Home >Documents >Sejarah Seni Lukis Di Indonesia

Sejarah Seni Lukis Di Indonesia

Date post:04-Aug-2015
Category:
View:79 times
Download:5 times
Share this document with a friend
Transcript:

Kelompok 4 : 1. Danar Budianto 2. Jen Riki Fanani 3. Mahendra Githa Sigit 4. Sulthon Arif Al Af Ghany 5. Yahya Rizki Darmawan 6. Yogha Andrey Pradana (06) (14) (16) (28) (30) (32)

Seni Rupa Zaman PenjajahanS

Kelas XI IA6

SMAN 1 Blitar

Sejarah seni lukis di IndonesiaSeni lukis modern Indonesia dimulai dengan masuknya penjajahan Belanda di Indonesia. Kecenderungan seni rupa Eropa Barat pada zaman itu ke aliran romantisme membuat banyak pelukis Indonesia ikut mengembangkan aliran ini. Awalnya pelukis Indonesia lebih sebagai penonton atau asisten, sebab pendidikan kesenian merupakan hal mewah yang sulit dicapai penduduk pribumi. Selain karena harga alat lukis modern yang sulit dicapai penduduk biasa. Masuknya pengaruh kebudayaan Eropa dimulai juga melalui aktivitas perdagangan dengan bangsa Portugis pada pertengahan abad 16. Komoditas utama yang diperdagangkan adalah rempahrempah, selanjutnya disusul oleh kedatangan bangsa Belanda, Spanyol, dan Inggris. Persaingan ketat dari ketiga bangsa tersebut dalam perdagangan di Indonesia akhirnya dimenangkan oleh Belanda dengan mendirikan VOC. Dari awalnya berdagang berlanjut menjadi pendudukan dan menguasai pemerintahan berkepanjangan hingga tiga setengah abad dan berakhir tahun 1945. Peninggalan Belanda yang paling penting diwarisi Indonesia saat ini adalah Agama Katholik dan Kristen, sistem pendidikan, serta beberapa infrastruktur berupa jalan dan bangunan fisik. Pengaruh seni rupa Barat diduga telah mulai masuk ke Indonesia pada abad ke-16 dibawa oleh para pedagang V.O.C yang digunakan untuk hadiah kepada para pembesar kerajaankerajaan di Nusantara, seperti lukisan besar yang diberikan kepada seorang raja di Bali, Sultan Palembang, dan raja Surakarta.

1

Arsitektur Zaman PenjajahanHubungan Belanda dengan Indonesia, khususnya Batavia, dimulai pada tahun 1619 dengan didirikannya Batavia oleh Jan Pieterszoon Coen. Permukiman ini dirancang sesuai model Belanda, dengan jalanjalan lurus dan kanal. Permukiman ini dikelilingi dinding yang berfungsi sebagai benteng, Het Kasteel, yang telah dibangun sebelumnya sebagai pos perdagangan. Pada pertengahan abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20, merupakan periode terpenting bagi arsitektur dan pengembangan perkotaan Belanda dan Indonesia. Sejak 1870 banyak perusahaan, dari Belanda maupun seluruh Eropa, mendirikan kantor di Hindia Belanda Timur. Setelah 1910, perkembangan ekonomi di Hindia Belanda Timur dan pertumbuhan populasi orang-orang Eropa mengarah kepada ledakan dalam hal konstruksi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kehidupan di koloni harus dibuat menyenangkan dan menarik mungkin dan perlu untuk segera membangun infrastruktur bagi kepentingan masyarakat. Meskipun bangunan tersebut hampir secara khusus untuk kepentingan sebagian kecil penduduk Eropa, ide yang mendasari di balik Het Indische Bouwen, sebagaimana orang Indonesia menyebut arsitektur Hindia Belanda Timur dari tahun 1900-an, adalah bahwa harus ada sebuah perpaduan antara struktur dan teknik modern berorientasi barat dan bentuk-bentuk seni timur. Dengan kata lain, gaya bangunan dipinjam dari bentuk tradisional, dengan memperhitungkan setiap aspek dari kondisi iklim lokal. Rancangan para arsitek Belanda ini selalu memperhatikan keadaan alam Indonesia, sebagai negara tropis. Bukan saja bahan bangunan, tetapi terutama juga model bangunannya, bagaimana bangunan itu harus akrab dengan udara tropis. Misalnya dengan atap tinggi untuk menghindari panas, atau dengan banyak jendela dan seterusnya. Gaya ini disebut sebagai gaya Indo-Eropa. Seorang pengunjung ke Jakarta masa kini akan menemukan bahwa sangat sedikit pengingat masa lalu kota atau petunjuk bagaimana rumah bagi lebih dari sembilan juta orang tumbuh menjadi seperti sekarang ini. Tidak banyak bangunan tua dan penunjuk tersisa dan sulit membayangkan Jakarta akan tampak seperti apa seabad atau lebih yang lalu. Gambar dari paruh kedua abad ke-18 menunjukkan bahwa ada banyak rumah-rumah pribadi besar sepanjang Molenvliet dengan pekarangan mewah dan kebun yang rumit, salah satu yang masih2

