Home >Documents >scan by kelapalima ebook by kalibening scan by kelapalima ebook by kalibening 1 SUARA BERADUNYA...

scan by kelapalima ebook by kalibening scan by kelapalima ebook by kalibening 1 SUARA BERADUNYA...

Date post:16-Jan-2020
Category:
View:6 times
Download:0 times
Share this document with a friend
Transcript:
  • scan by kelapalima ebook by kalibening

  • scan by kelapalima ebook by kalibening

    1 SUARA BERADUNYA PEDANG terdengar berkepanjangan di lereng bukit Cemoro Sewu

    padahal hari masih gelap dan udara mencucuk dingin. Binatang hutanpun menyingkir ketakutan.

    Karena yang terdengar bukan hanya suara beradunya senjata tajam itu namun juga ada bentakan-

    bentakan serta hentakan-hentakan kaki yang menggetarkan tanah.

    Siapa yang pagi-pagi buta telah saling baku hantam seolah-olah tidak ada waktu

    menyelesaikan urusan di siang hari?

    Di antara kerasnya suara pedang beradu tiba-tiba terdengar suara tawa mengekeh. Lalu ada

    orang yang bicara dalam kegelapan.

    “Bagus! Bagus Wilani! Sepuluh jurus kau bisa bertahan, sepuluh jurus kau balas, mendesak!

    Bagus! Ilmu pedangmu sudah cukup matang! Yang penting kini adalah berlatih terus!”

    “Terima kasih untuk pujian itu kakek guru! Semua itu berkat gemblengan yang kakek guru

    berikan!”

    Ternyata di lereng bukit Cemoro Sewu itu bukan terjadi perkelahian, melainkan seorang

    murid dan guru tengah berlatih ilmu pedang di gelap buta menjelang dini hari!

    Sang guru adalah seorang kakek berambut putih panjang. Dia mengenakan pakaian

    berbentuk selempang seperti pakaian seorang resi dan berwarna hitam. Gerakan tangannya memutar

    pedang sebat sekali. Gerakan kakinya kukuh dan ringan. Sesekali pakaian hitamnya di bagian kaki

    nampak tersingkap. Astaga! Ternyata kakek yang memiliki ilmu meringankan tubuh tinggi ini

    hanya mempunyai satu kaki kanan. Kaki kirinya buntung sebatas lutut.

    Tapi tak kalah hebatnya sang murid yaitu seorang dara berpakaian serba biru, berambut

    hitam dikuncir. Meski seluruh pakaiannya basah kuyup tanda dia telah mengerahkan seluruh tenaga,

    gerakannya berkelebat gesit sekali. Putaran pedangnya mengeluarkan angin menderu-deru, gerakan

    kedua kakinya tak terduga sehingga setiap bacokan atau tusukan senjatanya sulit diduga.

    “Bagus! Bagus! Sekarang aku ingin melihat kau menutup serangan terakhirmu dengan jurus

    Rembulan Mencukur Bintang. Lakukan!”

    Mendengar ucapan sang guru, gadis baju biru bernama Wilani membentak keras. Lalu

    tubuhnya melesat ke udara setinggi dua tombak. Ujung pedang di tangan kanan menderu ke arah

    sebuah cabang pohon berdaun lebat. Terdengar suara merambas beberapa kejapan mata. Ketika si

    gadis melompat turun kembali kelihatanlah dalam gelap bagaimana seluruh daun di cabang itu telah

    gundul laksana dipangkas sedang ranting-ranting besarnya sedikitpun tak ada yang rusak.

    Kakek kaki buntung tertawa gembira.

    “Hebat! Luar biasa Wilani!”

  • scan by kelapalima ebook by kalibening

    “Terima kasih kakek guru!” sang dara menyahuti sambil bungkukkan tubuh.

    “Sekarang aku ingin menguji kehebatan senjata rahasiamu! Siapkan kantong jarummu!”

    “Saya sudah siap kakek…,” kata Wilani pula sesaat kemudian.

