Home >Documents >TESIS - repository.ub.ac.idrepository.ub.ac.id/2744/1/DEDYE PRIYO WIBOWO.pdf · Mertua Ibu Yuli...

TESIS - repository.ub.ac.idrepository.ub.ac.id/2744/1/DEDYE PRIYO WIBOWO.pdf · Mertua Ibu Yuli...

Date post:28-Oct-2020
Category:
View:1 times
Download:0 times
Share this document with a friend
Transcript:
  • ANALISIS KEPUASAN PENGGUNA INTEGRATED FINANCIAL

    MANAGEMENT INFORMATION SYSTEM (IFMIS) DENGAN

    GABUNGAN TECHNOLOGY ACCEPTANCE MODEL

    DAN INFORMATION SYSTEM SUCCESS MODEL

    (STUDI PADA DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN)

    TESIS

    Untuk Memenuhi Persyaratan Mencapai Gelar Magister

    Oleh:

    DEDYE PRIYO WIBOWO

    156020304111016

    PROGRAM MAGISTER AKUNTANSI

    PASCASARJANA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

    UNIVERSITAS BRAWIJAYA

    MALANG

    2017

  • v

    RIWAYAT HIDUP

    Dedye Priyo Wibowo lahir di Blitar pada tanggal 10 Mei 1983, anak bungsu dari Bapak Suwasono dan Ibu Saitun. Peneliti menempuh pendidikan dasar di SDN Binangun 1, SMPN 1 Binangun, dan SMA 1 Blitar lulus tahun 2002. Studi Diploma III Anggaran di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) lulus pada tahun 2005. Studi S1 Akuntansi di Universitas Brawijaya lulus tahun 2013. Pada tahun 2015, peneliti menempuh pendidikan Magister Akuntansi melalui Program State Accountability Revitalization (STAR) yang diselenggarakan oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan Republik Indonesia (BPKP-RI). Saat ini peneliti adalah Pegawai Negeri Sipil pada Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Nusa Tenggara Barat.

    Malang, 15 Agustus 2017

    Peneliti

  • vi

    UCAPAN TERIMA KASIH

    Peneliti menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya

    kepada:

    1. Prof. Dr. Ir. Mohammad Bisri, MS selaku Rektor Universitas Brawijaya.

    2. Nurcholis, SE., M.Bus. (Acc)., Ak., Phd. Selaku Dekan Fakultas Ekonomi

    dan Bisnis Univrsitas Brawijaya.

    3. Dr. Roekhudin, SE., M.Si., Ak selaku Ketua Program Studi Magister

    Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya.

    4. Dr. Rosidi, SE., MM., Ak selalu ketua komisi pembimbing yang telah

    memberikan berbagai pencerahan kepada penulis sehingga tesis ini

    dapat terselesaikan dengan baik.

    5. Dr. Lilik Purwanti, SE., M.Si., Ak selaku komisi pembimbing yang telah

    dengan sabar membimbing serta dan memberikan berbagai wawasan

    dalam penyelesaian tesis ini.

    6. Prof. Eko Ganis S, SE., M.Com(Hons), Ph.D dan Yeney Widya P, SE.,

    Ak., MSA, Ph.D selaku penguji yang memberikan masukan-masukan

    yang sangat berharga dalam upaya penyempurnaan tesis ini.

    7. Orang tua peneliti, Ibu Saitun, Istri RAW, Anak-anak MMH dan NDA, dan

    Mertua Ibu Yuli Indrawati, serta kakak-adikku yang telah banyak

    memberikan dukungan kepada penulis selama menempuh studi ini.

    8. Direktur Jenderal Perbendaharaan dan Sekretaris Dirjen Perbendaharaan

    Kementerian Keuangan yang telah memberikan ijin tugas belajar dan

    mendukung studi ini.

  • vii

    9. Bapak Taukid selaku Kepala Kantor Wilayah DJPB Provinsi NTB dan

    keluarga besar DJPB Provinsi NTB memberikan perhatian dan dukungan

    kepada peneliti selama masa tugas belajar.

    10. Teman-teman seperjuangan STAR-BPKP Batch 5, khususnya kelas A.

    11. Semua staf pengajar dan administrasi Program Studi Magister Akuntansi

    Pascasarjana Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya yang

    telah memberikan berbagai perhatian dan bantuan.

    12. Segenap pegawai DJPB yang telah membantu dan mendukung sehingga

    proses penelitian dapat berjalan lancar.

    13. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang selama ini

    telah banyak memberikan dukungan kepada peneliti.

    Malang, 15 Agustus 2017

    DEDYE PRIYO WIBOWO

  • viii

    ABSTRAK

    Dedye Priyo Wibowo: Pascasarjana Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya, Agustus 2017. Analisis Kepuasan Pengguna Integrated Financial Management Information System (IFMIS) dengan Gabungan Technology Acceptance Model dan Information System Success Model (Studi pada Direktorat Jenderal Perbendaharaan). Ketua pembimbing: Rosidi, Komisi Pembimbing: Lilik Purwanti

    Penelitian ini bertujuan menilai kepuasan pengguna IFMIS menggunakan model sistem informasi. Model penelitian merupakan penggabungan model Technology Acceptance Model (TAM) dan model DeLone dan McLean dengan menambahkan pengaruh sosial dan Computer Self Efficacy. Jenis penelitian ini adalah causal explenatory dengan non probability sampling sebagai teknik pengumpulan data. Penelitian dilakukan pada Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPB), Kementerian Keuangan, sebanyak 201 responden berhasil diperoleh pada penelitian ini. Hasil analisis dengan partial least square menunjukkan bahwa seluruh hipotesis didukung yang ditunjukkan dengan hubungan positif dan signifikan antar variabel dalam model. Hasil penelitian ini dapat digunakan dalam pengembangan TAM, model DeLone dan McLean serta Cognitif Social Theory. Selain hal tersebut, SPAN dan SAKTI dapat dimanfaatkan lebih optimal sebagai aplikasi dalam IFMIS. Implikasi lainnya adalah sebagai referensi pengambilan kebijakan oleh DJPB dalam pengembangan SPAN dan SAKTI.

    Kata Kunci: computer self efficacy (CSE), IFMIS, kepuasan pengguna, pengaruh sosial, sitem informasi, SPAN,

  • ix

    ABSTRACT

    Dedye Priyo Wibowo: Post Graduate Program, Faculty of Economics and Business, Brawijaya University, August 2017. Analysis of User Integrated Financial Management Information System (IFMIS) Satisfaction with Unified of Technology Acceptance Model dan Information System Success Model (Study in Directorate General of Treasury). Chairman of Supervision Commission: Rosidi, Co-Supervisor: Lilik Purwanti

    Objective of this study is to assess IFMIS user satisfaction using the information system model. This is combination of Technology Acceptance Model (TAM) and model of DeLone and McLean, adding with social influence and Computer Self Efficacy. This is causal explenatory research with non probability sampling as sampling technique. The research was conducted at the Directorate General of Treasury (DJPB), Ministry of Finance, 201 respondens has attained in this reseach. The result with partial least square shows that all hypotheses are supported which is indicated by positive and significant relation between variables in the model. The results of this research can be used to development of TAM, model of DeLone and McLean and Cognitive Social Theory. Furthermore, optimalization of SPAN and SAKTI can be done as an IFMIS application. Another implication is policy-making references by DJPB in the development of SPAN and SAKTI.

    Keywords: computer self efficacy (CSE), IFMIS, information system, SPAN, social influence, TAM user satisfaction

  • x

    PENGANTAR

    Dengan memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT, atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat menyajikan tulisan tesis yang berjudul: Analisis Kepuasan Pengguna Integrated Financial Management Information System (IFMIS) dengan Gabungan Technology Acceptance Model dan Information System Success Model (Studi pada Direktorat Jenderal Perbendaharaan). Tulisan ini berusaha untuk mengetahui keberhasilan program IFMIS melalui implementasi aplikasi SPAN dan SAKTI dengan mengukur kepuasan pengguna menggunakan model sistem informasi. Sangat disadari bahwa dengan kekurangan dan keterbatasan yang dimiliki peneliti, walaupun telah dikerahkan segala kemampuan untuk lebih teliti, tetapi masih dirasakan banyak kekurangtepatan. Oleh karena itu, peneliti mengharapkan saran yang membangun agar tulisan ini bermanfaat bagi yang membutuhkan.

    Malang, 15 Agustus 2017

    Peneliti

  • xi

    DAFTAR ISI

    HALAMAN JUDUL..................................................................................................i

    HALAMAN PENGESAHAN....................................................................................ii

    LEMBAR IDENTITAS KOMISI PEMBIMBING DAN PENGUJI.............................iii

    PERNYATAAN ORISINALITAS TESIS.................................................................iv

    RIWAYAT HIDUP..................................................................................................v

    UCAPAN TERIMA KASIH.....................................................................................vi

    ABSTRAK............................................................................................................viii

    ABSTRACT...........................................................................................................ix

    PENGANTAR........................................................................................................x

    DAFTAR ISI..........................................................................................................xi

    DAFTAR TABEL...................................................................................................xv

    DAFTAR GAMBAR..............................................................................................xvi

    BAB I PENDAHULUAN .................................................................................... 1

    1.1 Latar Belakang .............................................................................. 1

    1.2 Motivasi Penelitian ...................................................................... 12

    1.3 Rumusan Masalah ...................................................................... 13

    1.4 Tujuan Penelitian ........................................................................ 14

    1.5 Manfaat Penelitian ...................................................................... 15

    BAB II TINJAUAN PUSTAKA .......................................................................... 17

    2.1 Sistem Informasi ......................................................................... 17

    2.2 Teori Kepuasan ........................................................................... 19

    2.3 Theory of Reasoned Action (TRA) dan Theory of Planned Behavior (TPB) ........................................................................... 23

    2.4 Model Penelitian Sistem Informasi .............................................. 24

    2.4.1. Model Keberterimaan Teknologi ....................................... 24

    2.4.2. Model Kepuasan Pengguna/Model Kesuksesan Teknologi ......................................................................... 25

    2.5 Faktor-faktor Penentu Keberhasilan Implementasi Sistem Informasi Terintegrasi ................................................................. 26

    2.5.1. Kualitas Informasi ............................................................ 27

    2.5.2. Kualitas Sistem ................................................................ 28

    2.5.3. Persepsi Kemudahan Penggunaan ................................. 28

  • xii

    2.5.4. Persepsi Kegunaan ......................................................... 30

    2.5.5. Pengaruh Sosial .............................................................. 30

    2.5.6. Computer Self Efficacy ................................................... 31

    2.5.7. Sikap/Attitude Pengguna ................................................. 32

    2.5.8. Minat Menggunakan Sistem Informasi ............................. 33

    2.5.9. Penggunaan Aktual ......................................................... 34

    2.5.10. Kepuasan Pengguna ....................................................... 34

    2.6 Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara (SPAN) ............. 35

    2.7 Sistem Aplikasi Keuangan Tingkat Instansi (SAKTI) ................... 37

    BAB III KERANGKA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS ........ 39

    3.1 Kerangka Konseptual .................................................................. 39

    3.2 Pengembangan Hipotesis ........................................................... 46

    3.2.1. Pengaruh Positif Kualitas Informasi terhadap Persepsi Kegunaan ......................................................... 46

    3.2.2. Pengaruh Kualitas Sistem terhadap Persepsi Kemudahan Penggunaan ................................................ 48

    3.2.3. Pengaruh Computer Self Efficacy terhadap Persepsi Kemudahan Penggunaan ................................................ 52

