Home >Education >SKRIPSI PGSD

SKRIPSI PGSD

Date post:23-Jan-2017
Category:
View:1,831 times
Download:18 times
Share this document with a friend
Transcript:
  • i

    PENERAPAN MODEL QUANTUM TEACHING UNTUK MENINGKATKAN

    KEMAMPUAN BELAJAR IPA TENTANG GAYA BAGI

    SISWA KELAS IV SDN KARANGASEM IV

    LAWEYAN SURAKARTA TAHUN 2012

    SKRIPSI

    Disusun Oleh :

    AAN WIDIYONO

    X7110001

    FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

    UNIVERSITAS SEBELAS MARET

    SURAKARTA

    2012

  • ii

    PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

    Saya yang bertanda tangan di bawah ini :

    Nama : AAN WIDIYONO

    NIM : X7110001

    Jurusan/Program Study : FKIP / PGSD

    menyatakan bahwa skripsi saya berjudul PENERAPAN MODEL QUANTUM

    TEACHING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BELAJAR IPA

    TENTANG GAYA BAGI SISWA KELAS IV SDN KARANGASEM IV

    LAWEYAN SURAKARTA TAHUN 2012 ini benar-benar merupakan hasil

    karya saya sendiri. Selain itu, sumber informasi yang dikutip dari penulis lain telah

    disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka.

    Apabila pada kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan skripsi ini hasil jiplakan,

    saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan saya.

  • iii

    PENERAPAN MODEL QUANTUM TEACHING UNTUK MENINGKATKAN

    KEMAMPUAN BELAJAR IPA TENTANG GAYA BAGI

    SISWA KELAS IV SDN KARANGASEM IV

    LAWEYAN SURAKARTA TAHUN 2012

    Oleh :

    AAN WIDIYONO

    X7110001

    Skripsi

    Ditulis dan Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Mendapatkan Gelar

    Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

    Jurusan Ilmu Pendidikan

    FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

    UNIVERSITAS SEBELAS MARET

    SURAKARTA

    2012

  • iv

    PERSETUJUAN

    Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan Tim Penguji

    Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret

    Surakarta.

  • v

    PENGESAHAN

    Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi

    Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta

    dan diterima untuk memenuhi persyaratan mendapatkan gelar Sarjana

    Pendidikan.

    Pada Hari :

    Tanggal :

    Tim Penguji Skripsi :

    Nama Terang :

    Ketua : Drs. Kartono, M. Pd

    Sekretaris : Drs. Chumdari, M. Pd

    Anggota I : Prof. Dr. St. Y. Slamet, M. Pd

    Anggota II : Drs. Muh. Ismail Sriyanto, M. Pd

    Tanda Tangan

    Disahkan Oleh :

    Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

    Universitas Sebelas Maret Surakarta

    a.n. Dekan

    Pembantu Dekan I

    Prof. Dr. rer. nat. Sajidan, M.Si

    NIP 19660415 199103 1 002

  • vi

    ABSTRAK

    Aan Widiyono, PENERAPAN MODEL QUANTUM TEACHING

    UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BELAJAR IPA TENTANG

    GAYA BAGI SISWA KELAS IV SDN KARANGASEM IV LAWEYAN

    SURAKARTA TAHUN 2012 . Skripsi, Surakarta : Fakultas Keguruan

    dan Ilmu Pendidikan. Universitas Sebelas Maret Surakarta, Juli 2012.

    Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk meningkatkan kemampuan

    belajar IPA tentang gaya melalui model quantum teaching bagi siswa kelas

    IV SDN Karangasem IV. (2) untuk meningkatkan proses pembelajaran IPA

    tentang gaya melalui model quantum teaching bagi siswa kelas IV SDN

    Karangasem IV Laweyan Surakarta Tahun 2012.

    Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas IV SDN

    Karangasem IV Kecamatan Laweyan Kota Surakarta yang berjumlah 40

    siswa. Variabel yang menjadi sasaran perubahan dalam penelitian ini adalah

    kemampuan belajar IPA tentang gaya, sedangkan variabel tindakan yang

    digunakan dalam penelitian ini adalah model Quantum Teaching. Bentuk

    penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang berlangsung 2 siklus.

    Tiap siklus terdiri dari 4 tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan,

    observasi, dan refleksi. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah

    tes, observasi, dan dokumentasi. Validitasi data yang digunakan adalah

    trianggulasi data dan trianggulasi metode. Teknik analisis data yang

    digunakan adalah model analisis interaktif yang mempunyai tiga buah

    komponen yaitu reduksi data, sajian data, dan penarikan kesimpulan atau

    verifikasi.

    Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan yang pertama bahwa

    ada peningkatan kualitas proses pembelajaran tentang sifat-sifat gaya dan

    macam-macam gaya setelah diadakan tindakan kelas dengan Model

    Quantum Teaching. Hal itu dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai

    rata-rata kegiatan guru pada siklus I nilainya 2,85 dengan kriteria baik dan

    meningkat pada siklus II nilainya menjadi 3,5 dengan kriteria sangat baik.

    Nilai rata-rata kegiatan siswa pada siklus I nilainya 2,55 dengan kriteria baik

    dan meningkat pada siklus II menjadi 3,45 dengan kriteria sangat baik. Hal

    itu dapat ditunjukkan dengan meningkatnya konsep pemahaman siswa

    tentang IPA materi gaya dengan nilai rata-rata siswa sebelum dan sesudah

    tindakan. Pada pra tindakan nilai rata-rata kelas 51 dengan ketuntasan

    klasikal 27,50%. Pada siklus I menunjukkan nilai rata-rata kelas mencapai

    62,25 dengan ketuntasan klasikal 52,50%. Pada siklus II nilai rata-rata kelas

    meningkat menjadi 75,43 dan ketuntasan klasikal meningkat menjadi 87,50

    %.

    Kata Kunci : Quantum Teaching, kemampuan belajar

  • vii

    ABSTRACT

    Aan Widiyono, "APPLICATION OF QUANTUM TEACHING MODEL TO

    IMPROVE SCIENCE LEARNING ABILITY OF THE CONCEPT OF

    FORCE ON THE FOUR GRADE STUDENTS OF ELEMENTARY

    SCHOOL IN FOUR SDN KARANGASEM LAWEYAN SURAKARTA

    YEAR 2012". Thesis. Surakarta: Faculty of Teacher Training and Education

    March Twelve University of Surakarta.

    Action research objectives to be achieved are (1) to improve science

    learning about concept the force with quantum teaching model on the four

    grade of elementary school in Four SDN Karangasem Laweyan Surakarta

    Year 2012. (2) to improve learning process science the force with quantum

    teaching model on the four grade of elementary school in Four SDN

    Karangasem Laweyan Surakarta Year 2012.

    Research subjects of this classroom action reseach is on the four grade

    students of elementary school in Four SDN Karangasem Laweyan Surakarta

    Year 2012 consists 40 students. Variables were targeted changes in this study

    is understanding the science learning ability of the concept of style, while the

    variable action used in this study is a model of Quantum Teaching. Form of

    research is action research class lasts 2 cycles. Each cycle consists of four

    stages include planning, implementation of the action, observation and

    reflection. Data collection techniques used were tests, observation, and

    documentation. The validity of the data is used triangulation data and

    triangulation methods. Data analysis technique used is an interactive

    analytical data model which has three components, namely reduction data,

    data presentation, and conclusion drawing or verification.

    Based on the results of research can be concluded first that that there

    was an increase in the quality of the learning process on the properties of a

    variety of styles and style after a class action with the Model Quantum

    Teaching. It can be demonstrated by the increasing value of the average

    activities of teachers in the cycle I value 2.85 with good criteria and increase

    in value 3.5 second cycle with the criteria very well. The average value of

    students' activities in the cycle I value is 2.55 cycles with good criteria and

    increase in value to 3.45 second cycle with the criteria very well. It can be

    shown by increasing students' understanding of science concepts style

    material with an average value of students before and after the action. In the

    pre measures the average value of 51 classes with classical exhaustiveness

    27.50%. In cycle I shows the average grade achieved 62.25 and

    exhaustiveness classical increased to 52.50%. In cycle II, the class average

    rose to 75.43 and the class of classical completeness increased to 87.50%.

    Key word : Quantum Teaching, achievment

  • viii

    MOTTO

    Kesabaran kunci ketenangan dan ketulusan memberikan kepuasan hati.

    (Widiyono)

    Memecahkan masalah itu sulit, mengenal masalah itu lebih sulit, tetapi

    menemukan masalah itu lebih sulit (Albert Einstein)

    Pengetahuan adalah warisan yang mulia, budi pekerti ibarat pakaian yang baru

    dan pikiran ibarat cermin yang bening (Ali Bin Abi Thalib)

    Keberhasilan tidak diukur dengan apa yang kita raih. Akan tetapi kegagalan yang

    kita hadapi, dan keberanian dapat membuat kita tetap berjuang melawan rintangan

    yang datang bertubi-tubi. (Schimmel)

    Kehidupan bermakna jika ada perbedaan (live is difference). Keingann tercapai

    jika ada usaha yang disertai doa. (Widiyono)

    Teacher is sprit me and entrepreneurship is desire me. (Aan Widiyono)

  • ix

    HALAMAN PERSEMBAHAN

    Ayah, Ibu dan saudara yang selalu memberikan dorongan baik secara materiel

    maupun spirituil.

    Keluarga Besar FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta, almameter tercinta

    kampus tempat kutimba aneka ilmu.

    Keluarga besar SDN Karangasem IV

  • x

    KATA PENGANTAR

    Puji syukur dipanjatkan kehadirat atas rahmat dan karuniaNya sehingga

    skripsi penelitian ini dapat diselesaikan oleh penulis dengan baik.

    Skripsi penelitian dengan judul Penerapan Model Quantum Teaching

    Untuk Meningkatkan Kemampuan Belajar IPA Tentang Gaya Bagi Siswa Kelas IV

    SDN Karangasem IV Laweyan Surakarta Tahun 2012 diajukan untuk memenuhi

    persyaratan mendapatkan gelar sarjana pada Program Studi PGSD Jurusan Ilmu

    Pendidikan Universitas Sebelas Maret.

    Banyak hambatan dalam penulisan skripsi ini, namun berkat bantuan dari

    berbagai pihak maka hambatan dapat diatasi. Oleh sebab itu pada kesempatan yang

    baik ini penulis mengucapkan terimakasih yang tulus kepada :

    1. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret

    Surakarta (UNS).

    2. Ketua Jurusan Ilmu Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

    Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS).

    3. Ketua Program Studi PGSD Jurusan Ilmu Pendidikan Fakultas Keguruan dan

    Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS).

    4. Pembimbing Sekripsi yang telah tulus ikhlas dan sabar meluangkan waktu,

    tenaga, pikiran serta pengarahan dalam penyusunan skripsi ini.

    5. Kepala SDN Karangasem IV yang telah memberikan ijin penelitian.

    6. Bapak/Ibu Guru SDN Karangasem IV yang telah memberikan banyak bantuan.

    7. Bapak dan Ibu tercinta, terima kasih atas doa dan dorongan motivasi yang selalu

    diberikan hingga saat ini.

    8. Teman-teman PGSD angakatan 2010 terutama kelas A Transfer SI terimakasih

    atas dukungan dan kerjasamanya selama ini.

  • xi

    9. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebut satu persatu, yang secara langsung

    berperan dalam penyusunan Skripsi ini.

    Semoga bantuan yang diberikan pada peneliti mendapat balasan yang

    setimpal dari serta kebahagiaan dunia dan akhirat.

