peminggiran dan duniaJurang lautan semuanya diperiksa

Kembalilah segala punggawa menteriTermasuk menghadap patih JohariRatalah sudah beta mencahariTiadalah bertemu dengan raden putri

Patih pun segera menghadap Sang NataPersembahkan seperti kabar dan wartaSetelah baginda mendengarkan kataJujur terhambur airnya mata

Lebihlah pula menangis permaisuriSambil meratap berbagi periAnak Angsuna Kemala negeriKe manakah tuan membuangkan diri

Buah hati emas tempawanPutranya bunda hanyalah tuanHidup dan mati tidak ketahuanDi desa mana anakku tertawan

Putra Angsuna cahaya durjaAnakku biasa bunda permanjaDari kecil sampai remajaSeperti berhala bunda memuja

Di manakah tempat emas juwitaDibuangkan oleh sukma dewataSampai bunda pergi besertaHidup dan mati bersamalah kita

Di gunung mana anakku diletakkanDi hutan mana tuan disesatkanBetapakah perinya minum dan makanMengapa bunda tuan tinggalkan

Putraku biasa tidur di tilamBarangkali terjatuh di hutan yang kelamTercampak karangan di jurang yang dalamBunda bercinta siang dan malamPermaisuri menangis menepuk dadaSambil meratap menyeru anakandaPutra bangsawan jiwanya bundaSuramlah cahaya mahkota ayahanda

Sangatlah menangis permaisuriSelaku pingsan merebahkan diriOlehnya baginda segera disandariRamailah menangis seisinya puri Tema:Kehidupan seorang ratu yang mengangkat anak, melahirkan anak, hingga kehilangan putrinya. Isi:Pada zaman dahulu kala terdapat sebuah negri yang bernama Cempaka Jajar. Negeri itu dipimpin oleh Ratu Kuripan yang sakti. Ratu Kuripan belum mempunyai anak, sehingga banyak raja yang mempersembahkan putra putri untuk dibesarkan oleh sang ratu. Ratu kuripan menganggap anak-anak angkatnya seperti anaknya sendiri.Tak berapa lama kemudian, Ratu melahirkan seorang putra yang diberi nama Inu Kertapati. Ratu sangat menyayangi putranya yang arif dan sakti itu. Setelah Inu Kertapati berusia tujuh belas tahun, Ratu Kuripan melahirkan seorang putri cantik jelita yang diberi nama Raden Puspa Kencana.Suatu hari, ketika sedang bermain di taman istana, sang putri menghilang diambil oleh dewa. Ratu merasa sangat sedih sedih. Ia memerintahkan punggawa-punggawanya untuk mencari sang putri. Walaupun sudah dicari ke mana-mana, sang putri masih belum bisa ditemukan. Amanat:Syair Ken Tambuhan mengingatkan kita akan besarnya kasih sayang orangtua yang ditunjukkan dengan kesedihan Ratu Kuripan yang amat dalam karena kehilangan putrinya.

2. Syair Romantis Syair Cinta Di Hujung Hari Siapa telah menanam cintaDalam hati serta jiwaMembuatku gundah gulanaResah gelisah selalu kurasa

Siapa telah mengukir namaMenggurat hebat dalam jiwaHingga rindu terus membaraTerbakar hati karena asmara

Mengapa kau menabur cintaSaat kita akan berpisahRasa bergelora dalam dadaAkankah menyatu kita berdua

Mungkin inilah takdir cintaBerliku-liku membawa ceritaAkan terkenang sepanjang masaAkan abadi selama-lamanya.

Tema:Seseorang jatuh cinta saat akan perpisah. Isi:Seseorang yang jatuh cinta pada saat akan berpisah berharap bersatu kembali dan terkenang selamanya. Amanat:Mencintai harus sungguh sungguh walau ada hambatan.

