Home > Documents > Skripsi Sugiarti Lipi m11109304

Skripsi Sugiarti Lipi m11109304

Date post: 13-Oct-2015
Category:
Author: sugiarti-lipi
View: 83 times
Download: 8 times
Share this document with a friend
Embed Size (px)

of 103

Transcript
  • i

    PREDIKSI EROSI MENGGUNAKAN METODE

    UNIVERSAL SOIL LOSS EQUATION UNTUK

    PERENCANAAN PENGGUNAAN LAHAN DI

    DAERAH ALIRAN SUNGAI LAMPOKO

    OLEH:

    SUGIARTI LIPI

    M11109304

    FAKULTAS KEHUTANAN

    UNIVERSITAS HASANUDDIN

    MAKASSAR

    2013

  • ii

    HALAMAN PENGESAHAN

    Judul : Prediksi Erosi Menggunakan Metode Universal

    Soil Loss Equation untuk Perencanaan

    Penggunaan Lahan di Daerah Aliran Sungai

    Lampoko

    Nama : Sugiarti Lipi

    NIM : M11109304

    Jurusan : Kehutanan

    Skripsi ini Disusun Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh

    Gelar Sarjana Kehutanan

    Pada

    Program Studi Kehutanan

    Fakultas Kehutanan

    Universitas Hasanuddin

    Menyetujui,

    Komisi Pembimbing

    Pembimbing I Pembimbing II

    Dr. Ir. Roland A. Barkey Andang Suryana Soma, S.Hut., MP

    NIP. 19540614198103 1 007 NIP. 19700815200501 2 001

    Mengetahui,

    Ketua Jurusan Kehutanan

    Fakultas Kehutanan

    Universitas Hasanuddin

    Dr. Ir. Beta Putranto, M.Sc

    NIP. 19540418197903 1 001

    Tanggal Pengesahan : Agustus 2013

  • iii

    ABSTRAK

    Sugiarti Lipi (M 111 09 304). Prediksi Erosi Menggunakan Metode Universal

    Soil Loss Equation untuk Perencanaan Penggunaan Lahan di Daerah Aliran

    Sungai Lampoko di bawah bimbingan Roland A. Barkey dan Andang

    Suryana Soma.

    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat bahaya erosi dengan

    menggunakan metode Universal Soil Loss Equation berbasis Sistem Informasi

    Geografis dan merumuskan perencanaan pemanfaatan penggunaan lahan yang

    baik berdasarkan tingkat bahaya erosi di DAS Lampoko. Penelitian ini diharapkan

    dapat menjadi bahan informasi kepada instansi terkait dalam membuat rencana

    pengelolaan DAS yang baik dalam upaya rehabilitasi lahan dan konservasi tanah

    dan air pada DAS Lampoko. Penelitian ini dilaksanakan di DAS Lampoko

    Kabupaten Barru Sulawesi Selatan pada bulan Maret hingga April 2013.

    Penelitian ini menggunakan pendekatan unit lahan sebagai satuan analisis.

    Prediksi tingkat laju erosi dihitung dengan menggunakan metode USLE.

    Penentuan tingkat bahaya erosi didasarkan atas tingkat laju erosi dengan

    kedalaman tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat bahaya erosi di

    wilayah penelitian bervariasi dari sangat ringan, ringan, sedang, berat dan sangat

    berat dengan persentase luas berturut-turut 12,70%, 26,15%, 29,14%, 24,25% dan

    7,75%, %, besarnya laju erosi sangat ringan yaitu 815,72 ton/ha/thn, erosi ringan

    1.686,25 ton/ha/thn, erosi sedang 2.943,36 ton/ha/thn, erosi berat 12.484,51

    ton/ha/thn dan erosi sangat berat 3.488,47 ton/ha/thn. Arahan perencanaan

    penggunaan lahan di wilayah penelitian terdiri dari agroforestry, hutan rakyat,

    hutan tanaman rakyat, tambak, pemukiman, penghijauan, reboisasi, sawah dan

    tubuh air. Dengan menata penutupan lahan di wilayah penelitian terbukti dapat

    menurunkan laju erosi.

  • iv

    KATA PENGANTAR

    Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat,

    taufik, dan hidayah_Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan

    penyusunan skripsi dengan judul Prediksi Erosi Menggunakan Metode

    Universal Soil Loss Equation untuk Perencanaan Penggunaan Lahan di

    Daerah Aliran Sungai Lampoko.

    Bantuan moril, semangat, pendapat, serta tenaga, banyak penulis terima

    dalam menyelesaikan penelitian ini. Oleh karena itu, pada kesempatan ini, penulis

    mengucapkan terima kasih kepada:

    1. Bapak Dr. Ir. Roland A. Barkey dan Bapak Andang Suryana Soma, S.Hut,

    MP, selaku pembimbing yang telah banyak meluangkan waktu, buah pikiran,

    dan tenaga dalam memberikan bimbingan, arahan, kritik dan saran-saran yang

    membangun sejak rencana awal penelitian hingga penyelesaian skripsi ini.

    2. Bapak Prof. Dr. Ir. Daud Malamassam, M.Agr, Bapak Dr. Ir. H. Usman

    Arsyad, MS dan Bapak Dr. Ir. H. Anwar Umar,M.S. selaku penguji yang

    telah banyak memberikan bantuan, pendapat, koreksi, saran dan waktunya

    dalam perbaikan dan penyelesaian skripsi ini.

    3. Bapak/Ibu Dosen dan staf Administrasi Fakultas Kehutanan atas

    bantuannya selama penulis menempuh pendidikan di Fakultas Kehutanan

    Universitas Hasanuddin.

    4. Bapak Camat Balusu dan Soppeng Riaja beserta Kepala Desa, Kepala

    Dinas Kehutanan Kabupaten Barru, terimakasih atas bantuannya saat

    penulis melaksanakan penelitian.

  • v

    5. Keluarga kecil di Laboratorium Perencanaan dan Sistem Informasi Spasial

    Kehutanan ( k Tini, k Talebe, k Umi, k Iman, k Ical, k Septian, k

    Valent, , k Novi, k Athira, k Munajat, k Reyni, kAndin, k Dini, k

    Rusman, k Inal, Alamsyah, Musnadil Mushawwir T, Adelia Juli Kardika,

    Musdalifah, Muhajir, Riri dan Kenta) atas bantuan, semangat, kritik, saran,

    perhatian, kebersamaan, dan dukungannya selama penulis menempuh

    pendidikan di Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin.

    6. Sahabat-sahabatku Rezki Wahyuni Anwar, Irna Mayang Sari, Rizka

    Meylawati, A. Muhalishah AM, Mega Sari, Suhartini Rahman, Muh. Nur

    Taslim, Imam Gazali, Adnan Sanjaya, Muh. Ahirul Safad, Ardin Daud

    Diga, Muh. Indhy Rizky, Zulfikar Taufik, k Tri, k Icha dan k Cici

    terima kasih atas bantuan, kebersamaan, dan semangatnya kepada penulis.

    7. Teman- teman Angkatan 09 Kehutanan, terimakasih atas bantuan,

    kebersamaan dan semangatnya kepada penulis selama penulis menempuh

    pendidikan di Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin.

    8. Teman-teman KKNP/Magang Gelombang IV terima kasih atas bantuan,

    semangat dan kerbersamaannya selama ini.

    Ucapan terkhusus penulis haturkan rasa hormat dan terima kasih yang

    sebesar-besarnya kepada Ayahanda dan Ibunda tercinta Jamil dan Saharia atas

    doa, kasih sayang, kerja keras, motivasi, semangat dan bimbingannya dalam

    mendidik dan membesarkan penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas

    akhir ini, serta saudara-saudaraku tersayang Sugiarto Lipi, Herlina Lipi,

    Sugiarno Lipi, Syamsuriadi Lipi dan Anugra Lipi atas semangat dan doanya.

  • vi

    Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih banyak

    kekurangan. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun

    untuk penyempurnaan skripsi ini, dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi

    semua pihak yang membutuhkan.

    Makassar, Agustus 2013

    Penulis

  • vii

    DAFTAR ISI

    Halamanan

    HALAMAN JUDUL .................................................................... i

    HALAMAN PENGESAHAN ...................................................... ii

    ABSTRAK .................................................................................... iii

    KATA PENGANTAR .................................................................. iv

    DAFTAR ISI ................................................................................ vii

    DAFTAR GAMBAR .................................................................... viii

    DAFTAR TABEL ........................................................................ ix

    DAFTAR LAMPIRAN ................................................................ xi

    I. PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang ................................................................. 1

    B. Tujuan dan Kegunaan ...................................................... 3

    II. TINJAUAN PUSTAKA

    A. Daerah Aliran Sungai (DAS) ........................................... 5

    B. Erosi .................................................................................. 10

    C. Metode Prediksi Erosi ...................................................... 18

    D. Sistem Informasi Geografis .............................................. 20

    E. Penggunaan Lahan ............................................................ 22

    III. METODE PENELITIAN

    A. Waktu dan Tempat .......................................................... 24

    B. Alat dan Bahan Penelitian ................................................ 24

    C. Metode Pengumpulan Data .............................................. 24

  • viii

    D. Analisis Data ..................................................................... 25

    IV. KEADAAN UMUM LOKASI

    A. Letak dan Luas .................................................................. 32

    B. Topografi dan Kelerengan ................................................ 33

    C. Tanah dan Geologi ............................................................ 34

    D. Iklim dan Curah Hujan .................................................... 35

    V. HASIL DAN PEMBAHASAN

    A. Prediksi Erosi Metode Universal Soil Loss Equation ...... 37

    1. Faktor Erosivitas ......................................................... 37

    2. Faktor Erodibilitas Tanah (K) ................................... 39

    3. Faktor Panjang dan Kemiringan Lereng (LS) ........... 41

    4. Faktor Pengelolaan Tanaman dan Konseervasi

    Tanah (CP) ................................................................... 43

    B. Tingkat Bahaya Erosi (TBE) ............................................ 47

    C. Erosi yang Diperbolehkan................................................. 50

    D. Arahan Perencanaan Penggunaan Lahan ........................ 51

    VI. KESIMPULAN DAN SARAN

    A. Kesimpulan ....................................................................... 53

    B. Saran .................................................................................. 53

    DAFTAR PUSTAKA .............................................................. 54

    LAMPIRAN ............................................................................ 56

  • ix

    DAFTAR GAMBAR

    No Judul Halaman

    1. Peta Erosivitas Hujan (R) DAS Lampoko ............................... 38

    2. Peta Erodibilitas Tanah DAS Lampoko .................................. 40

    3. Peta Nilai LS DAS Lampoko.................................................. 42

    4. Peta Nilai C DAS Lampoko ................................................... 45

    5. Peta Nilai P DAS Lampoko .................................................... 46

    6. Peta Tingkat Bahaya Erosi DAS Lampoko ............................. 49

    7. Peta Arahan Perencanaan Penggunaan Lahan DAS Lampoko 52

  • x

    DAFTAR TABEL

    No Judul Halaman

    1. Pedoman Penetapan Nilai T untuk Tanah-tanah di Indonesia 18

    2. Penilaian Kelas Kelerengan (LS) ........................................ 27

    3. Indeks Pengelolaan Tanaman (nilai C) untuk Pertanaman

    Tunggal ............................................................................... 28

    4. Indeks Pengelolaan Tanaman (Nilai C) untuk Penanaman

    Tumpang Sari dan Pergiliran Tanaman ................................ 29

    5. Indeks Konservasi Tanah (Nilai P) ...................................... 30

    6. Klasifikasi Tingkat Bahaya Erosi Tanah .............................. 31

    7. Data Administrasi DAS Lampoko ....................................... 32

    8. Kondisi Topografi DAS Lampoko ....................................... 33

    9. Kemiringan Lereng DAS Lampoko ..................................... 34

    10. Jenis Tanah DAS Lampoko ................................................. 34

    11. Geologi Batuan DAS Lampoko ........................................... 34

    12. Rata-Rata Jumlah Bulan Kering, Bulan Lembab dan Bulan

    Basah Selama 10 Tahun Terakhir di DAS Lampoko ............ 36

    13. Nilai Erosivitas DAS Lampoko ........................................... 37

    14. Jenis Tanah dan Nilai Erodibilitas DAS Lampoko ............... 39

    15 Nilai LS DAS Lampoko ...................................................... 41

    16. Nilai Faktor Pengelolaan Tanaman dan Tindakan Konservasi

    Tanah di DAS Lampoko ...................................................... 43

    17. Tingkat Laju Erosi di Wilayah DAS Lampoko .................... 47

    18. Sebaran Prediksi Tingkat Bahaya Erosi Menggunakan Metode

  • xi

    USLE di DAS Lampoko ...................................................... 48

    19. Arahan Perencanaan Penggunaan Lahan Wilayah DAS

    Lampoko ............................................................................. 51

  • xii

    DAFTAR LAMPIRAN

    No. Judul Halaman

    1. Peta Administrasi DAS Lampoko ........................................ 56

    2. Peta Curah Hujan DAS Lampoko ........................................ 57

    3. Peta Jenis Tanah DAS Lampoko ......................................... 58

    4. Peta Kemiringan Lereng DAS Lampoko.............................. 59

    5. Peta Unit Lahan DAS Lampoko .......................................... 60

    6. Peta Penutupan Lahan DAS Lampoko ................................. 61

    7. Peta Kawasan Hutan DAS Lampoko ................................... 62

    8. Peta Kelas Kemampuan Lahan DAS Lampoko .................... 63

    9. Peta Kedalaman Tanah DAS LAmpoko................................... 64

    10. Atribut Unit Lahan DAS Lampoko........................................... 65

    11. Hasil Perhitungan Prediksi Erosi Menggunakan Metode

    USLE .................................................................................. 77

    12. Data Curah Hujan Bulanan Tahun 2003 2012 ................... 87

    13. Penggunaan Lahan di Wilayah DAS Lampoko .................... 88

  • 1

    BAB 1

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang

    Populasi manusia di muka bumi ini semakin lama semakin bertambah.