    Peneliti sadar bahwa Skripsi ini kurang sempurna, namun harapan peneliti

    semoga Skripsi ini memberikan sumbangan pemikiran bagi perkembangan

    pendidikan dan ilmu pengetahuan khususnya bagi peneliti dan umumnya bagi

    pembaca semua.

    Surakarta, Juni 2012

    Penulis

  • xii

    DAFTAR ISI

    Halaman

    HALAMAN JUDUL .

    HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ....

    HALAMAN PERSETUJUAN ...

    HALAMAN PENGESAHAN .......

    HALAMAN ABSTRAK ...........

    HALAMAN ABSTRACT .

    HALAMAN MOTTO ............

    HALAMAN PERSEMBAHAN ....

    KATA PENGANTAR .......

    DAFTAR ISI ..

    DAFTAR TABEL ..

    DAFTAR GAMBAR .

    DAFTAR LAMPIRAN ..

    BAB I PENDAHULUAN ......

    A Latar Belakang Masalah .....

    B Rumusan Masalah ...

    C Tujuan Penelitian

    D Manfaat Penelitian ......

    BAB II LANDASAN TEORI .....

    A Tinjauan Pustaka .

    1. Hakikat Kemampuan Belajar Gaya IPA ...

    a. Pengertian Kemampuan....................

    b. Pengertian Belajar ....................

    c. Pengertian Kemampuan Belajar ..............

    d. Tinjauan Materi Gaya ..........................

    e. Hakikat Ilmu Pengetahuan Alam ................................

    i

    ii

    iv

    v

    vi

    vii

    viii

    ix

    x

    xii

    xv

    xvi

    xvii

    1

    1

    4

    5

    5

    6

    6

    6

    6

    6

    7

    8

    13

  • xiii

    2. Tinjauan Model Quantum Teaching ................................

    a. Pengertian Model Pembelajaran ................

    b. Pengertian Model Quantum Teaching .......................

    c. Ciri-ciri Quantum Teaching ...........

    d. Langkah-langkah Model Quantum Teaching IPA .....

    e. Pelaksanaan Model Quantum Teaching IPA .............

    f. Kelebihan Model Quantum Teaching ........................

    g. Kelemahan Model Quantum Teaching........................

    h. Kualitas Proses Pembelajaran Quantum Teaching .....

    B Penelitian Yang Relevan ....................................................

    C Kerangka Berfikir .....

    D Hipotesis Tindakan .........

    BAB III METODE PENELITIAN ..

    A Tempat dan Waktu Penelitian .....

    B Subjek Penelitian

    C Bentuk dan Strategi Penelitian

    D Sumber Data ..............

    E Teknik Pengumpulan Data ..

    F Validitas Data .

    G Teknik Analisis Data ......

    H Indikator Keberhasilan .......

    I Prosedur Penelitian .

    BAB IV HASIL PENELITIAN ........

    A Diskripsi Permasalahan Penelitian ......

    1. Deskripsi Lokasi Penelitian .............................................

    2. Deskripsi Permasalahan Penelitian ..................................

    B Temuan dan Pembahasan Hasil Penelitian .....

    16

    16

    17

    18

    19

    20

    23

    24

    24

    25

    27

    29

    30

    30

    31

    32

    33

    34

    35

    37

    40

    40

    46

    46

    46

    48

    83

  • xiv

    1. Temuan Hasil Observasi Kegiatan Proses Pembelajaran

    dengan Model Quantum Teaching ...................................

    2. Hasil Belajar Pemahaman Konsep Gaya dengan Model

    Quantum Teaching ...........................................................

    BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN ....

    A Simpulan .

    B Implikasi .

    C Saran ...

    DAFTAR PUSTAKA ....

    LAMPIRAN ...

    83

    88

    92

    92

    93

    96

    97

    101

  • xv

    DAFTAR TABEL

    Halaman

    Tabel 1

    Tabel 2

    Langkah-langkah Model Quantum Teaching .............................

    Jadwal kegiatan pelaksanaan tindakan .......................................

    19

    31

    Tabel 3 Daftar Distribusi Frekuensi Nilai IPA Pada Kondisi Awal ....... 50

    Tabel 4 Daftar Distribusi Frekuensi Nilai IPA Siklus I ............... 65

    Tabel 5 Daftar Distribusi Frekuensi Nilai IPA Siklus II ..... 81

    Tabel 6 Rekapitulasi Nilai Rata-rata Observasi Guru Siklus I dan

    Siklus II ...................................................................

    84

    Tabel 7 Rekapitulasi Nilai Rata-rata Observasi Siswa Siklus I dan

    Siklus II ...................................................................

    86

    Tabel 8 Rekapitulasi Nilai Rata-rata Hasil Pemahaman Konsep Gaya ... 88

    Tabel 9 Rekapitulasi Ketuntasan Belajar Siswa ...................................... 89

  • xvi

    DAFTAR GAMBAR

    Halaman

    Gambar 1 Contoh gaya berupa tarikan dan dorongan ............................. 9

    Gambar 2 Contoh gaya dapat mengubah bentuk benda ........................... 9

    Gambar 3 Contoh gaya dapat mengubah arah gerak benda ..................... 9

    Gambar 4 Contoh gaya dapat mengubah benda bergerak menjadi diam . 10

    Gambar 5 Contoh gaya mengubah keadaan benda di dalam air ...... 11

    Gambar 6 Contoh gaya gesek ........................................... 11

    Gambar 7 Contoh gaya magnet ............................................................ 11

    Gambar 8 Contoh gaya pegas .................................. 12

    Gambar 9 Contoh gaya listrik statis .................................................. 12

    Gambar 10

    Gambar 11

    Gambar 12

    Gambar 13

    Gambar 14

    Gambar 15

    Gambar 16

    Gambar 17

    Gambar 18

    Gambar 19

    Gambar 20

    Gambar 21

    Gambar 22

    Contoh gaya gravitasi ...

    Contoh gaya otot ......................................................................

    Gambar Kerangka Berfikir ......................................................

    Gambar Model Peneltian Tindakan .........................................

    Gambar Bagan Siklus Analisis Interaktif Milles Huberman ...

    Gambar Penelitian Tindakan Kelas Model Kurt Lewin ..........

    Grafik Nilai IPA Materi Gaya Pada Kondisi Awal .................

    Grafik Nilai IPA Materi Gaya Pada Siklus I ...........................

    Grafik Nilai IPA Materi Gaya Pada Siklus II ..........................

    Grafik Peningkatan Rata-rata hasil Observasi Guru Siklus I

    dan Siklus II ............................................................................

    Grafik Peningkatan Rata-rata hasil Observasi Siswa Siklus I

    dan Siklus II .............................................................................

    Grafik Peningkatan Nilai Rata-rata Pada Kondisi Awal,

    Siklus I, dan Siklus II ..............................................................

    Grafik Peningkatan Ketuntasan Pada Kondisi Awal,

    Siklus I, dan Siklus II ..............................................................

    10

    13

    28

    32

    39

    40

    51

    66

    82

    85

    87

    89

    90

  • xvii

    DAFTAR LAMPIRAN

    Halaman

    Lampiran 1 Jadwal Pelaksanaan Penelitian 101

    Lampiran 2

    Lampiran 3

    Soal dan Kunci Jawaban Pada Tes Kondisi Awal

    Silabus Pembelajaran Siklus I Pertemuan I ..........................

    102

    104

    Lampiran 4 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ) Siklus I

    Pertemuan I ..

    111

    Lampiran 5 LKS Siklus I Pertemuan I .................................................... 118

    Lampiran 6

    Lampiran 7

    Kisi-kisi Soal Evaluasi Siklus I Pertemuan I .......................

    Soal Evaluasi Siklus I Pertemuan I ......................................

    124

    125

    Lampiran 8 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ) Siklus I

    Pertemuan II ..........................................................................

    127

    Lampiran 9 LKS Siklus I Pertemuan II ........ 133

    Lampiran 10 Kisi-kisi Soal Evaluasi Siklus I Pertemuan II .. 139

    Lampiran 11 Soal Evaluasi Siklus I Pertemuan II ..... 140

    Lampiran I2 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ) Siklus II

    Pertemuan I ...........................................................................

    142

    Lampiran 13 LKS Siklus II Pertemuan I .................................................... 149

    Lampiran 14 Kisi-kisi Soal Evaluasi Siklus II Pertemuan I ....................... 155

    Lampiran 15 Soal Evaluasi Siklus II Pertemuan I ...................................... 156

    Lampiran 16 Silabus Pembelajaran Siklus II Pertemuan II ........................ 158

    Lampiran 17 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ) Siklus II

    Pertemuan II ..........................................................................

    164

    Lampiran 18 LKS Siklus II Pertemuan II ....................................... 171

    Lampiran 19

    Lampiran 20

    Lampiran 21

    Lampiran 22

    Lampiran 23

    Kisi-kisi Soal Evaluasi Siklus II Pertemuan II ......

    Soal Evaluasi Siklus II Pertemuan II ....................................

    Nilai IPA Materi Gaya Pada Kondisi Awal ........................

    Nilai IPA Materi Gaya Pada Siklus I ...................................

    Nilai IPA Materi Gaya Pada Siklus II ..................................

    177

    178

    180

    181

    182

  • xviii

    Lampiran 24

    Lampiran 25

    Lampiran 26

    Lampiran 27

    Lampiran 28

    Lampiran 29

    Lampiran 30

    Lampiran 31

    Lampiran 32

    Lampiran 33

    Lampiran 34

    Lampiran 35

    Lampiran 36

    Lampiran 37

    Lembar Pengamatan Kinerja Guru Siklus I Pertemuan I ......

    Lembar Pengamatan Kinerja Guru Siklus I Pertemuan II ....

    Lembar Pengamatan Kinerja Guru Siklus II Pertemuan I ....

    Lembar Pengamatan Kinerja Guru Siklus II Pertemuan I ....

    Lembar Pengamatan Proses Pembelajaran Siswa Siklus I

    Pertemuan I ...........................................................................

    Lembar Pengamatan Proses Pembelajaran Siswa Siklus I

    Pertemuan II ..........................................................................

    Lembar Pengamatan Proses Pembelajaran Siswa Siklus II

    Pertemuan I ...........................................................................

    Lembar Pengamatan Proses Pembelajaran Siswa Siklus II

    Pertemuan II ..........................................................................

    Dokumentasi .....................................................................

    Surat Keterangan Ijin Pelaksanaan Penelitian ......................

    Surat Keterangan Bukti Pelaksanakan Penelitian .................

    Surat Keputusan Ijin Penyusunan Sekripsi .........................

    Surat Keterangan Ijin Penyusunan Sekripsi .........................

    Surat Ijin Penyusunan Sekripsi ke Gubernur ........................

    183

    186

    189

    192

    195

    198

    201

    204

    207

    210

    211

    212

    213

    214

  • 1

    BAB I

    PENDAHUUAN

    A. Latar Belakang

    Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan salah satu mata pelajaran di

    Sekolah Dasar. Terkait dengan pembelajaran IPA di Sekolah Dasar (SD), IPA

    merupakan salah satu tujuan pembelajaran untuk mengembangkan pengetahuan

    dan pemahaman konsep-konsep IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam

    kehidupan sehari-hari. (Permendiknas No.22,23, dan 24, 2006: 152). IPA

    merupakan mata pelajaran yang memberikan kesempatan untuk berfikir kritis,

    menarik kesimpulan dari serangkaian percobaan juga merupakan latihan berfikir

    logis. Karena IPA diajarkan melalui percobaan-percobaan, tidak hanya merupakan

    pelajaran menghafal belaka.