bertahan sampai hari ini dengan bentuk aslinya, adalah Gedung Arsip walaupun dengan pekarangan yang lebih kecil. Gambar dari kemewahan dan kemegahan tersebut memberikan Batavia julukan Ratu dari Timur. Oleh karena itu, saya akan menulis tentang beberapa bangunan, yang salah satu diantaranya sudah ada sejak tahun 1760-an, jadi secara langsung menjadi bagian sejarah kota.

De Klerks LandhuisBangunan ini dibangun pada tahun 1760 oleh Reinier de Klerk yang juga tercatat sebagai GubernurJenderal VOC pada tahun 1778-1780. Gedung ini didirikan sebagai rumah peristirahatan bagi Reinier de Klerk. Saat itu, kawasan

Molenvliet West, tempat gedung ini dibangun terletak jauh dari pusat kota dan lebih sehat dibandingkan pusat kota Batavia yang berada di dalam benteng dan waktu itu sedang terkena wabah malaria. Seperti halnya Gedung Arsip, bangunan-bangunan lain di kawasan ini juga mempunyai area yang luas, bangunan-bangunan tersebut juga besar dan dilengkapi dengan kebun di halaman depan dan belakang. Desain dari Gedung Arsip ini, pada awalnya berbentuk U dengan bangunan tambahan di bagian belakangnya. Bangunan utama terdiri dari dua lantai, dibangun menggunakan bata merah dengan atap yang tinggi. Denah bangunannya mencerminkan denah rumah yang besar dan klasik dengan aksis utama barat-timur dan aksis kedua utaraselatan. Lantai dasarnya luas. Pintu utamanya tinggi dihiasi lubang ventilasi yang indah di atasnya. Di lantai inilah gubernur-jenderal menerima tamu-tamunya. Di lantai ini juga terdapat satu tangga kecil yang menuju ke lantai pertama, yaitu tempat yang lebih privat.3

