Home >Documents >Surimi_Alan_Wijaya_13.70.0101_C4_Unika Soegijapranata

Surimi_Alan_Wijaya_13.70.0101_C4_Unika Soegijapranata

Date post:23-Jan-2016
Category:
View:3 times
Download:0 times
Share this document with a friend
Description:
Praktikum Teknologi Hasil Pangan bab Surimi dilakukan pada tanggal 28 September 2015 di Lab Rekayasa Pangan Unika Soegijapranata pada pukul 15.00 WIB. Praktikum Surimi tersebut didampingi oleh Asisten Dosen Yusdhika Bayu S. Praktikum diawali dengan melakukan kuis tertulis lalu setelah itu Asisten Dosen mulai menjelaskan tentang jalannya praktikum surimi. Setelah itu praktikan melakukan praktikum surimi yang diakhiri pada pukul 18.00 WIB.
Transcript:
  • SURIMI

    LAPORAN RESMI PRAKTIKUM

    TEKNOLOGI HASIL LAUT

    Disusun Oleh:

    Nama : Alan Wijaya

    NIM : 13.70.0101

    Kelompok : C4

    PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN

    FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

    UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA

    SEMARANG

    2015

  • 1

    1. MATERI METODE

    1.1. Alat dan Bahan

    1.1.1. Alat

    Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah pisau, talenan, baskom, mangkok,

    timbangan analitik, alat penggiling daging, kain saring, spatula, loyang, freezer, presser,

    plastik bening, dan milimeter blok.

    1.1.2. Bahan

    Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah ikan bawal, garam, gula pasir,

    polifosfat, dan es batu.

    1.2. Metode

    Ikan dicuci bersih dengan air mengalir.

    Daging ikan difilllet dengan cara dibuang bagian

    kepala, sirip, ekor, sisik, isi perut, dan kulitnya.

  • 2

    Daging ikan diambil dan ditimbang sebanyak 100 gram.

    Daging ikan dimasukkan ke dalam alat penggiling dengan

    ditambahkan es batu, kemudian digiling hingga halus.

    Daging ikan dicuci dengan air es sambil disaring menggunakan kain

    saring sebanyak 3 kali hingga didapatkan tekstur yang gempal.

    Daging ikan ditaruh di dalam plastik, kemudian ditambahkan dengan

    sukrosa sebanyak 2,5% (kelompok 1, 2); 5% (kelompok 3, 4, 5), garam

    sebanyak 2,5% (kelompok 1, 2, 3, 4, 5), dan polifosfat sebanyak 0,1%

    (kelompok 1); 0,3% (kelompok 2, 3); 0,5% (kelompok 4, 5).

  • 3

    Plastik diikat dan ditaruh di dalam loyang untuk

    kemudian dibekukan dalam freezer selama 1 malam.

    Setelah dithawing, surimi diuji kualitas sensorisnya

    yang meliputi kekenyalan dan aroma.

    Surimi diukur tingkat kekerasannya dengan

    menggunakan texture analyzer.

    Surimi dipress dengan

    menggunakan presser.

  • 4

    Luas atas =1

    3a (h0 + 4h1 + 2h2 + 4h3 + + hn)

    Luas bawah =1

    3a (h0 + 4h1 + 2h2 + 4h3 + + hn)

    Luas area basah = Luas atas Luas bawah

    mg H2O =Luas area basah 8,0

    0,0948

    Surimi diukur WHCnya dengan menggunakan milimeter blok

    untuk kemudian dihitung dengan rumus sebagai berikut:

  • 5

    2. HASIL PENGAMATAN

    Hasil pengamatan dapat dilihat pada Tabel 1.

