Home > Documents > SABTU, 10 DESEMBER 2011 Pedas Menunya, Mulia … · ENTREPRENEUR 15 Telepon/Fax Layanan Pembaca:...

SABTU, 10 DESEMBER 2011 Pedas Menunya, Mulia … · ENTREPRENEUR 15 Telepon/Fax Layanan Pembaca:...

Date post: 17-Sep-2018
Category:
Author: lamnhu
View: 218 times
Download: 0 times
Share this document with a friend
Embed Size (px)
of 1 /1
15 E NTRE PRENEUR Telepon/Fax Layanan Pembaca: (021) 5821303, Tele- pon/ Fax Iklan: (021) 5812107, 5812113, Telepon Sirku- lasi: (021) 5812095, Telepon Distribusi: (021) 5812077, Telepon Percetakan: (021) 5812086, Harga Langganan: Rp67.000 per bulan (Jabodetabek), di luar P. Jawa + ongkos kirim, No. Rekening Bank: a.n. PT Citra Media Nusa Purnama Bank Mandiri - Cab. Taman Kebon Jeruk: 117-009-500-9098; BCA - Cab. Sudirman: 035-306-5014, Diterbitkan oleh: PT Citra Media Nusa Purnama, Jakarta, Alamat Redaksi/Tata Usaha/Iklan/Sirkulasi: Kompleks Delta Kedoya, Jl. Pilar Raya Kav. A-D, Kedoya Selatan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat - 11520, Telepon: (021) 5812088 (Hunting), Fax: (021) 5812102, 5812105 (Redaksi) e-mail: [email protected], Per- cetakan: Media Indonesia, Jakarta, ISSN: 0215-4935, Web- site: www.mediaindonesia.com, DALAM MELAKSANAKAN TUGAS JURNALISTIK, WAR- TAWAN MEDIA INDONESIA DILENGKAPI KARTU PERS DAN TIDAK DIPERKENANKAN MENERIMA ATAU ME- MINTA IMBALAN DENGAN ALASAN APA PUN Pendiri: Drs. H. Teuku Yousli Syah MSi (Alm) Direktur Utama: Rahni Lowhur-Schad Direktur Pemberitaan: Saur M. Hutabarat Direktur Pengembangan Bisnis: Alexander Stefanus Dewan Redaksi Media Group: Elman Saragih (Ketua), Ana Widjaya, Andy F.Noya, Bambang Eka Wijaya, Djadjat Sudra- djat, Djafar H. Assegaff, Laurens Tato, Lestari Moerdijat, Rahni Lowhur Schad, Saur M. Hutabarat, Sugeng Suparwoto, Suryo- pratomo, Toeti P. Adhitama Redaktur Senior: Elman Saragih, Laurens Tato, Saur M. Hu- tabarat Deputi Direktur Pemberitaan: Usman Kansong Kepala Divisi Pemberitaan: Kleden Suban Kepala Divisi Content Enrichment: Gaudensius Suhardi Deputi Kepala Divisi Pemberitaan: Abdul Kohar Sekretaris Redaksi: Teguh Nirwahyudi Asisten Kepala Divisi Pemberitaan: Ade Alawi, Fitriana Siregar, Haryo Prasetyo, Ono Sarwono, Rosmery C.Sihombing Asisten Kepala Divisi Foto: Hariyanto Redaktur: Agus Mulyawan, Anton Kustedja, Cri Qanon Ria Dewi, Eko Rahmawanto, Eko Suprihatno, Hapsoro Poetro, Henri Salomo Siagian, Ida Farida, Jaka Budisantosa, Mathias S. Brahmana, Mo- chamad Anwar Surahman, Sadyo Kristiarto, Santhy M. Sibarani, Soelistijono Staf Redaksi: Adam Dwi Putra, Agung Wibowo, Ahmad Maulana, Ahmad Punto, Akhmad Mustain, Amalia Susanti, Andreas Timothy, Aries Wijaksena, Aryo Bhawono, Asep Toha, Asni Harismi, Basuki Eka Purnama, Bintang Krisanti, Christine Franciska, Cornelius Eko, Denny Parsaulian Sinaga, Deri Dahuri, Dian Palupi, Dinny Mutiah, Dwi Tupani Gunarwati, Edwin Tirani, Emir Chairullah, Eni Kartinah, Eri Anugerah, Fardiansah Noor, Fidel Ali Permana, Gino F. Hadi, Heru Prihmantoro, Heryadi, Iis Zatnika, Irana Shalindra, Irvan Si- hombing, Iwan Kurniawan, Jajang Sumantri, Jerome Eugene W, Jonggi Pangihutan M., M. Soleh, Mirza Andreas, Mohamad Ir- fan, Muhamad Fauzi, Nurulia Juwita, Panca Syurkani, Raja Suhud V.H.M, Ramdani, Rommy Pujianto, Selamat Saragih, Sidik Pramono, Siswantini Suryandari, Sitriah Hamid, Sugeng Sumariyadi, Sulaiman Basri, Sumaryanto, Susanto, Syarief Oebaidillah, Thalatie Yani, Tu- tus Subronto, Usman Iskandar, Vini Mariyane Rosya, Wendy Mehari, Windy Dyah Indriantari, Zubaedah Hanum Biro Redaksi: Dede Susianti (Bogor) Eriez M. Rizal (Bandung); Kisar Rajagukguk (Depok); Firman Saragih (Karawang); Yusuf Riaman (NTB); Baharman (Palembang); Parulian Manulang (Pa- dang); Haryanto (Semarang); Widjajadi (Solo); Faishol Taselan (Surabaya) MICOM Asisten Kepala Divisi: Tjahyo Utomo, Victor J.P. Nababan Redaktur: Agus Triwibowo, Asnawi Khaddaf, Patna Budi Utami, Widhoroso, Yulius Martinus Staf Redaksi: Heni Rahayu, Hillarius U. Gani, Nurtjahyadi, Prita Daneswari, Retno Hemawati, Rina Garmina, Rita Ayuningtyas, Yulia Permata Sari, Wisnu Arto Subari Staf: Abadi Surono, Abdul Salam, Budi Haryanto, Charles Silaban, M. Syaifullah, Panji Arimurti, Rani Nuraini, Ricky Julian, Vicky Gus- tiawan, Widjokongko DIVISI TABLOID, MAJALAH, DAN BUKU (PUBLISHING) Asisten Kepala Divisi: Gantyo Koespradono, Jessica Huwae Redaktur: Agus Wahyu Kristianto, Lintang Rowe, Regina Panon- tongan Staf Redaksi: Adeste Adipriyanti, Arya Wardhana, Handi Andrian, Nia Novelia, Rahma Wulandari CONTENT ENRICHMENT Asisten Kepala Divisi: Yohanes S. Widada Periset: Heru Prasetyo (Redaktur), Desi Yasmini S Bahasa: Dony Tjiptonugroho (Redaktur), Aam Firdaus, Adang Is- kandar, Mahmudi, Ni Nyoman Dwi Astarini, Riko Alfonso, Suprianto ARTISTIK Redaktur: Annette Natalia, Donatus Ola Pereda, Gatot Purnomo, Marjuki, Prayogi, Ruddy Pata Areadi Staf Redaksi: Ali Firdaus, Ami Luhur, Ananto Prabowo, Andi Nursandi, Aria Mada, Bayu Aditya Ramadhani, Bayu Wicaksono, Briyan Bodo Hendro, Budi Setyo