Home > Documents > skenario 1 MPT

skenario 1 MPT

Date post: 13-Dec-2014
Category:
Author: ratna-kurnia-ningsih
View: 151 times
Download: 10 times
Share this document with a friend
Description:
Mencegah Penyakit Dengan Vaksinasi
Embed Size (px)
of 33 /33
LI 1. Mampu Memahami dan Menjelaskan Sistem Limfaticus LO.1.1 Memahami dan Menjelaskan Definisi Sistem Limfaticus Sistem Limfaticus adalah system sirkulasi yang termasuk pada system sirkulasi sekunder pada tubuh, yang berfungsi mengalirkan sirkulasi cairan limfa atau getah bening yang ada dalam tubuh untuk dikembalikan ke aliran darah sirkulasi primer. Sistem Limfatikus juga mempunya fungsi : 1. Mengembalikan cairan dan protein dari jaringan ke dalam sirkulasi darah. 2. Mengangkut limfosit dari kelenjar limfe ke sirkulasi darah. 3. Membawa lemak yang sudah dibuat emulsi dari usus ke sirkulasi darah. Saluran limfe yang melaksanakan fungsi ini ialah saluran lakteal (di mukosa usus halus) 4. Kelenjar limfe menyaring dan menghancurkan mikroorganisme untuk menghindarkan penyebaran organisme itu ke dalam jaringan, dan bagian lain tubuh. 5. Apabila ada infeksi, kelenjar limfe menghasilkan zat imun (antibodi) untuk melindungi tubuh terhadap mikroorganisme LO.1.2 Memahami dan Menjelaskan Makroskopik Sistem Limfaticus A. Limfonodus Terletak disekitar pembuluh darah yang berfungsi untuk memproduksi limfositdan anti bodi untuk mencegah penyebaran infeksi lanjutan, menyaring aliran limfatik sekurang-kurangnya oleh satu nodus sebelum dikembalikan kedalam aliran darah melalui duktus torasikus, sehingga dapat mencegah penyebaran infeksi lebih luas. Terdapatpermukaan cembung dan bagian hillus (cekung) yang merupakan tempat masuknyapembuluh darah dan saluran limfe eferen yang membawa aliran limfe keluar darilimfonodus. Saluran afferen memasuki limfonodus pada daerah sepanjang permukaan cembung. Bentuk Limfonodus
Transcript

LI 1. Mampu Memahami dan Menjelaskan Sistem Limfaticus LO.1.1 Memahami dan Menjelaskan Definisi Sistem Limfaticus Sistem Limfaticus adalah system sirkulasi yang termasuk pada system sirkulasi sekunder pada tubuh, yang berfungsi mengalirkan sirkulasi cairan limfa atau getah bening yang ada dalam tubuh untuk dikembalikan ke aliran darah sirkulasi primer. Sistem Limfatikus juga mempunya fungsi : 1. Mengembalikan cairan dan protein dari jaringan ke dalam sirkulasi darah. 2. Mengangkut limfosit dari kelenjar limfe ke sirkulasi darah. 3. Membawa lemak yang sudah dibuat emulsi dari usus ke sirkulasi darah. Saluran limfe yang melaksanakan fungsi ini ialah saluran lakteal (di mukosa usus halus) 4. Kelenjar limfe menyaring dan menghancurkan mikroorganisme untuk menghindarkan penyebaran organisme itu ke dalam jaringan, dan bagian lain tubuh. 5. Apabila ada infeksi, kelenjar limfe menghasilkan zat imun (antibodi) untuk melindungi tubuh terhadap mikroorganisme LO.1.2 Memahami dan Menjelaskan Makroskopik Sistem Limfaticus A. Limfonodus Terletak disekitar pembuluh darah yang berfungsi untuk memproduksi limfositdan anti bodi untuk mencegah penyebaran infeksi lanjutan, menyaring aliran limfatik sekurang-kurangnya oleh satu nodus sebelum dikembalikan kedalam aliran darah melalui duktus torasikus, sehingga dapat mencegah penyebaran infeksi lebih luas. Terdapatpermukaan cembung dan bagian hillus (cekung) yang merupakan tempat masuknyapembuluh darah dan saluran limfe eferen yang membawa aliran limfe keluar darilimfonodus. Saluran afferen memasuki limfonodus pada daerah sepanjang permukaan cembung. Bentuk Limfonodus Oval seperti kacang tanah atau kacang merah dengan pinggiran cekung (hillus)

Ukuran Limfonodus Sebesar kepala peniti atau buah kenari Dapat diraba pada daerah leher, axilla, daninguinal dalam keadaan infeksi.

Daerah tubuh yang terdapat limfonodus : 1. Limfonodus superfisial. a. Limfonodus servikal.

b. Limfonodus axilla. c. Limfonodus inguinal. 2. Limfonodus profundus. a. Limfonodus iliaka (berkenaan dengan ilium) b. Limfonodus lumbal (sepanjang vertebra lumbalis) c. Limfonodus torasikus (pada pangkal paru) d. Limfonodus mesenterikus (melekat pada mesenterium usus halus) e. Limfonodus portal (pada fissura portal hepar/ celah porta hati) Menurut Snells letak limfonodus terbagi atas : 1. Kepala dan leher belakang. a. Sekitar musculo sternocleidomastoideus Pada belakang lidah, faring, cavum nasi, langit-langit mulut, dan wajah. b. Ramus mandibular Dasar mulut. 2. Extremitas superior Aliran limfe masuk ke limfonodus axilla. a. Regio cubiti. b. Regio axillaris. c. Antebrachii, Manus 3. Kelenjar mammae (dibawah musculo pectoralis meliputi kulit dan otot) 4. Thorax Aliran limfe thorax dan kelenjar mammae masuk kedalam nodus limfatikus anteriordan posterior. a. Parietal (dinding thorax) b. Viscera (jantung, perikardium, pulmo, pleura, thymus, dan esophagus) 5. Abdomen dan pelvis Peritoneum dan disekitar aorta, vena cava inferior serta pembuluhdarah intestinum. a. Parietal (dibawah peritoneum, dekat pembuluh darah besar) b. Viscera (dekat pembuluh darah viscera/organ-organ dalam) 6. Extremitas inferior Aliran limfe masuk ke limfonodus inguinali. a. Disepanjang arteri dan vena tibialisii. b. Regio popliteaiii. c. Regio inguinale

B. Lien (Limpa)

http://faculty.ucc.edu/biology-potter/lymphoid_system.htm

Merupakan organ limfoid yang terbesar, lunak, rapuh, vaskular berwarna kemerahan karena banyak mengandung darah dan berbentuk oval. Pembesaran limpa disebut dengan splenomegali. Pembesaran ini terdapat pada keaadan leukimia, cirrosis hepatis, dan anemia berat.

Batas anterior yaitu gaster, ren sinistra, dan flexuracolli sinistra.

posterior yaitu diafragma, dan costae 9-12. Ukuran : Sebesar kepalan tangan masing-masing individu.

Aliran darah Aliran darah akan masuk kedaerah hillus lienalis yaitu arteri lienalis dan keluar melalui vena lienalis ke vena porta menuju hati.

C. Thymus Timus tumbuh terus hingga pubertas. Setelah mulai pubertas, timus akan mengalamiinvolusi dan mengecil seiring umur kadang sampai tidak ditemukan. akan tetapi masihberfungsi untuk menghasilkan limfosit T yang baru dan darah. Mempunyai 2 buah lobus,mempunyai bagian cortex dan medulla, berbentuk segitiga, gepeng dan kemerahan.

Thymus mempunyai 2 batasan, yaitu : Batasan anterior : manubrium sterni dan rawan costae IV Batasan atas : Regio colli inferior (trachea)

Letak : Terdapat pada mediastinum superior, dorsal terhadap sternum. Dasar timus bersandarpada perikardium, ventral dari arteri pulmonalis, aorta, dan trakea. Perdarahan Berasal dari arteri thymica cabang dari arteri thyroidea inferior dan mammaria interna. Kembali melalui vena thyroidea inferior dan vena mammaria interna.

