Home >Documents >Sap Kawasan Tanpa Rokok

Sap Kawasan Tanpa Rokok

Date post:24-Jan-2016
Category:
View:295 times
Download:102 times
Share this document with a friend
Description:
SAP KTR
Transcript:

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

KAWASAN TANPA ROKOK (KTR)

Untuk Memenuhi Tugas Profesi Departemen Pediatrik

Ruang 7B Rumah Sakit Saiful Anwar Malang

Oleh:

Kelompok 15

Atikatsani Latifah 115070200111023Rahmi Nurrosyid P 115070201111017Prilly Priskylia140070300011143

Defi Destyaweny140070300011142

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2015LEMBAR PENGESAHAN

SATUAN ACARA PENYULUHAN

KAWASAN TANPA ROKOK (KTR)

DI RUANG 7B RSUD dr. SAIFUL ANWAR MALANGDiajukan Untuk Memenuhi Kompetensi Praktek Profesi Departemen PediatrikOleh :

KELOMPOK 15 RSSATelah diperiksa kelengkapannya pada:

Hari

: RabuTanggal

: 9 September 2015Dan dinyatakan memenuhi kompetensi

Perseptor Klinik Perseptor Akademik

Ns Linda Prawitasari, S.Kep Septi Dewi Rachmawati, S.Kep, MNNIP.

NIP. 198109142006042001SATUAN ACARA PENYULUHANKAWASAN TANPA ASAP ROKOK (KTR)

Pokok bahasan: Kawasan tanpa rokokSasaran

: Peserta pasien di ruang 7B RSSATempat Kegiatan: Ruang 7B RSSAHari/ Tanggal

: Jumat, 11 September 2015Alokasi Waktu

: 20 menit

Pertemuan ke

: 1

Pengajar: Atikatsani Latifah, Rahmi Nurrosyid P., Prilly Priskylia, Defi DestyawenyA. Tujuan instruksional UmumSetelah mengikuti proses penyuluhan ini, peserta/ keluarga diharapkan mampu memahami kawasan mana yang dilarang untuk merokok dan diperbolehkan untuk merokok.B. Tujuan instruksional UmumSetelah mengikuti penyuluhan, peserta/keluarga mampu menyebutkan kawasan mana yang dilarang untuk merokok dan diperbolehkan untuk merokok.C. MateriTerlampirD. Metode1. Ceramah2. Tanya jawabE. Struktur organisasi1. Moderator: Prilly Priskylia2. Penyaji: Atikatsani Latifah, Rahmi NUrrosyid3. Observer: Defi DestyawenyF. Media1. LeafletG. Kegiatan PembelajaranTahapKegiatan PerawatKegiatan Klien

Pendahuluan3 menit1. Memperkenalkan diri, mengucapkan salam 2. Menjelaskan maksud dan tujuan penyuluhan

3. Menjelaskan topik pembicaraan yaitu kawasan tanpa rokok

4. Menjelaskan kontrak waktu1. Menjawab salam 2. Memperhatikan dengan seksama

3. menyepakati kontrak waktu dan topik

Penjelasan topik 10 menit1. menjelaskan materi tentang kawasan tanpa rokok menggunakan leaflet

2. Memberikan kesempatan keluarga untuk bertanya di akhir penjelasan 1. Memperhatikan penjelasan materi2. Menanyakan materi yang belum dipahami di akhir penjelasan

Penutup7 menit1. Mengevaluasi pemahaman keluarga terhadap materi yang disampaikan dengan memberikan pertanyaan 2. Meminta keluarga untuk mereview materi.