Widodo, Dedy, Dharma Soleh, Endang Mawardi, Fredy Wijaya, Gugun Permana, Hari Syahriar, Haris Imron Armani, Haryadi, Marionsandez G, M. Rusli, Muhamad Nasir, Muhamad Yunus, Nana Sutisna, Novi Hernando, Nurkania Is- mono, Permana, Putra Adji, Tutik Sunarsih, Warta Santosi Olah Foto: Saut Budiman Marpaung, Sutarman. PENGEMBANGAN BISNIS Kepala Divisi Marketing Communication: Fitriana Saiful Bachri Kepala Divisi Marketing Support & Publishing: Andreas Su- jiyono Asisten Kepala Divisi Iklan: Gustaf Bernhard R Perwakilan Bandung: Arief Ibnu (022) 4210500; Medan: Jo- seph (061) 4514945; Surabaya: Tri Febrianto (031) 5667359; Semarang: Desijhon (024) 7461524; Yogyakarta: Andi Yudhanto (0274) 523167; Palembang: Ferry Mussanto (0711) 317526, Pe- kanbaru: Bambang Irianto 081351738384. SABTU, 10 DESEMBER 2011 Margin Tipis, Cabang 52 Hati pembuat sambal Khusus pengolah sambal, Yoyok me- nyerahkan kepada karyawan yang dinilai berkompeten. Kesejahteraan staf juga benar-benar diperhatikan untuk menjaga kualitas. “Karyawan yang tidak sejahtera tidak mungkin bisa nyambal enak. Orang yang membuat sambal ketika senang dengan yang tidak senang akan lain,” kata Yoyok. Yoyok mengaku berkomitmen penuh merawat bisnis kulinernya. Tabungan yang dimilikinya tidak digunakan untuk mem- beli rumah pribadi, tetapi untuk membuka kantor. “Dari 2001 sampai sekarang rumah masih ngontrak,” kata Yoyok. Kemitraan tertutup Yoyok hanya bermitra dengan saudara dan teman-teman terdekat, jumlahnya 15 orang. “Inisiatif membuka gerai baru biasanya datang dari teman atau keluarga. Saya bi- asanya cerita dulu tentang pandangan saya soal bisnis. Jika orientasi mereka hanya ke angka, kerja sama batal. Mitra hanya menye- diakan tempat. Sisanya akan ditanganinya melalui manajemen,” kata Yoyok. Setelah itu, staf manajemen akan meng- awasi, dari audit internal hingga quality control. “Sudah ada manajemen lengkap, 80 orang,” ucapnya. “Saya datang ke lapangan sewaktu-waktu untuk kontrol,” ucapnya. Yoyok menyediakan hotline 24 jam. “Saya bisa menerima langsung respons dari pe- langgan,” paparnya. Margin tipis Image orang, laba pengusaha kuliner 40%, tapi di SS hanya 10%-15%,” terangnya. Ia lebih memilih mencari lebih banyak pelanggan daripada menaikkan margin laba. Caranya SS berusaha agar masyarakat datang ke SS lebih sering sehingga seperti makan sehari-hari. Untuk menangani gerai yang sepi, Yoyok punya solusi sendiri. “Saya alami saja. Saya tidak promosi ke media, tetapi meningkatkan kualitas inter- nal. Promosi akan dilakukan pelanggan sendiri dari mulut ke mulut,” kata Yoyok. (M-2) ARDI TERISTI HARDI J IKA sambal aneka rupa dan rasa yang Anda cari, mari mampir ke Waroeng SS. Jika makanan rumahan dengan harga bersahabat yang ingin disambangi, bertandanglah juga ke Waroeng SS. Buat para penggemar kuliner, rumah ma- kan yang didirikan Yoyok Hery Wahyono, 38, ini memang seru. Sambalnya juara, harganya pun terjangkau namun tak mengabaikan pelayanan yang baik dan ruangan yang nyaman. Rumah makan yang lahir di Yogyakarta ini telah beranak-pinak menjadi 52 gerai yang tersebar di 23 kota. Waroeng dengan nama panjang Spesial Sambal (SS) ini didirikan Yoyok karena ia urung mendapat gelar sar- jana setelah 18 semester kuliah di Universitas Gadjah Mada. Jadi pegawai dirasa bukan pilihan yang tepat oleh Yoyok. “Saya sebenarnya sudah menyelesaikan skripsi. Namun, nilainya tidak mencukupi sehingga tidak bisa diwisuda,” kata pria kelahiran 1973 ini. Pada 2001, Yoyok mendirikan bisnis event organizer (EO). Namun, Yoyok mengukur pergerakan usaha EO di Yogyakarta tak ter- lampau cemerlang. Sembari menggarap bisnis pertama yang hingga kini masih dikelolanya, Yoyok memu- tuskan mendirikan Waroeng SS pada Agustus 2002, bermula dari kaki lima di samping Gedung Graha Sabha Pra- mana Yogyakarta. “Bisnis kuliner sesuai mi- nat saya. Kenapa sambal, karena waktu kos bersama teman-teman, sambal buat- an saya selalu jadi menu yang pertama habis,” kata Yoyok. Yoyok melihat banyak rumah makan yang menyediakan sambal dalam pilihan menu mereka. Namun, mereka hanya menyedia- kannya sebagai pelengkap. “Faktanya, pecel lele yang laris karena sam- balnya enak,” papar Yoyok. Terlebih, Yoyok merasa sambal yang pas dengan seleranya dan benar-benar pedas pun terbilang sulit didapat. Sambal yang ditemukan di Kota Gudeg cenderung manis. “Yang terakhir, alasan saya, ini konsep baru. Menurut teori marketing, jika konsep baru diterima, perkembangannya bisa sangat cepat,” kata Yoyok. Bersama satu adik dan tiga karyawan, Yoyok kemudian membulatkan tekad men- dirikan Waroeng SS. Saat itu, ia menyajikan 11 menu sambal, yaitu sambal terasi segar, terasi matang, tomat, teri, bajak, bawang, bawang lombok ijo, terasi lombok ijo, belut, tempe, dan tahu. Kesebelas sambal tersebut pada dasarnya sambal tradisi yang sudah ada turun-temu- run. Dengan kreativitasnya, Yoyok kemudian memodikasinya sehingga jenisnya menjadi banyak. Sambal tempe, tahu, teri, belut, contohnya, ialah sambal bawang yang dikombinasikan