Home > Documents > SKRIPSI -...

SKRIPSI -...

Date post: 04-Aug-2019
Category:
Author: buitruc
View: 220 times
Download: 0 times
Share this document with a friend
Embed Size (px)
of 175 /175
i PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPA MATERI BENDA DAN SIFATNYA MELALUI METODE EKSPERIMEN PADA SISWA KELAS III MI TARBIYATUL ISLAMIYAH NOBOREJO KECAMATAN ARGOMULYO KOTA SALATIGA TAHUN 2018 SKRIPSI Diajukan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Disusun oleh ENY LATIFAH 115-14-060 JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA 2018
Transcript
  • i

    PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPA

    MATERI BENDA DAN SIFATNYA

    MELALUI METODE EKSPERIMEN PADA SISWA KELAS III

    MI TARBIYATUL ISLAMIYAH NOBOREJO

    KECAMATAN ARGOMULYO

    KOTA SALATIGA

    TAHUN 2018

    SKRIPSI

    Diajukan untuk Memperoleh Gelar

    Sarjana Pendidikan

    Disusun oleh

    ENY LATIFAH

    115-14-060

    JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH

    FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

    INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI

    SALATIGA

    2018

  • ii

  • iii

    PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPA

    MATERI BENDA DAN SIFATNYA

    MELALUI METODE EKSPERIMEN PADA SISWA KELAS III

    MI TARBIYATUL ISLAMIYAH NOBOREJO

    KECAMATAN ARGOMULYO

    KOTA SALATIGA

    TAHUN 2018

    SKRIPSI

    Diajukan untuk Memperoleh Gelar

    Sarjana Pendidikan

    Disusun oleh

    ENY LATIFAH

    115-14-060

    JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH

    FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

    INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI

    SALATIGA

    2018

  • iv

    Dr. Hj. Maslikhah S.Ag., M.Si

    Dosen IAIN Salatiga

    NOTA PEMBIMBING

    Lamp : 4 Eksemplar

    Hal : Naskah Skripsi

    : Eny Latifah

    Kepada

    Yth. Dekan FTIK IAIN Salatiga

    Di Tempat

    Assalamualaikum Wr. Wb.

    Setelah membaca dan memberi arahan dan perbaikan seperlunya, maka

    kami selaku pembimbing berpendapat bahwa skripsi saudari:

    Nama : Eny Latifah

    NIM : 115-14-060

    Fakultas : Tarbiyah dan Ilmu Keguruan

    Jurusan : Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah

    Judul : PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPA MATERI BENDA

    DAN SIFATNYA MELALUI METODE EKSPERIMEN

    PADA SISWA KELAS III MI TARBIYATUL ISLAMIYAH

    NOBOREJO KECAMATAN ARGOMULYO KOTA

    SALATIGA TAHUN 2018

    Dengan ini mohon skripsi saudari tersebut di atas supaya segera di

    munaqosyahkan. Demikian agar menjadi perhatian.

    Wassalamualaikum Wr. Wb.

    Salatiga, 23 April 2018

    Pembimbing

    Dr. Hj. Maslikhah S.Ag M.Si

    NIP: 1970052920003001

  • v

    KEMENTERIAN AGAMA RI

    INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA

    FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

    (FTIK) Jalan Lingkar Salatiga Km.2 telepon: (0289) 6031364 Salatiga 50716

    Website: tarbiyah.iainsalatiga.ac.id Email: [email protected]

    SKRIPSI

    PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPA

    MATERI BENDA DAN SIFATNYA

    MELALUI METODE EKSPERIMEN PADA SISWA KELAS III

    MI TARBIYATUL ISLAMIYAH NOBOREJO

    KECAMATAN ARGOMULYO

    KOTA SALATIGA

    TAHUN 2018

    DISUSUN OLEH

    ENY LATIFAH

    115-14-060

    Telah dipertahankan di depan Panitia Dewan Penguji Skripsi Jurusan PGMI

    Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri (IAIN)

    Salatiga, pada tanggal 4 Juli 2018 dan telah dinyatakan memenuhi syarat guna

    memperoleh gelar Sarjana Pendidikan.

    Susunan Panitia Penguji

    Ketua Penguji : Mufiq, S.Ag,. M.Phil

    Sekertaris Penguji : Dr. Hj. Maslikhah, S.Ag., M.Si

    Penguji I : Drs. Sumarno Widjadipa, M.Pd

    Penguji II : Dra. Nur Khasanah, M.Pd

    Salatiga, 4 Juli 2018

    Dekan FTIK IAIN Salatiga

    SUWARDI, M.Pd

    NIP. 19670121 199903 1002

  • vi

    PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN DAN KES EDIAAN PUBLIKASI

    Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

    Nama : ENY LATIFAH

    NIM : 115-14-060

    Fakultas : Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK)

    Jurusan : Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI)

    Menyatakan bahwa skripsi yang saya tulis ini benar-benar merupakan hasil

    karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain dan saya tidak

    keberatan apabila skripsi saya dipublikasikan. Pendapat atau temuan orang lain

    yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk sesuai dengan kode etik

    ilmiah.

    Salatiga, 23 April 2018

    Yang menyatakan

    Eny Latifah

  • vii

    MOTTO

    ... ...

    Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka

    merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.

    (Q.S Ar-Rad: 11)

  • viii

    PERSEMBAHAN

    Penulis mempersembahkan skripsi ini kepada:

    1. Allah Swt atas taufiq, hidayah serta ridho-NyA;

    2. Kedua orang tuaku tercinta bapak Wulanto dan ibu Khotijah yang

    takhenti-henti mendidik, memanjatkan doa, memberikan dukungan serta

    melimpahkan kasih sayang kepada penulis sehingga penulis dapat

    menyelesaikan pendidikan S1;

    3. Adikku tercinta Lailatul Mubarokah yang selalu memberikan dukungan

    kepada penulis, semoga kelak bisa menjadi kebanggaan keluarga;

    4. Keluarga besar mbah Komarudin dan mbah Khasanah, bulek, paman,

    serta sepupuku yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu terimakasih

    atas dukungannya; dan

    5. Sahabatku Rini Budi S, Fatichatur R, Khafidotul L dan M. Misbakhul

    Munir yang selalu memberi dukungan dan semangat kepada penulis;

  • ix

    KATA PENGANTAR

    Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan ke Hadirat Allah Swt. yang

    telah memberikan rahmad dan karunianya-Nya kepada penulis sehingga skripsi

    penelitian tindakan kelas yang berjudul Peningkatan Hasil Belajar IPA Materi

    Benda dan Sifatnya Melalui Metode Eksperimen pada siswa kelas III di MI

    Tarbiyatul Islamiyah Noborejo Kecamatan Argomulyo Kota Salatiga ini

    selesai. Sholawat serta salam selalu penulis haturkan kepada junjungan Nabi

    Muhammad Saw yang akan memberikan syafaatnya. Penelitian tindakan kelas

    ini disusun untuk memenuhi syarat mencapai gelar sarjana pendidikan.

    Penyusunan penelitian tindakan kelas ini tidak lepas dari hambatan dan

    rintangan serta kesulitan-kesulitan. Namun berkat bimbingan, nasihat dan

    dorongan dari berbagai pihak segala hambatan dan rintangan dapat teratasi

    dengan baik. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih dan

    penghargaan kepada:

    1. Bapak Dr. H. Rahmat Hariyadi, M.Pd selaku Rektor IAIN Salatiga;

    2. Bapak Suwardi, M.Pd selaku Dekan FTIK IAIN Salatiga;

    3. Ibu Peni Susapti, M.Si selaku Ketua Jurusan PGMI IAIN Salatiga;

    4. Ibu Miftachur Rifah Mahmud, M.Ag selaku Dosen Pembimbing

    Akademik

    5. Ibu Dr. Hj. Maslikhah, S.Ag., M.Si selaku Dosen Pembimbing Skripsi,

    dengan sabar telah membimbing, mengarahkan dan memberi masukan

    dalam penyusunan skripsi ini;

  • x

    6. Bapak dan ibu Dosen FTIK yang telah memberikan bekal ilmu;

    7. Bapak Drs. Marno selaku Kepala Sekolah MI Tarbiyatul Islamiyah

    Noborejo;

    8. Bapak Abdul Wahab, S.Ag selaku Wali Kelas II MI Tarbiyatul

    Islamiyah Noborejo;

    9. Teman-teman PGMI 2014; dan

    10. Pihak-pihak lain yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu yang telah

    membatu dan memberikan motivasi, dukungan dan saran dalam

    penyusunan skripsi ini.

    Semoga Allah memberikan pahala yang setimpal atas kebaikan yang mereka

    berikan kepada penulis. Penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat

    bagi para pembaca.

    Salatiga, 23 April 2018

    Penulis,

  • xi

    ABSTRAK

    Latifah, Eny. 2018. Peningkatan Hasil Belajar IPA Materi Benda dan Sifatnya

    Melalui Metode Eksperimeni pada siswa kelas III MI Tarbitayul

    Islamiyah Noborejo Kecamatan Argomulyo Kota Salatiga Tahun 2018.

    Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah. Fakultas Tarbiyah

    dan Ilmu Keguruan. Institut Agama Islam Negeri Salatiga. Pembimbing:

    Dr. Hj. Maslikhah., S.Ag.,M.Si.,

    Kata kunci: Hasil Belajar IPA, Metode Eksprerimen

    Pembelajaran IPA di MI Tarbiyatul Islamiyah Noborejo Kecamatan

    Argomulyo Kota Salatiga belum menggunakan berbagai metode pembelajaran

    aktif dan masih menggunakan metode yang kurang tepat dalam proses

    pembelajarannya. Hal ini menyebabkan siswa cenderung pasif dan kurangnya

    perhatian siswa terhadap materi yang disampaikan oleh guru terutama materi

    benda dan sifatnya. Terbukti dengan rendahnya hasil belajar siswa dari total

    keseluruhan 21 siswa hanya terdapat 9 siswa yang mencapai KKM dan 12 siswa

    yang belum mencapai KKM 70. Rumusan masalah penelitian ini adalah apakah

    metode eksperimen dapat meningkatkan hasil belajar IPA materi benda dan

    sifatnya pada siswa kelas III MI Tarbiyatul Islamiyah Noborejo Kecamatan

    Argomulyo Kota Salatiga tahun 2018. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui

    peningkatan hasil belajar IPA materi benda dan sifatnya melalui metode

    eksperimen pada siswa kelas III di MI Tarbiyatul Islamiyah Noborejo Kecamatan

    Argomulyo Kota Salatiga tahun 2018.

    Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan

    dengan tiga siklus yang masing-masing siklus terdiri dari empat tahapan yaitu

    perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi. Subjek penerima tindakan adalah

    siswa kelas III yang berjumlah 21 siswa, terdiri dari 10 siswa laki-laki dan 11

    siswa perempuan. Instrumen penelitian meliputi RPP, lembar observasi guru,

    lembar observasi siswa, laporan eksperimen dan tes evaluasi. Metode

    pengumpulan data adalah wawancara, observasi, tes dan dokumentasi. Data

    dianalisis secara statistik dengan rumus persentase, apabila 85% siswa tuntas

    belajar siklus dihentikan.