    “Lihat ke arahku!” kata si kakek sambil mengangkat tangan kanannya dekat-dekat ke

    kepalanya sampai setinggi daun telinga. Telapak tangan dan lima jari dikembangkan. Di antara jari-

    jari tangan yang lima itu terselip empat buah daun kecil.

    “Serang empat daun yang kujepit di antara jari-jari tangan!”

    “Siap guru!”

    “Tunggu dulu. Ada syaratnya!” kata si kakek pula.

    “Empat helai daun itu harus tembus tetapi tidak selembarpun boleh lepas dari jepitan jariku.

    Bagaimana? Sanggup?!”

    “Akan saya coba kek!”

    “Nah hantamlah! Tapi awas! Jangan mata atau hidung atau tanganku yang kau hantam!

    Hik…hik…hik!”

    Wilani menggerakkan tangan kanannya ke dalam kantong. Sesaat kemudian tangan itu

    keluar bersama empat buah jarum halus berwarna putih. Lalu tangan itu menghantam ke depan.

    Terdengar suara berdesing dalam kegelapan malam. Empat jarum halus melesat tidak

    kelihatan. Si kakek menunggu lalu berseru.

    “Hai! Hai! Sudahkah kau melemparkan senjata rahasiamu, Wilani?!”

    “Sudah kek! Harap periksa keempat daun itu!”

    Kakek kaki satu turunkan tangannya dan meneliti. Keempat daun kecil yang dijepitnya di

    antara jari-jari tangan kanannya ternyata sudah berlubang kecil di bagian tengahnya. Melihat hal ini

    kembali orang tua itu tertawa mengekeh.

    “Hebat! Luar biasa! Kau memang muridku yang andal!”

    “Terima kasih guru. Jangan keliwat memuji!” jawab sang murid tersipu. Waktu tersipu ini

    ada lesung pipit muncul di kedua pipinya.

    “Sekarang ujian terakhir. Aku akan menggabung ilmu meringankan tubuhmu dengan

    kekuatan tenaga dalam serta kepekaan perasaanmu. Kau siap?!”

    “Mohon petunjukmu dulu kek. Apa yang harus aku lakukan?”

    “Hemm…,” si kakek melompat-lompat ke arah sebuah batu belas langkah di sebelah kanan.

    Lalu dia menunjuk ke cabang sebuah pohon setinggi tiga tombak di samping muridnya. “Kau

    melompatlah ke ujung cabang itu dengan punggung menghadap ke batu.

    Putar tubuhmu tanpa membuat cabang bergoyang dan hantam batu ini sampai hancur!”

    “Wah! Susah amat kek!”

    “Kalau itu saja susah, berhenti jadi muridku!” jawab si orang tua itu sambil mencibir.

  • scan by kelapalima ebook by kalibening

    Sang dara garuk-garuk kepalanya, memandang pada si kakek dan bertanya. “Sekarang kek?”

    “Ya sekarang tentu! Apa menunggu sampai malam Jum’at depan!”

    Belum habis si kakek berucap, tubuh Wilani kelihatan melesat ke udara. Setengah jalan

    sebelum mencapai cabang pohon tubuh itu berputar sehingga kini punggungnya menghadap ke arah

    batu yang akan menjadi sasaran. Kaki kanan menyentuh ujung cabang pohon. Kejapan itu pula

    Wilani putar tubuhnya seraya hantamkan tangan kanan.

    Wuutt!

    Terdengar deru angina laksana membelah dinginnya malam. Lalu.

    Byaar!

    Batu hitam di bawah sana hancur berkeping-keping.

    Meledak tawa si kakek buntung. Begitu muridnya melayang turun langsung dipeluknya.

    “Kau benar-benar hebat Wilani. Aku tidak akan merasa khawatir melepasmu pergi….”

    “Kek, kau tahu aku sebenarnya tak ingin pergi. Tak mau berpisah denganmu sampai

    kapanpun. Namun….. Jalan nasibku membuat semua jadi begini….”