    Dengan demikian kebutuhan manusia akan lahan untuk pemukiman, aktifitas

    produksi dan pembangunan sarana prasarana juga semakin meningkat. Daerah-

    daerah yang seharusnya mendapat perlindungan dalam hal menjaga keseimbangan

    ekosistem seperti Daerah Aliran Sungai (DAS) telah dirambah dan mengakibatkan

    terjadinya perubahan peruntukan lahan secara besar-besaran. Dampak dari

    perubahan peruntukan lahan tersebut adalah kerusakan tanah dan lahan menjadi

    semakin besar, yang dapat menyebabkan terjadinya pengikisan (erosi) dan

    sedimentasi. Hal ini tentunya akan berdampak pada kerusakan sistem ekologi dari

    DAS.

    Terjadinya kerusakan system ekologi DAS akan menimbulkan dampak

    yang sangat luas. Kerugian dan kerusakan yang terjadi tidak hanya pada bagian

    hulu sebagai daerah tempat terjadinya erosi tetapi juga di daerah yang dilewati

    endapan (tengah) dan di bagian hilir. Daerah hulu sebagai daerah tempat

    terjadinya pengikisan dan pengangkatan lapisan tanah atas, menyebabkan

    terjadinya penurunan produktivitas tanah, pertumbuhan tanaman memburuk serta

    terjadi kekurangan air di musim kemarau. Daerah tengah sebagai daerah yang

    dilalui tanah tererosi menyebabkan terjadinya pengendapan pada sumber-sumber

    air, danau dan bendungan-bendungan. Pada bagian hilir, akibat yang paling sering

    terjadi adalah terjadinya banjir dan penyediaan air minum berkurang. Hal ini

  • 2

    terjadi karena air yang masuk ke dalam tanah di daerah hulu berkurang sehingga

    air tanah yang sampai ke daerah hilir juga berkurang sebagai akibat dari

    terbukanya lahan dan penurunan infiltrasi dan perkolasi pada bagian hulu.

    Daerah Aliran Sungai Lampoko merupakan salah satu DAS yang perlu

    mendapat perhatian dari berbagai pihak dalam hal terjadinya erosi dan

    sedimentasi, sehubungan dengan adanya pembangunan bendungan dan pelabuhan

    pada DAS ini sesuai dengan Perda No. 4 Tahun 2009 tentang Rencana Teknis

    Kawasan Khusus Pelabuhan Garongkong. Terjadinya erosi pada bagian hulu DAS

    dapat menyebabkan sedimentasi yang berlebihan pada bagian hilir DAS. Hal ini

    tentu saja dapat menyebabkan efisiensi dan umur efektif dari bendungan dan

    pelabuhan ini menjadi berkurang. Sehingga bendungan atau pelabuhan yang

    dibangun dengan biaya yang mahal akan menimbulkan kerugian yang besar.

    Keberadaan dari bendungan dan pelabuhan tidak hanya dirasakan

    manfatnya oleh masyarakat di sekitar DAS tetapi juga masyarakat di luar kawasan

    DAS. Bendungan Lampoko dan bendungan Balusu pada bagian hulu DAS

    berfungsi sebagai tempat penampungan air, sehingga keberadaan air tetap dapat

    dipertahankan dan dimanfaatkan untuk waktu yang lebih lama, sedangkan

    pembangunan Pelabuhan Samudera Garongkong berfungsi sebagai pelabuhan

    ekspor/impor untuk mendorong pembangunan di wilayah KAPET Barru pada

    bagian hilir DAS.

    Agar manfaat dapat dirasakan masyarakat dalam waktu yang lama maka

    perlu dilakukan penelitian mengenai prediksi tingkat bahaya erosi yang terjadi

    pada DAS Lampoko. Tingkat bahaya erosi dalam penelitian ini ditentukan

  • 3

    berdasarkan besarnya erosi tanah yang dihitung dengan menggunakan metode

    Universal Soil Loss Equation (USLE) dibandingkan dengan ketebalan solum

    tanah. Metode Universal Soil Loss Equation merupakan salah satu metode yang

    umum digunakan untuk menduga laju erosi yang terjadi pada suatu DAS. Dalam

    pengolahan data, digunakan aplikasi SIG (Sistem Informasi Geografis) yaitu suatu

    aplikasi yang digunakan untuk mengelola (input, manajemen dan output) data

    spasial atau data yang bereferensi geografis. SIG dapat digunakan untuk

    menganalisis dan mentransformasikan data-data yang kompleks dari berbagai

    macam sumber dalam peta yang dapat mengilustrasikan permasalahan sehingga

    lebih mudah untuk dipahami.

    Sehubungan dengan permasalahan tersebut, maka perlu dilakukan

    penelitian Prediksi Erosi Menggunakan Metode Universal Soil Loss Equation

    untuk Perencanaan Penggunaan Lahan di Daerah Aliran Sungai Lampoko.

    B. Tujuan dan Kegunaan

    Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengetahui tingkat bahaya erosi di DAS

    Lampoko dengan menggunakan metode USLE berbasis Sistem Informasi

    Geografis, (2) Merumuskan perencanaan pemanfaatan penggunaan lahan yang

    baik berdasarkan tingkat bahaya erosi di DAS Lampoko. Kegunaan dari penelitian

    ini adalah (1) Sebagai bahan informasi kepada instansi terkait dalam membuat

    rencana pengelolaan DAS yang baik dalam upaya rehabilitasi lahan dan

    konservasi tanah dan air, (2) Sebagai acuan bagi mahasiswa yang lain yang ingin

    mempelajari perhitungan erosi dengan menggunakan metode USLE melalui

    analisis Sistem Informasi Geografis (SIG).

  • 4

    BAB 2

    TINJAUN PUSTAKA

    A. Daerah Aliran Sungai

    Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah suatu wilayah daratan yang secara

    topografik dibatasi oleh punggung-punggung gunung yang menampung dan

    menyimpan air hujan untuk kemudian menyalurkannya ke laut melalui sungai

    utama. Wilayah daratan tersebut dinamakan daerah tangkapan air (DTA atau

    catchment area ) yang merupakan suatu ekosistem dengan unsur utamanya terdiri

    atas sumber daya alam (tanah, air dan vegetasi) dan sumber daya manusia sebagai

    pemanfaat sumber daya alam (Asdak, 2001).

    Keberadaan hutan di suatu daerah aliran sungai mempunyai fungsi dan

    peranan yang sangat penting, baik secara ekologis maupun secara ekonomis.

    Secara ekologis, pengaruh keberadaan hutan yang dikelola dengan baik terhadap

    siklus hidrologi dan erosi/degradasi tanah, antara lain sebagai berikut (Arif, 2001):

    1. Hutan barangkali tidak berpengaruh terhadap total presipitasi, tetapi jumlah

    air hujan yang mencapai permukaan tanah sangat dikurangi oleh proses

    intersepsi vegetasi hutan.

    2. Hutan umumnya tidak mampu mempengaruhi kapasitas cadangan air bumi

    dan tampaknya juga tidak banyak berpengaruh terhadap perkolasi air dalam

    dan aliran air bumi.

    3. Hutan berpengaruh terhadap eksesibilitas cadangan air bumi karena hutan

    mampu menyebabkan tanah mempunyai kondisi hidrologi yang lebih baik,

  • 5

    sehingga memungkinkan infiltrasi lebih banyak dan juga perkolasi air dalam

    tanah.

    4. Kondisi hidrologi yang baik pada tanah-tanah hutan yang ditandai oleh

    kapasitas infiltrasi yang besar dan kapasitas simpanan depresi yang cukup

    besar mampu menghambat terjadinya banjir di daerah yng tidak berhutan.

    5. Meskipun hutan mampu menyebabkan tanah mempunyai karateristik

    hidrologi yang baik, namun hutan tidak mampu mengubah sifat hidrologi

    yang buruk, seperti solum yang dangkal/tipis.

    6. Hutan mempunyai evapotranspirasi lebih tinggi dibandingkan dengan bentuk

    vegetasi lainnya. Oleh karena itu, total aliran sungai dari daerah hutan

    seringkali lebih kecil daripada daerah lainnya.

    7. Dampak yang baik dari hutan terhadap kondisi hidrologi disebabkan oleh

    hubungan yang baik antara hutan dan faktor-faktor tanah. Hal ini terlihat pada

    pengaruh yang baik terhadap erosi kerena vegetasi hutan menyediakan

    serasah lantai hutan yang mampu mengurangi gaya erosi.

    Hidrologi DAS adalah cabang ilmu hidrolgi yang mempelajari pengaruh

    pengelolaan vegetasi dan lahan di daerah tangkapan air bagian hulu (upper

    catchment) terhadapa daur air, termasuk pengaruhnya terhadap erosi, kualitas air,

    banjir, dan iklim di daerah hulu dan hilir. Sedangkan pengelolaan DAS adalah

    suatu proses formulasi dan implementasi kegiatan atau program yang bersifat

    manipulasi sumber daya alam dan manusia yang terdapat di daerah aliran sungai

    untuk memperoleh manfaat produksi dan jasa tanpa menyebabkan terjadinya

    kerusakan sumber daya air dan tanah (Asdak, 2001).

  • 6

    Hidrologi hutan berkaitan dengan gerakan- gerakan massa dan perubahan-

    perubahan fase air dalam suatu lingkungan hutan; dalam bentuknya yang paling

    mendasar, ia merupakan pengkajian proses-proses hidrologi (Richard, 1988).

    Adapun proses-proses hidrologi terdiri dari:

    1. Kondensasi adalah proses dimana uap air ditransformasikan ke cairan atau es

    dengan pelepasan energi panas laten kondensasi atau sublimasi, terjadi pada

    tingkt-tingkat yang lebih tinggi di atmosfr dengan pembentukan awan-awan,

    namun biasanya juga ditentukan pada permukaan dalam bentuk embun dan

    embun beku.

    2. Presipitasi adalah istilah umum untuk produk-produk kondensasi atmosfer

    yang mencapai permukaan, misalnya hujan, salju, hujan batu es dan lapisan

    es; virga adalah nama menurut pakar meteorologi untuk presipitasi yang

    menguap ketika jatuh. Presipitasi di atas suatu hutan berkurang sebelum

    menyentuh tanah mineral; pengurangan total yang selanjutnya dievaporasikan

    dinamakan intersepsi. Intersepsi tajuk merupakan fraksi dari presipitasi yang

    ditahan sementara waktu (sebelum evaporasi) oleh daun, cabang dan batang

    yang akhirnya dievaporasikan dari bahan organik yang sudah mati pada lantai

    hutan dinamakan intersepsi serasah. Presipitasi di atas suatu tajuk hutan

    dapat mencapai lantai hutan dengan dua jalan yaitu langsung jatuh

    (throughfall) yaitu bagian dari presipitasi yang mencapai lantai hutan secar

    langsung.

    3. Infiltrasi adalah proses meresapnya air ke dalam tanah.

  • 7

    4. Perkolasi adalah gerakan air melalui tanah-tanah berongga dan lapisan-

    lapisan geologi; gerakan tersebut pada umumnya menurun (berlawanan

    dengan misalnya gerakan-gerakan ke atas oleh aliran kapiler).

