Home >Documents >Stress Metabolik

Stress Metabolik

Date post:19-Feb-2016
Category:
View:75 times
Download:0 times
Share this document with a friend
Description:
Stress Metabolik
Transcript:

Stress Metabolik dan kebutuhan nutrien

Sepsis (infeksi)Trauma (termasuk luka bakar)Tindakan bedah

Setelah respon sistemik teraktivasi, perubahan fisiologis dan metabolik yang mengikuti adalah sama dan bisa memicu terjadinya syok septik.

Stres Metabolik1Neurotransmiter dan hormon yang mempengaruhi pusat makan dan pusat kenyang di hipotalamusMenurunkan nafsu makan ( anoreksigenik)Meningkatkan nafsu makan ( oreksigenik ) - melanocyte-stimulating hormon ( MSH) LeptinSerotoninNorepinefrinHormon pelepas-kortikotropinInsulinKolesistokinin (CCK)Peptida mirip-glukagon (GLP)Cocaine-and amphetamine-relguated transcrip (CART)Peptida YY ( PYY)

Neuropeptida Y ( NPY)Agouti related protein (AGRP)Hormon pemekat-melanin (MCH)Oreksin A dan BEndorfinGalanin (GAL)Asam amino ( asam glutamat dan - aminobutirat)KortisolGhrelin

2Keadaan inflamasi sitokin adalah peptida yang bersifat katabolik anoreksiaKolesistokinin (CCK): katabolik febrigenesis yang menimbulkan anoreksia, meningkatkan metabolisme dan temperaturLeptin akan memicu pengeluaran sitokin dan peptida katabolik lain anoreksiaMSH dan corticotropin releasing factor: memicu mekanisme adaptif katabolik Infeksi, demam dan anoreksiaHypermetabolic Response to StressCause

Algorithm content developed by John Anderson, PhD, and Sanford C. Garner, PhD, 2000.4Immediate Physiologic and Metabolic Changes after Injury or Burn

ADH, Antiduretic hormone; NH3, ammonia.5Keadaan hiperkatabolik: dipicu oleh karena diproduksinya berbagai mediator akibat adanya trauma, sepsis, dan sakit lanjutMunculan: kehilangan protein yang progresif, gangguan metabolisme karbohidrat, peningkatan oksidasi lemak, peningkatan volume ekstraseluler organ failure tapi juga berperan dalam proses perbaikan dan menurunkan infalamasiKeadaan hiperkatabolikMoore dkk menemukan terjadi peningkatan ekskresi nitrogen, kalium dan fosfor di urin setelah terjadi traumaZat gizi yang sama yang ada di ototMoore dkk berkesimpulan terdapat dua fase setelah terjadi trauma: fase ebb dan fase flowRespon metabolik pada Trauma dan keadaan sakit

Hypermetabolic Response to StressPathophysiologyAlgorithm content developed by John Anderson, PhD, and Sanford C. Garner, PhD, 2000.8Setelah trauma terdapat 2 faseEbb Phase : respon seketika setelah traumaFlow Phase: Fase setelah ebb phase berakhirTraumaInstabilitas hemodinamik, ekstremitas dingin, hipometabolikWaktu: bervariasi, 12-24 jam, paling lama 3 hariTergantung cukupnya resusitasi cairanCardiac output menurunKonsumsi oksigen berkurangPenggunaan substrat menurunPenurunan fungsi selEbb Phase:

Peningkatan cardiac putPeningkatan expenditure, Peningkatan ekskresi nitrogenPeningkatan hormon katekolamin, kortisol dan glukagonPeningkatan mobilisasi asam amino dan asam lemak dari perifer Bertujuan mempercepat perbaikanFlow Phase:

Respon metabolik yang dapat mengubah penggunaan energi dan proteinUntuk menjaga fungsi organDan memperbaiki kerusakan jaringanPeningkatan konsumsi oksigen, tingkat metabolisme

Fase FlowTerjadi peningkatan signifikan produksi glukosa dan uptake sekunder glukoneogenesis, dan

Peningkatan level hormon Peningkatan uptake asam amino hepatik Sintesa Protein Percepatan pemecahan protein ototHormonal and Cell-Mediated Response13Skeletal Muscle ProteolysisFrom Simmons RL, Steed DL: Basic science review for surgeons, Philadelphia, 1992, WB Saunders.

14Metabolic Response to TraumaFatty DepositsLiver & Muscle (glycogen)Muscle (amino acids)Fatty Acids

Glucose

Amino AcidsEndocrine Response15Endocrine response in the form of increased catecholamines, glucocorticoids and glycogen, leads to mobilization of tissue energy reserves. These calorie sources include fatty acids and glycerol from lipid reserves, glucose from hepatic glycogen (muscle glycogen can only provide glucose for the involved muscle) and gluconeogenic precursors (eg, amino acids) from muscle.

Metabolic Response to Trauma102030402824201612840Nitrogen Excretion (g/day)DaysLong CL, et al. JPEN 1979;3:452-456

16This slide illustrates nitrogen losses in relation to trauma. With respect to protein, the greater the trauma, the greater the effect on the nitrogen balance. Similar to metabolic rate, patients experience nitrogen losses according to the severity and duration of the trauma.The normal range is indicated by the shaded area. The amount of protein requirement relative to calories increases in patients with metabolic stress.

Long CL, et al. JPEN 1979;3:452-456. Severity of Trauma: Effects on Nitrogen Losses and Metabolic RateAdapted from Long CL, et al. JPEN 1979;3:452-456 Basal Metabolic RateCirugamayorCirugaelectivaInfeccinSepsisgraveQuemaduramoderada a graveNitrogen Loss in UrineMajorSurgeryElectiveSurgeryInfectionSevereSepsisModerate to SevereBurn17This graph illustrates that severity of injury correlates to increasing urinary nitrogen loss and increasing energy needs. Elective surgery being least traumatic and the lowest nitrogen loss in urine, whereas burn results in an increase in basal metabolic rate and urinary loss of nitrogen.

