Home >Documents >Tugas Doni Trinanda

Tugas Doni Trinanda

Date post:04-Dec-2015
Category:
View:224 times
Download:0 times
Share this document with a friend
Description:
fk unib
Transcript:

LAPORAN TUGAS PEMERIKSAAN DAN KELAINAN PADA MAMMAE

Disusun Oleh:DONI TRINANDAH1A010028

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATANUNIVERSITAS BENGKULU2014

KATA PENGANTAR

Assalamuaalaikum, Wr, WbPuji dan syukur atas kehadirat Allah SWT yang masih melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga saya selaku penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Pemeriksaan dan Kelainan pada Mammae. Tidak lupa pula salawat dan salam saya kirimkan pada junjungan kita Nabi Muhammad SAW sebagai suri tauladan umat manusia hingga akhir zaman.Dalam kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada :1. Allah SWT yang telah memberikan kemudahan, kelancaran, kesehatan, dan rahmatNya.2. dr. Raymond, Sp.B, dr. Julian, Sp.B, dr Amir, Sp.B, dr. Yanuar, Sp.B dan dr. Meirizal, Sp.OT selaku dokter pembimbing koas state bedah yang telah banyak mengajarkan, memberikan ilmunya dan menasehati sehingga memperkuat semangat dan kepercayaan diri.3. Dr. Ahmad Azmi Nasution selaku sekretaris modul state bedah yang telah banyak membantu dan membimbing penulis dalam melaksanakan state bedah.4. Mbak Fitri, selaku sekretaris bakordik state bedah di RSUD M. Yunus yang telah membantu penulis selama belajar di ruang O.K RSUD M. Yunus.5. dr. Aini, dr. Nancy, Ibu Nerry, Kak Oscar , selaku bakordik di RS. Bhayangkara Polda Bengkulu, yang sudah sangat sabar mengajari, membimbing, memberikan ilmunya kepada penulis selama belajar di RS. Bhayangkara Polda Bengkulu.6. Seluruh dokter- dokter jaga di RS. Bhayangkara Polda Bengkulu,yang telah membimbing penulis selama belajar di RS. Bhayangkara polda Bengkulu7. Uni Deti, Mba bela, Kak Romi, Kak Boank, Kak Randi, Kak Anggi, Kak Surya, Kak Heru, Kak Jono, Kak Heri, Kak Dodi, ayuk Ela, Mbak Tuti dan semua kakak-kakak perawat jaga yang ada di ruang O.K RS. Bhayangkara yang telah membantu, mengajarkan, memberikan ilmunya kepada penulis selama belajar di ruang O.K RS. Bhayngkara Polda Bengkulu.8. Teman-teman seperjuangan stase bedah , Bayu, Jemi, Arsy, Fanny, Mbak Selvi, Siti, Tiwul dan Mbak Epi.Demikianlah, semoga makalah ini dapat memberikan manfaat untuk kita dalam menunjang proses belajar dan menambah pengetahuan pembaca terutama penulis mengenai Monitoring Anestesi. Dan apabila terdapat kesalahan dalam makalah ini saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Saya juga mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk perbaikan ke depan.Terima kasih.Wassalamualaikum, Wr, Wb

