Home >Documents >stressor dan coping strespada ibu rumah tangga yang tidak bekerja

stressor dan coping strespada ibu rumah tangga yang tidak bekerja

Date post:13-Jan-2017
Category:
View:222 times
Download:7 times
Share this document with a friend
Transcript:
  • 1

    STRESSOR DAN COPING STRESPADA IBU RUMAH TANGGA YANG TIDAK BEKERJA

    SUKMA AYU FAKULTAS PSIKOLOGI

    UNIVERSITAS GUNADARMA

    ABSTRAKSI Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui stressor (sumber stres) dan coping stress pada ibu rumah tangga yang tidak bekerja. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan deskriptif. Subjek dalam penelitian ini adalah ibu rumah tangga yang tidak bekerja berjumlah 50 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner terbuka, digunakan untuk mengukur stressor dan skala coping untuk mengukur coping stres. Untuk mengukur stressor terlebih dahulu dilakukan pengkategorian respon-respon jawaban subjek yang sejenis, kemudian dikelompokkan berdasarkan stressor (sumber stres) menurut Sarafino (1998). Berdasarkan hasil analisis data penelitian yang diperoleh, dapat ditarik kesimpulan bahwa stressor ibu rumah tangga yang tidak bekerja adalah masalah dengan suami, masalah dengan anak, masalah keuangan, anggaran rumah tangga yang semakin mahal, masalah terhadap diri sendiri, masalah dengan pekerjaan rumah tangga, masalah keluarga, campur tangan mertua dan BBM. Dari semua stressor tersebut jika dikelompokkan diketahui bahwa mayoritas stressor ibu rumah tangga yang tidak bekerja adalah dari keluarga, yang kedua dari diri individu, dan yang ketiga dari lingkungan atau masyarakat. Untuk mengukur coping stres dlakukan uji validitas dan reliabilitas dengan teknik Alpha Cronbach. Dari 52 item dimensi Problem Focused Coping (PFC), Emotion Focused Coping (EFC), dan Maladaptive Coping (MALC). Pada dimensi PFC dari 20 item yang diujicobakan terdapat 12 item yang valid dengan kisaran antara 0,301 sampai 0,605. Uji reliabilitas diperoleh sebesar 0,805. Pada dimensi EFC dari 20 item yang diujicobakan diperoleh 19 item valid dengan kisaran antara 0,321 sampai 0,682. Uji reliabilitas diperoleh sebesar 0,904. Sedangkan pada dimensi MALC dari 12 item yang diujicobakan diperoleh 10 item valid yang kisaran antara 0,355-0,632. Uji reliabilitas diperoleh sebesar 0,791. Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan means/skor rata-rata jumlah subjek yang diperoleh mean PFC adalah 2,830, mean EFC adalah 3,134 dan yang terakhir mean MALC 1,973. Secara umum subjek penelitian menggunakan jenis Emotion Focused Coping (EFC). Setelah dilakukan Analisis Descriptive Statistics subjek penelitian memiliki strategi EFC yang cenderung tinggi dimana mean empiric sebesar 59,56, strategi PFC yang cenderung sedang dengan empiric sebesar 33,96 dan strategi MALC yang cenderung rendah dengan mean empiric sebesar 19,00. Adapun strategi coping yang digunakan ibu rumah tangga yang tidak bekerja untuk mengatasi stressor meliputi Problem Focused Coping (PFC) dengan cara Active Coping dan Suppression of Competing Activities. Untuk Emotion Focused Coping (EFC) dengan cara Positive Reinterpretation and Growth dan Turning to Religion. Yang terakhir untuk Maladaptive Coping (MALC) adalah Mental Disengagement. Kata Kunci : Stressor, Coping stres, Skripsi

  • 1

    PENDAHULUAN

    Latar Belakang Masalah

    Manusia dialam dunia ini memegang

    peranan yang unik dan dapat dipandang dari

    banyak segi. Manusia di dalam hidup ini,

    termasuk wanita selalu menginginkan peran di

    dalam pekerjaan maupun di lingkungan

    keluarga. Di dalam tahap untuk berkeluarga,

    wanita yang sudah memusatkan untuk

    berkeluarga biasa disebut sebagai ibu rumah

    tangga (Ibrahim, 2005).

    Ibu rumah tangga adalah suatu peran

    yang otomatis diterima seorang wanita. Disaat

    ia mulai berkeluarga. Sekaligus melakukan

    kegiatan yang berpusat mengurusi, mendidik,

    melayani, mengatur, mengurus anak dan

    suami. Sebagian waktunya berada di dalam

    rumah yang memiliki tanggung jawab yang

    timbul secara spontan dan tidak dapat

    diramalkan (Kartono, 2006).

    Para wanita ingin membangun

    kehidupan ekonomi keluarga rumah tangga

    yang mantap dan mapan, tetapi kadang-kadang

    isteri dituntut suaminya tidak bekerja dengan

    mengurus keperluan rumah tangga terutama

    pada anak-anak dan suami atau dipihak lain

    ada juga keinginan isteri sendiri untuk menjadi

    ibu rumah tangga. Kadang kala ada wanita

    telah bercita-cita bekerja di kantor dan meniti

    karir, sebagian tidak ingin terikat oleh ruang

    dan waktu dibelakang meja dan sebagian lagi

    ada berkeinginan untuk menjadi ibu rumah

    tangga yang berwawasan luas dalam mendidik

    anak dan keluarga (Kartono, 2006).

    Para ibu banyak yang mengalami

    dilema dalam peran yang mereka mainkan.