    5. Evaporasi adalah proses fisik dimana air cair dikonversikan menjadi uap,

    terjadi apabila air berhubungan dengn suhu atmosfer yang tidak jenuh pada

    suhu yang sama. Transpirasi adalah evaporasi air dari permukaan-permukaan

    internal organ-organ tanaman yang hidup dan difusi berikutnya dari tanaman.

    Istilah evaporasi dan transpirasi seringkali sulit untuk mengidentifikasi

    masing-masing, maka penguapan totalnya dinamakan evpotranspirasi.

    6. Limpasan adalah istilah yang umum untuk debit-debit air permukaan dan

    bawah permukaan dari suatu sistem hidrologi.

    Dalam mempelajari ekosistem DAS, daerah aliran sungai biasanya dibagi

    menjadi daerah hulu, tengah dan hilir. Secara biogeofisik, daerah hulu DAS

    dicirikan oleh hal-hal sebagai berikut: merupakan daerah konservasi mempunyai

    kerapatan drainase lebih tinggi, merupakan daerah dengan kemiringan lereng

    besar (lebih besar dari 15%), bukan merupakan daerah banjir, pengaturan

    pemakaian air ditentukan oleh pola drainase, dan jenis vegetasi umumnya

    merupakan tegakan hutan. Sementara daerah hilir DAS dicirikan oleh hal-hal

    sebagai berikut: merupakan daerah pemanfaatan, kerapatan drainase lebih kecil,

    merupakan daerah dengan kemiringan lereng lebih kecil sampai dengan sangat

    kecil (kurang dari 8%), pada beberapa tempat merupaka daerah banjir (genangan),

    pengaturan pemakaian air ditentukan oleh bangunan irigasi, dan jenis vegetasi

    didominasi tanaman pertanian kecuali daerah estuaria yang didominasi hutan

  • 8

    bakau/gambut. Daerah aliran sungai bagian tengah merupakan daerah transisi dari

    kedua karakteristik biogeofisik DAS yang berbeda tersebut di atas (Asdak, 2001).

    Tujuan pengelolaan DAS adalah melakukan prinsip konservasi tanah dan

    air untuk produksi air (kuantitas dan kualitas) serta pemeliharaan tanah

    (pencegahan erosi dan banjir). Hal ini menunjukkan bahwa inti dari pengelolaan

    DAS adalah mewujudkan kondisi optimal dari sumberdaya vegetasi, tanah dan air

    sehingga memberikan manfaat yang maksimal dan berkelanjutan bagi

    kesejahteraan manusia. Peningkatan kesejahteraan manusia sangat tergantung

    kepada bentuk pengelolaan sumber-sumber daya alam yang terdapat di dalam

    DAS (Nasoetion dan Anwar, 1981 dalam Sihite, 2001).

    Komponenkomponen utama ekosistem DAS, terdiri dari manusia, hewan,

    vegetasi, tanah, iklim, dan air. Masingmasing komponen tersebut memiliki sifat

    yang khas dan keberadaannya tidak berdiri sendiri, namun berhubungan dengan

    komponen lainnya membentuk kesatuan sistem ekologis (ekosistem). Manusia

    memegang peranan yang penting dan dominan dalam mempengaruhi kualitas

    suatu DAS. Gangguan terhadap salah satu komponen ekosistem akan dirasakan

    oleh komponen lainnya dengan sifat dampak yang berantai. Keseimbangan

    ekosistem akan terjamin apabila kondisi hubungan timbal balik antar komponen

    berjalan dengan baik dan optimal. Kualitas interaksi antar komponen ekosistem

    terlihat dari kualitas output ekosistem tersebut. Di dalam DAS kualitas

    ekosistemnya secara fisik terlihat dari besarnya erosi, aliran permukaan,

    sedimentasi, fluktuasi debit, dan produktifitas lahan (Ramdan, 2006).

  • 9

    Kerusakan Daerah Aliran Sungai yang terjadi mengakibatkan kondisi

    kuantitas (debit) air sungai menjadi fluktuatif antara musim penghujan dan

    kemarau. Selain itu juga penurunan cadangan air serta tingginya laju sendimentasi

    dan erosi. Dampak yang dirasakan kemudian adalah terjadinya banjir di musim

    penghujan dan kekeringan di musim kemarau. Kerusakan Daerah Aliran Sungai

    pun mengakibatkan menurunnya kualitas air sungai yang mengalami pencemaran

    yang diakibatkan oleh erosi dari lahan kritis, limbah rumah tangga, limbah

    industri, limbah pertanian (perkebunan) dan limbah pertambangan (Alamendah,

    2010).

    B. Erosi

    1. Pengertian Erosi

    Erosi adalah peristiwa pindahnya atau terangkutnya tanah atau bagian-

    bagian tanah dari suatu tempat ke tempat lain oleh media alami. Pada peristiwa

    erosi, tanah atau bagian-bagian tanah pada suatu tempat terkikis dan terangkut

    yang kemudian diendapkan di tempat lain. Pengikisan atau pengangkutan tanah

    tersebut terjadi oleh media alami, yaitu air dan angin. Erosi oleh angin disebabkan

    oleh kekuatan angin, sedangkan erosi oleh air ditimbulkan oleh kekuatan air. Di

    daerah beriklim basah erosi oleh air yang lebih penting, sedangan erosi oleh angin

    tidak begitu berarti. Erosi oleh angin merupakan peristiwa sangat penting di

    daerah beriklim kering (Arsyad, 2010).

    Erosi adalah suatu peristiwa hilang atau terkikisnya tanah atau bagian

    tanah dari suatu tempat yang terangkut ke tempat lain, baik disebabkan oleh

    pergerakan air ataupun angin (Arsyad, 1983). Di daerah tropis basah, seperti

  • 10

    Indonesia, erosi terutama disebabkan oleh air. Selama tejadi hujan, limpasan

    permukaan berubah terus dengan cepat, tetapi pada waktu mendekati akhir hujan,

    limpasan permukaan berkurang dengan laju yang sangat rendah dan pada saat ini

    umumnya tidak terjadi erosi (Utomo, 1989).

    Erosi dapat disebut juga pengikisan atau kelongsoran yang merupakan

    proses penghanyutan tanah oleh desakan-desakan atau kekuatan air dan angin,

    baik yang berlangsung secara alamiah ataupun sebagai akibat tindakan/perbuatan

    manusia. Sehubungan dengan itu maka dikenal dua jenis erosi yaitu

    normal/geological erosion dan accelerated erosion (Kartasapoetra, 1985).

    a. Normal/ Geological Erosion adalah erosi yang berlangsung secara alamiah,

    terjadi secara normal di lapangan dengan tahap-tahap sebagai berikut:

    - Pemecahan agregat-agregat tanah atau bongkah-bongkah tanah ke dalam

    partikel-partikel tanah yaitu butiran-butiran tanah yang kecil

    - Pemindahan partikel-partikel tanah tersebut baik dengan melalui

    penghanyutan ataupun karena kekuatan angin

    - Pengendapan partikel-pertikel tanah yang terpindahkan atau terangkut tadi

    di tempat-tempat yang lebih rendah atau di dasar-dasar sungai.

    b. Accelerate Erosion yaitu jenis erosi yang proses terjadinya erosi yang

    dipercepat akibat tindakan-tindakan dan atau perbuatan-perbuatan itu sendiri

    yang bersifat negatif ataupun telah melakukan kesalahan dalam pengelolaan

    tanah dalam pelaksanaan pertaniannya. Jadi dalam hal ini berarti manusia

    membantu mempercepat terjadinya erosi tersebut. Erosi yang dipercepat

    banyak sekali menimbulkan malapetaka karena memang lingkungannya telah

  • 11

    mengalami kerusakan-kerusakan menimbulkan kerugian besar seperti banjir,

    kekeringan ataupun turunnya produktivitas tanah.

    2. Proses Erosi

    Proses erosi bermula dengan terjadinya penghancuran agregat-agregat

    tanah sebagai akibat pukulan air hujan yang mempunyai energi lebih besar

    daripada daya tahan tanah. Hancuran dari tanah ini akan menyumbat pori-pori

    tanah, maka kapasitas infiltrasi tanah akan menurun dan mengakibatkan air

    mengalir di permukaan tanah dan disebut sebagai limpasan permukaan. Limpasan

    permukaan mempunyai energi untuk mengikis dan mengangkut partikel-partikel

    tanah yang telah dihancurkan. Selanjutnya jika tenaga limpasan permukaan sudah

    tidak mampu lagi, maka bahan-bahan ini akan diendapkan. Dengan demikian ada

    tiga proses yang bekerja secara berurutan dalam proses erosi, yaitu diawali dengan

    penghancuran agregat-agregat tanah, pengangkutan dan diakhiri dengan

    pengendapan (Utomo, 1989).

    Erosi terjadi melalui tiga tahap, yaitu tahap pelepasan partikel tunggal dari

    massa tanah dan tahap pengangkutan oleh media yang erosif yaitu aliran air dan

    angin. Pada kondisi dimana energi yang tersedia tidak lagi cukup untuk

    mengangkut partikel, maka akan terjadi tahap yang ketiga yaitu pengendapan

    (Suripin, 2001 dalam Purnama , 2008).

    3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Erosi

    Terdapat empat faktor utama yang yang menyebabkan terjadinya erosi,

    yaitu iklim, sifat tanah, topografi, dan vegetasi penutup tanah. Keempat faktor

  • 12

    penyebab terjadinya erosi tersebut diuraikan satu persatu sebagai berikut (Asdak,

    2001):

    a. Iklim

    Pengaruh iklim terhadap erosi dapat bersifat langsung atau tidak langsung.

    Pengaruh langsung adalah melalui tenaga kinetis air hujan, terutama

    intensitas dan diameter butiran air hujan. Pada hujan yang intensif dan

    berlangsung dalam waktu pendek , erosi yang terjadi biasanya lebih besar

    daripada hujan dengan intensitas lebih kecil dengan waktu berlangsungnya

    hujan lebih lama.

    b. Sifat-sifat Tanah

    Empat sifat tanah yang penting dalam menentukan erodibilitas tanah (mudah

    tidaknya tanah tererosi) adalah:

    1. Tekstur tanah, biasanya berkaitan dengan ukuran dan porsi partikel-

    partikel tanah dan akan membentuk tipe tanah tertentu. Tiga unsur utama

    tanah adalah pasir (sand), debu (silt), dan liat (clay). Misalnya, tanah

    dengan unsur dominan liat, ikatan antar partikel-partikel tanah tergolong

    kuat, dan dengan demikian tidak mudah tererosi. Hal yang sama juga

    berlaku untuk tanah dengan unsur dominan pasir (tanah dengan tekstur

    kasar), kemungkinan untuk terjadinya erosi pada jenis tanah ini adalah

    rendah karena laju infiltrasi di tempat ini besar dan dengan demikian,

    menurunkan laju air larian. Sebaliknya pada tanah dengan unsur utama

    debu dan pasir lembut serta sedikit unsur organik memberikan

    kemungkinan yang lebih besar untuk terjadinya erosi.

  • 13

    2. Unsur organik, terdiri atas limbah tanaman dan hewan sebagai hasil

    proses dekomposisi. Unsur organik cenderung memperbaiki struktur

    tanah dan bersifat meningkatkan perrmeabilitas tanah, kapasitas tampung

    air tanah, dan kesuburan tanah. Kumpulan unsur organik di atas

    permukaan tanah dapat menghambat kecepatan air larian. Dengan

    demikian, menurunkan potensi terjadinya erosi.

    3. Struktur tanah, adalah susunan partikel-partikel tanah yang membentuk

    agregat. Struktur tanah mempengaruhi kemampuan tanah dalam

    menyerap air tanah.

    4. Permeabilitas tanah, menunjukkan kemampuan tanah dalam meloloskan

    air. Struktur dan tekstur tanah serta unsur organik lainnya ikut ambil

    bagian dalam menentukan permeabilitas tanah. Tanah dengan

    permeabilitas tinggi menaikkan laju infiltrasi, dan dengan demikian,

    menurunkan laju air larian.

    c. Topografi

    Kemiringan dan panjang lereng adalah dua faktor yang menentukan

    karakteristik topografi suatu daerah aliran sungai. Kedua faktor tersebut

    penting untuk terjadinya erosi karena faktor-faktor tersebut menentukan

    besarnya kecepatan dan volume air larian. Kecepatan air larian yang besar

    umumnya ditentukan oleh kemiringan lereng yang tidak terputus dan panjang

    serta terkonsentrasi pada saluran-saluran sempit yang mempunyai potensi

    besar untuk terjadinya erosi alur dan erosi parit.