3. Meyimpulkan proses belajar-mengajar dan memberikan apresiasi kepada keluarga

4. Mengucapkan salam penutup, penutupan dan doa1. Menjawab pertanyaan yang diberikan2. Menjelaskan materi yang telah disampaikan oleh konselor

3. Memperhatikan dengan seksama4. Memberikan izin untuk menempel poster

5. Menjawab salam

H. Evaluasi1. Evaluasi Terstruktura. Sebelum melakukan penyuluhan, dilakukan perijinan kepada kepala ruang 7B dan keluargab. Seluruh anggota keluarga mengikuti kegiatan penyuluhan c. Kesiapan konselor termasuk kesiapan media yaitu materi yang akan disampaikan dan leafletd. Kesiapan keluarga meliputi kesiapan menerima materi dan tenang saat pemberian materi.2. Evaluasi Prosesa. Anggota keluarga antusias terhadap materi dan memperhatikan saat pemberian materi.b. Anggota keluarga tidak meninggalkan tempat saat pemberian materi.c. Anggota keluarga mengajukan pertanyaan sesuai dengan materi yang disampaikan konselor.d. Anggota keluarga dapat menjelaskan kembali topik pembahasan.

e. konselor menjelaskan atau menyampaikan materi dengan jelas.3. Evaluasi Hasil:a. Anggota keluarga dapat menjelaskan kembali tentang kawasan tanpa rokokLampiran Materi PenyuluhanKAWASAN TANPA ROKOKSalah Kebijakan pengendalian tembakau yang lain adalah terlaksananya Kawasan Tanpa Rokok (KTR). Kawasan Tanpa Rokok (KTR) adalah ruangan atau area yang dinyatakan dilarang untuk kegiatan produksi, penjualan, iklan, promosi dan atau penggunaan rokok. Upaya bentuk pengendalian tembakau telah berhasil di laksanakan, baik di tingkat pusat maupun daerah.Dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan. Dimana pasal 113 menyatakan bahwa tembakau mengandung zat adiktif. Dan pasal 115 mengatur tentang Kawasan Tanpa Rokok.Adapun ruang lingkup Kawasan Tanpa Rokok (KTR)yang ditetapkan dalam peraturan bersama ini sesuai dengan yang diatur oleh UU No.36 Tahun 2009, antara lain fasilitas pelayanan kesehatan, tempat belajar mengajar, tempat ibadah, tempat bermain anak, angkutan umum, tempat kerja, tempat umum dan tempat lain yang ditetapkan. 1Dalam Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri Nomor 188/ Menkes/ Pb/I/ 2011. Sebagaimana disebutkan dalam Pasal 2 dibuat dengan tujuan untuk memberikan acuan bagi pemerintah daerah dalam menetapkan KTR, memberikan perlindungan yang efektif dari bahaya asap rokok, memberikan ruang dan lingkungan yang bersih dan sehat bagi masyarakat, dan melindungi kesehatan secara umum dari dampak buruk merokok baik secara langsung maupun tidak langsung, Menurunkan angka kesakitan dan/atau angka kematian dengan cara mengubah perilaku masyarakat untuk hidup sehat, Meningkatkan produktivitas kerja yang optimal, Mewujudkan kualitas udara yang sehat dan bersih, bebas dari asap rokok, Menurunkan angka perokok dan mencegah perokok pemula, Mewujudkan generasi muda yang sehat.2Dalam keadaan tertentu, pengolahan gedung termasuk dalam ruang lingkup KTR dapat menyediakan tempat khusus untuk merokok sebagaimana diatur dalam pasal 5 asalkan memenuhi syarat, antara lain; Merupakan ruang terbuka atau ruang yang berhubungan langsung dengan udara luar sehingga udara dapat bersirkulasi dengan baik; Terpisah dari gedung/ tempat/ruang utama dan ruang lain yang digunakan untuk beraktifitas; Jauh dari pintu masuk dan keluar; jauh dari tempat orang berlalu-lalang.2 Berdasarkan UndangUndang Nomor 36 Tahun 2009 mewajibkan kepada Pemerintah Daerah untuk menetapkan kawasan tanpa rokok di wilayahnya. Pemerintah Kota Semarang mengeluarkan peraturan terbaru berupa Peraturan Daerah Nomor 3 tahun 2013. Pengaturan pelaksanaan kawasan tanpa rokok oleh pemerintah kota semarang. Di dalam peraturan ini, telah disebutkan bahwa pemerintah daerah wajib menetapkan kawasan tanpa rokok di setiap wilayahnya. Kawasan tanpa rokok antara lain: Fasilitas pelayanan kesehatan Suatu tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upayapelayanan kesehatan, baik promotif, preventif, kuratifmaupun rehabilitatif yang dilakukan oleh pemerintah, pemerintah daerah, dan/ atau masyarakat.3Tempat proses belajar mengajar adalah gedung yang digunakan untuk kegiatan belajar, mengajar, pendidikan dan/ atau pelatihan. Tempat anak bermain area tertutup maupun terbuka yang digunakan untuk kegiatan bermain anak-anak. Tempat ibadah Bangunan atau ruang tertutup yang memiliki ciriciri tertentu yang khusus dipergunakan untuk beribadah bagi para pemeluk masing-masing agama secara permanen, tidak termasuk tempat ibadah keluarga. Angkutan umum Alat angkutan bagi masyarakat yang dapat berupa kendaraan darat, air,dan udara yang penggunaannya biasanya dengan kompensasi.4Tempat kerja tiap ruangan atau lapangan tertutup, bergerak atau tetap di mana tenaga kerja bekerja, atau yang dimasuki tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha.Tempat umum semua tempat tertutup yang dapat diakses oleh masyarakat umum dan/ atau tempat yang dapat dimanfaatkan bersama-sama untuk kegiatan masyarakat yang dikelola oleh pemerintah, swasta, danmasyarakat. Tempat lainnya yang ditetapkan

