Home > Documents > Si Kaki Salju

Si Kaki Salju

Date post: 12-Jul-2016
Category:
Author: shinta-sabrina
View: 7 times
Download: 1 times
Share this document with a friend
Description:
berita pemanasan global
Embed Size (px)
of 18 /18
'Si Kaki Salju' yang Tahan dari Pemanasan Global Hewan sejenis kelinci dan rusa kutub Alaska justru diuntungkan dengan udara yang memanas Liputan6.com, Alaska - Pemanasan global sungguh hebat efeknya. Selain mampu menenggelamkan habis satu pulau, juga menjadi ancaman kepunahan beruang kutub.Namun, tulisan yang diterbitkan di jurnal Global Change Biology mengungkapkan makhluk ini justru diuntungkan dengan adanya pemanasan global . Ahli ekologi kehidupan kutub Ken Tape dan para wakil penulis mengutarakan fakta bahwa terwelu--kelinci besar -- jenis snowshoe dan rusa kutub di Alaska menjadi hewan yang tak terancam kelangsungan hidupnya oleh pemanasan global.
Transcript

'Si Kaki Salju' yang Tahan dari Pemanasan Global

Hewan sejenis kelinci dan rusa kutub Alaska justru diuntungkan dengan udara yang memanasLiputan6.com, Alaska -Pemanasan globalsungguh hebat efeknya. Selain mampu menenggelamkan habis satu pulau, juga menjadi ancaman kepunahan beruang kutub.Namun, tulisan yang diterbitkan di jurnal Global Change Biology mengungkapkan makhluk ini justru diuntungkan dengan adanyapemanasan global. Ahli ekologi kehidupan kutub Ken Tape dan para wakil penulis mengutarakan fakta bahwa terwelu--kelinci besar-- jenis snowshoe dan rusa kutub di Alaska menjadi hewan yang tak terancam kelangsungan hidupnya oleh pemanasan global."Udara yang memanas dan habitat semak-semak yang meluas menjadi alasan paling masuk akal bagi pertumbuhan terwelu jenis snowshoe di kutub Alaska," tulisnya. "Pertumbuhan terwelu snowshoe dan herbivora pemakan semak-semak di kutub sebagai respon perkembangan habitat semak-semak kontras dengan bagian lain, seperti berkurangnya mamalia laut seiring dengan berkurangnya es di lautan.Temperatur yang meningkat membuat musim semi lebih awal di Alaska Utara. Juga pada musim tumbuh lebih panjang, yang berarti semak-semak lebih besar.Dengan itu, terwelu bisa punya tempat persembunyian lebih besar dan makanan yang cukup. Akibatnya, makhluk kecil ini sering terlihat di beberapa area Alaska dimana mereka sebelumnya tak pernah terlihat.Hewan herbivora lainnya seperti rusa Amerika juga diuntungkan.

"Pada tahun 1800-an, tak ada terwelu snowshoe atau rusa di daerah tundra Alaska," ungkap Tape padaHuffington Post, dikutip Jumat (4/12/2015).Catatan menunjukkan bahwa rusa Amerika muncul tahun 30-an, diikuti dengan terwelu snowshoe tahun 1977."Keduanya mengikuti habitat semak-semak menuju Utara," ungkap Tape lagi."Kami menunjukkan bahwa pemanasan meningkatkan tinggi semak-semak. Sehingga dengan semak-semak lebih tinggi, terwelu maupun rusa lebih mudah menjadikannya daerah tinggal ."Selain terwelu snowshoe dan rusa Amerika, spesies lain yang bersuka cita atas pemanasan global antara lain adalah kutu rusa, semut merah, dan beberapa 'hama pertanian' lainnya. Namun, Tape mewanti-wanti agar tak menganggap riset ini sesuatu yang sepenuhnya membanggakan. Walau terwelu snowshoe hewan yang lucu, dan rusa Amerika bermanfaat sebagai bahan pangan, pertumbuhan tanaman bisa mendorong punahnya spesies tundra endemik.

2015 Jadi Tahun Terpanas Bumi Sepanjang Sejarah

Ilustrasi: akibat perubahan iklim dan pemanasan global (sumber: wisdominnature.org)Liputan6.com, Jakarta -Tahun 2015 diperkirakan akan jadi tahun terpanas sepanjang sejarah. Hal ini diketahui dari laporan awal terbaruWorld Meteorological Organization(WMO) yang dirilis baru-baru ini.

Dari perhitungan awal diketahui bahwa suhu permukaan rata-rata global tahun ini kembali menghangat. Hasil tersebut menjadikan periode 2011 sampai 2015 menjadi tahun terpanas yang pernah tercatat.

