Home >Education >Sebab datang dan hilangnya hidayah allah

Sebab datang dan hilangnya hidayah allah

Date post:14-Apr-2017
Category:
View:401 times
Download:5 times
Share this document with a friend
Transcript:
  • 1

    UNIVERSITY RESIDENCE - UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

    KARASIBAZHU (Kajian Rabu Siang Bada Zhuhur)

    Memahami Faktor-faktor Penyebab

    Kehadiran dan Lenyapnya Hidayah Allah

    Hidayah Allah merupakan karunia Allah yang diberikan olehNya kepada siapa pun yang dikehendaki olehNya. Dan, menurut pandangan para ulama, dikarenakan inti dan hakikat hidayah (petunjuk) adalah (karena) taufiq (bimbingan) dari Allah Tal, maka berdoa dan memohon hidayah kepada Allah Tal merupakan sebab yang paling utama untuk mendapatkan hidayahNya.

    Dalam hadits qudsi (yang shahih), Allah Tal berfirman:

  • 2

    "Hai hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan diri-Ku untuk berbuat zalim dan perbuatan zalim itu pun Aku haramkan di antara kamu. Oleh karena itu, janganlah

    kamu saling berbuat zalim! Hai hamba-Ku, kamu sekalian berada dalam kesesatan,

    kecuali orang yang telah Aku beri petunjuk. Oleh karena itu, mohonlah petunjuk

    kepada-Ku, niscaya Aku akan memberikannya kepadamu! Hai hamba-Ku, kamu

    sekalian berada dalam kelaparan, kecuali orang yang telah Aku beri makan. Oleh karena itu, mintalah makan kepada-Ku, niscaya Aku akan memberimu makan! Hai hamba-Ku, kamu sekalian telanjang dan tidak mengenakan sehelai pakaian, kecuali orang yang Aku beri pakaian. Oleh karena itu, mintalah pakaian kepada-Ku, niscaya Aku akan

    memberimu pakaian! Hai hamba-Ku, kamu sekalian senantiasa berbuat salah pada malam dan siang hari, sementara Aku akan mengampuni segala dosa dan kesalahan. Oleh karena itu, mohonlah ampunan kepada-Ku, niscaya aku akan mengampunimu! Hai hamba-Ku, kamu sekalian tidak akan dapat menimpakan mara bahaya sedikitpun

    kepada-Ku, tetapi kamu merasa dapat melakukannya. Selain itu, kamu sekalian tidak akan dapat memberikan manfaat sedikitpun kepada-Ku, tetapi kamu merasa dapat melakukannya. Hai hamba-Ku, seandainya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang belakangan serta manusia dan jin, semuanya berada pada tingkat ketakwaan yang paling tinggi, maka hal itu sedikit pun tidak akan menambahkan kekuasaan-Ku.

    Hai hamba-Ku, seandainya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang belakangan serta jin dan manusia semuanya berada pada tingkat kedurhakaan yang paling buruk, maka hal itu sedikit pun tidak akan mengurangi kekuasaan-Ku. Hai hamba-Ku, seandainya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang belakangan

    serta semua jin dan manusia berdiri di atas bukit untuk memohon kepada-Ku, kemudian masing-masing Aku penuh permintaannya, maka hal itu tidak akan mengurangi kekuasaan yang ada di sisi-Ku, melainkan hanya seperti benang yang menyerap air ketika dimasukkan ke dalam lautan. Hai hamba-Ku. Sesungguhnya amal perbuatan

    kalian senantiasa akan Aku hisab (adakan perhitungan) untuk kalian sendiri dan kemudian Aku akan berikan balasannya. Barangsiapa mendapatkan kebaikan, maka

  • 3

    hendaklah ia memuji Allah Subhnahu wa Ta'l. Dan barangsiapa yang

    mendapatkan selain itu (kebaikan), maka janganlah ia mencela kecuali dirinya sendiri."1

