Home >Education >Tafsir Hadist

Tafsir Hadist

Date post:23-Jul-2015
Category:
View:227 times
Download:0 times
Share this document with a friend
Transcript:

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar BelakangManusia dalam menjalani kehidupannya di dunia ini sesuai dengan kodratnya tidak hanya sebagai makhluk individu. Akan tetapi manusia dalam menjalani kehidupannya juga sebagai makhluk sosial. Dalam kehidupan sehari-hari suatu individu sangat membutuhkan individu yang lain, seorang individu tidak akan dapat hidup tanpa adanya bantuan dari orang lain.Manusia dalam menjalani kehidupan juga membutuhkan adanya suatu komunikasi serta berinteraksi satu sama lain, tidak hanya dalam lingkungan kecil yang berupa keluarga akan tetapi dalam lingkungan yang luas dan dalam hal ini adalah masyarakat juga sangat dibutuhkan. Hal mengenai kemasyarakatan sendiri telah diatur dalam Al-Quran. Al-Quran mengandung ajaran dan menyentuh kehidupan umat manusia yang tidak terikat oleh waktu. Al-Quran tidak hanya berbicara tentang hukum-hukum dalam beribadah mahdhah, akan tetapi kandungannya mencakup setiap kebutuhan manusia. Salah satu di antaranya adalah tentang masyarakat sebagai kelompok yang terdiri dari beberapa individu dengan corak budaya yang beraneka ragam.Secara garis besar ajaran Islam bisa dikelompokkan dalam dua kategori yaitu hablum minallah (hubungan vertikal antara manusia dengan tuhan) dan hablum minannas (hubungan manusia dengan manusia). Allah menghendaki kedua hubungan tersebut seimbang walaupun hablumminannas lebih banyak di tekankan. Akan tetapi kebanyakan saat ini dapat dilihat bahwa hubungan antara manusia dengan manusia yang lainnya semakin memburuk. Hubungan antara manusia yang satu dengan manusia yang lain cenderung mulai menurun dan tidak menaati serta mematuhi apa yang telah dijelaskan di dalam Al-quran. Hubungan yang terjadi cenderung saling bermusuhan dan lebih mengutamakan kepentingan individu sehingga kepentingan demi masyarakat telah semakin tersisi dan tergantikan dengan kepentingan pribadi. Sehingga untuk mencapai hubungan antara manusia yang satu dengan manusia yang lain dengan baik saat ini sangat sulit.Banyak surah dalam Al-quran yang menjelaskan tentang hubungan antara manusia dengan manusia yang lain, yang dalam hal ini berkaitan dengan kemasyarakatan. Salah satu dari surah yang dimaksud adalah surah Al-hujurat ayat 10, 11, 12, dan 13. Ayat-ayat surah tersebut juga tidak hanya menjelaskan tentang hubungan antara manusia dengan manusia akan tetapi juga kepedulian sosial. Dengan adanya hubungan antara manusia yang satu dengan manusia yang lain yang saat ini mulai memburuk serta adanya surah Al-hujurat ayat 10, 11, 12, dan 13, maka oleh karena itulah makalah ini dibuat untuk mengetahui pandangan islam dalam memandang hubungan masyarakat.

1.2 Tujuan 1. Mengetahui pengertian masyarakat menurut islam.2. Tafsir ayat-ayat tentang kemasyarakatan.3. Implementasi surat Al-Hujurat ayat 10-13 dalam kehidupan bermasyarakat.

BAB IIPEMBAHASAN

A. Pengertian Masyarakat dan Kepeduliaan Sosial Menurut IslamMasyarakat dalam bahasa yunani artinya adalah persahabatan. Sebagai refleksi dari arti kata tersebut, Aristoteles mengemukakan bahwa manusia yang hidup bersama dalam masyarakat karena mereka menikmati ikatan yang saling bekerja sama, untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka. Sedangkan masyarakat dalam bahasa Inggris (Community) diartikan sebagai komunitas. [footnoteRef:2] [2: Bamumin, Ayat-Ayat Tentang Masyarakat, diakses dari http://bamumin.wordpress.com/2010/09/02/ayat-ayat-tentang-masyarakat/, pada tanggal 24 Mei 2014 pukul 22.00 WIB.]

Kepedulian sosial adalah senantiasa empati terhadap nasib orang lain, mau mengorbankan tenaga, pikiran dan materi demi terpenuhnya kebutuhan orang lain. Meskipun Al-Quran menerangkan watak, kepribadian, kesadaran, kehidupan dan kematian kepada masyarakat namun Al-Quran tetap mengakui peranan individu, agar setiap orang bertanggung jawab atas diri dan masyarakatnya, ciri dari kepedulian sosial adalah memperhatikan kesusahan orang lain serta meringankan penderitaan yang sedang dialami oleh orang lain.[footnoteRef:3] [3: Sulufiyyah, Masyarakat dan Kepeduliaan Sosial, diakses dari http://sulufiyyah.blogspot.com/2010/05/masyarakat-dan-kepedulian-sosial_03.html, pada tanggal 24 Mei 2014 pukul 22.00 WIB.]

