Home >Documents >Tugas Akhir Tipoid Bab 1,2

Tugas Akhir Tipoid Bab 1,2

Date post:30-Oct-2015
Category:
View:75 times
Download:2 times
Share this document with a friend
Description:
rwrass
Transcript:

28

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar BelakangPembangunan kesehatan merupakan bagian integral dari Pembangunan Nasional yang pada hakekatnya merupakan upaya penyelenggaraan kesehatan oleh bangsa Indonesia untuk mencapai kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal, sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum dari tujuan nasional. Sesuai dengan UU No. 17 Tahun 2007 tentang Rencana Jangka Panjang Pembangunan Nasional (RPJP N) Tahun 20052025 pembangunan kesehatan diarahkan untuk peningkatan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang, agar peningkatan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya dapat terwujud. (Depkes RI, 2007).

Typhoid merupakan penyakit endemic di Indonesia. Penyakit ini jarang di temukan secara epidemik, lebih bersifat sporadis, terpencar-pencar disuatu daerah, dan jarang terjadi lebih dari satu kasus pada orang-orang serumah. Di Indonesia, demam typhoid dapat ditemukan sepanjang tahun dan insidens tertinggi pada daerah endemik terjadi pada anak-anak. Terdapat dua sumber penularan S. typhi yaitu pasien dengan demam typhoid yang lebih sering karier. Di daerah endemik, transmisi terjadi melalui air yang tercemar S.typhi, sedangkan makanan yang tercemar oleh

karier merupakan sumber penularan tersering di daerah nonendemik. (Mansjoer, 2009).Besarnya angka pasti kasus typhoid abdominalis di Dunia, sangat sulit ditentukan karena penyakit ini dikenal mempunyai gejala dengan spektrum klinis yang sangat luas. Data World Health Organization (WHO) Diperkirakan angka kejadian penyakit ini mencapai 13-17 juta kasus di seluruh dunia dengan angka kematian mencapai 600.000 jiwa per tahun. Daerah endemik tifoid abdominalis tersebar di berbagai benua, mulai dari Asia, Afrika, Amerika Selatan, Karibia, hingga Oceania. Sebagain besar kasus (80%) ditemukan di negara-negara berkembang, seperti Bangladesh, Laos, Nepal, Pakistan, India, Vietnam, dan termasuk Indonesia, insiden typoid abdominalis banyak terjadi pada anak usia 5-19 tahun. (Brusch, 2010).

Di Indonesia, diperkirakan antara 800 100.000 orang terkena penyakit tifus atau tifoid abdominalis sepanjang tahun. Penyakit ini terutama muncul di musim kemarau, Diperkirakan angka kejadian penyakit ini adalah 300 810 kasus per 100.000 penduduk/tahun. Insiden tertinggi didapatkan pada anak-anak, peningkatan kasus saat ini terjadi pada usia dibawah 5 tahun. Orang dewasa sering mengalami infeksi ringan dan sembuh sendiri lalu menjadi kebal. Insiden penderita berumur 12 tahun keatas adalah 70 80%, penderita umur antara 12 dan 30 tahun adalah 10 20%, penderita antara 30 40 tahun adalah 5 10%, dan hanya 5 10% diatas 40 tahun. (Depkes RI, 2009). Di Jawa Tengah, pada tahun 2003 menempati urutan ke 21 dari 22 (4,6 %) dari penyakit yang tercatat, penyakit typoid abdominalis termasuk penyakit yang mengakibatkan angka kejadian luar biasa (KLB) yang terjadi di jawa tengah. (Dinkes jateng, 2003).

Berdasarkan data yang terdapat di dari Rekam Medis rumah sakit RS dr Rehatta Kelet Jepara angka kejadian tipoid pada tahun 2010 adalah 658 kasus dan pada tahun 2011 adalah 447 kasus, pada tahun 2012 menjadi 311 kasus dan pada tahun 2013 dari awal bulan januari sampai pertengahan maret sudah terjad 139 kasus demam tipoid yang terjadi di daerah sekitar Rumah sakit RS dr Rehatta Kelet Jepara (RM rumah sakit dr Rehatta Kelet Jepara, 2013).