    Hasil penelitian ini menunjukan dengan adanya peningkatan hasil belajar

    IPA pada siswa kelas III materi benda dan sifatnya. Terbukti dengan adanya

    peningkatan hasil pra siklus sebelum dilakukan tindakan, siswa mencapai

    ketuntasan hanya 42,85% dengan rata-rata pra siklus 65,57, sedangkan pada

    siklus I mencapai 52,38% dengan rata-rata nilai 65,90, siklus II mencapai

    71,42% dengan rata-rata 72,76, siklus III mencapai 85,71% dengan rata-rata

    77,42. Pencapaian hasil belajar pada siklus terakhir menyatakan bahwa target

    pencapaian indikator keberhasilan sudah memenuhi yaitu 85,71% dari total

    keseluruhan siswa yang tuntas belajar dari target indikator keberhasilan 85%.

    Penelitian tindakan kelas pada siswa kelas III MI tarbiyatul Islamiyah Noborejo

    dinyatakan berhasil meningkatkan hasil belajar siswa untuk mencapai KKM

    kelas 70.

  • xii

    DAFTAR ISI

    SAMPUL ....................................................................................................... i

    LEMBAR BERLOGO ................................................................................... ii

    JUDUL ........................................................................................................... iii

    NOTA PEMBIMBING .................................................................................. iv

    PENGESAHAN KELULUSAN .................................................................... v

    PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ..................................................... vi

    MOTTO ......................................................................................................... vii

    PERSEMBAHAN .......................................................................................... viii

    KATA PENGANTAR ................................................................................... ix

    ABSTRAK ..................................................................................................... xi

    DAFTAR ISI .................................................................................................. xii

    DAFTAR TABEL .......................................................................................... xvi

    DAFTAR GAMBAR ..................................................................................... xvii

    DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. xviii

    BAB I PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah ..................................................................... 1

    B. Rumusan Masalah .............................................................................. 8

    C. Tujuan Penelitian ............................................................................... 8

    D. Kegunaan Penelitian........................................................................... 8

    E. Hipotesis Tindakan............................................................................. 10

    F. Metode Penelitian............................................................................... 11

    1. Rancangan Penelitian ................................................................... 11

    2. Subjek Penelitian .......................................................................... 13

    3. Langkah-langkah Penelitian ......................................................... 13

    4. Instrumen Penelitian..................................................................... 15

    5. Pengumpulan Data ....................................................................... 16

    6. Analisis Data ................................................................................ 17

    G. Sistematika Penulisan ........................................................................ 18

  • xiii

    BAB II LANDASAN TEORI

    A. Kajian Pustaka .................................................................................... 19

    1. Materi IPA Benda danSifatnya .................................................... 19

    2. Belajar .......................................................................................... 27

    a. Pengertian Belajar .................................................................. 27

    b. Prinsip Belajar ........................................................................ 29

    c. Tujuan Belajar ........................................................................ 30

    3. Hasil Belajar ................................................................................. 31

    a. Pengertian Hasil Belajar ......................................................... 31

    b. Macam-macam Hasil Belajar ................................................. 32

    c. Faktor-faktor yang Memengaruhi Hasil Belajar .................... 35

    4. Hakikat IPA .................................................................................. 36

    a. Pengertian IPA ....................................................................... 36

    b. Tujuan IPA ............................................................................. 37

    5. Metode Eksperimen ..................................................................... 38

    a. Pengertian Metode Eksperimen .............................................. 38

    b. Tujuan Metode Eksperimen ................................................... 39

    c. Langkah-langkah Metode Eksperimen ................................... 39

    d. Kelebihan dan Kekurangan Metode Eksperimen ................... 40

    e. Kajian Pustaka ........................................................................ 41

    f. Pelaksaan Penelitian ............................................................... 43

  • xiv

    BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN

    A. Letak Geografis MI Tarbiyatul Islamiyah Noborejo ......................... 53

    B. Gambaran Umum MI Tarbiyatul Islamiyah Noborejo....................... 53

    1. Identitas Sekolah .......................................................................... 53

    2. Visi dan Misi ................................................................................ 54

    3. Struktur Organisasi ...................................................................... 54

    4. Keadaan Guru............................................................................... 55

    5. Keadaan Siswa ............................................................................. 56

    6. Karakteristik Siswa ...................................................................... 56

    7. Kolaborator Penelitian ................................................................. 57

    8. Waktu Penelitian .......................................................................... 57

    9. Pelaksanaan Penelitian ................................................................. 58

    10. Deskripsi Siklus I ......................................................................... 58

    11. Deskripsi Siklus II ........................................................................ 65

    12. Deskripsi Siklus III ...................................................................... 71

    BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

    A. Deskripsi Paparan Siklus .................................................................... 74

    1. Deskripsi Data Hasil Belajar Pra Siklus ...................................... 74

    2. Deskripsi Data Siklus I ................................................................ 74

    3. Deskripsi Data Siklus II ............................................................... 75

    4. Deskripsi Data Siklus III .............................................................. 79

    B. Pembahasan ........................................................................................ 81

  • xv

    BAB V PENUTUP

    A. Kesimpulan ........................................................................................ 88

    B. Saran ................................................................................................... 88

    DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 90

    LAMPIRAN-LAMPIRAN ............................................................................. 92

    DAFTAR RIWAYAT HIDUP PENULIS ..................................................... 152

  • xvi

    DAFTAR TABEL

    Tabel 3.1 Indentitas MI Tarbiyatul Islamiyah Noborejo ............................... 49

    Tabel 3.2 Daftar Nama Guru MI Tarbiyatul Islamiyah Noborejo ................. 51

    Tabel 3.3 Daftar Jumlah Siswa MI Tarbiyatul Islamiyah Noborejo .............. 52

    Tabel 3.4 Daftar Nama Siswa Kelas III MI Tarbiyatul Islamiyah Noborejo . 52

    Tabel 3.5 Jadwal Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas............................. 54

    Tabel 4.1 Daftar Hasil Belajar Siswa Pra Siklus ........................................... 74

    Tabel 4.2 Daftar Hasil Belajar Siswa Siklus I................................................ 76

    Tabel 4.3 Daftar Hasil Belajar Siswa Siklus II .............................................. 78

    Tabel 4.4 Daftar Hasil Belajar Siswa Siklus III ............................................. 80

    Tabel 4.5 Rekapitusi Hasil Belajar Siswa Siklus I- Siklus III ....................... 88

  • xvii

    DAFTAR GAMBAR

    Gambar 1.1 Bagan Rancangan PTK .............................................................. 12

    Gambar 2.1 Sifat Benda Padat ....................................................................... 20

    Gambar 2.2Sifat Benda Cair .......................................................................... 21

    Gambar2.3 Sifat Benda Gas ........................................................................... 22

    Gambar 2.4 Es Batu ....................................................................................... 23

    Gambar 3.1 Bagan Struktur Organisasi MI Tarbiyatul Islamiyah Noborejo . 51

    Gambar 4.1 Grafik Pesentase Hasil Belajar Siklus I Siklus III ................... 83

    Gambar 4.2 Grafik Hasil Belajar Siklus I ...................................................... 83

    Gambar 4.3 Garfik Hasil Belajar Siklus II ..................................................... 84

    Gambar 4.4 Garfik Hasil Belajar Siklus III ................................................... 84

    Gambar 4.5 Grafik Persentase Hasil Belajar Siklus I Siklus III ................. 85

  • xviii

    DAFTAR LAMPIRAN

    Lampiran 1 RPP Siklus I .............................................................................. 91

    Lampiran 2 Lembar Observasi Guru Siklus I .............................................. 97

    Lampiran 3 Lembar Observasi Siswa Siklus I ............................................. 98

    Lampiran 4 Nilai Hasil Belajar Siklus I ....................................................... 99

    Lampiran 5 Lembar Laporan Eksperimen Siklus I ...................................... 104

    Lampiran 6 RPP Siklus II ............................................................................ 106

    Lampiran 7 Lembar Observasi Guru Siklus II ............................................. 112

    Lampiran 8 Lembar Observasi Siswa Siklus II............................................ 113

    Lampiran 9 Nilai Hasil Belajar Siklus II...................................................... 114

    Lampiran 10 Lembar Laporan Eksperimen Siklus II ..................................... 119

    Lampiran 11 RPP Siklus III ........................................................................... 121

    Lampiran 12 Lembar Observasi Guru Siklus III............................................ 127

    Lampiran 13 Lembar Observasi Siswa Siklus III .......................................... 128

    Lampiran 14 Nilai Hasil Belajar Siklus III .................................................... 129

    Lampiran 15 Lembar Laporan Eksperimen SiklusIII .................................... 134

    Lampiran 16 Dokumentasi Pembelajaran ...................................................... 136

    Lampiran 17 Surat Ijin Melakukan Penelitian ............................................... 143

    Lampiran 18 Surat Keterangan Melakukan Penelitian .................................. 144

    Lampiran 19 Lembar Konsultasi .................................................................... 145

    Lampiran 20 SKK .......................................................................................... 147

    Lampiran 21 Daftar Riwayat Hidup ............................................................... 150

  • 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah

    Pendidikan adalah satu usaha yang bersifat sadar-tujuan, yang

    dengan sistematik terarah pada perubahan tingkah laku menuju

    kedewasaan siswa. Perubahan yang dimaksud itu menunjuk pada suatu

    proses yang harus dilalui. Tanpa adanya proses pendidikan perubahan

    tidak mungkin terjadi. Tanpa pendidikan tujuan tak dapat dicapai. Proses

    yang dimaksud di sini adalah proses pendidikan atau proses edukatif.

    Pendidikan berfungsi membimbing proses pelajaran di dalam kehidupan,

    yakni membimbing memperkembangkan diri sesuai dengan tugas-tugas

    perkembangan yang harus dijalankan oleh seorang pelajar. Tugas

    perkembangan tersebut mencakup kebutuhan hidup baik sebagai individu

    maupun sebagai anggota masyarakat. Hasil tinjauan secara luas akan jelas

    nampak bahwa proses kedewasaan manusia yang hidup dan berkembang

    adalah manusia yang selalu berubah dan perubahan itu merupakan hasil

    belajar. Guru dibutuhkan, untuk memberikan bekal hidup yang berguna.

    Guru harus memberikan secara edukatif. Jelasnya guru harus menciptakan

    situasi yang interaktif dan edukatif (Surakhmad, 1986: 14).

    Firman Allah Swt dalam Al-quran surat Al-Mujadalah ayat 11

    Artinya: Niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang

    yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi

  • 2

    ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha

    Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

    Pendidikan mempunyai bagian penting adalah kegiatan

    pembelajaran.Pembelajaran merupakan perpaduan dari dua aktivitas yaitu

    belajar dan mengajar. Proses belajar mengajar tersebut, ada guru sebagai

    pengajar dan siswa sebagai subjek belajar. Belajar menurut E.R

    Hilgard(dalam Susanto 2013: 3) merupakan suatu perubahan kegiatan

    reaksi terhadap lingkungan.Perubahan yang dimaksud mencakup

    pengetahuan, kecakapan, tingkah laku, dan ini diperoleh melalui

    pengalaman.

    Surakhmad (1986: 23) berpendapat, seluruh manusia dari berbagai

    kalangan mencari efisien kerja dengan menetapkan metode yang baik

    untuk mencapai suatu tujuan.Sangat janggal, bahwa untuk waktu yang

    sangat panjang, sekolah telah bertahan memakai satu jenis metode yang

    dilaksanakan dengan sangat buruk.Untuk segala hal, anak dipaksa

    mendengarkan ceramah guru, dan menanti giliran untuk diberi tugas.