    Tabel 1. Hasil Pengamatan

    Kel. Perlakuan Hardness WHC Sensoris

    Kekenyalan Aroma

    C1 sukrosa 2,5% + garam

    2,5% + polifosfat 0,1% 137,22 gF 293598,53 +++ +++

    C2 sukrosa 2,5% + garam

    2,5% + polifosfat 0,3% 132,55 gF 267004,22 + +

    C3 sukrosa 5% + garam

    2,5% + polifosfat 0,3% 214,65 gF 311814,35 ++ +

    C4 sukrosa 5% + garam

    2,5% + polifosfat 0,5% 126,59 gF 277084,60 ++ ++

    C5 sukrosa 5% + garam

    2,5% + polifosfat 0,5% 159,03 gF 254345,99 + +++

    Keterangan:

    Kekenyalan Aroma

    + : tidak kenyal + : tidak amis

    ++ : kenyal ++ : amis

    +++ : sangat kenyal +++ : sangat amis

    Pada tabel 1 dapat dilihat bahwa perlakuan yang digunakan oleh tiap kelompok berbeda

    yakni pada penambahan sukrosa kelompok C1 dan C2 sebesar 2,5%, pada kelompok C3, C4

    dan C5 sebesar 5%. Kemudian pada penambahan polifosfat dimana kelompok C1

    menggunakan penambahan polifosfat 0,1%, kelompok C2 dan C3 penambahan polifosfat

    0,3%, lalu kelompok C4 dan C5 dengan penambahan polifosfat 0,5%. Didapatkan hasil

    hardness terbesar yakni pada sampel kelompok C3 dengan hardness sebesar 214,65 gF.

    Sedangkan nilai WHC terbesar didapatkan oleh kelompok C3 sebesar 311814,35. Sedangkan

    untuk uji sensoris, sampel yang memiliki kekenyalan paling kenyal yakni kelompok C1 dan

    yang paling tidak kenal didapatkan oleh kelompok C2 dan C5. Lalu untuk aroma, kelompok

    C1 dan C5 memiliki sampel dengan aroma yang sangat amis dan pada kelompok C2 serta C3

    memiliki aroma yang tidak amis.

  • 6

    3. PEMBAHASAN

    Ikan adalah salah satu sumber bahan pangan yang memiliki nilai gizi yang tinggi. Akan tetapi

    ikan sendiri merupakan jenis bahan pangan yang mudah rusak (perishable food). Oleh karena

    itu, untuk mempertahankan mutu dan kesegaran ikan dilakukan pengolahan atau pengawetan

    ikan yang bertujuan untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme yang menyebabkan

    pembusukan. Salah satu cara pengolahan ikan yakni dengan mengolahnya menjadi produk

    setengah jadi atau disebut surimi (Moeljanto, 1992). Surimi adalah daging lumat atau giling

    yang telah melalui proses pembersihan dan pencucian secara berulang ulang sehingga

    komponen komponen yang terkandung didalamnya seperti bau, pigmen, lemak dan darah

    dapat telah hilang atau terbuang (Peranginangin et al., 1999). Kata surimi sendiri berasal dari

    bahasa Jepang yang berarti daging ikan yang telah digiling, dipilin serta dicuci dengan

    menggunakan air untuk meniru produk berharga tinggi seperti kepiting, kerang dan lobster

    (Hajidoun & Jaharpour, 2013). Surimi sendiri diolah dari ikan dimana hanya ikan yang

    memiliki daging berwarna putih, tidak berbau seperti lumpur dan tidak begitu amis yang

    dapat diolah menjadi surimi. Selain itu pula ikan yang digunakan juga harus memiliki

    kemampuan pembentukan gel yang maksimal sehingga dapat dihasilkan surimi yang

    memiliki kualitas yang baik (Suzuki, 1981). Produk pangan yang dihasilkan dari pengolahan

    surimi sendiri meliputi sosis, produk fermentasi berbasis surimi hingga produk ekstrudat

    (Jafarpour & Gorczyca, 2009).