    3.2.4. Pengaruh Persepsi Kemudahan Penggunaan terhadap Persepsi Kegunaan .......................................... 54

    3.2.5. Pengaruh Persepsi Kegunaan dan Persepsi Kemudahan Penggunaan terhadap Sikap Pengguna ...... 57

    3.2.6. Pengaruh Sikap/Attitude Pengguna dan Pengaruh Sosial terhadap Minat/Intention to use Pengguna ............ 60

    3.2.7. Pengaruh Minat/Intention to use terhadap Penggunaan Aktual ......................................................... 63

    3.2.8. Pengaruh Penggunaan Aktual terhadap Kepuasan Pengguna ........................................................................ 65

    BAB IV METODE PENELITIAN ........................................................................ 68

    4.1 Jenis Penelitian ........................................................................... 68

    4.2 Lokasi Penelitian, Populasi dan Sampel ...................................... 68

    4.3 Metode Pengumpulan Data ......................................................... 70

    4.4 Definisi Operasional Penelitian .................................................... 71

    4.4.1. Kualitas Informasi ............................................................ 71

    4.4.2. Kualitas Sistem ................................................................ 72

    4.4.3. Pengaruh Sosial .............................................................. 73

    4.4.4. Computer Self Efficacy .................................................... 73

  • xiii

    4.4.5. Persepsi Kegunaan ......................................................... 74

    4.4.6. Persepsi Kemudahan Penggunaan ................................. 75

    4.4.7. Sikap ............................................................................... 75

    4.4.8. Minat ............................................................................... 76

    4.4.9. Penggunaan Aktual ......................................................... 76

    4.4.10.Kepuasan Pengguna ........................................................ 77

    4.5 Analisis Data ............................................................................... 77

    4.6 Evaluasi Model ............................................................................. 82

    4.7 Pengujian Hipotesis...................................................................... 83

    4.8 Hasil Pilot Test ............................................................................. 83

    4.8.1. Hasil Uji Validitas Pilot Test ............................................. 84

    4.8.2. Pengujian Realibilitas ...................................................... 86

    BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................................ 88

    5.1 Hasil Penelitian ........................................................................... 88

    5.1.1. Pengiriman dan Pengembalian Kuesioner ....................... 88

    5.1.2. Deskripsi Responden ....................................................... 89

    5.1.3. Deskripsi Tanggapan Responden .................................... 91

    5.1.4. Analisis Data.................................................................... 92

    5.2 Pembahasan Hasil Penelitian ...................................................... 99

    5.2.1. Kualitas Informasi Berpengaruh Positif terhadap Persepsi Kegunaan ....................................................... 100

    5.2.2. Kualitas Sistem Berpengaruh Positif terhadap Persepsi Kemudahan Penggunaan ............................... 102

    5.2.3. Computer Self Efficacy Berpengaruh Positif terhadap Persepsi Kemudahan Penggunaan ............................... 103

    5.2.4. Persepsi Kemudahan Penggunaan Berpengaruh Positif terhadap Persepsi Kegunaan .............................. 105

    5.2.5. Persepsi Kegunaan Berpengaruh Positif terhadap Sikap/attitude Pengguna SI ........................................... 106

    5.2.6. Persepsi Kemudahan Penggunaan Berpengaruh Positif terhadap Sikap/attitude Pengguna ...................... 108

    5.2.7. Sikap/attitude Pengguna Berpengaruh Positif terhadap Minat/intention to use Pengguna ..................... 109

    5.2.8. Pengaruh Sosial Berpengaruh Positif terhadap Minat/Intention to Use Pengguna ................................... 110

    5.2.9. Minat/intention to Use Pengguna Berpengaruh Positif terhadap Penggunaan Aktual ........................................ 112

  • xiv

    5.2.10.Penggunaan Aktual Berpengaruh Positif terhadap Kepuasan Pengguna ..................................................... 113

    BAB VI PENUTUP .......................................................................................... 114

    6.1 Kesimpulan ................................................................................ 114

    6.2 Implikasi Penelitian.................................................................... 116

    6.3 Keterbatasan Penelitian ............................................................ 117

    6.4 Saran Penelitian Selanjutnya .................................................... 117

    DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... xvii

  • xv

    DAFTAR TABEL

    No. Judul Halaman

    4.1 Nilai Loading Faktor dan AVE 85

    4.2 Nilai Cross loading Factor 86

    4.3 Hasil Uji Relibilitas 87

    5.1 Statistik Responden 90

    5.2 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas 93

    5.3 Nilai R Square dan R Square Adjusted 94

    5.4 Nilai Q Square Predictive Relevance 96

    5.5 Koefisien Jalur, Rata-rata, Standar Deviasi, T statistik, serta P Values Hasil Penelitian

    97

  • xvi

    DAFTAR GAMBAR

    No. Judul Halaman

    3.1 Kerangka Konseptual 43

    3.2

    4.1

    Model Penelitian

    Model Struktural dan Pengukuran dengan PLS

    44

    82

    5.1 Model Struktural Hasil Penelitian 96

  • 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang

    Kemajuan teknologi dan komunikasi telah menghadirkan begitu banyak

    perubahan dalam kehidupan manusia. Semakin tingginya tingkat kemajuan

    teknologi diyakini telah membawa kita kepada tahap keempat revolusi industri

    (World Economic Forum, 2016). Penyelarasan dengan kemajuan teknologi

    menjadi hal yang tidak dapat lagi diabaikan, baik di lingkungan swasta dan

    terutama di lingkungan sektor publik, dalam bentuk penerapan electronic

    government (e-goverment).

    E-goverment merupakan sebuah konsep yang multidimensi dan kompleks

    (Ndou, 2004). Deloitte Research (2000) menggambarkan e-goverment terkait

    dengan penggunaan teknologi untuk meningkatkan akses dan pengiriman

    informasi serta layanan pemerintah untuk peningkatan keuntungan masyarakat,

    rekan kerja dan pegawai. World Bank (2015) menyatakan penggunaan e-

    goverment merujuk pada penggunaan teknologi informasi oleh lembaga

    pemerintah. Hal ini menunjukkan pentingnya teknologi informasi sebagai alat

    dan sarana mediasi antara pemerintah dan entitas lainnya. Dalam bidang

    pengelolaan keuangan, hal ini terwujud dalam Integrated Financial Management

    Information System (IFMIS).

    IFMIS ditujukan untuk mengatasi efek buruk yang muncul akibat penggunaan

    sistem manual dalam eksekusi anggaran dan proses akuntansinya. Hal tersebut

    antara lain, ketidakhandalan dan ketepatan waktu data pendapatan dan belanja

  • 2

    untuk perencanaan anggaran, monitoring, pengendalian belanja, dan pelaporan

    yang mempengaruhi pengelolaan anggaran (Diamond dan Khemani, 2005).

    Secara umum penggunaan sistem informasi dan teknologi ditujukan untuk

    meningkatkan produktifitas organisasi dan kualitas pengambilan keputusan (Ives

    et al., 1983). Selain itu juga ditujukan untuk mengukur peningkatan kinerja

    tingkat individu maupun organisasi (DeLone dan McLean, 1992).

    Penerapan sebuah sistem informasi dan teknologi merupakan sebuah hal

    yang menantang, banyak rintangan dan permasalahan yang harus dihadapi

    (Eggers dan Bellan, 2015). Literasi teknologi informasi dan komunikasi serta

    kemampuan pengguna menjadi salah satu masalah dalam penerapannya pada

    negara berkembang. Verdegem dan Verleye (2009) melihat masalah

    modernisasi teknologi terletak pada pembuat keputusan yang tidak

    mempertimbangkan harapan dan pilihan pengguna, tapi lebih berfokus kepada

    peningkatan teknis sistem, pengurangan biaya dan desain sistem. Heinze dan

    Hu (2005) menyoroti penggunaan teknologi sebagai salah satu tantangan dalam

    penerapannya, sehingga fokus tidak seharusnya hanya kepada penerapan

    teknologi informasi dan komunikasi, tapi lebih kepada penggunaannya (Al-

    Khatib, 2013).

    Penerapan IFMIS di Indonesia terwujud dalam pemakaian aplikasi Sistem

    Perbendaharaan dan Anggaran Negara (SPAN) dan Sistem Aplikasi Keuangan

    Tingkat Instansi (SAKTI). Pengembangan IFMIS di Indonesia sebagai sistem

    informasi dan teknologi terintegrasi membutuhkan biaya yang besar dan dalam

    waktu yang cukup lama. Oleh sebab itu, keberhasilan implementasinya menjadi

    hal yang sangat penting. Sebagaimana disampaikan Verdegem dan Verleye

    (2009) dan Heinze dan Hu (2005) di atas, pengembangan dan implementasi

    IFMIS harus memperhatikan peran pengguna sebagai faktor utamanya. Apabila

  • 3

    melihat dari sisi pengguna, rangkaian proses dalam diri menjadi pendorong

    bagaimana dia akan menerima datau menolak sistem informasi dan bagaimana

    sistem informasi tersebut mempengaruhinya. Oleh sebab itu, terdapat tiga hal

    penting yang dapat digunakan dalam mengukur keberhasilan sistem informasi

    yaitu penggunaan, kepuasan dan net benefit. Penggunaan sebagai ukuran

    keberhasilan merujuk pada intensitas, utilisasi dan optimalisasi sistem informasi.

    Terdapat kesulitan apablila penggunaan digunakan sebagai alat ukur, terutama

    apabila sistem informasi tersebut digunakan pada lingkungan mandatory (Davis

    et al., 1989; DeLone dan McLean, 1992). Penggunaan tidak dapat menunjukkan

    secara tepat reaksi dalam diri pengguna terhadap sistem informasi.

    Net benefit merupakan pengaruh yang muncul dan pengukurannya bisa

    menggunakan penentuan nilai sebuah sistem informasi. Ives et al. (1983)

    menyatakan secara teori penentuan nilai sistem informasi didasarkan pada nilai

    ekonomis yang diperoleh dari pengurangan net benefit (peningkatan efektifitas

    organisasi) dengan biaya pengembangan dan operasi sistem informasi tersebut.

    Lebih lanjut, Ives et al. (1983) juga menyatakan bahwa dalam praktek,

    pengukuran secara ekonomi tersebut sulit untuk dilaksanakan. Kesulitan ini

    antara lain disebabkan, kesulitan melakukan penilaian secara moneter akibat

    adanya intangible cost serta keuntungan non moneter yang juga muncul.

    Kesulitan lainnya adalah penggunaan sistem informasi sebagai pendukung

    pengambilan keputusan bersifat ad hoc dan insidental menyebabkan pengukuran

    menjadi sulit. Selain itu, banyak data yang dapat digunakan untuk mengukur

    kesuksesan sistem yang tidak tersimpan.

    Penentuan keberhasilan sistem informasi juga dapat diukur menggunakan

    konsep kepuasan pengguna. Beberapa peneliti menggunakan kepuasan

    pengguna sebagai surrogate keberhasilan sistem informasi (Ives et al., 1983;

  • 4

    DeLone dan McLean, 1992; Seddon dan Kiew, 1996; Wixom dan Todd; 2005;

    Vaezy, 2013). Hal ini di dasarkan pada konsep bahwa sebuah sistem informasi

    yang mampu memenuhi kebutuhan pengguna akan menghadirkan kepuasan

    terhadap sistem informasi tersebut. Apabila sistem informasi tidak dapat

    memenuhinya, maka mereka akan mencari sistem informasi lainnya (Cyert dan

    March, 1963 p.126 dalam Ives et al., 1983). Dalam menentukan kepuasan

    terdapat dua pendekatan yang sering digunakan. Pertama, terkait proses yang

    terlibat dalam pembentukan kepuasan dan mekanisme terbentuknya

    kepuasan/ketidakpuasan. Kedua, pendekatan yang melihat kepuasan sebagai

    hasil dari pengalaman dalam mengkonsumsi suatu hal (Yi, 1989). Pendekatan

    pertama lebih sering digunakan dalam penelitian kepuasan pengguna. Beberapa

    penelitian terkait kepuasan pengguna berusaha menjelaskan mengapa

    pengguna memperoleh kepuasan/ketidakpuasan terhadap sistem informasi yang

    didasarkan pada teori proses-orientasi (Bhattacherjee, 2001; Wixom dan Todd,

    2005).

