Home >Documents >RIAU ELEPHANT CONSERVATION...

RIAU ELEPHANT CONSERVATION...

Date post:10-Apr-2019
Category:
View:213 times
Download:0 times
Share this document with a friend
Transcript:

l Edisi : Januari - Maret 2006

RIAU ELEPHANT CONSERVATION PROGRAM

BULETIN WWF

EDISI Januari - Maret 2007

Suara Tesso Nilo

2

SuSunan RedakSi

PenanggungjawabDudi Rufendi

Redaksi Nursamsu Sri Mariati

Dani Rahadian Arif Budiman

SuhandriSyamsidar

M. Yudi Agusrin

Bulletin intern WWF Indonesia Riau Elephant Conservation

Program

Alamat Redaksi: Perkantoran Grand Sudirman B.1Jl. Dt. Setia Maharaja - Pekanbaru

Telp/Fax: (0761) 855006E-mail: [email protected]

Website: http://www.wwf.or.id/tessonilo

alam Lestari,

Pembaca yang terhormat,Ini adalah edisi perdana Buletin Suara Tesso Nilo pada tahun 2007. Kami berharap

bahwa buletin ini bisa menjadi salah satu sumber informasi upaya-upaya konservasi khususnya di Tesso Nilo yang tetap dinanti oleh pembaca sekalian. Kita semua tentu berharap bahwa upaya-upaya konservasi dan perlindungan Tesso Nilo hendaknya tahun ini akan lebih mendapat titik terang dan perkembangan yang lebih berarti.

Sungguh sangat disesalkan bahwa awal tahun 2007 kembali dibuka dengan lembaran konflik antara manusia dan gajah, tepatnya dipertengahan Februari yang merenggut satu korban manusia. Ironisnya kejadian ini terjadi di salah satu desa yang berdekatan dengan kawasan usulan perluasan Taman Nasional Tesso Nilo. Hutan Tesso Nilo memiliki sejarah panjang untuk diusulkan menjadi kawasan konservasi gajah, namun hingga kini mimpi mewujudkan usul ini belum dapat terealisasi penuh. Kawasan yang telah ditunjuk menjadi Taman Nasional dan usulan perluasannya tetap menjadi ajang perambahan dan pembalakan liar. Kegiatan seperti ini tentu saja semakin mempersempit ruang gerak gajah dan satwa liar lainnya yang hidup di hutan Tesso Nilo tersebut. Dilain pihak, gajah atau pun satwa liar lainnya hampir tak menemukan ruang karena semakin terdesak dengan aktifitas manusia sehingga memungkinkan terjadinya konflik dengan manusia. Kita semua tentu berharap bahwa tahun 2007 konflik-konflik semacam ini dapat ditekan seminimal mungkin, semoga.

Pada edisi kali ini, tim redaksi juga menyajikan upaya penanggulangan perambahan, pembalakan dan kebakaran hutan bersama yang dilakukan oleh stakeholder di Tesso Nilo yang tergabung dalam Tim Tesso Nilo. Menanggulangi perambahan dan pembalakan liar di Tesso Nilo telah menjadi agenda bersama baik di tingkat daerah maupun pusat. Komunikasi yang intensif untuk mengatasi permasalahan ini mendapat sambutan baik dalam wujud rencana aksi jangka pendek bersama PHKA dan WWF. Ditingkat daerah hal ini pun disambut baik, mulai Maret 2007, stakeholder terkait di Tesso Nilo telah bersepakat untuk melakukan patroli rutin untuk antisipasi pencegahan terjadinya perambahan dan pembalakan liar yang lebih luas di Tesso Nilo. Semoga upaya ini memberikan hasil nyata terhadap upaya perlindungan Tesso Nilo, tentunya dengan tindak lanjut oleh pemegang otoritas terkait.

Pembaca yang budiman, upaya pemberantasan pembalakan liar telah menjadi agenda nasional. Di Provinsi Riau sendiri, kita bisa sama-sama melihat bahwa adanya semangat untuk menuntaskan pembalakan liar tersebut. Semoga semangat ini dapat diwujudkan sehingga kegiatan yang telah memporakporandakan lingkungan dan ekonomi ini dapat dituntaskan.