    Pada praktikum ini digunakan bahan ikan yakni ikan bawal dimana ikan bawal memiliki

    warna daging yang putih sehingga surimi yang dihasilkan dapat memiliki kualitas yang lebih

    baik. Sedangkan komponen kimia yang terdapat pada ikan seperti air, protein kasar dan

    lemak berpengaruh besar terhadap sifat, kandungan nutrisi dan kualitas sensori serta stabilitas

    selama penyimpanan. Kandungan lain seperti vitamin, karbohidrat dan mineral memiliki

    jumlah yang lebih sedikit akan tetapi juga berperan dalam menentukan kandungan nutrisi dan

    sifat sensoris pada surimi yang dihasilkan (Sikorski, 1990).

    Mula mula, ikan bawal yang telah disiapkan dicuci dengan menggunakan air mengalir.

    Selanjutnya kepala, sirip, ekor, sisik, isi perut dan kulit dipisahkan dan diambil daging putih

    sebanyak 100 gram. Selanjutnya daging yang telah diambil digiling menggunakan penggiling

    dengan penambahan es batu hingga halus. Setelah itu daging ikan dicuci dengan air es sambil

    disaring dengan menggunakan kain saring sebanyak 3 kali sampai didapatkan tekstur yang

  • 7

    menggempal. Penambahan air dingin pada saat penggilingan berperan penting dalam

    menjaga kondisi ikan agar tetap dingin. Hal ini dikarenakan kandungan protein larut air akan

    hilang pada saat pencucian apabila suhu surimi dan suhu air yang digunakan untuk proses

    pencucian lebih tinggi dari 15oC. Bila suhu air selama pencucian lebih tinggi dari 15

    oC,

    protein yang terdapat pada ikan akan terlarut dalam air dimana hal tersebut akan berpengaruh

    terhadap karakteristik kekuatan gel yang terbentuk. Suhu optimal air selama proses pencucian

    yakni pada kisaran 10oC hingga 15

    oC (Schwarz dan Lee, 1988). Sedangkan pencucian

    berulang ulang bertujuan untuk meningkatkan kualitas gel surimi selama proses pengolahan

    dan penyimpanan. Phatcharat et al. (2012) mengatakan bahwa penggunaan zat aditif protein

    yakni dengan penambahan mikroba transglutaminase dapat meningkatkan kekuatan gel

    surimi. Akan tetapi peningkatan gel surimi juga dapat menggunakan pencucian berulang

    ulang. Menurut Hamzah et al. (2015), pencucian tidak hanya menghilangkan lemak dan

    partikel lain seperti darah, pigmen dan bau akan tetapi juga meningkatkan konsentrasi protein

    miofibrilar (actomyosin) yang terdapat pada daging surimi.

    Selanjutnya ditambahkan sukrosa 2,5% untuk kelompok C1 dan C2, sukrosa 5% untuk

    kelompok C3, C4 dan C5. Kemudian ditambahkan garam sebanyak 2,5% pada semua

    kelompok dan polifosfat sebanyak 0,1% untuk kelompok C1, polifosfat 0,3% untuk

    kelompok C2 dan C3. Lalu polifosfat 0,5% untuk kelompok C4 dan C5. Setelah itu sampel

    dimasukkan dalam wadah dan dibekukan dalam freezer selama 1 malam. Setelah 1 malam,

    surimi di thawing terlebih dahulu dan diukur hardness, WHC serta kualitas sensorinya

    (kekenyalan dan aroma). Untuk mengukur WHC pada surimi digunakan millimeter block dan

    diukur jumlah mgH2O dengan menggunakan rumus berikut :

    () = 1

    3 (0 + 41 + 22 + 43 + . + )

    () = 1

    3 (0 + 41 + 22 + 43 + . + )

    =

    2 = 8,0

    0,0948

    Pada proses leaching ditambahkan garam sebanyak 0,3% dimana garam akan mempercepat

    penghilangan air dari daging ikan yang telah digiling. Selain itu, garam berfungsi untuk

