Home >Documents >Seni Dan Budaya Budaya Jawa

Seni Dan Budaya Budaya Jawa

Date post:27-Jun-2015
Category:
View:718 times
Download:6 times
Share this document with a friend
Transcript:

Seni dan Budaya Politik JawaRachmat Susatyo

i

SENI DAN BUDAYA POLITIK JAWA

Rachmat Susatyo

Koperasi Ilmu Pengetahuan Sosial 2008

ii

KATA PENGANTAR

Bagi orang Jawa, pengaruh keseian wayang n dalam kehidupan nyata sangat b esar. Cerita wayang maupun tokoh-tokoh wayang s eringkali mengilhami sikap hidupnya, baik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Tidak kurang dari Soeharto, presiden kedua negara kita. Me njelang kejatuhannya, dia pernah mengatakan akan men gundurkan diri dan akan lebih meningkatkan kehi dupan rohaninya. Seperti para raja ksatria dalam tokoh pewayangan, jika sudah tua tidak mau lagi menja raja; dan akan di mengabdikan dirinya untuk meni ngkatkan amal ibadahnya dengan menjadi seora pendeta. Dalam ng istilah pewayangan, sering dis ebut dengan: lengser keprabon, mandeg pandita. Nama-nama para tokoh pewayangan, utamanya para ksatria, juga banyak digu nakan untuk memberi nama anak-anaknya. Agar si anak memiliki sifat seperti nama yang disandangnya. Sebaga contoh, nama i Wisnu, Bima, Harjuna, dan la in-lain sering diambil dan dijadikan sebagai nama ses eorang. Pemberian

iii

nama tokoh-tokoh wayang kepada seseorang, patut diduga tidak terdapat dalam (etnis) lain di Indonesia. Walaupun kesenian wayang (golek) juga terdapat dalam masyarakat Sunda, namun pengaruhnya tidak sekuat seperti dalam masyaraka Jawa. Kesenian t pertunjukan wayang, walaupun sekarang sudah mulai jarang, namun masih sering dit ampilkan dalam berbagai kesempatan, seperti: acara perkawinan, atau bahkan kenegaraan yang diadaka oleh pimpinan n pemerintahan dari etnis Jawa. elain itu, kesenian S wayang juga masih ditampilkan dalam acara di media elektronika, seperti televisi. Buku ini tentu saja hanya meng ungkapkan secara garis besarnya saja, te tang kesenian wayang n dan budaya Jawa yang sedikit anyak mendapat b pengaruh dari kisah pewayangan Kritik dan saran . yang bersifat membangun guna kesempurnaan tulisan ini, sangat penulis harapkan.

Bandung, 2008

Penulis

iv

DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR ......................................................... DAFTAR ISI ........................................................................... BAGIAN PERTAMA PASANG SURUT SENI TRADISIONAL..................... 1 Pengaruh Alat-alat Elektronika Terhadap Kesenian Tradisonal Di Jawa....................................................................... 6 Komersialisasi Seni Tradisional.................................................. 9 BAGIAN KEDUA PERKEMBANGAN SENI PERTUNJUKAN WAYANG di JAWA.................................................................... 12 Silhouet Sebagai Awal Seni Pertunjukan Wayang .................... 12 Relief Sebagai Seni Pertunjukan Wayang.................................. 27 Awal Seni Pertunjukan Wayang Purwa .................................... 30 Tantangan di Masa Depan ......................................................... 35 BAGIAN KETIGA BUDAYA MASYARAKAT JAWA ....................................... 38 Etika Budaya Jawa ...................................................................... 42 Nilai-nilai Dasar Orang Jawa..................................................... 52 BAGIAN KEEMPAT KONSEP KEKUASAAN JAWA DAN PENERAPANNYA ............................................................................................... 56 Penerapan Konsep Kekuasaan Jawa Pada Masa ii iv

v

Pemerintahan Raja-Raja Mataram ........................................... 61 Peran Budaya Jawa dalam Kehidupan Berbangsa ............... 69 DAFTAR SUMBER ................................................................. 80

Bagian Pertama

PASANG SURUT SENI TRADISIONALKesenian, merupakan salah satu sistem kebudayaan universal yang terd apat disetiap masyarakat di dunia. Dengan demikian, kesenian pasti terdapat di semua masyar akat, termasuk masyarakat dari etnis Jawa. Salah satu kesenian yang sangat berperan besar dal kehidupan am masyarakatnya, adalah kesenian wayang yang mendapat pengaruh dari India. Pengaruh dari India ini begitu menonjolnya, terutama karena pengaruh ajaran Hindu yang udul begitu mengakar dan ma syarakat dalam kehidupan orang Jawa. Sejalan dengan semakin majunya suatu masyarakat, atau bangsa, semak besar in pengaruh yang masuk dan diteri oleh ma masyarakat bersangkutan. Salah satu faktor penting yang berperan besar da lam kehidupan masyarakat, adala h pengaruh teknologi informasi.