  • 14

    d. Vegetasi Penutup Tanah

    Pengaruh vegetasi penutup tanah terhadap erosi adalah: 1) melindungi

    permukaan tanah dari tumbukan air hujan (menurunkan kecepatan terminal

    dan memperkecil diameter air hujan), 2) menurunkan kecepatan dan volume

    air larian, 3) menahan partikel-partikel tanah pada tempatnya melalui sistem

    perakaran dan serasah yang dihasilkan, dan 4) mempertahankan kemantapan

    kapasitas tanah dalam menyerap air.

    Terdapat empat faktor utama yang mempengaruhi laju erosi yang dapat

    ditoleransi tanpa kehilangan produktivitas tanah secara permanen. Keempat faktor

    tersebut adalah kedalaman tanah, tipe bahan induk, produktivitas relative dari

    topsoil dan subsoil, dan jumlah erosi terdahulu. Makin dalam tanah dan makin

    tebal bahan yang tembus oleh akar tumbuhan, makin cepat erosi yang terjadi tanpa

    kehilangan kapasitas produksi yang tidak dapat diperbaiki. Secara umum laju

    erosi diperbolehkan (Edp) untuk kebanyakan tanah adalah 25mm/tahun atau

    setara dengan 25 ton/ha/tahun untuk lahan perbukitan atau miring. Untuk daerah

    bertopografi datar (0-5%) Edp diperbolehkan adalah 10 ton/ha/tahun (Troeh,

    Hobbs, dan Dpnahue, 1980 dalam Rahim, 2000).

    4. Jenis-Jenis Erosi

    Erosi dibedakan menjadi erosi lembar, erosi alur, erosi parit, erosi tebing

    sungai, longsor dan erosi internal. Erosi lembar (sheet erosion) adalah

    pengangkutan lapisan tanah yang merata tebalnya dari suatu permukaan tanah.

    Kekuatan butir-butir hujan dan aliran permukaan yang merata diatas permukaan

    tanah merupakan penyebab erosi. Erosi alur (rill erosion) adalah pengangkutan

  • 15

    tanah dari alur-alur tertentu pada permukaan tanah yang merupakan parit-parit

    kecil dan dangkal. Erosi alur terjadi karena air mengalir di permukaan tanah tidak

    merata tetapi berkonsentrasi pada alur tertentu sehingga pengangkutan tanah

    terjadi pada tempat aliran permukaan terkonsentrasi. Kecenderungan terjadinya

    erosi alur lebih dipengaruhi oleh cara bertanam dan sifat fisik tanah daripada air

    hujan (Suripin, 2002).

    Ada beberapa tipe erosi permukaan yang umum dijumpai di daerah tropis

    menurut Asdak (2001) yaitu:

    a. Erosi percikan (splash erosion) adalah proses terkelupasnya partikel-partikel

    tanah bagian atas oleh tenaga kinetik air hujan bebas atau sebagai air lolos.

    b. Erosi kulit (sheet erosion) adalah erosi yang terjadi ketika lapisan tipis

    permukaan tanah di daerah berlereng terkikis oleh kombinasi air hujan dan air

    larian (run off). Tipe erosi ini disebabkan oleh kombinasi air hujan dan air

    larian yang mengalir ke tempat yang lebih rendah.

    c. Erosi alur (rill erosion) adalah pengelupasan yang diikuti dengan

    pengangkutan partikel-partikel tanah oleh aliran air larian yang terkonsentrasi

    di dalam saluran-saluran air.

    d. Erosi parit (gully erosion) membentuk jajaran parit yang lebih dalam dan

    lebar dan merupakan tingkat lanjutan dari erosi alur.

    e. Erosi tebing sungai (streambank erosion) adalah pengikisan tanah pada

    tebing-tebing sungai dan penggerusan dasar sungai oleh aliran air sungai. Dua

    prose berlangsungnya erosi tebing sungai adalah oleh adanya gerusan aliran

    sungai dan oleh adanya longsoran tanah pada tebing sungai.

  • 16

    5. Dampak Erosi

    Dampak erosi dibedakan menjadi dua yaitu dampak instream dan dampak

    offstream. Dampak instream yaitu dampak erosi yang dapat diamati pada badan-

    badan air yang ada seperti sungai, danau, atau waduk. Sedangkan dampak off

    stream yaitu dampak yang terjadi sebelum partikel-partikel tanah tersebut

    mencapai badan-badan air atau sesudahnya seperti dijumpai pada kejadian banjir,

    penggunaan air untuk kebutuhan domestik, irigasi, atau yang lain (Sihite, 2001).

    Dampak erosi tanah di tapak (on site) merupakan dampak yang dapat

    terlihat langsung kepada pengelola lahan yaitu berupa penurunan produktivitas.

    Hal ini berdampak pada kehilangan produksi, peningkatan penggunaan pupuk dan

    kehilangan lapisan olah tanah yang akhirnya mengakibatkan timbulnya tanah

    kritis. Dampak erosi tanah di luar penggunaan lahan (off site) merupakan dampak

    yang sangat besar pengaruhnya. Sedimen hasil erosi tanah dan kontaminan yang

    terbawa bersama sedimen dapat menimbulkan kerugian dan biaya yang sangat

    besar dalam kehidupan. Bentuk dampak di luar penggunaan lahan antara lain

    adalah : (i) pelumpuran dan pendangkalan waduk; (ii) tertimbunnya lahan

    pertanian dan bangunan; (iii) memburuknya kualitas air dan (iv) kerugian

    ekosistem perairan (Sihite, 2001).

    6. Erosi yang Diperbolehkan

    Erosi merupakan proses alamiah yang tidak bisa atau sama sekali sulit

    dihilangkan atau tingkat erosinya menjadi nol. Sehingga perlu dilakukan suatu

    tindakan supaya erosi yang terjadi masih di bawah batas maksimum (soil loss

    tolerance), yaitu besarnya erosi tidak melebihi laju pembentukan tanah. Hal ini

  • 17

    penting dilakukan pada lahan-ahan pertanian untuk mebatasi tanah yang hilang

    sehingga tingkat kesuburan dana atau produktivitas tanah tidak terganggu dan

    dapat dipertahankan dari waktu ke waktu (Suripin, 2002).

    Penetapan batas tertinggi laju erosi yang masih dapat dibiarkan atau

    ditoleransikan sangat perlu, karena tidak mungkin menekan laju erosi menjadi nol

    dari tanah-tanah yang diusahakan untuk pertanian terutama pada tanah-tanah yang

    berlereng. Oleh sebab iu, sutu kedalaman tanah tertentu harus tetap dipelihara agar

    didapat suatu volume tanah yang cukup, baik bagi tempat terjangkaunya akar

    tanaman dan untuk tempat menyimpan air serta unsure hara yang diperlukan oleh

    tanaman. Erosi yang masih dapat dibiarkan atau ditoleransikan, yang disebut

    dengan nilai T adalah laju erosi yang dinyatakan dalam mm/tahun atau

    ton/ha/tahun yang terbesar dan masih dapat dibiarkan atau ditoleransikan agar

    terpelihara suatu kedalaman tnaah yang cukup bagi pertumbuhan tanaman

    sehingga memungkinkan tercapainya produktivitas yang tinggi secara lestari

    (Arsyad, 2010).

    Dengan menggunakan kriteia yang digunakan oleh Thompson (1957) ,

    dengan menggunakan T maksimum untuk tanah yang dalam, dengan lapisan

    bawah yang permeabe, di atas bahan (substratum) yang telah melapuk (tidak

    terkonsolidasi) sebesar 2,5mm/tahun, dengan menggunakan nisbah nilai untuk

    berbagai sifat dan stratum tanah, maka penetapan nilai T dapat dilihat seperti pada

    Tabel 1. Batas teringgi erosi yang masih dapat dibiarkan kadang-kadang dietapkan

    dengan tujuan utama untuk pegendalaian kualitas air atau untuk mengendalikan

    laju pendangkalan waduk ((Arsyad, 2010).

  • 18

    Tabel 1. Pedoman Penetapan Nilai T untuk Tanah-tanah di Indonesia

    No. Sifat tanah dan Substratum Nilai T (mm/tahun)

    1. Tanah sangat dangkal di atas batuan 0,0

    2. Tanah sangat dangkal di atas bahan telah melapuk

    (tidak terkonsolidasi)

    0,4

    3. Tanah dangkal di atas bahan telah melapuk 0,8

    4. Tanah dengan kedalaman sedang di atas bahan

    telah melapuk

    1,2

    5. Tanah yang dalam dengan lapisan bawah yang

    kedap air di atas substrata yang telah melapuk

    1,4

    6. Tanah yang dalam dengan lapisan bawah

    Berpermiabilitas lambat, di atas substrata yang

    telah melapuk

    1,6

    7. Tanah yang dalam dengan lapisan bawahnya

    berpermia bitas sedang, di atas substrata

    telah melapuk

    2,0

    8. Tanah yang dalam dengan lapisan bawah yang

    permia bel, di atas substrata telah melapuk

    2,5

    Sumber: Arsyad S, (2010)

    Catatan: - mm x berat isi x 10 ton/ha/tahun

    - Berat isi tanah berkisar antara 0,8 sampai 1,6 g cm akan tetapi pada umumnya tanah-tanah berkadar liat tinggi mempunyai berat

    isi antara 1,0 sampai 1,2 g cm

    C. Metode Prediksi Eosi

    Prakiraan besarnya erosi ditentukan berdasarkan data atau informasi

    kehilangan tanah di suatu tempat tertentu. Dengan demikian, prakiraan besarnya

    erosi tersebut dibatasi oleh faktor-faktor topografi/geologi, vegetasi dan

    meteorologi. Menyadari adanya keterbatasan dalam menentukan besarnya erosi

    untuk tempat-tempat di luar lokasi yang telah diketahui spesifikasi tanahnya

    tersebut, maka dikembangkan cara untuk memprakirakan besarnya erosi dengan

    menggunakan persamaan matematis seperti dikemukakan oleh Wischmeir dan

    Smith (1978) yang dikenal dengan persamaan USLE (Asdak, 2010).

  • 19

    A = R K L S C P

    A = besarnya kehilangan tanah (ton/ha/tahun)

    R = faktor erosivitas curah hujan

    K = faktor erodibilitas tanah

    L = faktor panjang kemiringan lereng

    S = faktor gradien (beda)

    C = faktor (pengelolaan) cara bercocock tanam

    P = faktor praktek konservasi tanah (cara mekanik)

    Metode USLE adalah suatu metode prediksi erosi yang dirancang untuk

    memprediksi erosi rata-rata jangka panjang dari erosi lembar atau alur di bawah

    keadaan tertentu. Metode ini juga bermanfaat untuk tanah tempat bangunan dan

    penggunaan non pertanian, tetapi tidak dapat memprediksi pengendapan dan tidak

    memperhitungkan hasil sedimen dan erosi parit, tebing sungai dan dasar sungai

    (Arsyad, 2010).

    Sebagai suatu model empiris, USLE memiliki beberapa kelebihan dan

    keterbatasan. Kekuatan atau kelebihan USLE menurut (Foster, 1982 dalam Baja,

    2012) adalah sebagai berikut:

    1. Sederhana dan mudah untuk digunakan.

    2. Parameternya mudah tersedia.

    3. Melibatkan basis data fisik yang komprehensif.

    4. Dapat diterapkan pada wilayah yang tidak seragam di mana tidak terjadi

    pengendapan (deposition).

    Adapun keterbatasan dari metode USLE adalah sebagai berikut:

    1. Persamaannya menggunakan pendekatan empiris yang tidak mewakili proses

    fisik yang sebenarnya dari erosi tanah.

  • 20

    2. Persamaannya digunakan untuk memprediksi kehilangan tanah rata-rata

    tahunan, dan tidak untuk kejadian hujan tunggal.

    3. Hanya digunakan untuk perkiraan erosi lembar dan rill.

    4. Tidak memperhitungkan deposisi sedimen.

    D. Sistem Informasi Geografis

    Sistem Informasi Geografis (SIG), atau dalam bahasa Inggris dikenal

    dengan Geographic Information System adalah suatu sistem berbasis komputer

    yang digunkan untuk mengolah dan menyimpan data atau informasi yang

    bereferensi geografis (Aronof, 1989). Secara umum, pengertian Sistem Informasi

    Geografis adalah suatu satuan/unit komponen yang terdiri dari perangkat keras,

    perangkat lunak, data geografis dan sumber daya manusia yang bekerjasama

    untuk memasukkan, menyimpan, memperbaiki, memperbaharui, mengelola,

    memanipulasi, mengintegrasikan, menganalisa dan menampilkan data dalam suatu

    informasi berbasis geografis (Barkey dkk., 2009).