Dari Januari sampai Oktober 2015, suhu permukaan rata-rata global adalah sekitar 0,73 derajat celcius. Jumlah ini disebut lebih tinggi dari jumlah rata-rata kenaikan suhu dari 1961 sampai 1990 sebesar 14 derajat celciusKenaikan suhu hampir 1 derajat ini disebut akan jadi kenaikan terbesar selama masa pra-industri. WMO memperkirakan bahwa kenaikan suhu panas ini disebabkan oleh pemanasan global akibat ulah manusia dan badai El Nino.

"Keadaan iklim global pada tahun 2015 akan mencetak sejarah untuk sejumlah alasan," ungkap Michel Jarraud, Secretary General WMO, dalam laporan tersebut, seperti dikutip dari lamanTech Times, Jumat (27/11/2015).Jarraud menambahkan tahun ini tingkat gas rumah kaca di atmosfer mencapai tingkat tertinggi. Bahkan, untuk pertama kalinya konsentrasi rata-rata CO2 secara global mencapai 400 bagian per jutaan penghalang.

"Tahun ini kelihatannya akan jadi tahun terpanas sepanjang sejarah. Ini juga didukung juga temperatur permukaan laut saat ini berada di level tertingginya. Karenanya, kenaikan suhu sampai 1 celcius dapat terjadi. Dan, ini adalah berita buruk bagi planet ini," ujar Jarraud.

Tak hanya itu, dampak El Nino juga diperkirakan masih akan berlanjut sampai tahun depan. Beberapa daerah yang sudah terdampak di antaranya adalah Amerika Tengah dan Karibia.

Wilayah-wilayah tersebut saat ini diketahui sedang merasakan curah hujan di bawah rata-rata dan kekeringan. Tak hanya itu, meningkatnya kebakaran hutan karena rendahnya curah hujan di Indonesia diterangai juga dampak dari badai El Nino.

Rata-rata suhu permukaan laut secara global juga diperkirakan akan melampaui rekor tahun sebelumnya. Saat ini sendiri, Asia dan Amerika Selatan menjadi daerah yang paling panas. Sementara, wilayah Afrika dan Eropa di posisi setelahnya.

Kendati hasil temuan ini masih dalam tahap awal, rencananya hasil laporan ini digunakan untuk memulai negosiasi pada Climate Change Conference di Paris, mulai 30 November sampai 11 Desember mendatang.

2060, Persediaan Air Bumi Bakal Habis?Copy Link

Liputan6.com, California -Hasil penelitian terbaru soal ketersediaan kandungan air di Bumi baru saja diumumkan para ilmuwan National Academy of Sciences. Fakta temuan yang dibeberkan cukup mencengangkan. Diduga, umat manusia terancam akan kekurangan persediaan air pada tahun 2060.Seperti yang dilaporkanNature World Reportdan dikutip Rabu (18/11/2015), para ilmuwan awalnya menemukan kekurangan kandungan air di beberapa titik wilayah bagian utara Bumi. Seharusnya, kandungan salju yang mencair di bagian utara Bumi turut serta berkontribusi untuk menambah kandungan air Bumi.

Namun, massa salju tersebut terus-menerus menyusut seiring berjalannya waktu. Bahkan, para ilmuwan mengungkap jumlah tumpukan salju mampu berkurang begitu cepat hanya dalam waktu satu tahun, dari periode 2014 sampai 2015. Jika hal ini terus menerus terjadi, maka dipastikan pada tahun 2060, Bumi akan kehabisan kuota air.

Dampak global warming, tumpukan salju berkurang dalam waktu satu tahun, dari 2014 ke 2015 (Nature World Report)Padahal, terdapat sekitar 2 miliar manusia yang menghuni bagian utara Bumi. Akibatnya, pihak pengelola air harus berpikir mengakali keterbatasan kandungan air jika tumpukan salju sudah tidak ada lagi di Bumi.

Persediaan air yang terbatas ini pun mempengaruhi beberapa area, mulai dari lahan pertanian di California, Amerika Serikat, sampai area konflik Timur Tengah seperti Suriah dan Irak.Justin Mankin, penulis utama studi dari National Academy of Sciences dan ilmuwan dari Columbia University Earth Institute mengatakan bahwa pihak pengelola air di beberapa titik wilayah utara Bumi harus segera mengatur strategi terkait masalah serius ini."Mereka (para pengelola air) harus segera bertemu dan membuat kesepakatan bahwa mereka harus menemukan alternatif ketika mereka tak bisa memanfaatkan tumpukan salju yang mencair lagi. Ini adalah pembahasan jangka waktu panjang, harus didiskusikan dari sekarang,"Dilanjutkan Mankin, penyebab dari habisnya tumpukan salju ini tak lain dan tak bukan adalah karena dampak pemanasan global.