  • 8

    melepas myosin yang terdapat pada serat ikan dimana serat ikan tersebut berdampak pada

    kekuatan gel yang dihasilkan. Semakin banyak myosin yang terlepas maka akan semakin

    maksimal pula kekuatan gel yang dihasilkan (Ditjen Perikanan Tangkap, 1990). Kemudian

    penambahan sukrosa sendiri menurut Winarno et al. (1980), berfungsi untuk meningkatkan

    kualitas surimi yang dihasilkan. Hal ini dikarenakan sukrosa merupakan salah satu jenis

    bahan cryoprotectant. Dimana bahan ini dapat menghambat proses denaturasi pada protein

    selama proses pembekuan dan penyimpanan beku. Hal tersebut akan menginaktifkan

    kondensasi dengan cara mengikat molekul air dengan ikatan hidrogen. Sukrosa tersebut akan

    meningkatkan kemampuan air sebagai bahan pengikat, mencegah pertukaran molekul

    molekul air dan menstabilkan protein pada surimi tersebut (Zhou et al., 2006).

    Cryoprotectant sendiri sangat penting dalam proses pembuatan surimi dikarenakan fungsinya

    untuk melindungi surimi pada saat penyimpanan frozen. Pada saat penyimpanan tersebut

    protein myofibrillar akan kehilangan fungsinya dimana hal tersebut akan berpengaruh

    terhadap perubahan tekstur, penggumpalan protein serta menurunnya WHC (Water Holding

    Capacity) (Rodiana Nopianti et al., 2011). Hal tersebut ditambahkan oleh Dey & Dora

    (2011), yang mengatakan bahwa cryoprotectant dapat meminimalkan efek negatif selama

    penyimpanan dalam keadaaan beku. Hal tersebut dapat dilihat pada parameter fisikkimia,

    biokimia dan sensori, selain sukrosa juga dapat digunakan sorbitol sebagai bahan

    cryoprotectant.

    Kemudian bahan lain yang ditambahkan yakni polifosfat dimana penambahan polifosfat

    bertujuan untuk memisahkan aktomiosin dan juga agar dapat berikatan dengan miosin. Hasil

    dari ikatan polifosfat dengan miosin sendiri memiliki fungsi untuk menahan mineral dan

    vitamin. Fungsi lain dari penambahan polifosfat sendiri agar dapat meningkatkan nilai

    kelembutan serta memperbaiki elastisitas pada surimi. Penambahan polifosfat yang optimum

    yakni sebesar 0,2 % hingga 0,3% sehingga mampu memperbaiki kemampuan daya ikat air

    (Water Holding Capacity) (Peranginangin et al., 1999).

    3.1. Hardness dan Water Holding Capacity (WHC)

    Pada hasil pengamatan tabel 1 dapat dilihat bahwa nilai Hardness dan WHC paling besar

    didapatkan oleh kelompok C3 dengan nilai hardness sebesar 214,65 gF dan nilai WHC

    sebesar 311.814,35 mg H2O Perlakuan yang dilakukan oleh kelompok C3 yakni dengan

    menambahkan sukrosa 5%, garam 2,5% dan polifosfat 0,3%. Menurut Fennema (1985),

    sukrosa mempunyai gugus polihidroksi dimana ikatan hidrogennya dapat bereaksi dengan

  • 9

    molekul air. Hal ini akan menyebabkan tegangan permukaan meningkat dan mencegah

    keluarnya molekul air dari protein serta akan menjaga stabilitas protein sehingga tekstur tetap

    elastis. Oleh karena itu semakin besar konsentrasi sukrosa yang digunakan maka akan

    semakin elastis tekstur surimi sehingga nilai hardness akan semakin menurun. Hal ini tidak

    sesuai dengan praktikum yang dilakukan dimana nilai hardness kelompok C3 dan C5 yang

    menggunakan sukrosa lebih besar tetapi malah mengalami peningkatan nilai hardness.