    Defenisi SIG secara umum yaitu sebagai suatu sistem berbasis komputer

    untuk menangkap (capture), menyimpan (store), memanggil kembali (retrieve),

    menganalisis, dan mendisplay data spasial, sehingga efektif dalam menangani

    permasalahan yang kompleks baik untuk kepentingan penelitian, perencanaan,

    pelaporan maupun untuk pengelolaan sumber daya dan lingkungan (Star and Estes,

    1990 dalam Baja, 2012).

    Data geografis terdiri dari dua komponen yaitu data spasial dan data

    atribut. Data spasial mempresentasikan posisi atau lokasi geografis dari suatu

    obyek di permukaan bumi. Data spasial dapat diperoleh dari berbagai sumber

  • 21

    dalam berbagai format seperti data grafis peta analog, foto udara, citra satelit,

    survey lapangan, pengukuran theodolite, pengukuran dengan menggunakan GPS

    dan lain-lain. Sedangkan data atribut memberikan deskripsi atau penjelasan dari

    suatu obyek, dapat berupa informasi numeric, foto, narasi dan lain sebagainya,

    yang diperoleh dari data statistic, pengukuran lapangan dan sensus, dan lain-lain

    (Ekadinata dkk., 2008).

    Menurut Prahasta (2009) SIG sebagai system terdiri dari beberapa

    komponen, yaitu:

    a. Perangkat keras

    Perangkat keras yang sering digunakan untuk aplikasi SIG adalah koputer

    (PC), mouse, monitor (plus VGA-card grafik) yang beresolusi tinggi, digitizer,

    printer, plotter, receiver GPS dan scanner.

    b. Perangkat lunak

    SIG sebagai perangkat lunak tersusun secara modular, dimana system basis

    datanya memegang peranan kunci. Perangkat lunak yang digunakan biasanya

    tidak dapat berdiri sendiri, tetapi terdiri dari beberapa layer. Model layer ini

    terdiri dari perangkat lunak system operasi, program-program pendukung

    system-sistem khusus (special system utilities), dan perangat lunak aplikasi.

    c. Data dan informasi geografi

    SIG dapat mengumpulkan dan menyimpan data atau informasi yang

    diperlukan baik secara tidak langsung (dengan cara meng-imfort-nya dari

    format-format perangkaat lunak SIG yang lain) maupun secara langsung

    dengan cara melakukan dijitasi data spasialnya (dijitasi on-screen atau head-

  • 22

    ups di atas tampilan layar monitor, atau manual dengan menggunakan

    digitizer) dari peta analog dan kemudian memasukkan data atributnya dari

    tabel-tabel atau laporan dengan menggunakan keyboard.

    d. Manajemen

    Suatu proyek SIG akan berhasil jika dikelola dengan baik dan dikerjakan oleh

    orang-orang yang memiliki keahlian (kesesuaian dengan job-description yang

    bersangkutan) yang tepat pada semua tingkatan.

    E. Penggunaan Lahan

    Penggunaan lahan (land use) merupakan segala sesuatu yang berkaitan

    dengan jenis pengelolaan lahan yang diterapkan pada suatu satuan lahan. Terdapat

    perbedaan mendasar antara penggunaan lahan (land use) dan penutupan (tutupan)

    lahan (land cover). Penggunaan lahan berkaitan dengan aktivitas manusia yang

    secara langsung berhubungan dengan lahan, dimana terjadi penggunaan dan

    pemanfaatan lahan dan sumber daya yang ada serta menyebabkan dampak pada

    lahan. Sedangkan penutupan lahan berhubungan dengan vegetasi (alam atau

    ditanam) atau konstruksi oleh manusia (bangunan dan lain-lain) yang menutupi

    permukaan tanah (Baja, 2012).

    Berhasil tidaknya suatu pengelolaan lahan ditentukan oleh besarnya erosi

    yang terjadi. Oleh karena itu, erosi merupakan faktor yang harus dipertimbangkan

    dalam perencanaan penggunaan lahan dan pengelolaannya. Salah satu alat bantu

    yang dapat digunakan dalam perencanaan penggunaan lahan adalah model

    prediksi erosi (Arsyad, 2010).

  • 23

    Perencanaan tata guna lahan didefinisikan secara lengkap sebagai aktivitas

    penilaian secara sistematis terhadap potensi lahan (dan termasuk air), dalam

    rangka untuk memilih, mengadopsi, dan menentukan pilihan penggunaan lahan

    terbaik dalam ruang berdasarkan potensi dan kondisi biofisik, ekonomi, dan sosial

    untuk meningkatkan produktivitas dan ekuitas, dan menjaga kelestarian

    lingkungan (Baja, 2012).

  • 24

    BAB 3

    METODE PENELITIAN

    A. Waktu dan Tempat

    Penelitian ini dilaksanakan selama dua bulan yaitu mulai bulan Maret sampai

    dengan bulan April 2013 di DAS Lampoko. Adapun peta lokasi penelitian dapat

    dilihat pada Lampiran 1.

    B. Alat dan Bahan

    Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah GPS (Global Positioning

    System), kamera digital dan alat tulis menulis. Bahan yang digunakan dalam

    penelitian ini adalah Peta RBI 1999, Peta Administrasi DAS Lampoko, Peta Kelas

    Lereng DAS Lampoko, Peta Jenis Tanah DAS Lampoko, Citra Landsat ETM +7

    Tahun 2011, Peta Curah Hujan DAS Lampoko, Peta Kedalaman Tanah DAS

    Lampoko yang diperoleh dari peta system lahan SulSel tahun 1991, peta kawasan

    hutan DAS Lampoko, peta kemampuan lahan DAS Lampoko serta beberapa data

    pendukung yang diperoleh dari instansi-instansi terkait seperti data curah hujan

    dari stasiun Klimatologi I Maros.

    C. Metode Pengumpulan Data

    Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data

    sekunder. Data primer diperoleh melalui survey atau pengamatan di lapangan

    pada setiap unit lahan yang memiliki karakteristik yang berbeda, yang dipilih dan

    ditetapkan berdasarkan tingkat aksesibilitas. Faktor-faktor yang diamati meliputi

    faktor penggunaan lahan (C) dan faktor konservasi tanah (P).

  • 25

    Sedangkan data sekunder adalah data yang diperoleh dari studi pustaka,

    dan hasil penelitian-penelitian terdahulu. Data sekunder meliputi keadaan umum

    lokasi penelitian, Peta RBI 1999, Peta Administrasi DAS Lampoko, Peta Kelas

    Lereng DAS Lampoko, Peta Jenis Tanah DAS Lampoko, Citra Landsat ETM +7

    Tahun 2011, Peta Curah Hujan DAS Lampoko, Peta Kedalaman Tanah DAS

    Lampoko, peta kawasan hutan DAS Lampoko, peta kemampuan lahan DAS

    Lampoko serta beberapa data pendukung yang diperoleh dari instansi-instansi

    terkait seperti data curah hujan dari stasiun Klimatologi I Maros.

    D. Analisis Data

    Analisis data diawali dengan pengolahan citra digital (digital image

    processing) berbasis sistem informasi geografis (SIG) untuk memperoleh peta

    penutupan lahan. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini untuk mengkaji

    tingkat bahaya erosi dan arahan penggunaan lahan yaitu dengan menggunakan

    pendekatan unit lahan sebagai satuan analisis. Unit lahan diperoleh dari hasil

    overlay peta curah hujan, peta jenis tanah, peta kemiringan lereng dan peta

    penutupan lahan. Untuk memprediksi besarnya kehilangan tanah pertahun maka

    dilakukan analisis terhadap faktor-faktor penentu erosi berdasarkan metode USLE

    yang dikembangkan oleh Wischmeier dan Smith (1978), dengan persamaan

    sebagai berikut:

    A = R x K x LS x C x P

    A = besarnya kehilangan tanah (ton/ha/tahun)

    R = faktor erosivitas hujan

    K = faktor erodibilitas tanah

    LS = faktor panjang dan kemiringan lereng

    C = faktor penutupan vegetasi dan pengelolaan tanaman

    P = faktor pengelolaan lahan/tindakan konservasi tanah

  • 26

    1. Faktor erosivitas hujan

    Dalam perhitungan nilai erosivitas, menggunakan rumus Lenvain. Alasan

    pemilihan rumus ini adalah karena data curah hujan yang tersedia adalah data

    curah hujan bulanan. Adapun persamaan matematisnya sebagai berikut:

    Rm = 2,21 (Rain)m 1,36

    dimana : Rm = Erosivitas curah hujan bulanan

    (Rain)m = Curah hujan bulanan dalam cm

    dan

    R = 12m=1 (Rm) = Jumlah Rm selama 12 bulan

    2. Faktor Erodibilitas Tanah (K)

    Faktor erodibilitas tanah menunjukkan tingkat kerentanan tanah terhadap

    erosi, yaitu retensi partikel terhadap pengikisan dan perpindahan tanah oleh energi

    kinetik air hujan. Tekstur tanah yang sangat halus akan lebih mudah hanyut

    dibandingkan dengan tekstur tanah yang kasar. Kandungan bahan organik yang

    tinggi akan menyebabkan nilai erodibilitas tinggi. Nilai faktor erodibilitas tanah

    ditentukan untuk tiap satuan lahan. Penetapan besarnya nilai faktor erodibilitas

    tanah diperoleh dengan menganalisis peta jenis tanah dan nilai erodibilitas setiap

    jenis tanah yang diperoleh dari proyek REPPPROT tahun 1985.

    3. Faktor Panjang dan Kemiringan Lereng (LS)

    Faktor panjang lereng (L) dan kemiringan lereng (S) mempengaruhi

    banyaknya tanah yang hilang karena erosi. Nilai faktor penjang dan kemiringan

    lereng ditentukan untuk tiap satuan lahan. Penetapan besarnya nilai faktor LS

    dengan menganalisis peta kelas lereng yang diperoleh dari analisis DEM SRTM

  • 27

    90 m kemudian dicocokkan dengan tabel nilai LS. Nilai kelas kemiringan lereng

    dapat dilihat pada Tabel 2.

    Tabel 2. Penilaian Kelas Kelerengan (LS)

    Kelas Lereng Kemiringan Lereng (%) Nilai LS

    I 0 8 0,40

    II 8 15 1,40

    III 15 25 3,10

    IV 25 40 6,80

    V >40 9,50

    Sumber: Kiranoto, 2003 dalam Jurnal SMARTEK, Vol. 8 No. 3, Agustus 2010:

    169-181

    4. Indeks Penutupan Vegetasi dan Pengelolaan Lahan (CP)

    Faktor C ditunjukkan sebagai angka perbandingan yang berhubungan

    dengan tanah hilang tahunan pada areal yang bervegetasi dengan areal yang sama

    jika areal tersebut kosong dan ditanami secara teratur. Sedangkan faktor P

    meliputi tindakan-tindakan yang bertujuan untuk memperkecil pengaruh erosi

    pada suatu lereng dalam kaitannya dengan upaya konservasi tanah. Untuk

    penentuan nilai faktor CP, dilakukan pengamatan langsung di lapangan.

    Penentuan titik-titik pengamatan dilakukan pada setiap unit lahan yang memiliki

    karakteristik yang berbeda, yang dipilih dan ditetapkan berdasarkan tingkat

    aksesibilitas. Untuk menentukan nilai faktor C pada berbagai tanaman digunakan

    tabel nilai faktor C (Pengelolaan Tanaman) pada Tabel 3 dan Tabel 4.

