Home >Documents >Seminar Skizofrenia Komplit

Seminar Skizofrenia Komplit

Date post:10-Apr-2018
Category:
View:220 times
Download:0 times
Share this document with a friend
Transcript:
  • 8/8/2019 Seminar Skizofrenia Komplit

    1/26

    1

    A. DEFINISIDi bawah ini merupakan berbagai definisi Skizofrenia:

    1.

    Skizofrenia adalah kekacauan jiwa yang serius ditandai dengankehilangan kontak pada kenyataan (psikosis), halusinasi, khayalan

    (kepercayaan yang salah), pikiran yang abnormal dan menggangu

    kerja dan fungsi sosial (DSM-IV-TR, 2008)

    2. Skizofrenia adalah sekelompok reaksi psikotik yang mempengaruhi berbagai area fungsi individu, termasuk berpikir dan berkomunikasi,

    menerima dan menginterpretasikan realitas, merasakan dan

    menunjukkan emosi dan berperilaku dengan sikap yang tidak dapat

    diterima secara sosial (Durand dan Barlow, 2007)

    3. Skizofrenia adalah penyakit otak yang timbul akibatketidakseimbangan pada dopamine, yaitu salah satu sel kimia dalam

    otak. Ia adalah gangguan jiwa psikotik paling lazim dengan ciri

    hilangnya perasaan afektif atau respon emosional dan menarik diri dari

    hubungan antarpribadi normal, sering kali diikuti dengan delusi

    (keyakinan yang salah) dan halusinasi (persepsi tanpa ada rangsangan

    panca indera) (Arif, 2006).

    Dari beberapa definisi di atas, penulis menyimpulkan bahwa

    Skizofrenia adalah gangguan jiwa serius yang bersifat psikosis sehingga

    penderita kehilangan kontak dengan kenyataan dan mempengaruhi

    berbagai fungsi individu, seperti afeksi dan kognitif.

    B. JENIS-JENIS SKIZOFRENIATerdapat berbagai macam skizofrenia, yaitu sebagai berikut:

    1. Skizofrenia simplexYaitu skizofrenia yang sering timbul pertama kali pada masa pubertas

    (pada beberapa kasus). Gejala utamanya adalah kedangkalan emosi

    dan kemunduran kemauan. Gangguan proses berpikir biasanya

    ditemukan, waham dan halusinasinya jarang sekali ada.

  • 8/8/2019 Seminar Skizofrenia Komplit

    2/26

    2

    2. Jenis hebrefenikYaitu jenis skizofrenia yang permulannya perlahan-lahan dan sering

    timbul pada masa remaja atau antara 15-25 tahun. Gejala yang

    menyolok ialah gangguan proses berfikir, gangguan kemauan dan

    adanya depersonalisasi.

    3. Jenis katatonikYaitu jenis skizofrenia yang timbulnya pertama kali antara umur 15-30

    tahun, biasanya akut serta didahului oleh stres emosional. Skizofrenia

    jenis ini melibatkan aspek psikomotorik. Skizofrenia jenis katatonik

    terbagi menjadi 2, yaitu:

    a. Stupor Katatonik, merupakan gangguan di mana penderita tidakmenunjukkan perhatian sama sekali pada lingkungan. Gejala yang

    muncul di antaranya adalah mutisme (kadang-kadang mata

    tertutup) dan muka tanpa mimik

    b. Gaduh Gelisah Katatonik, merupakan skizofrenia jenis katatonikdi mana terdapat hiperaktivitas, tetapi tidak disertai dengan emosi

    dan rangsangan dari luar.

    4. Jenis ParanoidJenis skizofrenia ini agak berbeda dari jenis-jenis yang lain dalam

    jalannya jenis penyakit. Jenis ini mulai sesudah umur 30 tahun,

    penderita mudah tersinggung, cemas, suka menyendiri, agak congkak

    dan kurang percaya pada orang lain. Hal ini dilakukan penderita

    karena adanya waham kebesaran dan atau waham kejar ataupun tema

    lainnya disertai juga dengan halusinasi yang berkaitan.