dengan beragam lauk berbeda. Hal serupa juga dilakukan dengan sambal terasi segar dan matang yang asal usulnya dari sambal terasi. Dari 31 resep sambal buatannya, hanya 27 sambal yang dijual, empat sambal lain dieliminasi dari daftar menu karena berada di rangking terbawah favorit pelanggan. Proses panjang Yoyok membutuhkan waktu tiga bulan hingga sambal itu diluncurkan ke meja ma- kan pelanggannya. Setelah yakin dengan rasa racikan sambal- nya, Yoyok meminta teman-teman dekatnya mencicipi. Jika mendapat sambutan positif, selanjutnya giliran para pelanggan menguji coba rasanya. “Itulah uji terakhir sebelum sambal dilem- par ke pasar,” ujar Yoyok. Agar rasanya sama, Waroeng SS memiliki standar khusus dalam pemilihan bahan, ter- masuk cabai rawit, aktor utama di Waroeng SS. Gerai di tiap-tiap kota berbelanja sendiri, tapi standar SS tetap dipatuhi. Beberapa bahan dikirim dari manajemen Waroeng SS Yogyakarta karena cita rasanya terbilang khas, seperti terasi, belut, sambal pecel, wader, dan teh. Ia memiliki supplier tetap untuk bahan-bahan istimewa itu. Modal Rp9 juta Yoyok mengungkapkan ia mendirikan SS dari kocek sendiri sebesar Rp9 juta, seba- nyak Rp6 juta untuk membeli peralatan dan sisanya untuk mencukupi bahan baku awal, transportasi, dan biaya operasional lainnya. Tidak butuh waktu lama untuk menarik ba- nyak orang datang ke Waroeng SS. Sambutan masyarakat sangat bagus. “Sebulan didirikan SS sangat laris sehingga pembeli sampai mengantre di luar tenda,” kata Yoyok. Walau demikian, Yoyok tidak lekas mem- buka gerai baru. Ia merasa belum optimal mengelola bisnisnya. Walaupun sangat laris, laba yang didapat sangat kecil, hanya 1% dari modal yang digelontorkan. Ia mengaku omzet yang didapatkan kala itu Rp1,5 juta per malam. Jumlah saat itu memang terbilang sangat besar untuk ukuran warung tenda, pedagang pecel lele rata-rata hanya mencapai omzet Rp500 ribu. “Tapi saya tetap merawat usaha ini karena memiliki prospek besar. Jualannya laris tetapi labanya sedikit, berarti ada yang salah di prosesnya,” kata Yoyok. Ia kemudian mengevaluasi harga jual hingga harga bahan baku. Harga beberapa menu dinaikkan. Ia juga mengubah strategi berbelanja. Jika sebelumnya berbelanja ke pa- sar, kini ia langsung membeli dari produsen. “Setahun, saya menyisir satu per satu untuk dibenahi,” ucap Yoyok. Setelah dinilai siap, ia kemudian mendiri- kan gerai kedua di daerah Condongcatur, Sleman, setahun kemudian. Pem- bukaan warung kedua, ketiga, dan seterusnya le- bih cepat, mulai dua hing- ga empat bulan. Bahkan, pada 2005 ia memutuskan membuka kantor di Jalan Kaliurang Yogyakarta. “Setelah membuka cabang kelima pada 2005 dengan total karyawan 80-an, saya me- mutuskan membuka kantor,” paparnya. Setelah 10 tahun, kini Yoyok memiliki 52 gerai di 23 kota dengan 1.200 pegawai. Na- mun, Yoyok enggan menyebutkan berapa omzetnya per hari. Pasalnya, walaupun ba- nyak gerainya untung, ada dua hingga tiga gerai yang dinilai masih rugi padahal telah dua tahun dibuka. Cabai yang dihabiskan untuk 52 warung dalam sehari mencapai 1 ton. “Warung dengan omzet tertinggi, di Sema- rang dengan pengunjung 600 orang per hari dan omzet Rp9 jutaan,” kata Yoyok. Yoyok masih mempertahankan warung sepi pengunjung karena meyakini membuka gerai seperti merawat tanaman. Jika belum berbuah, tidak serta-merta dibunuh. “Saya akan merawat semampu saya de- ngan keyakinan gerai tersebut akan berbuah pada saatnya nanti,” kata Yoyok. Fluktuasi rawit Yoyok mengungkapkan kendala terbe- sarnya ialah fluktuasi harga bahan baku. Contohnya, cabai rawit yang pernah menca- pai Rp100 ribu. Padahal, lazimnya maksimal hanya Rp25 ribu per kilogram. “Jika harga rawit Rp50 ribu, makin banyak kita jual, makin banyak rugi. Tapi porsinya te- tap sama, tidak dikurangi dan harganya tidak naik,” kata Yoyok. Pasalnya, menaikkan harga merupakan pili- han terakhir karena SS dikenal murah. Yoyok meyakini, selama satu hingga dua bulan bisnisnya memang terengah-engah. Namun memasuki bulan ketiga, ketika harga cabai normal, ia mendapat keuntungan. Penentuan harga menu, kata Yoyok, didasarkan pada lokasi gerai sehingga bisa berbeda-beda. Yoyok mengaku tak galau jika konsep usahanya dicontoh. “Teman saya pada 2005 membuka warung di Purwokerto, tetapi ti- dak tahan lama. Padahal, semua resep dari saya dan karyawannya dilatih,” papar Yoyok. (M-2) [email protected] HATI-HATI: Yoyok Hery Wahyono, 38, pendiri Waroeng Spesial Sambal. Berawal dari Yogyakarta, rumah makan dengan 27 menu sambal ini telah beranak-pinak menjadi 52 gerai di 23 kota. Yoyok mengaku memilih mengambil margin tipis dan berhati-hati memilih mitra saat membuka gerai baru untuk mempertahankan umur bisnis dan masa depan 1.200 karyawannya. Pedas Menunya, Mulia Bisnisnya Dalam sehari cabai yang dihabiskan untuk 52 warungnya mencapai 1 ton.” Bukan cuma pedas sambal dan murahnya harga yang membuat warung ini istimewa, melainkan juga nilai-nilai yang dipegang kukuh sang pendiri. FOTO-FOTO: MI/ARDI
Transcript
  • 15ENTREPRENEUR