    Ilmu Pengetahuan Alam adalah salah satu mata pelajaran yang

    menghendaki siswa untuk memiliki keterampilan proses yang

    menekankan pada fakta dan pendekatan konsep. Keterampilan proses

    dianggap sangat penting untuk pembelajaran IPA. Harlen (dalam Sapriyati

    2011:4.2), mengemukakan alasan untuk itu yaitu; peranan keterampilan

    proses sangat besar dalam pengembangan konsep-konsep ilmiah. Carin (

    dalam Sapriyati 201: 4.4-4.5) menyampaikan pula alasan tentang

    pentingnya keterampilan prosesdalam pembelajaran IPA berupa belajar

  • 3

    sepanjang hayat yang dapat digunakan untuk belajar berbagai macam ilmu

    yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

    Seorang ahli sejarah Bullock (dalam Departemen Agama RI, 2002:

    2),

    menganggap IPA sebagai suatu kebudayaan orang modern. IPA

    merupakan suatu proses terbuka sehingga imajinasi, hipotesis, kritik, dan

    kontroversi berperan penting di dalamnya. IPA sebagai suatu studi yang

    banyak berkaitan dengan manusia atau masyarakat, suatu studi yang

    memerlukan imaginasi, perasaan, pengamatan, dan juga analisis.

    Berdasarkan hasil wawancara pada hari Sabtu tanggal 6 Januari 2018

    dengan guru kelas 3 MI Noborejo Kecamatan Argomulyo Salatiga (Abdul

    Wahab) menurutnya dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran sudah

    menggunakan berbagai metode yang pasti digunakan dalam pembelajaran

    yaitu metode ceramah, metode pembelajaran aktif seperti metode

    observasi, pengamatan lapangan. Hasil yang didapatkan dari pengggunaan

    metode ceramah, siswa kurang aktif dalam proses pembelajaran

    mengakibatkan antusias siswa kurang. Penggunaan metode ceramah guru

    lebih banyak menerangkan, sedangkan siswa hanya menyimak melalui

    buku pegangan. Kondisi tersebut menyebabkan siswa merasa bosan,

    ngantuk dalam mengikuti pelajaran. Hasil selanjutnya dari penggunaan

    metode observasi dan pengamatan lapangan yaitu, metode tersebut cukup

    membuat siswanya antusias dalam pengikuti pembelajaran dan mampu

    membuat siswa mengerti apa yang dipelajarinya namun pemahaman siswa

  • 4

    terkait materi hanya sesaat saja. Pelajaran IPA materi Benda dan Sifatnya

    hasilnya sudah cukup memuaskan, namun masih ada beberapa siswa yang

    hasilnya itu masih belum memenuhi KKM. Nilai KKM matapelajaran IPA

    di MI Noborejo adalah 70. Hal itu dapat dilihat dari data pra siklus yang

    menyatakan bahwa dari jumlah 21 siswa terdapat 12 siswa yang belum

    tuntas belajar dan 9 siswa dinyatakan sudah tuntas belajar sedangkan

    target pencapaiannya 85% dari total keseluruhan siswa kelas III tuntas

    belajar maka perlu dilakukan penelitian tindakan kelas menggunakan

    metode yang tepat guna untuk meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas

    III.

    Berdasarkan permasalahan tersebut, maka untuk menciptakan

    pembelajaran yang bermakna dengan hasil belajar yang lebih memuaskan

    adalah dengan mencoba menggunakan metode eksperimen dalam proses

    pembelajarannya. Metode eksperimen akan memberi kesempatan pada

    peserta didik agar dapat mengalami sendiri atau melakukan sendiri,

    mengikuti suatu proses, mengamati suatu objek, menganalisis,

    membuktikan dan menarik kesimpulan sendiri tentang suatu objek,

    keadaan atau proses sesuatu. Metode eksperimen juga dapat

    menumbuhkan cara berfikir rasional dan ilmiah. Penggunaan metode

    eksperimen yang memberikan pengalaman nyata bagi siswa dalam

    pembelajaran IPA merupakan salah satu solusi yang diharapkan dapat

    meningkatkan hasil pembelajaran IPA siswa.

  • 5

    Guru menerapkan metode positif untuk memotivasi siswa sehingga

    siswa bersemangat untuk belajar, mau bekerja giat, mengikuti peraturan

    (Majid, 2014: 306). Materi dalam pembelajaran IPA banyak sekali materi

    yang harus melakukan percobaan. Metode yang cocok dalam

    pembelajaran IPA hendaknya menggunakan metode yang dapat memberi

    keterampilan proses dan pengalaman langsung dalam kegiatan

    pembelajarannya dan tentunya tidak membosankan. Penggunaan metode

    eksperimen menjadikan siswa turut berperan dalam proses

    pembelajarannya. Penggunaan metode eksperimen dalam pembelajaran

    IPA materi benda dan sifatnya, dapat memberi keterampilan proses dan

    pengalaman langsung dalam proses pembelajarannya, selain itu siswa juga

    berperan langsung dalam proses pembelajaran. Keterampilan proses

    berperan langsung pada siswa untuk motivasi belajar. Motivasi siswa

    dalam mengikuti pelajaran akan membuat siswa paham akan materi yang

    mereka pelajari dan itu akan menjadikan hasil belajar siswa tersebut

    menjadi optimal.

    Metode mengajar merupakan salah satu komponen yang harus

    digunakan dalam kegiatan pembelajaran karena untuk mencapai tujuan

    pembelajaran maupun dalam upaya membentuk kemampuan siswa

    diperlukan adanya suatu metode atau cara mengajar yang efektif.

    Penggunaan metode harus dapat menciptakan terjadinya interaksi antara

    siswa dengan siswa maupun antara siswa dengan guru sehingga proses

    pembelajaran dapat dilakukan secara maksimal. Oleh karena itu, dalam

  • 6

    memilih dan menerapkan metode mengajar guru harus mengutamakan

    untuk melakukan tindakan bagaimana caranya membelajarkan siswa

    supaya efektif dan maksimal dalam melakukan proses pembelajaran

    sehingga memperoleh hasil belajar yang baik (Anitah, 2009: 5.4-5.5).

    Penggunaan metode pembelajaran yang kurang membuat siswa

    merasa bosan berakibat pada rendahnya motivasi belajar. Rendahnya

    motivasi belajar siswa di kelas dapat mengakibatkan menurunnya hasil

    belajar dan juga dapat mengarah pada masalah kedisplinan. Siswa yang

    tidak tertarik pada apa yang mereka pelajari atau tidak melihat adanya

    relevansi di dalamnya bisa menjadi gangguan di kelas karena adanya

    perbedaan nilai dan tujuan antara siswa dan guru (Majid 2014: 305).

    Siswa yang memiliki motivasi belajar rendah dalam proses pembelajaran

    tersebut kurang mendorong siswa untuk ikut serta berpartisipasi aktif

    dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini guru perlu menerapkan

    pembelajaran yang mampu meningkatkan motivasi belajar siswa sehingga

    diperoleh hasil belajar yang optimal.

    David (dalam Majid, 2014: 21), berpendapat cara untuk mencapai

    sesuatu untuk melaksanakan suatu strategi, digunakan seperangkat metode

    pengajaran tertentu. Dilihat dari pengertian tersebut maka metode

    pengajaran menjadi salah satu unsur dalam strategi pembelajaran. Metode

    digunakan oleh guru untuk menciptakan lingkungan belajar dan

    mengkhususkan aktivitas guru dan siswa terlibat selama proses

    pembelajaran berlangsung. Metode bisa digunakan melalui salah satu

  • 7

    strategi, tetapi tidak menutup kemungkinan beberapa metode berada

    dalam strategi yang bervariasi, artinya penetapan metode dapat

    divariasikan melalui strategi yang berbeda tergantung pada tujuan yang

    akan dicapai dan konten proses yang akan dilakukan dalam kegiatan

    pembelajaran.

    Guru hendaknya menerapkan metode yang dapat memotivasi siswa

    sehingga siswa bersemangat untuk belajar, dan aktif dalam mengikuti

    proses pembelajaran. Materi dalam pembelajaran IPA hendaknya

    menggunakan metode yang dapat memberi keterampilan proses dan

    pengalaman langsung dalam kegiatan pembelajarannya dan

    menyenangkan. Penggunaan metode eksperimen menjadikan siswa turut

    berperan langsung dalam proses pembelajaran. Penggunaan metode

    eksperimen dalam pembelajaran IPA materi benda dan sifatnya, dapat

    memberi keterampilan proses dan pengalaman langsung kepada siswa,

    selain itu siswa juga berperan langsung dalam proses pembelajaran.

    Keterampilan proses yang diberikan pada siswa untuk motivasi belajar.

    Motivasi siswa dalam mengikuti pelajaran akan membuat siswa paham

    akan materi yang di pelajari dan itu akan menjadikan hasil belajar siswa

    tersebut menjadi lebih baik.

    Penelitian Tindakan Kekas (PTK) merupakan ragam penelitian

    pembelajaran yang berkonteks kelas yang dilaksanakan oleh guru untuk

    memecahkan masalah-masalah pembelajaran yang dihadapi oleh guru,

    memperbaiki mutu dan hasil pembelajaran yang dihadapi oleh guru,

  • 8

    memperbaiki mutu dan hasil pembelajaran dan mencobakan hal-hal baru

    pembelajaran demi meningkatkan mutu dan hasil pembelajaran

    (Sumadayo, 2013: 20).

    Tujuan penelitian adalah untuk memperbaiki dan meningkatkan

    mutu pembelajaran yang dilakukan oleh guru di dalam kelas dengan

    menerapkan metode eksperimen sehingga hasil belajar siswa kelas III

    meningkat dengan baik terutama dalam pembelajaran IPA materi Bentuk

    dan Sifatnya.

    Berkenaan dengan hal ini, penulis memilih untuk mengadakan

    penelitian yang berjudul Peningkatan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas III

    Materi Benda dan Sifatnya Melalui Metode Eksperimen pada siswa kelas

    III MI Tarbiyatul Islamiyah Noborejo Kecamatan Argomulyo Kota

    Salatiga Tahun 2018.

    B. Rumusan Masalah

    Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

    1. Apakah metode eksperimen dapat meningkatan hasil belajar IPA materi

    Benda dan Sifatnya pada siswa kelas III MI Noborejo Tarbiyatul

    Islamiyah Kecamatan Argomulyo Kota Salatiga tahun 2018?

    2. Apakah metode eksperimen dapat membantu siswa untuk mencapai

    KKM kelas?

    C. Tujuan Penelitian

    Tujuan penelitian ini untuk:

  • 9

    1. Mengetahui peningkatan hasil belajar IPA materi Benda dan sifatnya

    melalui penerapan metode eksperimen pada siswa kelas III MI Noborejo

    Tarbiyatul Islamiyah Kecamatan Argomulyo Kota Salatiga tahun 2018.

    2. Mengetahui bahwa metode eksperimen dapat membantu siswa mencapai

    KKM kelas.

    D. Kegunaan Penelitian

    Hasil penelitian ini diharap dapat memberi manfaat bagi beberapa

    pihak, baik secara teoretis maupun praksis.