Bengkulu, Juni 2014

DONI TRINANDA

1. AnamnesisGejala yang yang paling sering meliputi 1 :1. Penderita merasakan adanya perubahan pada payudara atau pada puting susunya a. Benjolan atau penebalan dalam atau sekitar payudara atau di daerah ketiakb. Puting susu terasa mengeras2. Penderita melihat perubahan pada payudara atau pada puting susunya a. Perubahan ukuran maupun bentuk dari payudarab. Puting susu tertarik ke dalam payudarac. Kulit payudara, areola, atau puting bersisik, merah, atau bengkak. Kulit mungkin berkerut-kerut seperti kulit jeruk.3. Keluarnya sekret atau cairan dari puting susuPada awal kanker payudara biasanya penderita tidak merasakan nyeri. Jika sel kanker telah menyebar, biasanya sel kanker dapat ditemukan di kelenjar limfe yang berada di sekitar payudara. Sel kanker juga dapat menyebar ke berbagai bagian tubuh lain, paling sering ke tulang, hati, paru-paru, dan otak.2Pada 33% kasus kanker payudara, penderita menemukan benjolan pada payudaranya. Tanda dan gejala lain dari kanker payudara yang jarang ditemukan meliputi pembesaran atau asimetrisnya payudara, perubahan pada puting susu dapat berupa retraksi atau keluar sekret, ulserasi atau eritema kulit payudara, massa di ketiak, ketidaknyamanan muskuloskeletal. 50% wanita dengan kanker payudara tidak memiliki gejala apapun. Nyeri pada payudara biasanya berhubungan dengan kelainan yang bersifat jinak.3

2. Pemeriksaan fisik payudara SADARI (Pemeriksaan payudara sendiri)Tujuan dari pemeriksaan payudara sendiri adalah mendeteksi dini apabila terdapat benjolan pada payudara, terutama yang dicurigai ganas, sehingga dapat menurunkan angka kematian.Meskipun angka kejadian kanker payudara rendah pada wanita muda, namun sangat penting untuk diajarkan SADARI semasa muda agar terbiasa melakukannya di kala tua 1.Wanita premenopause (belum memasuki masa menopause) sebaiknya melakukan SADARI setiap bulan, 1 minggu setelah siklus menstruasinya selesai 1.Cara melakukan SADARI adalah :1. Wanita sebaiknya melakukan SADARI pada posisi duduk atau berdiri menghadap cermin.2. Pertama kali dicari asimetris dari kedua payudara, kerutan pada kulit payudara, dan puting yang masuk.3. Angkat lengannya lurus melewati kepala atau lakukan gerakan bertolak pinggang untuk mengkontraksikan otot pektoralis (otot dada) untuk memperjelas kerutan pada kulit payudara.4. Sembari duduk / berdiri, rabalah payudara dengan tangan sebelahnya.5. Selanjutnya sembari tidur, dan kembali meraba payudara dan ketiak6. Terakhir tekan puting untuk melihat apakah ada cairan.1. Inspeksi1. Duduk tegak tangan di sisi tubuh, yang dinilai: ukuran dan kesimetrisan mamae, perubahan warna kulit, ulserasi, kulit berlekuk, edema, deformitas dan retraksi mamae 4.

2. Tangan diangkat tegak lurus ke atas dan turun ke bawah, yang dinilai: fiksasi kulit atau papillae mamae, axilla diamati untuk melihat pembengkakan limfonodi 4.3.Manuver kontraksi m. Pectoralis dengan kedua lengan menekan di pinggang, penderita duduk, yang dinilai: mamae yang menderita kanker tampak lebih menonjol daripada kulit yang melekuk atau terfiksir akan terlihat lebih jelas 4.2. PalpasiDalam posisi duduk paling baik untuk palpasi lnn. Supraklavikuler dan aksiler.4 Palpasi lnn. Supraklavikular dilakukan dari depan dan belakang penderita dengan ujung jari. Untuk palpasi lnn. Aksiler, m. Pektoralis harus betul-betul relaksasi dengan menyokong lengan yang bersangkutan dengan satu tangan sedang ujung jari tangan yang lain meraba lnn. Aksiler pasien. 4Penderita tidur telentang pertama dengan posisi tangan penderita di samping tubuhnya kemudian kedua tangan diangkat di atas kepala.Melalui inspeksi dan palpasi nilailah:Massa tumor: ukuran, lokasi, bentuk, konsistensi, terfiksir atau tidak ke kulit atau dinding dadaPerubahan kulit: kemerahan, edema, peau dorange, dimpling, nodul satelit, ulserasiPerubahan puting: tertarik, kemerahan, erosi, krusta, perubahan warna, cairan (discharge) hemorrhagis atau tidak.Status kelenjar getah bening (axilla, infraklavikula, supraklavikula): jumlah, lokasi, ukuran, terfiksasi atau tidak.

