Home >Documents >Tugas Analisis REsep Obat Kardiovaskular

Tugas Analisis REsep Obat Kardiovaskular

Date post:25-Jul-2015
Category:
View:1,248 times
Download:32 times
Share this document with a friend
Description:
sok mangga
Transcript:

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Obat adalah suatu zat yang dimaksudakn untuk dipakai dalam diagnosis, mengurangi rasa sakit, mengobati atau mencegah penyakit pada manusia, hewan dan tumbuhan. Pemberian obat pada pasien, dokter terlebih dahulu melakukan diagnosa, selanjutnya dalam pemberian obat membutuhkan penulisan resep. Menurut SK Menkes.No. 922/Menkes/Per/X/1993 disebutkan bahwa resep adalah permintaan tertulis dari dokter, dokter gigi, dokter hewan, kepada Apoteker untuk menyediakan dan menyerahkan obat bagi penderita sesuai peraturan perundangan yang berlaku. Yang berhak menulis resep adalah dokter, dokter gigi, dan dokter hewan sedangkan yang berhak menerima resep adalah apoteker. Resep harus ditulis jelas dan lengkap. Apabila resep tidak dapat dibaca dengan jelas atau tidak lengkap, apoteker harus menanyakan kepada dokter penulis resep. Beberapa jenis kesalahan penulisan resep yang sering terjadi diantaranya kelalaian pencantuman informasi dan penulisan resep yang buruk. Dalam penulisan resep terdapat titik-titik rawan yang harus dipahami baik oleh dokter maupun apoteker. Resep harus ditulis dengan jelas dan lengkap untuk menghindari adanya salah persepsi diantara keduanya dalam mengartikan sebuah resep. Kegagalan komunikasi dan salah interpretasi antara dokter dengan apoteker merupakan salah satu faktor penyebab timbulnya kesalahan medikasi (medication error) yang bisa berakibat fatal bagi penderita. Hasil analisa dari sebuah resep menunjukkan adanya berbagai penyimpangan dalam hal penulisan resep, misalnya penulisan resep yang tidak lengkap (resep tanpa no sip dokter,tidak mencantumkan bentuk sediaan dll) serta penulisan resep yang tidak jelas maupun sukar dibaca baik menyangkut nama, kekuatan dan jumlah obat, bentuk sediaan maupun aturan pakai. Dalam rangka menjamin tercapainya tujuan terapi pada pasien, dan mengingat pentingnya kelengkapan resep maka analisa ini berfokus pada identifikasi kesalahan-kesalahan yang sering terjadi pada peresepan obat secara umum dan apakah ada interaksi antar setiap obat yang di resepkan. Analisa ini dilakukan pada resep dari dr. A kepada seorang pasien yang bernama B yang di asumsikan mengalami penyakit kardiovaskular angina pektoris.

1

1.2. Perumusan Masalah Adapun perumusan masalah dalam analisa resep ini adalah: 1) Apakah resep yang ditulis dokter telah memenuhi persyaratan kelengkapan resep sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku 2) Apakah resep-resep yang ditulis dokter terdapat variasi penulisan resep yang dapat berpotensi menimbulkan kesalahan pengobatan (medication error). 3) Apakah terdapat interaksi antar obat yang diresepkan oleh dokter.

1.3.Tujuan Analisis 1) Mengetahui apakah resep yang ditulis dokter telah memenuhi persyaratan kelengkapan resep sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 2) Mengetahui Apakah resep-resep yang ditulis dokter terdapat variasi penulisan resep yang dapat berpotensi menimbulkan kesalahan pengobatan (medication error). 3) Mengetahui Apakah terdapat interaksi antar obat yang diresepkan oleh dokter.

2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Resep 2.1.1. Pengertian Resep Resep adalah permintaan tertulis seorang dokter, dokter gigi atau dokter hewan yang di beri izin berdasarkan perundang-undangan yang berlaku kepada apoteker untuk menyediakan dan menyerahkan obat-obatan bagi penderita. Resep di sebut juga formulae medicae : 1) formulae officinalis (yaitu resep yang tercantum dalam buku farmakope atau buku lainya dan merupakan standar) 2) formulae magistralis (yaitu resep yang ditulis oleh dokter).

Satu resep umumnya hanya diperuntukkan untuk satu penderita. Pada kenyataannya resep lebih besar maknanya dari yang disebutkan di atas, karena resep merupakan perwujudan akhir dari kompetensi pengetahuan keahlian dokter dalam menerapkan pengetahuan dalam bidang farmakologi dan terapi. Selain sifat-sifat obat yang diberikan dan dikaitkan dengan variable dari penderita, maka dokter yang menulis resep idealnya perlu pula mengetahui penyerapan dan nasib obat dalam tubuh, ekskresi obat, toksikologi serta penentuan dosis regimen yang rasional bagi setiap penderita secara individual. Resep juga perwujudan hubungan profesi antara dokter, apoteker dan penderita. Resep ditulis di atas kertas resep. Ukuran yang ideal adalah lebar 10 12 cm dan panjang 15-18cm. Untuk dokumentasi, pemberian obat kepada penderita memang seharusnya dengan resep, permintaan obat melalui telepon hendaknya dihindarkan. Blangko kertas resep hendaknya oleh dokter disimpan di tempat yang aman untuk menghindarkan dicuri untuk disalahgunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab, antara lain dengan menuliskan resep palsu meminta obat bius.

