Home >Education >Tawuran Dikalangan Remaja (Materi Sosiologi)

Tawuran Dikalangan Remaja (Materi Sosiologi)

Date post:22-Jun-2015
Category:
View:1,943 times
Download:4 times
Share this document with a friend
Description:
Silahkan Download & Jangan Lupa Jempolnya ya...
Transcript:
  • 1. Tentang Tawuran Dikalangan Remaja

2. Oni Galang (25) Rahajeng Sekar (26) Ramadhan Izudin (27) Rifky Satria W. (28) Rio Anggala (29) Shafira Nurul (30) 3. Tawuran dalam kamus bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai perkelahian yang meliputi banyak orang. Sedangkan pelajar adalah seorang manusia yang belajar. Sehingga apabila kita menarik garis besarnya yaitu perkelahian antar banyak orang yang tugas pelakunya adalah manusia yang sedang belajar. Ironis memang orang yang sedang belajar melakukan perkelahian, namun itu kenyataan yang terjadi. Secara psikologis, perkelahian yang melibatkan pelajar usia remaja digolongkan sebagai salah satu bentuk kenakalan remaja (juvenile deliquency). Kenakalan remaja, dalam hal perkelahian, dapat digolongkan kedalam 2 jenis delikuensi yaitu situasional dan sistematik. 4. 1. Pada delikuensi situasional, perkelahian terjadi karena adanya situasi yang mengharuskan mereka untuk berkelahi. Keharusan itu biasanya muncul akibat adanya kebutuhan untuk memecahkan masalah secara cepat . 2. Pada delikuensi sistematik, para remaja yang terlibat perkelahian itu berada di dalam suatu organisasi tertentu atau geng. Disini ada aturan, norma dan kebiasaan tertentu yang harus diikuti anggotanya, termasuk berkelahi . 5. Penyebab remaja terlibat perkelahian pelajar dalam pandangan psikologi, setiap perilaku merupakan interaksi antara kecenderungan di dalam diri individu (sering disebut kepribadian, walau tidak selalu tepat) dan kondisi eksternal. Begitu pula dalam hal perkelahian pelajar. Bila dijabarkan, terdapat sedikitnya 4 faktor psikologis mengapa seorang remaja terlibat perkelahian pelajar. Faktor-faktor tersebut antara lain: 6. 1. Faktor Internal Remaja yang terlibat perkelahianbiasanya kurang mampu melakukan adaptasi pada situasi lingkungan yang kompleks. Kompleks disini berarti adanya keanekaragaman pandangan, budaya, tingkat ekonomi, dan semua rangsang dari lingkungan. Situasi ini biasanya menimbulkan tekanan pada setiap orang. Tapi pada remaja yang terlibat perkelahian, mereka kurang mampu untuk mengatasi, apalagi memanfaatkan situasi itu untuk pengembangan dirinya. Mereka biasanya mudah putus asa, cepat melarikan diri dari masalah, menyalahkan orang/pihak lain pada setiap masalahnya, dan memilih menggunakan cara tersingkat untuk memecahkan masalah. 7. 2. Faktor Keluarga Rumah tangga yang dipenuhi kekerasan (entah antar orang tua atau pada anaknya) jelas berdampak pada anak. Anak, ketika meningkat remaja, belajar bahwa kekerasan adalah bagian dari dirinya, sehingga menjadi hal yang wajar apabila mereka melakukan kekerasan yang sama. 8. 3. Faktor Sekolah Bagi Durkheim, sekolah mempunyai fungsi yang sangat penting dan sangat khusus untuk menciptakan makhluk baru, yang dibentuk sesuai dengan kebutuhan masyarakat untuk itu dibutuhkan sekali keselarasan antara harapan masyarakat dengan system pengajaran. Disamping itu semua hal yang paling penting dalam proses mengajar disekolah adalah menumbuhkan motivasi diri (self motivation) untuk belajar. Dengan adanya keinginan diri sendiri untuk belajar bagi para siswa maka mereka akan bisa lebih focus terhadap pelajaran yang diberikan oleh pengajar . 9. 4. Faktor Lingkungan Lingkungan diantara rumah dan sekolah yang sehari-hari remaja alami, juga membawa dampak terhadap munculnya perkelahian. Misalnya lingkungan rumah yang sempit dan kumuh, dan anggota lingkungan yang berperilaku buruk (misalnya narkoba). Begitu pula sarana transportasi umum yang sering menomor-sekian kan pelajar. Juga lingkungan kota (negara) yang penuh kekerasan. Semuanya itu dapat merangsang remaja untuk belajar sesuatu dari lingkungannya, dan kemudian reaksi emosional yang berkembang mendukung untuk munculnya perilaku berkelahi. Lingkungan yang tidak menerima eksistensi para remaja juga menjadi salah satu faktor pemicu seorang pelajar atau remaja melakukan perbuatan- perbuatan anarki. 