    Pendidikan tidak hanya berorientasi pada masa lalu dan masa kini tetapi

    sudah seharusnya merupakan proses yang mengantisipasi dan membicarakan masa

    depan. Berdasarkan hal tersebut salah satu tugas guru selaku pelaksana pendidikan

    dalam mengelola proses belajar mengajar adalah perencanaan pembelajaran

    termasuk di dalamnya pemilihan model. Masih rendahnya kualitas hasil

    pembelajaran siswa dalam pemahaman konsep gaya pada pembelajaran IPA

    merupakan indikasi bahwa tujuan yang ditentukan dalam kurikulum IPA tentang

    sifat-sifat gaya dan macam-macam gaya belum tercapai secara optimal. Secara

    umum kenyataan ini dapat dilihat dari hasil rata-rata nilai ulangan harian dan nilai

    akhir semester khusunya pada materi gaya IPA tentang sifat-sifat gaya dan macam-

    macam gaya yang sangat memprihatinkan. Pada siswa sekolah dasar masih sulit

    untuk menguasai sebuah pemahaman konsep gaya tentang sifat-sifat gaya dan

    macam-macam gaya pada pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Oleh karena itu

    berbagai upaya terus dilakukan untuk dapat meningkatkkan pemahaman konsep

    gaya pada mata pelajaran IPA. Upaya itu di antaranya dengan pemilihan model

    yang tepat sesuai dengan materi gaya tentang sifat-sifat gaya dan macam-macam

    gaya pada mata pelajaran IPA.

    1

  • 2

    Salah satu standar kompetensi pada mata pelajaran IPA kelas IV Sekolah

    Dasar adalah memahami gaya dapat mengubah gerak dan bentuk suatu benda,

    dengan kompetensi dasar yaitu menyimpulkan hasil percobaan bahwa gaya

    (dorongan dan tarikan) dapat mengubah gerak suatu benda. Materi pokok adalah

    konsep gaya tentang sifat-sifat gaya dan macam-macam gaya (Depdiknas, 2008:

    51). Berdasarkan hasil observasi dan dokumentasi awal pada siswa kelas IV SDN

    Karangasem IV diperoleh hasil bahwa pada pemahaman konsep gaya pembelajaran

    IPA cenderung didominasi oleh guru. Kebanyakan guru dalam pembelajaran gaya

    IPA masih bersifat konvensional. Pembelajaran yang bersifat konvensional dapat

    berupa guru dalam proses belajar mengajar hanya menggunakan metode ceramah

    sehingga pemahaman siswa masih kurang. Selain itu guru hanya memberikan tugas

    berupa soal untuk dikerjakan tatapi guru tidak membimbing siswa dalam

    pembelajaran. Pembelajaran konvensional tidak memfasilitasi untuk menuangkan

    ide, kreatifitas serta keaktifan siswa dalam pembelajaran.

    Kondisi yang masih terjadi di SD Negeri Karangasem IV masih

    menggunakan pembelajaran yang bersifat konvensional. Dimana dipandang dari

    segi guru, guru cenderung menggunakan metode ceramah bervariasi dan

    eksperimen, namun dalam bereksperimen guru menggunakan kegiatan eksperimen

    sesuai dengan contoh dibuku, untuk itu pembelajaran terkesan terpusat pada guru.

    Guru sudah menggunakan berbagai macam metode bervariasi dan sudah

    menggunakan model pembelajaran inovatif yaitu jigsaw tipe struktural untuk

    memudahkan siswa belajar, tetapi dalam kenyataannya siswa masih kurang

    termotivasi, terkadang bingung dalam kegiatan belajar mengajar. Hal ini

    disebabkan karena guru tidak melakukan metode tersebut secara rutin sehingga

    hasil yang diperoleh siswa kurang maksimal. Keadaan seperti ini membuat siswa

    beranggapan bahwa pelajaran IPA tentang gaya merupakan pelajaran yang

    membosankan akibatnya siswa tidak termotivasi untuk mempelajari materi gaya

    dengan baik sehingga pemahaman konsep gaya pada siswa yang dicapai masih

    rendah. Dari 40 siswa kelas IV di SDN Karangasem IV hanya 11 siswa atau 27,5%

    siswa berhasil mencapai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yaitu 65. Sedangkan

    29 siswa atau 72,5% siswa masih memperoleh nilai di bawah KKM (65), sehingga

  • 3

    nilai rata-rata kelas rendah yaitu 51 (lampiran 21 hal. 180). Dari pengamatan yang

    dilakukan ternyata hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor tersebut

    yaitu : siswa tidak pernah serius dalam pembelajaran, siswa kebanyakan ramai

    sendiri, semangat belajar siswa kurang, banyaknya ceramahan dari guru

    menyebabkan siswa menjadi bosan. Dari faktor-faktor tersebut mengakibatkan

    siswa tidak dapat menangkap materi dengan jelas sehingga pemahaman konsep

    gaya tentang sifat-sifat gaya dan macam-macam gaya pada pelajaran IPA masih

    rendah.

    Dari hasil observasi dan dokumentasi di atas menunjukkan bahwa

    pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) tentang konsep gaya perlu diperbaiki

    guna peningkatan kualitasnya. Pemahaman konsep gaya pada pelajaran IPA masih

    sangat rendah, maka peneliti ingin berusaha meningkatkan kualitas proses

    pembelajaran dan pemahamam konsep gaya pada pelajaran IPA siswa kelas IV

    SDN Karangasem Laweyan Surakarta Tahun Pelajaran 2011/2012.

    Untuk mengatasi masalah tersebut penulis menggunakan model quantum

    teaching untuk meningkatkan kemampuan belajar IPA tentang Gaya yang dapat

    membangkitkan kreatifitas siswa, pembelajaran yang menyenangkan sekaligus

    tidak membosankan. Guru kelas IV tertarik untuk mencoba melakukan model

    quantum teaching tersebut karena mengetahui keuntungan yang diperoleh akan

    baik dan terpusat pada siswa dan guru bisa menjadi fasilitator. Apabila guru

    menjelaskan dengan model quantum teaching kemampuan siswa belum mengalami

    grafik peningkatan pada kemampuan belajar IPA tentang Gaya, guru bisa

    menambahkan strategi dengan menggunakan multimedia pembelajaran interaktif

    IPA, sehingga membuat pembelajaran lebih efektif. Proses belajar akan terlaksana

    dengan aktif, partisipatif, konstruktif, komunikatif dan berorientasi pada tujuan.

    Dengan adanya konsep TANDUR pada model quantum teaching yang merupakan

    akronim dari, tumbuhkan, alami, namai, demonstrasikan, ulangi, dan rayakan,

    kegiatan belajar sangat menekankan kebermaknaan dan kebermutuan proses

    pembelajaran.

    Diharapkan pada SD Negeri Karangasem IV ini mengubah metode

    pembelajaran yaitu dengan model quantum teaching dalam mata pelajaran Ilmu

  • 4

    Pengetahuan Alam tentang konsep gaya karena dalam pembelajaran siswa dituntut

    menumbuhklan konsep AMBAK (Apa Manfaat Bagiku) yaitu dalam pembelajaran

    siswa dituntut aktif, kreatif, mandiri, dan dapat memecahkan masalah sebuah

    persoalan. Berdasarkan tujuan pembelajaran Ilmu pengetahuan Alam (IPA) guru

    dapat menerapkan model quantum teaching sebagai strategi pemecahan

    masalahnya untuk memberdayakan karakteristik siswa itu sendiri. Dipandang dari

    kualitas hasil yang akan diperoleh siswa maka model quantum teaching akan

    memiliki kontribusi yang lebih baik dari pada metode ceramah yang menerapkan

    satu arah dari guru saja.

    Dalam model pembelajaran quantum teaching pembelajaran didasarkan

    pada permasalahan yang membutuhkan penyelidikan dan penyelesaian nyata

    sehingga siswa termotivasi untuk berusaha menyelesaikan masalah secara mandiri.

    Dengan pengalaman tersebut siswa dapat memecahkan masalah serupa dalam

    kehidupan sehari-hari. Salah satu penyebab rendahnya pemahaman konsep dalam

    pembelajaran adalah adanya pemilihan model pembelajaran yang kurang

    memberikan pemberdayaan dari potensi murid dan karakteristik bidang itu sendiri

    sehingga kemampuan belajar siswa masih rendah

    Berdasarkan uraian tersebut maka peneliti tertarik untuk mengadakan

    penelitian dengan judul PENERAPAN MODEL QUANTUM TEACHING

    UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BELAJAR IPA TENTANG

    GAYA BAGI SISWA KELAS IV SDN KARANGASEM IV LAWEYAN

    SURAKARTA TAHUN 2012 .

    B. Rumusan Masalah

    Berdasarkan identifikasi masalah di atas dapat dirumuskan masalah

    sebagai berikut :

    1) Apakah model quantum teaching dapat meningkatkan kemampuan belajar IPA

    tentang Gaya pada siswa kelas IV SDN Karangasem IV Laweyan Surakarta

    Tahun 2012 ?

  • 5

    2) Apakah model quantum teaching dapat meningkatkan proses pembelajaran IPA

    tentang Gaya pada siswa kelas IV SDN Karangasem IV Laweyan Surakarta

    Tahun 2012 ?

    C. Tujuan Penelitian

    Adapun tujuan dari penelitian tindakan kelas ini adalah

    1) Untuk meningkatkan kemampuan belajar IPA tentang gaya melalui model

    quantum teaching bagi siswa kelas IV SDN Karangasem IV Laweyan Surakarta

    Tahun 2012.

    2) Untuk meningkatkan proses pembelajaran IPA tentang gaya melalui model

    quantum teaching bagi siswa kelas IV SDN Karangasem IV Laweyan Surakarta

    Tahun 2012.

    D. Manfaat Penhelitian

    1. Manfaat Teoritis

    a. Diterapkannya pembelajaran dengan model quantum teaching dapat untuk

    meningkatkan kemampuan belajar IPA siswa kelas IV SDN Karangasem IV

    Laweyan Surakarta Tahun 2012.

    b. Model quantum teaching dapat memusatkan perhatian pada interaksi yang

    bermutu dan bermakna, sehingga sangat menekankan pada pencapaian

    pembelajaran dengan taraf keberhasilan tinggi.

    c. Sebagai dasar untuk mengadakan penelitian selanjutnya.

    2. Manfaat Praktis

    a. Guru

    Untuk menambah pengalaman guru dengan model quantum teaching.

    b. Siswa

    Meningkatkan kemampuan belajar IPA tentang gaya dan pemahaman

    nyata siswa terhadap materi gaya dalam pelajaran IPA.

    c. Sekolah

    Dapat menjadikan dasar pelaksanaan pendidikan melalui model

    quantum teaching di sekolah guna meningkatkan kemampuan siswa.

  • 6

    BAB II

    LANDASAN TEORI

    A. Tinjauan Pustaka

    1. Hakikat Kemampuan Belajar Gaya IPA

    a. Pengertian Kemampuan

    Setiap melakukan kegiatan memerlukan suatu kemampuan, namun apa arti

    kemampuan itu sendiri sering tidak diketahui. Menurut Lukmanul Hakiim (2007:

    32) kemampuan diartikan bakat dan kecerdasan. Dalam hal ini bakat merupakan

    potensi yang dimiliki siswa, sedangkan sikap adalah perilaku siswa dalam

    menerima proses pembelajaran. Sedangkan menurut Anggiat M.Sinaga dan Sri

    Hadiati (2001:34) mendefenisikan kemampuan sebagai suatu dasar seseorang yang

    dengan sendirinya berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan secara efektif atau

    sangat berhasil.

    Sementara itu, Robbin (2007:57) kemampuan berarti kapasitas seseorang

    individu untuk melakukan beragam tugas dalam suatu pekerjaan. lebih lanjut

    Robbin menyatakan bahwa kemampuan (ability) adalah sebuah penilaian terkini

    atas apa yang dapat dilakukan seseorang.

    Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa kemampuan

    (Ability) adalah kecakapan atau potensi seseorang individu untuk menguasai

    keahlian dalam melakukan atau mengerjakan beragam tugas dalam suatu pekerjaan

    atau suatu penilaian atas tindakan seseorang.

    b. Pengertian Belajar

    Mengenai istilah belajar, sebenarnya hampir setiap orang mengenal dan

    mengetahui istilah itu. Karena setiap manusia pasti mengalami yang namanya

    belajar. Namun apa itu sebenarnya belajar, masing-masing orang mempunyai

    persepsi yang berbeda. Oemar Hamalik (2010: 7) menyatakan bahwa: Belajar

    adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan

    lingkungan.

    6

  • 7

    Nana Sudjana (1991: 9) mengemukakan bahwa Seseorang dapat dikatakan

    belajar apabila pada dirinya terjadi perubahan tingkah laku yang disebabkan oleh

    hasil interaksi antara dirinya dengan lingkungannya, yang dihasilkan

    pengalamannya tersebut dapat dijadikan sebagai bahan untuk memperoleh

    pegalaman baru.

    Menurut Abin Syamsudin (2009:157) mengemukakan bahwa belajar

    merupakan proses perubahan perilaku atau pribadi seseorang berdasarkan praktik

    atau pengalaman tertentu.

    Dari pendapat di atas dapat disimpulkan pengertian belajar adalah suatu

    kegiatan dimana seseorang membuat atau menghasilkan suatu perubahan tingkah

    laku yang ada pada dirinya dalam pengetahuan, sikap, dan ketrampilan; perubahan

    yang terjadi di dalam diri seseorang setelah melakukan aktivitas tertentu.

    c. Pengertian Kemampuan Belajar

    Kemampuan/kompetensi belajar adalah kemampuan bersikap, berfikir dan

    bertindak secara konsistensi sebagai perwujudan dari pengetahuan, sikap, dan

    keterampilan yang dimiliki (Udin Syaefudin, 2009 : 67).

    Sudjana, (2004 : 22) mengemukakan bahwa kemampuan belajar adalah

    sesuatu yang dicapai atau diperoleh siswa berkat adanya usaha atau fikiran yang

    mana hal tersebut dinyatakan dalam bentuk penguasaan, pengetahuan dan

    kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai aspek kehidupa sehingga nampak

    pada diri individu penggunaan penilaian terhadap sikap, pengetahuan dan

    kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai aspek kehidupan sehingga nampak

    pada diri individu perubahan tingkah laku secara kuantitatif.

    Sedangkan Gagne dan Briggs (1979:52) menyatakan bahwa kemampuan

    belajar merupakan kemampuan internal (capability) yang meliputi pengetahuan,

    keterampilan dan sikap yang telah menjadi milik pribadi seseorang dan

    memungkinkan orang itu melakukan sesuatu.

  • 8

    Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kemampuan belajar adalah

    kemampuan keterampilan, sikap dan keterampilan yang diperoleh siswa setelah ia

    menerima perlakuan yang diberikan oleh guru sehingga dapat mengkonstruksikan

    pengetahuan itu dalam kehidupan sehari-hari.

    d. Tinjauan Gaya

    a. Pengertian Gaya

    Gaya dalam sains berarti tarikan dan dorongan. Yosapath Sumardi dkk

    (2006: 2.43) menyatakan dalam bahasa sehari hari gaya diartikan sebagai

    tarikan/ dorongan terutama yang dilakukan oleh otot-otot kita. Gaya adalah

    tarikan atau dorongan yang dapat menyebabkan benda yang diam menjadi

    bergerak, merubah bentuk suatu benda, benda yang bergerak dapat menjadi :

    berubah arah, berhenti, semakin cepat, atau semakin lambat.

    Newton dalam Yosapath Sumardi dkk (2006 : 2.43) menyatakan bahwa

    setiap benda akan tetap berada dalam keadaan diam/ bergerak lurus beraturan,

    kecuali jika ia dipaksakan untuk mengubah keadaan itu oleh gaya yang

    mempengaruhinya.

    Dalam Qanita Alya ( 2010 : 340 ) gaya adalah dorongan atau tarikan

    yang akan menggerakkan benda bebas, suatu interaksi yang bila bekerja

    sendiri menyebabkan perubahan keadaan gerak benda.

    Berdasarkan pendapat di atas disimpulkan bahwa gaya adalah tarikan/

    dorongan yang menyebabkan perubahan gerak dan bentuk suatu benda.

    b. Bentuk Gaya

    Menurut Choiril Azmiyawati (2008: 81-93) dan Haryanto (2004: 111-

    130) uraian singkat materi pokok pembelajaran IPA tentang Gaya dalam

    pembelajaran IPA di kelas IV adalah bentuk gaya yang terdiri dari :

    a) Gaya Dapat Berupa Tarikan

    Gaya yang berupa tarikan misalnya orang yang menarik meja, orang yang

    membuka pintu, menimba air di sumur, dan olahraga tarik tambang.

  • 9

    b) Gaya Dapat Berupa Dorongan.

    Gaya yang berupa dorongan misalnya mendorong meja, mendorong mobil

    yang mogok, memencet bel dan menendang bola. (Lihat gambar 1)

    Gambar. 1

    c) Gaya Dapat Mengubah Bentuk Suatu Benda.

    Kayu besar dapat berubah menjadi kecil-kecil karena adanya gaya. Telur

    dipukul berubah bentuk karena pengaruh gaya. Dalam kehidupan sehari

    hari perubahan gaya digunakan untuk membuat bermacam-macam bentuk

    mainan yang terbuat dari lilin mainan (plastisin), kaleng yang dipukul akan

    penyok. Selain itu, juga untuk membuat bermacam-macam bentuk

    kerajinan tangan dari tanah liat. (Lihat Gambar 2)

    Gambar. 2

    d) Gaya Dapat Mengubah Arah Gerak Suatu Benda.

    Jika bola dilempar kearah selatan, bola akan bergerak ke selatan. Jika bola

    yang sedang bergerak itu dilempar lagi ke barat maka bola tersebut akan

    bergerak ke arah barat. Perubahan arah gerak bola dari selatan ke barat

    karena ada pengaruh gaya luar yang mempengaruhi gerak benda. (Lihat

    Gambar 3)

    Gambar. 3

    http://blog.unnes.ac.id/etyarfiana/files/2011/10/gaya.jpg

  • 10

    e) Gaya Dapat Mengubah Benda Diam Menjadi Bergerak

    Benda diam akan bergerak jika diberi gaya. Contohnya, bola akan

    melambung ke udara jika kita tendang. Lemari akan bergeser jika kita

    dorong. Sepeda akan berjalan jika kita kayuh. (Lihat Gambar 4)

    Gambar. 4

    f) Gaya Dapat Mengubah Benda Bergerak Menjadi Diam

    Contoh benda yang bergerak adalah sepeda yang dikayuh, sepeda motor

    yang sedang bergerak, kelereng yang menggelinding dan sebagainya.

    Benda-benda yang bergerak tersebut dapat berhenti atau diam jika diberi

    gaya. Sepeda yang bergerak akan berhenti jika direm.

    g) Gaya Dapat Mengubah Kecepatan Benda

    Ketika jalan lengang, pengemudi akan menginjak gasnya. Akibatnya,

    mobil akan melaju kencang. Namun, ketika ada mobil yang lain di

    depannya, pengemudi akan menginjak rem. Akibatnya, laju mobil akan

    melambat. Injakan gas dan injakan rem termasuk bentuk gaya. Oleh karena

    itu, gaya dapat mempengaruhi kecepatan gerak benda.

    h) Gaya Dapat Mengubah Keadaan Benda Di Dalam Air

    Jika benda dimasukkan ke air, benda tersebut dapat terapung, tenggelam,

    atau melayang.

    (1) Terapung, jika sebagian benda berada di atas permukaan air dan

    sebagian lagi di bawah permukaan air.

    (2) Tenggelam, jika seluruh bagian benda berada di dalam air dan

    menyentuh dasar wadah.

  • 11

    (3) Melayang, jika seluruh bagian benda berada di dalam air. Namun, tidak

    ada bagian benda yang menyentuh dasar wadah. (Lihat gambar 5)

    Gambar. 5

    c. Macam-Macam Gaya

    a) Gaya Gesek

    Adalah gaya yang ditimbulkan oleh pergesekan antara dua permukaan

    benda. Gaya gesek dapat terjadi jika dua permukaan benda saling

    bersentuhan. Untuk memperkecil gaya gesek maka kedua permukaan yang

    bergesekan diperluas atau dipasangi bantalan peluru. Contohnya adalah

    gesekan roda pada jalan beraspal. (Lihat gambar 6)

    Gambar. 6

    b) Gaya Magnet

    Adalah gaya yang ditimbulkan oleh benda yang memiliki sifat

    kemagnetan. Magnet memiliki dua kutub yaitu kutub utara dan kutub

    selatan. (Lihat gambar 7)

    Gambar. 7

  • 12

    c) Gaya Pegas

    Adalah gaya yang yang ditimbulkan oleh sifat elastisitas benda.

    Misalnya ketapel, busur, anak panah, dan karet yang digunakan untuk

    membuat tali rambut. Dalam kehidupan sehari-hari elastis benda misalnya

    menarik busur panah. (Lihat gambar 8)

    Gambar. 8

    d) Gaya Listrik Statis

    Adalah gaya yang ditimbulkan oleh listrik. Misalnya kipas angin

    dihidupkan menggunakan listrik. (Lihat gambar 9)

    Gambar. 9

    e) Gaya Gravitasi

    Adalah gaya yang ditimbulkan oleh gaya tarik bumi. Contohnya buah

    mangga yang jatuh dari pohonnya, daun-daun berguguran di tanah, segala

    sesuatu pasti jatuh ke bumi. (Lihat gambar 10)

    Gambar. 10

  • 13

    f) Gaya Otot

    Adalah gaya yang ditimbulkan oleh gerakan otot-otot. Contohnya pada saat

    kita menendang bola ke atas. (Lihat gambar 11)

    Gambar. 11

    g) Gaya dorong

    Gaya dapat berupa dorongan. Misalnya mendorong meja, melempar bola.

    h) Gaya tarik

    Gaya berupa tarikan. Misalnya kuda menarik pedati, menimba air dengan

    ember disumur.

    e. Hakikat Ilmu Pengetahuan Alam

    1) Pengertian Ilmu Pengetahuan Alam

    Ilmu Pengetahuan Alam atau Sains (science) diambil dari kata latin

    Scientia yang artinya adalah pengetahuan, tetapi kemudian berkembang

    menjadi khusus Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) atau Sains. Sund dan

    Trowbribge merumuskan bahwa Sains merupakan kumpulan pengetahuan dan

    proses. Mengenai pengertian Ilmu Pengetahuan Alam, Srini M. Iskandar

    (2001: 2) mengemukakan IPA adalah Ilmu Pengetahuan Alam (science) yang

    mempelajari tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam.

    Selain itu pendapat ahli lain, Krajcik S. Joseps, Czerniak M. Charlene

    dan Berger Carl dalam Srini M. Iskandar (2001: 2) menyatakan Science was

    created by humans to predict and explain event and fenomena, yang artinya

    ilmu pengetahuan merupakan hasil pengamatan yang dilakukan oleh manusia

    dan peristiwa alam yang terjadi.

    Leo Sutrisno (2007: 19) juga berpendapat IPA merupakan usaha

    manusia dalam memahami alam semesta melalui pengamatan yang tepat

  • 14

    (correct) pada sasaran, serta menggunakan prosedur yang benar dan dijelaskan

    dengan penelaran yang valid sehingga dihasilkan kesimpulan yang benar.