  • 28

    Tabel 3. Indeks Pengelolaan Tanaman (nilai C) untuk Pertanaman Tunggal

    No Jenis Tanaman C

    1 Padi sawah 0,01

    2 Tebu 0,2 0,3*

    3 Padi gogo (lahan kering) 0,53

    4 Jagung 0,64

    5 Sorgum 0,35

    6 Kedelai 0,4

    7 Kacang tanah 0,4

    8 kacang hijau 0,35

    9 Kacang tunggak 0,3

    10 Kacang gude 0,3

    11 Ubi kayu 0,7

    12 Talas 0,7

    13 Kentang ditanam searah lereng 0,9

    14 Kentang ditanam menurut kontur 0,35

    15 Ubi jalar 0,4

    16 Kapas 0,7

    17 Tembakau 0,4 06*

    18 Jahe dan sejenisnya 0,8

    19 Cabe, bawang, sayuran lain 0,7

    20 Nanas 0,4

    21 Pisang 0,4

    22 The 0,35

    23 Jambu mete 0,5

    24 Kopi 0,6

    25 Coklat 0,8

    26 Kelapa 0,7

    27 Kepala sawit 0,5

    28 Cengkeh 0,5

    29 Karet 0,6 0,75*

    30 Serai wangi 0,45

    31 Rumput Brachiaria decumbens tahun 1 0,29

    32 Rumput Brachiaria decumbens tahun 2 0,02

    33 Rumput gajah, tahun 1 0,5

    34 Rumput gajah, tahun 2 0,1

    35 Padang rumput (permanen) bagus 0,04

    36 Padang rumput (permanen) jelek 0,4

  • 29

    No Jenis Tanaman C

    37 Alang-alang, permanen 0,02

    38 Alang-alang, dibakar sekali setiap tahun 0,1

    39 Tanah kosong, tak diolah 0,95

    40 Tanah kosong diolah 1,0

    41 Ladang berpindah 0,4

    42 Pohon reboisasi, tahun 1 0,32

    43 Pohon reboisasi, tahun 2 0,1

    44 Tanaman perkebunan, tanah ditutup dengan bagus 0,1

    45 Tanaman perkebunan, tanah berpenutupan jelek 0,5

    46 Semak tak terganggu 0,01

    47 Hutan tak terganggu, sedikit seresah 0,005

    48 Hutan tak terganggu, banyak seresah 0,001

    Sumber : Departemen Kehutanan, 2009.

    Ket : * Nilai lebih rendah untuk produksi perkebunan.

    ^ Nilai berasal dari Vis. 87 diasumsikan penutup tanah yang

    rendah.

    Tabel 4. Indeks Pengelolaan Tanaman (Nilai C) untuk Penanaman Tumpang Sari

    dan Pergiliran Tanaman

    No. Pengelolaan Pertanian Nilai C

    1 Ubi kayu + kedelai 0,181

    2 Ubi kayu + Kacang tanah 0,195

    3 Padi + sorghum 0,345

    4 Padi + kedelai 0,417

    5 Kacang tanah + gude 0,495

    6 Kacang tanah + mulsa jerami 4 ton/ha 0,049

    7 Kacang tanah + kacang tunggak 0,571

    8 Padi + mulsa jerami 4 ton/ha 0,096

    9 Kacang tanah + mulsa jagung 4 ton/ha 0,128

    10 Kacang tanah + mulsa crotalaria 3 ton/ha 0,136

    11 Kacang tanah + mulsa kacang tanah 0,259

    12 Kacang tanah + mulsa jerami 0,377

    13 Padi + mulsa crotalaria 3 ton/ha 0,387

    14 Pola tanam tumpang gilir *) + mulsa jerami 6

    ton/ha/tahun

    0,079

    15 Pola tanam berurutan **) + mulsa sisa tanaman 0,347

    16 Pola tanam berurutan 0,48

    17 Pola tanam tumpang gilir + mulsa sisa tanaman 0,357

    18 Pola tanam tumpang gilir 0,588

    Catatan: (+) = tumpang tindih; (-) = pergiliran tanaman

    Sumber : Departemen Kehutanan, 2009.

  • 30

    Untuk mengetahui faktor pengelolaan dan konservasi tanah (P) digunakan

    pedoman prakiraan nilai P untuk berbagai tindakan konservasi pada Tabel 5.

    Tabel 5. Indeks Konservasi Tanah (Nilai P)

    No Teknik Konservas Tanah P

    1 Teras bangku, baik 0,04

    2 Teras bangku, sedang 0,15

    3 Teras bangku, jelek 0,40

    4 Teras tradisional 0,35

    5 Teras gulud, baik 0,15

    6 Hillside ditch atau filed pits 0,30

    7 Kontur cropping kemiringan 1-3% 0,4

    8 Kontur cropping kemiringan 3-8% 0,5

    9 Kontur cropping kemiringan 8-15% 0,6

    10 Kontur cropping kemiringan 15-25% 0,8

    11 Kontur cropping kemiringan >25% 0,9

    12 Strip rumput permanen, baik, rapat dan berlajur 0,04

    13 Strip rumput permanen jelek 0,4

    14 Strip crotolaria 0,5

    15 Mulsa jerami sebanyak 6 t/ha/th 0,15

    16 Mulsa jerami sebanyak 3 t/ha/th 0,25

    17 Mulsa jerami sebanyak 1 t/ha/th 0,60

    18 Mulsa jagung, 3 t/ha/th 0,35

    19 Mulsa Crotolaria, 3 t/ha/th 0,50

    20 Mulsa kacang tanah 0,75

    21 Bedengan untuk sayuran 0,15

    Sumber : Departemen Kehutanan, 2009.

    5. Kelas Tingkat Bahaya Erosi

    Untuk mengetahui tingkat bahaya erosi maka dilakukan analisis terhadap

    besarnya nilai erosi berdasarkan rumus USLE dengan kedalaman efektif. Dengan

    berpedoman pada Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor : P.

    32/Menhut-II/2009 tentang Tata Cara Penyusunan Rencana Teknik Rehabilitasi

    Hutan dan Lahan Daerah Aliran Sungai (RTkRHL-DAS) maka kelas tingkat

    bahaya erosi diklasifikasi menjadi lima kelas, yaitu sangat ringan, ringan, sedang,

  • 31

    berat, dan sangat berat. Klasifikasi kelas tingkat bahaya erosi dapat dilihat pada

    Tabel 6.

    Tabel 6. Klasifikasi Tingkat Bahaya Erosi Tanah

    Sumber : Departemen Kehutanan, 2009

    Keterangan : 0-SR = Sangat Ringan

    I-R = Ringan

    II-S = Sedang

    III-B = Berat

    IV-SB = Sangat Berat

    6. Arahan Perencanaan Penggunaan Lahan

    Informasi yang dihasilkan mengenai tingkat bahaya erosi pada DAS

    Lampoko, kemudian dijadikan sebagai bahan acuan dalam merumuskan arahan

    perencanaan penggunaan lahan yang sesuai pada DAS Lampoko dengan tujuan

    untuk mengurangi tingkat bahaya erosi pada DAS tersebut. Dalam perumusan

    arahan perencanan penggunaan lahan, maka harus disesuaikan dengan keadaan

    wilayah setempat. Untuk membuat arahan perencanaan penggunaan lahan maka

    dilakukan overlay terhadap peta tingkat bahaya erosi, peta penutupan lahan, peta

    kawasan hutan dan peta kelas kemampuan lahan wilayah DAS Lampoko.

    Menganalisis peta tingkat bahaya erosi dengan peta kemampuan lahan untuk

    melihat seberapa besar kemampuan lahan untuk ditumbuhi vegetasi dengan tetap

    mempertimbangkan aspek penutupan lahan dan kawasan hutan.

    Solum tanah

    (cm)

    Kelas Erosi (ton/ha/tahun)

    I (480)

    Dalam

    >90

    SR

    0

    R

    I

    S

    II

    B

    III

    SB

    IV

    Sedang

    60-90

    R

    I

    S

    II

    B

    III

    SB

    IV

    SB

    IV

    Dangkal

    30-60

    S

    II

    B

    III

    SB

    IV

    SB

    IV

    SB

    IV

    Sangat dangkal

  • 32

    BAB IV. KEADAAN UMUM LOKASI

    A. Letak dan Luas

    Lokasi penelitian terletak di Daerah Aliran Sungai (DAS) Lampoko yang

    meliputi Desa Galung, Binuang, Takkalasi, Kamiri, Lampoko, Balusu, Ajakkang,

    Mangkoso, Kiru-Kiru, dan Paccekke Kabupaten Barru, serta Desa Pesse,

    Mattabulu, dan Sering Kabupaten Soppeng. Lokasi penelitian berjarak sekitar 100

    km yan dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan beroda empat maupun

    beroda dua dengan waktu kurang lebih 2 jam 30 menit. Secara gegrafis, Daerah

    Aliran Sungai (DAS) Lampoko terletak diantara 11903715-11904530 lintang

    utara dan 401520- 402155 lintang selatan atau berada di sebelah utara Ibu Kota

    Provinsi Sulawesi Selatan. Luas wilayah DAS Lampoko yaitu 9.887,26 ha,

    94,32% wilayahnya terletak pada Kabupaten Barru 5,68% wilayahnya terletak

    pada Kabupaten Soppeng. Adapun rincian masing-masing wilayah dapat dilihat

    pada Tabel 7.

    Tabel 7. Data Administrasi DAS Lampoko

    No Desa Kecamatan Luas (Km2) Persentase (%)

    1 Galung Barru 0,18 0,18

    2 Binuang Balusu 0,05 0,05

    3 Takkalasi Balusu 1,03 1,04

    4 Kamiri Balusu 36,70 37,11

    5 Balusu Balusu 17,8 18,09

    6 Lampoko Balusu 4,12 4,17

    7 Ajakkang Soppeng Riaja 10,82 10,95

    8 Paccekke Soppeng Riaja 21,58 21,84

    9 Kiru-Kiru Soppeng Riaja 0,13 0,13

    10 Mangkoso Soppeng Riaja 0,75 0,76

    11 Mattabulu Lalabata 1,32 1,34

    12 Pesse Donri Donri 2,74 2,77

    13 Sering Donri Donri 1,55 1,57

    Total 98,77 100,00

  • 33

    Secara fisik DAS Lampoko berbatasan dengan beberapa DAS lain

    diantaranya:

    a. Sebelah Utara berbatasan dengan DAS Walesu

    b. Sebelah Timur berbatasan dengan DAS Bila Walanae

    c. Sebelah Selatan berbatasan dengan DAS Takalasi

    B. Topografi dan Kelerengan

    Berdasarkan kondisi topografi wilayah DAS Lampoko berada pada

    ketinggian 0 - 1.250 meter di atas permukaan laut yang terbagi menjadi 5 kelas

    ketinggian dimana 45% wilayahnya memiliki topografi 0 - 250 meter di atas

    permukaan laut. Wilayah DAS Lampoko juga memiliki wilayah pegunungan

    dengan ketinggian hingga 1.000 meter di atas permukaan laut. Adapun rincian

    mengenai kondisi topografi DAS Lampoko dapat dilihat pada Tabel 8.

    Tabel 8. Kondisi Topografi DAS Lampoko

    No Kelas Ketinggian (m) Luas (ha) Pesentase (%)

    1 0-250 510,16 45,62

    2 250-500 3.265,69 33,03

    3 500-750 1.772,26 17,92

    4 750-1.000 303,29 3,07

    5 1.000-1.250 35,71 0,36

    Total 9.887,11 100,00

    Berdasarkan peta kelerengan DAS Lampoko, dapat diketahui bahwa DAS

    Lampoko memiliki kelas kemiringan lereng yang diklasifikasikan menjadi 5 kelas

    yaitu mulai dari datar hingga curam. Kondisi DAS Lampoko berdasarkan

    kemiringan lereng dapat dilihat pada Tabel 9.

  • 34

    Tabel 9. Kemiringan Lereng DAS Lampoko

    No Kelas Lereng Luas (ha) Persentase (%)

    1 0-8% 2.739,34 27,71

    2 8-15% 1.646,68 16,65

    3 15-25% 811,58 8,21

    4 25-40% 3.006,75 30,41

    5 >40% 1.682,91 17,02

    Total 9.887,26 100,00

    C. Tanah dan Geologi

    Berdasarkan hasil analisis peta tanah pada DAS Lampoko, diketahui jenis

    tanah pada wilayah tersebut terdiri dari distropept, eutropepts, fluvaquent,

    humitropept, tropaquent dan tropudults seperti yang terlihat pada Tabel 10.

    Tabel 10. Jenis Tanah DAS Lampoko

    No Jenis Tanah Luas (ha) Persentase (%)

    1 Dystropept 3.588,71 36,29

    2 Eutropepts 376,14 3,80

    3 Fluvaquent 1.293,35 13,08

    4 Humitropep 2.198,40 22,23

    5 Tropaquent 81,46 0.,82

    6 Tropudults 2.349,21 23,76

    Total 9887,26 100

    Sumber: Proyek REPPPROT,1985.

    Berdasarkan peta geologi Kabupaten Barru, diperoleh data geologi

    wilayah DAS Lampoko seperti terlihat pada Tabel 11.