D. Tonsil Tonsil termaksud salah satu dari organ limfoid yang terdiri atas 3 buah tonsila yaituTonsila Palatina, Tonsila Lingualis, Tonsila Pharyngealis. Ketiga tonsil tersebut membentuk cincin pada saluran limf yang dikenal dengan Ring of Waldeyer hal ini yang menyebabkan jika salah satu dari ketiga tonsila ini terinfeksi dua tonsila yang lain juga ikut meradang a. Tonsila Lingualis

Salah satu organ limfoid yang terletak dibelakang lidah 1/3 bagian posterior Dn tidak mempunyai papilla sehingga terlihat permukaan benjol-benjol (follicel). Pendarahan Tonsil Lingualis berasal dari arteri dorsalis lingue (cabang areteri lingualis).

b. Tonsila Pharyngealis

Merupakan Organ limfoid yang terdapat didaerah nasopharyng dibelakang pintu hidung belakang. Bila membesar dikenal dengan ADENOID. Terletak daerah nasopharing tepatnya di atas torus tubarius dan O.P.T.A. bila adenois membesar dapat menyebabkan sesak nafas, sebab dapat menyumbat pintu nares posterior (Choane)

c. Tonsila Palatina Organ limfoid yang terletak pada dinding lateral dari oropharing dextra dan sinistra. Terletak dalam satu lekukan yang dikenal dengan fossa tonsillaris, yang dibatai oleh 2 buah otot yang melengkung berbentuk arcus, yaitu arcus palatoglossus dan arcus palatopharyngeus. Dasar fossa tonsillaris tersebut dinamakan dengan tonsil bed.

LO.1.3 Mikroskopik Sistem Limfaticus A. Limfonodus

Memahami

dan

Menjelaskan

Limfonodus berfungsi menyaring aliran limfe sebelum dicurahkan kedalam alirandarah melalui duktus torasikus. Limfonodus dibagi atas daerah korteks dan sinusoid.Daerah korteks dapat dibagi atas 2 bagian. Pada nodulus limfatikus terdapat germinal centers. Limfonodus dibungkus oleh kapsula fibrosa yang terdiri dari seratkolagen, yang menjulur kedalam disebut trabeculae. Dibawah kapsula fibrosa terdapat sinus sub kapsularis atau sinus marginalis dimana cairan limfe ditapis dankemudian mengalir melalui sinus kortikalis atau sinus trabekularis mengikutitrabekula. Stroma limfonodus dibentuk oleh cabang-cabang trabekula dan jaringan retikular (sel retikular merupakan sel fagosit) yang juga membentuk dinding darisinusoid. Limfonodus dibagi menjadi dua daerah yaitu : a. Korteks

1. Korteks luar Dibentuk dari jaringan limfoid yang terdapat satu jaringan sel retikular dan serat retikular yang dipenuhi oleh limfosit B. Terdapat struktur berbentuk sferis yang disebut nodulus limfatikus, dalam satu nodulus limfatikus terdapat corona (dibentuk dengan susunan sel yang padat) dan sentrum germinativum (dibentuk dari susunan sel yang longgar, dan merupakan tempat diferensiasi limfosti Bmenjadi sel plasma) . Terdapat sinus subkapsularis atau sinus marginalis yang dibentuk oleh jaringan ikat longgar dari makrofag, sel retikular dan seratretikular. 2. Korteks dalamMerupakan kelanjutan dari korteks luar, terdapat juga nodulus limfatikus, danmengandung limfosit T.

b.

Medula

Terdapat korda medularis (genjel-genjel medula) yang merupakan perluasan korteksdalam yang berisi sel plasma hasil diferensiasi pada sentrum germinativum.

Kordamedularis dipisahkan oleh struktur seperti kapiler yang berdilatasi yang disebutsebagai sinus limfoid medularis yang mengandung cairan limfe.

B. Lien Lien berwarna merah tua karena banyak mengandung darah. Lien dibungkus oleh kapsula fibrosa tebal, bercabang cabang ke dalam lien sebagai trabekula, keduanya merupakan jaringan ikat padat. Suplai darah kedalam parenkim melalui arteri trabekularis yang masuk bersama trabekula. Lien dibentuk oleh jaringan retikular yangmengandung sel limfoid, makrofag dan Antigen Presenting cell. Dibungkus oleh simpai jaringan ikat padat yang menjulur (trabekula) yang membagi parenkim atau pulpa lienmenjadi kompartemen yang tidak sempurna, tidak terdapat pembuluh limfe, terdapatarteri dan vena trabekularis. Pulpa lien terbagi menjadi dua bagian yaitu : a. Pulpa alba/putih Terdapat nodulus limfatikus (terdapat banyak limfosit B) dan arterisentralis/folikularis yang dikelilingi oleh sel-sel limfoid terutama sel limfosit T dan membentuk selubung periarteri. Pulpa alba dan pula rubra dibatasi oleh zonamarginalis o Zona marginalis Terdapat sinus dan jaringan ikat longgar dalam jumlah yang banyak. Sel limfosit(jumlah yang sedikit) dan makrofag aktif (jumlah yang banyak). Banyak terdapatantigen darah yang berperan dalam aktivitas imunologis limpa.

Pulpa rubra/merah Merupakan jaringan retikular dengan korda limpa (diantara sinusoid) yang terdiri dari sel dan serat retikular (makrofag, limfosit, sel plasma, eritrosit, trombosit, dangranulaosit) Fungsi limpa : 1. Pembentukan limfosit Dibentuk dalam pulpa alba, menuju ke pulpa rubra dan masuk dalam aliran darah 2. Destruksi makrofag merah3. eritrosit Oleh dalam korda pula

3. Pertahanan organisme oOleh karena kandungan limfost T, limfosit B, dan Antigen Presenting cell

C. Thymus Timus diliputi oleh jaringan ikat tipis (kapsula fibrosa) yang terdiri dari seratkolagen dan elastin. Memiliki suatu simpai jaringan ikat yang masuk ke dalamparenkim dan membagi timus menjadi lobulus. Thymus terdiri dari 2 lobulus, tiaplobulus terdiri dari korteks dan medula, tidak terdapat nodulus limfatikus. Korteksmerupakan bagian perifir lobulus, dipenuhi oleh limfosit timus. Medula sendiri terisioleh limfosit. Di daerah medula terdapat badan hassal, suatu bangunan denganbagian tengahnya berupa daerah hialinisasi berwarna merah muda, dikelilingi olehsel sel epitoloid. Thymus tidak memliki sinusoid ataupun pembuluh limfe afferen.

D. Tonsil Tonsil lingualis Terdapat pada 1/3 bagian posterior lidah, tepat dibelakang papila sirkumvalata,bercampur dengan muskular skelet. Limfonodulus umumnya mempunyai germinalcenter yang umumnya terisi limfosit dan sel plasma. Tonsil palatine Tonsila palatina tidak terdapat muskular dan pada kriptus banyak terdapat debrisyang disebut benda liur. Tonsila faringea atau adenoid Terdapat pada permukaan medial dari dinding dorsal nasofaring. Epitel yangmeliputi jaringan limfoid ini adalah epitel bertingkat torak bersilia.

LI 2. Mampu Memahami dan Menjelaskan Respon Imun Tubuh LO.2.1 Memahami dan Menjelaskan Definisi Respon Imun Tubuh Respons imun adalah respons tubuh berupa suatu urutan kejadian yang kompleks terhadap antigen, untuk mengeliminasi antigen tersebut. Respons imun ini dapat melibatkan berbagai macam sel dan protein, terutama sel makrofag, sel limfosit, komplemen, dan sitokin yang saling berinteraksi secara kompleks. Mekanisme pertahanan tubuh terdiri atas mekanisme pertahanan non spesifik dan mekanisme pertahanan spesifik.

LO.2.2 Memahami dan Menjelaskan Mekanisme Respon Imun Tubuh Berdasarkan cara mempertahankan diri dari penyakit, sistem pertahanan tubuh digolongkan menjadi dua, yaitu pertahanan tubuh nonspesifik dan pertahanan tubuh spesifik.