Pelibatan masyarakat dalam upaya konservasi adalah hal penting yang harus diperhatikan. Dalam edisi kali ini tim menyajikan informasi kiprah Forum Masyarakat Tesso Nilo yang melangsungkan Musyawarah Besar nya pada awal tahun ini, berdirinya Radio Komunitas (Rakom) di salah satu desa disekitar Tesso Nilo yang diharapkan dapat menjadi media komunikasi rakyat untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya hutan Tesso Nilo.

Akhir kata kami ucapkan selamat membaca dan tak lupa kritik dan sarannya kami harapkan demi perbaikan buletin ini.

Wassalam ww,

Dudi RufendiProgram Manager

daRi RedakSi

DAFTAR ISIl Patroli Pengamanan Hutan Tesso Nilo

l Konflik Manusia-Gajah di Awal Tahun 2007

l Tim Flying Squad Punya Anggota Baru

l Bersama Menanggulangi Perambahan dan Pembalakan Liar di Tesso Nilo

l Illegal Loging: Tetap Terlarang Meski Banyak Penikmatnya

l Musyawarah Besar Forum Masyarakat Tesso Nilo

l Radio Komunitas Memberi Warna Lain Kehidupan Masyarakat Pangkalan Gondai

l Pendidikan dan Pelatihan SAR Rimba Gunung se-Sumatera

S

BULETIN WWFLAPORAN UTAMA

Suara Tesso Nilo

3

Maraknya aktifitas perambahan, pembalakan liar baik dalam Ta-man Nasional Tesso Nilo dan kawasan usulan perluasannya telah menjadi ke-prihatinan beberapa stakeholder terkait baik di daerah maupun pusat. Di tingkat daerah sendiri, sebagai realisasi komit-men stakeholder terkait dalam mence-gah dan menghentikan perambahan, pembalakan liar dan kebakaran hutan dan lahan di Tesso Nilo telah dibentuk Tim Pencegahan dan Penanggulangan Perambahan, Illegal Logging dan Keba-karan Hutan dan Lahan di Tesso Nilo. Sepuluh institusi terkait pada tanggal 1 Maret 2007 telah menandatangani nota Kesepakatan Bersama untuk mence-gah dan menanggulangi permasalahan tersebut diatas. Kesepuluh institusi tersebut adalah; WWF Indonesia-Pro-gram Konservasi Riau, Balai Taman Nasional Tesso Nilo, Balai Konservasi

Sumber Daya Alam Riau, Dinas Kehu-tanan Pelalawan, PT. RAPP, PT. Nanjak Makmur, PT. Hutani Sola Lestari, PT.

Patroli Pengamanan Hutan Tesso Nilo

Siak Raya Timber, Yayasan Taman Na-sional Tesso Nilo, dan Forum Masyarakat Tesso Nilo.

Tugas Pokok dari tim ini (untuk sing-katnya disebut Tim Tesso nilo) adalah melakukan patroli pengamanan hutan, pemeriksaan di check point, pence-gahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan serta melaporkan ka-sus perambahan, illegal logging dan ke-bakaran yang terjadi di Tesso Nilo ke-pada pihak terkait. Dalam pelaksanaan tugasnya tim melakukan beberapa hal sesuai standar prosedur yang ditetap-kan yaitu:a. Melakukan pendataan kepada setiap

individu atau kelompok perambah dan illegal Loging yang ditemukan.

Tim Tesso Nilo memberikan penyuluhan kepada para pembalak liar yang ditemukan sedang melakukan aktifitas di dalam hutan Tesso Nilo Foto : WWF-Tesso Nilo Program

Tim Tesso Nilo memberikan sosialisasi peraturan terkait Foto : WWF-Tesso Nilo Program

b. Memberikan penjelasan kepada se-tiap perambah dan penebang liar baik secara individu maupun kelom-

EDISI Januari - Maret 2007

BULETIN WWF

EDISI Januari - Maret 2007LAPORAN UTAMA

Suara Tesso Nilo

4

para pekerja lapangan yang ditemui ini tim kemudian memberikan penyuluhan bahwa kegiatan yang mereka lakukan menyalahi aturan karena dilakukan dikawasan didalam hutan negara.

