Home >Documents >Sapardi Djoko Damono Poems

Sapardi Djoko Damono Poems

Date post:09-Jan-2016
Category:
View:92 times
Download:1 times
Share this document with a friend
Description:
poems
Transcript:
  • 1

    (Koleksi Didi Arsandi, www.sastra-indonesiaraya.blogspot.com)

  • 2

    Puisi cat air untuk Rizki Sapardi Djoko Damono Angin berbisik kepada daun jatuh yang tersangkut kabel telpon itu, aku rindu, aku ingin mempermainkanmu! kabel telpon memperingatkan angin yang sedang memungut daun itu dengan jari-jarinya gemas, jangan berisik, mengganggu hujan! hujan meludah di ujung gang lalu menatap angin dengan tajam, hardiknya, lepaskan daun itu!

    Perahu Kertas, Kumpulan Sajak, 1982.

  • 3

    Sonet 5 Sapardi Djoko Damono Malam tak menegurmu, bergeser agak ke samping ketika kau menuangkan air mendidih ke poci; ada yang sudah entah sejak kapan tergantung di dinding bergegas meluncur di pinggang gelas-waktu ini. Dingin menggeser malam sedikit ke sudut ruangan; kautahan getar tanganmu ketika menaruh tutup poci itu, dan luput; ada yang ingin kaukibaskan. Kenapa mesti kaukatakan aku tampak begitu gugup? Udara bergoyang, pelahan saja, mengurai malam yang melingkar, mengusir gerat-gerit dingin yang tak hendak beku, berloncatan di lekuk-lekuk angka jam. Malam tidak menegurku. Hanya bergeser. Sedikit angin. Ada yang diam-diam ingin kauusap dari lenganmu ketika terasa basah oleh tetes tik-tok itu.

  • 4

    Sonet 6 Sapardi Djoko Damono Sampai hari tidak berapi? Ya, sampai angin pagi mengkristal lalu berhamburan dari sebatang pohon ranggas. Sampai suara tak terdengar berdebum lagi? Ya, tak begitu perlu lagi memejamkan mata, bergegas memohon diselamatkan dari haru biru yang meragi dalam sumsummu; tak pantas lagi menggeser-geser sedikit demi sedikit bangkai waktu agar tak menjadi bagian dari aroma waktu kini. Sampai yang pernah bergerit di kasur tak lagi menempel di langit-langit kepalaku? Sampai kedua bola matamu kabur, sayapmu lepas, dan kau melesat ke Ruh itu. Ruh? Ya! Sampai kau sepenuhnya telanjang dan tahu: api tubuhmu tinggal bayang-bayang.

  • 5

    Sonet 7 Sapardi Djoko Damono Ada jarak yang harus ditempuh sampai suasana siap menerima kita. Dan kita arif menerimanya, bukan? Ada yang harus tak habis-habisnya kita hela dan hembuskan sampai pisau yang terpejam di tangan membelah apel yang di atas meja. Seiris telentang, seiris tengkurap di sebelahnya? Begitu ramal seorang empu setelah menyelesaikan tugas menempa sebilah keris. Celoteh juru nujum yang di bukit nun di sana itu? Ada jarak yang harus diremas sampai kerut dalam pembuluh darah kita. Sampai yang biru kembali hijau berkat kuning itu, sampai segala terhalau: yang ini, yang itu, yang di sana, yang di situ, yang layang-layang, yang batu? Ada jarak yang harus ditebas kalau kita mau menerima pertemuan ini dengan ikhlas.

  • 6

    Sonet 8 Sapardi Djoko Damono Di sudut itu selalu ada yang seperti menunggu kita. Mengapa ada yang selalu terasa hadir di sana? Di situ konon kita dulu dilahirkan, kau tahu, agar bisa melihat betapa luas batas antara nyata dan maya. Dua dinding bertemu di sudut itu, seperti yang sudah dijanjikan sejak purba ketika sehabis peristiwa itu leluhur kita diburu-buru dan sesat di rumah ini. Kau masih juga percaya rupanya, tanpa menyiasati dinding-dinding itu? Rumah baru terasa rumah kalau ada penyekat antara sini dan Sana, membentuk sudut tempat kita bertemu dan memandang lepas ruang luas, tanpa akhirat. Mengapa terasa harus ada yang menunggu? Agar tak mungkin ada yang bisa membebaskanmu.

  • 7

    Sonet 9 Sapardi Djoko Damono Kaubalik-balik buku itu selembar demi selembar sore ini. Bukankah waktu itu masih pagi, ketika kau mencatatnya? Aku pungut buku yang kaulempar ke lantai, telungkup, tampak lusuh, sendiri. Kenapa mesti ada sore hari? Pejamkan mata, bayangkan beranda yang pernah membiarkan kita mengitari pekarangan yang begitu luas, yang kemudian ternyata bukan bagian dari tempat yang konon disediakan untuk kita tinggali. Matahari masih hangat ketika aku mencatatnya di buku yang sore ini telah menggodamu untuk mencari gambar sebuah taman yang memancarkan aroma secangkir teh hangat di pagi hari. Ya, bukankah masih pagi ketika kau menggambarnya? Ya, mungkin karena waktu itu masih pagi. Lekas, berikan buku itu kembali, padaku!