A. Sistem Pertahanan Tubuh Nonspesifik Secara garis besar, sistem pertahanan tubuh dibedakan atas sistem pertahanan tubuh nonspesifik dan spesifik. Sistem pertahanan tubuh nonspesifik tidak membedakan mikroorganisme patogen satu dengan lainnya. Sistem ini merupakan pertahanan pertama terhadap infeksi. Adapun sistem pertahanan tubuh spesifik bekerja hanya jika patogen tertentu memasuki tubuh dan telah melewati sistem pertahanan tubuh nonspesifik internal (Campbell, 1998: 852). Sistem pertahanan tubuh nonspesifik terbagi atas dua jenis, yaitu eksternal dan internal. Sistem pertahanan tubuh nonspesifik eksternal meliputi jaringan epitel , mukosa, dan sekresi jaringan tersebut. Sementara itu, sistem pertahanan nonspesifik internal meliputi pertahanan tubuh yang dipicu oleh sinyal kimia (kemotaksis) dan menggunakan protein antimikroba serta sel fagosit.1. Sistem Pertahanan Tubuh Nonspesifik Eksternal

Pertahanan tubuh terbesar dan paling mudah dilihat yang menjaga tubuh dari infeksi adalah kulit.Permukaan kulit mencegah mikroorganisme patogen memasuki tubuh. Kulit yang utuh, secara normal tidak dapat dimasuki bakteri atau virus. Namun, kerusakan yang kecil dapat menjadi jalan bagi bakteri dan virus memasuki tubuh. Membran mukosa pada saluran pencernaan, pernapasan, dan saluran kelamin, berfungsi juga sebagai penghalang mikroorganisme memasuki tubuh. Selain sebagai penghalang secara fisik, jaringan epitel dan jaringan mukosa menghalangi mikroorganisme patogen dengan pertahanan kimiawi. Sekresi oleh kelenjar lemak dan kelenjar keringat pada kulit membuat keasaman (pH) permukaan kulit pada kisaran 35. Kondisi tersebut cukup asam dan mencegah banyak mikroorganisme berkoloni di kulit. Air liur, air mata dan sekresi mukosa (mukus) yang disekresikan jaringan epitel dan mukosa, melenyapkan banyak bibit penyakit yang potensial. Sekresi ini mengandung lisozim , suatu enzim yang dapat menguraikan dinding sel bakteri. Selain itu, bakteri flora normal tubuh pada epitel dan mukosa dapat juga mencegah koloni bakteri patogen.

2. Sistem Pertahan Tubuh Nonspesifik Internal

Sistem pertahanan tubuh nonspesifik internal bergantung pada sel-sel fagosit. Sel-sel fagosit tersebut berupa beberapa jenis sel darah putih, yaitu neutrofil dan monosit. Selain sel-sel fagosit, terdapat protein antimikroba yang membantu pertahanan tubuh

nonspesifik internal. Sistem pertahanan tubuh nonspesifik internal ini menyerang semua mikroba atau zat asing yang dapat melewati pertahanan terluar tubuh. a. Sel Fagosit Neutrofil dalam darah putih merupakan yang terbanyak, sekitar 6070%. Sel neutrofil mendekati sel yang diserang mikroba dengan adanya sinyal kimiawi (kemotaksis). Neutrofil dapat meninggalkan peredaran darah menuju jaringan yang terinfeksi dan membunuh mikroba penyebab infeksi. Namun, setelah sel neutrofil menghancurkan mikroba, mereka pun akan mati. Sel monosit, meski hanya sebanyak 5% dari seluruh sel darah putih, memberikan pertahanan fagosit yang efektif. Setelah mengalami pematangan, sel monosit bersirkulasi dalam darah untuk beberapa jam. Setelah itu, bergerak menuju jaringan dan berubah menjadi makrofag. Sel mirip Amoeba ini mampu memanjangkan pseudopodia untuk menarik mikroba yang akan dihancurkan enzim perncernaannya. Namun, beberapa mikroba telah berevolusi terhadap cara makrofag. Misalnya, beberapa bakteri memiliki kapsul yang membuat pseudopodia makrofag tidak dapat menempel. Bakteri lain kebal terhadap enzim pelisis fagosit dan bahkan dapat bereproduksi dalam sel makrofag. Beberapa makrofag secara permanen berada di organ-organ tubuh dan jaringan ikat. Selain neutrofil dan monosit, terdapat juga eosinofil yang berperan dalam sistem pertahan nonspesifik internal. Sekitar 1,5% sel darah putih merupakan eosinofil. Eosinofil memiliki aktivitas fagositosit yang terbatas, namun mengandung enzim penghancur di dalam granul sitoplasmanya. Eosinofil berperan dalam pertahanan tubuh terhadap cacing parasit. Eosinofil memposisikan diri di permukaan cacing dan menyekresikan enzim dari granul untuk menghancurkan cacing tersebut.b. Protein Antimikroba

Protein yang berperan dalam sistem pertahanan tubuh nonspesifik disebut sistem komplemen. Protein tersebut dapat secara langsung membunuh mikroorganisme ataupun mencegah reproduksinya. Terdapat sekitar 20 jenis protein yang termasuk dalam sistem ini. Histamin dan interleukin termasuk protein ini. Protein komplemen bersirkulasi dalam darah dalam bentuk tidak aktif. Jika beberapa molekul dari satu jenis protein komplemen aktif, hal tersebut memicu gelombang reaksi yang besar. Mereka mengaktifkan banyak molekul komplemen lain. Setiap molekul yang teraktifkan, akan mengaktifkan jenis protein komplemen lain dan begitu seterusnya. Aktivasi protein komplemen terjadi jika protein komplemen tersebut berikatan dengan protein yang disebut antigen. Antigen telah dimiliki oleh patogen. Aktivasi dapat terjadi ketika protein komplemen berikatan langsung dengan permukaan bakteri.

Beberapa protein komplemen dapat bersatu membentuk pori kompleks yang menginduksi lisis (kematian sel) pada patogen. Beberapa protein komplemen yang teraktifkan juga menyebabkan respons pertahanan tubuh nonspesifik yang disebut peradangan (inflamasi). Selain itu, menarik sel-sel fagosit menuju sel atau jaringan yang rusak B. Sistem Pertahanan Tubuh Spesifik Bila pertahanan non spesifik belum dapat mengatasi invasi mikroorganisme maka imunitas spesifik akan terangsang. Mekanisme pertahanan spesifik adalah mekanisme pertahanan yang diperankan oleh sel limfosit, dengan atau tanpa bantuan komponen sistem imun lainnya seperti sel makrofag dan komplemen. Dilihat dari caranya diperoleh maka mekanisme pertahanan spesifik disebut juga respons imun didapat. Imunitas spesifik hanya ditujukan terhadap antigen tertentu yaitu antigen yang merupakan ligannya. Di samping itu, respons imun spesifik juga menimbulkan memori imunologis yang akan cepat bereaksi bila host terpajan lagi dengan antigen yang sama di kemudian hari. Pada imunitas didapat, akan terbentuk antibodi dan limfosit efektor yang spesifik terhadap antigen yang merangsangnya, sehingga terjadi eliminasi antigen. Sel yang berperan dalam imunitas didapat ini adalah sel yang mempresentasikan antigen (APC = antigen presenting cell = makrofag) sel limfosit T dan sel limfosit B. Sel limfosit T dan limfosit B masing-masing berperan pada imunitas selular dan imunitas humoral. Sel limfosit T akan meregulasi respons imun dan melisis sel target yang dihuni antigen. Sel limfosit B akan berdiferensiasi menjadi sel plasma dan memproduksi antibodi yang akan menetralkan atau meningkatkan fagositosis antigen dan lisis antigen oleh komplemen, serta meningkatkan sitotoksisitas sel yang mengandung antigen yang dinamakan proses antibody dependent cell mediated cytotoxicy (ADCC).

LO.2.3 Memahami dan Menjelaskan Klasifikasi Respon Imun Tubuh

LI 3. Mampu Memahami dan Menjelaskan Antigen LO.3.1 Memahami dan Menjelaskan Definisi Antigen Antigen merupakan bahan asing yang dikenal dan merupakan target yang akan dihancurkan oleh sistem kekebalan tubuh. Antigen ditemukan di permukaan seluruh sel, tetapi dalam keadaan normal, sistem kekebalan seseorang tidak bereaksi terhadap selnya sendiri. Sehingga dapat dikatakan antigen merupakan sebuah zat yang menstimulasi tanggapan imun, terutama dalam produksi antibodi. Macam-macam antigen antara lain imunogen adalah bahan yang dapat merangsang respon imun dan hapten adalah bahan yang dapat bereaksi dengan antibodi. Antigen tersusun atas epitop dan paratop. Epitop atau Determinan adalah bagian dari antigen yang dapat mengenal/ menginduksi pembenntukan antibodi, sedangkan paratop adalah bagian dari antibodi yang dapat mengikat epitop. Antigen molekul asing yang dapat menimbulkan respon imun spesifik dari limfosit pada manusia dan hewan. Antigen meliputi molekul yang dimilki virus, bakteri, fungi, protozoa dan cacing parasit. Molekul antigenic juga ditemukan pada permukaan zatzat asing seperti serbuk sari dan jaringan yang dicangkokkan.