    Kepuasan dapat menunjukkan reaksi pengguna terhadap sistem informasi.

    Kepuasan juga tidak terpengaruh oleh lingkungan penggunaan, baik bersifat

    voluntary atau mandatory. Apabila dibandingkan dengan pengukuran nilai,

    pengukuran kepuasan pengguna relatif lebih mudah dilakukan. Oleh sebab itu,

    pengukuran menggunakan kepuasan dinilai lebih tepat dalam menggambarkan

    bagaimana sistem informasi dapat diterima oleh pengguna. Hal ini juga dinilai

    lebih tepat, apabila melihat masih munculnya berbagai permasalahan dalam

    pemakaian SPAN dan SAKTI. Permasalahan tersebut baik berupa sistem,

    output yang dihasilkan hingga proses penggunaannya. Permasalahan teknis

    SPAN maupun SAKTI banyak ditemui pengguna terkait masih sering terjadinya

    sistem berhenti ketika digunakan, kurang lengkapnya fitur yang diberikan, sampai

  • 5

    terbatasnya akses yang diberikan. Terkait output yang dihasilkan, permasalahan

    yang muncul diantaranya kelengkapan data yang dihasilkan, data yang kurang

    valid, kesalahan dan masalah penampilan hasil sampai integrasi sistem yang

    dinilai masih kurang. Selain kedua hal tersebut, permasalahan juga muncul

    ketika menggunakan aplikasi tersebut, seperti fitur-fitur yang susah ditemukan,

    penggunaan istilah asing yang tidak mudah dipahami pengguna baru, aplikasi

    yang tidak bisa diakses ketika digunakan. Berbagai hal tersebut tentunya

    bertolak belakang dengan harapan penggunaan aplikasi SPAN dan SAKTI

    sebagai aplikasi tunggal dan terintegrasi untuk menyelesaikan berbagai proses

    pengelolaan keuangan. Penggunaan teknologi yang dinilai lebih maju juga

    menghadirkan keyakinan bahwa aplikasi ini lebih unggul dari aplikasi-aplikasi

    sebelumnya. Permasalahan tersebut akan menyebabkan munculnya

    diskonfirmasi antara ekpektasi dengan kenyataan, dan mendorong munculnya

    ketidakpuasan pengguna. Berbagai hal ini menjadi pendukung perlunya

    pengukuran kepuasan pengguna dalam menilai keberhasilan implementasi

    IFMIS di Indonesia.

    Selain berbagai masalah yang mengarahkan pada ketidakpuasan pengguna.

    Implementasi SPAN sendiri juga tidak dapat terlepas dari kesalahan

    penggunaan. Masalah optimalisasi SPAN dan SAKTI, dimungkinkan dipengaruhi

    oleh latar belakang pengguna. Kemampuan dan penguasaan seseorang

    terhadap suatu hal akan menciptakan persepsi dan mendorong kepercayaan diri

    untuk melakukan suatu tindakan berkaitan dengan hal tersebut. Bandura dan

    Cervone (1983) menyatakan bahwa perceived self efficacy berkenaan dengan

    penilaian seberapa baik seseorang dapat melakukan serangkaian tindakan yang

    berkaitan dengan situasi prospektif. Tercapainya tujuan menggunakan SPAN

    dan SAKTI sebagai alat bantu pekerjaan sangat terkait dengan bagaimana

  • 6

    seseorang mampu mengoperasikannya. Dalam hal ini computer self efficacy

    memegang peranan penting. Kemampuan penggunaan komputer dapat dilihat

    sebagai bentuk perceived self efficacy. Computer self efficacy (CSE) dapat

    diartikan tingkat kepercayaan seseorang bahwa dia memiliki kemampuan dalam

    menyelesaikan tugas/pekerjaan khusus menggunakan komputer (Compeau dan

    Higgins, 1995).

    Berbagai permasalahan terkait SI tersebut merupakan hal yang perlu diatasi.

    Berbagai penelitian berusaha menjawab masalah penggunaan sistem informasi

    ini. Berbagai penelitian berusaha memahami mengapa sebagian orang dapat

    menerima teknologi, sedangkan sebagian menolaknya (Al-Khatib, 2013).

    Penelitian lain berusaha mengukur efektifitas penggunaan sistem informasi.

    Dua model SI yang paling banyak digunakan dalam penelitian SI adalah Model

    Keberterimaan (TAM) dan Model Kesuksesan SI.

    Model keberterimaan teknologi, berfokus pada penggunaan sistem informasi.

    Davis et al. (1989) berpendapat bahwa penggunaan sistem informasi (behavior),

    merupakan dorongan dari dalam diri (belief dan attitude) setelah melakukan

    interaksi dengan sistem informasi. Davis et al. (1989) selanjutnya mengajukan

    Technology Acceptance Model (TAM), dengan dasar dari Theory of Reasoned

    Action (TRA). TAM meyakini pengaruh eksternal akan mempengaruhi persepsi

    penggunaan teknologi, baik kebermanfaatannya maupun kemudahaan

    penggunaannya dan akan mengarahkan pada attitude toward system dan

    intention to use, dan mendorong penggunaan aktual.

    Domain penelitian lainnya yang juga banyak dilakukan terkait sistem informasi

    adalah keberhasilan sistem informasi. DeLone dan McLean (1992) mengajukan

    IS success model yang diperoleh dari hasil sintesis berbagai literatur sistem

    informasi untuk menentukan faktor-faktor yang menentukan keberhasilan

  • 7

    penggunaan sistem informasi, yang diukur dengan pengaruh sistem informasi

    terhadap kinerja pengguna dan organisasi (DeLone dan McLean, 1992).

    Menggunakan theory of communication Shanon dan Weaver dan disempurnakan

    menggunakan teori dari Mason, DeLone dan McLean membangun rangkaian

    kejadian dalam penggunaan sebuah sistem (Maier, 2007:426). Variabel yang

    berguna dalam mengukur keberhasilan sistem informasi adalah kualitas sistem

    (technical level), kualitas informasi (semantic level), penggunaan/use dan

    kepuasan pengguna (influence level), serta dampaknya dalam level individu

    maupun organisasi (De Lone dan Mc Lean, 1992).

    Dalam menciptakan sebuah sistem yang baik, tahapan evaluasi harus dapat

    memberikan gambaran nyata dan menyeluruh, bagaimana pandangan pengguna

    terhadap sistem tersebut, baik dari sisi teknis maupun keberterimaan sistem. Hal

    ini akan membantu perbaikan desain sistem yang baik dan meningkatkan

    optimalisasi dan utilisasi sistem tersebut. Oleh sebab itu, berbagai penelitian

    perlu dilakukan yang tidak hanya mengukur keberterimaan sistem oleh

    pengguna, tetapi juga dapat menunjukkan efektifitas dan kesuksesan sebuah

    sistem informasi.

    Penelitian ini akan mengukur keberhasilan sistem informasi dengan

    melakukan pengukuran terhadap kepuasan pengguna. Penggabungan model

    TAM dengan DeLone dan McLean untuk mengetahui determinan kepuasan

    pengguna termasuk yang jarang ditemukan. Penggabungan model tidak hanya

    bertujuan menemukan model yang dapat memberikan gambaran penerimaan

    pengguna, juga memberikan masukan bagi pengembangan model (Al-Khatib,

    2013). Model kesuksesan informasi dinilai memiliki keunggulan dalam perbaikan

    sistem informasi tetapi dinilai lemah dalam memprediksi penggunaan sistem

    informasi. Model kegunaan lebih mampu dalam memprediksi penggunaan

  • 8

    sistem informasi, tetapi lemah dalam memberikan masukan perbaikan sistem

    (Wixom dan Todd, 2005).

    Banyak peneliti berusaha mengabungkan kedua model tersebut. Namun,

    kebanyakan penggabungan bersifat parsial, dengan hanya mengambil sisi

    kualitas sistem, kualitas informasi atau keduanya, persepsi serta minat (Seddon

    dan Kiew, 1996; Dishaw dan Strong, 1999; Venkatesh dan Davis, 2000; Yusof et

    al., 2008; Venkatesh dan Balla, 2008). Penelitian ini berusaha menggabungkan

    variabel kualitas sistem, kualitas informasi, penggunaan dan kepuasan pengguna

    dengan variabel TAM yaitu perceived usefulness, perceived ease of use, attitude

    dan intention. Selain menggabungkan model, penelitian ini juga memberikan

    suatu hal baru dengan menambahkan CSE dan pengaruh sosial ke dalam model

    yang terbentuk. Penambahan dua variabel ke dalam model gabungan

    merupakan hal baru, sebagai upaya memberikan gambaran lebih tepat

    bagaimana kepuasan pengguna SPAN dan SAKTI.

    Merujuk pada Model Keberhasilan SI Delone dan McLean, terdapat dua

    antesenden utama yang digunakan mengukur kepuasan pengguna, yaitu kualitas

    informasi yang merupakan karakteristik diharapkan atas keluaran sistem serta

    kualitas sistem, sebagai karakteristik yang diharapkan dari sistem informasi itu

    sendiri. Kualitas sistem ini berkaitan erat dengan persepsi kemudahan

    penggunaan sistem informasi sebagaimana penelitian Haryani et. al. (2014),

    dimana persepsi kemudahan penggunaan merupakan anggapan pengguna

    bahwa dalam menggunakan sistem informasi tidaklah dibutuhkan usaha yang

    besar (Davis et al., 1989).

    Persepsi kegunaan merupakan variabel yang sering digunakan dalam

    mengukur keberterimaan sistem informasi. Persepsi kegunaan adalah

    bagaimana pengguna beranggapan bahwa menggunakan sistem informasi akan

  • 9

    membantu dirinya dalam menyelesaikan tugas (Davis et al., 1989). Persepsi

    kegunaan dipengaruhi oleh persepsi kemudahan penggunaan sebagaimana

    hasil penelitian Chen et al. (2012); Persepsi kegunaan juga dipengaruhi oleh

    kualitas informasi sebagaimana penelitian Haryani et. al. (2014); Seddon dan

    Kiew (1996); Seddon (1997); Rai et al. (2002); Wu, 2013; Hassn et al., 2016;

    Malik et al., 2016.

    Sikap/attitude merupakan kondisi dalam diri seseorang terhadap suatu hal.

    Sikap merupakan hasil dari proses keyakinan seseorang terhadap suatu hal dan

    dikonfirmasi melalui hasil evaluasi (Davis, 1985). Sikap menjadi salah satu

    variabel penentu keberterimaan SI (Davis et al., 1989). Sikap dipengaruhi oleh

    persepsi kegunaan dan kemudahan penggunaan, dan sikap mempengaruhi

    minat dalam menggunakan sistem informasi. Pengaruh persepsi kemudahan

    penggunaan terhadap sikap ditemukan dalam penelitian Davis et al. (1989);

    Agarwal dan Prasad (1999); Koh et al. (2010); Chen et al. (2012); Wahyudi

    (2011); Xu et al. (2013); Haryani et al. (2014); Rahadian et al. (2015); Hassn et

    al. (2016). Pengaruh persepsi kegunaan terhadap sikap ditunjukkan dalam hasil

    penelitian Davis et al. (1989); Agarwal dan Prasad (1999); Koh et al. (2010);

    Wahyudi (2011); Chen et al. (2012); Xu et al. (2013); Wu (2013); Rahadian et al.