3. Syair Kiasan Syair Burung Nuri Paksi Simbangan konon namanyaCantik dan manis sekalian lakunyaMatanya intan cemerlang cahayanyaParuhnya gemala tiada taranyaTerbangnya Simbangan berperi-periLintas di Kampung Bayan JohariTerlihatlah kepada putrinya NuriMukanya cemerlang manis berseri

Simbangan mengerling ke atas getaSamalah sama berjumpa mataBerkobaran arwah leburlah cintaLetih dan lesu rasa anggauta

Berangkatlah Nuri masuk peraduanMelipurkan hati yang sangat rawanGundah gulana tiada berketahuanSeperti orang mabuk cendawan

Letih dan lesu rasa anggautaGundahnya tidak lagi menderitaHancur dan lebur di dalam citaRindukan Simbangan semata-mata

Terhentilah perkataan Nuri nan gundahSehari-hari dendam tak sudahMengenangkan Simbangan parasnya indahDilipurkan dengan syair dan madah

Setelah malam hari nin nyataTerpasanglah tanglung kandil pelitaBayan nin datang segera berkataApakah sakit emas juita

Berkata benar emas tempawanJangan memberi hatiku rawanJikalau salah sekaliannya kawanBiar kupukul siapa melawan

Bayan berkata menegangkan jariEmasku jangan bermuram diriJika sakit badannya NuriSuruhlah panggil dukun ke mari

Nuri berpalis menyapu mukaJanganlah banyak madah selokaSegeralah undur dengan seketikaSekaliannya menambah sakit kepalaUnggas melayang tiada antaranyaSampailah bangsawan dengan sigeranyaKe kampung Nuri lintas masuknyaBayan dan Nuri hadir menantinya

Serta terpandang paksi bestariTurunlah sigera Bayan dan NuriTabik dan hormat keris diberiNaiklah duduk unggas johari

Seketika duduk unggas bangsawanMinuman dituang di dalam cawanDisembahkan Bayan kepada tuanSimbangan menyambut manis kelakuan

Nuri nin sangat malu rupanyaKita nin tidak lagi ditegurnyaSimbangan tersenyum manis katanyaNuri nin sakit apalah khabarnya

Gundah bercampurlah dengan rawanRasanya semangat tiada berketahuanLalulah bermohon unggas di awanKepada Bayan Nuri bangsawan

Bayan dan Nuri hormat berdiriSelamat pulang unggas bestariSimbangan menyahut durja berseriSelamat tinggal Bayan dan Nuri

Melayanglah unggas bimbang dan rawanBertambah manis rupa kelakuanDiiringi paksi sekalian kawanSeperti dewa batara di awan

Nuri memandang rawan dan piluHatinya bagai dihiris sembiluRasanya bagai hendakkan miluDisamarkan dengan mengeluh pening dan pilu

Berhentilah perkataan Nuri merawanTersebutlah Simbangan kemala mengawanSampailah ke istana unggas bangsawanKalbunya gundah cinta kepiluan

Baik peraduan merebahkan diriCinta terikat kepadanya NuriDendam bertambah tiada terperiSelaku-laku tiada tersamari

Tema: Cinta yang kandas Isi:Nuri adalah isteri seorang pembesar kerajaan,Bayan Johari. Pada suatu hari seekor burung tampan bernama Simbangan melewati Kampung Bayan Johari. Tidak terduga dia terpandang pada Nuri yang cantik. Mereka beradu pandang sejenak, tapi ternyata pandangan itu telah membuat hati mereka saling berdebar. Mereka jatuh cinta pada pandangan pertama. Nuri yang dimabuk cinta kepayang. Bayan Johari menyangka isterinya sakit. Tetapi Nuri tidak mau berterus terang tentang rindu dendam yang dipendamnya. Dia malah meminta Bayan agar menjauhinya. Keadaan Nuri yang berasmara ini, semakin tak tertahankan. Nuri mengutus Burung Punai untuk menemui Simbangan dan meminta agar pujaan hatinya itu bersedia datang menemuinya. Setelah Simbangan bertamu kepada Bayan dan Nuri, maka dengan hati yang rawan dia mohon kepada Bayan dan Nuri untuk pulang. Amanat:Perbedaan akan selalu ada tetapi kita tidak boleh membuatnya menjadi batasan dan masalah serta setiap manusia pasti memiliki kelebihan yang berbeda beda.

4. Syair SejarahSyairPerangMengkasar/syairSpeelman(karya Enci Amin) Bismillah itu suatu firman Fardulah kita kepadanya iman Muttasil pula dengan rahman Hasil maksudnya pada yang budiman Rahman itu sifat Tiada bercerai dengan kunhi zat Nyatanya itu tiada bertempat Barang yang bekal sukar mendapat Rahim itu sifat yang sedia Wajiblah kita kepadanya percaya Barang siapa yang mendapat dia Dunia akhirat tiada berbahaya

Al-hamdulillah tahmid yang ajla Nyatanya dalam kalam Allah ala Madah terkhusus bagi hak ta ala Sebab itulah dikarang oleh wali Allah

Setelah sudah selesai pujinya Salawat pula akan nabi-Nya Di sanalah asal mula tajallinya Kesudahan tempat turun wahyunya

Muhammad itu nabi yang khatam Mengajak ke hadrat rabbi al-alam Sesungguhnya dahulu kelam Dari pada pancarnya sekalian alam

Salawat itu masyhur lafaznya Telah termazhur pada makhluknya Allahumma sallialaihi akan agamanya Di sanalah nyata sifat jamalnya

Tuanku sultan yang amat sakti Akan Allah dan rasul sangatlah bakti Suci dan ikhlas di dalam hati Seperti air maal-hayati.