LO.3.2 Memahami dan Menjelaskan Klasifikasi Antigen 1. PEMBAGIAN ANTIGEN MENURUT EPITOP : a. Unideterminan, univalent hanya satu jenis determinan atau epitop pada satu molekul. b. Unideterminan, multivalent hanya satu determinan tetapi dua atau lebih determinan tersebut ditemukan pada satu molekul. c. Multideterminan, univalent banyak epitop yang bermacam-macam tetapi hanya satu dari setiap macamnya (kebanyakan protein). d. Multideterminan, multivalent banyak macam determinan dan banyak dari setiap macam pada satu molekul (antigen dengan berat molekul yang tinggi dan kompleks secara kimiawi).

2. PEMBAGIAN ANTIGEN MENURUT SPESIFISITAS : a. Heteroantigen antigen yang terdapat pada jaringan dari spesies yang berbeda. b. Xenoantigen antigen yang hanya dimiliki spesies tertentu. c. Alloantigen (isoantigen) spesies. antigen yang spesifik untuk individu dalam satu

d. Antigen organ spesifik antigen yang dimilki oleh organ yang sama dari spesies yang berbeda.

e. Autoantigen, yaitu antigen yang dimiliki oleh alat tubuh sendiri

3. PEMBAGIAN ANTIGEN MENURUT KETERGANTUNGAN TERHADAP SEL T: a. T dependent antigen yang memerlukan pengenalan oleh sel T dan sel B untuk dapat menimbulkan respons antibodi. Sebagai contoh adalah antigen protein. b. T independent antigen yang dapat merangsang sel B tanpa bantuan sel T untuk membentuk antibodi. Antigen tersebut berupa molekul besar polimerik yang dipecah di dalam badan secara perlahan-lahan, misalnya lipopolisakarida, ficoll, dekstran, levan, dan flagelin polimerik bakteri.

4. PEMBAGIAN ANTIGEN MENURUT SIFAT KIMIAWI : a. Hidrat arang (polisakarida) Hidrat arang pada umumnya imunogenik. Glikoprotein dapat menimbulkan respon imun terutama pembentukan antibodi. Respon imun yang ditimbulkan golongan darah ABO, mempunyai sifat antigen dan spesifisitas imun yang berasal dari polisakarida pada permukaan sel darah merah. b. Lipid Lipid biasanya tidak imunogenik, tetapi menjadi imunogenik bila diikat oleh protein carrier. Lipid dianggap sebagai hapten (suatu zat yang mampu bereaksi dengan antibody spesifik tetapi tidak dapat merangsang pembentukan antibodi kecuali terikat dengan protein pembawa atau molekul lain), sebagai contoh adalah sphingolipid. c. Asam nukleat Asam nukleat tidak imunogenik, tetapi menjadi imunogenik bila diikat oleh protein carrier. DNA dalam bentuk heliksnya biasanya tidak imunogenik. Respon imun terhadap DNA terjadi pada penderita dengan SLE. d. Protein Kebanyakan protein adalah imunogenik dan pada umunya multideterminan univalent.

Selain itu antigen dapat di kelompokkan menjadi dua : a.Antigen eksogen Antigen eksogen adalah antigen-antigen yang disajikan dari luar kepada hospes dalam bentuk mikroorganisme,tepung sari,obat-obatan atau polutan. Antigen ini bertanggungjawab terhadap suatu spektrum penyakit manusia, mulai dari penyakit infeksi sampai ke penyakit-penyakit yang dibenahi secara immologi, seperti pada asma. Virus influenza misalnya yang merupakan penyebab utama epidemik penyakit saluran pernapasan pada manusia, terdapat di alam dalam berbagai jenis antigenic yang dikenal sebagai A, B, dan C. Jenis-jenis ini menggambarkan berbagai macam-macam mutasi virus. Populasi yang rentan akan diinfeksi oleh serotype tertentu. Setelah sembuh dan imunitas terbentuk, virus ini tidak lagi memperbanyak diri, karena mereka tidak cukup

mendapat individu rentan untuk mendapatkan infeksi lanjutan.Namun sesuai dengan tekanan selektif, virus ini diketahui melakukan mutasi, kemudian akan melakukan mutasi, kemudian akan muncul varian baru virus influenza. Varian baru ini, bila cukup virulen bertanggungjawab pada epidemik baru. Dengan demikian manusia mampu mengatasi suatu epidemik, tetapi organisme menciptakan epidemi baru.

b.Antigen endogen Antigen endogen adalah antigen yang terdapat didalam tubuh dan meliputi antigen-antigen berikut:antigen senogeneik (heterolog), antigen autolog dan antigen idiotipik atau antigen alogenik (homolog). Antigen senogeneik adalah antigen yang terdapat dalam aneka macam spesies yang secara filogenetik tidak ada hubungannya, antigen-antigen ini penting untuk mendiagnosa penyakit. Kelompok-kelompok antigen yang paling banyak mempunyai arti klinik adalah kelompok-kelompok antigen yang digunakan untuk membedakan satu individu spesies dengan individu spesies yang sama. Pada manusia determinan antigen semacam ini terdapat pada sel darah merah,sel darah putih trombosit, protein serum, dan permukaan sel-sel yang menyusun jaringan tertentu dari tubuh, termaksud antigen-antigen histokompatibilitas. Antigen ini dikenal antigen polomorfik, karena adanya dua atau lebih bentuk-bentuk yang berbeda secara genetik didalam populasi.

LO.3.3 Memahami dan Menjelaskan Ciri-ciri Antigen 1. Imunogenisitas kemampuan untuk perbanyakan antibodi dan limfosit spesifik. 2. Reaktifitas kemampuan untuk bereaksi dengan limfosit yang teraktivasi dan antibodi yang dilepaskan oleh reaksi kekebalan. Selain antigen, terdapat juga molekul yang disebut dengan Hapten. Hapten adalah substansi kimiawi sederhana atau suatu bagian dari antigen yang tidak menimbulkan respon kekebalan, tetapi jika hapten berikatan dengan protein tubuh akan mengenalinya sebagai substansi berbahaya. LI 4. Mampu Memahami dan Menjelaskan Antibodi LO.4.1 Memahami dan Menjelaskan Definisi Antibodi Antibodi merupakan protein-protein yang terbentuk sebagai respon terhadap antigen yang masuk ke tubuh, yang bereaksi secara spesifik dengan antigen tersebut. Konfigurasi molekul antigen-antibodi sedemikian rupa sehingga hanya antibodi yang timbul sebagai respon terhadap suatu antigen tertentu saja yang ccocok dengan permukaan antigen itu sekaligus bereaksi dengannya.