Bahkan, para pemimpin dunia menjadwalkan pertemuan untuk membahas isu tersebut pada akhir bulan ini hingga Desember mendatang. Rencananya, pertemuan tertutup ini akan dihelat di Paris.

Akibat Suhu Ekstrem, 4 Negara Ini Bakal 'Meleleh'

Liputan6.com, Massachusetts -Tahun 2100 menjadi masa yang kini diperbincangkan banyak orang. Pasalnya, NASA telah memprediksi lewat sebuahdatasetbahwa Bumi akan mengalami perubahan iklim besar, dan puncaknya akan terjadi pada tahun tersebut.Hal ini bahkan didukung dengan temuan terbaru para peneliti dari Massachusetts Institute of Technology dan Loyola Marymount University yang menjelaskan bahwa memang benar dalam waktu 85 tahun lagi, sebagian besar wilayah Bumi akan mengalami perubahan iklim di mana suhu akan meningkat lebih panas.Menurut informasi yang dilaporkanMirror,Kamis (29/10/2015), terdapat beberapa negara `hot spot` yang nantinya akan menjadi wilayah paling panas dari semua negara di Bumi.Tercatat, ada empat negara Timur Tengah yang konon akan memiliki perubahan iklim besar, negara tersebut meliputi Qatar, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Bahrain. Keempat negara itu akan memiliki puncak suhu temperatur ekstrem yang terpatok di angka 74 hingga 77 derajat Celsius."Ini memang masih menjadi prediksi yang terus diteliti, suhu temperatur tersebut kami nilai begitu panas untuk dirasakan tubuh manusia. Mereka tidak akan bisa bertahan dengan suhu seperti itu. Mereka bahkan tidak bisa pergi ke luar dengan keadaan demikian," tulis tim peneliti di jurnalNature Climate Change."Kami berusaha untuk mengekspos titik-titik wilayah yang sedang kami pelajari. Jika nantinya memang benar terjadi, kami khawatir akan terjadi ancaman pada kelayakhunian umat manusia di Bumi," tutur tim peneliti.Namun, jika benar hal demikian terjadi, para peneliti dapat mengakali peristiwa alam ini dengan mengontrol emisi karbon dioksida (CO2) di Bumi.Upaya pengendalian tim peneliti ini akan diadakan lewat sebuah seminar riset 'United Nations Climate Change Conference' yang akan diadakan di Paris pada November 2015. Seminar tersebut akan membahas perjanjian legal pengontrolan emisi CO2 di Bumi.

Sebagian Permukaan Bumi Bakal Membeku Selama 20 TahunCopy Link

Liputan6.com, Southampton -Isu perubahan iklim yang akan terjadi di Bumi kita masih terus diteliti oleh para ilmuwan. Jika sebelumnya NASA pernah memprediksikan bahwa Bumi akan mengalamiperubahan iklim besar-besarandalam kurun waktu 85 tahun lagi, kini para ilmuwan dari University of Southampton melontarkan sebuah prediksi bahwa iklim Bumi akan berubah seperti yang terjadi di filmThe Day After Tomorrow.Awalnya, peristiwa perubahan iklim yang terjadi di film tersebut sempat dibantah oleh para ilmuwan karena tidak masuk akal secara ilmiah. Namun, kini banyak yang beranggapan bahwa perubahan iklim yang akan terjadi di sebagian permukaan Bumi bisa sama persis dengan ada di film.Menurut informasi yang tim TeknoLiputan6.comlansir dari lamanInternational Business Times, Kamis (15/10/2015), para ilmuwan tersebut tengah meneliti teori ini.Dengan menggunakan model iklim ECHAM milik Jerman di Max Planck Insitute, Profesor Sybren Drijfhout yang juga merupakan pemimpin proyek penelitian dari Ocean and Earth Science University of Southampton, mengambil kesimpulan jika sistem Atlantic Meridional Overtuning Circulation (AMOC) yang berada di Samudera Atlantik bisa ambruk karena efek pemanasan global (seperti yang terjadi di filmThe Day After Tomorrow), maka sebagian besar permukaan Bumi akan membeku kurang lebih selama 20 tahun lamanya.

Data perubahan iklim Bumi yang diteliti oleh para ilmuwan di University of Southampton (Doc: IB Times)Di saat yang sama, ia melanjutkan, pemanasan global justru terus akan berlanjut dengan temperatur global sebesar 0.8 derajat Celsius.

