Home >Documents >Tugas Budidaya Abalon Pak Irwan

Tugas Budidaya Abalon Pak Irwan

Date post:02-Feb-2016
Category:
View:58 times
Download:6 times
Share this document with a friend
Description:
a
Transcript:

I. PENDAHULUANA. Latar BelakangMoluska merupakan kelompok yang mendominasi perairan setelah kelompok ikan, jumlahnya mencapai 1500 jenis siput dan 1000 jenis kerang. Salah satu jenis siput yang dapat dijumpai di perairan Indonesia adalah abalon. Abalon merupakan kelompok moluska laut yang lebih dikenal sebagai kerang mata tujuh atau siput lapar kenyang. Beberapa jenisnya merupakan komoditi ekonomis. Daging abalon merupakan sumber makanan berprotein tinggi, rendah lemak, makanan tambahan (food suplement) dan di Jepang dianggap mampu menyembuhkan penyakit ginjal. Cangkang dari abalon juga memiliki nilai ekonomis yang tidak kalah tinggi dibandingkan dagingnya (Suwignyo, 2005) dalam (Nurfajrie dkk., 2014).Produksi abalone saat ini lebih banyak diperoleh dari tangkapan di alam, dan ini akan menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya pengambilan yang tak terkendali, kemudian lambatnya pertumbuhan abalone sehingga terjadinya kelangkaan yang berakhir pada kepunahan. Untuk itu perlunya upaya yang dilakukan, diantaranya stock enhancement pada habitat aslinya, pengembangbiakan abalone secara buatan dan terkendali, serta menjadikan abalone komoditas budidaya yang dapat dikomersilkan menjadi usaha yang menguntungkan (Novia dkk., 2010).Budidaya laut abalone secara komersial telah menjadi suatu industri global berkembang yang dapat menjanjikan masa depan karena abalone dibayar dengan harga tinggi, ditambah dengan penurunan produksi dalam perikanan akibat penangkapan ikan yang berlebihan. Abalone merupakan salah satu spesies laut yang paling berharga di dunia, dimana permintaannya jauh melebihi persediaan, terutama untuk di negara-negara Asia seperti : Hongkong, Cina, Jepang, Taiwan dan Singapura, dimana negara-negara tersebut merupakan target tujuan utama pasar (Moodley, 2014).Di Indonesia, teknologi budidaya abalone relatif lambat, beberapa kendala pembudidayaan abalone diantaranya, terbatasnya tenaga ahli dan teknologi pembenihan abalone tropis, kesulitan mendapatkan suplai benih (spat) secara kontinyu dan berkualitas, serta waktu pemeliharaan yang lama (Yunus et al., 1997). Selain itu, terbatasnya jumlah unit pembenihan dan tingkat kelangsungan hidup benih yang masih rendah khususnya pada stadia larva mengakibatkan jumlah benih yang dapat dihasilkan sangat kecil (Soleh dan Murdjani, 2006) dalam (Novia dkk., 2010).Salah satu langkah yang menjadi solusi bagi eksploitasi secara langsung di alam adalah dengan melakukan budidaya. Budidaya abalon di Indonesia mulai diteliti di Loka Budidaya Laut Lombok sejak tahun 1997(Sofyan et al., 2006). Budidaya abalon menbutuhkan benih yang bagus agar dapat menghasilkan abalon yang baik. Pemilihan benih dapat dikakukan dengan cara melihat keragaman genetik untuk memperoleh individu yang unggul. Keragaman genetik dipandang sebagai sumber gen. Sumber gen yang beragam memungkinkan untuk mencari gen unggul melalui proses seleksi sehingga dapat ditemukan suatu individu yang memiliki berbagai keunggulan baik dari segi pertumbuhan, tahan terhadap penyakit maupun kemampuan beradaptasi yang tinggi (Sugama et al., 1996) dalam (Litaay dkk., 2011).Masalah utama yang dihadapi dalam pengembangan budidaya abalon adalah masih terbatasnya sediaan benih baik jumlah, ukuran dan mutunya, juga metode pemeliharaan serta jenis pakan yang cocok belum banyak diketahui. Berdasarkan beberapa permasalahan diatas, perlu dilakukan penelitian tentang perbaikan teknik pemeliharaan yuwana abalon dengan memberikan jenis pakan yangberbeda, sehingga diperoleh tingkatpertumbuhan abalon yang cepat dan mudahdiaplikasikan di masyarakat (Susanto dkk., 2010).B. Tujuan dan ManfaatTujuan dari paper ini adalah untuk mengetahui cara budidaya abalon mulai dari penanganan induk sampai dengan produksi larva. Sedangkan manfaatnya yaitu agar mahasiswa dapat mengetahui tentang cara budidaya abalon mulai dari penanganan induk sampai dengan produksi larva.II. TINJAUAN PUSTAKAA. Spesies dan PenyebaranAbalone merupakan jenis gastropoda laut yang dapat ditemukan diseluruh dunia di perairan beriklim sedang dan beriklim tropis dari zona intertidal dan hingga kedalaman 40 m (Porras, et al 2014).Menurut Setyono (2009) dalam Agustina (2013) abalon tropis (Haliotis asinina) dapat diklasifikasikan sebagai berikut:Kingdom : Animalia