    Dari pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa IPA

    merupakan kumpulan pengetahuan dan proses yang didapat dengan cara

    pengamatan yang dilakukan dengan prosedur yang benar sehingga diperoleh

    kesimpulan yang benar pula.

    2) Tujuan Ilmu Pengetahuan Alam

    Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (2006 : 151),

    menyebutkan bahwa tujuan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam di SD atau

    MI adalah :

    a) Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa

    berdasarkan keberadaan, keindahan, dan keteraturan alam ciptaaNya.

    b) Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang

    bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

    c) Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran tentang

    adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan,

    teknologi, dan masyarakat.

    d) Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar,

    memecahkan masalah dan membuat keputusan.

    e) Meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam memelihara, menjaga,

    dan melestarikan lingkungan alam.

    f) Memperoleh bekal pengetahuan, konsep, dan keterampilan IPA sebagai

    dasar untuk melanjutkan pendidikan ke SMP/ MTs.

    3) Ruang Lingkup Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam

    Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (2006: 152)

    menjelaskan ruang lingkup bahan kajian IPA untuk SD/MI adalah sebagai

    berikut :

    a) Makhluk hidup dan proses kehidupan, yaitu manusia, hewan, tumbuhan,

    interaksinya dengan lingkungan serta kesehatan.

  • 15

    b) Benda/ materi, sifat-sifat dan kegunaanya meliputi : cair, padat, dan gas.

    c) Energi dan perubahannya meliputi: gaya, bunyi, panas, magnet, listrik,

    cahaya, dan pesawat sederhana.

    d) Bumi dan alam semesta meliputi : tanah, bumi, tata surya, dan benda-benda

    langit lainnya.

    4) Standar Kompetensi Mata Pelajaran IPA

    Standar kompetensi mata pelajaran IPA atau sains di kelas IV

    semester II pada konsep gaya adalah :

    a) Memahami gaya dapat mengubah gerak dan atau bentuk suatu benda.

    b) Memahami berbagai bentuk energi dan cara penggunaannya dalam

    kehidupan sehari-hari.

    c) Memahami perubahan kenampakan permukaan bumi dan benda langit.

    d) Memahami perubahan lingkungan fisik dan pengaruhnya terhadap daratan.

    e) Memahami hubungan antara sumber daya alam dengan lingkungan,

    teknologi, dan masyarakat.

    Adapun materi yang dikaji dalam penelitian ini adalah adalah

    mengenai memahami gaya dapat mengubah gerak dan bentuk benda dengan

    materi yaitu sifat-sifat gaya (gaya dapat mengubah bentuk benda, mengubah

    arah gerak benda, gaya berupa dorongan, gaya berupa tarikan, gaya membuat

    benda diam menjadi bergerak, gaya membuat benda bergerak menjadi diam,

    gaya mengubah kecepatan benda, gaya mempengaruhi keadaan benda di dalam

    air) dan macam-macam gaya (gaya dorong, gaya tarik, gaya magnet, gaya

    gravitasi, gaya listrik, gaya pegas, gaya gerak, dan gaya gesek).

    Pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran IPA atau sains

    beroriantasi pada siswa. Peran guru bergeser dari menentukan apa yang akan

    dipelajari ke bagaimana menyediakan dan memperkaya pengalaman belajar

    siswa. Pengalaman belajar diperoleh melalui serangkaian kegiatan untuk

    mengeksploitasi lingkungan melalui interaksi aktif dengan teman, lingkungan,

    dan nara sumber lain.

  • 16

    2. Tinjauan Tentang Model Pembelajaran Quantum Teaching

    a. Pengertian Model Pembelajaran

    Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang

    digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau

    pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film, komputer, kurikulum,

    dan lain-lain pendapat dari Joyce dalam (Trianto, 2007:5).

    Menurut Arrend dalam (Agus Suprijono, 2009:46) model pembelajaran

    mengacu pada pendekatan yang akan digunakan termasuk di dalamnya tujuan-

    tujuan pembelajaran, tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan

    pembelajaran dan pengelolaan kelas. Model pembelajaran dapat didefinisikan

    sebagai kerangka konseptual yang melukiskan prosedur sistematis dalam

    mengoraganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar.

    Model pembelajaran merupakan strategi yang digunakan guru untuk

    meningkatkan motivasi belajar, sikap belajar di kalangan siswa, mampu

    berpikir kritis, memiliki ketrampilan sosial, dan pencapaian hasil pembelajaran

    yang lebih optimal dalam (Isjoni, 2008: 146)

    Menurut pendapat Toeti Sukamto dan Udin Saripudin Winataputra

    dalam (Anton Sukarno, 2006: 144) model pembelajaran adalah kerangka

    konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam

    mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan tertentu dan

    berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang, pembelajar dan para pengajar

    dalam merencanakan dan melaksanakan belajar mengajar. Pengertian model

    pembelajaran mengandung unsur (1) pedoman, (2) pengelolaan pembelajaran,

    (3) kerangka konseptual.

    Dari beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa model

    pembelajaran adalah model yang berfungsi sebagai pedoman bagi para pengajar

    dalam merencanakan aktivitas dalam pembelajarn untuk mencapai tujuan

    pembelajaran.

  • 17

    b. Pengertian Model Quantum Teaching

    Kata Quantum ini berarti interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya.

    Jadi Quantum Teaching menciptakan lingkungan belajar yang efektif, dengan cara

    menggunakan unsur yang ada pada siswa dan lingkungan belajarnya melalui

    interaksi yang terjadi di dalam kelas. (Miftahul Ala, 2011 : 21).

    Charlotte Shelton (1998 : 1) menjelaskan tentang pengertian Quantum.

    Dalam buku tersebut dituliskan sebagai berikut :

    The word quantum literally means a quantity of something, mechanics

    refers to the study of motion. Quantum mechanic is, therefore, the study

    of sub atomic particles in motion. It is however, erroneous to think of these

    subatomic particle as quantities of something. Subatomic particles are

    not material things, rather, they are probability tendencies-energy with

    potentiality. The energy, as the term mechanics implies, is never static. It is

    always in continous motion, uncceasingly changing from wave to particle

    and particle to wave, forming the atoms and molecules that subsequently

    create a material world. It is really quite amazing that those seemingly

    stable and stationary things we observe in the material world ore composed

    solely of energy.

    Kata quantum dalam literatur berarti banyaknya sesuatu, secara mekanik

    berarti studi tentang gerakan. Jadi mekanika kuantum adalah ilmu yang

    mempelajari tentang partikel-partikel sub atom yang bergerak. Namun

    demikian kekeliruan berpikir tentang partikel sub atom ini merupakan

    banyaknya benda. Partikel sub atom bukan merupakan kecenderungan

    energi dengan potensial. Energi sebagai implikasi dalam istilah mekanika

    tidak pernah statis. Energi selalu bergerak secara terus menerus, tidak

    pernah berhenti berubah dari gelombang menjadi partikel dan dari partikel

    menjadi gelombang, membentuk atom-atom dan molekul yang seterusnya

    membentuk dunia materi. Ini benar-benar hal yang menakjubkan yang

    terlihat stabil dan statis, apabila kita cermati ternyata dunia materi ini

    tersusun energi

    Menurut De porter. B (2004 : 62), quantum teaching dalam

    pembelajaran merupakan interaksi yang terjadi di dalam kelas antara siswa

    dengan lingkungan belajar yang efektif. Quantum Teaching berfokus pada

    hubungan dinamis dalam lingkungan kelas. Interaksi yang menjadikan landasan

    dan kerangka untuk belajar.

    Menurut Miftahul Ala (2011 : 19) model quantum teaching adalah

    pembelajaran yang menawarkan ide baru tentang bagimana menciptakan

  • 18

    lingkungan yang jauh lebih baik serta menjanjikan bagi pelajar dan mendukung

    mereka dalam proses pembelajaran agar tidak terjadi ketidakseimbangan.

    Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa quantum teaching

    merupakan kegiatan yang menciptakan suasana belajar yang lebih menarik,

    menggairahkan serta memberi pengalaman bagi siswa agar lebih berkesan

    untuk meningkatkan kemampuan dalam berprestasi sehingga pada akhirnya

    akan melejitkan kemampuan guru.

    c. Ciri-ciri Quantum Teaching

    Miftahul Ala (2011 : 29) mengemukakan bahwa ada empat macam ciri-ciri

    yang membangun sosok pembelajaran quantum teaching. Keempat ciri-ciri yang

    dimaksud sebagai berikut :

    1) Segalanya berbicara

    Dari lingkungan kelas hingga bahasa tubuh guru, dari kertas yang guru bagikan

    hingga rancangan pelajaran guru, keseluruhannya mengirim pesan tentang

    belajar yang akan disampaikan dalam pengajaran tersebut.

    2) Memilki tujuan

    Semua yang terjadi karena guru mempunyai tujuan seperti seorang guru yang

    harus secara hati-hati menyusun pelajaran.

    3) Mengakui setiap usaha

    Dalam belajar mengandung resiko yang besar dan terkadang keluar dari rasa

    nyaman. Murid dalam hal ini berhak untuk mengambil resiko dan membangun

    kompetensi dan kepercayaan diri mereka sendiri.

    4) Layak dipelajari maka layak dirayakan (diberi rewerd)

    Perayaan atau memberikan sesuatu sebagai reward adalah suatu umpan balik

    mengenai kemajuan murid dan meningkatkan asosiasi emosi positif dengan

    belajar.

    d. Langkah-langkah Model Quantum Teaching dalam IPA

    Sama seperti model pembelajaran yang seringkali dipakai, quantum

    teaching menurut Miftahul Ala (2011 : 27), mengemukakan bahwa prinsip dasar

  • 19

    model quantum teaching adalah bawalah dunia mereka ke dunia kita dan antarkan

    dunia kita ke dunia mereka. Bobbi De Porter (2010 : 40) dalam pelaksanannya

    quantum teaching melakukan langkah-langkah pengajaran dengan enam langkah

    yang tercermin dalam istilah TANDUR (tumbuhkan, alami, namai, demostrasikan,

    ulangi dan rayakan). (Lihat Tabel 1)

    Tabel 1

    Langkah-langkah Model Quantum Teaching

    Fase Tahap Laku Guru

    Fase-1 (Tumbuhkan)

    (Guru menumbuhkan

    semangat siswa)

    Guru menjelaskan tujuan pembelajaran,

    memberikan salam dengan semangat dan

    bertepuk tangan, memberikan contoh konkrit

    tentang kegiatan yang akan dilakukan, dan

    menyanyikan lagu sesuai dengan materi yang

    dilakukan.

    Fase-2 (Alami)

    (Mencipatakan dan

    mendatangkan pengalaman

    umum yang dimengeri

    siswa)

    Guru memberikan pertanyaan dengan kata kunci

    untuk menjelajah kemampuan siswa tentang

    penguasaan materi, dan guru bercerita tentang

    pengalaman yang berkaitan dengan materi

    pelajaran.

    Fase-3 (Namai)

    (Menamai setiap kegiatan

    yang dilakukan disaat

    KBM)

    Guru dan siswa menamai setiap kegiatan diskusi,

    eksperimen, atau kegiatan pembelajaran sehingga

    dapat menguasai materi dengan sempurna.

    Fase-4 (Demonstrasikan)

    (Guru dan siswa

    mendemonstrasikan

    kegiatan yang dilakukan

    disaat KBM sehingga siswa

    tahu dan merasakan

    Guru memberikan contoh cara

    mendemonstrasikan hasil eksperimen. Guru

    mendorong siswa untuk melaksanakan diskusi

    dan eksperimen sehingga mendapatakan

    penjelasan, guru membantu siswa dalam

    melakukan eksperimen dan memberikan

  • 20

    pengalaman yang sudah

    dialami)

    penegasan tentang kesimpulan yang didiskusikan

    kelompok.