    Tabel 11. Geologi Batuan DAS Lampoko

    No Batuan Luas (ha) Persentase (%)

    1 Aluvium muda berasal dari endapan laut 277,97 2,81

    2 Aluvium muda berasal dari

    endapan sungai 0,02 0,00

    3 Aluvium muda,estuarin marin,aluvium muda

    berasal dari sungai gambut 1.178,00 11,92

    4 Andesit,basalt 2.519,00 25,48

    5 Batu gamping 94,40 0,95

    6 Batu pasir,batu lanau,batu 3.464,00 35,04

  • 35

    No Batuan Luas (ha) Persentase (%)

    lumpur,serpih,konglomerat

    7 Batu pasir,batu lumpur,serpih 12,28 0,12

    8 Batu pasir,konglomerat,batu lumpur,serpih 1.954,00 19,76

    9 Marmer,batu gamping 2.97,20 3,01

    10 Serpih,batu lumpur,batu pasir,konglomerat 89,81 0,91

    Total 9.886,68 100,00

    Sumber: Proyek REPPPROT,1985.

    D. Iklim dan Curah Hujan

    Umumnya tipe iklim di Indonesia ditetapkan menurut klasifikasi Schmit

    dan Ferguson yang berdasarkan atas perbandingan rata-rata jumlah bulan kering,

    jumlah bulan basah dan jumlah bulan lembab dengan pengklasifikasian sebagai

    berikut:

    1) Bulan kering (bk) dengan curah hujan setiap bulan di bawah 60 mm

    2) Bulan lembab (bl) dengan curah hujan setiap bulan antara 60 mm 100 mm

    3) Bulan basah (bb) dengan curah hujan setiap bulan lebih besar dari 100 mm

    Curah hujan di Daerah Aliran Sungai Lampoko ditentukan dengan

    menggunakan data curah hujan dari tiga stasiun penakar curah hujan yaitu

    BPP.Palanro, BPP.Sumpangbinangae dan BPP.Watan Soppeng. Data curah hujan

    bulanan selama 10 tahun terakhir yaitu dari tahun 2003 sampai dengan tahun 2012

    pada tiga stasiun penakar curah hujan tersebut dapat dilihat pada Lampiran 12.

    Rata-rata jumlah bulan kering, bulan lembab dan bulan basah selama 10

    tahun terakhir di tiga stasiun penakar curah hujan di DAS Lampoko dapat dilihat

    pada Tabel 12.

  • 36

    Tabel 12. Rata-Rata Jumlah Bulan Kering, Bulan Lembab dan Bulan Basah

    selama 10 Tahun Terakhir di DAS Lampoko

    No Stasiun Curah Hujan

    Jumlah dalam 10 tahun terakhir

    Bulan Kering Bulan Lembab Bulan Basah

    1 BPP.Palanro 2 1,2 8,8

    2 BPP.Sumpangbinangae 1,8 1,2 9

    3 BPP.Watan Soppeng 3,4 1,7 6,9

    Total 7,2 4,1 24,7

    Rata-rata 2,4 1,37 8,23

    Sumber : Stasiun Klimatologi Kelas 1 Maros, 2013

    Berdasarkan data pada Tabel 12, dapat ditentukan nilai Q untuk

    mengetahui tipe iklim di DAS Lampoko yaitu dengan rumus sebagai berikut:

    Q =

    x 100%

    = 2.4

    8.23 x 100%

    = 29%

    Makin kecil nilai Q maka makin basah suatu tempat dan makin besar nilai Q maka

    makin kering suatu tempat. Berdasarkan penggolongan iklim dari Schmidt dan

    Ferguson, maka tipe iklim di DAS Lampoko termasuk dalam tipe iklim B yaitu

    iklim basah, dengan nilai Q berkisar antara 14,3% 33,3%.

  • 37

    BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN

    A. Prediksi Erosi Metode Universal Soil Loss Equation

    1. Faktor Erosivitas

    Salah satu faktor penyebab terjadinya erosi adalah faktor erosivitas.

    Semakin tinggi nilai erosivitas hujan suatu daerah maka semakin besar pula

    potensi terjadinya erosi pada daerah tersebut. Nilai erosivitas hujan diperoleh

    dengan menggunakan data curah hujan 10 tahun terakhir berdasarkan rumus

    Lenvain. Nilai erosivitas hujan yang terdapat pada DAS Lampoko dapat dilihat

    pada Tabel 13 dan peta erosivitas dapat dilihat pada Gambar 1 sedangkan peta

    curah hujan DAS Lampoko dapat dilihat pada Lampiran 2.

    Table 13. Nilai Erosivitas DAS Lampoko

    No Nama Stasiun CH Longitude Latitude Nilai R Luas (ha)

    1 Palanro 11903819,9 401013,8 2.620 938,30

    2 Sumpangbinangae 1190377,6 402333,3 2.864 6.285,97

    3 Watansoppeng 11905313 40215,2 1.076 2.662,99

    Total 9887,26

    Sumber : Data Sekunder setelah diolah dan Hasil Analisis SIG, 2013

    Hasil analisis data, menunjukkan bahwa tingkat curah hujan tertinggi yaitu

    stasiun Sumpangbinangae dengan nilai erosivitas 2.864 dan tingkat curah hujan

    terendah yaitu stasiun Watansoppeng dengan nilai erosivitas 1.076. Hujan akan

    menimbulkan erosi jika intensitasnya cukup tinggi dan jatuhnya dalam waktu

    yang relatif lama. Hal tersebut disebabkan karena dalam proses erosi, energi

    kinetik merupakan penyebab utama dalam menghancurkan agregat-agregat tanah.

    Besarnya energi kinetik hujan tergantung pada jumlah hujan, intensitas dan

    kecepatan jatuhnya hujan.

  • 38

    Gambar 1. Peta Erosivitas Hujan (R) DAS Lampoko

  • 39

    2. Faktor Erodibilitas Tanah (K)

    Faktor erodibilitas tanah menunjukkan resistensi partikel tanah terhadap

    pengelupasan dan transportasi partikel-partikel tanah terhadap energi kinetik air

    hujan. Setiap jenis tanah mempunyai nilai erodibilitas yang berbeda tergantung

    dari karakteristik tanah seperti tekstur tanah, kapasitas infiltrasi dan kandungan

    bahan organik dan kimia tanah. Sehingga untuk mengetahui nilai erodibilitas

    tanah maka perlu melakukan analisis jenis tanah. Semakin tinggi nilai erodibilitas

    menunjukkan bahwa tanah tersebut semakin peka terhadap erosi. Jenis tanah dan

    nilai erodibilitas pada DAS Lampoko dapat dilihat pada Tabel 14 dan Peta

    erodibilitas dapat dilihat pada Gambar 2 sedangkan peta sebaran jenis tanah di

    DAS Lampoko dapat dilihat pada Lampiran 3.

    Table 14. Jenis Tanah dan Nilai Erodibilitas DAS Lampoko

    No Jenis Tanah Nilai K Luas (ha)

    1 Dystropept 0.15 3.588,71

    2 Eutropepts 0.15 376,14

    3 Fluvaquent 0.40 1.293,35

    4 Humitropept 0.15 2.198,40

    5 Tropaquent 0.10 81,46

    6 Tropudults 0.15 2.349,21

    Total 9.887,26

    Sumber : Hasil Analisa SIG, 2013

  • 40

    Gambar 2. Peta Erodibilitas Tanah DAS Lampoko

  • 41

    3. Faktor Panjang dan Kemiringan Lereng (LS)

    Panjang dan kemiringan lereng merupakan dua unsur topografi yang

    berpengaruh terhadap erosi. Apabila kemiringan dan panjang lereng semakin

    meningkat maka erosi juga akan meningkat. Berdasarkan pengamatan di lapangan

    menunjukkan bahwa kemiringan lereng lebih penting daripada panjang lereng,

    karena pergerakan air serta kemampuannya memecahkan dan membawa partikel

    tanah akan bertambah dengan bertambahnya sudut ketajaman lereng. Curamnya

    lereng akan memperbesar energi angkut air. Selain itu dengan makin miringnya

    lereng, maka jumlah butir-butir tanah yang dipercik kebawah oleh tumbukan air

    semakin banyak. Nilai faktor kemiringan lereng dapat dilihat pada Tabel 15 dan

    peta nilai LS dapt dilihat pada Gambar 3 sedangkan peta kemiringan lereng dapat

    dilihat pada Lampiran 4.

    Table 15. Nilai LS DAS Lampoko

    No Topografi Kelas Lereng (%) Nilai LS Luas (ha)

    1 Datar 0-8 0,4 2.680,21

    2 Landai 8-15 1,4 1.603,20

    3 Agak curam 15-25 3,1 1.117,26

    4 Curam 25-40 6,8 3.025,18

    5 Sangat curam >40 9,5 1.461,41

    Total 9.887,26

    Sumber : Kiranoto, 2003 dalam Jurnal SMARTEK, Vol. 8 No. 3, Agustus 2010:

    169-181

  • 42

    Gambar 3. Peta Nilai LS DAS Lampoko

  • 43

    4. Faktor Pengelolaan Tanaman dan Konseervasi Tanah (CP)

    Nilai faktor pengelolaan tanaman (C) dan tindakan konservasi tanah (P)

    diperoleh dari pengamatan langsung di lapangan berdasarkan peta unit lahan. Peta

    unit lahan wilayah DAS Lampoko dapat dilihat pada Lampiran 5. Berdasarkan

    peta unit lahan maka diperoleh faktor pengelolaan tanaman dan tindakan

    konservasi tanah seperti pada Tabel 15 dan Peta nilai C dan P dapat dilihat pada

    Gambar 4 dan 5 edangkan peta penggunaan lahan dapat dilihat pada lampiran 6.

    Berbagai jenis penggunaan lahan di wilayah DAS Lampoko dapat dilihat pada

    Lampiran 13.

    Tabel 16. Nilai Faktor Pengelolaan Tanaman dan Tindakan Konservasi Tanah di

    DAS Lampoko

    No Penggunaan Lahan Nilai C Nilai P Luas (ha)

    1 Hutan berkerapatan rendah 0,005 1 6.536,59

    2 Kebun campuran 0,1 1 1.001,52

    3 Semak belukar 0,01 1 1.164,65

    4 Sawah 0,01 0,15 680,78

    5 Padi gogo 0,53 1 26,44

    6 Kacang-kacangan 0,4 1 286,11

    7 Pemukiman 1 1 4,43

    8 Tambak 1 1 186,74

    Total 9.887,26

    Sumber : Hasil Analisa SIG, 2013

    Penggunan lahan wilayah DAS Lampoko didominasi oleh hutan

    berkerapatan rendah seluas 6.536,67 ha dengan nilai C (0,005) dan nilai P (0,15).

    Vegetasi penutup tanah sangat besar pengaruhnya terhadap aliran permukaan dan

    erosi. Semakin banyak vegetasi maka akan semakin memperendah laju erosi yang

    akan terjadi demikian sebaliknya. Pengaruh vegetasi penutup tanah terhadap erosi

    adalah melindungi permukaan tanah dari tumbukan air hujan, menurunkan

  • 44

    kecepatan air larian, menahan partikel-partikel tanah pada tempatnya dan

    mempertahankan kemantapan kapasitas tanah dalam menyerap air.

    Nilai faktor tindakan manusia dalam konservasi tanah (P) adalah nisbah

    antara besarnya erosi dari suatu lahan dengan suatu tindakan konservasi tertentu

    terhadap besarnya erosi pada lahan tanpa tindakan konservasi. Berdasarkan

    pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa penerapan teknik konservasi tanah

    di wilayah DAS Lampoko belum optimal karena hampir sebagian besar wilayah

    DAS Lampoko tidak menerapkan tindakan konservasi.

  • 45

    Gambar 4. Peta Nilai C DAS Lampoko

  • 46

    Gambar 5. Peta Nilai P DAS Lampoko

  • 47

    B. Tingkat Bahaya Erosi (TBE)

    Tingkat laju erosi dianalisis dengan menggunakan bantuan perangkat

    lunak Arc GIS dengan melakukan overlay kelima peta nilai indeks penentu erosi

    yaitu peta indeks erosivitas (R), indeks erodibilitas tanah (K), peta indeks

    kelerengan (LS) dan indeks vegetasi dan praktek konservasi (CP). Berdasarkan

    hasil analisis tersebut, diperoleh data laju tingkat erosi di wilayah DAS Lampoko

    seperti pada Tabel 17. Perhitungan prediksi tingkat laju erosi menggunakan

    metode USLE pada DAS Lampoko dapat dilihat pada Lampiran 11.