LO.4.2 Memahami dan Menjelaskan Klasifikasi Antibodi

a. Imunogloblin G (IgG) Imunoglobulin G adalah divalen antigen. Antibodi ini adalah imunoglobulin yang paling sering/banyak ditemukan dalam sumsum tulang belakang, darah, lymfe dan cairan peritoneal. Ia mempunyai waktu paroh biologik selama 23 hari dan merupakan imunitas yang baik (sebagai serum transfer). Ia dapat mengaglutinasi antigen yang tidak larut. IgG adalah satu-satunya imunoglobulin yang dapat melewati plasenta. IgG adalah opsonin yang baik sebagai pagosit pada ikatan IgG reseptor. Imunoglobulin ini merangsang antigen-dependen cel-mediated cytotoxicity (ADCC)-IgG Fab untuk mengikat target sel, Natural Killer(NK) Fc-reseptor, mengikat Ig Fc, dan sel NK membebaskan citotoksik pada sel target. IgFc juga mengaktifkan komplemen, menetralkan toksin, imobilisasi bakteri dan menghambat serangan virus. b. Imunogloblin A (IgA) Imunoglobulin A adalah antibodi sekretori, ditemukan dalam saliva, keringat, air mata, cairan mukosa, susu, cairan lambung dan sebgainya. Yang aktiv adalah bentuk dimer (yy), sedangkan yang monomer (y) tidak aktif. Jaringan yang mensekresi bentuk bentuk dimer ini ialah sel epithel yang bertindak sebagai reseptor IgA, yang kemudian sel tersebut bersama IgA masuk kedalam lumen. Fungsi dari IgA ini ialah: Mencegah kuman patogen menyerang permukaan sel mukosa Tidak efektif dlam mengikat komplemen Bersifat bakterisida dengan kondisinya sebagai lysozim yang ada dalam cairan

sekretori yang mengandung IgA Bersifat antiviral dan glutinin yang efektif

c. Imunogloblin M (Ig M) Imunoglobulin m ditemukan pada permukaan sel B yang matang. IgM mempunyai waktu paroh biologi 5 hari, mempunyai bentuk pentamer dengan lima valensi. Imunoglobulin ini hanya dibentuk oleh faetus. Peningkatan jumlah IgM mencerminkan adanya infeksi baru atai adanya antigen (imunisasi/vaksinasi). IgM adalah merupakan aglutinin yang efisien dan merupakan isohem- aglutinin alamiah. IgM sngat efisien dalam mengaktifkan komplemen. IgM dibentuk setelah terbentuk Tindependen antigen, dan setelah imunisasi dengan T-dependent antigen. d. Imunogloblin D (IgD) Antibodi IgD tidak mengaktifkan sistem komplemen dan tidak menembus plasenta. IgD terutama ditemukan pada permukaan sel B, yang kemungkinan berfungsi sebagai suatu reseptor antigen yang diperlukan untuk memulai diferensiasi sel-sel B menjadi sel plasma dan sel B memori. e. Imunogloblin E (IgE) Antibodi IgE berukuran sedikit besar dibandingakan dengan molekul IgG dan hanya mewakili sebagian kecil dari total antibodi dalam darah. Ig E disekresikan oleh sel plasma di kulit, mukosa, serta tonsil. Jika bagian ujung IgE terpicu oleh antigen, akan menyebabkan sel melepaskan histamin yang menyebabkan peradangan dan reaksi alergi.

http://www.beltina.org/health-dictionary/immunoglobulin-a-d-e-g-m-ida-igd-ige-igg-igm-therapy

LO.4.3 Memahami dan Menjelaskan Struktur Antibodi Jenis kekebalan pasif ini adalah mekanisme pertahanan tubuh yang tidak dirangsang. Kekebalan ini dilakukan dengan memberikan zat antitoksin. Zat antitoksin suatu zat pertahanan kimia diberikan langsung ke dalam tubuh. Contohnya, jika seorang anak menderita sakit yang membahayakan dan sebelumnya belum pernah diimunisasi. Maka anak tersebut akan diberi atau disuntik pencegahan. Kekebalan ini hanya bersifat sementara. Setiap molekul antibodi terdiri dari dua rantai polipeptida yang identik, terdiri dari rantai berat dan rantai ringan. Struktur yang identik menyebabkan rantai-rantai polipeptida membentuk bayangan kaca terhadap sesamanya. Empat rantai pada molekul antibodi dihubungkan satu sama lain dengan ikatan disulfida (ss) membentuk molekul bentuk Y. Dengan membandingkan deretan asam amino dari molekul-molekul antibodi yang berbeda, menunjukkan bahwa spesifikasi antigenantibodi berada pada dua lengan dari Y. Sementara cabang dari Y menentukan peran antibodi dalam respon imun. Struktur antibodi dapat Anda amati pada Gambar dibawah ini. Urutan asam amino pada ujung-ujung Y sangat bervariasi diantara antibodi yang berbeda. Daerah variabel ini, terdiri dari 110-130 asam amino, memberikan kekhususan untuk mengikat antigen antibodi. Wilayah konstan menentukan mekanisme yang digunakan untuk menghancurkan antigen. Antibodi dibagi menjadi lima kelas utama, IgM, IgG, Iga, IgD, IgE dan, berdasarkan struktur daerah konstan dan fungsi kekebalan tubuh.

LI 5. Mampu Memahami dan Menjelaskan Vaksin dan Imunisasi LO.5.1 Memahami dan Menjelaskan Definisi Vaksin dan Imunisasi

Vaksin adalah bahan antigenik yang digunakan untuk menghasilkan kekebalan aktif terhadap suatu penyakit sehingga dapat mencegah atau mengurangi pengaruh infeksi oleh organisme alami atau liar. Vaksin dapat berupa galur virus atau bakteri yang telah dilemahkan sehingga tidak menimbulkan penyakit. Vaksin dapat juga berupa organisme mati atau hasilhasil pemurniannya (protein, peptida, partikel serupa virus, dsb.). Vaksin akan mempersiapkan sistem kekebalan manusia atau hewan untuk bertahan terhadap serangan patogen tertentu, terutama bakteri, virus, atau toksin. Vaksin juga bisa membantu sistem kekebalan untuk melawan sel-sel degeneratif (kanker). Imunisasi adalah pemberian kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit dengan memasukkan sesuatu ke dalam tubuh agar tubuh tahan terhadap penyakit yang sedang mewabah atau berbahaya bagi seseorang. Imunisasi berasal dari kata imun yang berarti kebal atau resisten. Imunisasi terhadap suatu penyakit hanya akan memberikan kekebalan atau resistensi pada penyakit itu saja, sehingga untuk terhindar dari penyakit lain diperlukan imunisasi lainnya. LO.5.2 Memahami dan Menjelaskan Perbedaan Vaksin dan Imunisasi Pengertian imunisasi merupakan pemberian kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit. Sedangkan Vaksinasi adalah proses memasukkan vaksin atau kuman yang sudah dilemahkan ke dalam tubuh

LO.5.3 Memahami dan Menjelaskan Tujuan Vaksin dan Imunisasi Tujuan imunisasi adalah merangsang sistem imunologi tubuh untuk membentuk antibodi spesifik sehingga dapat melindungi tubuh dari serangan penyakit. Tujuan Vaksinasi adalah menstimulasi reaksi kekebalan tanpa menimbulkan penyakit.

Fungsi Imunisasi dan Vaksinasi adalah untuk menjaga kesehatan masyarakat agar tidak mudah terserang penyakit. Selain itu imunisasi dan vaksinasi juga dapat menurunkan angka kejadian penyakit, kecacatan maupun kematian akibat dari infeksi penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi dan vaksinasi (Vaccine-preventable disease). Imunisasi dan vaksinasi tidak hanya memberikan perlindungan pada individu melainkan juga pada komunitas terutama untuk penyakit yang ditularkan melalui manusia.

LO.5.4 Memahami dan Menjelaskan Klasifikasi Vaksin dan Imunisasi 1. Vaksinasi BCG Vaksinasi BCG memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit tuberculosis (TBC). BCG diberikan setiap 1 kali sebelum anak berumur 2 bulan. BCG ulangan tidak dianjurkan karena keberhasilannya diragukan. Vaksin disuntikkan secara intrakutan pada lengan atas, untuk bayi berumur kurang dari 1 tahun diberikan sebanyak 0,05 mL dan untuk anak berumur lebihdari 1 tahun diberikan sebanyak 0,1 mL. Vaksin ini mengandung bakteri Bacillus Calmette-Guerrin hidup yang dilemahkan, sebanyak 50.000-1.000.000 partikel/dosis.Kontraindikasi untuk vaksinasi BCG adalah penderita gangguan sistemkekebalan (misalnya penderita leukemia, penderita yang menjalani pengobatansteroid jangka panjang, penderita infeksi HIV ). Reaksi yang mungkin terjadi: a. Reaksi lokal 1-2 minggu setelah penyuntikan, pada tempat penyuntikantimbul kemerahan dan benjolan kecil yang teraba keras. Kemudian benjolanini berubah menjadi pustule (gelembung berisi nanah), lalu pecah dan membentuk luka terbuka (ulkus). Luka ini akhirnya sembuh secara spontandalam waktu 8-12 minggu dengan meninggalkan jaringan parut.2) b. Reaksi regional pembesaran kelenjar getah bening ketiak atau leher, tanpadisertai nyeri tekan maupun demam, yang akan menghilang dalam waktu 3-6 bulan. Komplikasi yang mungkin timbul adalah: a. Pembentukan Abses (penimbunan nanah) di tempat penyuntikan karena penyuntikan yang terlalu dalam. Abses ini akan menghilang secara spontan.Untuk mempercepat penyembuhan, bila abses telah matang, sebaiknya dilakukan aspirasi (pengisapan abses dengan menggunakan jarum) dan bukan disayat. b. Limfadenitis supurativa terjadi jika penyuntikan dilakukan terlalu dalamatau dosisnya terlalu tinggi. Keadaan ini akan membaik dalam waktu 2-6 bulan