    1. Kegunaan secara Teoretis

    a. Hasil penelitian ini dapat menambah ilmu atau literatur tentang

    pembelajaran IPA, khususnya mengenai pengaruh metode

    eksperimen terhadap motivasi dan hasil di MI Tarbiyatul Islamiyah

    Noborejo Kecamatan Argomulyo Kota Salatiga; dan

    b. Penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan untuk kajian

    lanjutan bagi peneliti lain khususnya pada pendidikan di MI.

    2. Kegunaan secara Praksis

    a. Bagi Guru

    Bagi guru dapat menjadi salah satu metode alternatif dalam

    melakukan kegiatan pembelajaran, khususnya dalam

    pembelajaran IPA, sehingga metode eksperimen dapat diterapkan

    untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa.

  • 10

    b. Bagi Sekolah

    Bagi sekolah hasil penelitian diharapkan bermanfaat

    sebagai bahan dokumentasi historis dan bahan pertimbangan

    untuk mengambil langkah-langkah guna meningkatkan kualitas

    pembelajaran di sekolah.

    c. Bagi siswa

    Bagi siswa dapat memberi pengalaman belajar khususnya

    dalam pembelajaran IPA.

    d. Bagi peneliti

    Bagi peneliti hasil penelitian ini diharapkan dapat

    menjadi sarana untuk memperoleh pengalaman langsung dan

    penelitian ini juga dapat meningkatkan kemampuan peneliti

    dalam mengangkat suatu fenomena di sekolah.

    E. Hipotesis Tindakan dan Indikator Keberhasilan

    1. Hipotesis Tindakan

    Hipotesis penelitian ini adalah jika metode eksperimen

    diterapkan dengan baik diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar

    IPA materi benda dan sifatnya pada siswa kelas III MI Tarbiyatul

    Islamiyah Noborejo tahun 2018.

    2. Inditator Keberhasilan

    Penerapan metode eksperimen ini dikatakan efektif apabila

    indikator yang diharapkan tercapai. Indikator ketuntasan siswa adalah

    sebagai berikut:

  • 11

    a. Secara Individu

    Siswa dinyatakan berhasil apabila mencapai skor 70

    pada materi Benda dan Sifatnya;

    b. Secara Klasikal

    Siklus akan berhenti apabila 85% dari total siswa dalam

    satu kelas mendapat nilai 70.

    F. Metode Penelitian

    a. Rancangan Penelitian

    Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas

    (PTK). Hakikat dari Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan

    ragam penelitian pembelajaran yang berkonteks kelas yang

    dilaksanakan oleh guru untuk memecahkan masalah-masalah

    pembelajaran yang dihadapi oleh guru, memperbaiki mutu dan hasil

    pembelajaran yang dihadapi oleh guru, memperbaiki mutu dan hasil

    pembelajaran dan mencobakan hal-hal baru pembelajaran demi

    meningkatkan mutu dan hasil pembelajaran (Sumadayo, 2013: 20).

    Alasan peneliti menggunakan jenis penelitian PTK adalah untuk

    memperbaiki dan meningkatkan mutu pembelajaran yang dilakukan

    oleh guru di dalam kelas dengan menerapkan metode eksperimen

    sehingga hasil belajar siswa kelas III meningkat dengan baik terutama

    dalam pembelajaran IPA materi benda dan sifatnya. Tindakan Kelas

    yang digunakan adalah tindakan kolaboratif, dimana peneliti

    bertindak sebagai pengamat.

  • 12

    Sukmadinata (dalam Sumadoyo 2013: 27) berpendapat

    langkah-langkah penelitian tindakan menurut beberapa ahli, yaitu (a)

    Stephen Kemmis (1990): pengamatan, perencanaan, tindakan

    pertama, monitoring, refleksi, berpikir ulang, evaluasi; (b) Richard

    Sagor : perumusan masalah, pengumpulan data, analisis data,

    pelaporan hasil, dan perencanaan tindakan; (c) Ernest Stinger (1996):

    mengamati, berpikir, dan bertindakmengemukakan prosedur langkah-

    langkah pelaksanaan PTK terdiri atas empat tahap, yaitu (1)

    perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, (4) refleksi (kemmis

    dan McTaggart dalam Kasbolah, 1998: 14; Depdikbud, 1999: 6-8;

    Wiriatmaja, 2006: 666-67). Keempat tahapan tersebut merupakan

    proses siklus atau spiral.

    Tahapan tersebut dapat ditampilkan pada Gambar 1.1

    Gambar 1.1. Bagan Rancangan PTK

    Sumber: Sumini, 2010:12

    (diadaptasi dari Kasihani Kasbolah 1998)

  • 13

    b. Subjek Penelitian

    Subjek penelitian ini adalah siswa kelas III MI Tarbiyatul

    Islamiyah Noborejo Kecamatan Argomulyo Kota Salatiga pada mata

    pelajaran IPA materi bentuk dan sifatnnya. Jumlah siswa kelas III ada

    21 siswa meliputi 8 siswa laki-laki dan 13 siswa perempuan dengan

    kolabolator dengan guru kelas III yaitu bapak Abdul Wahab S. Ag.

    c. Langkah-Langkah Penelitian

    Sumini (2010: 6) dalam penyusunan desain dan prosedur

    penelitian tindakan kelas perlu dirumuskan terlebih dahulu

    rencana berdasarkan informasi yang lebih lengkap dan lebih kritis.

    Ada empat aspek pokok dalam penelitian tindakan kelas yang harus

    diperhatikan yaitu penyusunan program, tindakan, observasi dan

    refleksi, selanjutnya akan diuraikan sebagai berikut.

    1. Penyusunan Program atau Perencanaan

    Rencana penelitian tindakan merupakan tindakan yang

    tersusun dan dari segi definisi harus prospektif pada tindakan.

    Tindakan yang telah direncanakan harus disampaikan dengan

    dua pengertian. Pertama, tindakan harus mempertimbangkan

    resiko yang ada dalam perubahan sosial di kelas dan mengakui

    kendala nyata baik yang bersifat material maupun psikologis.

    Kedua, tindakan yang akan dilaksanakan hendaknya dipilih

    karena memungkinkan peserta didik untuk bertindak secara

    lebih efektif dalam berbagai keadaan, secara lebih bijaksana dan

  • 14

    hati-hati (Suwarsih Madya, 1994). Tahapan perencanaan ini

    terdiri dari:

    a. Guru dibantu peneliti membuat rencana pelaksanaan

    pembelajaran menggunakan metode eksperimen;

    b. Guru dibantu peneliti menyiapkan sarana pendukung yang

    diperlukan saat proses pembelajaran berlangsung.

    c. Guru dibantu peneliti merencanaan tindakan pembelajaran

    menggunakan metode eksperimen; dan

    d. Guru melakukan evaluasi terhadap pembelajaran

    menggunakan metode eksperimen.

    2. Tindakan atau Pelaksanaan

    Tindakan yang dimaksud adalah tindakan yang

    dilakukan secara sadar dan terkendali yang merupakan variasi

    praktek yang cermat dan bijaksana.Tindakandituntun oleh

    perencanaan dalam arti bahwa rencana hendaknya mengacu

    dalam hal dasar pemikirannya, namun demikian perlu diingat

    bahwa tindakan itu tidak secara mutlak dikendalikan oleh

    rencana. Pelaksanaan tindakan pada penelitian ini akan

    diterapkan metode eksperimen sebagai alat bantu dalam

    menyampaikan materi.

    3. Observasi atau Pengamatan

    Observasi berfungsi untuk mendokumentasikan

    pengaruh tindakan terkait.Peneliti tindakan kelas harus

  • 15

    mengamati proses tindakannya, pengaruh tindakannya baik

    yang disengaja atau tidak disengaja, keadaan dan kendala

    tindakan, cara keadaan dan kendala tersebut menghambat atau

    mempermudah tindakan yang telah direncanakan dan

    pengaruhnya serta persoalan-persoalan lain yang muncul.

    4. Refleksi

    Refleksi merupakan proses mengingat dan merenungkan

    kembali suatu tindakan persis seperti yang telah dicatat dalam

    observasi. Refleksi berusaha memahami proses, masalah,

    persoalan, dan kendala yang nyata dalam tindakan strategi.

    Refleksi mempertimbangkan ragam perspektif yang mungkin

    ada dalam situasi sosial, dan memahami persoalan dan

    keadaan tempat timbulnya persolan itu. Refleksi biasanya

    dibantu dengan diskusi di antara peserta. Melalui diskusi,

    refleksi kelompok sampai pada rekonstruksi makna dan

    memberikan dasar perbaikan rencana. Refleksi memiliki aspek

    evaluatif.

    d. Instrumen Penelitian

    Instrument penelitian adalah suatu alat yang digunakan untuk

    mengumpulkan data atau informasi yang diinginkan atau dibutuhkan

    oleh peneliti (Andriani, 2012: 5.6). Instrumen yang digunakan dalam

    penelitian ini adalah:

  • 16

    1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang menggunakan

    metode eksperimen;

    2. Lembar tes evaluasi mata pelajaran IPA materi bentuk dan sifatnya;

    3. Lembar observasi guru saat menerapkan metode eksperimen dalam

    proses pembelajaran; dan

    4. Lembar observasi siswa pada saat proses pembelajaran

    menggunakan metode eksperimen.

    e. Pengumpulan Data

    Data merupakan informasi-informasi tentang objek

    penelitian.Data digunakan untuk menjawab masalah-masalah yang

    telah dirumuskan dan menguji hipotesis. Pengumpulan data dalam

    penelitian ini menggunakan metode, wawancara, observasi, tes, dan

    dokumentasi, uraiannya adalah sebagai berikut:

    1. Wawancara

    Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data

    apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk

    menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan juga apabila

    ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam

    dan jumlah respondennya kecil atau sedikit.

    2. Observasi

    Observasi digunakan untuk menjaring informasi yang

    berhubungan dengan kegiatan siswa selama proses

    pembelajaran dengan menggunakan metode eksperimen.

  • 17

    3. Tes

    Tes digunakan untuk menilai kemampuan siswa yang

    mencakup pengetahuan dan keterampilan sebagai hasil kegiatan

    belajar mengajar (Djamarah, 2010: 218). Tes digunakan dalam

    penelitian ini mengetahui hasil belajar siswa kelas III MI

    Tarbiyatul Islamiyah Noborejo Kecamatan Argomulyo Kota

    Salatiga mata pelajaran IPA materi benda dan sifatnya pada saat

    pelaksanaan proses belajar mengajar dilakukan.

    4. Dokumentasi

    Dokumentasi dalam penelitian digunakan sebagai alat

    untuk mengidentifikasi kecenderungan dalam penelitian dan

    praktek mengenai suatu fenomena dalam suatu bidang

    (Andriani 2012: 5.4). Dokumentasi merupakan alat untuk

    mengumpulkan data. Dokumentasi digunakan untuk memotret

    kegiatan yang berlangsung saat pembelajaran dan untuk

    mendapatkan gambaran tentang MI Tarbiyatul Islamiyah

    Noborejo Kecamatan Argomulyo Kota Salatiga.

    f. Analisis Data

    Analisis data adalah analisis data yang telah terkumpul

    digunakan mengetahui seberapa besar keberhasilan tindakan dalam

    penelitian untuk perbaikan belajar siswa. Analisis data dilakukan

    dalam setiap siklusnya dengan cara memberikan soal tes formatif

    pada setiap akhir pelaksanaan pembelajaran. Data yang terkumpul

  • 18

    dianalisis persiklus untuk mengetahui peningkatan hasil belajar yang

    dicapai siswa.Hal ini untuk membuntuhkan hipotesis tindakan maka

    hasil penelitian dianalisis menggunakan statistik untuk menghitung

    ketuntasan klasikal. Apabila hasil belajar siswa secara klasikal

    mencapai 85% maka siklus dihentikan.