"Bumi akan pulih dari runtuhnya AMOC pada 40 tahun setelahnya, namun pemanasan global akan terus-menerus terjadi. Tetapi, di dekat lokasi perbatasan timur Atlantik Utara (kepulauan Inggris) harus membutuhkan waktu sekitar lebih dari 1 abad agar suhunya kembali seperti sedia kala," tuturnya."Saya melihat dari sebuah studi yang juga dipublikasikan di Scientific Report, menjelaskan bahwa efek pendinginan atmosfer dari runtuhnya AMOC ini terjadi karena aliran panas yang terhantar dari atmosfer ke dalam samudera. Ini telah kami amati selama 15 tahun terakhir melewati berbagai jeda iklim," tambahnya.Terlepas dari semua teori yang dilontarkan ilmuwan, mungkin kini sudah saatnya manusia sadar akan pentingnya dampak dari pemanasan global dengan melestarikan lingkungan sebelum Bumi semakin menua.

10 Negara Penyumbang Rusaknya Kesehatan Bumi

Pemanasan global dan tak menentunya iklim di dunia telah menjadi tanda jika bumi yang kita pijak ini sudah tidak sehat lagi.Citizen6Pemanasan global dan tak menentunya iklim di dunia telah menjadi tanda jika bumi yang kita pijak ini sudah tidak sehat lagi. Penebangan hutan, pencemaran lingkungan, serta limbah pabrik yang tidak diolah dengan baik telah menjadi luka yang sangat menyakitkan bagi bumi. Kita sebagai manusia memang tidak bisa merasakan sakitnya, namun dampak dari sakitnya bumi bisa kita lihat sekarang.Banyak orang yang mengeluh karena ekstrimnya cuaca dan banyak orang yang kelaparan karena hilangnya air bersih dalam tanah. Bumi yang sekarang memang berbeda dengan bumi yang ada di masa lalu. Salah satu penyebab rusaknya bumi ini adalah perkembangan teknologi serta pembangunan yang meraja lela. Hutan hijau pun mulai banyak digunduli untuk dijadikan sebuah pemukiman bagi banyak orang.Padahal kita tahu hutan hijau adalah paru-paru dunia yang sangat kita butuhkan. Terlepas dari itu, kesadaran akan pentingnya kelestarian alam memang belum disadari banyak orang. Hanya karena kepuasan pribadi, banyak orang rela membakar hutan dan membuang limbah sembarangan. Seperti yang dilakukan oleh negara-negara berikut ini, demi kelangsungan hidup negaranya, hutan hijau pun mereka hancurkan. Selengkapnya bisa Anda baca disini.

Krisis Air Intai Masyarakat Indonesia

Indonesia khususnya Jakarta terancam mengalami krisis air jika pemerintah tak segera mengambil langkah nyata untuk menjaga pasokan air di negara ini.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, perubahan global yang terjadi telah merubah lingkungan menjadi semakin buruk.

"Sisi lain perubahan terjadi secara global saat ini yang disebut degradasi lingkungan juga mempengaruhi permukaan laut meningkat 0,5 cm pertahun," ujar dia, Selasa (26/11/2013).

Hal tersebut dapat terlihat dari penurunan permukaan tanah. Kondisi ini membuat beberapa tempat di Indonesia mengalami banjir saat air laut pasang. Bahkan telah menenggelamkan beberapa pulau.

Selain itu, terjadinya perluasan resapan air laut yang mengancam keberadaan air tanah tidak bisa lagi dimanfaatkan masyarakat.

"Saya sedikit melihat yang terjadi permukaan akan meluas, induksi air laut mempengaruhi air tanah, banjir pinggir pantai mungkin menenggelamkan beberapa pulau. Ternyata pulau kita itu sekarang tidak 17 ribu ternyata sudah 16 sekian. Apakah satelitnya lebih tajam, atau beberapa pulau telah tengelam," jelas dia.

Selain itu, menurut dia, perubahan iklim memberikan dampak pada sektor pertanian, pangan, sumber daya alam, dan keanekaragaman hayati.

Hal ini akan membuat Indonesia khususnya Jakarta mengalami krisis air. Jabodetabek sediri sudah mengalami krisis air 7 milimeter (mm) kubik per detik.

"Integritas neraca, lingkungan air menjadi dalam upaya percepatan pembangunan ekonomi, terutama Jawa yang defisit sangat serius, tanpa perubahan iklim wilayah Jawa krisis air, utara pulau Jawa krisis sumber daya air," ungkap dia.

Dirinya mengungkapkan, untuk mengatasi hal tersebut butuh gagasan besar, selain itu juga perlu kendaraan untuk mengelola air dengan baik.

"Harus perlu gagasan besar. Curah hydrologis ke depan defisit sumber daya alam air bisa dihindari kalau mengelola cerdas dan bijak," pungkas dia.


Recommended