Selain sebagai makhluk individu manusia juga sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk individu manusia membutuhkan makanan, minuman, pakaian, dan masih banyak lagi. Sedangkan sebagai makhluk sosial manusia dalam menjalani hakikat kehidupannya serta kodratinya membutuhkan teman atau dapat dikatakan bahwa manusia yang lain untuk dapat berkomunikasi sehingga terjalinlah adanya suatu persahabatan yang dikarenakan adanya suatu komunikasi dan interaksi antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya. Dari pernyataan di atas dapat dipahami bahwa islam mengajarkan umatnya untuk tidak saling menyakiti antara umat yang satu dengan umat yang lainnya. Adapun hubungannya dengan masyarakat yaitu agar dalam menjalin suatu hubungan dengan manusia yang lain manusia diharapkan untuk tidak saling menyakiti karena telah diketahui bahwa manusia mengadakan suatu perkumpulan yang dalam hal ini adalah masyarakat selalu dilandasi dengan tujuan yang sama, oleh karena itulah hendaknya tujuan yang melandasi manusia untuk berkumpul dengan yang lainnya hendaklah tujuan yang sifatnya baik.Al-quran sebagai sumber ajaran islam telah memberikan perhatian yang besar terhadap perlunya pembinaan masyarakat. Islam merupakan agama sekaligus hukum. Atau dapat juga dikatakan bahwa islam adalah agama yang mengatur hubungan hamba dengan Tuhannya; dengan prinsip bahwa cara yang paling tepat untuk mendekatkan diri kepada Allah adalah berbuat baik terhadap makhluk-Nya dan tidak menyakitinya, karena menyakiti makhluk berarti menyakiti Khaliqnya dan hal ini akan menjauhkan diri dari Allah.[footnoteRef:4] [4: Muhammad Abu Zahrah, Membangun Masyarakat Islam, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1994, hal 11.]

Hal ini dapat dilihat dari adanya berbagai istilah yang dapat dihubungkan dengan konsep pembinaan masyarakat, seperti istilah ummat, qaum, syuub, qabail. Adapun istilah ummat dapat dijumpai pada surah Ali-Imran ayat 110.[footnoteRef:5] [5: Abuddin Natta, Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan , Rajawali Pers, Jakarta, 2001, hal 233]

Artinya: Kamu sekalian adalah umat yang terbaik (khairu ummah) yang dilahirkan untuk manusia, menyeluruh kepada yang maruf, dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah. Dan kalalulah ahli kitab itu beriman , tentulah itu lebih baik bagi mereka (tetapi) di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka orang yang fasik. Dari ayat tersebut kata ummah merupakan konsep pembinaan masyarakat yang disebutkan dalam Al-quran dapat diartikan bahwa masyarakat adalah suatu kumpulan umat yang terbaik dari manusia-manusia yang tidak mengadakan suatu hubungan dengan manusia yang lain, selain itu dari ayat tersebut dapat juga diketahui bahwa masyarakat adalah kumpulan dari manusia-manusia yang mempunyai suatu tujuan yang sama. Akan tetapi masyarakat yang lebih baik adalah suatu masyarakat yang mencegah dari adanya kemungkaran serta beriman kepada Allah. Karena kenyataannya saat ini masyarakat yang ada hanya berkumpul untuk tujuan-tujuan yang sifatnya fasik.Istilah lain yang ada dalam Al-quran adalah syuub dan qabail . Kata syuub dapat diartikan sebagai bangsa sedangkan kata qabail lebih khusus lagi daripada kata syuub karena arti kata qabail adalah suku. Bangsa dan suku termasuk berada dalam masyarakat atau sebagai unsur dari masyarakat. Hal tersebut dapat dilihat pada surah Alhujurat ayat 13.[footnoteRef:6] [6: Ibid, hal 234]

Artinya : Hai manusia sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesunggguhnya orang yang paling mulia di antaranya.Dari ayat tersebut dapat diketahui bahwa Allah SWT, telah menciptakan manusia dengan berbagai macam perbedaan. Adapun perbedaan itu sendiri adalah perbedaan jenis kelamin, bangsa serta suku-suku. Perbedaan yang ada tersebut dibuat sebagai suatu hal yang perlu diketahui dan dianggap oleh umat manusia sebagai suatu kodrati yang ada pada dirinya, dan telah dikatakan juga bahwa bangsa dan suku merupakan unsur dari masyarakat sehingga antara bangsa dan suku akan selalu berkaitan dengan masyarakat, karena hakikatnya masyarakat dapat terbentuk dengan adanya suku-suku serta bangsa yang ada pada suatu wilayah dengan maksud dan tujuan tertentu.

B. Ayat-ayat Tentang Kepedulian Sosial dan KemasyarakatanSurat Al-hujurat berisi petunjukan tentang apa yang harus dilakukan oleh seorang mukmin terhadap Allah SWT, terhadap Nabi dan orang yang menentang ajaran Allah dan Rasul-Nya yaitu orang fasik. Pada surat ini dijelaskan apa yang harus dilakukan oleh seseorang mumkmin terhadap sesamanya dan manusia secara keseluruhan. Adapun etika yang diusung untuk menciptakan sebuah perdamaian dan menghindari pertikaian yaitu menjauhi sikap mengejek orang lain.[footnoteRef:7] [7: Matthoilah, Tafsir Al-quran Surah Al-Hujurat Ayat 11-13, diakses dari http://.digilib.uin-suka.ac.id/7672/1/BAB%20I,%20V,%20DAFTAR%20PUSTAKA.pdf, pada tanggal 27 Mei 2014 pukul 06.30 WIB.]

1. Surah Al-Hujurat (49) Ayat 10 Artinya : Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.Tafsir Ayat:Menurut Quraish kata innamaa digunakan untuk membatasi sesuatu. Di sini kaum beriman dibatasi hakikat hubungan mereka dengan persaudaraan. Ini seakan-akan tidak ada jalinan hubungan antara mereka kecuali hubungan persaudaraan itu. Namun penggunaan innamaa dalam konteks penjelasan tentang persaudaraan antara sesama mukmin ini mengisyaratkan bahwa sebenarnya semua pihak telah mengetahui secara pasti bahwa kaum beriman bersaudara sehingga semestinya tidak terjadi dari pihak manapun hal-hal yang menggan

Click here to load reader

Embed Size (px)
Recommended