Home >Documents >TEKNIK PRODUKSI BIBIT GAHARU (Aquilaria sp.) UNTUK ... fileTEKNIK PRODUKSI BIBIT GAHARU (Aquilaria...

TEKNIK PRODUKSI BIBIT GAHARU (Aquilaria sp.) UNTUK ... fileTEKNIK PRODUKSI BIBIT GAHARU (Aquilaria...

Date post:09-Apr-2019
Category:
View:213 times
Download:0 times
Share this document with a friend
Transcript:

TEKNIK PRODUKSI BIBIT GAHARU (Aquilaria sp.) UNTUK MENDUKUNG PENINGKATAN HASIL

HUTAN BUKAN KAYU (HHBK)

Rusmana

Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru

Jl. A. Yani Km 28.7, Banjarbaru, Kalimantan Selatan 70721 E-mail : [email protected] or.id ; [email protected];

ABSTRAK

Hasil hutan bukan kayu (HHBK) banyak ragamnya, salah satunya adalah gaharu yang dihasilkan oleh

tumbuhan dari genus Aquilaria. Komoditi tersebut memiliki nilai ekonomi tinggi sehingga perlu

dibudidayakan. Ada 16 jenis dari genus tersebut yang dapat menghasilkan gaharu. Untuk mendukung

pengembangan HHBK, proses pembuatan bibit sangat penting dikuasai. Teknik produksi bibit gaharu dari

genus Aquilaria spp. mudah dilakukan dengan cara generatif, vegetatif makro (stek pucuk) dan

memanfaatkan anakan alam (wilding).

Kata kunci : Aquilaria spp, gaharu, teknik, bibit. I. PENDAHULUAN

Hasil Hutan bukan kayu yang disingkat dengan sebutan HHBK berdasarkan UU 41 tentang

Kehutanan, kemudian dijelaskan dengan Permenhut (Peraturan Menteri Kehutanan) adalah hasil hutan

hayati baik hewani maupun nabati dan turunannya yang berasal dari hutan kecuali kayu (Permenhut No.

35 Tahun 2007 dalam htttp://www.dephut.go.id). Saat ini dikenal dengan HHBK unggulan yaitu, jenis hasil

hutan bukan kayu yang memiliki potensi ekonomi tinggi yang dapat dikembangkan budidaya maupun

pemanfaatannya di wilayah tertentu untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.

HHBK nabati dan turunannya (selain kayu) antara lain madu, bambu, rotan, jamur, tanaman obat,

getah-getahan, resin, minyak atsiri dan bagian yang dihasilkan tumbuhan. Sedangkan HHBK hewani dan

turunannya antara lain satwa liar dan hasil penangkarannya, satwa buru, satwa elok serta bagian atau yang

dihasilkan hewan hutan. Lebih lanjut ada juga jasa yang diperoleh dari hutan seperti jasa wisata, jasa

keindahan alam, keunikan, jasa perburuan dan jasa lainnya.

Berdasarkan uraian singkat tersebut, gaharu adalah sebuah nama tumbuhan dengan komoditi hasil

hutan bukan kayu yang muncul dari tumbuhan dari genus Aquilaria yang sejak lama menjadi perbincangan

banyak kalangan karena memiliki nilai ekonomi tinggi. Sebagai contoh gaharu dengan kelas super di pasaran

lokal Samarinda, Tarakan, dan Nunukan Provinsi Kalimantan timur mencapai harga Rp. 40.000.0000,-s/d

50.000.0000,- per kilogram, kualitas tanggung Rp. 20.000.000,-/kilogram, kualitas kacangan harga

43

Galam Volume VII Nomor 1, September 2014 Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru rata-ratanya Rp. 15.000.000,-/kilogram, kualitas teri Rp. 10.000.000,- s/d 14.000.000,-/kilogram, kualitas

kemedangan Rp. 1.000.000,- s/d 4.000.000,-/kg dan kualitas suloan Rp. 75.000,-/kg (Siran dan Turjaman,

2011). Oleh sebab itu, budidaya gaharu melalui penanaman yang didahului dengan teknik pembibitannya

perlu dikembangkan.