2. Pemeriksaan penunjang1. Mammografi Mammografi merupakan pemeriksaan yang paling dapat diandalkan untuk mendeteksi kanker payudara sebelum benjolan atau massa dapat dipalpasi. Karsinoma yang tumbuh lambat dapat diidentifikasi dengan mammografi setidaknya 2 tahun sebelum mencapai ukuran yang dapat dideteksi melalui palpasi.5 Mammografi mempunyai 2 jenis gambaran, yaitu kraniokaudal (CC) dan oblik mediolateral (MLO). MLO memberikan gambaran jaringan mammae yang lebih luas, termasuk kuadran lateral atas . Dibandingkan dengan MLO, CC memberikan visualisasi yang lebih baik pada aspek medial dan memungkinkan kompresi payudara yang lebih besar. Gambaran mammografi yang spesifik untuk karsinoma mammae antara lain massa padat dengan atau tanpa gambaran seperti bintang (stellate), penebalan asimetris jaringan mammae dan kumpulan mikrokalsifikasi. Mammografi lebih akurat daripada pemeriksaan klinis untuk deteksi karsinoma mammae stadium awal, dengan tingkat akurasi sebesar 90%. Protokol saat ini berdasarkan National Cancer Center Network (NCCN) menyarankan bahwa setiap wanita diatas 20 tahun harus dilakukan pemeriksaan payudara setiap 3 tahun 6. Pada usia di atas 40 tahun, pemeriksaan payudara dilakukan setiap tahun disertai dengan pemeriksaan mammografi. Pada suatu penelitian atas screening mammography, menunjukkan reduksi sebesar 40% terhadap karsinoma mammae stadium II, III dan IV pada populasi yang dilakukan skrining dengan mammografi 6.2. Ultrasonografi (USG) Penggunaan USG merupakan pemeriksaan penunjang yang penting untuk membantu hasil mammografi yang tidak jelas atau meragukan, baik digunakan untuk menentukan massa yang kistik atau massa yang padat. Pada pemeriksaan dengan USG, kista mammae mempunyai gambaran dengan batas yang tegas dengan permukaan yang halus dan daerah bebas echo di bagian tengahnya. Massa payudara jinak biasanya menunjukkan kontur yang halus, berbentuk oval atau bulat, echo yang lemah di bagian sentral dengan batas yang tegas. Karsinoma mammae disertai dengan dinding yang tidak beraturan, tetapi dapat juga berbatas tegas dengan peningkatan akustik. USG juga digunakan untuk mengarahkan fine-needle aspiration biopsy (FNAB), core-needle biopsy dan lokalisasi jarum pada lesi payudara. USG merupakan pemeriksaan yang praktis dan sangat dapat diterima oleh pasien tetapi tidak dapat mendeteksi lesi dengan diameter 1 cm.63. BiopsiFine-needle aspiration biopsy (FNAB) dilanjutkan dengan pemeriksaan sitologi merupakan cara praktis dan lebih murah daripada biopsi eksisional dengan resiko yang rendah. Teknik ini memerlukan patologis yang ahli dalam diagnosis sitologi dari karsinoma mammae dan juga dalam masalah pengambilan sampel, karena lesi yang dalam mungkin terlewatkan. Insidensi false-positive dalam diagnosis adalah sangat rendah, sekitar 1-2% dan tingkat false-negative sebesar 10% 7. Large-needle (core-needle) biopsy mengambil bagian sentral atau inti jaringan dengan jarum yang besar. Alat biopsi genggam membuat large-core needle biopsy dari massa yang dapat dipalpasi menjadi mudah dilakukan di klinik dan cost-effective dengan anestesi lokal 7 Open biopsy dengan lokal anestesi sebagai prosedur awal sebelum memutuskan tindakan defintif merupakan cara diagnosis yang paling dapat dipercaya. FNAB atau core-needle biopsy, ketika hasilnya positif, memberikan hasil yang cepat dengan biaya dan resiko yang rendah, tetapi ketika hasilnya ne

Embed Size (px)
Recommended