    Tabel 17. Tingkat Laju Erosi di Wilayah DAS Lampoko

    NO Tingkat Erosi (ton/ha/thn) Luas (ha) Persentase (%)

    1 < 15 7.451,81 75,37

    2 15 60 1.675,60 16,95

    3 60 180 202,67 2,05

    4 180 480 313,43 3,17

    5 >480 243,76 2,47

    Total 9.887,26 100,00

    Sumber: Hasil analisis SIG, 2013

    Berdasarkan Tabel 17 dapat diketahui bahwa tingkat laju erosi di wilayah

    DAS Lampoko tergolong sangat ringan sampai ringan, yang tersebar pada wilayah

    seluas 9.127,41 ha atau 92,31% dari luas wilayah penelitian. Laju erosi sangat

    ringan sampai ringan pada suatu unit lahan tidak selamanya memiliki tingkat

    bahaya erosi (TBE) sangat ringan samapi ringan, demikian sebaliknya.

    Tingkat bahaya erosi menggambarkan jumlah tanah yang hilang

    maksimum pada setiap unit lahan yang diperoleh berdasarkan besarnya laju erosi

    terhadap kedalaman solum tanah. Tanah-tanah dengan solum yang sangat dalam

    (>1,5 m) serta top soil yang tebal akan memiliki toleransi yang tinggi dibanding

  • 48

    dengan tanah-tanah dengan solum dan topsoil yang tipis, sehingga jumlah

    kehilangan tanah yang kecilpun kadang-kadang memiliki resiko yang sangat besar

    terhadap lahan bersangkutan jika tanah pada unit tersebut memiliki solum dan

    topsoil yang tipis (Hadi, 1989).

    Berdasarkan hasil analisis peta tingkat laju erosi dengan peta kedalaman

    tanah maka diperoleh peta sebaran tingkat bahaya erosi di DAS Lampoko seperti

    pada Gambar 6 dan sebaran prediksi tingkat bahaya erosi di DAS Lampoko dapat

    dilihat pada Tabel 18.

    Tabel 18. Sebaran Prediksi Tingkat Bahaya Erosi Menggunakan Metode USLE di

    DAS Lampoko

    No

    Tingkat Bahaya

    Erosi

    Luas

    Total

    Persentase

    (%) Balusu Barru Donri Donri

    Soppeng

    Riaja

    1 0-SR (Sangat ringan) 751,98

    503,83 1.255,81 12,70

    2 I-R (Ringan) 765,32 572,11 1.248,34 2.585,77 26,15

    3 II-S (Sedang) 2.243,64

    637,41 2.881,05 29,14

    4 III-B (Berat) 2.057,39 82,08 258,45 2.397,91 24,25

    5 IV-SB (Sangat Berat) 263,75 6,97

    496,00 766,73 7,75

    Total 6.082,07 6,97 654,19 3.144,03 9.887,26 100,00

    Sumber: Hasil analisis SIG, 2013

  • 49

    Gambar 6. Peta Tingkat Bahaya Erosi DAS Lampoko

    Hasil Tabel 18 dapat dilihat bahwa wilayah DAS Lampoko memiliki

    tingkat bahaya erosi yang bervariasi, mulai dari sangat ringan, ringan, sedang,

    berat dan sangat berat. Kecamatan Balusu dengan luas 6.082,07 ha memiliki

  • 50

    tingkat bahaya erosi mulai dari sangat ringan,ringan, sedang, bertdan sangat berat.

    Kecamatan Barru dengan luas paling kecil hanya memiliki tingkat bahaya erosi

    kategori sangat berat. Kecamatan Donri-Donri memiliki tingat bahaya erosi ringan

    dan berat. Sedanagkan kecamtan Soppeng Riaja dengan luas 3.144,03 ha juga

    memiliki tingkat bahaya erosi yang bervariasi mulai dari sangat ringan sampai

    sangat berat. Adanya perbedaan tingkat bahaya erosi pada setiap wilayah

    disebabkan karena perbedaan karakteristik setiap wialayah seperti penggunaan

    lahan, kelerengan, jenis tanah, curah hujan dan faktor kedalaman tanah. Tingkat

    bahaya erosi sedang memiliki persentase paling tinggi yaitu 29,14% dan tingkat

    bahaya erosi sangat berat memiliki persentase paling rendah yaitu 7,75%. Wilayah

    yang memiliki tingkat bahaya erosi sedang sampai sangat berat perlu dilakukan

    tindakan pengendalian erosi dengan cara vegetatif dan mekanik sehingga

    diharapkan nilai erosi pada setiap wilayah dapat di tekan atau di perkecil.

    C. Erosi yang Diperbolehkan

    Dengan berpedoman pada penetapan nilai T untuk tanah-tanah di

    Indonesia maka dapat diketahui besar nilai erosi yang masih dapat ditoleransi atau

    diperbolehkan pada suatu unti lahan. Besarnya nilai erosi yang diperbolehkan

    untuk setiap unit lahan dapat dilihat ada Lampiran 12. Hasil analisis kedalaman

    tanah menunjukkan bahwa terdapat beberapa unit lahan yang mempunyai laju

    erosi lebih besar dari erosi yang diperbolehkan. Hal ini disebabkan karena

    penggunaan lahan pada unit lahan tersebut berupa semak belukar tanpa tindakan

    konservasi dan juga terletak pada kondisi wilayah dengan topografi curam.

    Wilayah-wilayah seperti ini perlu mendapatkan tindakan pengendalian erosi

  • 51

    seperi melakukan penanaman berbagai macam pohon dengan tujuan untuk

    mengurangi laju erosi.

    D. Arahan Perencanaan Penggunaan Lahan

    Untuk mengahasilkan peta arahan perencanaan maka dilakukan tumpang

    susun peta tingkat bahaya erosi, peta kawasan hutan dan peta kemampuan lahan

    wilayah DAS Lampoko. Peta kawasan hutan dapat dilihat pada Lampiran 7 dan

    peta kelas kemampuan lahan dapat dilihat pada Lampiran 8. Adapun peta hasil

    arahan perencanaan penggunaan lahan di wilayah DAS Lampoko dapat dilihat

    pada Gambar 7. Luas arahan perencanan penggunaan lahan wilayah DAS

    Lampoko dapt dilihat pada Tabel 19.

    Tabel 19. Arahan Perencanaan Penggunaan Lahan Wilayah DAS Lampoko

    No Arahan Perencanaan Penggunaan Lahan Luas (ha)

    1 Agroforestry 744,70

    2 Hutan Rakyat 1.048,39

    3 Hutan Tanaman Rakyat 3.549,45

    4 Tambak 149,11

    5 Pemukiman 14,67

    6 Penghijauan 198,42

    7 Reboisasi 2.887,24

    8 Sawah 1.232,07

    9 Tubuh air 62,91

    Total 9.887,26

  • 52

    Gambar 7. Peta Arahan Perencanaan Penggunaan Lahan DAS Lampoko

  • 53

    BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN

    A. Kesimpulan

    Berdasarkan hasil analisa dan uraian-uraian yang dikemukakan pada bab-

    bab terdahulu, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

    1. Tingkat bahaya erosi di wilayah DAS Lampoko bervariasi dari 0-SR (sangat

    ringan), I-R (ringan), II-S (sedang), III-B (berat) dan IV-SB (sangat berat)

    dengan persentase luas berturut-turut 12,70%, 26,15%, 29,14%, 24,25% dan

    7,75%, besarnya laju erosi sangat ringan yaitu 815,72 ton/ha/thn, erosi ringan

    1.686,25 ton/ha/thn, erosi sedang 2.943,36 ton/ha/thn, erosi berat 12.484,51

    ton/ha/thn dan erosi sangat berat 3.488,47 ton/ha/thn.

    2. Arahan perencanaan penggunaan lahan di DAS Lampoko terdiri dari

    agroforestry, hutan rakyat, hutan tanaman rakyat, tambak, pemukiman,

    penghijauan, reboisasi, sawah dan tubuh air.

    B. Saran

    Pada daerah-daerah yang memiliki tingkat bahaya erosi sedang, berat dan

    sangat berat perlu dilakukan upaya pencegahan erosi berupa tindakan konservasi

    tanah dan perbaikan pengelolaan lahan. Sedangkan untuk daerah-daerah dengan

    tingkat bahaya erosi ringan dan sangat ringan perlu tetap memperhatikan

    pengolahan dan teknik konservasi tanah agar tingkat bahaya erosi tidak menjadi

    berat.

  • 54

    DAFTAR PUSTAKA

    Alamendah. 2010. Kerusakan Sungai dan Daerah Aliran Sungai di Indonesia,

    dalam http://alamendah.wordpress.com/, diakses 7 November 2012.

    Arief, A. 2001. Hutan & Kehutanan. Yogyakarta: Kanisius.

    Arsyad, S.2010. Konservasi Tanah dan Air. Bogor: IPB Press, Institut Pertanian

    Bogor.

    Asdak, C. 2001. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Yogyakarta:

    Gadjah Mada University Press.

    Baja, S. 2012. Tata Guna Lahan dalam Pengembangan Wilayah Pendekatan

    Spasial & Aplikasinya. Yogyakarta: Andi.

    Barkey, R.A., Amran.A, Syamsu.R, Andang.S.S. dan Agus.S.B.T. 2009. Buku

    Ajar Sistem Informasi Geografis. Makassar: Fakultas Kehutanan,

    Universitas Hasanuddin.

    Departemen Kehutanan, 2009. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor: P.

    32/MENHUT-II/2009. Tentang Tata Cara Penyusunan Rencana Teknik

    Rehabilitasi Hutan Dan Lahan Daerah Aliran Sungai (RTkRHL-DAS).

    Jakarta.

    Ekadinata,A., Sonya.D, Danan.P.H, Dudy.K.N. dan Feri.J. 2008. Sistem Informasi

    Geografis Untuk Pengelolaan Bentang Lahan Berbasis Sumber Daya

    Alam. Bogor: World Agroforestry Centre (ICRAF).

    Hadiharyanto, Sumadi. 2003. Kajian Metode RUSLE untuk Menaksir Laju Erosi

    DAS Embung Banyuwangi di Kabupaten Rembang. Tesis. Program

    Pasca Sarjana Magister Teknik Sipil. Universitas Diponegoro. Semarang.

    Hadi, Wani Utomo, 1989. Konservasi Tanah di Imdonesia. Jakarta: Rajawali Pers.

    Kartasapoetra, G., A.G. Kartasapoetra. dan Mul.M.S. 1985. Teknologi Konservasi

    tanah dan Air. Jakarta: Rineka Cipta.

    Lee, R. 1988. Hidrologi Hutan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

  • 55

    Prahasta, E. 2009. Sistem Informasi Geografis Konsep-Konsep Dasar (Perspektif

    Geodesi & Geomatika). Bandung: Informatika.

    Purnama, N. E. 2008. Pendugaan Erosi dengan Metode USLE (Universal Soil

    Loss Equation) di Situ Bojongsari, Depok. Skripsi. Departemen

    Teknik Pertanian. Fakultas Teknologi Pertanian. Institut Pertanian

    Bogor. Bogor.

    Rahim, S. E. 2000. Pengendalian Erosi Tanah Dalam Rangka Pelestarian

    Lingkungan Hidup. Jakarta: Bumi Aksara.

    Sihite, J. 2001. Evaluasi Dampak Erosi Tanah. Model Pendekatan Ekonomi

    Lingkungan dalam Perlindungan DAS: Kasus Sub-DAS Besai DAS Tulang Bawang, Lampung. [Tesis]. Bogor: Pasca Sarjana, Institut

    Pertanian Bogor.

    Suripin. 2002. Pelestarian Sumber Daya Tanah dan Air. Yogyakarta: Andi Offset.

    Utomo, W. H. 1989. Konservasi Tanah di indonesia Suatu Rekaman dan Analisa.

    Jakarta: Rajawali Pers.

    Widjajanto D, 2006. Model Penggunaan Lahan untuk Pengembangan Pertanian

    Berkelanjutan (Studi Kasus Daerah Aliran Sungai Gumbasa, Donggala)

    Dokumentasi Disertasi Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. IPB,

    Bogor.

  • 56

    Lampiran 1. Peta Administrasi DAS Lampoko

  • 57

    Lampiran 2. Peta Curah Hujan DAS Lampoko

  • 58

    Lampiran 3. Peta Jenis Tanah DAS Lampoko

  • 59

    Lampiran 4. Peta Kemiringan Lereng DAS Lampoko

  • 60

    Lampiran 5. Peta Unit Lahan DAS Lampoko

  • 61

    Lampiran 6. Peta Penutupan Lahan DAS Lampoko

  • 62

    Lampiran 7. Peta Kawasan Hutan DAS Lampoko

  • 63

    Lampiran 8. Peta Kelas Kemampuan Lahan DAS Lampoko

  • 64

    Lampiran 9. Peta Kedalaman Tanah DAS Lampoko

  • 65

    Lampiran 10. Atribut Unit Lahan DAS Lampoko

    Unit Lahan Erosivitas


Recommended