10. Apabila menilik dari beberapa faktor perkelahian pelajar yang ditinjau dari sisi psikologis terdapat 3 faktor lingkungan selain faktor internal yang menyebabkan seorang pelajar melakukan tindakan tawuran. Itu menunjukkan peran penting lingkungan dalam andil menciptakan sebuah tawuran pelajar. Lingkungan- lingkungan mereka antara lain keluarga sebagai lingkungan dasar dari seorang remaja. Sekolah sebagai lingkungan tempat mencari ilmu dan membangun kreativitas mereka. Dan masyarakat sebagai lingkungan pengapresiasikan apa yang telah mereka pelajari dalam lingkungan keluarga dan sekolah. 11. Di tinjau dari aspek ini menurut Paul Maclean seorang ahli neorologi mengenai tawuran pelajar terjadi karena adanya proses alamiah yang di hadapi oleh otak manusia. Paul Maclean menyebutkan otak manusia terdiri dari tiga bagian yang dinamakan triune brain. Dan masing-masing otak mempunyai fungsi masing-masing. Otak paling rendah dinamakan reptile brain dan seing disebut juga primitf brain yang berfungsi mengatur fisik kita agar tetap hidup, mengelola gerak reflex, mengendalikan gerak motorik, memantau fungsi tubuh, dan memproses informasi yang ditangkap oleh panca indra. Dan pada saat menghadapi ancaman atau keadaan berbahaya cenderung untuk memberikan reaksi melawan atau lari. Ketika ada suatu kejadian tawuran, ancaman akan datang walaupun sebenarnya tidak keinginan untuk melakukan sebuah pekelahian. Dikarenakan reaksi dari primitif otak yang mengambil ancaman dan sekaligus membalasnya dengan sebuah perlawanan, maka akan timbulah sebuah perlawanan yang berujung kepada perkelahian. Itulah sekilas proses alamiah perkelahian pelajar yang mendasari tawuran terjadi apabila dipandang dari aspek biologi. 12. 1. Aspek Dendam Tidak sedikit penyebab tawuran dikarenakan denda mentah itu karena pemalakan yang dilakukan pelajar sekolah atau dendam karena tidak bisa bersekolah disekolah yang diinginkan. Sehingga timbul keinginan untuk merusak sekolah yang dimaksud. Aspek dendam ini menimbulkan proyeksi tawuran-tawuran berikutnya bahkan mungkin hanya dengan diawali dengan hanya saling pandang. Karena sebenarnya sudah ada kebencian yang mendasari hati mereka 13. 2. Aspek Selain Dendam 1) Perayaan hasil UN (Ujian Nasional) Ada kebiasaan perayaan hasil ujian nasional bagi pelajar. Yaitu dengan melakukan pawai keliling kota, meneriakkan yel-yel dan sebagainya. Pada saat bersama ansatu rombingan bertemu dengan rombongan sekolah lain. Dan pertemuan itu menimbulkan saling ejek sehingga emosi meluap dan selanjutnya terjadilah sebuah tawuran. 2) Perayaan hari libur Seringnya pelajar memaknai hari libur sebagai hari tanpa aktifitas atau sering hari bebas. Untuk sementara waktu mereka akan berhenti melakukan aktivitas belajar. Sehingga mereka beranggapan akan melakukan tawuran dan setelah itu mereka bisa sembunyi dirumah tanpa takut keluar rumah. Karena aktifitas mereka hanya ada dirumah. 14. 1. Pertama, pelajar (dan keluarganya) yang terlibat perkelahian sendiri jelas mengalami dampak negatif pertama bila mengalami cedera atau bahkan tewas. 2. Kedua, rusaknya fasilitas umum seperti bus, halte dan fasilitas lainnya, serta fasilitas pribadi seperti kaca toko dan kendaraan. 3. Ketiga, terganggunya proses belajar di sekolah. 4.Terakhir, mungkin adalah yang paling dikhawatirkan para pendidik, adalah berkurangnya penghargaan siswa terhadap toleransi, perdamaian dan nilai-nilai hidup orang lain. Para pelajar itu belajar bahwa kekerasan adalah cara yang paling efektif untuk memecahkan masalah mereka, dan karenanya memilih untuk melakukan apa saja agar tujuannyatercapai. Akibat yang terakhir ini jelas memiliki konsekuensi jangka panjang terhadap kelangsungan hidup bermasyarakat di Indonesia. 