Berdasarkan data yang diperoleh diatas penulis tertarik dalam mengambil Tugas Akhir yang berjudul Asuhan Keperawatan Pada Tn U Dengan Typhoid Abdominalis Diruang Angrek-Anyelir RS dr Rehatta Kelet Jepara.

B. Tujuan Penulisan

1. Tujuan Umum

Untuk memberikan Asuhan Keperawatan pada Tn U dengan typhoid abdominalis di ruang Anggrek-Anyelir RSUD Dr Rehatta Kelet Jepara.2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui dan memahami konsep Typhoid Abdominalis.

b. Mengetahui dan memahami pengkajian secara menyeluruh pada pasien dengan Typhoid Abdominalis.

c. Membuat diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien Typhoid Abdominalis.

d. Membuat rencana asuhan keperawatan (intervensi) pada pasien Typhoid Abdominalis berdasarkan masalah keperawatan yang ada.

e. Melaksanakan implementasi yang direncanakan secara efisien.

f. Mengevaluasi hasil asuhan keperawatan yang telah dilaksanakan.

g. Mendokumentasikan asuahan keperawatan yang telah dilaksanakan secara komprehensif.C. Manfaat Studi Khasus

Penulisan studi kasus ini bermanfaat untuk :

1. Bagi Penulis.Dengan adanya studi kasus ini penulis dapat mengaplikasikan teori - teori yang didapatkan selama mata perkuliahan, mampu memperbedakan perbedaan perbedaan antara teori dengan kenyataan yang didapat dilahan, serta menambah pengetahuan penulis mengenai pembuatan studi kasus.

2. Pelayanan Kesehatan (khususnya perawat).Lebih meningkatkan upaya pelayanan kesehatan, serta meningkatkan kualitas asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien Typhoid Abdominalis.3. Institusi Pendidikan.Sebagai bahan bacaan dan menambah wawasan bagi mahasiswa kesehatan khususnya mahasiswa ilmu keperawatan mengenai typhoid abdominalis.4. Masyarakat

Bagi masyarakat dapat memberikan gambaran tanda-tanda dan gejala serta penyebab penyakit typhoid abdominalis di masyarakat sehingga dapat melakukan pencegahan terhadap penyakit tersebut.BAB IITINJAUAN TEORIA. Pengertian

Typhoid abdominalis merupakan penyakit infeksi yang terjadi pada usus halus disebabkan oleh salmonella thypii (Hidayat, 2006).

Typhoid abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari satu minggu, gangguan pencernaan, dan gangguan kesadaran (Ngastiyah, 2005).

Typhoid adalah penyakit infeksi yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari tujuh hari, gangguan pada saluran cerna atau gangguan kesadaran (Mansjoer A, 2009).

Typhoid abdominalis adalah penyakit menular yang bersifat akut, yang ditandai dengan bakterimia, perubahan pada sistem retikuloendotelial yang bersifat difus, pembentukan mikroabses dan ulserasi Nodus peyer di distal ileum. (Soegeng Soegijanto, 2002)Jadi Typhoid adalah penyakit infeksi saluran pencernaan yang terjadi pada usus halus dengan gejala demam yang lebih dari satu minggu yang disebabkan oleh salmonella thypii.