Tumbuhan penghasil gaharu dari genus Aquilaria yang telah terdata ada sekitar 16 jenis, yaitu

(http.//www.wikipedia.org./wiki/Gaharu. diakses Juni 2013) : 1. Aquilaria subintegra, asal Thailand 2. Aquilaria crassna asal Malaysia, Thailand, dan Kamboja

3. Aquilaria malaccensis, asal Malaysia, Thailand, dan India 4. Aquilaria apiculina, asal Filippina 5. Aquilaria baillonii, asal Thailand dan Kamboja

6. Aquilaria baneonsis, asal Vietnam 7. Aquilaria beccariana, asal Indonesia 8. Aquilaria brachyantha, asal Malaysia 9. Aquilaria cumingiana, asal Indonesia dan Malaysia 10. Aquilaria filaria, asal China 11. Aquilaria grandiflora, asal China 12. Aquilaria hilata, asal Indonesia dan Malaysia 13. Aquilaria khasiana, asal India 14. Aquilaria microcarpa, asal Indonesia Malaysia 15. Aquilaria rostrata, asal Malaysia 16. Aquilaria sinensis, asal Cina

Jenis yang banyak di Kalimantan antara lain A. microcarpa, A. beccariana, A. cumingiana dan A.

malaccensis. Untuk A. malaccensis saat ini sudah sulit diperoleh karena sudah hampir punah. Menurut ahli

dendrologi Kade Sidiyasa (personal communications, 2010) menyatakan bahwa A. malaccensis di Indonesia

sangat jarang ditemukan. Bibit yang beredar dan dibudidayakan sekarang oleh masyarakat Kalimantan

kebanyakan adalah jenis A. microcarpa dan A. beccariana.

Pembibitan, penanaman dan inokulasi tumbuhan penghasil gaharu dari genus Aquilaria saat ini

cukup diminati oleh masyarakat, karena gaharunya menjadi harapan untuk meningkatkan ekonomi.

Untuk mendukung pengembangan budi daya gaharu, maka teknik pembibitan tumbuhan penghasil

gaharu dari genus Aquilaria sangat penting dilakukan. Banyak kejadian, karena banyak diminati,

kekurangan benih dan bibit menjadi permasalahan baru dalam budidaya gaharu ini. Oleh karena itu,

pembibitan gaharu dengan teknologi sederhana sampai mutakhir perlu diketahui oleh masyarakat.

Teknik pembuatan bibit dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu cara generatif

(menggunakan biji) dan vegetatif (dengan cara stek, cangkok, okulasi dan kultur jaringan) serta

menggunakan cabutan anakan alam jika benih/biji tidak tersedia. Teknik pembuatan bibit, secara garis

besar melalui beberapa tahapan kegiatan, yaitu 1) penaburan benih dan pemeliharaan taburan, 2)

pemrosesan media dan pengisian pot atau polybag, 3) penyapihan kecambah/semai, 4) pemeliharaan

semai, 5) aklimatisasi bibit , 6) seleksi dan pengepakan bibit dan 7) transportasi bibit ke lokasi tanam.

44

Teknik Produksi Bibit Gaharu (Aquilaria sp.) Untuk Mendukung Peningkatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) Rusmana

Selain itu model persemaian pun bermacam-macam yaitu persemaian konvensiaonal, persemaian

permanen dan persemaian modern. Persemaian konvensional adalah persemaian yang belum

menggunakan teknologi canggih dan keberadaan persemaian masih bersifat sementara sehingga

persemaian selalu berpindah-pindah mengikuti kedekatan lokasi penanaman dengan jumlah produksi

sedikit (< 1 juta batang). Persemaian permanen adalah persemaian yang sifatnya menetap (tidak pindah-

pindah) dan telah menggunakan teknologi maju dengan jumlah produksi lebih banyak (> 3 juta batang).

