Home >Documents >S. K. R. P. S. I

S. K. R. P. S. I

Date post:25-Jun-2015
Category:
View:873 times
Download:3 times
Share this document with a friend
Description:
skripsi s1
Transcript:

I. A. Latar Belakang

PENDAHULUAN

Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari gugusan pulau-pulau sebanyak 17.508 pulau dengan luas perairan laut Indonesia diperkirakan sebanyak 58 juta km dan panjang garis pantai 95.181 km, keadaan yang demikian yang menyebabkan Indonesia banyak memiliki potensi yang cukup besar di bidang perikanan, mulai dari prospek pasar baik dalam negeri maupun internasional (Sudirman dan Karim,2008). Salah satu kegiatan yang diharapkan mampu menjadi sumbangsih terbesar dalam peningkatan hasil pada sektor perikanan adalah program revitalisasi perikanan yang merupakan program nasional yang dicanangkan oleh presiden republik Indonesia. Dimana tujuan yang hendak di capai dalam program ini yaitu meningkatkan kesejahteraan nelayan dan pelaku usaha perikanan lainnya. Pelaksanaan program ini merupakan wujud dukungan politik, ekonomi dan sosial untuk menjadikan perikanan sebagai salah satu prime mover pembangunan ekonomi nasional. Sasaran program revitalisasi ini di fokuskan pada

pengembangan tiga komoditas penting salah satu di antaranya adalah rumput laut. Indonesia memiliki lima provinsi utama penghasil rumput laut, yaitu Provinsi Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan. Sulawesi Selatan merupakan provinsi yang memiliki produksi rumput laut rata-rata tahunan tertinggi kedua setelah provinsi Bali yaitu sebesar 24.531 ton dalam bentuk rumput laut basah (Departemen kelutan dan perikanan, 2006). Budidaya rumput laut di Sulawesi Selatan di mulai sejak tahun 1983 dengan

pertimbangan : (1) Peraiaran Sulawesi Selatan mempunyai potensi yang sangat cocok untuk budidaya rumput laut (2) Usaha budidaya rumput laut tidak terlalu sulit pemeliharaanya sehingga dapat dilakukan oleh masyarakat pesisir (3) Usaha budidaya rumput laut dapat membuka lapangan kerja pada masyarakat (4) Komoditas rumput laut mempunyai peluang pasar yang sangat potensial di pasar dalam dan luar negeri yang dapat dijadikan sebagai bahan baku industri pengolahan dan (5) Sumbangan devisa rumput laut cukup besar terhadap total nilai ekspor daerah Sulawesi Selatan pada khususnya dan Indonesia secara umum. Dalam upaya menjadikan Indonesia pada tahun 2015 sebagai penghasil produk perikanan terbesar di dunia, Kementerian Kelautan dan Perikanan menetapkan perikanan budidaya sebagai ujung tombak. Kongritisasi hal tersebut dengan jalan memacu produksi perikanan budidaya pada tahun 2014 menjadi 16,89 juta ton, yang diharapkan dapat meningkat secara spektakuler atau 353 persen dibandingkan produksi pada tahun 2009 yang hanya 4,78 juta ton. Secara empirik, perkembangan budidaya rumput laut di berbagai daerah di Sulawesi Selatan mengalami peningkatan yang pesat, salah satunya adalah Kabupaten Jeneponto. Bahkan Kementerian Koperasi dan UKM telah menetapkan kabupaten ini sebagai salah satu sentra produksi di Sulawesi Selatan (Dinas Kelautan Provinsi Sulawesi Selatan, 2009). Hasil penelitian dari Summari (2008) menyebutkan bahwa dari total luas perairan laut Kabupaten Jeneponto yang disurvei seluas 20.848,11 ha, luasan perairan tersebut yang tergolong kategori sangat sesuai seitar 16.844,88 ha,

kategori sesuai sebesar 3.731,79 ha dan kategori cukup sesuai sebesar 271,44 ha untuk budidaya rumput laut diperairan laut. Apa yang ditemukan oleh Summari