    Telepon/Fax Layanan Pembaca: (021) 5821303, Tele-pon/ Fax Iklan: (021) 5812107, 5812113, Telepon Sirku-lasi: (021) 5812095, Telepon Distribusi: (021) 5812077, Telepon Per cetakan: (021) 5812086, Harga Langganan: Rp67.000 per bulan (Jabodetabek), di luar P. Jawa + ongkos kirim, No. Reke ning Bank: a.n. PT Citra Media Nusa Purnama Bank Mandiri - Cab. Taman Kebon Jeruk: 117-009-500-9098; BCA - Cab. Su dir man: 035-306-5014, Diterbitkan oleh: PT Citra Media Nusa Pur nama, Jakarta, Alamat Redaksi/Tata Usaha/Iklan/Sirkulasi: Kompleks Delta Kedoya, Jl. Pilar Raya Kav. A-D, Kedoya Se latan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat - 11520, Telepon: (021) 5812088 (Hunting), Fax: (021) 5812102, 5812105 (Redaksi) e-mail: [email protected], Per-cetakan: Media In do nesia, Jakarta, ISSN: 0215-4935, Web-site: www.mediaindo nesia.com,

    DALAM MELAKSANAKAN TUGAS JURNALISTIK, WAR-TAWAN MEDIA INDONESIA DILENGKAPI KARTU PERS DAN TIDAK DI PERKENANKAN MENERIMA ATAU ME-MINTA IMBALAN DE NGAN ALASAN APA PUN