    (2015); Hassn (2016). Selain menunjukkan pengaruh yang signifikan, ternyata

    penelitian Haryani et al. (2014) tidak dapat menunjukkan pengaruh signifikan

    persepsi kegunaan terhadap sikap.

    Sikap mempengaruhi bagaimana seseorang bertindak, melalui minat yang

    muncul dalam diri (Davis et al., 1989). Oleh sebab itu, sikap berhubungan erat

    dengan minat. Pengaruh signifikansi sikap terhadap minat/intention to use,

    ditunjukkan dari hasil penelitian Davis et al. (1989); Wixom dan Todd (2005);

  • 10

    Chen et al. (2012). Namun, hasil berbeda ditemukan dalam penelitian Brown et

    al. (2002) dan Wahyudi (2011).

    Salah satu faktor yang sering digunakan dalam penentuan sikap persepsi

    kemudahan penggunaan adalah kemampuan penggunaan komputer (computer

    self efficacy). Kemampuan penggunaan komputer erat kaitannya dengan teknis

    sistem. Oleh sebab itu, kemampuan penggunaan komputer berpengaruh

    terhadap kemudahan penggunaan sistem, hubungan ini menunjukkan pengaruh

    yang signifikan (Venkatesh dan Davis, 2000; Ong dan Lai, 2006).

    Ajzen (1991) menyatakan faktor penentu yang mendorong seseorang

    melakukan sebuah tindakan nyata (behavior) adalah minat dalam diri seseorang.

    Minat ini sebagai hasil dorongan sikap/attitude dan pengaruh sosial/social

    influence individu tersebut. Pengaruh sosial merupakan salah satu pendorong

    minat penggunaan sistem informasi (Venkatesh dan Davis, 2000; Venkatesh et

    al., 2003; Venkatesh dan Balla, 2008; Brown et al., 2002; Handayani, 2005;

    Wahyudi, 2011). Peran pengaruh sosial di keputusan penerimaan teknologi

    merupakan hal yang kompleks dan banyak dipengaruhi oleh pengaruh-pengaruh

    kontigensi. Pengaruh sosial mempunyai dampak pada perilaku individual melalui

    tiga mekanisme: ketaatan (compliance), internalisasi (internalization), dan

    identifikasi (identification) (Venkatesh dan Davis, 2000).

    Pada SI yang digunakan dalam lingkungan mandatory, pengguna diwajibkan

    menggunakan SI dalam menyelesaikan tugasnya, dan tidak terdapat pilihan SI

    lainnya. Pengguna dibutuhkan untuk menggunakan teknologi atau sistem

    khusus dengan tujuan menjaga atau melaksanakan tugas (Brown et al., 2002).

    Penggunaan sistem informasi ditujukan membantu pengguna dalam

    menyelesaikan pekerjaan. Job performance menjadi alasan penggunaan

    sebuah sistem. Model TAM menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan

  • 11

    antara minat pemanfaatan intention to use dengan penggunaan sistem informasi,

    hasil ini didukung penelitian Taylor dan Todd (1995); Venkatesh dan Davis

    (2000); Venkatesh et al. (2003). Namun, hasil berbeda ditemukan dalam

    penelitian Handayani (2005).

    Hubungan antara penggunaan dan kepuasan pengguna adalah saling

    mempengaruhi menurut DeLone dan McLean (1992). Namun, banyak peneliti

    menggunakan penggunaan sebagai determinan dari kepuasan pengguna dan

    tidak sebaliknya. Penelitian empiris membuktikan bahwa penggunaan

    berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan pengguna (Fazizah et al.,

    2016; Chiu et al., 2007; Halawi et al., 2007; Livari, 2005).

    Kepuasan sebagai ukuran penentu keberhasilan sistem informasi, banyak

    diukur berdasarkan hubungan langsung maupun tidak langsung dengan berbagai

    variabel selain penggunaan sebagaimana digunakan dalam penelitian ini.

    Kualitas informasi berpengaruh langsung terhadap kepuasan ditemui dalam

    penelitian Seddon dan Kiew (1996). Penelitian lain menggunakan hubungan

    tidak langsung antara kepuasan pengguna dan kualitas informasi (Chiu et al.,

    2007; Halawi et al., 2007; Livari, 2005; Wu dan Wang, 2006; McGill et al., 2003;

    Rai et al., 2002). Hasil berbeda dari pengaruh kualitas informasi terhadap

    kepuasan pengguna ditemukan dalam penelitian Marble (2003). Untuk mengukur

    kepuasan pengguna beberapa peneliti juga menggunakan kualitas sistem,

    sebagaimana penelitian Chiu et al. (2007); Halawi et al. (2007); Livari (2005);

    McGill et al. (2003); Rai et al. (2002). Kualitas layanan juga menjadi variabel

    yang digunakan dalam menentukan kepuasan pengguna, sebagaimana

    didukung oleh penelitian Agarwal dan Prasad (1999); Gefen dan Keil (1998).

    Namun, hubungan antara kualitas layanan dan kepuasan pengguna tidak

    berhasil didukung oleh penelitian Yoon dan Guimaraes (1995).

  • 12

    Berbagai penelitian di atas memunculkan hasil yang beragam. Pengaruh

    positif dan signifikan pada hubungan antar variabel banyak ditemui pada

    penelitian-penelitian terdahulu. Di lain pihak hasil yang menunjukkan tidak

    adanya pengaruh yang signifikan juga banyak ditemukan pada penelitian yang

    menggunakan hubungan variabel yang sama tersebut, bahkan hasil yang

    menunjukkan pengaruh yang berlawanan juga ditemui pada beberapa penelitian.

    Penelitian ini berusaha mempersempit munculnya berbagai celah penelitian

    tersebut, baik akibat perbedaan hasil yang ditemukan, maupun penggunaan

    determinan yang berbeda-beda untuk menentukan kepuasan pengguna. Hal

    baru yang dapat ditemui dalam penelitian ini yaitu: (1) penggunaan obyek

    penelitian yaitu IFMIS sebagai sistem informasi terintegrasi di Indonesia. (2)

    penambahan variabel pengaruh sosial dan CSE ke dalam model gabungan TAM

    dan DeLone dan McLean Information Success Model, sebagai variabel dalam

    menentukan kepuasan pengguna, didasarkan penyesuaian dengan lingkungan

    dan kondisi organisasi DJPB.

    1.2 Motivasi Penelitian

    Terdapat beberapa hal yang menjadikan motivasi peneliti menyajikan tema

    penelitian kepuasan pengguna IFMIS di lingkup DJPBN, diantaranya:

    1) Pentingnya pengukuran keberhasilan IFMIS, sehingga dapat memberikan

    gambaran penerimaan pengguna dan memberikan masukan untuk

    perbaikan sistem informasi;

    2) Berbagai masalah yang masih sering terjadi dalam penggunaan aplikasi

    SPAN dan SAKTI, sehingga memberikan gambaran baik dari sisi pengguna

    maupun kualitas sistem informasi;

    3) Beragam hasil penelitian yang diperoleh, baik dalam tingkat signifikansi, arah

    hubungan antar variabel, maupun variabel lain yang digunakan,

  • 13

    menunjukkan masih adanya celah penelitian yang muncul. Penelitian ini,

    yang menggunakan penggabungan model keberterimaan dan kesuksesan

    sistem informasi, berusaha mengurangi celah penelitian tersebut.

    4) Konteks penelitian di sektor publik yang masih jarang jika dibandingkan

    dengan sektor swasta, serta model aplikasi yang terintegrasi dalam

    pengelolaan keuangan negara yang masih sedikit dilakukan penelitian.

    1.3 Rumusan Masalah

    Era teknologi digital menuntut dilakukan berbagai perbaikan dalam berbagai

    bidang. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi memberikan pengaruh

    terhadap terjadinya perubahan dan perbaikan dalam sistem administrasi

    pemerintahan. Penggunaan teknologi tidak dapat lagi dikesampingkan.

    Digitalisasi pengelolaan pada sektor publik tidak lagi hanya didasarkan

    pencapaian efektifitas dan efisiensi, serta pengurangan biaya tetapi telah

    beranjak menjadi sebuah tuntutan dari masyarakat penerima layanan (Eggers

    dan Bellan, 2015). Hal ini didasarkan pada tuntutan yang semakin tinggi

    terhadap pemberian layanan/service delivery dari instansi publik.

    Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi menjadi pilihan yang

    tidak dapat dihindari. Penggunaan teknologi yang lebih canggih dan terintegrasi

    dapat menjadi solusi atas tuntutan masyarakat tersebut. Selain itu, pencapaian

    efektifitas dan efisiensi dalam penyelesaian pekerjaan menjadi keunggulan

    penggunaan teknologi informasi. Pada sektor publik, dimana penggunaan

    sistem informasi adalah hal wajib, pengembangan sebuah sistem informasi harus

    memperhatikan dan mempertimbangkan bagaimana sistem informasi tersebut

    dapat diterima serta dapat mendukung pekerjaan penggunanya (Koh et al.,

    2010). Kepuasan pengguna atas sistem informasi yang digunakan dapat

    menunjukkan aplikasi tersebut diterima dan sebagai salah satu ukuran

  • 14

    keberhasilan implementasi sistem informasi tersebut. Berdasarkan hal di atas,

    rumusan masalah yang akan diajukan dalam penelitian ini adalah:

    1. Apakah kualitas informasi pengaruh positif terhadap persepsi kegunaan?

    2. Apakah kualitas sistem berpengaruh positif terhadap persepsi kemudahan

    penggunaan?

    3. Apakah computer self efficacy berpengaruh positif terhadap persepsi

    kemudahan penggunaan?

    4. Apakah persepsi kemudahan penggunaan berpengaruh positif terhadap

    persepsi kegunaan?

    5. Apakah persepsi kegunaan berpengaruh positif terhadap sikap/attitude

    pengguna?

    6. Apakah persepsi kemudahan penggunaan berpengaruh positif terhadap

    sikap/attitude pengguna?

    7. Apakah sikap/attitude pengguna berpengaruh positif terhadap minat/intention

    to use pengguna?

    8. Apakah pengaruh sosial berpengaruh positif terhadap minat/intention to use

    pengguna?

    9. Apakah minat/intention to use berpengaruh positif terhadap penggunaan

    aktual?

    10. Apakah penggunaan aktual berpengaruh positif terhadap kepuasan

    pengguna?

    1.4 Tujuan Penelitian

    Berdasarkan rumusan masalah tersebut, tujuan penelitian adalah sebagai

    berikut:

    1. Menguji pengaruh kualitas informasi terhadap persepsi kegunaan;

  • 15

    2. Menguji pengaruh kualitas sistem terhadap persepsi kemudahan

    penggunaan;

    3. Menguji pengaruh computer self efficacy terhadap persepsi kemudahan

    penggunaan;

    4. Menguji pengaruh persepsi kemudahan penggunaan terhadap persepsi

    kegunaan;

    5. Menguji pengaruh persepsi kegunaan terhadap sikap/attitude pengguna;

    6. Menguji pengaruh persepsi kemudahan penggunaan terhadap sikap/attitude

    pengguna;

    7. Menguji pengaruh sikap/attitude pengguna terhadap minat/intention to use

    penggunaan SI;

    8. Menguji pengaruh pengaruh sosial terhadap minat/intention to use

    penggunaan SI;

    9. Menguji pengaruh minat/intention to use terhadap penggunaan aktual SI;

    10. Menguji pengaruh penggunaan aktual terhadap kepuasan pengguna.

    1.5 Manfaat Penelitian

    Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

    1. Manfaat Teoritis

    Penelitian ini dapat memberikan kontribusi pada pengembangan teori baik

    terkait penerimaan sistem informasi yang didasarkan pada Theory of

    Reasoned Action (TRA) maupun teori yang digunakan dalam

    pengembangan model keberhasilan sistem informasi. Selain itu penelitian

    ini dapat memberikan kontribusi terkait faktor-faktor yang mempengaruhi

    keberterimaan dan kesuksesan penerapan SI terintegrasi dalam

    lingkungan wajib/mandatory. Penelitian SI pada sektor publik yang masih

    sedikit dibandingkan penelitian SI pada sektor privat dandengan

  • 16

    karakteristik penggunaan mandatory yang dimiliki dalam penelitian ini,

    sehingga dapat dijadikan referensi dan perbandingan untuk penelitian

    selanjutnya.