Kusen jendela dan kerawang atau ventilasi di atas pintu, dihiasi oleh ornamen dalam gaya Baroque dengan desain rumit namun indah. Selain langit-langit yang tinggi, jendela-jendela berukuran besar dalam jumlah yang relatif banyak, terdapat pula lantai batu yang dingin, dan atap bersekat. Bagian dalam dari bangunan tersebut dilengkapi dengan perabotan dari periode VOC. James Cook dan awaknya tertarik akan kemegahan rumah de Klerk ketika berjalan-jalan di Molenvliet, saat singgah di Batavia pada tahun 1770. Reinier de Klerk tinggal di rumah mewah tersebut selama hampir 20 tahun sebelum ia meninggal pada tahun 1780. Bangunan itu selain untuk keperluan rumah peristirahatan, juga sebagai rumah tinggal dari pejabat tertinggi VOC yaitu gubernur-jenderal ketika dijabat oleh de Klerk. Terdapat dua bangunan di sayap kanan dan kiri. Bangunan di samping dari bangunan utama tersebut digunakan sebagai kantor administrasi yang mengelola bisnis pribadi gubernur-jenderal serta pondok tamu. Selain itu, ada pula bangunan tambahan berupa paviliun yang terdiri dari dua lantai yang dulu digunakan sebagai rumah budak dan sebagai tempat penyimpanan barang. Dalam catatan sejarah, Gedung Arsip telah berpindah tangan berkali-kali. Dulu bangunan ini pernah terbengkalai, lalu kemudian diperbaiki oleh pemerintah Belanda untuk digunakan sebagai kantor Dinas Pertambangan. Pada tahun 1925, bangunan tersebut kembali direstorasi dan digunakan sebagai kantor Lands Archief. Ketika Indonesia merdeka, bangunan ini tetap digunakan sebagai kantor Arsip Negara. Kemudian bangunan tersebut dinamakan Gedung Arsip Nasional. Pada pertengahan tahun 1980, semua arsip yang tersimpan di gedung itu, dipindahkan ke bangunan yang lebih baru di bagian selatan Jakarta. Sekarang, kediaman de Klerk ini menjadi Museum Gedung Arsip.

Paleis van Daendels

4

Pada tahun 1808, ketika Herman Willem Daendels memutuskan untuk menghancurkan benteng tua dan dinding kota Batavia di utara dan secara resmi memindahkan pusat administratif kota ke arah selatan, ia juga memutuskan untuk membangun rumah baru bagi gubernur-jenderal. Dalam teori, para gubernur-jenderal tinggal di benteng tua dari VOC sejak tahun 1620-an, tetapi dalam prakteknya dari pertengahan abad ke-18 mereka mulai tinggal dan bekerja dari rumah pribadi di selatan dinding kota karena kondisi semakin tidak sehat di balik dinding. Pada tanggal 7 Maret 1809, Daendels memilih sisi timur dari Paradeplaats sebagai tempat untuk istana barunya. Tidak pernah sederhana dalam ambisinya, Daendels tidak diragukan lagi membayangkan sebuah bangunan istana megah yang akan menjadi inti dari Batavia baru yang ia mimpikan untuk tercipta. Ia memerintahkan Letnan-Kolonel J. C. Schultze untuk menyiapkan rencana. Desain tersebut meminta sebuah bangunan utama besar dengan sayap di kedua sisinya. Istana ini akan digunakan secara eksklusif bagi gubernur-jenderal. Biro pemerintahan akan berada di gedung yang terpisah dan ada pula pondok tamu dan kandang kuda untuk 12o kuda. Pekerjaan berjalan cepat dan fondasi untuk membangun istana itu dari bahan-bahan lama dari benteng yang dibongkar. Pada tahun 1811, ketika Daendels digantikan sebagai gubernur-jenderal oleh Jan Willem Janssens, bangunan utama dan bangunan-bangunan sayap telah setengah selesai.5

Namun, bagi Janssens, menyelesaikan istana itu bukan prioritas karena serangan terhadap Batavia oleh pasukan Inggris akan segera terjadi. Malah, ia menempatkan atap jerami yang sederhana di atas gedung dan kemudian tidak ada pekerjaan lebih lanjut yang dilakukan selama 15 tahun. Bahkan selama periode Inggris (1811-1816), LetnanGubernur Thomas Stamford Raffles tidak melihat alasan untuk melanjutkannya, dan memilih untuk tinggal di Rijswijk. Pada tahun 1826, Gubernur-Jenderal Leonard Pierre Joseph Burggraaf du Bus de Gisignies memerintahkan insinyur kepala, J. Tromp, untuk menyelesaikan bangunan agar ditempati biro pemerintah yang tertampung secara buruk di bagian lain di Batavia. Konstruksi akhirnya selesai pada tahun 1828, sekitar 19 tahun sejak dimulai, namun gedung ini tidak pernah digunakan sebagai istana gubernur-jenderal seperti yang awalnya diharapkan oleh Daendels. Pada tahun 1835, lantai bawah ditempati oleh kantor pos, kantor Percetakan Negara, Ma

Embed Size (px)
Recommended