Daulatnya bukan barang-barang Seperti manikam yang sudah di karang Jikalau dihadap sengala hulubalang Cahaya durjanya gilang gemilang

Raja berani sangatlah bertuah Hukumannya adil kalbunya murah Segenap tahun zakat dan fitrah Fakir dan miskin sekalian limpah

Sultan di Goa raja yang sabar Berbuat ibadat terlalu gemar Menjauhi nahi mendekatkan amar Kepada pendeta baginda belajar. Baginda raja yang amat elok Serasi dengan adinda di telo Seperti embun yang sangat sejuk Cahayanya limpah pada segala makhluk

Tiadalah habis gharib kata Sempurnalah baginda menjadi sultan Dengan saudaranya yang sangat berpatutan Seperti emas mengikat intan

Bijaksana sekali berkata-kata Sebab berkapit dengan pendeta Jikalau mendengar khabar berita Sadarlah baginda benar dan dusta

Kekal ikrar apalah tuanku Seperti air zamzam di dalam sangku Barang kehendak sekalian berlaku Tenteranya banyak bersuku-suku

Patik persembahkan suatu rencana Mohon ampun dengan karunia Aturnya janggal banyak takena Karena akalnya belum sempurna

Mohonkan ampun gharib yang fakir Memcatatkan asma di dalam syair Maka patik pun berbuat sindir Kepada negeri asing supaya lahir

Tuanku ampun fakir yang hina Sindirnya tidak betapa bena Menyatakan asma raja yang ghana Supaya tentu pada segala yang bijaksana

Maka patik berani berdatang sembah Harapkan ampun karunia yang limpah Tuanku ampuni hamba Allah Karena aurnya banyak yang salah

Tamatlah sudah memuji sultan Tersebutlah perkataan Welanda syaitan Kornilis Sipalman penghulu kapitan Raja Palakka jadi panglima

Demikian asal mula pertama Welanda dan Bugis bersama-sama Kornilis Sipalman ternama Raja Palakka menjadi panglima

Berkampunglah Welanda sekalian jenis Berkatalah Jendral Kapitan yang bengis Jikalau alah Mengkasar nin habis Tunderu kelak raja di Bugis

Setelah didengar oleh si Tunderu Kata jenderal Welanda yang mabuk Berbangkitlah ia yang duduk Betalah kelak di medan mengamuk

Akan cakap Bugis yang dusta Sehari kubedil robohlah kota Habis kuambil segala harta Perempuan yang baik bahagian beta

Jika sudah kita alahkan Segala hasil beta persembahkan Perintah negeri kita serahkan Kerajaan di boneTunderu pohonkan

Setelah didengar oleh jenderal Cakap Tunderu orang yang bebel Disuruhnya berlengkap segala kapal Seorang kapitan dijadikan amiral

Putuslah sudah segala musyawarat Welanda dan bugis membawa alat Beberapa senapang dengan bangat Sekalian soldadu di dalam surat.

Tujuh ratus enam puluh soldadu yang muda-muda Memakai kamsol cara Welanda Rupanya sikap seperti Garuda Bermuatlah ke kapal barang yang ada

Delapan belas kapal yang besar Semuanya habis menarik layer Turunlah angin barat yang besar Sampailah ia ke negeri Mengkasar

Di laut Barombong kapal berlabuh Kata si Bugis nati dibunuh Jikalau raja yang datang menyuruh Semuanya tangkap kita perteguh

Pada sangkanya Bugis dan Welanda Dikatanya takut gerangan baginda Tambahan Bugis orang yang bidaah Barang katanya mengada-ngada

Segala rakyat yang melihat Ada yang suka ada yang dahsat Sekalian rakyat berkampung musyawarat Masuk mengadap duli hadrat

Daeng dank are masuk ke dalam Mengadap duli mahkota alam Berkampunglah segala kaum Islam Menantikan titah Syahi alam