    Satu sisi mereka menginginkan untuk

    mengasuh anak-anak sepenuhnya, disisi lain

    mereka tetap ingin berkarya dan membentuk

    perekonomian keluarga. Kedua pilihan ini

    sering begitu sulit diputuskan. Akhirnya

    seringkali ada ketidaksesuaian antara

    keinginan dengan kenyataan yang dijalani para

    ibu (Kartono, 2006).

    Ada kalanya seorang wanita benar-

    benar ingin menjadi ibu rumah tangga seratus

    persen dengan tujuan untuk berkonsentrasi

    untuk mengurus, mendidik, melayani dan

    mengatur keluarga. Telah banyak diketahui,

    bahwa ibu rumah tangga mempunyai tugas

    untuk mengurus segala keperluan atau

    kebutuhan rumah tangga. Pada umumnya

    wanita menganggap bahwa menjadi ibu rumah

    tangga bukan suatu pekerjaan, karena seorang

    wanita yang berkeluarga akan secara langsung

    menerima perannya sebagai ibu rumah tangga

    (Mappiare, 1983).

    Status sebagai seorang ibu dengan

    mencurahkan kasih sayang kepada keluarga.

    Pada saat anak mulai beranjak dewasa,

    misalnya : untuk bersekolah dengan

    meninggalkan rumah satu harian dengan

    melakukan kegiatan diluar rumah atau

    kadangkala anak dalam suatu pihak,

    khususnya pada masa remaja banyak anak

    yang bosan tinggal dirumah karena banyak

    pergaulan di luar rumah yang lebih menarik

  • 2

    dari pada keadaan rumah sendiri (Mappiare,

    1983).

    Dari gambaran diatas maka seorang

    ibu yang ditinggalkan anaknya untuk

    bersekolah atau meninggalkan rumah ada

    perasaan kesepian. Untuk menjadi stay at

    home mother tidak jarang melahirkan

    perasaan kurang puas. Kesepian merupakan

    salah satu penyebab timbulnya stres (Goliszek,

    2005).

    Stres adalah suatu istilah yang secara

    umum dapat menekankan reaksi psikologis

    dan fisiologi di dalam lingkungan. Biasanya

    stres timbul di karenakan mandapat ancaman

    baik dalam diri individu ataupun psikologinya

    (Roediger, 1984).

    Respon terhadap stres pada manusia

    sangat terpersonalisasikan dan bervariasi bagi

    setiap orang bahkan pada individu pada saat-

    saat berbeda-beda. Gejala stres terjadi setiap

    hari. Karena itu banyak orang yang

    mengabaikan dan menganggapnya sebagai hal

    yang biasa. Memang banyak kondisi yang

    berhubungan dengan stres sehingga terasa

    biasa. Salah satu teori stres yang paling

    populer menyatakan bahwa individu yang

    toleran terhadap stres memiliki sikap hidup

    yang terkendali. Di lain pihak individu yang

    mengalami stres merasa tidak berdaya

    terhadap peristiwa-peristiwa yang ada

    disekitarnya, jika tidak diatasi maka

    berdampak negatif (Goliszek, 2005).

    Individu yang mengalami stres, maka

    individu tersebut akan melakukan perilaku

    coping, hal ini disebabkan oleh timbulnya

    perasaan yang tidak menyenangkan, akibat

    tujuan yang ingin dicapai yaitu menghilangkan

    atau mengurangi stres yang dirasakan oleh

    individu untuk mengubah stressor (Taylor

    dalam Rice, 1998).

    Coping stres adalah usaha untuk

    mengatur tuntutan dari lingkungan, baik dari

    dalam ataupun dari luar dan usaha untuk

    mencari jalan keluar, untuk mengurangi stres

    (Halonen & Santrock, 1999).

    Didalam teknik stres ada 3 macam,

    yaitu : Problem Focused Coping yaitu

    mencakup bertindak secara langsung untuk

    mengatasi masalah atau mencari informasi

    yang relevan dengan solusinya, Emotion

    Focused Coping yaitu merujuk pada berbagai

    reaksi emosional negatif terhadap stres,

    Coping maladaptive yaitu perilaku coping

    yang tidak efektif (Carver dkk, 1989)

    Dari uraian diatas maka peneliti

    tertarik untuk mengetahui apa saja sumber

    stres dan bagaimana coping stres pada ibu

    rumah tangga yang tidak bekerja ?

    Tujuan Penelitian

    Penelitian ini bertujuan untuk

    memperoleh gambaran mengenai sumber stres

    dan perilaku coping stres pada ibu rumah

    tangga yang tidak bekerja.

    Pertanyaan Penelitian

    1. Bagaimana gambaran stres pada ibu rumah

    tangga yang tidak bekerja?

  • 3

    2. Mengapa ibu rumah tangga yang tidak

    bekerja menjadi stres?

    3. Bagaimana ibu rumah tangga yang tidak

    bekerja mengatasi stres?

    Manfaat Penelitian

    Penelitian ini diharapkan memiliki 2 manfaat,

    yaitu :

    1. Manfaat Praktis

    Hasil penelitian ini diketahui bahwa ibu

    rumah tangga yang tidak bekerja

    mengalami stress dan melakukan coping

    terhadap situasi yang menimbulkan stres,

    sehingga para ibu rumah tangga dapat

    mengambil langkah serta memilih coping

    yang terbaik dalam menghadapi situasi

    stres.

    2. Manfaat Teoritis

    Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat

    ikut memperkaya wawasan dan teori-teori

    dari literatur yang sudah ada. Dapat

    memberi masukan bagi pengembangan

    ilmu psikologi serta memberi

Embed Size (px)
Recommended