    X 100%

    (Dariyanto 2011:192)

    G. Sistematika Penulisan

    BAB I Pendahuluan. Bab ini memuat tentang latar belakang

    masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian,

    hipotesis tindakan dan indikator keberhasilan, rancangan penelitian,

    metode penelitian, rancangan penelitian, langkah-langkah penelitian,

    instrumen penelitian, pengumpulan data, analisis data dan sistematika

    penulisan .

    BAB II Landasan Teori. Bab ini memuat tentang kajian teori, kajian

    pustaka, pelaksanaan penelitian, dan KKM.

    BAB III Pelaksanaan Penelitian. Bab ini memuat tentang deskripsi

    pelaksanaan siklus I (perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi),

    deskripsi pelaksanaan siklus II dan deskripsi pelaksaan siklus III.

    BAB IV Hasil Penelitian dan Pembahasan. Bab ini memuat

    deskripsi per siklus (data hasil penelitian dan refleksi) dan pembahasan.

    BAB V Penutup. Bab ini memuat kesimpulan dan saran.

  • 19

    BAB II

    LANDASAN TEORI

    A. Kajian Teori

    1. Materi Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Benda dan Sifatnya

    Materi IPA Bentuk dan sifatnya merupakan salah satu yang

    terdapat di kelas III Madrasah Ibtidaiyah, uraian materi tentang

    bentuk dan sifatnya adalah sebagai berikut sifat benda berdasarkan

    wujudnya, perubahan sifat benda, dan kegunaan dari benda.

    a. Sifat Benda Berdasarkan Wujudnya

    Sifat batu adalah mempunyai bentuk dan ukuran yang

    tetap. Benda dengan sifat seperti ini disebut sebagai benda padat.

    Sedangkan air memiliki sifat bentuknya mengikuti wadahnya,

    ukurannya tetap. Bentuk air akan selalu mengikuti tempat di

    mana ia berada. Benda dengan sifat seperti ini disebut sebagai

    benda cair.

    Setiap detik kita melakukan kegiatan bernapas. Tanpa

    bernapas manusia akan mati. Bernapas adalah menghirup udara

    dan mengambil oksigen yang ada di udara dan menghembuskan

    karbon dioksida (CO2) ke udara. Udara, oksigen, dan karbon

    dioksida tidak bisa dilihat. Berbeda dengan batu dan air yang bisa

    dilihat. Benda dengan sifat seperti udara, oksigen, dan karbon

    dioksida disebut sebagai benda gas. Sifat gas adalah mempunyai

    bentuk dan ukuran yang berubah-ubah (Wiyanto, 2010: 52).

  • 20

    Wiyanto (2010: 53-55) sifat benda berdasarkan wujudnya

    dapat dikelompokan menjadi tiga kelompok yaitu:

    1) Sifat Benda Padat

    Di sekitar lingkungan rumah maupun sekolah terdapat

    benda padat. Benda padat ada yang berbentuk keras, seperti

    batu, dan ada yang lunak, seperti daging. Benda padat dapat

    dipegang sehingga dapat diketahui sifat keras dan lunaknya.

    Benda padat mempunyai sifat ukuran dan bentuknya tetap

    atau tidak berubah. Ambil contoh penggaris dan penghapus.

    Penggaris dan penghapus merupakan benda keras sehingga

    apabila diletakkan di mana saja, bentuk penggaris dan

    penghapus tidak akan berubah.

    Bentuk benda padat dapat diubah. Piring yang jatuh

    berserakan, kertas sobek, plastisin, dan kacang tanah yang

    dihancurkan. Berikut adalah Gambar 2.1.

    Gambar 2.1. Benda Padat

    (Sumer: Purwanti 2010: 59 )

  • 21

    2) Sifat Benda Cair

    Sifat benda cair seperti air adalah contoh dari benda

    cair. Sifat benda cair, menekan kesegala arah, benda cair itu

    menempati ruang atau mengikuti bentuk wadahnya. Benda

    cair mengalir dari tempat yang tinggi ketempat yang rendah.

    Bentuk permukaan benda cair tenang selalu datar, itu terlihat

    pada wadah yang tembus pandang. Benda cair juga meresap

    melalui celah-celah kecil. Contoh benda cair; air, dan

    minyak. Berikut adalah Gambar 2.2.

    Gambar 2.2 Sifat benda cair

    (Sumber: Purwanti 2010: 61)

    3) Sifat Benda Gas

    Sifat benda gas seperti udara adalah contoh gas. Udara

    tidak dapat dilihat, tetapi bisa dirasakan. Apabila kamu

    berdiri di tanah lapang, kamu akan merasakan udara menerpa

    tubuhmu. Angin adalah udara yang bergerak. Contoh lain

    tentang keberadaan udara adalah pada balon yang ditiup.

    Balon yang ditiup akan menggelembung dan menjadi besar.

    Hal ini karena balon tersebut berisi udara yang kita tiupkan.

  • 22

    Semakin kencang kita meniup, maka semakin besar balon

    tersebut menggelembung. Seluruh bagian balon tersebut

    penuh berisi udara. Hal ini karena sifat udara adalah

    memenuhi ruangan. Bentuk dan ukuran udara berubah sesuai

    dengan tempat yang diwadahinya dapat dilihat pada Gambar

    2.3 di bawah ini.

    Gambar 2.3. Benda gas yang menempati segala ruang

    (Sumber: Purwanti 2010: 63)

    b. Perubahan Sifat Benda

    Purwanti (2010: 64) berpendapat, perubahan sifat benda

    dibagi menjadi beberapa, yaitu perubahan sifat benda di tempat

    terbuka, perubahan benda karena dipanaskan, perubahan sifat

    benda karena dibakar, uraiannya sebagai berikut:

    1) Perubahan Sifat Benda di Tempat Terbuka

    Es batu dipakai untuk mendinginkan minuman. Es

    batu ada yang berbentuk balok, ukurannya ada yang besar

    dan kecil. Meski demikian es batu memiliki sifat khas. Sifat

    tersebut antara lain berupa benda padat. Bentuknya seperti

  • 23

    batu. Jika diletakkan ditempat terbuka es batu akan mencair.

    Selain es batu ada juga es krim, meskipun sama-sama es,

    namun bentuknya berbeda. Es batu memiliki bentuk padatan

    yang lebih keras dibanding es krim. Padatan es krim jauh

    lebih lunak menyerupai krim. Jika ditempatkan di tempat

    terbuka maka es krim akan mencair. Es krim ukuran sama

    lebih cepat mencair dibandingkan es batu. Perubahan sifat

    benda pada es batu dan ice cream disebut dengan mencair

    yaitu perubahan benda padat menjadi cair. Berikut adalah

    Gambar 2.4.

    Gambar 2.4 Es Batu

    (Sumber: Purwanti 2010: 65)

    Agar-agar juga mengalami perubahan apabila

    ditempatkan ditempat terbuka, agar-agar yang masih panas

    atau setelah dimasak apabila dibiarkan di tempat terbuka

    akan berubah. Perubahan yang dapat diamati yaitu

    perubahan bentuk. Agar-agar panas berupa cairan, setelah

    dingin berubah menjadi lebih keras. Bentuk agar-agar sesuai

  • 24

    dengan wadahnya. Perubahan pada agar-agar ini disebut

    dengan membeku yaitu perubahan benda cair menjadi padat.

    Perubahan yang terjadi pada agar-agar, juga terjadi

    pada kapur barus. Kapur barus dapat digunakan untuk

    mengusir kecoak. Kecoak dapat merusak pakaian. Di

    samping itu kapur barus dapat mengharumkan baju. Kapur

    barus ada berbagai bentuk dan warna. Ada yang berbentuk

    kotak, ada yang bulat, dan sebagainya. Mula-mula kapur

    barus berbentuk padat. Kapur barus jika dibiarkan saja, lama

    kelamaan akan habis. Perubahan yang tejadi pada kapur

    barus disebut dengan menyublim yaitu perubahan sifat benda

    padat menjadi gas.

    2) Perubahan Sifat Benda karena Dipanaskan

    Benda dapat mengalami perubahan apabila dipanaskan.

    Contohnya tampak pada air. Air adalah benda cair. Benda

    cair mudah berubah sesuai wadahnya. Bila dipanaskan terus-

    menerus maka akan menguap. Air akan menguap menjadi

    gas.

    3) Perubahan Sifat Benda karena Dibakar

    Perubahan sifat benda karena dibakar contohnya

    adalah daun yang sebelumnya berwarna hijau, kertas yang

    sebelumnya berwarna putih, kain yang mungkin berwarna

    kuning, setelah dibakar akan berubah berwarna hitam. Hal

  • 25

    ini membuktikan bahwa benda apabila dibakar akan

    mengalami perubahan sifat, yaitu perubahan pada warna,

    bentuk, dan ukurannya. Di samping berubah warna, daun,

    plastik, dan kertas yang tadi dibakar juga akan mengecil

    bentuknya. Bahkan untuk beberapa benda, apabila dibakar

    wujudnya seolah-olah menjadi hilang, seperti minyak tanah

    dan bensin. Sebenarnya minyak dan bensin tersebut tidak

    hilang, tetapi mengalami perubahan wujud, yaitu dari

    benda cair menjadi benda gas.

    c. Kegunaan Berbagai Benda

    Wiyanto (2010: 60) berpendapat manusia membutuhkan

    berbagai jenis benda untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

    Untuk itu kita perlu mempelajari berbagai benda dan

    kegunaannya. Pengetahuan akan fungsi benda akan membuat

    kita bisa menggunakan benda tersebut dengan benar. Berikut

    adalah penjelasan kegunaan dari bebagai benda:

    1) Kegunaan benda dari plastik

    Banyak sekali benda yang terbuat dari plastik. Benda

    yang terbuat dari plastik biasanya berharga lebih murah dan

    tahan lama. Contohnya adalah piring plastik, dibandingkan

    dengan piring dari kaca, piring plastik berharga lebih

    murah dan lebih awet. Benda yang terbuat dari plastik

    Apabila terjatuh atau terbanting, piring plastik tidak mudah

  • 26

    pecah. Benda terbuat dari plastik lain yang sering

    dibutuhkan manusia adalah ember, gayung, sikat gigi, dan

    lain sebagainya. Benda plastik yang sering digunakan di

    dapur antara lain kursi kecil, tempat bumbu, tempat gelas,

    piring, sendok, dan tutup saji. Tutup saji digunakan untuk

    menutupi makanan agar terhindar dari lalat atau dimakan

    kucing.

    2) Kegunaan benda dari kayu

    Sejak zaman dahulu, kayu banyak digunakan untuk

    membuat berbagai benda. Kayu mudah diperoleh karena

    diambil langsung dari alam. Kayu hanya melalui proses

    sederhana sebelum dapat digunakan. Bukan di ruang kelas,

    di rumahmu juga banyak perabotan yang terbuat dari kayu,

    seperti lemari pakaian, tempat tidur, meja, dan kursi.