    2. Manfaat Praktis

    Hasil yang diperoleh dari penelitian ini membantu pengembang sistem

    informasi untuk memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi

    keberterimaan dan keberhasilan sistem informasi, sehingga dapat menjadi

    masukan dalam meningkatkan performance sistem informasi. Selain itu,

    hasil yang didapat juga memberikan kontribusi bagi pimpinan organisasi

    mengenai perilaku penggunaan sistem informasi (SPAN dan SAKTI) di

    lingkup DJPB.

    3. Manfaat Kebijakan

    Dalam penentuan kebijakan, penelitian ini dapat digunakan sebagai bentuk

    evaluasi implementasi IFMIS dan secara khusus SAKTI dan SPAN, baik

    dari proses bisnis maupun pengembangan teknologi informasi. Di samping

    itu, hasil penelitian ini juga dapat digunakan dalam membantu

    menyempurnakan proses penetapan kebijakan perencanaan dan

    penyusunan anggaran, pelaksanaan serta pertanggungjawaban dan

    pelaporan keuangan menjadi lebih baik.

  • 17

    BAB II

    TINJAUAN PUSTAKA

    2.1 Sistem Informasi

    Penggunaan sistem informasi dari tahun ketahun semakin krusial dan penting,

    terutama dalam menunjang pencapaian hasil sebuah kegiatan. Secara umum

    sistem dapat diartikan sebagai rangkaian cara yang tersusun secara sistematis.

    Di sisi lain, informasi terkait sistem dapat diartikan sebagai data, dapat berupa

    input ataupun output, yang berguna dan dapat diolah. Informasi dapat dijadikan

    dasar dalam pengambilan keputusan (Bodnar dan Hopwood, 2000:1). Sebuah

    informasi akan bernilai tinggi apabila informasi tersebut mampu memberikan

    kepastian yang tinggi, dalam arti kata lain mengandung ketidakpastian paling

    rendah.

    Menurut Firmawan (2009), sistem informasi (SI) adalah sebuah rangkaian

    prosedur formal mengenai pengumpulan data yang kemudian diproses menjadi

    informasi dan didistribusikan kepada para pemakai. Terdapat tiga bagian dalam

    sistem informasi, yaitu input, processing dan output. Input merupakan

    sekumpulan data mentah dari dalam organisasi maupun dari luar organisasi

    untuk diproses dalam suatu SI. Processing adalah pemindahan manipulasi dan

    analisis input mentah menjadi bentuk yang lebih berarti bagi manusia. Output

    adalah distribusi informasi yang sudah diproses dalam sistem informasi (Husein

    dan Wibowo, 2002).

    Menurut Loudon (1996) dalam Husein dan Wibowo (2000:89) dari sudut

    pandang bisnis, SI berbasis komputer adalah pemecahan masalah manajemen

  • 18

    18

    dan organisasi berlandaskan pada teknologi informasi untuk menghadapi

    tantangan dari lingkungan. Lebih lanjut, Goodhue dan Thompson (1995)

    mendefinisikan teknologi sebagai sarana yang dipakai seseorang dalam

    membantu menyelesaikan tugas. Teknologi Informasi merupakan suatu

    teknologi yang menitikberatkan pada penggunaan komputer dan teknologi yang

    berhubungan dengan pengaturan sumber informasi. Teknologi informasi

    berhubungan dengan pengolahan data menjadi informasi dan proses penyaluran

    data informasi tersebut dalam batas-batas ruang dan waktu. Implementasi

    teknologi sistem informasi berkaitan dengan aspek perilaku karena

    pengembangannya berhubungan dengan masalah individu dan organisasi. Oleh

    sebab itu, kebutuhan dan kepuasan pengguna harus dijadikan fokus dalam

    pengembangannya.

    Sistem informasi berkaitan erat dengan teknologi informasi sebagai sarana

    dasar yang digunakan. Menurut Haag dan Keen (1996) teknologi informasi

    merupakan seperangkat alat yang akan membantu dalam pekerjaan dengan

    informasi dan melakukan tugas-tugas yang berhubungan dengan suatu

    pemrosesan informasi. Indrajit (2000:2) berpendapat TI adalah teknologi yang

    berhubungan dengan pengolahan data menjadi informasi dan proses penyaluran

    data informasi tersebut dalam batasbatas ruang dan waktu. TI memiliki fungsi

    yang sangat komplek yang dapat digunakan individu dalam menyelesaikan

    tugasnya. Teknologi informasi terdiri dua komponen utama yang digunakan yaitu

    teknologi komputer dan teknologi komunikasi. Teknologi komputer adalah

    teknologi yang berhubungan dengan komputer. Teknologi komunikasi adalah

    teknologi yang berhubungan dengan komunikasi jarak jauh. Oleh sebab itu,

    teknologi informasi merupakan teknologi yang memanfaatkan teknologi komputer

  • 19

    dan teknologi komunikasi di mana keduanya saling berhubungan untuk

    mengolah data, menyimpan, mengubah data dan mengirim data.

    2.2 Teori Kepuasan

    Kepuasan merupakan salah satu tipe emosi, dapat berupa kebahagiaan,

    kesenangan dan kenikmatan yang akan menimbulkan dua bentuk yaitu

    kepuasan dan ketidakpuasan terhadap suatu hal (Oliver dan DeSarbo, 1988).

    Kepuasan dapat berupa agregat feeling terhadap sebuah aspek terpenting dari

    sebuah pengalaman (Westbrook et al., 1978). Merujuk pada need-satisfaction

    model dari Maslow (1943) dalam Isac dan Rusu (2014) dapat diketahui

    bagaimana peran penting kepuasan dalam membentuk motivasi serta

    pencapaian dalam diri seseorang.

    Meskipun memiliki peran penting pada diri seseorang, namun sulit

    menemukan definisi baku kepuasan. Oleh sebab itu, pengukuran kepuasan

    merupakan hal yang sulit dilakukan (Vaezy, 2013). Sebagai usaha mengatasi

    hal tersebut, banyak peneliti sepakat menggunakan ukuran kognitif, afektif atau

    keduanya. Hal ini didasarkan pada sifat kepuasan itu sendiri.

    Beberapa penelitian berkembang terkait kepuasan dan yang paling banyak

    dilakukan adalah penelitian terkait kepuasan pelanggan. Definisi kepuasan

    pelanggan berfokus baik pada proses kepuasan maupun hasil dari proses

    mencapai kepuasan. Kepuasan sebagai proses dapat didefinisikan sebagai

    respon evaluatif pelanggan terhadap perbedaan persepsi antara ekspektasi

    dengan persepsi actual performance dari produk setelah dikonsumsi (Tse dan

    Wilton, 1988:204). Definisi pada process-oriented berpendapat bahwa proses

    evaluasi merupakan faktor kritis dalam pembentukan kepuasan. Di lain pihak,

    beberapa peneliti beranggapan bahwa kepuasan merupakan hasil dari proses

    pengalaman mengkonsumsi suatu hal. Kepuasan merupakan jumlah dari

  • 20

    keadaan psikologis yang dihasilkan ketika keadaan emosional terkait

    diskonfirmasi ekspektasi dipasangkan dengan perasaan konsumen sebelumnya

    terkait pengalaman mengkonsumsi suatu hal (Oliver, 1981:72 dalam Vaezy,

    2013). Dua hal utama tersebut memunculkan banyak penelitian terkait

    bagaimana kepuasan muncul, penyebab kepuasan dan bagaimana pengukuran

    kepuasan dapat dilakukan. Hasil penelitian memunculkan banyak teori terkait

    kepuasan yang terus berkembang. Beberapa teori terkait kepuasan antara lain:

    1. Contrast Theory

    Teori ini pertama kali diperkenalkan oleh Hovland, Harvey dan Sherif,

    menyajikan pendekatan alternatif untuk mengevaluasi proses post-usage yang

    disampaikan pada Assimilation Theory (Isac dan Rusu, 2014). Menurut Cardozo

    (1965) dalam Vaezy (2013), Contrast Theory erat kaitannya dalam mengukur

    kepuasan pelanggan, sebagai hasil interaksi dengan produk yang diberikan.

    Evaluasi setelah penggunaan mengarahkan pada hasil prediksi berlawanan

    untuk efek dari ekspektasi kepuasan (Cardozo, 1965 dalam Isac dan Rusu,

    2014). Sedangkan Dawes., et al (1972) dalam Isac dan Rusu (2014)

    mendefinisikan Contrast Theory sebagai tendensi untuk memperbesar

    discrepancy antara sikap yang dimiliki seseorang dengan sikap yang

    direpresentasikan oleh opini.

    Teori ini menyatakan bahwa kepuasan pelanggan merupakan fungsi dari

    kinerja produk, dimana kepuasan muncul dari hasil evaluasi perbandingan antara

    kinerja aktual dan ekpektasi yang diharapkan. Teori ini memunculkan

    diskonfirmasi (perbedaan antara ekspektasi dan kinerja) untuk menentukan

    kepuasan pelanggan dapat berupa positif atau negatif diskonfirmasi. Positif

    diskonfirmasi terjadi apabila kinerja melebihi ekspektasi dan negatif diskonfirmasi

    muncul ketika ekspektasi melebihi kinerja produk. Pendekatan ini menyatakan

  • 21

    meskipun pelanggan mengalami diskonfirmasi mereka akan berusaha

    meminimalkan discrepancy antara ekspektasi dengan performa aktual produk,

    dengan menggeser evaluasinya dari ekspektasi awal. Berdasarkan Contrast

    Theory setiap pengalaman discrepancy dari ekspektasi akan dilebihkan pada

    arah discrepancy tersebut.

    Dalam penelitiannya, Cardozo (1965) dalam Vaezy (2013) menguji harapan

    terhadap kualitas ballpoint yang digunakan dengan memberikan katalog atas

    berbagai ballpoint yang berbeda. Kemudian pengguna diberikan ballpoint untuk

    digunakan secara langsung. Selanjutnya dilakukan pengujian evaluasi produk,

    untuk mengetahui bahwa ekspektasi lebih tinggi daripada kualitas objektif.

    Dengan kata lain, ketika muncul harapan negatif, kualitas pena dianggap lebih

    rendah daripada ketika harapan tersebut dikonfirmasi.

    2. Comparison Level Theory

    Kepuasan dalam Comparison Level Theory didasarkan pada penilaian

    perbandingan antara outcome yang diperoleh dengan standard level yang

    dimiliki. Comparison Level Theory merupakan pendekatan yang berusaha

    memperbaiki pendekatan yang hanya mendasarkan kepada perbandingan

    antara ekspektasi terhadap suatu produk dengan performa aktual yang

    dihasilkan produk tersebut. Teori ini mendasarkan bahwa dalam menentukan

    kepuasan seseorang dapat disebabkan standar level tertentu, sehingga

    munculnya diskonfirmasi disebabkan adanya perbedaan antara keadaan aktual

    dengan standar level yang telah ditetapkan sebelumnya. Menurut Thibaut dan

    Kelley (1959) dalam Vaezy (2013), kepuasan konsumen terhadap pembelian

    akan ditentukan berdasarkan perbedaan antara hasil aktual dan tingkat

    perbandingan standar yang ditetapkan. Hasil perbandingan dapat berupa positif,

    sama dan negatif. Perbandingan yang melebihi tingkat standar menghasilkan

  • 22

    perbedaan positif dan memberikan kepuasan. Hasil perbandingan yang sama

    dengan standar level yang ditetapkan menyatakan kesamaan diskonfirmasi.