Patroli pertama dilaksanakan pada tanggal 20 sampai 24 Maret 2007. Tim melaksanakan patroli di kawasan usul-an perluasan Tesso Nilo di sepanjang koridor Ukui-Gondai PT. RAPP dan lokasi perambahan terbesar dijantung hutan Tesso Nilo yaitu pemukiman illegal Toro. Namun karena medan yang berat pada saat itu, tim tidak dapat melanjut-kan pendataan di lokasi Toro ini sampai ke pelosok-pelosok perambahan yang ada disekitarnya. Dalam patroli ini tim menemukan beberapa perambah yang tengah melakukan aktifitas perambahan bahkan beberapa lokasi ada yang sudah ditanami dengan sawit. Dari keterangan yang didapat di lapangan, para peram-bah memiliki lahan dengan luas yang bervariasi dari 2 ha hingga 20 ha.

Mulai tanggal 10 hingga 14 April 2007, Tim Tesso Nilo melaksanakan patroli yang kedua. Tim berangkat menuju lokasi mengikuti jalan koridor PT. RAPP (koridor Gondai-Ukui) sete-lah mendapat pengarahan dari Kepala Dinas Kehutanan Pelalawan yang dis-

pok tentang status areal yang digu-nakan dan kayu yang ditebang.

c. Memberikan peringatan secara lisan kepada perambah dan penebang liar untuk tidak merambah dan melaku-kan penebangan dan pembakaran pada hutan dan lahan

d. Memberikan peringatan tertulis ke-pada perambah dan penebang liar yang tetap melakukan perambahan, penebangan dan pembakaran yang sebelumnya sudah mendapat infor-masi dan penyuluhan.

Pelaksanaan kegiatan dimaksud direncanakan dilaksanakan dua kali dalam sebulan dimana satu kali patroli dilakukan dalam waktu masing-masing selama 5 (lima) hari. Dalam pelaksana-an patroli pengamanan hutan ini, ma-sing-masing institusi akan mengirimkan perwakilannya didampingi dengan petu-gas kepolisian. Untuk patroli dalam Ta-man Nasional Tesso Nilo, tim dikoordinir oleh Balai Taman Nasional Tesso Nilo sedangkan untuk kawasan usulan per-luasan taman nasional, tim dikoordinir oleh Dinas Kehutanan Pelalawan.

Sejak ditandatanganinya kesepa-katan bersama tersebut hingga akhir April 2007, tim telah dua kali melaku-kan patroli pengamanan di kawasan usulan perluasan taman nasional. Dua kali kegiatan patroli ini dilakukan di ka-wasan usulan perluasan Taman Nasion-al Tesso Nilo. Tim menemukan titik-titik detil perambahan baru dalam kawasan tersebut dan mengidentifikasikan pemi-lik kawasan yang dirambah tersebut lewat beberapa pekerja lapangan yang ditemui di lokasi. Pada setiap pekerja yang ditemui di lapangan, tim menanya-kan perizinan mereka dalam melakukan kegiatan di kawasan hutan tersebut. Dari temuan yang didapat selama pa-troli, pelaku yang ditemui di lapangan tidak dapat menunjukkan surat-surat yang diminta oleh tim dan pada umum-nya mengaku sebagai pekerja saja. Pada

ampaikan oleh Kasubdin Pengamanan Hutan, Wan Piramli. Pada patroli kali ini, tim menemukan beberapa peram-bah didukung dengan modal besar hal ini terbukti dengan temuan tim yang mengidentifikasikan bahwa lahan yang akan digarap ada yang berkisar hingga 2000 ha.

Tim memulai patroli disepan-jang perjalanan di koridor Ukui, tim mengamati perambahan, illegal Loging dan pembakaran hutan dan Lahan. Di hari pertama patroli ini, tim menemukan kebakaran lahan yang indikasinya diba-kar dengan sengaja pada titik koordinat N. 00 00 164 dan E. 101 48 329 tepatnya di KM 69 koridor Gondai-Ukui. Tim berupaya memadamkan api yang menyala namun tim tidak bisa mema-damkannya karena keterbatasan sarana dan prasarana. Diperkirakan luas lahan yang terbakar 2 Ha dengan kondisi semak belukar. Pada hari itu juga tim menemukan beberapa temuan lain di HPH PT. Siak Raya Timber seperti: camp pekerja dalam keadaan kosong, tempat pembibitan sawit yang berumur 6 bu-lan, dan bekas dan tanda-tanda amukan gajah di lokasi pembibitan sawit terse-but. Karena tidak menemukan pelaku dilapangan tim melanjutkan patroli