    3) Keguanaan benda dari kaca

    Kaca memiliki kelebihan dibandingkan plastik atau

    kayu. Kaca memiliki sifat tembus pandang sehingga benda

    yang di belakangnya dapat dilihat. Kaca juga mudah

    dibersihkan karena permukaannya licin. Akan tetapi kaca

    juga memiliki kelemahan, yaitu mudah pecah. Hampir

    semua rumah memiliki bagian yang terbuat dari kaca.

    Jendela yang terbuat dari kaca membuat ruangan menjadi

    terang di siang hari.

  • 27

    4) Kegunaan benda dari kertas

    Kertas semakin lama menjadi semakin penting bagi

    kehidupan manusia. Hampir dalam setiap aktivitas kita

    selalu bersinggungan dengan kertas. Lihat saja benda yang

    ada di atas meja sekolah atau di dalam tas sekolahmu. Pasti

    ada benda yang terbuat dari kertas, seperti buku, dan

    majalah. Benda yang terbuat dari kertas juga bisa

    digunakan sebagai tempat makanan atau barang contoh

    kertas minyak untuk membungkus nasi, dan kardus yang

    sering digunakan untuk menyimpan barang.

    2. Belajar

    a. Pengertian Belajar

    Gagne (dalam Susanto, 2013: 1) berpendapat belajar dapat

    didefinisikan sebagai suatu proses di mana seseorang berubah

    perilakunya sebagai akibat dari pengalaman. Belajar dimaknai

    sebagai suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam

    pengetahuan, keterampilan dan tingkah laku. Belajar sebagai

    suatu proses upaya memperoleh pengetahuan atau keterampilan

    melalui instruksi.

    Gegne dalam teorinya yang disebut The domains of

    learning, menyimpulkan bahwa segala sesuatu yang dipelajari

    oleh manusia dibagi menjadi lima kategori yaitu, keterampilan

  • 28

    motorik, informasi verbal, kemampuan intelektual, uraiannya

    adalah sebagai berikut:

    1) Keterampilan Motorik

    Keterampilan yang memperlihatkan dari berbagai

    gerakan badan. Misal menulis, menendang bola, bertepuk

    tangan, berlari dan loncat;

    2) Informasi Verbal

    Informasi verbal sangat dipengaruhi oleh kemampuan

    otak atau inteligensi seseorang. Misalnya, sesorang dapat

    memahami sesuatu dengan berbicara, menulis, menggambar,

    berupa simbol yang tampak;

    3) Kemampuan Intelektual

    Selain menggunakan simbol verbal, manusia juga

    mampu melakukan interaksi dengan dunia luar melalui

    kemampuan intelektualnya. Misalnya mampu membedakan

    warna bentuk dan ukuran;

    4) Strategi Kognitif

    Gagne (dalam Susanto, 2013: 2) menyebut sebagai

    organisasi keterampilan (Internal Organized skill), yang

    sangat diperlukan untuk belajar mengingat dan berpikir.

    Kemampuan kognitif ini lebih ditunjukan ke dunia luar, dan

    tidak dapat dipelajari dengan sekali saja memerlukan

    perbaikan dan latihan terus-menerus yang serius; dan

  • 29

    5) Sikap (attitude)

    Sikap merupakan faktor penting dalam belajar, karena

    tanpa kemampuan ini belajar tidak akan berhasil dengan

    baik. Sikap seseorang dalam belajar akan sangat

    mempengaruhi hasil yang diperoleh dari belajar tersebut.

    Sikap tergantung pada pendirian, kepribadian, dan

    keyakinannya, tidak dapat dipelajari atau dipaksakan, tetapi

    perlu kesadaran diri yang penuh.

    b. Prinsip Belajar

    Suprijono (2011: 4) menyebutkan prinsip belajar adalah

    perubahan tingkah laku, belajar merupakan proses, dan belajar

    merupakan bentuk pengalaman:

    1) Prinsip belajar adalah perubahan perilaku. Perubahan perilaku

    sebagai hasil belajar memiliki ciri-ciri:

    a) Sebagai hasil tindakan rasional instrumental yaitu

    perubahan yang disadari;

    b) Kontinu atau berkesinambungan dengan perilaku yang

    lainnya;

    c) Fungsional atau bermanfaat sebagai bekal hidup;

    d) Positif;

    e) Aktif atau sebagai usaha yang direncanakan dan

    dilakukan;

    f) Permanen atau tetap;

  • 30

    g) Bertujuan dan terarah; dan

    h) Mencakup seluruh potensi kemanusiaan.

    2) Belajar merupakan proses. Belajar terjadi karena didorong

    kebutuhan dan tujuan yang ingin dicapai. Belajar adalah proses

    sistemik yang dinamis, konstruktif, dan organik. Belajar

    merupakan kesatuan fungsional dari berbagai komponen

    belajar; dan

    3) Belajar merupakan bentuk pengalaman. Pengalaman pada

    dasarnya adalah hasil dari interaksi antara siswa dengan

    lingkungannya.

    c. Tujuan Belajar

    Susanto (2013:5) berpendapat tujuan belajar sebenarnya

    sangat banyak dan bervariasi. Tujuan belajar yang eksplisit

    diusahakan untuk dicapai dengan tindakan instruksional, lazim

    dinamakan instructional effects, yang biasa berbentuk

    pengetahuan dan keterampilan. Tujuan belajar sebagai hasil yang

    menyertai tujuan belajar intruksional lazim disebut nurturant

    effects. Bentuknya berupa, kemampuan berpikir kritis dan kreatif,

    sikap terbuka dan demokratis, menerima orang lain, dan

    sebagainya. Tujuan ini merupakan konsekuensi logis dari siswa

    menghidupi (live in) suatu sistem lingkungan belajar tertentu.

  • 31

    3. Hasil Belajar

    a. Pengertian Hasil Belajar

    Suprijono (2011: 5) berpendapat hasil belajar merupakan

    pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-

    sikap, apresiasi, dan keterampilan. Merujuk pemikiran Gagne,

    hasil belajar berupa:

    1) Informasi verbal yaitu kapabilitas mengungkapkan

    pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tertulis;

    2) Kemampuan intelektual yaitu kemampuan mempresentasikan

    konsep dan lambang. Kemampuan intelektual merupakan

    kemampuan melakukan aktivitas kognitif bersifat khas;

    3) Strategi kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan

    mengarahkan aktivitas kognitifnya sendiri. Kemampuan ini

    meliputi penggunaan konsep dan kaidah dalam memecahkan

    masalah;

    4) Keterampilan motorik yaitu kemampuan melakukan

    serangkaian gerak jasmani; dan

    5) Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak objek

    berdasarkan penilaian terhadap objek.

    Bloom (dalam Suprijono 2011: 6) hasil belajar mencakup

    kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik. Sementara

    menurut Lindgren (dalam Suprijono 2011: 6) hasil pembelajaran

    meliputi kecakapan, informasi, pengertian dan sikap.

  • 32

    Dapat disimpulkan bahwa, hasil belajar adalah perubahan

    perilaku secara keseleruhan bukan hanya satu aspek potensi

    kemanusian saja.

    b. Macam-macam Hasil Belajar

    Hasil belajar (Susanto, 2013: 6-11) meliputi pemahaman

    konsep (aspek kognitif), keterampilan proses (aspek

    psikomotorik), dan siakp siswa (aspek afektif).

    1) Pemahaman Konsep

    Pemahaman menurut Bloom (dalam Susanto 2013: 6)

    diartikan sebagai kemampuan untuk menyerap arti dari

    materi atau bahan yang dipelajari. Pemahaman menurut

    Bloom ini adalah seberapa besar siswa mampu menerima,

    menyerap, dan memahami pelajaran yang diberikan oleh

    guru kepada siswa, atau sejauh mana siswa dapat

    memahami serta mengerti apa yang siswa baca, yang

    dilihat, yang dirasakan berupa hasil penelitian atau

    observasi langsung yang siswa lakukan.

    Menurut Carin dan Sand (dalam Susanto, 2013: 6)

    pemahaman dapat dikategorikan ke dalam beberapa aspek,

    dengan kriteri sebagai berikut:

    a) Pemahaman merupakan kemampuan untuk menerangkan

    dan menginterprestasikan sesuatu, artinya seseorang

    yang telah memahami sesuatu akan mampu

  • 33

    menerangkan atau menjelaskan kembali apa yang telah

    diterima;

    b) Pemahaman bukan sekedar mengetahui, yang biasanya

    hanya sebatas mengingat kembali pengalaman dan

    memproduksi apa yang telah dipelajari; dan

    c) Pemahaman lebih dari sekadar pengetahuan, karena

    pemahaman melibatkan proses metal dan dinamis,

    dengan memahami siswa akan mampu memberi uraian

    dan penjelasan yang lebih kreatif tidak hanya memberi

    gambaran dalam suatu contoh saja namun mampu

    memberi gambaran yang lebih luas.

    2) Keterampilan Proses

    Usman dan Setyawati (1993: 77) mengemukakan

    bahwa keterampilan proses merupakan keterampilan yang

    mengarah kepada pembangunan kemampuan mental, fisik,

    dan sosial yang mendasar sebagai penggerak kemampuan

    yang lebih tinggi dalam diri siswa. Keterampilan berarti

    kemampuan menggunakan pikiran, nalar, dan perbuatan

    secara efektif dan efesien untuk mecapai suatu hasil

    tertentu.

    Indrawati (1993: 3) merumuskan bahwa keterampilan

    proses merupakan keseluruhan keterampilan ilmiah yang

    terarahbaik kognitif atau psikomotik yang dapat digunakan

  • 34

    untuk menemukan suatu konsep untuk mengembangkan

    konsep yang sudah ada sebelumnya.

    3) Sikap

    Lange dalam (Azwar 1998: 3) berpendapat sikap

    tidak hanya merupakan aspek mental semata, melainkan

    mencakup pula aspek respons fisik. Sikap ini harus ada

    kekompakan antara mental dan fisik. Jika mental saja yang

    muncul, maka belum tampak secara jelas sikap seorang

    yang ditunjukan. Azwar mengungkapkan tentang struktur

    sikap terdiri atas tiga komponen yang saling menunjang,

    yaitu:

    a) Komponen kognitif, merupakan representatif apa yang

    dipercayai oleh individu;

    b) Komponen afektif, perasaan yang menyangkut

    emosional; dan

    c) Komponen konatif, merupakan aspek kecenderungan

    berperilaku tertentu sesuai dengan sikap yang dimiliki

    seseorang.

    Sardiman (1996: 275) berpendapat sikap merupakan

    kecenderungan untuk melakukan sesuatu dengan cara,

    metode, pola, dan teknik tertentu terhadap dunia sekitarnya

    baik berupa individu-individu maupun obejek-objek

  • 35

    tertentu. Sikap merujuk pada perbuatan, perilaku, atau

    tindakan seseorang.

    c. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

    Teori Gestalt (dalam Susanto 2013: 12), belajar merupakan

    suatu proses perkembangan, artinya bahwa secara kodrati jiwa

    raga anak mengalami perkembangan. Perkembangan sendiri

    memerlukan sesuata baik yang berasal dari diri sendiri maupun

    pengaruh dari lingkungannya. Berdasarkan teori ini hasil belajar

    siswa dipengaruhi oleh dua hal, siswa itu sendiri dan lingkungan.