2. Vaksinasi DPT

Vaksinasi DPT adalah suatu vaksin 3-in-1yang melindungi terhadap difteri, pertussis dan tetanus. Difteri adalah suatu infeksi bakteri yang menyerang tenggorokan dan dapatmenyebabkan komplikasi yang serius atau fatal. Pertusis (batuk rejan) adalah inteksi bakteri pada saluran udara yang ditandaidengan batuk hebat yang menetap serta bunyi pernafasan yang melengking.Pertusis berlangsung selama beberapa minggu dan dapat menyebabkan serangan batuk hebat sehingga anak tidak dapat bernafas, makan atau minum. Pertusis juga dapat menimbulkan komplikasi serius, seperti pneumonia, kejang dankerusakan otak.Tetanus adalah infeksi bakteri yang bisa menyebabkan kekakuan pada rahangserta kejang. Vaksin DPT adalah vaksin 3-in-1 yang bisa diberikan kepada anak yang berumur kurang dari 7 tahun.Biasanya vaksin DPT terdapat dalam bentuk suntikan, yangdisuntikkan pada otot lengan atau paha. Imunisasi DPT diberikan sebanyak 3 kali, yaitu pada saat anak berumur 2 bulan(DPT I), 3 bulan (DPT II) dan 4 bulan (DPT III); selang waktu tidak kurang dari 4minggu. Imunisasi DPT ulang diberikan 1 tahun setelah DPT III dan pada usia prasekolah (5-6 tahun).Jika anak mengalami reaksi alergi terhadap vaksin pertusis, maka sebaiknyadiberikan DT, bukan DPT. Setelah mendapatkan serangkaian imunisasi awal, sebaiknya diberikan booster vaksin Td pada usia 14-16 tahun kemudian setiap 10 tahun (karena vaksin hanyamemberikan perlindungan selama 10 tahun, setelah 10 tahun perlu diberikan booster).Hampir 85% anak yang mendapatkan minimal 3 kali suntikan yang mengandungvaksin difteri, akan memperoleh perlindungan terhadap difteri selama 10 tahun. DPT sering menyebakan efek samping yang ringan, seperti demam ringan atau nyeri di tempat penyuntikan selama beberapa hari. Efek samping tersebut terjadikarena adanya komponen pertusis di dalam vaksin. Pada kurang dari 1% penyuntikan, DTP menyebabkan komplikasi berikut : a. Demam Tinggi (lebih dari 40,5 Celsius) b. Kejang c. Kejang demam (resiko lebih tinggi pada anak yang sebelumnya pernahmengalami kejang atau terdapat riwayat kejang dalam keluarganya) d. Syok (kebiruan, pucat, lemah, tidak memberikan respon). Jika anak sedang menderita sakit yang lebih serius dari pada flu ringan, imunisasiDPT bisa ditunda sampai anak sehat. Jika anak pernah mengalami kejang, penyakit otak atau perkembangannya abnormal, penyuntikan DPT sering ditunda sampai kondisinya membaik atau kejangnya bisa dikendalikan. 1-2 hari setelah mendapatkan suntikan DPT, mungkin akan terjadi demam ringan,nyeri, kemerahan atau pembengkakan di tempat penyuntikan. Untuk mengatasi nyeri dan menurunkan demam, bisa diberikan asetaminofen (atau ibuprofen).Untuk mengurangi nyeri di tempat penyuntikan juga bisa dilakukan kompres hangat atau lebih sering menggerak-gerakkan lengan maupun tungkai yang bersangkutan.

3. Vaksinasi DT

Vaksinasi DT memberikan kekebalan aktif terhadap toksin yang dihasilkan oleh kuman penyebab difteri dan tetanus.Vaksin DT dibuat untuk keperluan khusus, misalnya pada anak yang tidak bolehatau tidak perlu menerima imunisasi pertusis, tetapi masih perlu menerimaimunisasi difteri dan tetanus. Cara pemberian imunisasi dasar dan ulangan sama dengan imunisasi DPT.Vaksin disuntikkan pada otot lengan atau paha sebanyak 0,5 mL. Vaksin ini tidak boleh diberikan kepada anak yang sedang sakit berat atau menderita demam tinggi. Efek samping yang mungkin terjadi adalah demam ringan dan pembengkakan lokal di tempat penyuntikan, yang biasanya berlangsung selama 1-2 hari.

4. Vaksinasi TT Imunisasi tetanus (TT, tetanus toksoid) memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit tetanus. ATS (Anti Tetanus Serum) juga dapat digunakan untuk pencegahan (imunisasi pasif) maupun pengobatan penyakit tetanus. Kepada ibu hamil, imunisasi saatkehamilan berumur 7 bulan dan pahaatau lengan sebanyak 0,5 mL. reaksilokal pada tempat penyuntikan, rasanyeri. TT diberikan sebanyak 2 kali, yaitu pada 8 bulan. Vaksin ini disuntikkan pada otot Efek samping dari tetanus toksoid adalah yaitu berupa kemerahan, pembengkakan dan

5. Imunisasi Polio Imunisasi polio memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit poliomielitis. Polio bisa menyebabkan nyeri otot dan kelumpuhan pada salah satu maupun kedua lengan/tungkai. Polio juga bisa menyebabkan kelumpuhan pada otot-otot pernafasan dan otot untuk menelan. Polio bisa menyebabkan kematian. Terdapat 2 macam vaksin polio : a. IPV (Inactivated Polio Vaccine, Vaksin Salk ) mengandung virus polioyang telah dimatikan dan diberikan melalui suntikan b. OPV (Oral Polio Vaccine, Vaksin Sabin) mengandung vaksin hidup yangtelah dilemahkan dan diberikan dalam bentuk pil atau cairan.Bentuk trivalent (TOPV ) efektif melawan semua bentuk polio, bentuk monovalent (MOPV) efektif melawan 1 jenis polio. Imunisasi dasar polio diberikan 4 kali (polio I,II, III, dan IV) dengan interval tidak kurang dari 4 minggu. Imunisasi polio ulangan diberikan 1 tahun setelah imunisasi polio IV, kemudian pada saat masuk SD (5-6 tahun) dan pada saat meninggalkan SD (12 tahun).Di Indonesia umumnya diberikan vaksin Sabin. Vaksin ini diberikan sebanyak 2tetes (0,1 mL) langsung ke mulut anak atau dengan menggunakan sendok yang berisi air gula. Kontra indikasi pemberian vaksin polio: a. Diare berat

b. Gangguan kekebalan (karena obatimunosupresan, kemoterapi,kortikosteroid) c. Kehamilan. Efek samping yang mungkin terjadi berupa kelumpuhan dan kejang-kejang. Dosis pertama dan kedua diperlukan untuk menimbulkan respon kekebalan primer, sedangkan dosis ketiga dan keempat diperlukan untuk meningkatkankekuatan antibobi sampai pada tingkat yang tertinggi. Setelah mendapatkan serangkaian imunisasi dasar, kepada orang dewasa tidak perlu dilakukan pemberian booster secara rutin, kecuali jika dia hendak bepergian ke daerah dimana polio masih banyak ditemukan. Kepada orang dewasa yang belum pernah mendapatkan imunisasi polio dan perlu menjalani imunisasi, sebaiknya hanya diberikan IPV. Kepada orang yang pernah mengalami reaksi alergi hebat (anafilaktik) setelah pemberian IPV, streptomisin, polimiksin B atauneomisin, tidak boleh diberikan IPV. Sebaiknya diberikan OPV. Kepada penderitagangguan sistem kekebalan (misalnya penderita AIDS, infeksi HIV, leukemia, kanker, limfoma), dianjurkan untuk diberikan IPV. IPV juga diberikan kepadaorang yang sedang menjalani terapi penyinaran, terapi kanker, kortikosteroid atauobat imunosupresan lainnya. IPV bisa diberikan kepada anak yang menderita diare.Jika anak sedang menderita penyakit ringan atau berat, sebaiknya pelaksanaanimunisasi ditunda sampai mereka benar-benar pulih. IPV bisa menyebabkan nyeri dan kemerahan pada tempat penyuntikan, yang biasanya berlangsung hanya selama beberapa hari.