    Pendiri: Drs. H. Teuku Yousli Syah MSi (Alm)Direktur Utama: Rahni Lowhur-SchadDirektur Pemberitaan: Saur M. HutabaratDirektur Pengembangan Bisnis: Alexander StefanusDewan Redaksi Media Group: Elman Saragih (Ketua), Ana Widjaya, Andy F.Noya, Bambang Eka Wijaya, Djadjat Sudra-djat, Djafar H. Assegaff, Laurens Tato, Lestari Moerdijat, Rahni Lowhur Schad, Saur M. Hutabarat, Sugeng Suparwoto, Suryo-pratomo, Toeti P. AdhitamaRedaktur Senior: Elman Saragih, Laurens Tato, Saur M. Hu-tabaratDeputi Direktur Pemberitaan: Usman KansongKepala Divisi Pemberitaan: Kleden SubanKepala Divisi Content Enrichment: Gaudensius SuhardiDeputi Kepala Divisi Pemberitaan: Abdul KoharSekretaris Redaksi: Teguh NirwahyudiAsisten Kepala Divisi Pemberitaan: Ade Alawi, Fitriana Siregar, Haryo Prasetyo, Ono Sarwono, Rosmery C.SihombingAsisten Kepala Divisi Foto: Hariyanto

    Redaktur: Agus Mulyawan, Anton Kuste dja, Cri Qanon Ria Dewi, Eko Rahmawanto, Eko Suprihatno, Hapsoro Poetro, Henri Salomo Siagian, Ida Farida, Jaka Budisantosa, Mathias S. Brahmana, Mo-chamad Anwar Surahman, Sadyo Kristiarto, Santhy M. Sibarani, SoelistijonoStaf Redaksi: Adam Dwi Putra, Agung Wibowo, Ahmad Maulana, Ahmad Punto, Akhmad Mustain, Amalia Susanti, Andreas Timothy, Aries Wijaksena, Aryo Bhawono, Asep Toha, Asni Harismi, Basuki Eka Purnama, Bintang Krisanti, Christine Franciska, Cornelius Eko, Denny Parsaulian Sinaga, Deri Dahuri, Dian Palupi, Dinny Mu tiah, Dwi Tu pa ni Gunarwati, Edwin Tirani, Emir Chairullah, Eni Kartinah, Eri Anuge rah, Fardi an sah Noor, Fidel Ali Permana, Gino F. Hadi, Heru Prih mantoro, Heryadi, Iis Zatnika, Irana Shalindra, Irvan Si-hombing, Iwan Kurniawan, Jajang Su mantri, Jerome Eugene W, Jonggi Pangihutan M., M. Soleh, Mirza Andreas, Mo hamad Ir-fan, Muhamad Fauzi, Nurulia Juwita, Panca Syurkani, Raja Suhud V.H.M, Ramdani, Rommy Pujianto, Selamat Saragih, Sidik Pra mo no, Siswantini Sur yandari, Sitriah Hamid, Su geng Sumariyadi, Sulaiman Basri, Sumar yanto, Susanto, Syarief Oebaidillah, Tha latie Yani, Tu-tus Subronto, Usman Iskandar, Vini Mariyane Rosya, Wendy Mehari, Windy Dyah Indriantari, Zu baedah Hanum