Sebuah camp pekerja pembibitan sawit dalam hutan Tesso Nilo , Foto : Samsul Komar/ WWF-Tesso Nilo Program

BULETIN WWF

EDISI Januari - Maret 2007LAPORAN UTAMA

Suara Tesso Nilo

5

Sebuah hamparan pembibitan sawit dalam hutan Tesso Nilo , Foto : Samsul Komar/ WWF-Tesso Nilo Program

disekitar kawasan tersebut dan mene-mukan satu Camp pekerja lagi yang melakukan penanaman sawit. Jumlah pekerja pada lokasi lahan ini sebanyak 9 (sembilan) orang. Kepada para peker-ja tersebut tim memberikan penyulu-han tentang status lahan yang mereka garap berada pada kawasan hutan. Para pekerja mengakui bahwa mereka hanya sebagai pekerja lapangan yang bekerja kepada seorang pemilik lahan yang tinggal di Pekanbaru. Kepada para pekerja ini, tim meminta mere-ka membuat Surat Pernyataan yang menyatakan bahwa lahan yang mere-ka kerjakan tersebut milik seseorang. Tim juga meminta pekerja untuk tidak melanjutkan kegiatan tersebut karena tidak jelas perizinannya.

Pada hari kedua, Tim Tesso Nilo melakukan patroli di sepanjang kori-dor PT. RAPP sektor Gondai-Ukui. Tim memulai patroli ke lokasi perambahan Bukit Horas, disini tim menemukan se-orang pengawas lapangan di kawasan yang sudah ditanami sawit. Pengawas ini mengaku dipercayai oleh pemilik lahan yang beralamat di Jakarta untuk mengawasi lahan tersebut. Tim me-minta kepada pengawas tersebut un-tuk membuat surat pernyataan bahwa lahan tersebut milik seseorang dimak-sud dan meminta kepada pengawas tersebut untuk menghentikan kegiat-an di lokasi itu.

Pada hari kedua patroli ini, tim juga menemukan satu kelompok il-legal logging yang terdiri dari empat orang. Tim langsung melakukan in-terogasi keempat pelaku dan menga-mankan satu unit chainsaw. Pelaku kemudian membuat Surat Pernyataan tidak mengolah, menebang dan be-kerja di dalam kawasan hutan Tesso Nilo lagi setelah mendapat penjelasan dari tim.

Pada hari Kamis tanggal 12 April 2007, hari ketiga tim melakukan pa-troli masih di HPH PT. Siak Raya Tim-

ber, tim menemukan beberapa bukaan oleh perambah yang tidak teridenti-fikasi. Tim juga menemukan seorang pekerja yang tengah melakukan pen-ebangan hutan, tim menghentikan pekerja dan langsung melakukan in-terogasi. Dari pekerja ini, tim dibawa ke camp mereka. Disini tim bertemu pekerja lainnya dan mendapatkan in-formasi bahwa ada 6 (enam) orang pekerja dan 6 (enam) unit chainsaw mereka gunakan untuk melakukan pembukaan lahan atas suruhan se-seorang yang berasal dari Kabupaten Langkat. Tim memberikan penjelas-an kepada para pekerja bahwa lahan yang sedang mereka kerjakan tidak mempunyai ijin dan meminta agar menghentikan kegiatan pembukaan lahan.

Disekitar kawasan ini ketika tim melanjutkan patroli, tim juga mene-mukan satu camp yang khusus me-nyediakan kebutuhan logistik. Di camp ini terdapat 3 (tiga) orang pekerja yang bekerja untuk seorang pemiliki lahan yang diakui tinggal di Pekan-baru. Dari pekerja ini juga diperoleh keterangan bahwa rencana luas lahan yang akan dibuka adalah seluas 2000 ha sementara yang sudah terbuka se-

luas 500 ha. Dari beberapa infor-masi yang didapat oleh tim patroli, la-han ini dibeli pemilik lahan dari salah seorang oknum tokoh masyarakat. Sesuai dengan prosedur, kepada para pekerja tim memberikan penyuluhan dan meminta mereka membuat surat pernyataan untuk tidak melanjutkan kegiatan mereka di Tesso Nilo.

