Home >Documents >Tabloid Teknokra 123

Tabloid Teknokra 123

Date post:05-Apr-2016
Category:
View:247 times
Download:0 times
Share this document with a friend
Description:
merupakan terbitan Unit Kegiatan Penerbitan Mahasiswa (UKPM) Teknokra Universitas Lampung
Transcript:
  • Tabloid Mahasiswa Universitas LampungNo. 123 Tahun XII Edisi 07-28 Oktober 2012

    Akses: teknokra.comTeknologi, Inovasi, Kreativitas, dan Aktivitas

    Ilmiah Bisa, Populer Juga Boleh!

    Hlm. 8Hlm. 12 Hlm. 6Ada yang menampar dengan tangan, dan sandal. Ada juga yang keningnya dipukul dengan benda sekepalan tangan dan berwarna hitam.

    Pembantu Rektor yang incumbent masih banyak Pekerjaan Rumah makanya mereka berdua masih menjabat, aku Rektor Unila Prof Sugeng P Harianto

    Prof. Satria Bangsawan

    Seorang pemimpin bukan sekedar menjadi seorang yang memberi perintah tetapi harus jadi contoh.

  • Redaksi hanya akan memuat SMS yang disertai identitas lengkap dan bisa dipertanggungjawabkan, Nama/Jurusan/Fakultas/angkatan. Kami akan me nyocokkannya dengan data siakad Unila.

    Pelindung: Prof. Dr. Ir. H. Sugeng P. Harianto, M.S. Penasehat: Prof. Dr. Sunarto, SH.MH Staf Ahli: Prof. Dr. Ir. Muhajir Utomo, M. Sc., Dr. M. Thoha B. Sampoerna Jaya, M,S., Syafarudin, S.Sos., Maulana Mukhlis, S.Sos., M.Ip.,Tony Wijaya S.Sos., M.A.

    Tabloid TEKNOKRA diterbitkan oleh Unit Kegiatan Penerbitan Mahasiswa (UKPM) TEKNOKRA Universitas LampungALAMAT: Gedung PKM Lt. 1 Jl. Soemantri Brodjonegoro No. 1 Bandarlampung 35145, TELEPON: (0721) 788717 EMAIL: ukpmteknokraunila@yahoo.co.id, WEBSITE: teknokra.com

    Sampaikan Keluhanmu lewat SMS Mahasiswa, dengan format Nama_Jurusan/Angkatan_Komentar. Kirim ke 085766749755, 087899203564.

    Suara Mahasiswa

    Comment 2Salam Kami

    Pemimpin Umum : Dian Wahyu Kusuma Pemimpin Redaksi : Nely Merina Pemimpin Usaha : Agnes Lisdiani Kepala Kesekretariatan: Esty Indriyani Safitri Kepala Pusat Pe-nelitian dan Pengembangan: Alvindra Redaktur Pelaksana: Lutfi Yulisa Redaktur Pelaksana Online: Reno Bima Yudha Redaktur Berita: Rika Wati Vina Oktavia Redaktur Foto: Novalinda SilviNovalinda Silviana Redaktur Artistik: Apro han Saputra Redaktur Webdesign: Syintia Kamala (Non Aktif) Fotografer: Faqih AA (Non Aktif) Staf Artistik: M. Burhan Reporter: Sinta S, Jenni A, Yovi L Webde-signer: Hermawan S, Faris Y Kameramen: Yurike PS, Windi DS Manajer Keuangan: Inayati Sofiah Koordinator Periklanan: Desfi Dian Mustika Koordinator Pemasaran: Desisonia (Non Aktif) Staf Keuangan: Rukuan Sujuda Staf Periklanan: Veni PS Staf Pema-saran: M. Faza P Staf Analisis dan Perpustakaan: Bina MZ (Non Aktif), Puji LN Staf Pengkaderan dan SDM: Rudiyansyah Staf Ke-sekretariatan: Indarti, Fitri W Magang: Eko S, Harry C, Meilinda O, Nurul F, Puspa A, Hayatun N, Tara M, Adi N, Andi W, Desi N, Hanna F, Imam G, Imam M, Khoirul A, Kurnia M, M. Nur, Murti K, Nindi L, Puspita S, Riskiani J, Romilda O, Wuri S.