Akan titah baginda sultan Siapatah baik kita titahkan Tanyakan kehendak Welanda syaitan Hendak berkelahi kita lawan

Menyahut baginda Karaeng Ketapang Karaeng we jangan hatimu bimbang Jikalau Welanda hendak berperang Kita kampungkan sekalian orang

Dititirlah nobat gendering pekanjar Bunyinya gemuruh seperti tagar Berhimpunlah rayat kecil dan besar Adalah geger negeri Mengkasar

Karaeng garasi raja yang tua Barcakap di hadapan anakanda ke dua Barang kerja akulah bawa Karena badanku pun sudahlah tua

Karaeng Bonto Majanang saudara Sultan Sikapnya seperti harimau jantan Barang ke mana patik dititahkan Welanda dan Bugis saja kulaawan

Bercakap pula Karaeng Jaranika Merah padam warnanya muka Welanda Bugis anjing celaka Haramlah aku memalingkan muka

Karaeng Panjalingang raja yang bijak Melompat mencabut keris pandak Jikalau undur patik nin kelak Kepada perempuan suruh tempelak

Keraeng Bonto Sunggu raja elok Bercakap di hadapan Raja Telo Biarlah patik menjadi cucuk Welanda dan Bugis saja kuamuk

Keraeng Balo raja yang muda Bercakap di hadapan paduka kakanda Jikalau sekadar Bugis dan Welanda Barang dititahkan patiklah ada

Akan cakap Keraeng Sanderabone Mencabut sunderik baru dicanai Jikalau sekadar Sopeng dan Bone Tambah lagi Sula dengan Burne

Jikalau ia mau kemari Sekapur sirih ia kuberi Jikalau Allah sudah memberi Si la'nat Allah kita tampari

Bercakap bage Keraeng Mandale Ia berkanjar mencabut sunderik Berdiri melompat seraya bertempik Barang di mana dititahkan patik

Keraeng Mamu berani sungguh Bercakap dengan kata yang teguh Jikalau patik bertemu musuh Pada barang tempat hambah bertutuhTema:Perperangan antara pihak Belanda dan warga Makasar.Isi:Syair Perang Mengkasar mengisahkan sejarah Perang Makassar yang terjadi antara tahun 1666-1669. Perang antara pihak Makassar yang terdiri dari Goa dan Tallo pada salah satu pihak (=Makassar) yang meliputi Melayu, Wajo, Mandar Bima, Sumbawa, Dompu dan Minangkabau serta Portugis melawan, Belanda dengan sekutunya Bugis, Soppeng, Ternate, Ambon, dan Buton. Perang ini berakhir dengan kemenangan pihak Belanda. Dalam menjelaskan perang ini penulisnya menempatkan Sultan Goa dan sekutunya sebagai pihak yang benar, sementara itu lawan-lawannya digambarkan sebagai, pencuri sesat, bidaah, hantu, iblis dan syetan.Amanat:Semangat perjuangan membela tanah air harus dikobarkan demi kebaikan bersama.

5. Syair Agama - Syair Perahu(karya Hamzah Fansuri)Inilah gerangan suatu madahmengarangkan syair terlalu indah,membetuli jalan tempat berpindah,di sanalah i'tikat diperbetuli sudah

Wahai muda kenali dirimu,ialah perahu tamsil tubuhmu,tiadalah berapa lama hidupmu,ke akhirat jua kekal diammu.

Hai muda arif-budiman,hasilkan kemudi dengan pedoman,alat perahumu jua kerjakan,itulah jalan membetuli insan.

Perteguh jua alat perahumu,hasilkan bekal air dan kayu,dayung pengayuh taruh di situ,supaya laju perahumu itu

Sudahlah hasil kayu dan ayar,angkatlah pula sauh dan layar,pada beras bekal jantanlah taksir,niscaya sempurna jalan yang kabir.

Perteguh jua alat perahumu,muaranya sempit tempatmu lalu,banyaklah di sana ikan dan hiu,menanti perahumu lalu dari situ.

Muaranya dalam, ikanpun banyak,di sanalah perahu karam dan rusak,karangnya tajam seperti tombakke atas pasir kamu tersesak.

Ketahui olehmu hai anak dagangriaknya rencam ombaknya karangikanpun banyak datang menyaranghendak membawa ke tengah sawang.Muaranya itu terlalu sempit,di manakan lalu sampan dan rakitjikalau ada pedoman dikapit,sempurnalah jalan terlalu ba'id.Baiklah perahu engkau perteguh,hasilkan pendapat dengan tali sauh,anginnya keras ombaknya cabuh,pulaunya jauh tempat berlabuh.