    Sementara itu, hasil perbandingan yang berada di bawah standar tingkat akan

    menghasilkan perbedaan negatif dan pada gilirannya menghasilkan

    ketidakpuasan.

    LeTour dan Peat (1979) berpendapat bahwa kepuasan adalah fungsi dari

    seberapa baik performa produk atas seperangkat atribut dan pada setiap atribut

    pelanggan akan membandingkannya dengan comparison level. Terdapat tiga

    hal yang dijadikan standar penilaian tingkat perbandingan terhadap suatu produk

    yaitu: (1) pengalaman masa lalu dengan tingkatan atribut berbeda untuk produk

    yang mirip yang digunakan untuk tujuan yang mirip; (2) ekspektasi situasional

    produk, berupa informasi yang disediakan penyedia (seperti hasil iklan, promosi)

    atau atribut level yang diharapkan berdasar karakteristik unik pada situasi

    khusus; (3) level atribut dari pengalaman konsumen lain atas produk tersebut

    yang dijadikan referensi. Berdasarkan penelitian yang mereka lakukan,

    ditemukan bahwa kondisi situasiona ternyata hanya sedikit berpengaruh kepada

    kepuasan pelanggan jika dibandingkan dengan pengalaman dengan produk

    yang mirip. Contoh yang sering dipakai adalah kepuasan pemilik kendaraan

    dengan atribut yang digunakan adalah tingkat konsumsi bahan bakar kendaraan

    baru, akan sangat ditentukan oleh pengalaman atas konsumsi bahan bakar mobil

    yang pernah dimilikinya, informasi konsumsi bahan bakar dari teman yang

    pernah menggunakan mobil sejenis, maupun pernyataan konsumsi bahan bakar

    oleh perusahaan pembuat.

  • 23

    2.3 Theory of Reasoned Action (TRA) dan Theory of Planned Behavior (TPB)

    The Theory of Reasoned Action (TRA) menjelaskan bagaimana tindakan

    seseorang terbentuk dan merupakan salah satu teori perilaku. Teori ini

    menggabarkan tindakan seseorang didorong oleh terbentuknya minat. Dorongan

    ini muncul sebagai hasil reaksi antara sikap positif dengan norma subyektif yang

    dimiliki. Keseluruhan proses dalam diri ini bermula dengan adanya variabel

    eksternal yang menimbulkan reaksi dalam bentuk munculnya persepsi/belief.

    TRA percaya bahwa terdapat beragam belief yang disesuaikan dengan kondisi

    yang dihadapi. Reaksi atas belief ini akan dikonfirmasi melalui evaluasi oleh

    pengguna, kedua fungsi inilah yang membentuk seseorang akan bersikap, baik

    positif maupun negatif Fishbein dan Azjen, 1975 dalam Davis, 1985). Terkait

    pemanfaatan atau menggunakan sistem informasi, seseorang akan

    mewujudkannya ketika mereka menilai bahwa sistem informasi tersebut

    bermanfaat baginya (Davis, 1989).

    Fokus dari theory of Planned Behavior (TPB) terletak pada intensi seseorang

    untuk melakukan perilaku tertentu. TPB menambahkan kontrol perilaku.

    Perilaku seseorang akan berhubungan kuat dengan keyakinan tentang

    konsekuensi yang akan terjadi atau lainnya (keyakinan perilaku), keyakinan

    tentang harapan normatif orang lain (keyakinan normatif), dan keyakinan tentang

    adanya faktor yang mendukung atau menghambat kinerja perilaku (keyakinan

    kontrol).

    Dalam keyakinan perilaku, seseorang menimbang apa keuntungan dan

    kerugian yang didapat jika dia melakukan perilaku tersebut. Keyakinan normatif

    menekankan pada penilaian atau harapan orang lain atas tindakan yang

    dilakukan. Keyakinan kontrol, perceived behavioral control, akan menyebabkan

    seseorang mengatur perilakunya, atas dasar persepsi tingkat kesulitan yang

  • 24

    dialami dalam berperilaku. Konsep ini didasarkan pada dua faktor penentu

    perceived behavioral control. Pertama adalah persepsi dalam menilai mudah

    atau sulitnya memunculkan tingkah laku. Kedua adalah refleksi yang muncul

    akibat pengalaman masa lalu. Ketiga adalah antisipasi atas hambatan yang

    kemungkinan muncul ketika melakukan sebuah tindakan. Ketiga keyakinan

    tersebut akan membentuk niat seseorang dalam berperilaku. Niat disertai kontrol

    tersebut akan mendorong seseorang untuk melaksanakan tindakan jika ada

    kesempatan (Ajzen, 2002).

    2.4 Model Penelitian Sistem Informasi

    2.4.1. Model Keberterimaan Teknologi

    Technology Acceptance Model (TAM) adalah suatu model untuk memprediksi

    dan menjelaskan bagaimana pengguna teknologi menerima dan menggunakan

    teknologi tersebut dalam pekerjaan individual pengguna. Karena kemudahan

    penerapannya dan kesederhanaan disamping kemampuannya dalam

    memprediksi perilaku pengguna sistem informasi, menjadikan TAM sebagai

    salah satu model yang paling banyak digunakan (Hartwick dan Barki, 1994;

    Venkantesh et al., 2003; Koh et al., 2010). Model ini menggunakan latar

    belakang TRA yang diperkenalkan Ajzen dan Fishbein, Davis mencoba

    menggunakan TRA dalam menjelaskan bagaimana teknologi digunakan dan hal

    faktor apa saja yang mempengaruhi.

    Dari berbagai belief yang mempengaruhi dan menjelaskan minat

    sebagaimana diajukan TRA. Davis et al., (1989) melalui TAM, percaya bahwa

    hanya terdapat dua salient belief dalam pemanfaatan dan penggunaan sistem

    informasi, yaitu variabel usefulness dan ease to use. Kemanfaatan (usefulness)

    terkait dengan tingkat keyakinan pengguna terhadap peningkatan kinerja yang

    akan didapatkan apabila menggunakan sistem informasi. Kemudahan

  • 25

    Penggunaan (ease to use) sebagai bentuk keyakinan/belief terhadap

    kemudahan dan tidak adanya hambatan/kesulitan ketika mengoperasikan sistem

    informasi. Davis et al. (1989) meyakini aspek keperilakuan pengguna mampu

    dijelaskan melalui pengujian kedua variabel tersebut.

    Kedua variabel tersebut di atas memiliki determinan yang tinggi dan validitas

    yang sudah teruji secara empiris. Penelitian Davis et al. (1989) yang dilakukan

    terhadap 200 responden menunjukkan bahwa persepsi kegunaan dan persepsi

    kemudahan penggunaan berpengaruh tidak langsung terhadap penggunaan

    melalui attitude dan intention. Hasil lain yang diperoleh juga menunjukkan

    bahwa prsepsi kegunaan lebih kuat dalam memprediksi penggunaan

    dibandingkan persepsi kemudahan penggunaan. Penelitian ini juga menguji

    alternatif hubungan persepsi kegunaan dan persepsi kemudahan penggunaan

    terhadap intention tanpa melalui attitude, dan menunjukkan kedua variabel

    independen tersebut tetap berpengaruh terhadap penggunaan.

    2.4.2. Model Kepuasan Pengguna/Model Kesuksesan Teknologi

    Perkembangan penelitian dalam bidang sistem informasi sangat beragam.

    Namun, penelitian yang paling banyak dilakukan adalah terkait keberterimaan

    sistem informasi (IS user acceptance model) dan kepuasan penggunaan sistem

    informasi (IS user satisfaction model) (Brown et al., 2002; Wixon dan Todd, 2005;

    Koh et al., 2010). Dalam perkembangannya model DeLone dan McLean adalah

    yang banyak diaplikasikan (Maier, 2007:443). Model ini didasari pada

    banyaknya penelitian yang berusaha mengukur manfaat atau keberhasilan

    penggunaan sistem informasi. Model pertama diajukan pada tahun 1992, atas

    hasil literatur review dari ratusan penelitian terkait SI.

    Keberhasilan SI tidak dapat diukur secara langsung tetapi harus diukur

    menggunakan beberapa ukuran yang relevan. Banyak peneliti menggunakan

  • 26

    beragam pendekatan baik variabel, indikator dan ukuran dalam mengukur

    keberhasilan SI, seperti (Maier, 2007:403) seperti user (information) satisfaction,

    atau user acceptance; user engagement,user participation atau user

    involvement; (perceived) information quality atau system quality. Dengan

    banyaknya variabel, indikator dan ukuran DeLone dan McLean merasa perlu

    ditetapkan dengan baik variabel dependen untuk mengukur keberhasilan

    penerapan SI (DeLone dan McLean, 1992).

    Latar belakang teori yang digunakan dalam mengembangkan model DeLone

    dan McLean adalah teori komunikasi Shanon dan Weaver (1949) serta konsep

    dari Mason (1978) (DeLone dan McLean, 1992). Menurut Shanon dan Weaver

    (1949) dalam DeLone dan McLean (1992), informasi sebagai hasil dari SI dapat

    diukur dalam tiga tingkatan yaitu: technical level, semantic level dan

    effectiveness level. Selanjutnya Mason menamakan ulang effectiveness menjadi

    influence.

    Dari konsep informasi Shanon dan Weaver dan Mason, DeLone dan McLean

    merumuskan model kesuksesan SI/kepuasan pengguna SI. Untuk mengukur

    impact peggunaan SI, terlebih dahulu pengguna harus memperoleh kepuasan

    terhadap SI yang dipakai. Kepuasan pengguna didasarkan pada penggunaan

    dengan variabel independen yang menentukan adalah kualitas sistem,

    merupakan karakteristik sistem yang digunakan, serta kualitas informasi, berupa

    karakteristik hasil/output sistem yang dihasilkan.

    2.5 Faktor-faktor Penentu Keberhasilan Implementasi Sistem Informasi Terintegrasi

    Keberhasilan implementasi sistem informasi terintegrasi (SPAN dan SAKTI),

    dapat ditentukan melalui bagaimana sistem tersebut dapat diterima dengan baik

    oleh pengguna. Di samping itu dapat diketahui pula bagaimana kualitas sistem

    informasi tersebut, guna mengetahui kekurangan dan kelebihan sistem informasi

  • 27

    dan mengetahui bagaimana sistem informasi yang diinginkan oleh pengguna.

    Untuk mencapai hal tersebut digunakan beberapa faktor dalam model TAM dan

    ISM D/M, yang diuraikan sebagai berikut.

    2.5.1. Kualitas Informasi

    Kualitas informasi diartikan sebagai persepsi pengguna terhadap kualitas

    informasi di dalam sebuah SI (Wixom dan Todd, 2005). Kualitas informasi

    merujuk pada hasil keluaran yang diharapkan pengguna dari sebuah sistem

    informasi (DeLone dan McLean, 1992; Seddon dan Kiew, 1996; Rai et al., 2002).

    Informasi merupakan sebuah obyek sebagai hasil keluaran/output SI. Informasi

    yang berkualitas harus memiliki karakteristik dimensi completeness, accuracy,

    format, dan currency yang menentukan persepsi kualitas informasi.