    Oleh karena itu, Allah Subhnahu wa Ta'l yang maha sempurna rahmat dan kebaikannya, memerintahkan kepada hamba-hambaNya untuk selalu berdoa memohon hidayah dan taufiq kepadaNya, sebagaimana tersebut dalam kitab suci al-Quran,

    Berikanlah kepada kami hidayah ke jalan yang lurus.2

    Syaikh Abdur Rahman as-Sadi berkata: Doa (dalam ayat ini) termasuk doa yang paling menyeluruh dan bermanfaat bagi manusia, oleh karena itu, wajib bagi setiap muslim untuk berdoa kepadaNya dengan doa ini di setiap rakaat dalam shalatnya, karena kebutuhannya yang sangat besar terhadap hal tersebut.3

    Dalam banyak hadits yang shahih, Rasulullah shallallhualaihi wa sallam mengajarkan kepada kita doa untuk memohon hidayah kepada Allah Subhnahu wa Ta'l. Misalnya doa yang dibaca dalam qunut shalat:

    Ya Allah, berilah aku petunjuk seperti orang-orang yang telah Engkau beri petunjuk. Berilah aku kesehatan seperti orang yang telah Engkau beri kesehatan. Pimpinlah aku bersama-sama orang-orang yang telah Engkau pimpin. Berilah berkah pada segala apa yang telah Engkau pimpin. Berilah berkah pada segala apa

    1Hadits Riwayat Muslim dari Abu Dzar al-Ghiffari, Shahh Muslim, juz VIII,

    hal. 16, hadits no. 6737. 2 QS al-Fatihah/1: 6 3Abdurrahman bin Nashir bin Abdullah as-Sadi, Taisr al-Karm ar-Rahmn F

    Tafsr Kalm al-Mannn, juz I, hal. 39

  • 4

    yang telah Engkau berikan kepadaku. Dan peliharalah aku dari kejahatan yang Engkau pastikan. Karena, sesungguhnya Engkaulah yang menentukan dan tidak ada yang menghukum (menentukan) atas Engkau. Sesungguhnya tidaklah akan hina orang-orang yang telah Engkau beri kekuasaan. Dan tidaklah akan mulia orang yang Engkau musuhi. Maha berkahlah Engkau dan Maha Luhurlah Engkau.4

    Juga doa beliau (Rasulullah) Shallallhualaihi wa sallam:

    Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, penjagaan diri (dari segala keburukan) dan kekayaan hati (selalu merasa cukup dengan pemberian-Mu).5

    Sebaliknya, keengganan atau ketidaksungguhan untuk berdoa kepada Allah Tal memohon hidayahNya merupakan sebab besar yang menjadikan seorang manusia terhalangi dari hidayahNya.

    Oleh karena itu, Allah Subhnahu wa Ta'l sangat murka terhadap orang yang enggan berdoa dan memohon kepadaNya, sebagaimana sabda Rasulullah shallallhualaihi wa sallam:

    Sesungguhnya barangsiapa yang enggan untuk memohon kepada Allah maka Dia akan murka kepadanya.6

    Hal-hal lain yang menjadi sebab datangnya hidayah Allah Subhnahu wa Ta'l selain yang dijelaskan di atas adalah sebagai berikut:

    4Hadits Riwayat Abu Dawud, Sunan Ab Dwud, juz I, hal. 536, hadits no. 1427; Hadits Riwayat an-Nasa-i, Sunan an-Nasiy, juz III, hal. 248, hadits no. 1745; Hadits Riwayat Ibnu Majah, Sunan ibn Mjah, juz II, hal. 252, hadits no. 1178 dan Hadits Riwayat Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad ibn Hanbal, juz I, hal. 199, hadits no. 1718, dari Al-Hasan bin Ali

    5Hadits Riwayat Muslim dari Abdullah bin Masud, Shahh Muslim, juz VII, hal. 81, hadits no. 7079.

    6Hadits Riwayat at-Tirmidzi dari Abu Hurairah, Sunan at-Tirmidzi, juz V, hal. 456, hadits no. 3373.