Adapted from Long CL, et al. JPEN 1979;3:452-456. Metabolic Changes in Starvation

From Simmons RL, Steed DL: Basic science review for surgeons, Philadelphia, 1992, WB Saunders.18Starvation vs. StressRespon Metabolik thd stress berbeda dg respon terhadap kelaparan.Starvation = penurunan energi expenditure, menggunakan energi alternatif, penurunan protein wasting, penggunaan cadangan glikogen pada 24 jam pertamaLate starvation = fatty acids, ketones, and glycerol provide energy for all tissues except brain, nervous system, and RBCs

19Energy Expenditure in Starvation Long CL et al. JPEN 1979;3:452-456010203040Partial StarvationDaysNitrogen Excretion (g/day)1284Total StarvationNormal Range20The two lines on this graph show another adaptive response to severely reduced calorie intake. Urinary nitrogen excretion gradually decreases, indicating conservation of body protein and demonstrating adaptation to starvation.

Long CL et al. JPEN 1979;3:452-456 Metabolic Response to TraumaTimeEnergy ExpenditureEbb PhaseFlow PhaseCutherbertson DP, et al. Adv Clin Chem 1969;12:1-5521Trauma causes major alterations in energy and protein metabolism.The response to trauma can be divided into the ebb phase and the flow phase. The ebb phase occurs immediately after trauma and lasts from 24-48 hours followed by the flow phase. After this, comes the anabolism phase and finally, the fatty-replacement phase.

Cuthbertson DP, et al. Adv Clin Chem 1969;12:1-55.

Aldosteronecorticosteroid menyebabkan retensi sodiumAntidiuretic hormone (ADH)merangsang absorpsi air di tubular renal Mempertahankan air dan garam untuk menunjang sirkulasi volume darahHormonal Stress Response22ACTHbekerja di cortex adrenal untuk melepas cortisol (menggerakkan asam amino dari otot skeletas).Katekolamin epinefrin dan norepinefrin dari medulla renal untuk menstimulasi glikogenolisis hepatik, mobilisasi lemak, glukoneogenesis.

Hormonal Stress Responsecontd23Interleukin-1, interleukin-6, and tumor necrosis factor (TNF)Dilepas oleh fagosit dalam respon jaringan yang rusak, infeksi, inflamasi, dan beberapa obat serta bahan kimia.

Sitokin24Pada fase flow, pemakaian energi meningkat, seiring peningkatan tingkat metabolismeKonsumsi oksigen bertambah, seiring bertambahnya oksidasi zat gizi mayor (karbohidrat, lemak dan asam amino)Peningkatan sesuai dengan besarnya trauma: minimal hingga dua kali lipat pada luka bakar 40% Pemakaian energiDasar penatalaksanaan: menjaga hemodinamik, optimalisasi strategi ventilasi, pemberian cairan, mengontrol fungsi organ, dan pemberian nutrisiPeningkatan tingkat metabolisme mobilisasi simpanan energiGlikogen (cadangan karbohidrat): menurun dalam 24 jam setelah traumasimpanan lemak dan protein menjadi sumber energi utama glukoneogenesisPeningkatan ekskresi nitrogen dalam bentuk urea, sesuai besarnya traumaJuga dalam bentuk kreatinin, ammonia, asam urat, dan asam amino kehilangan massa otot signifikan setelah traumaCadangan lemak juga termobilisasi dan teroksidasi pada keadaan hipermetabolik

Peningkatan hormon glukokortikoid, katekolamin, dan glukagonProtein adalah salah satu cadangan energiPada trauma, cadangan ini termobilisasiTerjadi pengeluaran asam amino dari dari perifer dan peningkatan ekskresi nitrogenPeningkatan sesuai luas dan beratnya traumaTerjadi keseimbangan nitrogen negatifSesuai juga dengan peningkatan konsumsi oksigenMetabolisme ProteinKehilangan protein jika tidak cepat dikoreksi akan menyebabkan hilangnya massa otot dan berikutnya disfungsi atau kegagalan organTerjadi peningkatan pemecahan protein terutama myofibrilar protein, berkurangnya sintesis protein dan pencegahan pengambilan proteinMelibatkan: glukortikoid, sitokin, Tumor Necrosis Factor (TNF), interleukin-1 (IL-1)Pada sepsis dan trauma terjadi hiperglikemiaOleh karena adanya glukoneogenesis di hepar dan penurunan uptake glukosa oleh karena penurunan insulinPada fase ebb, insulin berkurang tapi meningkat setelah fase flow namun tetap relatif rendah dibanding normalMetabolisme glukosaGangguan metabolisme glukosa mengurangi uptake glukosa oleh otot rangka dan perubahan glukosa menjadi asam lemak di jaringan adiposaTerjadi keadaan resistensi insulin periferAdanya kortisol dan katekolamin gagal menghambat lajunya glukoneogenesis dan glikogenolisisHal ini perlu untuk menjaga ketersediaan glukosa untuk organ seperti: SSP, ginjal, jaringan luka dan sel darah yang penting untuk kelangsungan hidup Selama respon stress, sumber glukosa lain adalah glikolisis anaerob pada otot dan jaringan hipoksis (luka) yang memproduksi laktatLaktat dapat diubah menjadi glukosa dengan Cory Cycle yang meningkat pada luka bakar dan traumaPada luka bakar: laktat adalah substrat glukoneogenik terpentingLemak adalah sumber ener

Click here to load reader

Embed Size (px)
Recommended