    Kualitas informasi menjadi salah satu ukuran pengguna menilai seberapa

    bagus sistem informasi dan sering digunakan sebagai determinan dalam

    menentukan keberhasilan sistem informasi (Seddon dan Kiew, 1996; Rai et al.,

    2002). Hasil penelitian Seddon dan Kiew menunjukkan bahwa kualitas informasi

    merupakan prediktor kuat dalam menentukan keberhasilan sistem informasi,

    dengan menggunakan kepuasan pengguna sebagai ukuran keberhasilan sistem

    informasi. Melanjutkan penelitian Seddon dan Kiew, Rai et al. (2002) melakukan

    penelitian untuk menguji pengaruh kualitas informasi dan kualitas sistem

    terhadap penggunaan dan kepuasan, hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa

    terdapat pengaruh kualitas informasi dan kualitas sistem terhadap penggunaan

    dan kepuasan dengan kualitas informasi memiliki pengaruh yang lebih besar.

    Beberapa penelitian selanjutnya yang menunjukkan kualitas informasi

    berpengaruh signifikan terhadap keberhasilan SI dilakukan oleh Wu (2013);

    Hassn et al.(2016); dan Malik et al. (2016).

  • 28

    2.5.2. Kualitas Sistem

    Sistem informasi merupakan rangkaian proses teknis untuk mengubah

    masukan menjadi keluaran. SI erat kaitannya dengan teknologi, yang

    merupakan alat/tools dalam membantu penyelesaian pekerjaan (Goodhue dan

    Thompson, 1995). Sebuah sistem harus dapat menyediakan informasi yang

    mencukupi bagi pengguna, sehingga dapat membantu dalam proses

    pengambilan keputusan (Elie-Dhit-Cosaque, 2009). Kualitas sistem merujuk

    pada seberapa baik sistem informasi itu sendiri (DeLone dan McLean, 1992;

    2003; Rai et al., 2002; Livari, 2005).

    Dalam model keberhasilan sistem informasi, kualitas sitem merupakan salah

    satu variabel independen yang digunakan dalam menentukan baik penggunaan

    maupun kepuasan pengguna. Pada tingkat individu, kualitas sistem

    berpengaruh kuat terhadap kepuasan pengguna (Livari, 2005; Rai et al., 2002;

    Sedon dan Kiew, 1996). Kualitas sistem juga mempengaruhi penggunaan

    terdapat pada penelitian Livari (2005); McGill et al. (2003); Rai et al. (2002) dan

    Igbaria et al. (1997). Kualitas sistem sangat erat kaitannya dengan bagaimana

    sistem tersebut digunakan/diutilisasi oleh pengguna. Penelitian Davis et al.

    (1989) menunjukkan kualitas sistem berpengaruh signifikan terhadap persepsi

    kemudahan penggunaan, dan didukung penelitian Lederer et al. (2000); Liao dan

    Cheung (2001); Wu (2013); Cheong dan Park (2005); Malik et al. (2016).

    2.5.3. Persepsi Kemudahan Penggunaan

    Pengguna akan berharap sebuah sistem mudah untuk digunakan, sehingga

    dapat membantu penyelesaian tugas serta menghemat waktu penyelesaian

    tugas. Davis (1989) mendefinisikan persepsi ini sebagai tingkat dimana

    seseorang percaya bahwa menggunakan sistem tidak memerlukan usaha yang

    besar. Penggunaan sistem ditujukan untuk peningkatan job performance, ketika

  • 29

    kesesuaian antara tugas dan teknologi yang dipakai tinggi, maka pengguna akan

    merasa mudah dalam menggunakan sebuah sistem (Goodhue dan Thompson,

    1995; Dishaw dan Strong, 1999), hal ini akan mendorong ekspektasi pada

    penggunaan sistem tersebut.

    Venkantesh et al. (2003) mendefinisikan ekspektasi usaha (effort expectancy)

    sebagai tingkat kemudahan terkait penggunaan sistem. Venkantesh et al. (2003)

    membentuk konstruk ekspektasi usaha dari tiga konstruk berbeda yang memiliki

    kedekatan makna, yaitu: (1). Perceive ease of use dari model TAM; (2).

    Complexity dari model MPCU; (3) Ease of use dalam model IDT (Venkantesh et

    al., 2003). Ekspektasi usaha erat kaitannya dengan bagaimana pengguna

    mengoperasikan sistem. Berbagai penelitian menunjukkan persepsi kemudahan

    penggunaan sebagai variabel penentu penggunaan sistem, disamping

    ekspektasi kinerja/kegunaan (Chau, 1996; Igbaria et al., 1997). Namun,

    seringkali persepsi kemudahan penggunaan digunakan sebagai variabel tidak

    langsung dalam mengukur penggunaan melalui kegunaan, attitude atau intention

    dan menunjukkan pengaruh positif dan hubungan yang signifikan (Davis et al.,

    1989; Taylor dan Todd, 1995; Dishaw dan Strong, 1999; Venkantesh dan Davis,

    2000; Venkantesh et al., 2003; Handayani, 2005; Koh et al., 2010). Penelitian

    Bajaj dan Nidomulu (1998) dan Hu et al. (1999) menunjukkan tidak adanya

    hubungan yang signifikan antara persepsi kemudahan penggunaan dan persepsi

    kegunaan. Meskipun banyak penelitian menunjukkan persepsi kegunaan

    sebagai prediktor peling kuat dalam penerimaan SI, penelitian Chau dan Hu

    (2002) dan Compeau dan Higgin (1995) menunjukkan persepsi kemudahan

    penggunaan yang paling kuat dalam menentukan keberterimaan SI.

  • 30

    2.5.4. Persepsi Kegunaan

    Persepsi kegunaan merupakan tingkat kepercayaan individu/pengguna bahwa

    menggunakan sistem informasi akan membantunya meningkatkan kinerja (Davis

    et al., 1989; Venkantesh et al., 2003). Konsep ini digunakan untuk

    menggambarkan manfaat yang diharapkan pengguna terhadap sistem informasi

    yang digunakan.

    Berbagai penelitian menunjukkan perceived usefulness memiliki hubungan

    yang kuat dan konsisten dalam sistem informasi dan menjadi faktor penentu

    kemauan individu dalam menggunakan sistem/use (Davis, 1989; Taylor dan

    Todd, 1995; Venkantesh dan Davis (2000)). Penelitian Venkantesh et al. (2003)

    menunjukkan ekspektasi kinerja sebagai prediktor kuat dalam minat

    pemanfaatan SI (intention behavior) baik dalam setting sukarela maupun wajib

    dan sejalan dengan penelitian Davis et al.(1989); Thompson et al. (1991);

    Compeau dan Higgins (1995); Taylor dan Todd (1995); Venkantesh dan Davis

    (2000).

    2.5.5. Pengaruh Sosial

    Koh et al. (2010) berpendapat lingkungan sosial tidak dapat dilepaskan dari

    penggunaan aplikasi bersifat wajib, dimana pandangan rekan, atasan maupun

    kelompok sangat berpengaruh pada penggunaan dan hasil penggunaan SI.

    Berdasar teori ekspektasi, hasil yang diharapkan oleh pegawai, tidak hanya

    dalam bentuk materi. Namun, dapat berupa pandangan kelompok, baik berupa

    penerimaan ataupun penolakan kelompok atas hasil pada tingkat pertama

    (Gibson et al., 2009: 135). Selain faktor dalam diri, yaitu sikap maupun persepsi,

    salah satu determinan yang berpengaruh langsung terhadap minat adalah

    pengaruh sosial. Beberapa penelitian menggunakan konstruk norma subyektif,

    image maupun faktor sosial (Venkantesh et al., 2003).

  • 31

    Ajzen dan Fishbein dalam TRA berpendapat bahwa hal yang menentukan

    seseorang akan mengambil tindakan nyata adalah munculnya minat melakukan

    tindakan tersebut. Minat merupakan hasil kumulatif attitude dan subjective norm

    berupa pandangan lingkungan sosial terhadap pengguna untuk melakukan

    tindakan tersebut. Subjective norm merupakan salah satu dasar penggunaan

    pengaruh sosial dalam penelitian SI. Pengaruh sosial memiliki pengaruh yang

    signifikan terhadap penerimaan individu terhadap SI (Venkatesh et al., 2003;

    Handayani, 2005; Venkatesh dan Balla, 2008; dan Koh et al., 2010).

    2.5.6. Computer Self Efficacy

    Teori yang dikemukakan oleh Bandura (1977) dalam Bandura dan Cervone

    (1983) menyatakan dengan adanya orientasi kepada tujuan, seseorang akan

    membuat rencana untuk mencapai tujuan tersebut dan akan membangun

    kemampuan/ keberhasilan diri (self efficacy). Definisi self efficacy adalah

    kepercayaan pada kemampuan diri untuk menyelesaikan suatu kegiatan.

    Seseorang yang merasa self efficacy rendah akan menolak untuk melakukan

    sesuatu atau cenderung menghindarinya termasuk dalam hal kemampuan

    menggunakan komputer. Untuk meraih self efficacy, seseorang akan

    mengevaluasi diri dari pengalaman masa lalu dan capaian yang diraihnya

    sekarang, prestasi orang lain, dan emosi mereka. Implikasi self efficacy sangat

    jelas terhadap motivasi dan kinerja tugas. Seseorang dengan self efficacy tinggi

    akan berusaha untuk berhasil dan memperoleh tujuan mereka. (Gibson, et.al.,

    2009: 113)

    Keberhasilan diri mempunyai tiga dimensi yaitu besarnya (magnitude),

    kekuatan (strength) dan generalisasi. Besarnya keberhasilan diri berkaitan

    dengan keyakinan seseorang atas seberapa sulit tugas mampu diselesaikan.

    Kekuatan berhubungan dengan keyakinan diri terhadap kekuatan yang

  • 32

    dimilikinya (magnitude) untuk menyelesaikan tugas, apakah kuat atau lemah.

    Generalisasi mengacu pada tingkat harapan yang ingin diwujudkan berdasarkan

    situasi yang ada (Gibson, et al., 2009: 159). Dalam pengoperasian komputer,

    magnitude yang tinggi dapat diartikan dengan tingkatan seseorang dapat

    menyelesaikan tugas, mengoperasikan komputer, tanpa bantuan orang lain.

    Strength berkaitan dengan seberapa besar tingkat magnitude yang diyakini.

    Generalisasi berarti seseorang dapat menjalankan berbagai aplikasi yang

    berbeda. Oleh sebab itu seseorang dengan computer self efficacy yang baik

    akan mampu mengoperasikan komputer dengan baik tanpa bantuan dari orang

    lain. Penelitian Thong et al. (2006); Venkatesh et al. (2003); Dalcher dan Shine

    (2003); Ong dan Lai (2006); Al-Haderi (2013) menunjukkan pengaruh yang

    signifikan antara kemampuan seseorang dalam menggunakan komputer

    terhadap keberterimaan SI.

    2.5.7. Sikap/Attitude Pengguna

    Pada Tahun 1975, Ajzen dan Fishbein berhasil merumuskan teori perilaku,

    yang dapat menggambarkan rangkaian tindakan yang mendorong seseorang

    untuk bertindak terhadap suatu hal yang dihadapinya. Ketika mewujudkan

    sebuah tindakan nyata, seseorang akan mengalami perasaan negatif/positif,

    sebagai pengaruh evaluasi atas keyakinan yang muncul sebelumnya, dalam

    melaksanakan tindakan tersebut (Davis, 1985). Perasaan ini merupakan

    sikap/attitude seseorang terhadap suatu hal, dan berfungsi sebagai pemicu

    munculnya minat dalam melakukan tindakan/behavior.

    Davis et al. (1989) menggunakan TRA Ajzein dan Fishbein untuk

    merumuskan sebuah model (TAM) yang menunjukkan bagaimana seseorang

    menerima sebuah sistem informasi dan mewujudkannya dalam tindakan nyata.