  • 5

    1. Tidak bersandar kepada diri sendiri dalam melakukan semua kebaikan dan meninggalkan segala keburukan

    Makna kalimat di atas, artinya selalu bergantung dan bersandar kepada Allah Tal dalam segala sesuatu yang dilakukan atau ditinggalkan oleh seorang hamba, serta tidak bergantung kepada kemampuan diri sendiri.

    Ini merupakan sebab utama untuk meraih taufiq dari Allah Subhnahu wa Ta'l yang merupakan hidayah yang sempurna, bahkan inilah makna taufiq yang sesungguhnya sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama Ahlus Sunnah.

    Coba renungkan pemaparan Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah: Kunci pokok segala kebaikan adalah dengan kita mengetahui (meyakini) bahwa apa yang Allah kehendaki (pasti) akan terjadi dan apa yang Dia tidak kehendaki maka tidak akan terjadi. Karena pada saat itulah kita yakin bahwa semua kebaikan (amal shaleh yang kita lakukan) adalah termasuk nikmat Allah (karena Dia-lah yang memberi kemudahan kepada kita untuk bisa melakukannya), sehingga kita akan selalu mensyukuri nikmat tersebut dan bersungguh-sungguh merendahkan diri serta memohon kepada Allah agar Dia tidak memutuskan nikmat tersebut dari diri kita. Sebagaimana (kita yakin) bahwa semua keburukan (amal jelek yang kita lakukan) adalah karena hukuman dan berpalingnya Allah dari kita, sehingga kita akan memohon dengan sungguh-sungguh kepada Allah agar menghindarkan diri kita dari semua perbuatan buruk tersebut, dan agar Dia tidak menyandarkan (urusan) kita dalam melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan kepada diri kita sendiri.

    Telah bersepakat Al-rifn (orang-orang yang memiliki pengetahuan yang dalam tentang Allah dan sifat-sifatNya) bahwa asal semua kebaikan adalah taufiq dari Allah Subhnahu wa Ta'l kepada hambaNya, sebagaimana asal semua keburukan adalah khidzln (berpalingnya) Allah Subhnahu wa Ta'l dari hambaNya. Mereka juga bersepakat bahwa (makna) taufiq itu adalah dengan Allah tidak menyandarkan (urusan kebaikan/keburukan) kita kepada diri kita sendiri, dan (sebaliknya arti) al-khidzln (berpalingnya Allah Subhnahu wa Ta'l dari

  • 6

    hamba) adalah dengan Allah membiarkan diri kita (bersandar) kepada diri kita sendiri (tidak bersandar kepada Allah Subhnahu wa Ta'l).7

    Inilah yang terungkap dalam doa yang diucapkan oleh Rasulullah shallallhualaihi wa sallam:

    Wahai Dzat yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri dengan rahmat-Mu aku

    meminta pertolongan, jadikanlah baik semua urusanku dan janganlah Engkau

    membiarkan diriku bersandar kepada diriku sendiri (meskipun cuma) sekejap

    mata.8

    Oleh karena inilah makna dan hakikat taufiq, maka kunci untuk mendapatkannya adalah dengan selalu bersandar dan bergantung kepada Allah Subhnahu wa Ta'l dalam meraihnya dan bukan bersandar kepada kemampuan diri sendiri.

    Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah berkata: Kalau semua kebaikan asalnya (dengan) taufiq yang itu adanya di tangan Allah (semata) dan bukan di tangan manusia, maka kunci (untuk membuka pintu) taufiq adalah (selalu) berdoa, menampakkan rasa butuh, sungguh-sungguh dalam bersandar, (selalu) berharap dan takut (kepadaNya). Maka ketika Allah telah memberikan kunci (taufiq) ini kepada seorang hamba, berarti Dia ingin membukakan (pintu taufiq) kepadanya.Dan ketika Allah memalingkan kunci (taufiq) ini dari seorang hamba, berarti pintu kebaikan (taufiq) akan selalu tertutup baginya.9

    2. Selalu mengikuti dan berpegang teguh dengan agama Allah Subhnahu wa Ta'l

    7Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Al-Faw

Click here to load reader

Reader Image
Embed Size (px)
Recommended