6. Imunisasi Campak Imunisasi campak memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit campak. Imunisasi campak diberikan sebanyak 1 dosis pada saat anak berumur 9 bulanatau lebih. Pada kejadian luar biasa dapat diberikan pada umur 6 bulan dandiulangi 6 bulan kemudian.Vaksin disuntikkan secara subkutan dalam sebanyak 0,5 mL. a. b. c. d. e. f. Kontra indikasi pemberian vaksin campak : infeksi akut yang disertai demam lebih dari 38?Celsius Gangguan sistem kekebalan Pemakaian obat imunosupresan Alergi terhadap protein telur Hipersensitivitas terhadap kanamisin dan eritromisin wanita hamil. ruam kulit,

Efek samping yang mungkin terjadi berupa demam, diare,konjungtivitisdan gejala kataral serta ensefalitis (jarang).

7. Imunisasi MMR Imunisasi MMR memberi perlindungan terhadap campak, gondongan dan campak Jerman dan disuntikkan sebanyak 2 kali. Vaksin MMR adalah vaksin 3-in-1

yang melindungi anak terhadap campak, gondongan dan campak Jerman. Vaksin tunggal untuk setiap komponen MMR hanya digunakan pada keadaan tertentu, misalnya jika dianggap perlu memberikan imunisasi kepada bayi yang berumur 9-12 bulan. Suntikan pertama diberikan pada saat anak berumur 12-15 bulan. Suntikan pertama mungkin tidak memberikan kekebalan seumur hidup yang adekuat,karena itu diberikan suntikan kedua pada saat anak berumur 4-6 tahun (sebelummasuk SD) atau pada saat anak berumur 11-13 tahun (sebelum masuk SMP). Imunisasi MMR juga diberikan kepada orang dewasa yang berumur 18 tahun ataulebih atau lahir sesudah tahun 1956 dan tidak yakin akan status imunisasinya atau baru menerima 1 kali suntikan MMR sebelum masuk SD. Dewasa yang lahir pada tahun 1956 atau sebelum tahun 1956, diduga telah memiliki kekebalan karena banyak dari mereka yang telah menderita penyakit tersebut pada masa kanak-kanak. Pada 90-98% orang yang menerimanya, suntikan MMR akan memberikan perlindungan seumur hidup terhadap campak,campak Jerman dan gondongan.Suntikan kedua diberikan untuk memberikan perlindungan adekuat yang tidak dapat dipenuhi oleh suntikan pertama. a. Efek samping yang mungkin ditimbulkan oleh masing-masing komponen vaksin: Komponen campak 1-2 minggu setelah menjalani imunisasi, mungkin akan timbul ruam kulit.Hal ini terjadi pada sekitar 5% anak-anak yang menerima suntikan MMR. Demam 39,5 celsius atau lebih tanpa gejala lainnya bisa terjadi pada 5-15% anak yang menerima suntikan MMR. Demam ini biasanya muncul dalam waktu 1-2 minggu setelah disuntik dan berlangsung hanya selama1-2 hari. Efek samping tersebut jarang terjadi pada suntikan MMR kedua. b. Komponen gondongan Pembengkakan ringan pada kelenjar di pipi dan dibawah rahang, berlangsung selama beberapa hari dan terjadi dalam waktu 1-2 minggusetelah menerima suntikan MMR. c. Komponen campak Jerman Pembengkakan kelenjar getah bening dan atau ruam kulit yang berlangsung selama 1-3 hari, timbul dalam waktu 1-2 mingu setelahmenerima suntikan MMR. Hal ini terjadi pada 14-15% anak yangmendapat suntikan MMR. Nyeri atau kekakuan sendi yang ringan selama beberapa hari, timbul dalam waktu 1-3 minggu setelah menerima suntikan MMR. Hal ini hanya ditemukan pada 1% anak-anak yang menerima suntikan MMR, tetapiterjadi pada 25% orang dewasa yang menerima suntikan MMR. Kadangnyeri/kekakuan sendi ini terus berlangsung selama beberapa bulan (hilang-timbul). Artritis (pembengkakan sendi disertai nyeri) berlangsung selama 1 minggu dan terjadi pada kurang dari 1% anak-anak tetapi ditemukan pada 10% orang dewasa yang menerima suntikan MMR. Jarang terjadi kerusakan sendi akibat artritis ini. Nyeri atau mati rasa pada tangan atau kaki selama beberapa hari lebih sering ditemukan pada orang dewasa. Meskipun jarang, setelah menerima suntikan MMR,

anak-anak yang berumur dibawah 6 tahun bisa mengalami aktivitas kejang (misalnya kedutan). Hal ini biasanya terjadi dalam waktu 1-2 minggu setelah suntikan diberikan dan biasanya berhubungan dengan demam tinggi. Keuntungan dari vaksin MMR lebih besar jika dibandingkan dengan efek samping yang ditimbulkannya. Campak, gondongan dan campak Jerman merupakan penyakit yang bisa menimbulkan komplikasi yang sangat serius.

Jika anak sakit, imunisasi sebaiknya ditunda sampai anak pulih. Imunisasi MMR sebaiknya tidak diberikan kepada: a. anak yang alergi terhadap telur, gelatin atau antibiotik neomisin b. anak yang 3 bulan yang lalu menerima gamma globulin c. anak yang mengalami gangguan kekebalan tubuh akibat kanker, leukemia ,limfoma maupun akibat obat prednison, steroid, kemoterapi, terapi penyinaran atau obati imunosupresan d. wanita hamil atau wanita yang 3 bulan kemudian hamil

8. Imunisasi Varisella Imunisasi varisella memberikan perlindungan terhadap cacar air. Cacar air ditandai dengan ruam kulit yang membentuk lepuhan, kemudian secara perlahan mengering dan membentuk keropeng yang akan mengelupas. Anak yang berumur 12-18 bulan dan belum pernah menderita cacar air dianjurkan untuk menjalani imunisasi varisella. Anak-anak yang mendapatkan suntikan varisella sebelum berumur 13 tahun hanya memerlukan 1 dosis vaksin. Kepad aanak-anak yang berumur 13 tahun atau lebih, yang belum pernah mendapatkan vaksinasi varisella dan belum pernah menderita cacar air, sebaiknya diberikan 2 dosis vaksin dengan selang waktu 4-8 minggu. Cacar air disebabkan oleh virus varicella-zoster dan sangat menular. Biasanyainfeksi bersifat ringan dan tidak berakibat fatal, tetapi pada sejumlah kasus terjadi penyakit yang sangat serius sehingga penderitanya harus dirawat di rumah sakit dan beberapa diantaranya meninggal. Cacar air pada orang dewasa cenderung menimbulkan komplikasi yang lebih serius. Vaksin ini 90-100% efektif mencegah terjadinya cacar air. Terdapat sejumlah kecil orang yang menderita cacar air meskipun telah mendapatkan suntikan varisella, tetapi kasusnya biasanya ringan, hanya menimbulkan beberapa lepuhan (kasus yang komplit biasanya menimbulkan 250-500 lepuhan yang terasa gatal )dan masa pemulihannya biasanya lebih cepat. Vaksin varisella memberikan kekebalan jangka panjang, diperkirakan selama 10-20 tahun, mungkin juga seumur hidup. a.

Efek samping dari vaksin varisella biasanya ringan, yaitu berupa : Demam

b. c. a. b. c.

Nyeri dan pembengkakan di tempat penyuntikan Ruam cacar air yang terlokalisir di tempat penyuntikan

Efek samping yang lebih berat adalah : kejang demam, yang bisa terjadi dalam waktu 1-6 minggu setelah penyuntikan Pneumonia Reaksi alergi sejati (anafilaksis), yang bisa menyebabkan gangguan pernafasan, kaligata, bersin, denyut jantung yang cepat, pusing dan perubahan perilaku. Hal ini bisa terjadi dalam waktu beberapa menitsampai beberapa jam setelah suntikan dilakukan dan sangat jarang terjadi. Ensefalitis Penurunan koordinasi otot.

d. e. a. b. c. d.