    Si kakek lepaskan pelukannya, dia membimbing muridnya duduk di sebatang tumbangan

    pohon sementara di sebelah timur langit perlahan-lahan tampak mulai terang.

    “Jalan nasib manusia Tuhan Yang Maha Kuasa yang menentukan. Kita manusia hanya bisa

    berusaha bagaimana agar bisa melaluinya pada jalan yang lurus dan benar. Pelajaran agama yang

    kuberikan padamu harus menjadi pegangan hidupmu sampai mati. Lakukan apa yang diperintah

    Gusti Allah, jauhkan apa yang dilarang-Nya. Tetapi ada satu hal muridku. Selama kedua kaki kita

    masih menginjak bumi selama itu pula pertanda bahwa kita ini masih hidup di dunia. Hidup di

    dunia dipengaruhi oleh dua hal. Yaitu kebaikan dan kejahatan. Dunia penuh dengan hasut dan fitnah.

    Penuh dengan setan-setan yang gentayangan. Setan-setan yang tidak kelihatan, yang berupa

    mahluk-mahluk halus, tidak perlu kau khawatirkan. Yang harus kau perhatikan justru setan-setan

    kasar berwujud manusia. Manusia mahluk paling terpuji. Tapi karena banyak akal maka manusia

    juga bisa menjadi mahluk keji. Contohnya itu manusia-manusia yang telah membunuh ayahmu

    secara keji. Mereka lebih jahat dari iblis! Lebih busuk dari Setan!”

    “Orang-orang itulah yang akan aku cari kek!” terdengar suara Wilani agak tersendat.

    Si kakek tarik nafas panjang. “Dendam adalah urusan dunia yang tidak pernah habis. Itu

    tandanya kita hidup di dunia. Membela keluarga, apalagi membela kehormatan dan ayah sendiri

    sama saja dengan melakukan perang sabil. Namun muridku…. Ketahuilah, di belakang setiap

    dendam dapat mengendalikannya. Karena itu Wilani, jika kau membalaskan sakit hati dendam

    kesumat pembunuhan atas diri ayahmu, lakukanlah dengan penuh perhitungan serta keadilan.

    Usahakan agar kau jangan sampai membunuh orang-orang itu, kecuali jika tak ada jalan lain atau

    dalam keadaan sangat terpaksa. Kau dengar kata-kataku ini, Wilani?”

  • scan by kelapalima ebook by kalibening

    “Aku dengar kek dan akan kujadikan pegangan,” jawab Wilani.

    “Bagus! Setelah selesai sembahyang subuh kau boleh meninggalkan Cemoro Sewu ini…”

    Wilani memeluk gurunya lalu berkata. “Kek, selama dua belas tahun aku tinggal bersamamu

    di bukit ini, banyak hal telah kupelajari darimu. Banyak hal telah kuketahui. Namun ada satu hal

    yang masih gelap bagiku.”

    “Ah….. Hal apakah ituuridku?” tanya si kakek sambil tersenyum-senyum karena diam-diam

    dia sudah dapat menduga apa yang bakal ditanyakan muridnya.

    “Sampai saat ini aku tidak tahu siapa nama kakek….”

    Orang tua berkaki buntung itu tertawa mengekeh.

    “Nama….! Itu juga salah satu urusan manusia di dunia yang fana ini! Siapa namaku apakah

    ada artinya bagimu?”

    “Tentu saja kek! Setiap manusia pasti punya nama,” jawab Wilani.

    “Tapi aku tidak,” ujar si kakek pula. “Kau boleh memberi nama siapa atau apa saja. Itu tidak

    akan merubah diriku. Seorang tua bangka reot berkaki buntung dan akan tetap seperti itu! Hik…

    hik…hik!”

    Wilani terdiam sesaat.

    “Baiklah kalau kakek tidak mau memberi tahu nama….”

Click here to load reader

Embed Size (px)
Recommended