Dari dua kali patroli tim telah me-nemukan beberapa data akurat ten-tang perambahan dan pembalakan liar di Tesso Nilo. Dengan kapasitas dan prosedur yang telah ditetapkan, tim telah melaksanakan tugasnya dengan baik. Kegiatan patroli ini sangat men-dukung upaya untuk menjaga kelestar-ian hutan Tesso Nilo yang dicanangkan menjadi kawasan konservasi gajah. Na-mun tentunya hasil-hasil yang didapat dari kegiatan ini dapat ditindak lanjuti sehingga perambahan, pembalakan liar di Tesso Nilo dapat dihentikan. Pene-gakan hukum terhadap kasus jual beli lahan di kawasan hutan ini dapat dilak-sanakan sehingga menjadi bagian dari langkah konkrit terhadap perlindungan kawasan ini dan Tesso Nilo yang me-nyimpan kekayaan hayati terbesar pun terhindar dari kehancuran (Syamsidar, Samsul Komar)

BULETIN WWF

EDISI Januari - Maret 2007Mitigasi Konflik Gajah - Manusia

Suara Tesso Nilo

6

Awal tahun 2007 tepatnya tang-gal 19 Februari kembali dibuka dengan konflik gajah-manusia. Kali ini seorang pekerja sawmill berna-ma Sohari alias Jon di desa Pang-kalan Gondai Kecamatan Langgam Kabupaten Pelalawan menjadi kor-ban.

Malam itu sekitar pukul 11, dua orang pekerja sawmill yaitu Sohari dan Nasution tengah berjalan kaki

menuju sawmill dari pasar desa tersebut yang berjarak sekitar 1 km. Ditengah perjalanan, kedua orang tersebut tiba-tiba berhadap-an dengan seekor gajah liar. Kontan saja kedua nya lari kocar-kacir, Na-sution berlari kearah desa sedang-kan Sohari berlari kearah sawmill. Tak ada yang tahu dengan pasti detil kejadian malam itu, yang pasti pagi harinya Nasution menemukan

Konflik Manusia-Gajah di Awal Tahun 2007

tubuh Sohari telah kaku dengan po-sisi tertelungkup dijalan desa. Ke-jadian ini segera dilaporkan kepada aparat desa.

Ketika mendapat informasi mengenai kejadian ini dari salah seorang tokoh masyarakat Desa Pangkalan Gondai, WWF segera ber-koordinasi dengan Dinas Kehutan-an Pelalawan dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Riau untuk turun langsung ke tempat kejadian perkara. Sesampainya di desa tersebut, tim segera berkoor-dinasi dengan aparat desa, namun aparat desa tengah mengantar-kan jenazah Sohari ke Puskesmas Langgam untuk di visum bersama dengan tim Polres Pelalawan yang telah lebih dulu turun ke lokasi ke-jadian. Tim kemudian mengumpul-kan informasi terkait dengan keja-dian konflik ini di lapangan.

Pengusiran Gajah di Desa Pangkalan Gondai

Lewat proses konsultasi dengan BKSDA Riau, Balai Taman Nasional Tesso Nilo (BTNTN) dan Dinas Kehu-tanan Pelalawan diputuskan bahwa untuk memberikan rasa aman bagi masyarakat setempat harus dilaku-kan pengusiran gajah liar tersebut. Tim pengusiran pun segera ditunjuk yang terdiri dari BKSDA Riau Balai Taman Nasional Tesso Nilo, Pusat Latihan Gajah-Minas,tim BKSDA dari Lampung dan WWF. Untuk kelancaran tugas ini tim juga ber-koordinasi pada pemerintah setem-pat.

Pada tanggal 7 Maret 2007, tim pengusiran berangkat menuju desa Pangkalan Gondai. Tim ini dibantu oleh tiga ekor gajah terlatih (Seng Ngarun, Bangkin, Kampar) dari Pusat Latihan Gajah-Minas bersa-ma dengan sembilan orang pelatih gajah dan satu orang para medis.