Persemaian modern adalah persemaian yang telah menggunakan teknologi sangat maju yang sifatnya

permanen (tidak pindah-pindah) dengan jumlah produksi bibit cukup banyak (> 3 juta batang).

Persemaian sangat diperlukan untuk memproduksi bibit dan mendukung kegiatan rehabilitasi lahan-

lahan kritis dan atau pembangunan hutan tanaman yang dilakukan oleh pemerintah dan swasta serta

masyarakat (Yasman, I & Yamato, M, 2007). Kondisi saat ini persemaian dengan sarana dan prasarana yang

cukup memadai telah ada di berbagai daerah. Metode persemaian yang diterapkan (persemaian permanen atau

modern) secara tidak langsung memberi petunjuk bahwa persemian tersebut dalam memproduksi bibitnya

dapat diindikasikan telah berorientasi pada segi kualitas bibit dan bukan pada segi kuantitas bibit yang

dihasilkan. Lain halnya dengan persemaian konvensioanl, produksi bibitnya biasanya masih belum berorientasi

pada segi kulaitas bibit yang dihasilkan. Namun, masih cenderung berorientasi pada kuantitas.

Banyak contoh berbagai metode persemaian yang telah dikembangkan. Seperti persemaian permanen

metode Enso-Potrays (Proyek ATA-267), persemaian metode KOFFCO (Komatsu FORDA Fog Cooling),

persemaian konvensional, kebun bibit desa (KBD) dan lain-lain. Masing-masing metode persemaian tersebut

berdasarkan pengamatan di lapangan dalam melaksanakan operasionalnya menerapkan metodenya berbeda-

beda. Karena metodenya berbeda-beda, maka sistem manajemennya pun berbeda-beda yang berlanjut pada

kualitas bibit yang dihasilkannya pun cenderung berbeda-beda pula.

Teknik produksi bibit penghasil gaharu ini akan menjelaskan teknik pembuatan/produksi bibit

cara generatif dan vegetatif makro (cara stek) dari genus Aquilaria sampai bibit siap tanam.

Tujuan teknik produksi bibit ini adalah untuk memahami dan mengerti bagi para pengguna

tentang teknik produksi bibit tumbuhan penghasil gaharu (Aquilaria sp.) sebagai komoditi kehutanan yang

masuk dalam golongan Hasil Hutan Bukan kayu (HHBK).

II. TEKNIK PRODUKSI BIBIT A. Produksi Bibit Cara Generatif

Produksi bibit gaharu dari jenis Aquilaria microcarpa, mudah dilakukan. Produksi bibit dengan cara generatif adalah pembuatan bibit dengan menggunakan organ tanaman berupa biji yang ditumbuhkan

sehingga menjadi bibit yang siap ditanam ke lapangan. Pelaksanaan produksi bibit cara generatif secara

umum melalui beberapa tahapan kegiatan, yaitu :

1. Ekstraksi benih

Ekstraksi benih adalah proses mengeluarkan biji dari buah. Ekstraksi benih gaharu dapat

dilakukan dengan cara menjemur buah di bawah sinar matahari dalam waktu 1 3 jam hingga buahnya

pecah sendiri. Setelah itu biji gaharu dikeringanginkan dan diseleksi. Biji yang baik (bernas dan tua)

dikumpulkan untuk segera ditabur agar tumbuh menjadi kecambah.

45

Galam Volume VII Nomor 1, September 2014 Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru

Gambar 1. Buah gaharu (Aquilaria microcarpa) asal Barabai, Kalsel yang sudah tua

dan siap di ekstraksi (Dok. Rusmana, 2013).

2. Penaburan benih

Benih gaharu dapat disemai langsung di polybag (ditugal) atau disemai/ditabur melalui bedeng

tabur

Click here to load reader

Reader Image
Embed Size (px)
Recommended