    Biro Redaksi: Dede Susianti (Bogor) Eriez M. Rizal (Bandung); Kisar Rajagukguk (Depok); Firman Saragih (Karawang); Yusuf Riaman (NTB); Baharman (Palembang); Parulian Manulang (Pa-

    dang); Haryanto (Semarang); Widjajadi (Solo); Faishol Taselan (Surabaya)

    MICOMAsisten Kepala Divisi: Tjahyo Utomo, Victor J.P. NababanRedaktur: Agus Triwibowo, Asnawi Khaddaf, Patna Budi Utami, Widhoroso, Yulius MartinusStaf Redaksi: Heni Raha yu, Hillarius U. Gani, Nurtjahyadi, Prita Daneswari, Retno Hemawati, Rina Garmina, Rita Ayuningtyas, Yulia Permata Sari, Wisnu Arto SubariStaf: Abadi Surono, Abdul Salam, Budi Haryanto, Charles Silaban, M. Syaifullah, Panji Arimurti, Rani Nuraini, Ricky Julian, Vicky Gus-tiawan, Widjokongko

    DIVISI TABLOID, MAJALAH, DAN BUKU (PUBLISHING)Asisten Kepala Divisi: Gantyo Koespradono, Jessica HuwaeRedaktur: Agus Wahyu Kristianto, Lintang Rowe, Regina Panon-tongan Staf Redaksi: Adeste Adipriyanti, Arya Wardhana, Handi Andrian, Nia No velia, Rahma Wulandari

    CONTENT ENRICHMENTAsisten Kepala Divisi: Yohanes S. WidadaPeriset: Heru Prasetyo (Redaktur), Desi Yasmini S Bahasa: Dony Tjiptonugroho (Redaktur), Aam Firdaus, Adang Is-

    kandar, Mahmudi, Ni Nyoman Dwi Astarini, Riko Alfonso, Suprianto

    ARTISTIKRedaktur: Annette Natalia, Donatus Ola Pereda, Gatot Purnomo, Marjuki, Prayogi, Ruddy Pata AreadiStaf Redaksi: Ali Firdaus, Ami Luhur, Ananto Prabowo, Andi Nursandi, Aria Mada, Bayu Aditya Ramadhani, Bayu Wicaksono, Briyan Bodo Hendro, Budi Setyo Widodo, Dedy, Dharma Soleh, Endang Mawardi, Fredy Wijaya, Gugun Permana, Hari Syahriar, Haris Imron Armani, Haryadi, Marionsandez G, M. Rusli, Muhamad Nasir, Muhamad Yunus, Nana Su tisna, Novi Hernando, Nurkania Is-mono, Permana, Putra Adji, Tutik Sunarsih, Warta Santosi

    Olah Foto: Saut Budiman Marpaung, Sutarman.

    PENGEMBANGAN BISNISKepala Divisi Marketing Communication: Fitriana Saiful BachriKepala Divisi Marketing Support & Publishing: Andreas Su-jiyonoAsisten Kepala Divisi Iklan: Gustaf Bernhard R Perwakilan Bandung: Arief Ibnu (022) 4210500; Medan: Jo-seph (061) 4514945; Surabaya: Tri Febrianto (031) 5667359; Semarang: Desijhon (024) 7461524; Yogyakarta: Andi Yu dhanto (0274) 523167; Palembang: Ferry Mussanto (0711) 317526, Pe-kanbaru: Bambang Irianto 081351738384.

    SABTU, 10 DESEMBER 2011

    Margin Tipis, Cabang 52 Hati pembuat sambalKhusus pengolah sambal, Yoyok me-

    nyerahkan kepada karyawan yang dinilai berkompeten. Kesejahteraan staf juga benar-benar diperhatikan untuk menjaga kualitas.

    Karyawan yang tidak sejahtera tidak mungkin bisa nyambal enak. Orang yang membuat sambal ketika senang dengan yang tidak senang akan lain, kata Yoyok.

    Yoyok mengaku berkomitmen penuh merawat bisnis kulinernya. Tabungan yang dimilikinya tidak digunakan untuk mem-beli rumah pribadi, tetapi untuk membuka kantor. Dari 2001 sampai sekarang rumah masih ngontrak, kata Yoyok.

    Kemitraan tertutupYoyok hanya bermitra dengan saudara

    dan teman-teman terdekat, jumlahnya 15 orang.

    Inisiatif membuka gerai baru biasanya datang dari teman atau keluarga. Saya bi-asanya cerita dulu tentang pandangan saya soal bisnis. Jika orientasi mereka hanya ke angka, kerja sama batal. Mitra hanya menye-diakan tempat. Sisanya akan ditanganinya melalui manajemen, kata Yoyok.

    Setelah itu, staf manajemen akan meng-awasi, dari audit internal hingga quality control. Sudah ada manajemen lengkap, 80

    orang, ucapnya.Saya datang ke lapangan sewaktu-waktu

    untuk kontrol, ucapnya.Yoyok menyediakan hotline 24 jam. Saya

    bisa menerima langsung respons dari pe-langgan, paparnya.