    Pendapat yang senada dikemukakan oleh Walisman (2007:

    158), hasil belajar yang dicapai oleh siswa merupakan hasil

    interaksi antara berbagai faktor yang memengaruhi, baik faktor

    internal maupun eksternal. Faktor internal dan eksternal sebagai

    berikut:

    1) Faktor Internal

    Faktor internal merupakan faktor yang bersumber dari

    dalam diri siswa, yang memengaruhi kemampuan belajarnya.

    Faktor internal ini meliputi: kecerdasan, minat dan perhatian,

    motivasi belajar, ketekunan, sikap, kebiasaan belajar, serta

    kondisi fisik, dan kesehatan; dan

    2) Faktor eksternal;

    Faktor yang berasal dari luar siswa yang

    mempengaruhi hasil belajar siswa yaitu keluarga, sekolah,

  • 36

    dan masyarakat. Keadaan keluarga berpengaruh terhadap

    hasil belajar siswa.

    Wasliman (dalam Susanto, 2013:12) bahwa sekolah

    merupakan salah satu faktor yang ikut menentukan hasil belajar

    siswa. Semakin tinggi kemampuan belajar siswa dan kualitas

    pengajaran di sekolah, maka semakin tinggi pula hasil belajar

    siswa.

    4. Hakikat IPA

    a. Pengertian IPA

    IPA merupakan ilmu yang pada awalnya diperoleh dan

    dikembangkan berdasarkan percobaan induktif namun pada

    perkembangan selanjutnya IPA juga diperoleh dan

    dikembangkan melalui teori deduktif. Ada dua hal berkaitan yang

    tidak terpisahkan dengan IPA, yaitu IPA sebagai produk,

    pengetahuan yang berupa pengetahuan faktual, konseptual dan

    metakognitif, dan IPA sebagai proses, yaitu kerja ilmiah.

    Definisi IPA menurut Subiyanto (dalam Wisudawati, 2013:

    23) yaitu:

    1) Suatu cabang pengetahuan yang menyangkut fakta-fakta

    yang tersusun secara sistematis dan menunjukan berlakunya

    hukum-hukum umum;

    2) Pengetahuan yang didapat dengan jalan studi dan praktik; dan

  • 37

    3) Suatu cabang ilmu yang bersangkut paut dengan observasi

    dan klasifikasi fakta-fakta, terutama dengan disusunnya

    hukum umum dengan induksi dan hipotesis.

    b. Tujuan pembelajaran IPA

    Tujuan pembelajaran sains di sekolah dasar menurut Badan

    Standar Nasional Pendidikan (Susanto, 2013: 171-172),

    dimaksudkan untuk:

    1) Siswa memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan

    Yang Maha Esa berdasarkan keberadaan, keindahan, dan

    keteraturan alam ciptaannya;

    2) Siswa mengembangkan pengetahuan dan pemahaman

    konsep-konsep IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan

    dalam kehidupan sehari-hari;

    3) Siswa mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif, dan

    kesadaran tentang adanya hubungan yang saling

    memengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi, dan

    masyarakat;

    4) Siswa mengembangkan keterampilan proses untuk

    menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah, dan

    membuat keputusan;

    5) Siswa meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam

    memelihara, menjaga, dan melestarikan lingkungan alam;

  • 38

    6) Siswa meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan

    segala keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan; dan

    7) Siswa memperoleh bekal pengetahuan, konsep, dan

    keterampilan IPA sebagai dasar untuk melanjutkan

    pendidikan ke SMP.

    5. Metode Eksperimen

    a. Pengertian Metode Eksperimen

    Metode eksperimen adalah metode pembelajaran yang

    memungkin siswa melakukan percobaan untuk membuktikan

    siswa melakukan percobaan untuk membuktikan sendiri suatu

    pertanyaan atau hipotesis yang dipelajari (Sutikno, 2014: 51).

    Asmani (2014: 34) berpendapat, metode eksperimen

    adalah metode pemberian kesempatan kepada siswa, baik

    perorangan atau kelompok, untuk dilatih melakukan suatu

    proses atau percobaan. Penggunaan metode eksperimen ini,

    siswa diharapkan dapat sepenuhnya terlibat dalam perencanaan

    eksperimen, melakukan eksperimen, menemukan fakta,

    mengumpulkan data, mengendalikan variabel.

    Sapriati (2011: 3.13) berpendapat metode eksperimen

    adalah metode yang banyak digunakan dalam pelajaran IPA.

    Eksperimen yang dilakukan tidak selalu harus dilaksanakan di

    dalam laboratorium dapat dilakukan di alam sekitar maupun

  • 39

    diruang kelas. Kegiatan eksperimen ini haruslah didahului

    dengan adanya masalah yang berupa pertanyaan.

    b. Tujuan eksperimen

    Wisudawati (2014: 157) berpendapat metode eksperimen

    bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berpikir siswa

    dalam menemukan dan memahami suatu konsep atau teori IPA

    yang sedang dipelajari. Kemampuan berpikir siswa dimulai

    dengan adanya pertanyaan, apa, mengapa, dan bagaimana pada

    suatu fenomena alam yang terjadi. Pertanyaan tersebut akan

    mendorong siswa untuk mencari jawaban.

    c. Langkah-langkah dalam Metode Eksperimen

    Wisudawati (2014: 156) langkah-langkah pelaksanaan

    metode eksperimen dalam pembelajaran IPA dapat

    dilaksanakan di laboratorium atau kelas dan di alam sekitar,

    dengan langkah-langkah sebagai berikut:

    1) Menentukan tujuan pembelajaran IPA yang akan dicapai;

    2) Menentukan tempat untuk melakukan eksperimen;

    3) Tempat yang akan digunakan harus cukup untuk semua

    siswa;

    4) Menyediakan alat dan bahan yang digunakan untuk

    eksperimen;

    5) Bahan dan alat yang digunakan harus cukup untuk siswa; dan

    6) Menetukan waktu eksperimen.

  • 40

    d. Kelebihan Metode Eksperimen

    Asmani (2014: 34) kelebihan dari metode eksperimen

    adalah sebagai berikut:

    1) siswa dapat aktif dalam pembelajaran dan lebih percaya atas

    kebenaran atau kesimpulan berdasarkan percobaannya sendiri

    dari pada hanya menerima dari guru;

    2) siswa dapat mengembangkan sikap untuk mengadakan studi

    eksplorasi tentang ilmu atau teknologi; dan

    3) akan terbina manusia dengan terobosan-terobosan baru

    dengan penemuan sebagai hasil percobaannya.

    e. Kekurangan Metode Eksperimen

    Hamid (2014:213) berpendapat kekurangan dalam metode

    ekperimen yaitu:

    1) Tidak cukupnya alat-alat mengakibatkan tidak setiap siswa

    mendapat kesempatan untuk mengadakan eksperimen;

    2) Jika eksperimen memerlukan jangka waktu yang lama, ia

    harus menanti untuk dapat melanjutkan pelajaran; dan

    3) Kurangnya persiapan dan pengalaman siswa akan

    menimbulkan kesulitan di dalam melakukan eksperimen.

    6. Kajian Pustaka

    Penelitian yang dilakukan oleh Hanung, 2012. Judul penelitian

    tentang Peningkatan Hasil Belajar IPA Melalui Penerapan Metode

    Eksperimen Pada Siswa Kelas IV SD N III Tawang Rejo Jatipurno

  • 41

    Wonogiri Tahun 2011/2012. Penelitian ini bertujuan untuk

    mendiskripsikan peningkatan hasil belajar IPA menggunakan

    metode eksperimen. Jenis penelitian iniadalah PTK (Penelitian

    Tindakan Kelas). Lokasi penilitian ini di SD Negeri III Tawangrejo

    Kecamatan Jatipurno Kabupaten Wonogiri. Subyek penerima

    tindakan adalah siswa kelas IV SD N III Tawangrejo yang

    berjumlah 20 siswa, terdiri dari 8 siswa laki-laki dan 12 siswa

    perempuan, dan subjek pelaksanaan tindakan adalah peneliti.

    Metode pengumpulan data adalah tes, dokumentasi, observasi

    dan wawancara. Teknik analisis data dilakukan secara analisis

    interaktif dengan langkahlangkah: reduksi data, penyajian data dan

    penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini adalah adanya

    peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPA pada

    materi gaya pada siklus I dan energi pada siklus II. Hal ini dapat

    dilihat dari peningkatan persentase hasil belajar siswa dari prasiklus

    sampai siklus dua. Sebelum dilaksanakan tindakan terdapat 35%

    siswa yang mencapai KKM dan pada akhir siklus II mencapai 85%

    siswa yang mencapai KKM. Dengan demikian terjadi peningkatan

    hasil belajar IPA dengan penerapan metode eksperimen dari siklus I

    ke siklus II. Kesimpulan penelitian ini adalah dengan menerapakan

    metode eksperimen dapat meningkatkan hasil belajar IPA siswa

    kelas IV SD Negeri III Tawangrejo Kecamatan Jatipurno

    Kabupaten Wonogiri Tahun Ajaran 2011/2012.

  • 42

    Penelitian yang dilakukan oleh Masrianih, 2014. Judul

    penelitian tentang Peningkatan Hasil Belajar Siswa Melalui

    Metode Eksperimen Pada Materi Perubahan Wujud Benda Dalam

    Mata Pelajaran IPA Kelas V SDN Lenju Penelitian ini adalah

    penelitian tindakan kelas. Penelitian terdiri beberapa aspek tindakan

    dan pengamatan utama yaitu peningkatan hasil belajar siswa

    dengan menggunakan metode eksperimen. Bagaimana penggunaan

    metode eksperimen dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang

    Konsep Perubahan Wujud Benda di kelas V SDN Lenju. Penelitian

    dilaksanakan di SDN Lenju, melibatkan 41 orang siswa terdiri atas

    21 orang laki-laki dan 20 orang perempuan yang terdaftar pada

    tahun ajaran 2013/2014. Penelitian ini dilaksanakan dua kali

    pertemuan dan setiap siklus terdiri empat tahap yaitu perencanaan,

    pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan

    bahwa pada tindakan siklus I diperoleh siswa yang tuntas sebanyak

    15 orang dengan ketuntasan belajar 36,5%, daya serap klasikal

    mencapai 40% dan hasil observas guru mencapai 70%, aktivitas

    siswa 60%. Pada tindakan siklus II diperoleh siswa yang tuntas

    sebanyak 26 orang dengan ketuntasan belajar 63,4%, daya serap

    klasikal 60% dan observasi aktivitas guru mencapai 87,5%,

    observasi siswa mencapai 73,3%. Pada siklus III diperoleh siswa

    yang tuntas sebanyak 36 orang dengan ketuntasan belajar 87,8%

    daya serap klasikal 91,3% dan observasi aktivitas guru 95%,

  • 43

    sedangkan observasi siswa mencapai 91,1%. Hal ini berarti

    pembelajaran pada siklus III telah memenuhi indikator keberhasilan

    dengan nilai ketuntasan belajar klasikal minimal 85%. Berdasarkan

    nilai rata-rata daya serap klasikal dan ketuntasan belajar klasikal

    pada kegiatan pembelajaran siklus III, maka dapat disimpulkan

    bahwa perbaikan pembelajaran dengan menggunakan metode

    eksperimen dapat meningkatkan hasil pemahaman siswa kelas V

    pada materi konsep perubahan wujud benda di SDN Lenju.