    5. Skizofrenia ResidualYaitu jenis skizofrenia dengan gejala mengalami gangguan proses

    berpikir, gangguan afek dan emosi, ganguan emosi serta gangguan

    psikomotor. Namun, tidak ada gejala waham dan halusinasi. Keadaan

    ini timbul sesudah beberapa kali serangan skizofrenia.

  • 8/8/2019 Seminar Skizofrenia Komplit

    3/26

    3

    6. Jenis Skizo-AfektifYaitu jenis skizofrenia yang selain gejala-gejalanya yang menonjol

    secara bersamaan juga gejala-gejala depresi atau gejala-gejala mania

    menyertai. Jenis ini cenderung untuk menjadi sembuh tanpa efek tetapi

    mungkin juga seringkali timbul lagi.

    C. SEBAB-SEBAB (BIOPSIKOSOSIALSPIRITUAL)Ada beberapa teori yang mungkin bisa menjelaskan penyebab

    skizofrenia. Adapun teori-teori tersebut seperti tersebut di bawah ini:

    1. Teori NeurotransmitterDi dalam otak manusia terdapat berbagai macam neurotransmitter,

    yaitu substansi atau zat kimia yang bertugas menghantarkan impuls-

    impuls saraf. Ada beberapa neurotransmitter yang diduga berpengaruh

    terhadap timbulnya skizofrenia. Dua di antaranya yang paling jelas

    adalah neurotransmitter dopamine dan serotonin. Berdasarkan

    penelitian, pada pasien-pasien dengan skizofrenia ditemukan

    peningkatan kadar dopamine dan serotonin di otak secara relatif.

    Menurut Mesholam Gately et.al dalam jurnal Neurocognition in

    First-Episode Schizophrenia: A Meta Analytic Review (2009),gangguan neurokognisi adalah fitur utama pada episode pertama

    penderita skizofrenia. Gangguan tersebut membuat sistem kognisi

    tidak dapat bekerja seperti kondisi normal.

    2. Teori GenetikDiduga faktor genetik juga berpengaruh terhadap timbulnya

    skizofrenia. Walaupun demikian, terbukti dari penelitian bahwa

    skizofrenia tidak diturunkan secara hukum Mendeell (jika orang tua

    skizofrenia, belum tentu anaknya skizofrenia juga). Dari penelitian

    didapatkan prevalensi sebagai berikut:

    Populasi umum 1% Saudara Kandung 8%-10% Anak dengan salah satu orang tua skizofrenia 12%-15%

  • 8/8/2019 Seminar Skizofrenia Komplit

    4/26

    4

    Kembar 2 telur (dizigot) 12%-15% Anak dengan kedua orang tua skizofrenia 35%-40% Kembar monozigot 47%-50%

    Sampai saat ini, belum ada hal yang pasti mengenai penyebab

    skizopfrenia. Namun demikian peneliti-peneliti meyakini bahwa

    interaksi antara genetika dan lingkungan yang menyebabkan

    skizofrenia. Menurut Imransyah, bahwa hanya 10% dari genetika yang

    dapat menyebabkan skizofrenia, sedangkan Hawari (Arif, 2006)

    mengakui bahwa skizofrenia dapat dipicu dari faktor genetik. Namun

    jika lingkungan sosial mendukung seseorang menjadi pribadi yang

    terbuka maka sebenarnya faktor genetika ini bisa diabaikan. Namun

    jika kondisi lingkungan mendukung seseorang bersikap asosial maka

    penyakit skizofrenia menemukan lahan suburnya.

    Penelitian lain dari Clarke et al yang berjudul Evidence for an

    Interaction Between Familial Liability and Prenatal Exposure to

    Infection in the Causation of Schizophrenia (2009), menyebutkan

    bahwa Komplikasi kelahiran dan keluarga yang memiliki resiko

    psikotik terbukti menyebabkan skizofrenia dengan persentase resiko

    38% - 46%.