Tim berpatroli mencari keberadaan gajah liar Foto : Samsuardi/ WWF-Tesso Nilo Program

BULETIN WWF

EDISI Januari - Maret 2007Mitigasi Konflik Gajah-Manusia

Suara Tesso Nilo

7

tim survei mencari tanda-tanda ke-beradaan gajah, anggota tim yang lain memandikan dan mencari ma-kan gajah. Siang harinya semua anggota tim berkumpul kembali dan melakukan diskusi terhadap hasil survei tim survei. Tim kemu-dian memutuskan untuk melakukan pengusiran dari arah Timur desa de-ngan memotong jalur lintas peng-usiran pada hari sebelumnya.

Tim mulai bergerak dengan menunggangi gajah pada pukul 14.00 melewati perkebunan akasia

Seluruh anggota tim tiba di desa Pangkalan Gondai pada sore hari. Kemudian tim berdiskusi dengan aparat desa dan wakil masyarakat setempat sehingga koordinasi antara tim dan masyarakat dapat terjalin dengan baik dalam melaksanakan misi pengusiran gajah liar ini.

Pada keesokan harinya, tim be-lum mendapatkan informasi jelas tentang keberadaan gajah sehingga tim menyebarkan sepuluh orang anggota tim dengan berkendaraan tiga unit mobil masuk ke titik-ti-tik yang diidentifikasi ada tanda-tanda keberadaan gajah liar. Pada siang harinya tim bersepakat untuk menuju suatu lokasi untuk melaku-kan pengusiran karena berdasarkan hasil survei tim pagi itu menemu-kan jejak kaki gajah yang masih baru. Perlengkapan pengusiran pun segera dipersiapkan seperti meriam paralon dan karbitnya dan dibawa bersama dengan tiga ekor gajah terlatih tersebut. Sepuluh orang anggota tim segera menunggangi tiga ekor gajah tersebut menelu-suri jejak-jejak yang masih baru itu. Telah hampir tiga jam tim mengi-kuti jejak gajah liar namun tim tidak bertemu secara langsung gajah liat tersebut. Dari jejak yang ditemu-kan, tim mengidentifikasi ada dua ekor gajah liar terdiri dari satu gajah dewasa dan satu remaja. Namun pencarian di hari pertama ini harus berakhir seiring dengan redupnya cahaya matahari ditambah lagi me-dan yang dilewati cukup berat. Tim pun memutuskan untuk melanjut-kan pencarian esok hari.

Pada hari kedua, tim dibagi men-jadi tiga kelompok untuk melakukan survey keberadaan gajah di sekitar daerah tersebut; satu tim survei ke arah survei hari sebelumnya, satu tim ke arah barat Desa Gondai, dan satu tim kearah Timur. Sementar

menuju hutan larangan desa. Sete-lah lebih dari tiga jam tim mengitari kawasan ini tim memutuskan un-tuk menghentikan pencarian untuk sementara. Pada hari tersebut, tim hanya menemukan jejak gajah yang sudah lama, tidak ada tanda atau jejak yang baru. Gajah yang diper-kiraan melewati hutan ini pada hari sebelumnya ternyata telah berbelok arah lebih ketimur lagi sehingga tim tidak bertemu dengan gajah liar.

Pada hari ketiga tepatnya tang-gal 10 Maret 2007, tim mendapat-

Tim harus melewati rintangan berat ketika mencari keberadaan gajah liar Foto : Samsuardi/ WWF-Tesso Nilo Program

ringan senja itu. Pada hari keempat, pagi hari nya

tim melakukan pemeriksaan terakhir di sekitar desa Pangkalan Gondai terse-but. Dari tanda-tanda yang didapat dilapangan tim berkesimpulan bahwa, gajah-gajah liar yang dilaporkan masuk ke desa tersebut telah meninggalkan desa itu. Jejak-jejak gajah liar terse-but menunjukkan bahwa kelompok ga-jah liar tersebut mengarah kembali ke habitatnya di Tesso Nilo. Dengan keya-kinan kesimpulan ini, tim berkoordinasi dengan pihak terkait desa untuk undur diri dari tugas mereka dalam melaku-kan pengusiran gajah liar di desa terse-but. Siang harinya, tim pun meninggal-kan lokasi tersebut.

Konflik gajah-manusia yang terja-di di Desa Pangkalan Gondai ini meru-pakan cerminan hilangnya habitat asli gajah tersebut di hutan Tesso Nilo. Kawasan usulan perluasan Taman Na-sional Tesso Nilo yang berjarak tidak jauh dari desa tersebut kini dalam kondisi porak poranda. Hutan tidak lagi tegak, telah tergantinkan dengan pondok-pondok dan tanah tandus di-tumbuhi ilalang. Di beberapa bagian-nya ada yang sudah ditanami sawit, karet, dan tanaman muda.