    7. Pelaksanaan Penelitian

    Empat aspek pokok dalam penelitian tindakan kelas

    yang harus diperhatikan meliputi penyusunan program, tindakan,

    observasi dan refleksi, selanjutnya akan diuraikan sebagai berikut:

    a. Penyusunan program

    Rencana penelitian tindakan merupakan tindakan yang

    tersusun dan dari segi definisi harus prospektif pada

    tindakan. Rencana itu harus memandang ke depan. Rencana

    itu harus mengakui bahwa semua tindakan sosial dalam

    batas tertentu tidak dapat diramalkan, dan oleh sebab itu agak

    mengandung resiko. Rencana harus bersifat fleksibel untuk

    dapat diadabtasikan dengan pengaruh yang tak dapat

    terduga dan kendala yang sebelumnya tidak terlihat.

    Tindakan yang telah direncanakan harus disampaikan

    dengan dua pengertian.

  • 44

    Tindakan harus mempertimbangkan risiko yang ada

    dalam perubahan sosial di kelas dan mengakui kendala nyata

    baik yang bersifat material maupun psikologis. Kedua,

    tindakan yang akan dilaksanakan hendaknya dipilih karena

    memungkinkan peserta didik untuk bertindak secara lebih

    efektif dalam berbagai keadaan, secara lebih bijaksana dan hati-

    hati (Suwarsih Madya, 1994). Kendala itu hendaknya:

    1) Membantu peneliti (guru) untuk mengatasi kendala yang ada

    dan memberikan kewenangan untuk bertindak lebih tepat

    guna dalam situasi terkait dan lebih berhasil guna sebagai

    pendidik, pelaksana dan pimpinan di kelas; dan

    2) Membantu para guru sebagai peneliti menyadari potensi baru

    mereka untuk melakukan tindakan guna meningkatkan

    kualitas kerja mereka. Bagian dari proses perencanaan,

    praktisi penelitian harus berkolaborasi dalam diskusi untuk

    mengembangkan bahasa yang dipakainya dalam menganalisis

    dan meningkatkan pemahaman dan tindakan mereka dalam

    situasi terkait.

    b. Tindakan atau Pelaksanaan

    Tindakan yang dimaksud adalah tindakan yang

    dilakukan secara sadar dan terkendali, yang merupakan variasi

    praktek yang cermat dan bijaksana. Berhubungan hal itu,

    praktek diakui sebagai gagasan dalam tindakan, dan tindakan

  • 45

    yang dilakukan tersebut digunakan sebagai pijakan bagi

    pengembangan tindakan-tindakan berikutnya, yaitu tindakan

    yang disertai niat untuk memperbaiki keadaan.

    Tindakan dituntun oleh perencanaan dalam arti bahwa

    rencana hendaknya diacu dalam hal dasar pemikirannya,

    namun demikian perlu diingat bahwa tindakan itu tidak secara

    mutlak dikendalikan oleh rencana. Tindakan itu secara

    mendasar mengandung risiko karena terjadi dalam situasi nyata

    dan berhadapan dengan kendala-kendala di kelas maupun

    lingkungannya, yang secara tiba-tiba dan tidak terduga. Oleh

    karena itu, rencana tindakan harus selalu bersifat tentatif dan

    sementara, fleksibel dan siap diubah sesuai dengan keadaan

    yang ada.

    Salah satu perbedaan antara penelitian tindakan kelas

    dan tindakan biasa adalah bahwa penelitian tindakan kelas

    terencana dan diamati. Pelakunya bertujuan mengumpulkan

    bukti tentang tindakan para peneliti agar dapat sepenuhnya

    menilai. Untuk mempersiapkan evaluasi, sebelum bertindak

    memikirkan jenis bukti yang akan diperlukan untuk

    mengevaluasi tindakannya secara kritis.

    c. Observasi atau Pengamatan

    Observasi berfungsi untuk mendokumentasikan

    pengaruh tindakan terkait. Observasi berorientasi ke masa

  • 46

    yang akan datang, memberikan dasar bagi refleksi sekarang,

    terlebih lagi ketika putaran sekarang ini berjalan. Observasi

    yang cermat diperlukan karena tindakan selalu akan dibatasi

    oleh kendala realitas, dan semua kendala itu belum pernah

    dapat dlihat dengan jelas di masa lalu. Observasi harus

    direncanakan, sehingga akan ada dokumen untuk refleksi

    berikutnya. Rencana observasi harus fleksibel dan terbuka

    untuk mencatat hal-hal yang tak terduga. Peneliti tindakan kelas

    harus selalu memiliki jurnal untuk mencatat hal-hal yang luput

    dari observasi dalam kategori observasi yang direncanakan

    (Depdiknas, 2005).

    Peneliti tindakan kelas harus mengamati proses tindakan

    yang dilakukan, pengaruh tindakannya (yang disengaja atau

    tidak disengaja), keadaan dan kendala tindakan, cara keadaan

    dan kendala tersebut menghambat atau mempermudah

    tindakan yang telah direncanakan dan pengaruhnya, serta

    persoalan-persoalan lain yang muncul. Observasi harus selalu

    dituntun oleh niat yang sehat bagi refleksi diri yang kritis.

    Observasi memberikan tanda tentang pencapaian refleksi.

    Menggunakan observasi dapat memberikan andil pada

    perbaikan praktek melalui pemahaman yang lebih baik dan

    tindakan yang secara lebih kritis dipikirkan, Akan tetapi bahan

    pokok yang diobservasikan akan selalu berupa tindakan

  • 47

    pengaruhnya dan konteks situasi tempat tindakan itu harus

    dilakukan.

    d. Refleksi

    Refleksi kegiatan mengidentifikasi kelemahan-kelemahan

    yang terjadi selama siklus berlangsung selanjtnya setelah

    mengetahui kelemahan-kelemahannya merancang program

    untuk perbaikan. Refleksi berusaha memahami proses, masalah,

    persoalan, dan kendala yang nyata dalam tindakan strategi.

    Refleksi mempertimbangkan ragam perspektif yang mungkin

    ada dalam situasi sosial, dan memahami persoalan dan

    keadaan tempat timbulnya persolan itu. Refleksi biasanya

    dibantu dengan diskusi di antara peserta. Melalui diskusi,

    refleksi kelompok sampai pada rekonstruksi makna dan

    memberikan dasar perbaikan rencana. Refleksi memiliki aspek

    evaluatif. Dengan refleksi peneliti diminta untuk menimbang-

    nimbang pengalamannya, untuk menilai apakah persoalan yang

    timbul memang diinginkan, dan memberikan saran-saran

    tentang cara-cara untuk meneruskan pekerjaan. Refleksi

    memungkinkan dilakukan peninjauan, pengembangan

    gambaran yang lebih penting lagi adalah tentang apa yang

    sekarang mungkin dilakukan untuk kelompok dan untuk tiap-

    tiap anggota bertanggung jawab dalam rangka mencapai

    tujuan.

  • 48

    Penelitian tindakan kelas merupakan proses dinamis yang

    di dalamnya terdapat empat momen yang harus dipahami bukan

    sebagai langkah statis yang komplit, tetapi sebagai momen

    dalam spiral perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi.

    Peningkatan pemahaman pertama-tama akan muncul sebagai

    dasar pemikiran bagi prakteknya. Dasar pemikiran itu

    dikembangkan dengan diuji oleh kelompok dalam praktek,

    setiap proposisi dalam dasar pemikiran dapat dicocokkan

    dengan praktek dan dengan bagian lain dari dasar pemikiran itu.

    Waktu jangka panjang, proposisi ini akan berkembang menjadi

    perspektif kritis tentang praktek dan tentang bidang yang

    terkait itu sendirin seperti pendidikan, dan menjadi teori kritis

    yang mencakup pertimbangan tentang masalah-masalah seperti

    bagaimana siswa oleh sistem penyampaian pesan sekolah

    terkait (kurikulum, kegiatan belajar mengajar dan pelaksanaan

    penilaian).

    8. Kiteria Ketuntasan Minimum (KKM)

    Kriteria Ketuntasan Minimal yang disebut KKM adalah

    kriteria ketuntasan belajar yang ditentukan oleh satuan pendidikan

    berdasarkan hasil musyawarah guru mata pelajaran yang memiliki

    karakteristik hampir sama dengan mengacu pada standar kompetensi

    lulusan, mempertimbangkan karakteristik peserta didik, karakteristik

    mata pelajaran, dan kondisi satuan pendidikan (Sudjarat, 2008: 3)

  • 49

    a. Macam-macam Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)

    1) Kriteria Ketuntasan Minimal Individu adalah kriteria

    ketuntasan minimal per mata pelajaran yang dibuat oleh guru

    atau kelompok guru pada satuan pendidikan dengan acuan

    tertentu dan tiap mata pelajaran bisa jadi memiliki KKM yang

    berbeda. Kriteria ketuntasan minimal individu ini merupakan

    KKM yang harus dicapai setiap oleh siswa. Kriteria ketuntasan

    minimal dari mata pelajaran IPA adalah 70.

    2) Kriteria Ketuntasan Minimal Nasional atau Ideal adalah kriteria

    ketuntasan minimal yang menjadi acuan dalam penilaian dan

    diharapkan siswa dapat mencapai target nilai kriteria acuan

    75.

    3) Kriteria Ketuntasan Minimal Kelas adalah kriteria ketuntasan

    minimal yang harus dicapai dengan persentase ketuntasan

    85% dari total keseluruhan siswa di kelas yang yang

    dinyatakan tuntas belajar.

    b. Prosedur Penetapan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)

    Sudjarat (2008: 5) prosedur pentapan ketuntasan kriteria

    minimal (KKM) terdiri dari, prinsip penetapan KKM, langkah-

    langkah penetapan KKM, dan penentuan KKM akan dijelaskan

    sebagai berikut:

    1) Prinsip Penetapan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)

  • 50

    Penetapan Kriteria Ketuntasan Minimal perlu

    mempertimbangkan beberapa ketentuan sebagai berikut:

    (a) Penetapan KKM merupakan kegiatan pengambilan

    keputusan yang dapat dilakukan melalui metode kualitatif

    yang dapat dilakukan oleh guru dengan mempertimbangkan

    kemampuan akademik dan pengalaman guru mengajar mata

    pelajaran disekolahnya dan kuantitatif dilakukan dengan

    rentang angka yang disepakati sesuai dengan penetapan

    kriteria yang ditentukan;

    (b) Penetapan nilai KKM dilakukan melalui analisis ketuntasan

    belajar minimal pada setiap indikator dengan

    memperhatikan kompleksitas, daya dukung, dan intake dari

    siswa untuk mencapai ketuntasan kompetensi dasar dan

    standar kompetensi;

    (c) Kriteria ketuntasan minimal setiap kompetensi dasar

    merupakan rata-rata dari indikator yang terdapat dalam

    kompetensi dasar tersebut;

    (d) Kriteria ketuntasan minimal setiap standar kompetensi

    merupakan rata-rata KKM kompetensi dasar yang terdapat

    dalam stabdar kompetensi tersebut;

    (e) Kriteria ketuntasan minimal mata pelajaran merupakan

    rata-rata dari semua KKM standar kompetensi yang

  • 51

    terdapat dalam satu semester atau satu tahun pembelajaran,

    dan dicantumkan dalam laporan hasil belajar siswa;

    (f) Indikator merupakan acuan atau rujukan bagi guru untuk

    membuat soal ulangan, baik ulangan harian, ulangan tengah

    semester maupun ulangan akhir semester; dan

    (g) Pada setiap indikator atau kompetensi dasar dimung


Recommended