B. Penyebab/ Etiologi

1. Penyebab typhoid adalah kuman salmonella typosa dan salmonella paratyphi A, B, dan C memasuki saluran pencernaan. (Noer, 2006).2. 96 % disebabkan oleh salmonella typhi, basil gram negative yang bergerak dengan bulu getar, tidak berspora mempunyai sekuran-kurangnya 3 macam antigen, yaitu :a. Antigen O (somatic terdiri dari zat komplek lipolisakarida).b. Antigen (flagella).c. Antigen VI dan protein membran hialin.1) Salmonella paratyphi A.2) Salmonella paratyphi B.3) Salmonella paratyphi C.4) Feces dan urin yang terkontaminasi dari penderita typus. (Wong ,2003).C. Manifestasi Klinik

Masa inkubasi 7-20 hari, inkubasi terpendek 3 hari dan terlama 60 hari rata-rata masa inkubasi 14 hari dengan gejala klinis sangat bervariasi dan tidak spesifik. (Pedoman Diagnosis dan Terapi, Lab/UPF Ilmu Penyakit Dalam RSUD Dr. Soetomo Surabaya, 2006).

Berikut gejala Klinis yang biasa ditemukan, yaitu :

1. Demam

Pada kasuskasus yang khas, demam berlangsung 3 minggu.

a. Minggu I

Dalam minggu pertama penyakit keluhan gejala serupa dengan penyakit infeksi akut pada umumnya , yaitu demam, nyeri kepala, pusing, nyeri otot, anoreksia, mual, muntah, obstipasi atau diare, perasaan tidak enak di perut, batuk dan epistaksis. Pada pemeriksaan fisik hanya didapatkan suhu badan meningkat.

b. Minggu II

Dalam minggu kedua gejala-gejala menjadi lebih jelas dengan demam, bradikardia relatif, lidah yang khas (kotor di tengah, tepi dan ujung merah dan tremor), hepatomegali, splenomegali, meteroismus, gangguan mental berupa somnolen, stupor, koma, delirium atau psikosis, roseolae jarang ditemukan pada orang Indonesia.

c. Minggu III

Dalam minggu ketiga suhu badan berangsur angsur turun dan normal kembali pada akhir minggu ketiga.

2. Gangguan pada saluran pencernaan

Pada mulut terdapat nafas bau tidak sedap, bibir kering dan pecah-pecah. Lidah ditutupi selaput putih kotor, ujung ditemukan kemerahan , jarang ditemui tremor.Pada abdomen mungkin ditemukan keadaan perut kembung. Hati dan limfa membesar disertai nyeri pada perabaan. Biasanya didapatkan konstipasi akan tetapi mungkin pula normal bahkan dapat terjadi diare.3. Gangguan keasadaran

Umumnya kesadaran penderita menurun walaupun tidak berapa dalam yaitu apatis sampai samnolen. Jarang stupor, koma atau gelisah. Disamping gejalagejala yang biasanya ditemukan tersebut, mungkin pula ditemukan gejala lain. Pada punggung dan anggota gerak dapat ditemukan bintik bintik kemerahan karena emboli basil dalam kapiler kulit. Biasanya ditemukan dalam minggu pertama demam kadang kadang ditemukan bradikardia pada anak besar dan mungkin pula ditemukan epistaksis. (Mansjoer, 2009).D. Patofisiologi

Kuman Salmonella typi masuk tubuh manusia melalui mulut dengan makanan dan air yang tercemar. Sebagian kuman dimusnakan oleh asam lambung. Sebagian lagi masuk ke usus halus dan mencapai jaringan limfoid plaque peyeri di ileum terminalis yang mengalami hipertrofi. Di tempat ini komplikasi perdarahan dan perforasi intestinal dapat terjadi. Kuman Salmonella Typi kemudian menembus ke lamina propia, masuk aliran limfe dan mencapai kelenjar limfe mesenterial, yang juga mengalami hipertrofi. Setelah melewati kelenjar-kelenjar limfe ini salmonella typi masuk ke aliran darah melalui ductus thoracicus. Kuman salmonella typi lain mencapai hati melalui sirkulasi portal dari usus. Salmonella typi bersarang di plaque peyeri, limpa, hati dan bagian-bagian lain sistem retik

Embed Size (px)
Recommended