(2008) menunjukkan bahwa tidak terdapat kawasan perairan yang termasuk kategori tidak sesuai untuk budidaya rumput laut. Hal ini dapat disimpulkan bahwa perairan pesisir Kabupaten Jeneponto berdasarkan peubah fisika kimia sebagai kondisi ekologi merupakan kawasan yang tepat dan sangat berpotensi dikembangkan secara ekstensifikasi untuk budidaya rumput laut metode long line. Meskipun demikian perkembangan usaha pembudidayaan rumput laut juga tidak lepas dari berbagai macam masalah. Fakta empirik memperlihatkan bahwa keterbatasan modal dan pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat pesisir secara umum dapat diasumsikan bahwa faktor-faktor yang disebutkan sebelumnya, membuat mereka (pembudidaya rumput laut) tidak mampu mengembangkan usaha secara komersial sehingga berimplikasi terhadapat rendahnya pendapatan yang mereka peroleh. Hal ini menyebabkan sebagian besar dari komunitas mereka masih tergolong masyarakat miskin dengan pola usaha yang bersifat subsisten. Secara kontekstual masalah yang di hadapi petani rumput laut dari berbagai daerah di Kabupaten Jeneponto kurang lebih menunjukan hal yang sama, termasuk di Desa Bulo-Bulo, Kecamatan Arungkeke yang dijadikan sebagai wilayah studi kasus penelitian. Dalam perkembangan saat ini, pemerintah dengan berbagai programnya telah berupayah mendorong masyarakat pesisir dalam melakukakan kegiatan

usaha secara berkelompok. Gambaran yang dimaksud terlihat pada pembentukanpembentukan kelompok tani/nelayan. Hal ini dimaksudkan agar dengan

berkelompok para petani rumput laut dapat dengan mudah melaksanakan atau mengerjakan kegiatan-kegiatan dalam pembudidayaan rumput laut berdasarkan aktivitas interaksi diantara mereka (belajar berdasarkan pengalaman) sehingga diharapkan bisa meningkatkan usaha budidaya rumput laut yang dilakukan, juga

dengan adanya kelompok tani para petani rumput laut diharapkan dapat bertukar pikiran atau melakukan diskusi (informasi) sesama anggota kelompok tani, yang berimplikasi terhadap penyelesaian masalah-masalah yang ada dalam kelompok tani tersebut, selain itu juga dengan berkelompok, pemerintah dapat dengan mudah mengontrol, dan mengevaluasi berbagai bantuan yang telah diberikan. Dari hasil survei awal yang dilakukan di Desa Bulo-Bulo, Kecamatan Arungkeke, Kabupaten Jeneponto, ditemukan bahwa kelompok tani yang mereka bentuk diasumsikan kurang berfungsi sebagaimana layaknya sebagai kelompok yang ideal. Bertitik tolak dari deskripsi yang di kemukakan di atas, penulis tertarik untuk menelaah melalui penelitian dengan mengambil judul Strategi Pemberdayaan Kelompok Tani Pada Usaha Budidaya Rumput laut di Desa Bulo-Bulo, Kecamatan Arungkeke, Kabupaten Jeneponto B. Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Bagaimana aktivitas kelompok tani rumput laut di Desa Bulo Bulo ? 2. Bagaimana strategi pemberdayaan kelompok tani dalam meningkatkan usaha budidaya rumput laut di Desa Bulo-Bulo ? C. Tujuan Dan Kegunaan Tujuan yang ingin di capai sehubungan dengan permasalahan penelitian adalah sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui aktivitas kelompok tani rumput laut di Desa Bulo-Bulo

2. Untuk membuat strategi pemberdayaan kelompok tani sehingga dapat meningkatkan usaha budidaya rumput laut di Desa Bulo-Bulo.

Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah : 1. Sebagai bahan pertimbangan bagi kelompok tani rumput laut untuk dapat mengembangkan usahanya. 2. Sebagai bahan informasi bagi pemerintah untuk lebih mengaktifkan kelompok tani rumput laut yang berimplikasi pada kemajuan usaha budidaya rumput laut di Kabupaten Jeneponto

II. TINJAUAN PUSTAKAA. Potensi Rumput Laut Rumput laut merupakan salah satu sumberdaya hayati yang terdapat di

wilayah pesisir dan laut. Istilah ini rancu secara botani karena dipakai untuk dua kelompok tumbuhan yang berbeda. Dalam bahasa Indonesia, istilah rumput laut dipakai untuk menyebut gulma laut dan lamun.

Yang dimaksud sebagai rumput laut adalah anggota dari kelompok vegetasi yang dikenal sebagai alga. Sumberdaya ini biasanya dapat ditemui di perairan yang berasosiasi dengan keberadaan ekosistem terumbu karang. Rumput laut biasanya dapat hidup di atas substrat pasir dan karang mati. Dibeberapa daerah pantai di bagian selatan Jawa dan pantai barat Sumatera, rumput laut banyak ditemui hidup di atas karang-karang terjal yang melindungi pantai dari deburan ombak. Selain hidup bebas di alam, beberapa jenis rumput laut juga banyak dibudidayakan oleh sebagian masyarakat pesisir Indonesia. Contoh jenis rumput laut yang banyak dibudidayakan di antaranya adalah Euchema cottonii dan Gracilaria spp. Beberapa daerah dan pulau di Indonesia yang masyarakat pesisirnya banyak melakukan usaha budidaya rumput laut ini diantaranya berada di wilayah pesisir Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Provinsi Kepulauan Riau, Pulau Lombok, Sulawesi, Maluku dan Papua (http//:id.wikipedia.org/wiki/rumput laut). Salah satu jenis rumput laut Indonesia yang mempunyai nilai ekonomis penting dan merupakan salah satu jenis yang potensial untuk dibudidayakan adalah Eucheuma cottonii. secara lengkap klasifikasi rumput laut jenis Eucheuma cottonii adalah sebagai berikut (Anggadiredja dkk,2006):

Divisio Kelas

: Rhodophyta : Rhodophyceae

Ordo Famili Genus

: Gigartinales : Solierisceae : Eucheuma : Eucheuma cottoni

Spesies

Ciri-ciri Eucheuma Cottoni yaitu thallus silindris, permukaan licin, cartiligenius (menyerupai tulang rawan atau muda), berwarna hijau terang, hijau olive dan cokelat kemerahan. percabangan thallus berujung runcing atau tumpul, di tumbuhi nodulus (tonjolan-tonjolan)dan duri lunak/tumpul untuk melindungi gamatangi. percabangan bersifat dichotomus (percabangan dua-dua) atau trichotomus (sistem percabangan tiga-tiga) (Anggadiredja,2006). Eucheuma cottonii merupakan salah satu jenis rumput laut yang

menghasilkan jenis rumput laut dari kelas Rhodophyceae, umumnya membentuk senyawa garam bersama sodium kalsium dan potasium (Anggadiredja,2006). B. Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat pesisir Ciri-ciri masyarakat pesisir pada umumnya bermukim di daerah pantai yang terbelakang dan miskin, bermukim di daerah pantai yang pada umumnya merupakan tanah negara, tanah kehutanan, tanah timbul, tanah milik, dan tanah adat. Desa pantai timbul secara spontan tanpa perencanaan sehingga tidak terjadi

perkembangan tata ruang yang integratif dan serasi, adapun kehidupan masyarakat pesisir dapat di lihat dari beberapa hasil penelitian yang dilakukan oleh beberapa ahli, dala

Click here to load reader

Embed Size (px)
Recommended