    3. Predisposisi GenetikaMeskipun genetika merupakan faktor resiko yang signifikan,

    belum ada penanda genetika tunggal yang diidentifikasi. Kemungkinan

    melibatkan berbagai gen. Penelitian telah berfokus pada kromosom 6,

    13, 18, dan 22. Resiko terjangkit skizofrenia bila gangguan ini ada

    dalam keluarga, yaitu satu orang tua yang terkena 12%-15%, kedua

    orang tua terkena penyakit ini resiko 35%-40%, saudara sekandung

    terjangkit resiko 8%-10%, kembar dizigotik yang terkena resiko 12%-

    15%, bila kembar monozigotik yang terkena resiko 47%- 50%.

    Para ilmuwan sudah lama mengetahui bahwa skizofrenia

    diturunkan, 1% dari populasi umum tetapi 10% pada masyarakat yang

    mempunyai hubungan derajat pertama seperti orang tua, kakak laki

  • 8/8/2019 Seminar Skizofrenia Komplit

    5/26

    5

    laki ataupun perempuan dengan skizofrenia. Masyarakat yang

    mempunyai hubungan derajat ke dua seperti paman, bibi, kakek /

    nenek dan sepupu dikatakan lebih sering dibandingkan populasi

    umum. Kembar identik 40% sampai 65% berpeluang menderita

    skizofrenia sedangkan kembar dizigotik 12%. Anak dan kedua orang

    tua yang skizofrenia berpeluang 40%, satu orang tua 12 % (Makalah

    pembahas).

    Lenzenweger, Mark et al. dalam jurnal Resolving The Latent

    Structure of Schizophrenia Endophenotypes Using Expectation-

    Maximization-Based Finite Mixture Modelling(2007) melakukan

    penelitian mengenai struktur laten fenotip pada beberapa subjek yang

    diindikasikan skizofrenia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek

    tersebut memiliki kecenderungan kepribadian skizotipal yang sangat

    berpotensi untuk mengarah pada gangguan psikotik.

    4. Abnormalitas Perkembangan SyarafPenelitian menunjukkan bahwa malformasi janin minor yang

    terjadi pada awal gestasi berperan dalam manifestasi akhir dari

    skizofrenia. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan

    saraf dan diidentifikasi sebagai resiko yang terus bertambah, meliputi

    individu yang ibunya terserang influenza pada trimester kedua,

    individu yang mengalami trauma atau cedera pada waktu dilahirkan,

    dan penganiayaan atau trauma di masa bayi atau masa anak-anak.

    5. Abnormalitas Struktur dan aktivitas OtakPada beberapa subkelompok penderita skizofrenia, teknik

    pencitraan otak (CT, MRI, dan PET) telah menujukkan adanya

    abnormalitas pada struktur otak yang meliputi pembesaran ventrikel,

    penurunan aliran darah ventrikel, terutama di korteks prefrontal

    penurunan aktivitas metaolik di bagian-bagian otak tertentu atrofi

    serebri. Ahli neurologis juga menemukan pemicu dari munculnya

    gejala skizofrenia. Pada para penderita skizofrenia diketahui bahwa

    sel-sel dalam otak yang berfungsi sebagai penukar informasi mengenai

  • 8/8/2019 Seminar Skizofrenia Komplit

    6/26

    6

    lingkungan dan bentuk impresi mental jauh lebih tidak aktif dibanding

    orang normal.

    Temuan ini bisa menjabarkan dan membantu pengobatan

    munculnya halunisasi dan gangguan pemikiran pasien skizofrenia,

    demikian menurut tim dari Harvard Medical School. Pada saat yang

    sama para ilmuwan memonitor gelombang otak partisipan dengan

    menggunakan alat electro

Click here to load reader

Embed Size (px)
Recommended