    Sedangkan penambahan garam menurut Suzuki (1981) bertujuan untuk menurunkan

    kandungan air yang terdapat dalam kandungan daging ikan giling dari surimi sehingga dapat

    terbentuk gel yang elastis dan fleksibel. Pada percobaan yang dilakukan konsentrasi garam

    yang digunakan setiap kelompok sama yakni sebesar 2,5%. Namun nilai WHC juga dapat

    dipengaruhi oleh penambahan polifosfat dikarenakan polifosfat dapat meningkatkan daya ikat

    air serta kelembutan pada adonan surimi. Sehingga semakin besar konsentrasi polifosfat yang

    digunakan akan semakin meningkatkan nilai WHC yang dihasilkan (Tan et al., 1988). Pada

    percobaan yang dilakukan hasil yang didapatkan masih tidak sesuai dengan teori yang ada

    dimana nilai WHC terbesar didapatkan oleh penambahan polifosfat dengan kadar 0,3%.

    3.2. Analisa Sensoris

    Pada hasil sensoris yang dilakukan oleh salah seorang praktikan menunjukkan nilai

    kekenyalan paling tinggi didapatkan oleh kelompok C1 dengan perlakuan sukrosa 2,5%,

    garam 2,5% dan polifosfat 0,1% dimana nilai tingkat kekenyalan yang diberikan yakni + + +

    (sangat kenyal) dan kekenyalan paling rendah didapatkan oleh kelompok C2 dan C5 dengan

    nilai kekenyalan + (tidak kenyal). Menurut Shaviko et al. (2010), semakin besar penambahan

    konsentrasi sukrosa dan garam akan menghasilkan nilai WHC yang akan semakin besar pula.

    Diperjelas oleh Toyoda et al. (1992), semakin besar konsentrasi polifosfat yang ditambahkan

    juga akan meningkatkan nilai WHC dimana semakin besar nilai WHC yang dihasilkan maka

    akan semakin rendah kekenyalannya. Hal ini dikarenakan semakin tinggi nilai WHC maka

    kandungan air (mg H2O) yang terdapat pada surimi juga akan semakin banyak sehingga

    kekenyalan pada surimi akan rendah. Dari hasil yang didapatkan kekenyalan paling rendah

    didapatkan oleh nilai WHC yang rendah pula sehingga tidak sesuai dengan teori yang ada.

    Hal ini dapat diakibatkan karena pengadukan yang kurang maksimal selama praktikum

    sehingga penyerapan sukrosa ke dalam daging giling kurang sempurna. Selain itu pula

    pemerasan yang tidak benar dapat mengakibatkan kandungan air pada daging surimi lebih

  • 10

    banyak. Air yang seharusnya tidak terikat oleh sukrosa dan garam yang seharusnya keluar

    selama proses pemerasan masih berada dalam daging surimi.

    Sedangkan untuk uji sensoris aroma surimi yang menghasilkan bau sangat amis didapatkan

    oleh surimi kelompok C1 dan C5. Lalu untuk surimi yang tidak amis yakni surimi yang

    dihasilkan oleh kelompok C2 dan C3 dengan penambahan sukrosa 2,5 %, garam 2,5% dan

    polifosfat 0,3%. Surimi yang dihasilkan seharusnya menghasilkan aroma yang tidak amis,

    timbulnya bau amis yang sangat amis dapat dikarenakan proses pencucian yang dilakukan

    pada awal percobaan kurang maksimal. Irianto (1990), mengatakan bahwa proses pencucian

    dilakukan sebagai treatment awal memiliki tujuan untuk menghilangkan aroma atau bau amis

    yang dikarenakan adanya senyawa trimetilamin (senyawa utama pembentuk aroma pada

    ikan). Sedangkan Suzuki (1981), menambahkan bahwa uji sensoris yang dilakukan oleh

    manusia cenderung tidak tepat dikarenakan persepsi yang berbeda dari setiap manusia.

  • 11

    4. KESIMPULAN

    Surimi adalah daging lumat atau giling yang telah melalui proses pembersihan dan

    pencucian secara berulang ulang.

    Pencucian yang berulang ulang dapat meningkatkan gel surimi yang dihasilkan.

    Penambahan garam berfungsi untuk melepas myosin yang terdapat pada serat ikan

    dimana serat ikan tersebut berdampak pada kekuatan gel yang dihasilkan.

    Sukrosa dapat menghambat proses denaturasi pada protein selama proses pembekuan dan

    penyimpanan beku.