    Margin tipisImage orang, laba pengusaha kuliner 40%,

    tapi di SS hanya 10%-15%, terangnya.Ia lebih memilih mencari lebih banyak

    pelanggan daripada menaikkan margin laba. Caranya SS berusaha agar masyarakat datang ke SS lebih sering sehingga seperti makan sehari-hari.

    Untuk menangani gerai yang sepi, Yoyok punya solusi sendiri.

    Saya alami saja. Saya tidak promosi ke media, tetapi meningkatkan kualitas inter-nal. Promosi akan dilakukan pelanggan sendiri dari mulut ke mulut, kata Yoyok. (M-2)

    ARDI TERISTI HARDI

    JIKA sambal aneka rupa dan rasa yang Anda cari, mari mampir ke Waroeng SS. Jika makanan rumahan dengan harga bersahabat yang ingin disambangi, bertandanglah juga ke Waroeng SS.

    Buat para penggemar kuliner, rumah ma-kan yang didirikan Yoyok Hery Wahyono, 38, ini memang seru. Sambalnya juara, harganya pun terjangkau namun tak mengabaikan pelayanan yang baik dan ruangan yang nyaman.

    Rumah makan yang lahir di Yogyakarta ini telah beranak-pinak menjadi 52 gerai yang tersebar di 23 kota. Waroeng dengan nama panjang Spesial Sambal (SS) ini didirikan Yoyok karena ia urung mendapat gelar sar-jana setelah 18 semester kuliah di Universitas Gadjah Mada. Jadi pegawai dirasa bukan pilihan yang tepat oleh Yoyok.

    Saya sebenarnya sudah menyelesaikan skripsi. Namun, nilainya tidak mencukupi sehingga tidak bisa diwisuda, kata pria kelahiran 1973 ini.

    Pada 2001, Yoyok mendirikan bisnis event organizer (EO). Namun, Yoyok mengukur pergerakan usaha EO di Yogyakarta tak ter-lampau cemerlang.

    Sembari menggarap bisnis pertama yang hingga kini masih dikelolanya, Yoyok memu-tuskan mendirikan Waroeng SS pada Agustus 2002, bermula dari kaki lima di samping Gedung Graha Sabha Pra-mana Yogyakarta.

    Bisnis kuliner sesuai mi-nat saya. Kenapa sambal, karena waktu kos bersama teman-teman, sambal buat-an saya selalu jadi menu yang pertama habis, kata Yoyok.

    Yoyok melihat banyak rumah makan yang menyediakan sambal dalam pilihan menu mereka. Namun, mereka hanya menyedia-kannya sebagai pelengkap.

    Faktanya, pecel lele yang laris karena sam-balnya enak, papar Yoyok. Terlebih, Yoyok merasa sambal yang pas dengan seleranya dan benar-benar pedas pun terbilang sulit didapat. Sambal yang ditemukan di Kota Gudeg cenderung manis.

    Yang terakhir, alasan saya, ini konsep baru. Menurut teori marketing, jika konsep baru diterima, perkembangannya bisa sangat cepat, kata Yoyok.

    Bersama satu adik dan tiga karyawan, Yoyok kemudian membulatkan tekad men-dirikan Waroeng SS. Saat itu, ia menyajikan 11 menu sambal, yaitu sambal terasi segar, terasi matang, tomat, teri, bajak, bawang, bawang lombok ijo, terasi lombok ijo, belut, tempe, dan tahu.

    Kesebelas sambal tersebut pada dasarnya sambal tradisi yang sudah ada turun-temu-run. Dengan kreativitasnya, Yoyok kemudian memodifi kasinya sehingga jenisnya menjadi banyak.

    Sambal tempe, tahu, teri, belut, contohnya, ialah sambal bawang yang dikombinasikan dengan beragam lauk berbeda. Hal serupa juga dilakukan dengan sambal terasi segar dan matang yang asal usulnya dari sambal terasi.

    Dari 31 resep sambal buatannya, hanya 27 sambal yang dijual, empat sambal lain dieliminasi dari daftar menu karena berada di rangking terbawah favorit pelanggan.

    Proses panjangYoyok membutuhkan waktu tiga bulan

    hingga sambal itu diluncurkan ke meja ma-kan pelanggannya.

    Setelah yakin dengan rasa racikan sambal-nya, Yoyok meminta teman-teman dekatnya mencicipi. Jika mendapat sambutan positif, selanjutnya giliran para pelanggan menguji coba rasanya.

    Itulah uji terakhir sebelum sambal dilem-par ke pasar, ujar Yoyok.

    Agar rasanya sama, Waroeng SS memiliki standar khusus dalam pemilihan bahan, ter-

    masuk cabai rawit, aktor utama di Waroeng SS. Gerai di tiap-tiap kota berbelanja sendiri, tapi standar SS tetap dipatuhi.

    Beberapa bahan dikirim dari manajemen Waroeng SS Yogyakarta karena cita rasanya terbilang khas, seperti terasi, belut, sambal pecel, wader, dan teh. Ia memiliki supplier tetap untuk bahan-bahan istimewa itu.