Lengkapkan pendarat dan tali sauh,derasmu banyak bertemu musuh,selebu rencam ombaknya cabuh,La ilaha illallahu akan tali yang teguh.

Barang siapa bergantung di situ,teduhlah selebu yang rencam itupedoman betuli perahumu laju,selamat engkau ke pulau itu.

La ilaha illallahu jua yang engkau ikut,di laut keras dan topan ribut,hiu dan paus di belakang menurut,pertetaplah kemudi jangan terkejut.

Laut Silan terlalu dalam,di sanalah perahu rusak dan karam,sungguhpun banyak di sana menyelam,larang mendapat permata nilam.

Laut Silan wahid al kahhar,riaknya rencam ombaknya besar,anginnya songsongan membelok sengkarperbaik kemudi jangan berkisar.

Itulah laut yang maha indah,ke sanalah kita semuanya berpindah,hasilkan bekal kayu dan juadahselamatlah engkau sempurna musyahadah.

Silan itu ombaknya kisah,banyaklah akan ke sana berpindah,topan dan ribut terlalu 'azamah,perbetuli pedoman jangan berubah.

Laut Kulzum terlalu dalam,ombaknya muhit pada sekalian alambanyaklah di sana rusak dan karam,perbaiki na'am, siang dan malam.

Ingati sungguh siang dan malam,lautnya deras bertambah dalam,anginpun keras, ombaknya rencam,ingati perahu jangan tenggelam.

Jikalau engkau ingati sungguh,angin yang keras menjadi teduhtambahan selalu tetap yang cabuhselamat engkau ke pulau itu berlabuh.

Sampailah ahad dengan masanya,datanglah angin dengan paksanya,belajar perahu sidang budimannya,berlayar itu dengan kelengkapannya.

Wujud Allah nama perahunya,ilmu Allah akan [dayungnya]iman Allah nama kemudinya,"yakin akan Allah" nama pawangnya.

"Taharat dan istinja'" nama lantainya,"kufur dan masiat" air ruangnya,tawakkul akan Allah jurubatunyatauhid itu akan sauhnya.

Salat akan nabi tali bubutannya,istigfar Allah akan layarnya,"Allahu Akbar" nama anginnya,subhan Allah akan lajunya.

"Wallahu a'lam" nama rantaunya,"iradat Allah" nama bandarnya,"kudrat Allah" nama labuhannya,"surga jannat an naim nama negerinya.

Karangan ini suatu madah,mengarangkan syair tempat berpindah,di dalam dunia janganlah tam'ah,di dalam kubur berkhalwat sudah.

Kenali dirimu di dalam kubur,badan seorang hanya tersungkurdengan siapa lawan bertutur?di balik papan badan terhancur.

Di dalam dunia banyaklah mamang,ke akhirat jua tempatmu pulang,janganlah disusahi emas dan uang,itulah membawa badan terbuang.

Tuntuti ilmu jangan kepalang,di dalam kubur terbaring seorang,Munkar wa Nakir ke sana datang,menanyakan jikalau ada engkau sembahyang.

Tongkatnya lekat tiada terhisab,badanmu remuk siksa dan azab,akalmu itu hilang dan lenyap,tanpa ada tujuan yg tetap,

Munkar wa Nakir bukan kepalang,suaranya merdu bertambah garang,tongkatnya besar terlalu panjang,cabuknya banyak tiada terbilang.

Kenali dirimu, hai anak dagang!di balik papan tidur telentang,kelam dan dingin bukan kepalang,dengan siapa lawan berbincang?

La ilaha illallahu itulah firman,Tuhan itulah pergantungan alam sekalian,iman tersurat pada hati insan,siang dan malam jangan dilalaikan.

La ilaha illallahu itu terlalu nyata,tauhid ma'rifat semata-mata,memandang yang gaib semuanya rata,lenyapkan ke sana sekalian kita.

La ilaha illallahu itu janganlah kaupermudah-mudah,sekalian makhluk ke sana berpindah,da'im dan ka'im jangan berubah,khalak di sana dengan La ilaha illallahu.

La ilaha illallahu itu jangan kaulalaikan,siang dan malam jangan kau sunyikan,selama hidup juga engkau pakaikan,Allah dan rasul juga yang menyampaikan.