    Penambahan polifosfat bertujuan untuk memisahkan aktomiosin dan juga agar dapat

    berikatan dengan miosin.

    Penambahan polifosfat yang optimum yakni sebesar 0,2 % hingga 0,3%.

    Semakin besar konsentrasi sukrosa yang digunakan maka akan semakin elastis tekstur

    surimi.

    Semakin besar konsentrasi sukrosa yang digunakan akan menyebabkan nilai hardness

    akan semakin menurun.

    Semakin besar konsentrasi sukrosa, garam dan polifosfat yang digunakan akan semakin

    tinggi pula nilai WHC (Water Holding Capacity).

    Semakin tinggi nilai WHC yang dihasilkan maka semakin rendah tingkat kekenyalan

    surimi yang dihasilkan.

    Aroma amis yang dihasilkan ikan dikarenakan senyawa trimetilamin yang tidak hilang

    selama proses pencucian.

    Semarang, 19 Oktober 2015

    Praktikan, Asisten Dosen

    - Yusdhika Bayu S

    Alan Wijaya

    (13.70.0101)

  • 12

    5. DAFTAR PUSTAKA

    Ali J, Elisabeth M. G. 2009. Rheological Characteristics and Microstructure of Common

    Carp (Cyprinus carpio) Surimi and Kamaboko Gel. Food Biophysics 4:172-179.

    [Ditjen Perikanan] Direktorat Jenderal Perikanan. 1990. Buku Pedoman Pengenalan Sumber

    Perikanan Laut. Jakarta: Direktorat Jenderal Perikanan, Departemen Pertanian.

    Fennema, O.R. (1985). Food Chemistry-Second Edition, Revised and Expanded. New York:

    Marcel Dekker, Inc.

    Habib A, A. Jafarpour. 2013. The Influence of Chitosan on Textural Properties of Common

    Carp (Cyprinus Carpio) Surimi. J Food Process Technol 4: 226.

    Irianto B. (1990). Teknologi surimi salah satu cara mempelajari nilai tambah ikan ikan yang

    kurang dimanfaatkan. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 9 (2): 35 39.

    Moeljanto.(1992). Pengawetan dan Pengolahan Hasil Perikanan. Jakarta : Penebar Swadaya

    Junianto. 2003. Teknik Penanganan Ikan. Penebar Swadaya. Bandung.

    N. Hamzah, N. M. Sarbon, A. M. Amin. 2015. Physical properties of cobia (Rachycentron

    canadum) surimi: effect of washing cycle at different salt concentrations. J Food Sci

    Technol 52(8):47734784

    Peranginangin R, Wibowo S, Nuri Y, Fawza. 1999.Teknologi PengolahanSurimi.Jakarta:

    Instalasi Penelitian Perikanan Laut Slipi, Balai Penelitian Perikanan Laut.

    Phatcharat, S; Benjakul, S; Visessanguan, W. (2004). Effect of Washing with Oxidising

    Agents on The Gel-Forming Ability and Physicochemical Properties of Surimi

    Produced From Bigeye Snapper (Priacanthus tayenus). Department of Food

    Technology Prince of Songkla University Thailand.

    Rodiana N, Nurul H, Noryanti I. 2011. A Review on the Loss of the Functional Properties of

    Proteins during Frozen Storage and the Improvement of Gel-forming Properties of

    Surimi. American Journal of Food Technology 6 (1): 19-30.

    Satya S. D, Krushna C. D. 2011. Suitability of chitosan as cryoprotectant on croaker fish

    (Johnius gangeticus) surimi during frozen storage. J Food Sci Technol (NovemberDecember 2011) 48(6):699705

    Schwarz MD, Lee CM. 1988. Comparison of the thermostability of redhake and alaska

    pollack surimi during processing. Journal of Food Science. Vol. 53 (5): 1347 1351.