    Kyay AdienjamoOleh Aprohan Saputra

    Judul:Ketika Kekerasan Dianggap Wajar

    Ide & Desain: Aprohan Saputra

    COVER

    No. 123 Tahun XII Trimingguan Edisi 07-28 Oktober 2012

    Ibarat pertunjukan teater dimana penonton tak mau tahu kondisi dibalik layar. Bagaimana pendekorasian sebuah panggung hingga lighting.

    Bagaimana para pemain harus matian-matian latihan. Dan bagaimana kondisi para pemain, sakit atau sehat.

    Penonton tak mau peduli itu. Penonton telah membeli tiket, mereka tak mau kecewa dengan pentas teater yang apa adanya.

    Mereka akan bertepuk tangan jika suguhan bagus dan membuat mereka terpukau. Mereka akan menukar tepuk tangan dengan sebuah timpukan jika hasilnya tak memuaskan.

    Itulah sebuah pentas teater penonton tak mau tahu bagaimana orang-orang jungkir balik dibalik layar. Memang penonton tak mesti tahu.

    Begitu juga dengan terbitnya Tabloid Teknokra, pembaca tak mau tahu bagaimana proses terbitnya tabloid.

    Pembaca tak mau tahu bagaimana kondisi dapur teknokra yang kekurangan sumber daya manusia untuk memasak berita. Atau kondisi awak yang sedang sibuk ujian dan kegiatan nasional.

    Mereka hanya mau tahu terbit-terbit dan terbit karena mereka telah membayar enam ribu rupiah.

    Menerbitkan suatu tabloid harus melewati berbagai proses diawali dengan rapat untuk menyepakati berita apa yang harus diterbitkan. Kemudian melakukan peliputan dengan narasumber yang beragam. Dari yang tak mau berpendapat hingga sibuk tak ada di tempat.

    Setelah mendapat narasumber setelah itu perjalananan masih panjang. Dari proses editing hingga

    Teaterchecking akhir. Bermalam-malam harus me-layout tulisan agar bisa dikemas secara apik sebelum dikirim ke percetakan.

    Setelah terbit bukan berarti tugas kami selesai, kami harus memasarkan hingga sampai ke tangan ribuan orang.

    Itulah kami bak pemain teater selalu ingin menampilkan yang terbaik di atas panggung meski terkadang dinilai buruk. Selalu ingin menutupi kekurangan di depan panggung mesti di belakang layar berantakan.

    Namun tak melulu kami sama dengan pemain teater karena kami tak berakting. Tulisan yang kami terbitkan juga bukan skenario hasil karangan. Berita kami murni hasil peliputan. Inilah terbitan kami yang mungkin jauh dari kata sempurna.=Tetap Berpikir Merdeka !

    Ah, Wajar itu, Mach, Din...Namanya Juga

    Mahasiswa Baru...

    Jangan Jadi Banci, Dik...Mahasiswa yg Masuk

    Unila Adalah Mahasiswa yg Kuat bukan Lembek...

    Loch, Kyay, Kok Mahasiswa pada

    Digamparin...

    Foto Bersama Kang Arul (Rulli Nasrullah) pada Acara Workshop Writerpreneurship UKPM Teknokra Unila di Gedung Aula Fakultas Pertanian Unila, pada Jumat (12/10).

    Foto M. Burhan

    Lingkaran Setan Lingkaran setan tanda kesetiakawanan. Tak boleh terlepas. Yang melepas berarti tak setia kawan. Yang lepas berarti harus dihajar. Masuk Teknik Mesin berarti harus masuk ke dalam lingkaran setan. Lingkaran setan tanda persahabatan. Lingkaran setan awal dari kerajaan impian. Kerajaan superlink seperti Gubernur Teknik impikan.

    Konsep yang aneh tak boleh ada superman, tak boleh ada superwomen. Yang boleh hanya superlink tapi mengapa dalam pemilihan Komandan Tingkat (Komti) mereka mencari superman untuk jadi pemimpin. Dan mereka mencari orang yang terkuat dan terhebat. Yang harus berada di tengahtengah lingkaran setan.

    Mereka tak sadar bahwa mereka telah mengingkari aturan yang telah sepakati. Apalah arti lingkaran setan jika ternyata harus ada orang yang tak bergandengan tangan dan harus ada yang keluar lingkaran untuk berada di depan.