    Davis et al. (1989) menunjukkan bahwa perilaku seseorang didasarkan pada

  • 33

    keyakinan/belief, dengan konstruk yang paling dominan adalah persepsi

    kemudahan dan persepsi kegunaan. Dalam melakukan sebuah tindakan,

    seseorang bergantung kepada probabilitas subyektif yang dirasakannya (belief),

    bahwa dalam melakukan tindakan nyata tersebut akan memberikan konsekuensi.

    Evaluasi atas probabilitas subyektif (menggunakan atau tidak) ini mengarahkan

    pada attitude toward behavior (Davis et al., 1989). Pengaruh attitude terhadap

    keberterimaan SI memunculkan hasil yang beragam. Attitude sering digunakan

    sebagai variabel mediasi terhadap minat atau penggunaan. Penelitian yang

    menunjukkan pengaruh positif attitude terhadap penggunaan melalui minat dapat

    ditemui dalam penelitian Davis et al. (1989). Attitude terhadap penggunaan

    dapat dilihat dari hasil penelitian Bajaj dan Nidumolu (1998) dan Agarwal dan

    Prasad (1997). Hasil yang menunjukkan attitude tidak berpengaruh signifikan

    terhadap intention atau penggunaan ditemukan dalam penelitian Taylor dan

    Todd (1995) dan Jackson et al. (1997).

    2.5.8. Minat Menggunakan Sistem Informasi

    Menurut TRA seseorang melakukan sebuah tindakan khusus didasarkan pada

    minat terhadap hal khusus tersebut. Minat yang muncul merupakan hasil attitude

    dan pengaruh norma subyektif (Davis, 1985). Minat merupakan salah satu

    variabel yang paling sering digunakan dalam mengukur keberterimaan SI. Minat

    juga digunakan sebagai salah satu variabel penentu dalam mengukur

    keberhasilan SI (DeLone dan McLean, 2003).

    Penggunaan minat erat kaitannya dengan sikap pengguna, minat juga sering

    menjadi pertimbangan dalam lingkungan penelitian yang bersifat wajib atau

    sukarela. Hasil beragam pengaruh minat terhadap penggunaan dipengaruhi baik

    lingkup penggunaan maupun variabel yang digunakan. Minat dipertimbangkan

    untuk dihilangkan karena dinilai tidak akan mempengaruhi pengguna dapat

    ditemui dalam penelitian Koh et al. (2010). Davis et al.(1989) berpendapat

  • 34

    penghilangan sikap, dengan langsung menggunakan minat sebagai variabel

    mediasi dari persepsi kemudahan penggunaan dan persepsi kegunaan terhadap

    penggunaan lebih kuat dan parsimoni. Penelitian yang menunjukkan minat

    berpengaruh signifikan terhadap penggunaan dapat ditemui dalam penelitian

    Taylor dan Todd (1995); Venkatesh dan Davis (2000); Venkatesh et al. (2003);

    Venkatesh dan Balla (2008). Hasil yang menunjukkan bahwa minat tidak

    berpengaruh signifikan terhadap penggunaan dapat ditemukan dalam penelitian

    Dishaw dan Strong (1999) dan Handayani (2005).

    2.5.9. Penggunaan Aktual

    Penggunaan merupakan salah satu alat ukur yang dapat digunakan untuk

    menentukan kesuksesan sistem informasi (DeLone dan McLean, 1992).

    Pengguna dibutuhkan untuk menggunakan teknologi atau sistem khusus dengan

    tujuan menjaga atau melaksanakan tugas (Brown et al., 2002).

    Salah satu pengukuran penggunaan yang sering dipakai adalah intensitas.

    Intensitas penggunaan menunjukkan bagaimana seseorang secara aktif

    memanfaatkan sistem informasi tersebut untuk mendukung keperluannya.

    Namun, di dalam lingkungan bersifat wajib intensitas penggunaan dinilai kurang

    tepat menggambarkan kesuksesan sistem informasi. Perasaan negatif terhadap

    aplikasi dapat muncul, meskipun intensitas penggunaan tinggi. Burton-Jones

    dan Straub (2006) berpendapat untuk pengukuran lebih tepat dalam penggunaan

    SI, maka harus memperhatikan konteks, baik tujuan penggunaan maupun

    penggunaan aplikasi itu sendiri. Penggunaan sering digunakan sebagai ukuran

    akhir dalam menilai keberterimaan SI sebagaimana penelitian Davis et al. (1989);

    Taylor dan Todd (1995); Bajaj dan Nidumolu (1998); Agarwal dan Prasad (1999).

    2.5.10. Kepuasan Pengguna

    Kepuasan adalah tingkat kesenangan yang muncul ketika berinteraksi dengan

    aplikasi (Seddon dan Kiew, 1996). Kepuasan pengguna merupakan hal paling

  • 35

    umum dalam mengukur persepsi individu terhadap sistem informasi (Seddon dan

    Kiew, 1996). DeLone dan McLean (2003) menganggap kepuasan pengguna

    termasuk salah satu ukuran terpenting dalam kesuksesan SI. Kepuasan

    pengguna merupakan attitude yang memperkuat pengguna setelah berinteraksi

    dengan SI (Wixon dan Todd, 2005).

    Kesuksesan penerapan SI dapat diasosiasikan dengan kepuasan pengguna

    (DeLone dan McLean, 2003). Perasaan pengguna akan menentukan apa yang

    menjadi pilihan seseorang. Perasaan positif mengarahkan pada pencapaian

    kepuasan, begitu pula dalam persepsi dan penggunaan SI (Koh et al., 2010).

    Kepuasan pengguna juga dikaitkan dengan bagaimana sistem informasi tersebut

    dinilai berdasarkan ekspektasi yang diberikan (Ives et al., 1982). Beberapa

    peneliti beranggapan bahwa dalam menilai keberhasilan implementasi SI, lebih

    tepat menggunakan kepuasan pengguna dibandingkan penggunaan (Ives et al.,

    1982; Seddon dan Kiew, 1996) dan manfaat. Kepuasan pengguna merupakan

    salah satu variabel kesuksesan SI yang dikembangkan DeLone dan McLean

    (1992; 2003), dan banyak digunakan mengukur keberhasilan SI dan

    dihubungkan dengan penggunaan SI maupun kualitas sistem ataupun kualitas

    informasi. Penelitian Seddon dan Kiew (1996); Rai et al. (2002); McGill et al.

    (2003) menunjukkan hubungan yang signifikan antara kualitas informasi

    terhadap kepuasan pengguna.

    2.6 Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara (SPAN)

    Reformasi pengelolaan keuangan, sebagaimana terencana dalam GFMRAP

    diwujudkan dalam beberapa bidang pengelolaan. Pada bidang manajemen

    pengeluaran, reformasi dilaksanakan mulai antara lain pada proses

    pengganggaran serta proses perbendaharaan. Reformasi proses bisnis,

    sistem teknologi informasi, dan tata kelola perubahan menjadi komponen utama

  • 36

    pelaksanaan reformasi pada bidang ini. Penentuan tujuan yang jelas menjadi

    awal dalam menyusun strategi dan mengukur keberhasilan program ini.

    Pengendalian anggaran, aset, dan kewajiban pemerintah pusat; tersedianya

    informasi keuangan pemerintah yang komprehensif, tepat waktu, dan dapat

    dipercaya; serta mempermudah pengambilan keputusan dan manajemen

    keuangan pemerintah merupakan serangkaian tujuan program ini.

    Sebagai tindak lanjut dalam pencapaian tujuan di atas, program SPAN

    disusun dengan melakukan penyempurnaan proses bisnis yang dapat

    disesuaikan dengan karakteristik SPAN. Selanjutnya menyusun dukungan

    teknologi informasi, kemudian dilengkapi dengan manajemen komunikasi dan

    perubahan sebagai penunjang proses transformasi yang terjadi. Tahapan

    pertama yaitu penyempurnaan proses bisnis. Proses ini dilaksanakan dengan

    melakukan perbaikan pada 8 proses yang terdiri dari bagian penganggaran,

    pelaksanaan dan pelaporan. Sebagai pelengkap tahapan ini dilengkapi dengan

    sistem aplikasi pendukung, yaitu SAKTI. Delapan proses tersebut terdiri dari

    perencanaan anggaran, manajemen DIPA, manajemen komitmen, manajemen

    pembayaran, manajemen kas, manajemen penerimaan, buku besar dan bagan

    akun standar, dan pelaporan (Reporting), serta modul Sistem Aplikasi Keuangan

    Tingkat Instansi (SAKTI).

    Perubahan proses bisnis menjadi tantangan utama reformasi ini. Perubahan

    proses bisnis tidak hanya tekait penyusunan peraturan, standar operasional,

    penggunaan teknologi baru, namun juga menyangkut perubahan pola pikir

    pelaku. Tiga pilar tersebut disusun dengan harapan perubahan proses bisnis

    dapat diterima dengan baik dan mendukung tercapainya tujuan pelaksanaan

    reformasi dalam bidang keuangan.

  • 37

    2.7 Sistem Aplikasi Keuangan Tingkat Instansi (SAKTI)

    Sistem Aplikasi Keuangan Tingkat Instansi (SAKTI) merupakan sebuah sistem

    informasi keuangan yang digunakan oleh instansi/satuan kerja pengelola dana

    yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), baik

    dalam lingkup kementerian maupun dinas di pemerintah daerah. Aplikasi ini

    disusun untuk mendukung sistem keuangan terintegrasi di Indonesia, dimana hal

    tersebut telah terlaksana dengan diimplementasikannya SPAN. Proses

    bisnisnya, SPAN mengintegrasikan proses perencanaan, pelaksanaan sampai

    dengan pertanggungjawaban dan pelaporan anggaran (Kementerian Keuangan,

    2013).

    Sebagai bentuk reformasi keuangan di Indonesia, yang dimulai sejak 2003,

    maka pemisahan kewenangan pengelolaan keuangan ditentukan secara tegas.

    Kementerian keuangan berperan sebagai Kuasa Bendahara Umum Negara

    (Kuasa BUN) dengan Menteri Keuangan berperan sebagai Chief Financial

    Officer (CFO). Di sisi lain kementerian pengguna anggaran berperan sebagai

    Chief Operational Officer (COO).

    Reformasi ini juga menuntut penggunaan teknologi informasi, dengan adanya

    Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2003 tentang proses transformasi menuju e-

    Goverment. Kementerian Keuangan merespons dengan menyusun GFMRAP

    dengan salah satu bagiannya adalah IFMIS. Penerapan IFMIS, terkait

    kewenangan Kuasa BUN dilaksanakan melalui implementasi SPAN. Idealnya

    integrasi sistem informasi keuangan dan manajemen terjadi antara Kuasa BUN

    dan Kuasa Pengguna Anggaran. Namun, kondisi di lapangan menjadi hambatan

    pengintegrasian tersebut, dengan satuan kerja lebih dari 24 ribu dan dengan

    kondisi geografis yang beragam maka dibutuhkan waktu dan infrastruktur yang

    sangat besar (Kementerian Keuangan, 2016). Oleh sebab itu, diciptakan aplikasi

    SAKTI sebagai pelengkap SPAN, dimana SAKTI berfungsi mengintegrasikan

  • 38

    proses pengelolaan keuangan di tingkat instansi/satker. Untuk menghubung

of 141/141
ANALISIS KEPUASAN PENGGUNA INTEGRATED FINANCIAL MANAGEMENT INFORMATION SYSTEM (IFMIS) DENGAN GABUNGAN TECHNOLOGY ACCEPTANCE MODEL DAN INFORMATION SYSTEM SUCCESS MODEL (STUDI PADA DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN) TESIS Untuk Memenuhi Persyaratan Mencapai Gelar Magister Oleh: DEDYE PRIYO WIBOWO 156020304111016 PROGRAM MAGISTER AKUNTANSI PASCASARJANA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2017
Embed Size (px)
Recommended