  • 13

    Shaviklo, G. R., Gudjon T., and Sigurjon Arason. (2010). The Influence of Additives and

    Frozen Storage on Functional Properties and Flow Behaviour of Fish Protein Isolated

    from Haddock (Melanogrammus aeglefinus). Turkhish Journal of Fisheries and Aquatic

    Sciences 10: 333-340.

    Sikorski ZE. 1990.Seafood: Resources, Nutritional Composition andPreservation. Florida:

    CFC Press Inc, Boca Ratan.

    Suzuki T. 1981. Fish and Krill Protein: Processing Technology. London: Applied Science

    Publishers Ltd.

    Tan SM, Ng MC, Fujiwara T, Kok KH, and Hasegawa H. (1988). Handbook on the

    Processing of Frozen Surimi and Fish Jelly Products in Southeast Asia.Marine

    Fisheries.Research Department-South East Asia Fisheries Development Center.

    Singapore.

    Toyoda, K., Shiraishi, T., Yoshioka, H., Yamada, T., Ichinose, Y. and Oku, H. (1992)

    Regulation of Polyphosphoinositide Metabolism in Peaplasma Membrane by Elicitor

    and Suppressor from a Pea Pathogen, Mycosphaerellapinodes. Plant Cell Physiol. 33:

    445-452.

    Winarno FG, Fardiaz S, Fardiaz D. (1980). Pengantar Teknologi Pangan. Jakarta: PT.

    Gramedia.

    Zhou A, Benjakul S, Pan K, Gong J, Liu X. (2006). Cryoprotective Effect of Trehalose and

    Sodium Lactate on Tilapia (Sarotherodon nilotica) Surimi Durimg Frozen Storage.

    Journal of Food Chemistry 96(2):96-103.

  • 14

    6. LAMPIRAN

    6.1. Perhitungan

    Rumus:

    Luas atas =1

    3a (h0 + 4h1 + 2h2 + 4h3 + + hn)

    Luas bawah =1

    3a (h0 + 4h1 + 2h2 + 4h3 + + hn)

    Luas area basah = Luas atas Luas bawah

    mg H2O =Luas area basah 8,0

    0,0948

    Kelompok C1

    Luas atas =1

    3 37 (82 + 4 181 + 2 201 + 4 194 + 143) = 35350,11

    Luas bawah =1

    3 37 (82 + 4 37 + 2 30 + 4 44 + 143) = 7508,97

    Luas area basah = 35350,11 7508,97 = 27841,14

    mg H2O =27841,14 8,0

    0,0948= 293598,53

    Kelompok C2

    Luas atas =1

    3 45 (119 + 4 200 + 2 208 + 4 201 + 95) = 33510

    Luas bawah =1

    3 45 (119 + 4 33 + 2 26 + 4 37 + 95) = 8190

    Luas area basah = 33510 8190 = 25320

    mg H2O =25320 8,0

    0,0948= 267004,22

    Kelompok C3

    Luas atas =1

    3 48 (122 + 4 218 + 2 230 + 4 207 + 120) = 38432

    Luas bawah =1

    3 48 (122 + 4 34 + 2 20 + 4 34 + 120) = 8864

    Luas area basah = 38432 8864 = 29568

    mg H2O =29568 8,0

    0,0948= 311814,35

  • 15

    Kelompok C4

    Luas atas =1

    3 46 (90 + 4 184 + 2 201 + 4 190 + 120) = 32315,64

    Luas bawah =1

    3 46 (90 + 4 19 + 2 8 + 4 23 + 120) = 6040,02

    Luas area basah = 32315,64 6040,02 = 26275,62

    mg H2O =26275,62 8,0

    0,0948= 277084,60

    Kelompok C5

    Luas atas =1

    3 45 (120 + 4 198 + 2 222 + 4 217 + 112) = 35040

    Luas bawah =1

    3 45 (120 + 4 50 + 2 44 + 4 52 + 112) = 10920

    Luas area basah = 35040 10920 = 24120

    mg H2O =24120,00 8,0

    0,0948= 254345,99

    6.2. Laporan Sementara

Click here to load reader

Reader Image
Embed Size (px)
Recommended