    Dan hingga kini mereka tak sadar darah kekerasan telah mengalir ditubuh kerajaan yang mereka ciptakan. Dan musuh bersama mereka ternyata orangorang yang baru mereka kenal. Yang tak mengerti mengapa mereka harus ditampar, ditendang, dan dipermalukan. Dan mereka menganggap semua itu wajar. Karena ingin membalas apa yang telah mereka rasakan.

    Mahasiswamahasiswa baru itu pun yang jadi tumbal. Perasaan bangga menjadi mahasiswa ternyata harus bercampur ketakutan. Mereka terpaksa ke lingkaran setan untuk membentuk sebuah kerajaan yang senior mereka impikan.

    Lingkaran setan yang menciptakan kerajaan kekerasan. Lingkaran setan yang menganggap bahwa kekerasan adalah wajar. Lingkaran setan mereka maksudkan untuk mengenalkan makna kehidupan. Kehidupan yang mana ? Kehidupan yang seperti apa? Apakah tanpa kekerasan tak akan ada makna kehidupan. Apakah tanpa kekerasan tak akan bisa tercipta solidarity forever seperti yang mereka impikan?

    Mahasiswa baru yang datang dari seberang untuk belajar ternyata mendapatkan tamparan yang berulangulang. tamparan tanda sayang. Tamparan untuk memperkenalkan makna kehidupan. Tamparan untuk mengeratkan persahabatan. Solidarity Forever itu yang mereka banggakan. Patut diacungi jempol solidaritas untuk selamanya. Namun jika harus mencabut hak asasi manusia apakah itu masih patut dibanggakan?

    Tangan yang bergandengan dan membentuk lingkaran akan menciptakan persatuan. Namun jika dengan kekerasan akan melahirkan penyakit keturunan yang bernama dendam. Dendam yang mendarah daging karena terlalu banyak didoktrin bahwa kekerasan adalah wajar. Bahwa lingkaran setan adalah bentuk persahabatan. Lingkaran setan itu telah terbentuk lama dan telah membesar. Mungkin sebentar lagi akan membuat kerajaan impian yang seperti yang mereka inginkan. Lingkaran setan itu mungkin bisa terputus seperti yang Pembantu Rektor III harapkan. Hanya ada dua pilihan lingkaran setan yang diputuskan dan dibentuk lingkaran baru tanpa embelembel setan. Atau lingkaran setan tetap ada dengan Teknik Mesin hanya tinggal kenangan.=

  • No. 123 Tahun XII Trimingguan Edisi 07-28 Oktober 2012

    Kampus Hijau

    Unila-Tek: Selepas prosesi inagurasi Lembaga Kemahasiswaan, Hadi Setiawan dan Mediansyah Resaputra memimpin pekikkan tolakan. Deretan mahasiswa baru menyambut semangat pekikan si pemimpin. Say no to partai mahasiswa, say yes to prestasi! seru Mediyansyah. Rupanya, Gubernur Fakultas Ekonomi mengajak warganya menolak pembentukan partai mahasiswa. Bak gayung bersambut, usaha Mediansyah tak sia-sia. Ia mendapat dukungan dari sejolinya. Dewan Perwakilan Mahasiswa dan seluruh anggota Badan Eksekutif Mahasiswa berada di pihak Mediyansyah.

    Say no to partai mahasiswa, say yes to prestasi!, teriak Hadi Satiawan mendukung rekannya. Ketua DPM FE tak setuju adanya partai mahasiswa karena dua hal. Menurut Hadi, kehadiran partai mahasiswa tak akan membawa dampak pada pemilihan presiden mahasiswa. Hadi meragukan peran partai mahasiswa sebagai jalan untuk mencegah aklamasi. Selain itu, Partai Mahasiswa justru akan dimanfaatkan partai politik untuk mengkader anggota baru. Politiknya mahasiswa bukan di partai, tegas Hadi sebagai ungkapan ketidak setujuannya.

    Mahasiswa jurusan Manajemen ini menilai bahwa politik mahasiswa berbeda dengan politik politikus. Menurutnya, politik mahasiswa lebih baik beradu inovasi dan kreativitas. Hadi juga berjanji, ia dan jajaran DPM FE akan keluar mengikuti jejak DPM FP yang telah keluar dari Keluarga Besar Mahasiswa (KBM). Hadi menyayangkan tidak adanya tindak lanjut dar