2

Meningkatnya sarana dan prasar ana informasi dewasa ini, terutama sarana dan prasarana teknologi informasi elektronika, seperti radio dan televisi selain memberi dampak positif, ternyata juga membawa dampak negatif. Salah satu dampak negatif dari radio dan televisi, adalah semakin menurunnya mina masyarakat t untuk menyaksikan secara langs ung seni pertunjukan tradisional, seperti seni pertunjukan wayang. Baik itu seni pertunju kan, seni wayang kulit, wayang orang wong), maupun wayang ( golek. Wayang kulit dan wayangwong sangat populer di masyarakat Jawa, se dangkan wayang golek terutama banyak dipentaskan dan disenangi masyarakat Sunda. Seni wayang Golek sesungguhnya pernah juga terda di pat masyarakat Jawa, tetapi dalam perkembangannya, kalah bersaing dengan kesenian wayang kulit atau ang wong. way Sehingga sekarang ini hanya waang kulit dan y wayang wong lah yang dapat bertahan di masyarakat Jawa. Seperti diketahui, hampir semu kesenian a wayang biasanya ditampilkan ka ji ada permintaan untuk tampil dengan sistem kontrak. Baik itu kontrak antara grup esenian wayang k dengan perorangan, maupun kont antara rak grup wayang dengan salah satu instansi, termasuk televisi. Selain tampl dengan sistem i kontrak, di Jawa khususnya, pertunjukan wayang wong juga tampil secara rutin disebuah gedung

3

pertunjukan. Para penontonnya harus membeli tiket masuk, dan pemasukan dari penjualan tiket inilah yang menjadi tulang pungung eksisnya g pertunjukan wayang wong. Dengan semakin menurunnya jumlah penonton, maka pendapatannya juga sema kin menurun. Padahal pada umumnya, para senimannya menggantungkan hidupnya dari seni yang digelutinya ini. Sehingga menurunnya jumlah pendapatan atau gaji me reka. Padahal, mereka bukan saja menanggung idup diri h sendiri, tetap juga keluarganya. Suramnya i kehidupan mereka sudah barangtentu juga berakibat suramnya seni pertunjukannya. Melihat kenyataan semacam ini, memang ada usaha-usaha dari pihak pemerintah darah e maupun pusat yang berusaha mel estarikannya, dengan cara member ikan subsidi dana. Seperti yang dilakukan oleh pemerintah daerah Jawa Tengah. Namun demikian, subsid ini tentunya i tidak dapat mencukupi kebutuha nnya, yang terutama dari hasil penjualantiket masuk. Akibatnya, banyak dari seni tradisional ini, yang pernah mengalami masa kejayaannya, tepaksa r harus gulung tikar dan tidak m ampu bertahan hidup sampai sekarang. Wayang Orang Ngesti Pandowo ng ya mendapat bantuan keuangan dari pemerintah daerah, nampaknya juga akan be rnasib sama. Mereka baru dapat mementaskan jika jumlah penontonnya dirasa cukup banya sehingga k,

4

jumlah uang masuk yang diperol akan dapat eh menutup biaya produksinya. Syu dapat kur memperoleh kelebihan. Mengenai gulung tikarnya beber apa seni pertunjukan tradisional, sperti Ketoprak, Wayang Orang, drama tradisional, dapat diliha dengan t bubarnya beberapa kelompok yang pernah jaya dimasa lalu, misalnya: Kelompo Dagelan k Matara, Sri Mulat dan lainlain. Sementara itu, yang masih tetap bertahan samp sekarang, ai mengalam nasib hidup segan, m tak mau. ati Di beberapa daerah, terutama id pantai utara Jawa Barat, seperti: Indramayu Subang, dan , Purwakarta, memang sampai seka rang masih tumbuh subur seni pertunjukan drama tradisional, namun kelangsunga hidupnya n dimasa mendatang juga perlu pertanyakan. di Seni pertunjukan yang ada di daera tersebut h dewasa ini sangat tergantung ada kehidupan p keberhasilan panen padi para ani, n t amun mengingat sekarang ini semakin meluasnya kawasan industri di daerah sebut, juga ter pemukiman, maka bisa diperkira kan kelangsungan seni tradisional juga semakin menghawatirkan. Hal ini tidak lain disebabkan, karena areal sawah yang ada searang semakin k sempit, dan para petani mulai beralih mata pencahariannya dari tani ke in dustri. Terjadinya mobilitas lapangan kerja semac ini, suda am h barang tentu akan menggeser lai-nilai ni masyarakat yang ada. Dari masyarakat agraris ke

5

masyarakat industri, selain da pak positif dari m kemajuan taraf kehidupannya, ekaligus juga s berdampak negatif bagi orientasi idolanya. Masyarakat industri cenderung konsumeristis, nilai status soial seseorang di s masyarakat bukan lagi diukur o kepemilikan leh sawah yang luas atau jumlah rbau yang ke banyak, tetapi sudah berganti dengan berbagai barang elektronika atau mekanik, seperti: radio, televisi, motor, mobil, dan lain-lain. Glamournya para bintang layar kaca atau layar perak menjadi idola barunya dan bukan lagiprimadona atau tokoh-tokoh seni atau tradisional di daerahnya. Apalagi dengan terjadinya arus globalisasi informasi seperti sekarang ini akan semakin , menurunkan minat masyarakat untuk menikmati seni pertunjukkan tradisional yang ada. Mudahnya menikmati berbagai hi buran yang disajikan oleh media elektroni a, menyebabkan k orang enggan untuk bersusah yah pa mengeluarkan biaya, waktu dan tenaga untuk mencari hiburan di luar rumahnya. Terlebih lagi, hiburan yang disajikan selain memiliki variasi banyak, juga memiliki pesona yang banyak pula. Sehingga tidak jarang, kehadir n hiburan yang a disajikan menimbulkan berbagai silang pendapat di antara warga masyarakat.

6

Pengaruh Alat -Alat Elektronika Terhadap Kesenian Tradisional di Jawa Seni pertunjukkan wayang, sepe halnya rti seni-seni pertunjukkan lainnya di ndonesia, I pada mulanya adalah suatu kegi yang atan sifatnya ritual. Akan tetapi ama kelamaan seni l yang sakral ini m