La ilaha illallahu itu kata yang teguh,memadamkan cahaya sekalian rusuh,jin dan syaitan sekalian musuh,hendak membawa dia bersungguh-sungguh.

La ilaha illallahu itu kesudahan kata,tauhid ma'rifat semata-mata.hapuskan hendak sekalian perkara,hamba dan Tuhan tiada berbeda.

La ilaha illallahu itu tempat mengintai,medan yang kadim tempat berdamai,wujud Allah terlalu bitai,siang dan malam jangan bercerai.

La ilaha illallahu itu tempat musyahadah,menyatakan tauhid jangan berubah,sempurnalah jalan iman yang mudah,pertemuan Tuhan terlalu susah

Tema:Kehidupan yang penuh cobaan.Isi:Perahu dianggap sebagai tubuh seseorang yang tak kekal. Syair ini memberi peringatan kepada masyarakat bahwa yang bernyawa pasti akan mati. Hidup mesti berlandaskan pedoman. Perahu sebagai anggota badan mestilah teguh dan kuat untuk melancarkan perjalanan. Jika mempunyai kekuatan, kita mampu meneruskan hidup. Hidup ini penuh dengan berbagai cobaan yang hanya menunggu peluang untuk mencabar hidup manusia. Kehidupan nelayan dengan menangkap ikan, namun nelayan kadangkala mendatangkan risiko karena badai yang boleh mengaramkan perahu. Maksud tentang cabaran-cabaran yang hebat bisa melemahkan iman dan pegangan manusia. Ada seorang anak dagang membawa hasil dagangan menggunakan perahu. Jika seseorang itu tidak berpendirian, ia bisa menewaskan manusia. Masyarakat yang perlu melengkapkan diri dengan keimanan, ketaqwaan dan percaya kepada Allah dalam mengahadapi cobaan kehidupan. Siapa yang bergantung kepada Allah akan beroleh keselamatan. Laut Silan adalah lambang cobaan yang dapat memusnahkan manusia. Maka Kuatkan pribadi apabila datang cobaan.Cabaran itu perlu ditempuh manusia tak semua sanggup menghadapinya.Manusia dikehendaki melengkapkan diri dengan ilmu. Mengingat Allah kita tak tersesat, mengingat dan beramal manusia selamat. Manusia lengkap dengan ilmu dan kuat iman,tidak akan gentar menempuh segala cabaran.Ilmu,keimanan dan keyakinan kepada Allah penting dalam hidup.Mesucikan diri, menjauhi perkara terkutuk, bertawakal dan mengakui keesaan Tuhan itu sangat penting. Di samping mengakui keesaan Allah, kita juga mesti taat kepada Allah. Kita mesti berselawat, beristigfar dan memuji kebesaran Allah. Allah menguasai alam kuasa-Nya sangat besar dam Allah yang menentukan surga untuk kita.

Simbol perahu merupakan simbol dari perumpamaan manusia yang diibaratkan sedang mengarungi lautan luas untuk menuju sebuah tujuan. Lautan luas itu adalah kehidupan di dunia sedangkan tujuan terakhir yang hendak dicapai adalah alam akhirat.Amanat :Sebaiknya kita menjadi pribadi yang kuat dalam menjani kehidupan,mengingat dan menaati ajaran Allah,beramal ,takwa dan menjadi tekun akan iman kita sebelum mencapai akhirat.

Daftar Pustakahttps://nyanyianbahasa.wordpress.com/2013/07/27/analisis-perbandingan-gaya-penulisan-dan-tatabahasa-naskah-syair-ken-tambuhan-versi-klinkert-dan-syair-bintara-mahmud-setia-raja-blang-pidier-jajahan/ https://ainuamri.wordpress.com/2009/04/04/kumpulan-syair-cinta-syair-romantis-syair-mesra-syair-bijak-syair-unik-syair-gokil-syair-jayus-syair-aneh-syair-gaul-syair-kehidupan-syair-tausiyah-islami-syair-jadul-sajak-sajak-cinta-sa/ http://cabiklunik.blogspot.com/2011/05/syair-burung-nuri-cinta-yang-kandas.html https://id.wikipedia.org/wiki/Syair_Perang_Mengkasar https://ms.wikipedia.org/wiki/Syair_Perahu Klipping Syair dan Analisis3

of 28/28
Klipping Syair dan Analisisnya Adam Harviansa Laurentius Kevin Hendinata Gabriel Aaron Setyawan Maria Dany Pertiwi
Embed Size (px)
Recommended