    Modal Rp9 jutaYoyok mengungkapkan ia mendirikan SS

    dari kocek sendiri sebesar Rp9 juta, seba-nyak Rp6 juta untuk membeli peralatan dan sisanya untuk mencukupi bahan baku awal, transportasi, dan biaya operasional lainnya.

    Tidak butuh waktu lama untuk menarik ba-nyak orang datang ke Waroeng SS. Sambutan masyarakat sangat bagus.

    Sebulan didirikan SS sangat laris sehingga pembeli sampai mengantre di luar tenda, kata Yoyok.

    Walau demikian, Yoyok tidak lekas mem-buka gerai baru. Ia merasa belum optimal mengelola bisnisnya. Walaupun sangat laris, laba yang didapat sangat kecil, hanya 1% dari modal yang digelontorkan.

    Ia mengaku omzet yang didapatkan kala itu Rp1,5 juta per malam. Jumlah saat itu memang terbilang sangat besar untuk ukuran warung tenda, pedagang pecel lele rata-rata hanya mencapai omzet Rp500 ribu.

    Tapi saya tetap merawat usaha ini karena memiliki prospek besar. Jualannya laris tetapi labanya sedikit, berarti ada yang salah di prosesnya, kata Yoyok.

    Ia kemudian mengevaluasi harga jual hingga harga bahan baku. Harga beberapa menu dinaikkan. Ia juga mengubah strategi berbelanja. Jika sebelumnya berbelanja ke pa-sar, kini ia langsung membeli dari produsen. Setahun, saya menyisir satu per satu untuk dibenahi, ucap Yoyok.

    Setelah dinilai siap, ia kemudian mendiri-kan gerai kedua di daerah Condongcatur, Sleman, setahun kemudian. Pem-bukaan warung kedua, ketiga, dan seterusnya le-bih cepat, mulai dua hing-ga empat bulan. Bahkan, pada 2005 ia memutuskan membuka kantor di Jalan

    Kaliurang Yogyakarta. Setelah membuka cabang kelima pada

    2005 dengan total karyawan 80-an, saya me-mutuskan membuka kantor, paparnya.

    Setelah 10 tahun, kini Yoyok memiliki 52 gerai di 23 kota dengan 1.200 pegawai. Na-mun, Yoyok enggan menyebutkan berapa omzetnya per hari. Pasalnya, walaupun ba-nyak gerainya untung, ada dua hingga tiga gerai yang dinilai masih rugi padahal telah dua tahun dibuka. Cabai yang dihabiskan untuk 52 warung dalam sehari mencapai 1 ton.

    Warung dengan omzet tertinggi, di Sema-rang dengan pengunjung 600 orang per hari dan omzet Rp9 jutaan, kata Yoyok.

    Yoyok masih mempertahankan warung sepi pengunjung karena meyakini membuka gerai seperti merawat tanaman. Jika belum berbuah, tidak serta-merta dibunuh.

    Saya akan merawat semampu saya de-ngan keyakinan gerai tersebut akan berbuah pada saatnya nanti, kata Yoyok.

    Fluktuasi rawitYoyok mengungkapkan kendala terbe-

    sarnya ialah fluktuasi harga bahan baku. Contohnya, cabai rawit yang pernah menca-pai Rp100 ribu. Padahal, lazimnya maksimal hanya Rp25 ribu per kilogram.

    Jika harga rawit Rp50 ribu, makin banyak kita jual, makin banyak rugi. Tapi porsinya te-tap sama, tidak dikurangi dan harganya tidak naik, kata Yoyok.

    Pasalnya, menaikkan harga merupakan pili-han terakhir karena SS dikenal murah. Yoyok meyakini, selama satu hingga dua bulan bisnisnya memang terengah-engah. Namun memasuki bulan ketiga, ketika harga cabai normal, ia mendapat keuntungan. Penentuan harga menu, kata Yoyok, didasarkan pada lokasi gerai sehingga bisa berbeda-beda.

    Yoyok mengaku tak galau jika konsep usahanya dicontoh. Teman saya pada 2005 membuka warung di Purwokerto, tetapi ti-dak tahan lama. Padahal, semua resep dari saya dan karyawannya dilatih, papar Yoyok. (M-2)

    [email protected]

    HATI-HATI: Yoyok Hery Wahyono, 38, pendiri Waroeng Spesial Sambal. Berawal dari Yogyakarta, rumah makan dengan 27 menu sambal ini telah beranak-pinak menjadi 52 gerai di 23 kota. Yoyok mengaku memilih mengambil margin tipis dan berhati-hati memilih mitra saat membuka gerai baru untuk mempertahankan umur bisnis dan masa depan 1.200 karyawannya.

    Pedas Menunya, Mulia Bisnisnya

    Dalam sehari cabai yang dihabiskan

    untuk 52 warungnya mencapai 1 ton.

    Bukan cuma pedas sambal dan murahnya harga yang membuat warung ini istimewa, melainkan juga nilai-nilai yang dipegang kukuh sang pendiri.

    FOTO-FOTO: MI/ARDI


Recommended