    Fase-5 (Ulangi )

    (Guru dan siswa

    mengulangi materi yang

    belum di kuasai siswa

    sehingga benar-benar

    mengerti)

    Pada setiap kegiatan guru membantu siswa agar

    lebih menguasai materi yang sudah dilaksanakan

    dengan cara guru mengulangi kegiatan / materi

    yang belum di kuasai siswa. Misalnya menarik

    kesimpulan bahwa gaya dapat mengubah keadaan

    benmda di dalam air.

    Fase-6 (Rayakan)

    Memberikan reward dan

    perayaan bagi siswa

    Guru memberikan semangat dan menilai tingkat

    keberhasilan siswa dengan memberikan perayaan

    sebuah tepuk tangan atau hadiah pada siswa.

    e. Pelaksanaan Model Pembelajaran Quantum Teaching

    1) Tugas-tugas perencanaan

    Model Quantum Teaching membutuhkan banyak perencanaan seperti

    halnya model-model pembelajaran yang berpusat pada siswa lainnya.

    a) Penetapan tujuan

    Model pembelajaran Quantum Teaching dirancang untuk

    mencapai tujuan-tujuan seperti ketrampilan berdiskusi,

    bereksperimen, menyampaikan pendapat, dan membantu siswa

    menjadi pelajar mandiri, sehingga mampu meningkatkan kemampuan

    dalam berprestasi yang dirahkan dalam kehidupan sehari-hari.

    b) Merancang situasi masalah

    Guru dalam pembelajaran quantum teaching memberikan

    permasalahan nyata tentang kehidupan sehari-hari yan g dipadukan

    dengan materi yang sedang dipelajari siswa, sehingga siswa akan

    melakukan penelitian dan penilaian terhadap permasalahan yang ada.

    Situasi masalah yang baik seharusnya memungkinkan untuk

    bekerjasama dalam menarik sebuah pemecahan masalah sehingga bagi

    siswa dapat memotivasi dalam kehidupan belajar.

  • 21

    c) Organisasi sumber daya dan rencana logistik.

    Guru dalam melaksanakan tugas mengorganisir setiap

    kelompok yang ada di kelas dengan membagi kelompok secara

    heterogen sesuai kemampuan yang dimiliki siswa dan berdasarkan

    jenis kelamin. Pelaksanaan eksperimen dilakukan dengan diskusi

    kelompok dalam memecahkan masalah yang ada sehingga dapat

    ditarik kesimpulan yang benar.

    2) Tugas Interaktif

    a) Orientasi pada permasalahan.

    b) Mengorganisasikan siswa untuk belajar.

    c) Membantu penyelidikan mandiri dan kelompok.

    d) Analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah.

    3) Lingkungan Kelas Quantum Teaching.

    Siswa adalah tamu bagi guru yang diundang untuk acara penting

    yaitu belajar. Lingkungan kelas mempengaruhi kemampuan siswa untuk

    berfokus dan menyerap informasi, bila benda-benda di kelas tidak menarik

    pandang siswa, mungkin pesannya akan berbunyi belajar itu kuno,

    melelahkan dan usang , akan tetapi bila lingkungan ditata untuk

    mendukung belajar, maka dapat berkata, belajar itu, hidup, penuh

    semangat,/ datang dan jelajahilah! segala sesuatu dalam lingkungan jelas

    menyampaikan pesan yang memacu/ menghambat belajar ( Dhority, 1991)

    ingatlah : segalanya berbicara, segalanya , selalu !

    a) Lingkungan kelas pada model quantum teaching adalah menggunakan

    video visual yang ada pada program-program power point, animasi

    dengan warna-warna yang terang dan menarik.

    b) Alat bantu adalah benda yang dapat mewakili suatu benda. Alat yang

    digunakan sesuai dengan materi kegiatan pembelajaran. Contohnya:

    plastisin dan balon.

    c) Pengaturan bangku

    Pengaturan bangku mempunyai peranan penting dalam konsentrasi

    belajar siswa. Pengaturan bangku dapat dilakukan secara fleksible

  • 22

    dengan memposisikan berhadap-hadapan saat kerja kelompok atau

    menghadap ke depan untuk tetap fokus ke depan saat pemutaran video,

    presentasi siswa, ajaran guru dan lain-lain.

    4) Asesmen dan Evaluasi

    Hein dan Price dalam Harun Rasyid (2009:61) menyatakan bahwa,

    apapun yang dikerjakan seorang siswa di dalam kelas dapat digunakan

    untuk objek penilaian.

    Tugas asesmen dan evaluasi yang sesuai dalam pembelajaran

    quantum teaching dengan menggunakan (1) tes tertulis : di antaranya

    adalah guru menilai hasil kerja siswa secara individu dan kelompok

    kemudian dilanjutkan penilaian akhir dalam proses pembelajaran. (2) tes

    lisan : guru memberikan pertanyaan untuk mengeksplore pengetahuan

    siswa tentang materi gaya dalam kegiatan awal (apersepsi). (3) observasi :

    guru menilai kegiatan eksperimen/praktik siswa secara individu maupun

    secara berkelompok. (4) demonstrasi : guru mengamati dan menilai

    langsung kegiatan eksperimen/praktik yang dilakukan siswa. (5) penugasan

    : guru menilai tugas-tugas diskusi kelompok siswa.

    f. Kelebihan Model Quantum Teaching

    Dari uraian di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa kelebihan model

    quantum teaching antara lain :

    1) Pembelajaran kuantum berpangkal pada psikologi kognitif.

    2) Pembelajaran kuantum lebih bersifat humanistis dan bersifat

    konstruktivis(tis).

    3) Pembelajaran kuantum berupaya memadukan, menyinergikan, dan

    mengolaborasikan faktor potensi siswa selaku pembelajar dengan

    lingkungan pembelajaran.

    4) Pembelajaran kuantum memusatkan perhatian pada interaksi yang bermutu

    dan bermakna, bukan sekadar transaksi makna.

    5) Pembelajaran kuantum sangat menekankan pada pemercepatan

    pembelajaran dengan taraf keberhasilan tinggi.

  • 23

    6) Pembelajaran kuantum sangat menekankan kealamiahan dan kewajaran

    proses pembelajaran.

    7) Pembelajaran kuantum sangat menekankan kebermaknaan dan

    kebermutuan proses pembelajaran.

    8) Pembelajaran kuantum memiliki model yang memadukan konteks dan isi

    pembelajaran.

    9) Pembelajaran kuantum memusatkan perhatian pada pembentukan

    keterampilan akademis, keterampilan hidup, dan prestasi fisikal atau

    material.

    10) Pembelajaran kuantum menempatkan nilai dan keyakinan sebagai bagian

    penting proses pembelajaran.

    11) Pembelajaran kuantum mengutamakan keberagaman dan kebebasan,

    bukan keseragaman dan ketertiban. Keberagaman dan kebebasan dapat

    dikatakan sebagai kata kunci selain interaksi.

    12) Pembelajaran kuantum mengintegrasikan totalitas tubuh dan pikiran dalam

    proses pembelajaran.

    g. Kelemahann Model Quantum Teaching

    Dari uraian di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa kelemahan

    model quantum teaching antara lain :

    1) Waktu yang diperlukan dalam proses belajar mengjar cenderung lebih

    banyak.

    2) Rasa malu, ragu, pasif, tidak percaya diri pada siswa akan mengakibatkan

    model quantum teaching tidak berjalan baik

    h. Kualitas Proses Pembelajaran Quantum Teaching

    Kualitas proses pembelajaran adalah suatu proses yang mengandung

    serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang

    berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu (Subroto, 2002:

    21).

  • 24

    Kualitas proses pembelajaran quantum teaching dapat memberikan

    kemudahan dalam proses belajar mengajar lewat pemanduan seni dan pencapaian-

    pencapaian yang terarah, apapun mata pelajaran yang diajarkan. Dengan

    menggunakan metode quantum teaching, guru akan menggabungkan keistimewaan

    belajar menuju bentuk perencanaan pengajaran yang akan meningkatkan prestasi

    siswa.

    Kualitas model quantum teaching merangkaikan yang paling baik dari yang

    terbaik menjadi sebuah paket multi sensorik, multi kecerdasan, dan kompatibel

    dengan otak, yang pada akhirnya akan meningkatkan kemampuan guru untuk dapat

    merangsang anak untuk berprestasi. Cara ini dapat memaksimalkan usaha

    pengajaran guru melalui perkembangan hubungan, pengubahan belajar, dan

    penyampaian kurikulum serta menciptakan lingkungan belajar yang efektif,

    merancang kurikulum, menyampaikan isi, dan memudahkan proses belajar.

    Quantum teaching dapat mengajari pendidik bagaimana orang belajar dan mengapa

    siswa bertindak dan bereaksi terhadap sesuatu sebagaimana yang terjadi di dalam

    kelas. Guru dapat meningkatkan kesuksesan siswa dengan mencatat apa saja di

    dalam kelas yang berkaitan dengan lingkungan belajar, desain kurikulum dan

    bagaimana cara mempresentasikannya. Hasilnya adalah kualitas quantum teaching

    merupakan cara yang efektif dalam mengajar siapa saja, dapat menawarkan ide baru

    tentang bagaimana menciptakan lingkungan yang baik yang menjanjikan bagi

    pelajar dan mendukung mereka dalam proses pembelajaran.

    Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kualitas model quantum

    teaching adalah untuk memberikan kemudahan dalam proses belajar mengajar

    pendidik untuk memahami perbedaan gaya pembelajaran para siswa di dalam kelas

    sehingga dapat meningkatkan prestasi siswa.

    B. Penelitian yang Relevan

    Penelitian yang relevan merupakan uraian sistematis tentang hasil-hasil

    peneltian yang dilakukan oleh peneliti terdahulu yang relevan sesuai dengan

    substansi yang diteliti. Fungsinya untuk memposisikan peneliti yang sudah ada

    dengan penelitian yang akan dilakukan.

  • 25

    Berikut ini merupakan penelitian yang relevan yang pernah dilakukan :

    1. Skripsi Nuur Aji Sandi dengan judul Penerapan Model Pembelajaran

    Kooperatif Jigsaw Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA Dengan Materi

    Gaya Peserta Didik Kelas V SDN 01 Kepatihan Kec. Selogiri. Kab. Wonogiri

    Tahun Pelajaran 2010 / 2011. Penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan

    hasil dan aktivitas belajar siswa. Indikasi adanya dampak yang baik terhadap

    hasil belajar adalah adanya kenaikan rata-rata skor dari nilai siswa yang

    sebelumnya mencapai 62,2 meningkat menjadi 76,5. selain itu dampak tersebut

    dapat dilihat dari hasil nilai tes evaluasi pada siklus I mencapai 52%, meningkat

    pada siklus II menjadi 65%, meningkat pada siklus III menjadi 78%, pada siklus

    IV sama dengan siklus III yaitu 78%, dan meningkat pada siklus V menjadi

    91%.

    2. Skripsi Rika Yuni Ambarsari dengan judul Penerapan Model Problem Based

    Learning Untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Gaya Magnet Pada

    Pembelajaran IPA Siswa Kelas V SD Negeri 2 Nadi Bulukerto Wonogiri Tahun

    Pelajaran 2010 / 2011. Penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan hasil

    dan aktivitas belajar siswa. Indikasi adanya dampak yang baik terhadap hasil

    belajar adalah pemahaman konsep gaya magnet tersebut dapat dibuktikan

    dengan meningkatnya nilai pemahaman konsep gaya magnet siswa 61, siklus I

    nilai rata-rata pemahaman konsep gaya magnet siswa 66,25 dan siklus II nilai

    rata-rata pemahaman konsep gaya magnet siswa 77,98.