Dahulu, ketika hutan masih ada konflik seperti ini jarang terjadi. Ketika gajah masuk kampung, masyarakat dapat dengan mudah mengusir gajah kembali ke habitatnya, Dulu kami usir-usir saja, mau gajah itu men-jauh, sekarang entahlah mereka tak mau pergi kata beberapa masyarakat desa. Kemana gajah akan bersembu-nyi itu merupakan akar permasalah-annya, dulu hutan terdekat masih banyak sehingga ketika diusir mereka masih memiliki tempat untuk dituju, namun sekarang ketika mereka ber-gerak, dalam lintasan mereka, mere-ka tak lagi menemukan hutan tetapi bukaan hutan gersang. (Syamsidar, Samsuardi)

BULETIN WWF

EDISI Januari - Maret 2007

Suara Tesso NiloMitigasi Konflik Gajah - Manusia

8

kan informasi dari masyarakat akan tanda-tanda keberadaan gajah liar. Tim survei segera berangkat pagi itu juga menuju lokasi yang dimak-sud. Setelah beberapa jam men-cari tanda-tanda keberadaan gajah tersebut, tim survei kembali ke desa dan berkoordinasi dengan anggota tim lainnya. Berdasarkan informasi ini, tim pada pukul 14:30 berangkat menuju lokasi yang telah disurvei oleh tim sebelumnya. Kali ini tim harus melewati perkebunan sawit sampai ke desa tetangga, Desa Pe-narikan. Dalam pencarian kali ini tim harus melewati rawa dan anak sungai sehingga pergerakan tim menjadi lambat. Tim sempat terje-bak di parit yang tergenang dalam karena mengikuti jejak gajah liar. Hampir satu jam, tim terjebak disini karena terjalnya pinggiran parit se-hingga menyulitkan tim untuk dapat keluar dari parit tersebut.

Satu jam berselang setelah tim berhasil lolos dari parit tersebut, tim kembali terjebak. Kali ini dua gajah yaitu Bangkin dan Kampar terperosok ke dalam lumpur hidup, hampir satu jam kedua gajah terbenam dalam lumpur tersebut. Sehingga anggota

tim harus membantu sedemikian rupa agar gajah dapat keluar dari kubangan tersebut. Setelah berbagai upaya dilakukan akhirnya kedua ga-jah bisa keluar dari kubangan lumpur tersebut. Semua pun merasa lega ke-tika akhirnya gajah dapat keluar dari kubangan tersebut, tim pun memberi pujian semangat kepada gajah-gajah tersebut.

Setelah beristirahat sejenak, baru saja bergerak sekitar 100 meter dari kubangan lumpur, tim langsung dikejutkan oleh serang-an satu ekor gajah jantan liar. De-ngan formasi tim yang belum dalam keadaan siap, tim cukup kerepotan menghadapi serangan tersebut. Se-telah situasi bisa dikendalikan dan formasi diatur kembali maka tim bisa mengusir mundur gajah jantan tersebut. Gajah liar tersebut kemu-dian digiring beberapa ratus meter menuju hutan terdekat. Saat itu waktu sudah menunjukkan 18:30, kondisi sekitar pun sudah gelap, penggiringan tidak mungkin dilan-jutkan. Demi keselamatan seluruh anggota tim baik personil maupun gajah terlatih tersebut, tim memu-tuskan untuk menyudahi penggi-

Salah satu gajah latih yang terperosok kedalam lumpur hidup ketika melacak keberadaan gajah liar Foto : Samsuardi/ WWF-Tesso Nilo Program