adalah tempat tempat tertentu yang belum masuk dalam aturan ini namun kemudian ditetapkan menjadi Kawasan Tanpa Rokok. Efektifitas Kebijakan Kawasan Tanpa Rokok dalam Penurunan Perokok Aktif. Berdasarkan hasil penelitian bahwa mahasiswa FK UGM mendukukng penerapan kawasan tanpa rokok yang terbukti sebagai salah satu metode yang efektif untuk mengendalikan rokok.4Asap Rokok Orang Lain

Hak untuk menghirup udara bersih tanpa paparan asap rokok telah menjadi perhatian dunia. WHO memprediksi penyakit yang berkaitan dengan rokok akan menjadi masalah kesehatan di dunia. Dari tiap 10 orang dewasa yang meninggal, 1 orang diantaranya meninggal karena disebabkan asap rokok.5Dampak Paparan Asap Rokok Orang Lain Terhadap Kesehatan

Asap rokok tidak hanya berbahaya bagi perokok namun juga berbahaya bagi orang yang berada disekitarnya. Definisi perokok pasif atau Secondhand Smoke (SHS) Asap rokok orang lain (AROL) adalah asap yang keluar dari ujung rokok yang menyala atau produk tembakau lainya, yang biasanya merupakan gabungan dengan asap rokok terdiri dari asap utama (main stream) yang mengandung 25% kadar bahan berbahaya dan asam sampingan (side stream) yang mengandung 75% kadar bahan berbahaya ditambah separuh dari asap yang dihembuskan keluar oleh perokok.6Dalam asap rokok terdapat 4.000 bahan kimia dan gas berbahaya yang bersifat karsinogenik. Seperti nikotin, arsen, tar, aseton, natilamin, dan cadmium. Tidak semua bahanbahan kimia tersebut ada dalam polusi udara akibat cerobong asap pabrik, asap rumah tangga, atau knalpot kendaraan.7International Non Governmental Coalition Against Tobacco (INGCAT) telah menyampaikan rekomendasi yang didukung oleh lebih dari 60 negara di seluruh dunia yang dimuat dalam IUALTD News Bulletin on