2.1.2. Bagian-Bagian Resep Resep harus ditulis dengan lengkap, Resep yang lengkap terdiri atas: 1) Inscriptio a) Nama dan alamat dokter serta nomor surat ijin praktek, dan dapat pula dilengkapi dengan nomor telepon, jam dan hari praktek.3

b) Nama kota serta tanggal resep itu ditulis oleh dokter. c) Tanda R/, singkatan dari recipie berarti harap diambil (subcriptio). 2) Praescriptio a) Nama setiap jenis atau bahkan obat yang diberikan serta jumlahnya. b) Cara Pembuatan atau bentuk sediaan yang dikehendaki, misalnya f.l.a. pulv (fac lege artis pulveres): buatlah sesuai aturan, obat berupa puyer. 3) Signatura a) Aturan pemakaian obat umumnya ditulis dengan singkatan bahasa latin. Aturan pakai ditandai denga signa, biasa disingkat S. b) Nama penderita dibelakang kata Pro: merupakan identifikasi penderita, dan sebaiknya dilengkapi dengan alamatnya yang akan memudahkan penelusuran bila terjadi sesuatu dengan obat pada penderita. Jika penderita seorang anak,maka harus dituliskan umurnya, sehingga apoteker dapat mencek apakah dosis yang diberikan sudah cocok untuk anak umur sekian. Penulisan nama penderita tanpa umur pada resep, dapat dianggap resep itu diperuntukkan bagi orang dewasa, dicantumkan dibelakang Pro: Tuan/Nyonya atau Bapak/Ibu diikuti nama penderita. 4) Subscriptio Tanda tangan atau paraf dari dokter/dokter gigi/dokter hewan yang menuliskan resep tersebut yang menjadikan suatu resep itu otentik. Resep obat suntik dari golongan narkotika harus dibubuhi tanda tangan lengkap oleh dokter/dokter gigi/dokter hewan yang menulis resep dan tidak cukup dengan paraf saja Masing-masing bagian dari resep tersebut mempunyai fungsi penting, sehingga jika resep tidak lengkap akan mengganggu kelancaran penyediaan obat. Menurut bidang kedokteran isi dari suatu resep dapat berupa: 1) Basis : adalah obat-obat yang prisipal yang mempunyai efek kerja utama 2) Adjuvant : adalah obat-obat yang diberikan bersamaan dan bekerja sebagai membantu atau menambah kerja obat utama. 3) Corrective : adalah obat yang ditambahkan untuk mengurangi atau menghilangkan efek yang tidak di inginkan ( efek samping) baik dari obat utama atau adjuvant 4) Vehicle : bahan dasar, larutan atau pelarut dari obat.

2.1.3. Penulisan Resep Resep harus ditulis jelas dan lengkap. Apabila resep tidak dapat dibaca dengan jelas atau tidak lengkap, apoteker harus menanyakan kepada dokter penulis resep . Tulisan yang4

jelek dalam resep dapat menimbulkan kesalahan dan secara hukum dokter wajib menulis resep yang jelas terbaca. Untuk obat yang peresepannya diawasi atau obat yang cenderung disalahgunakan, lebih aman untuk menuliskan kekuatan obat dan jumlah totalnya dalam huruf untuk mencegah penyalahgunaan. Kekuatan obat adalah jumlah obat yang terkandung dalam setiap tablet dan suppositoria (mg) atau dalam larutan (ml). Sebaiknya penulisan resep menggunakan alat tulis yang hasil tulisannya tidak luntur dan tidak dapat dihapus. Penulisan resep sebaiknya juga menggunakan singkatan baku yang akan dikenal oleh apoteker. Beberapa hal lain yang juga harus mendapatkan perhatian dokter dalam penulisan resep adalah: 1) Resep harus ditulis dengan tinta 2) Penulisan nama obat, jumlah obat, serta cara pemakaian hendaknya dapat dibaca oleh apoteker atau asisten apoteker 3) Hindarkan rumus kimia dari obat 4) Boleh menuliskan lebih dari satu resep di atas satu kertas resep 5) Hindari penulisan singkatan-singkatan yang meragukan 6) dokter menyimpan turunan dari setiap resep yang ditulisnya 7) dokter menuliskan resep di hadapan penderita 8) sebelum resep diberikan kepada penderita, dokter membaca kembali apa yang telah ditulisnya 9) dokter yang bijak akan memperhatikan juga keadaan ekonomi dari penderitanya 10) Mengetahui kebutuhan terapi pasien, alergi obat, potensial terapi obat 11) Menuliskan berat badan pasien 12) Menggunakan nama generic 13) Menghindari penggunaan nama singkatan obat 14) Menyesuaikan dosis dengan referensi yang terkini 15) Pembulatan dosis dilakukan terhadap angka terdekat 16) Untuk pecahan menggunakan angka nol di depan koma dan menghindari angka dibelakang koma 17) Memeriksa semua hitungan dan satuannya 18) Menggunakan instruksi dosis yang spesifik dan menghindari order secara verbal.

5

2.1.4. Bahasa Dalam Resep Bahasa yang digunakan dalam penulisan resep umumnya ditulis dalam bahasa latin. Bahasa latin sampai saat ini masih digunakan dalam menulis resep khususnya pada bagian signatura, karena bahasa latin mempuyai beberapa keuntungan, antara lain: 1) Bahasa latin merupakan bahasa yang statis atau mati, dimana tidak mengalami perkembangan atau perubahan. Hal ini menjamin tidak akan ada salah tafsir sepanjang zaman 2) Bahasa latin merupakan bahasa dunia untuk ilmu kesehatan sehingga apabila resep ditulis dengan bahasa latin siapapun dan dimanapun akan selalu dilayani secara tepat atau dimengerti oleh yang terkait Apoteker Pengelola Apotek (APA) 3) Nama obat yang ditulis dengan bahasa latin tidak akan terjadi salah tafsir (salah obat) 4) Bahasa latin dapat merahasiakan sesuatu untuk kepentingan penderita.

2.1.5. Skrining resep Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004 bahwa skrining resep terdir