  • 8

    Sonet 10 Sapardi Djoko Damono Ada selembar kertas yang belum bertulisan. Apakah kauharapkan aku ke mari seperti semula, belum penuh dengan coretan? Ada yang ingin menulis aksara demi aksara dan tahu tak akan mencapai kalimat meski ada tanda seru di ujungnya. Tidak semua memerlukan tulisan, (Apakah aku kaubayangkan selembar kertas itu?) meski sudah terlanjur tercatat sebelum sempat diucapkan. Air menyeret catatan berkelok-kelok di sepanjang sungai bila penghujan. Tetapi sama sekali tak terbaca bahkan ketika sudah begitu rekah-rekah perangai kemarau. Tinggal garis-garis yang carut-marut di dasarnya. Kau mengharapkanku kembali seperti itu? Risaukah kita ketika menyadari bahwa tulisan tak perlu, ternyata?

  • 9

    Sonet 11 Sapardi Djoko Damono Terima kasih, kartu pos bergambar yang kaukirim dari Yogya sudah sampai kemarin. Tapi aku tak pernah mengirim apa pun, kau tahu itu. Aku sedang kena macet, Jakarta seperti dulu juga ketika suatu sore buru-buru kau kuantar ke stasiun. Tapi aku tak sempat menulis apa pun akhir-akhir ini. Aku suka membayangkan kau kubonceng sepeda sepanjang Lempuyangan berhenti di warung bakso di seberang kampus yang sudah sepi. Kau masih seperti dulu rupanya, menyayangiku? Bayangkan kalau nanti kita ke sana lagi! Di kartu pos itu ada gambar jalan berkelok, bermuara di sebuah taman tua tempat kita suka nyasar melukiskan hutan, sawah, kebun buah, dan taman yang ingin kita lewati: gelas yang tak pernah penuh. Hahaha, dasar! Aku suka membayangkan kartu pos itu memuat gambarmu, residu dari berapa juta helaan dan hembusan napasku dulu.

  • 10

    Sonet 12 Sapardi Djoko Damono Perjalanan kita selama ini ternyata tanpa tanda baca, tak ada huruf kapital di awalnya. Yang tak kita ingat aksara apa. Kita tak pernah yakin apakah titik mesti ada; tanpa tanda petik, huruf demi huruf berderet rapat dan setiap kali terlepas, kita pun segera merasa gerah lagi dihimpitnya. Tanpa pernah bisa membaca ulang dengan cermat harus terus kita susun kalimat demi kalimat ini tanpa perlu merisaukan apakah semua nanti mampat pada sebuah tanda tanya. Tapi, bukankah kita sudah mencari jawaban, sudah tahu apa yang harus kita contreng jika tersedia pilihan? Dan kemudian memulai lagi merakit alinea demi alinea, menyusun sebuah dongeng? Tapi bukankah tak ada huruf kapital ketika kita bicara? Bukankah kisah cinta memang tak memerlukan tanda baca?

  • 11

    Sonet 13 Sapardi Djoko Damono Titik-titik hujan belum juga lepas dari tubir daun itu; ditunggunya kita lewat. Kupandang ke atas: sebutir jatuh di bulu matamu, yang lain meluncur di pelipismu. Pohon itu kembali menatapmu, hanya selintas. Diberkahinya tanganku yang ingin sekali mengusap basah yang mendingin di wajahmu. Kau seperti ingin melakukan sesuatu. Aku pun mendadak menghentikan langkah sejenak jangan tergesa, agar bisa kaubaca niat titik hujan. Butir-butir hujan menderas dari sudut-sudut daun itu tepat ketika kita lewat. Kupandang ke atas. Pohon itu tak lagi menatapmu. Ada yang membasahi kerudungmu, meluncur ke dua belah pundakmu. Dibiarkannya kita melintas. Kita pun bergegas agar segera sampai ke ujung jalan tanpa bicara. Tak lagi berniat menafsirkan titik hujan?

  • 12

    Aku Ingin Sapardi Djoko Damono Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

  • 13

    Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari Sapardi Djoko Damono waktu berjalan ke barat di waktu pagi hari matahari mengikutiku di belakang aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan

  • 14

    Perahu Kertas Sapardi Djoko Damono Waktu masih kanak-kanak kau membuat perahu kertas dan kau layarkan di tepi kali; alirnya Sangat tenang, dan perahumu bergoyang menuju lautan. "Ia akan singgah di bandar-bandar besar," kata seorang lelaki tua. Kau sangat gembira, pulang dengan berbagai gambar warna-warni di kepala. Sejak itu kau pun menunggu kalau-kalau ada kabar dari perahu yang tak pernah lepas dari rindu-mu itu. Akhirnya kau dengar juga pesan si tua itu, Nuh, katanya, "Telah kupergunakan perahumu itu dalam sebuah banjir besar dan kini terdampar di sebuah bukit." Perahu Kertas, Kumpulan Sajak, 1982.

  • 15

    Kepompong Itu Sapardi Djoko Damono kepompong yang tergantung di daun jambu itu mendengar kutukmu yang kacau terhadap hawa lembab ketika kau menutup jendela waktu hari hujan kepompong itu juga mendengar rohmu yang bermimpi dan meninggalkan tubuhmu: melepaskan diri lewat celah pintu, melayang di udara dingin sambil bernyanyi dengan suara bening dan bermuatan bau bunga dan kepompong itu hanya bisa menggerak-gerakkan tubuhnya ke kanan-kiri, belum saatnya ia menjelma kupu-kupu; dan, kau tahu , ia tak berhak bermimpi Perahu Kertas, Kumpulan Sajak, 1982.

  • 16

    Kisah Sapardi Djoko Damono Kau pergi, sehabis menutup pintu pagar sambil sekilas menoleh namamu sendiri yang tercetak di plat alumunium itu. Hari itu musim huja

Embed Size (px)
Recommended