    Tingkat ketuntasan belajar siswa pada kondisi awal sebanyak 8 siswa atau 36,36

    %, pada siklus I yaitu 14 siswa atau 63,63 %, dan pada siklus II sebanayak 18

    siswa atau 81,81 %.

    Persamaan penelitian tersebut dengan penelitian dari penulis adalah terletak

    pada materi yaitu Gaya. Akan tetapi dalam materi tersebut penulis meneliti pada

    kelas IV SD, sedangkan penelitian yang terdahulu melaksanakan penelitian di

    kelas V dengan konsep pembelajaran Gaya Magnet.

    Sedangkan perbedaan penelitian tersebut, penelitian yang terdahulu

    menggunakan model pembelajaran Kooperatif Jigsaw dan PBL, sedangkan

    penelitian sekarang menggunggunakan model pembelajaran Quantum Teaching.

  • 26

    Tujuan yang ingin dicapai oleh penelitian sekarang dengan yang terdahulu juga

    berbeda. Jika penelitaian yang terdahulu yaitu penulis menekankan pada

    peningkatan hasil belajar, sedangkan penelitian yang sekarang menekankan pada

    peningkatan proses pembelajaran dengan model Quantum Teaching dan

    meningkatkan kemampuan belajar IPA dengan model Quantum Teaching.

    Berdasarkan beberapa penelitian yang telah diungkapkan di atas dapat

    diketahui bahwa proses kegiatan belajar mengajar dengan menerapkan berbagai

    model pembelajaran tidaklah mudah banyak taktik yang dipergunakan. Maka dari

    itu diperlukan model pembelajaran yang dianggap paling cocok dalam

    meningkatkan proses pembelajaran dan meningkatkan kemampuan belajar IPA.

    Model pembelajaran Quantum Teaching dianggap paling cocok karena dapat

    berinteraksi dengan mencakup unsur-unsur belajar efektif seperti TANDUR

    (tumbuhkan, alami, namai, demostrasikan, ulangi dan rayakan) sehingga

    kesuksesan pembelajaran dapat tercapai.

    C. Kerangka Berfikir

    Pembelajaran merupakan serangkaian kegiatan yang dilaksanakan oleh

    siswa dan guru dengan berbagai fasilitas dan materi untuk mencapai tujuan yang

    sudah ditetapkan. Keberhasilan proses belajar mengajar dalam mencapai tujuan

    pembelajaran dapat dilihat dari pemahaman yang dimiliki siswa dan motivasi

    belajar tinggi. Dengan pemahaman dan motivasi belajar yang tinggi, maka siswa

    akan dapat menguasai pengetahuan dan ketrampilan yang dikembangkan mata

    pelajaran, terutama mata pelajaran IPA. Pembelajaran IPA masih menekankan

    konsep-konsep yang terdapat pada buku, dan juga belum memanfaatkan

    pendekatan lingkungan dalam pembelajaran secara maksimal.

    Dalam pembelajaran IPA kelas IV dengan salah satu standar kompetensi

    pada mata pelajaran IPA kelas IV Sekolah Dasar adalah memahami gaya dapat

    mengubah gerak dan bentuk suatu benda, dengan kompetensi dasar yaitu

    menyimpulkan hasil percobaan bahwa gaya (dorongan dan tarikan) dapat

    mengubah gerak suatu benda. Materi pokok adalah Gaya sedangkan sub pokok

    bahasan tentang sifat-sifat gaya dan macam-macam gaya.

  • 27

    Pembelajaran pada materi gaya pada kondisi awal guru hanya

    menyampaikan dengan metode ceramah dengan diskusi sederhana dan guru belum

    menerepkan model quantum teaching, sehingga berakibat kemampuan belajar IPA

    rendah dalam materi gaya tentang sifat-sifat gaya dan macam-macam gaya dan

    ketrampilan sosial peserta didik rendah.

    Dalam melakukan tindakan guru menerapkan model quantum teaching

    dengan menggunakan strategi model siklus yang terdiri dua siklus dan tiap siklus

    terdapat dua kali pertemuan. Pembelajaran pada siklus I menggunakan model

    quantum teaching secara berkelompok dengan melalui tahapan perencanaan,

    tindakan, observasi, dan refleksi. Jika siklus I pada pertemuan satu dan dua

    kemampuan belajar IPA tentang materi gaya masih rendah, penulis dapat

    merefleksikan kekurangan dan kelemahan pada siklus I untuk dilanjutkan ke siklus

    II dengan tujuan agar siswa dapat meningkatkan kemampuan belajar IPA dan

    kualitas proses pembelajaran IPA.

    Pada kondisi akhir model quantum teaching pada pembelajaran IPA diduga

    dapat meningkatkan kemampuan belajar IPA dan kualitas proses pembelajaran IPA

    dapat meningkat dibandingkan menggunakan model konvensional. Pembelajarn

    quantum teaching merupakan kegiatan yang menciptakan suasana belajar yang

    lebih menarik, menggairahkan serta memberi pengalaman bagi siswa agar lebih

    berkesan untuk meningkatkan kemampuan dalam berprestasi sehingga pada

    akhirnya akan melejitkan kemampuan guru.

    Untuk menerapkan pembelajaran ilmu pengetahuan alam di kelas IV

    memang sangat sulit. Siswa diharapkan dapat berpikir secara sistematis, logis,

    kritis, kreatif dan konsisten sesuai perkembangan kemampuan dan lingkungan anak

    berada. Dalam pelaksanaan anak benar-benar ditekankan agar dapat melaksanakan

    pemecahan masalah yang dihadapinya. Dengan model pembelajaran Quantum

    Teaching konsep-konsep Ilmu Pengetahuan Alam harus jelas, sehingga siswa dapat

    belajar secara mudah dan alami sesuai dengan tujuan pembelajaran quantum

    teaching adalah tumbuhkan, alami, namai, demostrasikan, ulangi dan rayakan

    (tandur). Dengan konsep yang jelas melalui percobaan, akan menumbuhkan

    motivasi dan minat dalam pembelajaran sehingga hasil belajar akan meningkat.

  • 28

    Berdasarkan pemikiran tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa

    model quantum teaching akan meningkatkan kemampuan belajar IPA dan

    meningkatkan kualitas proses pembelajaran IPA. Untuk memperjelas kerangka

    pemikiran tersebut, maka dapat digambarkan kerangka pemikiran pada gambar

    bagan 12 berikut ini : (Lihat gambar bagan 12)

    Kondisi

    Awal

    Tindakan

    Kondisi

    Akhir

    Bagan. 12 Kerangka Berfikir

    Guru menerapkan

    model pembelajaran

    Quantum Teaching

    Penggunaan metode

    ceramah dan diskusi

    sederhana

    Kemampuan Belajar IPA rendah

    Keterampilan sosial peserta

    didik rendah

    Siklus I

    Pembelajaran menggunakan

    model Quantum Teaching

    secara kelompok

    1. Perencanaan

    2. Tindakan

    3. Obsevasi

    4. Refleksi

    Siklus II

    Pembelajaran menggunakan

    model Quantum Teaching

    secara kelompok

    1. Perencanaan

    2. Tindakan

    3. Obsevasi

    4. Refleksi

    Di duga dengan menerapkan

    model pembelajaran

    Quantum Teaching dapat

    meningkatkan kemampuan belajar

    IPA tentang Gaya

    Di duga dengan menerapkan

    model pembelajaran

    Quantum Teaching dapat

    meningkatkan proses pembelajaran

    IPA tentang Gaya

  • 29

    D. Hipotesis Tindakan

    Berdasarkan kajian teori dan kerangka pemikiran tersebut, maka dapat

    dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut :

    1) Penerapan model quantum teaching dapat meningkatkan kemampuan belajar

    IPA tentang Gaya pada siswa kelas IV SDN Karangasem IV Laweyan Surakarta

    Tahun 2012 ?

    2) Penerapan model quantum teaching dapat meningkatkan proses pembelajaran

    IPA tentang Gaya pada siswa kelas IV SDN Karangasem IV Laweyan Surakarta

    Tahun 2012 ?

  • 30

    BAB III

    METODE PENELITIAN

    A. Tempat dan Waktu

    1. Tempat Penelitian

    Penelitian ini dilaksanakan di SDN Karangasem IV Kecamatan Laweyan

    Kota Surakarta. Memiliki 6 ruang kelas, 1 kantor kepala sekolah dan guru, 1 ruang

    perpustakaan, dengan tenaga kependidikan sejumlah 13 orang yang terdiri dari

    kepala sekolah, guru, dan penjaga. Alasan yang mendasari penelitian dilaksanakan

    di SDN Karangasem IV, yaitu :

    a. Pengajaran dengan model Quantum Teaching belum pernah diteliti di SDN

    Karangasem IV.

    b. Peneliti ingin meningkatkan kemampuan belajar mata pelajaran IPA khususnya

    dalam materi gaya semester genap tahun pelajaran 2011/ 2012.

    c. Peneliti ingin meningkatkan kualitas proses pembelajaran pada mata pelajaran

    IPA khususnya dalam materi gaya semester genap tahun pelajaran 2011/ 2012.

    d. Penghematan waktu dan biaya, karena lokasi jaraknya tidak jauh dari kos

    peneliti 1 km. Peneliti juga merupakan Guru WB di sekolah tersebut.

    2. Waktu Penelitian

    Penelitian ini dilaksanakan selama 6 bulan yaitu dari Januari sampai dengan

    Juni. Penelitian dilakukan pada semester (genap) tahun pelajaran 2011/2012

    berdasarkan pada masalah kemampuan belajar dan kualitas proses pembelajaran

    pada kondisi awal peserta didik dalam mata pelajaran IPA rendah (pada tabel 2 pada

    halaman 31)

    30

  • 31

    Tabel 2. Jadwal Kegiatan Pelaksanaan Penelitian

    NO KEGIAT

    AN

    MARET APRIL MEI JUNI JULI AGUSTUS

    1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

    1

    Mengu-

    rus

    perijinan

    X

    2

    Pelaksa-

    naan

    peneliti-

    an

    X X X X

    3 Analisis

    data X X X X

    4

    Penyu-

    sunan

    laporan

    X X X X X X X X X

    5

    Pelaksa-

    naan

    ujian

    skripsi

    X

    6 Revisi X X

    7 Pengesah

    -an

    X

    8

    Pengiri-

    man

    laporan

    X

    B. Subjek Penelitian

    Subjek penelitian guru dan peserta didik kelas IV SDN Karangasem IV

    Kecamatan Laweyan Kota Surakarta yang berjumlah 40 anak. Dengan rincian 20

    peserta didik putra, 20 peserta didik putri.

  • 32

    C. Bentuk dan Strategi Penelitian

    1. Bentuk Penelitian

    Berdasarklan permasalahan yang diajukan dalam penelitian ini lebih

    menekankan pada masalah proses. Sedangkan data yang akan diperoleh berupa

    data yang langsung tercatat dari kegiatan lapangan, maka bentuk pendekatan

    yang perlu digunakan dalam penelitian ini adalah diskriptif kualitatif dan jenis

    penelitiannya adalah Penelitian Tindakan Kelas (classroom action research).

    Suharsimi Arikunto (2001 : 2) penelitian tindakan kelas merupakan terjemahan

    dari Classroom Action Research yang berarti satu action research yang

    dilakukan di kelas.

    Penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di

    dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri, dengan tujuan untuk memperbaiki

    kinerjanya sebagai guru. Penelitian tindakan kelas berangkat dari permasalahan

    yang riil yang dihadapi oleh guru dalam proses belajar mengajar.