Imunisasi varisella sebaiknya tidak diberikan kepada : Wanita hamil atau wanita menyusui Anak-anak atau orang dewasa yang memiliki sistem kekebalan yanglemah atau yang memiliki riwayat keluarga dengan kelainan Imunosupresif bawaan Anak-anak atau orang dewasa yang alergi terhadap antibiotik neomisin atau gelatin karena vaksin mengandung sejumlah kecil kedua bahan tersebut.

LO.5.5 Memahami dan Menjelaskan Mekanisme Vaksin dan Imunisasi Dilihat dari berapa kali pajanan antigen maka dapat dikenal dua macam respons imun, yaitu respons imun primer dan respons imun sekunder. Respons imun primer Respons imun primer adalah respons imun yang terjadi pada pajanan pertama kalinya dengan antigen. Antibodi yang terbentuk pada respons imun primer kebanyakan adalah IgM dengan titer yang lebih rendah dibanding dengan respons imun sekunder, demikian pula daya afinitasnya. Waktu antara antigen masuk sampai dengan timbul antibodi (lag phase) lebih lama bila dibanding dengan respons imun sekunder Respons imun sekunder Pada respons imun sekunder, antibodi yang dibentuk kebanyakan adalah IgG, dengan titer dan afinitas yang lebih tinggi, serta fase lag lebih pendek dibanding respons imun primer. Hal ini disebabkan sel memori yang terbentuk pada respons imun primer akan cepat mengalami transformasi blast, proliferasi, dan diferensiasi menjadi sel plasma yang menghasilkan antibodi. Demikian pula dengan imunitas selular, sel limfosit T akan lebih cepat mengalami transformasi blast dan berdiferensiasi menjadi sel T aktif sehingga lebih banyak terbentuk sel efektor dan sel

memori. Pada imunisasi, respons imun sekunder inilah yang diharapkan akan memberi respons adekuat bila terpajan pada antigen yang serupa kelak. Untuk mendapatkan titer antibodi yang cukup tinggi dan mencapai nilai protektif, sifat respons imun sekunder ini diterapkan dengan memberikan vaksinasi berulang beberapa kali.

Keberhasilan imunisasi tergantung pada beberapa faktor, yaitu status imun host, faktor genetik host, serta kualitas dan kuantitas vaksin. Adanya antibodi spesifik pada host terhadap vaksin yang diberikan akan mempengaruhi keberhasilan vaksinasi. Misalnya pada bayi yang semasa fetus mendapat antibodi maternal spesifik terhadap virus campak, bila vaksinasi campak diberikan pada saat kadar antibodi spesifik campak masih tinggi akan memberikan hasil yang kurang memuaskan. Demikian pula air susu ibu (ASI) yang mengandung IgA sekretori (sIgA) terhadap virus polio dapat mempengaruhi keberhasilan vaksinasi polio yang dlberikan secara oral. Tetapi umumnya kadar sIgA terhadap virus polio pada ASI sudah rendah pada waktu bayi berumur beberapa bulan. Pada penelitian di subbagian Alergi-Imunologi, Bagian IKA FKUI/RSCM, Jakarta ternyata sIgA polio sudah tidak ditemukan lagi pada ASI setelah bayi berumur 5 bulan. Kadar sIgA tinggi terdapat pada kolostrum. Karena itu bila vaksinasi polio secara oral diberikan pada masa kadar sIgA polio ASI masih tinggi, hendaknya ASI jangan diberikan dahulu 2 jam sebelum dan sesudah vaksinasi. Keberhasilan vaksinasi memerlukan maturitas imunologik. Pada bayi neonatus fungsi makrofag masih kurang, terutama fungsi mempresentasikan antigen karena

ekspresi HLA masih kurang pada permukaannya, selain deformabilitas membran serta respons kemotaktik yang masih kurang. Kadar komplemen dan aktivitas opsonin komplemen masih rendah, demikian pula aktivitas kemotaktik serta daya lisisnya. Fungsi sel Ts relatif lebih menonjol dibanding pada bayi atau anak karena memang fungsi imun pada masa intrauterin lebih ditekankan pada toleransi, dan hal ini masih terlihat pada bayi baru lahir. Pembentukan antibodi spesifik terhadap antigen tertentu masih kurang. Vaksinasi pada neonatus akan memberikan hasil yang kurang dibanding pada anak, karena itu vaksinasi sebaiknya ditunda sampai bayi berumur 2 bulan atau lebih. Status imun mempengaruhi pula hasil imunisasi. Individu yang mendapat obat imunosupresan, atau menderita defisiensi imun kongenital, atau menderita penyakit yang menimbulkan defisiensi imun sekunder seperti pada penyakit keganasan, juga akan mempengaruhi keberhasilan vaksinasi, bahkan adanya defisiensi imun merupakan indikasi kontra pemberian vaksin hidup karena dapat menimbulkan penyakit pada individu tersebut. Vaksinasi pada individu yang menderita penyakit infeksi sistemik seperti campak atau tuberkulosis milier akan mempengaruhi pula keberhasilan vaksinasi. Keadaan gizi yang buruk akan menurunkan fungsi sel sistem imun seperti makrofag dan limfosit. Imunitas selular menurun dan imunitas humoral spesifisitasnya rendah. Meskipun kadar globulin- normal atau bahkan meninggi, imunoglobulin yang terbentuk tidak dapat mengikat antigen dengan baik karena terdapat kekurangan asam amino yang dibutuhkan untuk sintesis antibodi. Kadar komplemen juga berkurang dan mobilisasi makrofag berkurang, akibatnya respons terhadap vaksin atau toksoid berkurang.

LI 6. Mampu Memahami dan Menjelaskan Vaksinasi dalam Sudut Pandang Islam Sebelum Rasulullah wafat, tepatnya ketika beliau khutbah pada haji wada, haji terakhir beliau atau dikenal sebagai haji perpisahan beliau dengan umat Islam, sempat berwasiat: Taraktu fiikum amraini. Lan tad}illu abada ma intamassaktum bihima kitaba-lla hi wa sunnata Rasu lihi Artinya: Aku tinggalkan kepadamu dua perkara. Kamu tidak akan tersesat selamanya selagi berpegang teguh keduanya, yaitu kitabullah (Alquran) dan Sunnah Rasulnya al-Hadis; Iwan Gayo, 2008: 36). Oleh karena masalah vaksinasi-imunisasi belum terjadi pada masa Rasulullah, maka belum ada petunjuk sedikitpun tentang imunisasi. Terhadap masalah yang bersifat kontemporer menjadi lapangan dan lahan bagi para ulama untuk melakukan ijtihad menemukan solusi hukum perkara tersebut haram atau halal, baik atau buruk, bermanfaat atau berbahaya bagi kesehatan. Para ulama dalam berijtihad untuk menetapkan hukum terhadap masalah-masalah kontemporer pasti tidak pernah menghasilkan keputusan ijmayyah amiyyah (kesepakatan umum), melainkan khlafiyyah (perbedaan pendapat diantara mereka). Bentuk khilafiyyah

yang paling ekstrim adalah halal atau haram. Tidak terkecuali mengenai vaksinasiimunisasi. Dalam Ilmu Fikih memang terdapat adagium Man laa yalamu khilaafiyyatan laa yalamu raaihatal fiqhi (Barang siapa tidak mengenal perbedaan pendapat, sesungguhnya ia tidak mengenal baunya Fikih). Baunya saja tidak mengetahui, apalagi ilmu fikihnya itu sendiri. Para ulama, pemikir, mujtahid ada yang menghukumi haram terhadap tindakan vaksinasi-imunisasi. Argumen yang diajukan antara lain memasukkan barang najis dan racun ke dalam tubuh manusia. Manusia iu merupakan khaifatullah fi al-ard} dan asyraf al-makhlu>qa>t (maskhluk yang paling mulia) dan memiliki kemampuan alami melawan semua mikroba, virus, serta bakteri asing dan berbahaya. Berbeda dengan orang kafir yang berpendirian manusia sebagai makluk lemah sehingga perlu vaksinasi untuk meningkatkatkan imunitas pada manusia.


Recommended