5. Hal- hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi kenakalan remaja Banyak solusi yang ditawarkan oleh para ahli hingga para tokoh masyarakat untuk menanggulangi kenakalan remaja yang berupa tawuran pelajar. 15. Dibawah ini adalah beberapa hal yang dapat digunakan sebagai salah satu cara meminimalisasi tawuran pelajar: 1. Kegagalan mencapai identitas peran dan lemahnya kontrol diri bisa dicegah atau diatasi dengan prinsip keteladanan. Remaja harus bisa mendapatkan sebanyak mungkin figur orang-orang dewasa yang telah melampaui masa remajanya dengan baik juga mereka yang berhasil memperbaiki diri setelah sebelumnya gagal pada tahap ini. 2. Adanya motivasi dari keluarga, guru, teman sebaya untuk melakukan point pertama. 3. Kemauan orang tua untuk membenahi kondisi keluarga sehingga tercipta keluarga yang harmonis, komunikatif, dan nyaman bagi remaja. 4. Remaja pandai memilih teman dan lingkungan yang baik serta orang tua memberi arahan dengan siapa dan di komunitas mana remaja harus bergaul. 5. Remaja membentuk ketahanan diri agar tidak mudah terpengaruh jika ternyata teman sebaya atau komunitas yang ada tidak sesuai dengan harapan. 16. Cara lain yang ditawarkan oleh Kartini Kartono memberikan beberapa cara untuk meminimalisasi tawuran pelajar yang terurai sebagai berikut: 1. Banyak mawas diri, melihat kelemahan dan kekurangan sendiri dan melakukan koreksi terhadap kekeliruan yang sifatnya tidak mendidik dan tidak menuntun. 2. Memberikan kesempatan kepada remaja untuk beremansipasi dengan cara yang baik dan sehat. 3. Memberikan bentuk kegiatan dan pendidikan yang relevan dengan kebutuhan remaja zaman sekarang serta kaitannya dengan perkembangan bakat dan potensi remaja 17. Kesimpulan Bisa dikatakan bahwa kenakalan remaja seperti halnya tawuran pelajar tidak bisa dikatakan bahwa semua aspek pendorong berasal dari internal mereka saja. Namun faktor lingkungan dimana mereka berada juga mempunyai andil besar dalam memicu seorang pelajar mencari pelampiasan-pelampiasan negatif. Seperti faktor keluarga yang dipenuhi oleh kekerasan orang tua, faktor sekolah yang kurang memperhatikan potensi anak-anak didiknya. Sampai faktor masyarakat yang senantiasa menyepelekan keberadaan mereka. Untuk menindak lanjuti itu semua sebaiknya masyarakat yang meliputi keluarga, sekolah, dan masyarakat sadar betapa pentingnya mereka menjaga kestabilan remaja dengan memberi ruang yang cukup kepada mereka untuk berekspresi. Sehingga mereka mendapatkan kenyamanan yang cukup dimana mereka berada. Pengakuan masyarakat yang selama ini mereka idamkan, sambutan keluarga yang mereka impikan dan sekolah yang nyaman untuk meningkatkan potensi mereka. Dengan hal-hal tersebut diharapkan masyarakat bisa meminimalisasi potensi-potensi yang ada guna menimbulkan remaja yang kreatif , aktif , produktif dan berpotensi menjadi generasi penerus yang baik . 18. Saran Menyikapi berbagai fenomena kenakalan remaja khususnya tawuran pelajar yang telah disampaikan diatas penulis memberikan beberapa saran sebagai berikut: 1. Sedari sekarang masyarakat harus sadarakan pentingnya peran mereka dalam membentuk lingkungan yang kondusif. 2. Keluarga sebagai elemen dasar sebuah bangunan pendidikan agar lebih aktif dalam memperhatikan anak-anaknya, pentingnya menciptakan demokratisasi dalam keluarga. 3. Sekolah sebagai suatu lembaga pendidik seharusnya memperhatikan potensi-potensi dasar peserta didik untuk lebih meningkatkan daya kreativitas mereka. 4. Adanya system penanganan yang lebih tepat apabila diketemukan tawuran pelajar.

of 19/19
Tentang Tawuran Dikalangan Remaja TUGAS SOSIOLOGI
Embed Size (px)
Recommended