Filum : Mollusca

Kelas : Gastropoda

Ordo : Archaegastropoda

Famili : Haliotidae

Genus : Haliotis

Spesies : Haliotis asinina

(Linnaeus 1758)

Di dunia terdapat kurang lebih 100 spesiesabalone yang terdistribusi pada daerah tropis, subtropics dan artik dimana spesies berukuran kecilterdapat pada daerah tropis dan Gambar 1 : Morfologi Abalon

artik jikadibandingkan dengan daerah sub-tropis(Bevelander, 1988).Di Indonesia terdapat tujuhspesies abalone yaitu Haliotis asinina, H. varia,H. squamata, H. ovina, H. glabra, H. planata danH. crebriscuplta (Dharma, 1988).Haliotisasinina merupakan spesies abalone berukuranbesar yang ditemukan pada provinsi Indo-Pasifiktermasuk perairan Indonesia Timur (Setyono, 2006) dalam(Uneputty dan Tala, 2011).Abalon banyak ditemui di Indonesia bagian Timur (Bali, Lombok, Sumbawa, Sulawesi, Maluku Dan Papua).Di pulau Lombok abalon banyak dijumpai di pantai selatan, Lombok tengah yaitu pantai kutai dan sekitarnya. Selama ini abalon telah banyak di eksploitasi oleh penduduk setempat secara tidak selektif sehingga mengakibatkan berkurangnya hasil tangkapan dan dapat mengancam kelestarian abalon (Faturahman dkk., 2013).Salah satu jenis abalone tropis dan terdapat di Indonesia adalah abalon mata tujuh (Haliotis asinina Lin. 1758). Abalon mata tujuh merupakan komoditas akuakultur Indonesia yang patut dikembangkan karena dua alasan utama, yaitu: 1) abalon memiliki tingkatan trofik yang rendah (konsumen tingkat pertama) dengan makanan utama rumput laut dan 2) abalon bernilai ekonomis tinggi yang bahkan merupakan salah satu makanan mewah, baik di dalam maupun di luar negeri (Feizal dkk., 2010).Dibandingkan abalon yang hidup di sub-tropis, Haliotis asinina tergolong spesies abalon yang berukuran kecil yang hidup di tropis. Panjang cangkang yang umum dikonsumsi adalah 6 cm. Ukurannya cukup kecil. Spesies abalon yang sangat popular di Jepang dan Korea adalah ezoawabi (H discus hannai) yang berukuran hingga 14 cm dan medaka (H gigantea) yang berukuran hingga 25 cm, sedangkan di Eropa, spesies abalon Haliotis tuberculata dapat mencapai panjang cangkang 123 mm.Penyebaran siput Abalon sangat terbatas, tidak semua pantai yang berkarang atau berbatu terdapat siputAbalon. Secara umum siput Abalon tidak ditemukan di daerah estuaria, hal iniberkaitan dengan fluktuasi salinitas dan tingkat kekeruhan yang tinggi dankonsentrasi DO yang rendah. Pada siang hari atau suasana terang, siput abalon lebih cenderung sembunyi di karang atau batu. Sedangkan pada suasana malamatau gelap lebih aktif melakukan gerakan berpindah tempat (bersifatnocturnal).Beberapa jenis abalon di dunia di antaranya adalah sebagai berikut:

Haliotis laevigata Haliotis corrugata

Haliotis ovina Haliotis rubra Haliotis jade tiger Haliotis asinineB. Biologi Abalona. Morfologi Secara UmumAbalon adalah hewan dioecious (kelamin terpisah), kelenjar reproduksi atau gonad menyelibungi saluran usus dan secara bersama sama membentuk sebuah kerucut diantara otot kaki dan cangkang. Warna gonad mengindikasikan jenis kelamin abalon, induk betina dewasa mempunyai telur berwarna biru, hijau atau coklat dan induk jantan mempunyai gonad berwarna krem, gading atau putih tulang. Pemijahan merupakan proses pelepasan telur dan sperma. Fertilisasi terjadi secara eksternal, dimana telur dan sperma bertemu dan melebur di kolom air, dan telur yang telah terbuahi akan membelah dengan cepat serta membentuk larva/trochopore dan selanjutnya berubah menjadi fase veliger yang memperlihatkan bentuk menyerupai individu dewasa, dimana mata, tentakel dan kaki mulai berkembang. Sebelum fase veliger selesai, larva abalone akan mengalami sebuah proses yang disebut pemilinan (torsi). Fase larva selesai ketika abalone berhenti melayang dan mengendap di dasar. Pada keadaan ini,abalon mulai terlihat seperti replica individu dewasa Fallu (1991) dalam Setyabudi (2012).Cangkang abalon memiliki bentuk yang unik. Abalon hanya memiliki satu lembar cangkang yang terbuka lebar dengan sederetan lubang pada tepi sebelah kiri. Lubang ini terus terbentuk sepanjang hidupnya, lubang-lubang ini digunakan sebagai lubang respirasi (pernafasan), sanitasi (pengeluaran kotoran), dan reproduksi (pengeluaran sperma untuk siput jantan dan telur untuk siput betina) (Setyono 2009 dalam Agustina 2013).Abalone memiliki kaki jalan yang besar dan sangat kuat. Otot kaki yang kuat tersebut digunakan untuk bergerak merayap dan melekat pada substrat ketika mencari makan. Otot kaki pada abalone dikelilingi oleh selaput epipodium yang tampak bergelambir dan terlipat-lipat. Selaput epipodium memiliki tentakel-tentakel kecil yang dinamakan dengan tentakel epipodial yang berfungsi sebagai organ sensor (Setyono, 2009 dalam Pratama, 2013).Daging abalon sebenarnya merupakan otot gerak atau kaki (foot). Pangkal atau dasar otot kaki melekat pada cangkang (shell) dan sebagian besar otot kaki mengisi seluruh permukaan cangkang. Otot kaki tersebut sangat kuat, digunakan untuk menempel pada substrat dan berfungsi sebagai alat bergerak ketika mencari makanan. Pada bagian tepi tubuh abalon terdapat selaput epipodium, bentuknya bergelambir dan berlipat-lipat dengan banyak sungut kecil (tentacles) yang berperan sebagai organ sensor. Kepala abalon terletak di bagian depan (anterior) sebelah kanan, terdapat mulut, sepasang sungut, sepasang mata, dan jaringan parut (radula).Kepala dan mulut abalone berada di bagian anterior kepala abalone memiliki sepasang tentakel dan sepasang mata. Tentakel berpe

Embed Size (px)
Recommended