    2. Strategi Penelitian

    Dalam penelitian ini menggunakan strategi model siklus. Adapun

    langkah-langkah pelaksanaan PTK dilakukan melalui 4 tahap yaitu perencanaan

    (planning), tindakan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting)

    dalam (St. Y Slamet, 2007 : 65). Secara jelas langkah-langkah tersebut dapat

    digambarkan pada gambar 13. Sebagai berikut :

    Gambar 13. Model Peneltian Tindakan dari Kurt Lewin dalam

    St. Y Slamet & Suwarto (2007 : 65)

  • 33

    Rancangan Penelitiannya sebagai berikut :

    a. Perencanaan Tindakan

    Kegiatan ini meliputi :

    1) Membuat perencanaan pengajaran.

    2) Membuat lembar observasi.

    3) Membuat alat evaluasi

    b. Pelaksanaan Tindakan

    Kegiatan yang dilaksanakan dalam tahap ini adalah melaksanakan kegiatan

    pembelajaran.

    c. Observasi

    Tahap ini dilaksanakan pengamatan terhadap pelaksanaan tindakan dengan

    menggunakan lembar observasi yang telah dipersiapkan.

    d. Refleksi

    Pada tahap ini data-data yang diperoleh melalui pengamatan dikumpulkan dan

    dianalisa guna mengetahui perubahan yang terjadi.

    D. Sumber Data

    Sumber data dalam penelitian adalah subyek dari mana data diperoleh

    (Suharsimi Arikunto, 2006 : 129). Adapun sumber data penelitian ini diperoleh dari

    : nilai tes (kognitif) peserta didik, nilai aspek afektif dan psikomotorik peserta didik

    SDN Karangasem IV kelas IV dalam proses pembelajaran IPA.

    Sumber data penelitian ini adalah:

    1. Informan atau nara sumber, yaitu guru dan siswa SDN Karangasem IV

    Surakarta.

    2. Tempat dan peristiwa berlangsungnya aktivitas pembelajaran Ilmu

    Pengetahuan Alam.

    3. Dokumen atau arsip antara lain berupa kurikulum, Rencana Pelaksanaan

    Pembelajaran, hasil belajar siswa, dan buku penilaian.

    4. Kemampuan belajar siswa dalam kegiatan pembelajaran.

  • 34

    E. Teknik Pengumpulan Data

    Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data di atas meliputi

    pengamatan/observasi tes, dan dokumentasi yang masing-masing secara singkat

    diuraikan sebagai berikut :

    1. Teknik Observasi

    Observasi meliputi kegiatan pemusatan perhatian terhadap sesuatu objek

    dengan menggunakan seluruh alat indra. Observasi adalah kegiatan pengamatan

    (pengambilan data) untuk memotret seberapa jauh efek tindakan telah mencapai

    sasaran (Suharsimi Arikunto, 2008 : 127). Observasi meliputi observasi sistematis

    dan observasi non sistematis. Pada penelitian ini menggunakan observasi

    sistematis. Observasi sistematis adalah observasi yang dilakukan oleh peneliti

    dengan menggunakan instrumen pengamatan dan dilakukan pada waktu kegiatan

    belajar berlangsung. Observasi langsung adalah observasi yang dilakukan tanpa

    perantara (langsung) terhadap objek yang diamati. Observasi langsung dilakukan

    pada guru dan siswa kelas IV SDN Karangaem IV Surakarta untuk mengetahui

    pemahaman dan perkembangan siswa dalam proses pembelajaran yang sedang

    berlangsung sesuai dengan siklus yang ada.

    Observasi ini bertujuan untuk memantau dan mengamati proses

    pembelajaran IPA mengenai materi gaya yang dilakukan guru dan siswa di dalam

    kelas sejak sebelum melaksanakan tindakan, saat pelaksanaan tindakan sampai

    akhir tindakan untuk menata langkah-langkah perbaikan agar lebih efektif dan

    efisien.

    Teknik pengumpulan data dengan observasi pada penelitian ini ditujukan

    untuk mengambil data nilai afektif dan psikomotorik peserta didik. Dalam

    melakukan observasi, peneliti menggunakan pedoman berupa format observasi.

    Adapun format observasi terdiri dari nomor, nama, komponen indikator dan hasil.

    Hasil pengamatan dicatat untuk digunakan sebagai bahan evaluasi dan refleksi

    untuk mengetahui hasil dari tindakan siklus yang sudah dilakukannya dan untuk

    menentukan perlu dan tidaknya untuk melakukan siklus berikutnya.

  • 35

    2. Teknik Tes

    Tes adalah alat pengukuran berupa pertanyaan, perintah, dan petunjuk yang

    ditujukan kepada testee untuk mendapatkan respon sesuai dengan petunjuk itu (

    Pupuh & Sorby, 2007 : 77). Tes adalah serentetan pertanyaan atau alat yang

    digunakan untuk mengukur keterampilan pengetahuan, intelegensi kemampuan

    atau bakat yang dimiliki individu atau kelompok (Suharsimi Arikunto, 2002: 127).

    Tes ini diberikan pada awal penelitian untuk mengidentifikasi kekurangan atau

    kelemahan siswa dalam pembelajaran konsep gaya. Selain itu, tes ini dilakukan

    setiap akhir pertemuan untuk mengetahui peningkatan pemahaman konsep gaya

    pada siswa. Dengan kata lain tes disusun dan dilakukan untuk mengetahui

    perkembangan pemahaman konsep gaya pada siswa kelas IV SDN Karangasem

    IV, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta tahun pelajaran 2011/2012 yang ditandai

    dengan nilai tes yang diperoleh siswa seusai dengan siklus yang ada.

    3. Teknik Dokumentasi

    Dokumen merupakan bahan tertulis ataupun film yang digunakan sebagai

    sumber data. Dokumen sudah sejak lama digunakan sebagai sumber data dapat

    dimanfaatkan untuk menguji, menafsirkan, bahkan untuk meramalkan. (St. Y.

    Slamet, 2007: 52). Dalam penelitian ini, metode dokumentasi digunakan peneliti

    untuk memperoleh daftar nilai, daftar hadir siswa, daftar nama siswa kelas IV dan

    arsip-arsip lain yang dimilki guru kelas IV SDN Karangasem IV Laweyan

    Surakarta.

    F. Validitas Data

    Untuk menjamin mengembangkan validitas data yang dikumpulkan dalam

    penelitian ini adalah dengan menggunakan trianggulasi. Sebelum suatu informasi

    dijadikan data penelitian, informasi tersebut perlu diuji validitasnya sehingga data

    yang diperoleh benar-benar dapat dipertanggungjawabkan dan dapat dipergunakan

    sebagai dasar yang kuat untuk mengambil kesimpulan. Pada penelitian ini teknik

    yang dipergunakan untuk uji validitas data yaitu dengan trianggulasi.

  • 36

    Slamet dan Suwarto, (2007: 54) mengemukakan bahwa trianggulasi

    merupakan teknik yang didasari pola pikir fenomenologi yang bersifat multi

    perspektif. Artinya, untuk menarik kesimpulan yang mantap diperlukan tidak hanya

    dari satu cara pandang, melainkan bisa dipertimbangkan dengan fenomena yang

    muncul, dan selanjutnya dapat ditarik kesimpulan yang lebih mantap dan lebih bisa

    diterima kebenarannya.

    Adapun dari trianggulasi yang ada hanya menggunakan 2 teknik yaitu

    Trianggulasi data dan Trianggulasi metode (St. Y. Slamet, 2007 : 54) :

    1. Trianggulasi Data

    Trianggulasi data (sumber) dengan cara mengumpulkan data sejenis dari

    sumber berbeda. Dengan teknik ini diharapkan dapat memberikan informasi

    yang lebih tepat sesuai keadaan siswa. Dalam penelitian ini membandingkan

    hasil pengamatan dengan data isi dokumen yang terkait misalnya arsip nilai,

    absen, dan lainnya.

    Pada penelitian ini peneliti mendapatkan data perbandingan hasil

    pengamatan pembelajaran nilai mata pelajaran IPA tentang pemahaman konsep

    gaya dengan data hasil wawancara dari guru kelas IV SDN Karangasem IV

    Surakarta. Peneliti juga membandingkan data nilai dari pre test konsep gaya

    dengan nilai ulangan harian konsep gaya siswa kelas IV, selain itu juga

    beberapa dokumen/data informasi dari Kepala Sekolah SDN Karangasem IV

    Surakarta tentang konsep gaya siswa kelas IV SDN Karangasem IV Surakarta

    dengan dibandingkan hasil wawancara dari guru kelas IV SDN Karangasem IV

    Surakarta. Dari sumber data yang berbeda-beda ini, pemahaman konsep gaya

    dibandingkan kemudian diuji kemantapan dan kebenarannya.

    2. Trianggulasi Metode

    Jenis trianggulasi metode ini dilakukan dengan mengumpulkan data

    sejenis tetapi dengan menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda dan

    bahkan lebih jelas untuk diusahakan mengarah pada sumber data yang sama

    untuk menguji kemantapan informasinya. Yang ditekankan adalah penggunaan

    teknik atau metode pengumpulan data dengan metode wawancara, observasi,

  • 37

    dan survei. Untuk memperoleh kebenaran informasi yang akurat dan gambaran

    yang utuh mengenai informasi tertentu, peneliti menggunakan metode

    wawancara dan obervasi atau pengamatan untuk mengecek kebenarannya.

    Peneliti menggunakan metode pengumpulan data berupa observasi terhadap

    kegiatan pembelajaran guru dan partisipasi siswa kelas IV SDN Karangasem IV

    Surakarta kemudian diuji dengan pengumpulan data sejenis dengan

    menggunakan teknik dokumentasi pada pelaku kegiatan pembelajaran gaya.

    Selain itu, peneliti menggunakan informan yang berbeda untuk mengecek

    kebenaran informasi tersebut. Dari beberapa data yang diperoleh melalui teknik

    pengumpulan data yang berbeda tersebut hasilnya dibandingkan dan dapat

    ditarik kesimpulan agar diperoleh data yang lebih kuat validitasnya.

    G. Teknik Analisis Data

    Analisis data adalah cara mengolah data yang sudah diperoleh dari

    dokumen. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis

    model interaktif (Milles dan Huberman, 2007 : 20). Kegiatan pokok analisis model

    ini meliputi reduksi data, penyajian data, kesimpulan-kesimpulan

    penarikan/verifikasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini digunakan untuk

    menganalisis data-data yang berhasil dikumpulkan.

    1. Reduksi Data

    Pada penelitian ini data yang direduksi yaitu nilai hasil belajar peserta didik

    yang mencakup nilai kognitif (tes), nilai afektif, dan nilai psikomotorik. Pengertian

    reduksi data yaitu proses pemilihan pemusatan perhatian pada penyederhanaan,

    pengabstrakan dan tranformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan

    tertulis di lapangan, reduksi data merupakan bentuk analisis yang menajamkan,

    menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu dan

    mengorganisasikan data dengan cara sedemikian mungkin sehingga kesimpulan-

    kesimpulan finalnya dapat ditarik dan diverifikasi. Pemilihan data yang dilakukan

    yaitu memilih data-data yang sesuai sehingga dapat digunakan untuk menarik

    simpulan.

  • 38

    2.

of 113/113
i PENERAPAN MODEL QUANTUM TEACHING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BELAJAR IPA TENTANG GAYA BAGI SISWA KELAS IV SDN KARANGASEM IV LAWEYAN SURAKARTA TAHUN 2012 SKRIPSI Disusun Oleh : AAN WIDIYONO X7110001 FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2012
Embed Size (px)
Recommended