BULETIN WWF

EDISI Januari - Maret 2007Mitigasi Konflik Gajah - Manusia

Suara Tesso Nilo

9

Tim Flying Squad Punya Anggota Baru

Mulai tanggal 23 Februari, tim Flying Squad (pengusir gajah liar) punya anggota baru karena Lisa, salah satu gajah betina Flying Squad telah melahirkan. Lisa dan bayinya dalam keadaan sehat. Pada hari Jumat pagi itu, perawat Lisa bernama Agus Supriyanto yang se-dang bertugas untuk memindahkan Lisa dari tempatnya diikat malam sebelumnya, terkejut melihat Lisa tidak sendiri lagi ditempat terse-but. Lisa sudah bersama seekor ga-jah kecil yang lucu, yaitu anaknya. Tempat gajah Lisa melahirkan berjarak 1,5 km dari camp Flying Squad WWF-BKSDA Riau. Melihat situasi ini, perawat gajah tersebut segera berteriak kegirangan ke-pada tiga orang perawat yang lain

yang berada disekitar lokasi. Ketika pertama kali dilihat, bayi

Lisa sepertinya telah mau menyu-sui kepada ibunya, hal ini sungguh membuat para perawat gajah gem-bira. Namun ketika diperhatikan lebih seksama, ternyata Lisa tidak mengeluarkan air susu. Hal ini menimbulkan kepanikan diantara para perawat gajah. Perawat Lisa (Iwan dan Agus) mencoba melaku-kan beberapa usaha untuk men-gatasi keadaan ini. Para perawat gajah pun merasa lega ketika ak-hirnya usaha mereka berhasil. Nela dengan semangat mulai menyusu kepada induknya.

Demi keamanan, Tim Flying Squad memindahkan Lisa dan ba-yinya yang berjenis kelamin betina

tersebut dengan berjalan kaki ke area yang lebih dekat dengan camp Flying Squad dengan cara menun-tun Lisa perlahan. Dihari pertama sekitar jam 17:30 wib Lisa mulai dipindahkan dengan berjalan kaki sekitar 300 meter ke arah camp. Pada malam itu, semua anggota tim tidur di lokasi tersebut menjaga Lisa dan anaknya untuk berjaga-jaga bila ada serangan dari bina-tang buas.

Di hari kedua, Lisa dan bayinya diperiksa oleh Kepala Balai Taman Nasional Tesso Nilo, Hayani Suprah-man yang juga merupakan seorang dokter hewan. Dari observasi ini, induk dan bayi gajah ini disimpul-kan dalam keadaan sehat. Pada hari yang sama, kedua gajah ini kembali

Lisa, gajah Flying Squad dan bayinya Nella , Foto : Syamsuardi/ WWF-Tesso Nilo Program

BULETIN WWF

EDISI Januari - Maret 2007

Suara Tesso Nilo

10

Mitigasi Konflik Gajah-Manusia

dipindahkan secara perlahan kea-rah camp Flying Squad. Akhirnya menjelang petang, kedua gajah ini sampai di camp. Kedatangan keduanya disambut sukacita oleh guyuran hujan.

Lisa diyakini dikawini oleh seekor gajah jantan sekitar bulan April tahun 2005 di dekat sebuah sungai kecil tempat dimana biasa-nya gajah-gajah Flying Squad man-di. Seorang perawat gajah sempat menjadi saksi momen tersebut. Menurut catatan tim Flying Squad, gajah liar tersebut sering sekali da-tang ke perkampungan atau perke-bunan masyarakat terdekat, dan tim telah sering kali pula mencoba mengusirnya kembali ke hutan. De-ngan momen ini, tim akhirnya me-nyadari bahwa gajah jantan terse-

but ternyata punya ketertarikan lain yaitu jatuh hati pada Lisa, salah satu gajah betina Flying Squad.

Pada 27 Februari lalu, ketika Menteri Kehutanan berada di Pe-kanbaru dalam suatu kunjungan kerja, pihak WWF berkesempatan menyampaikan informasi ini. Me-nanggapi hal ini, kemudian Menteri memberi nama NELLA yang diam-bil dari kata Nilo dari nama salah satu sungai di kawasan hutan Tesso Nilo.

Makanan tambahan diberikan untuk pemulihan kondisi Lisa pasca melahirkan,

Foto : Syamsuardi/ WWF-Tesso Nilo Program

Nella, bayi salah satu gajah Flying Squad ketika berumur dua hari Foto : Syamsuardi/ WWF-Tesso Nilo Program

Makin meningkatnya tekanan terhadap hutan alam dan makin menyempitnya habitat gajah Sumatera di Propinsi Riau telah memicu terjadinya konflik berkepanjangan antara gajah dan manusia. Berbagai upaya untuk menanggulangi konflik telah dilakukan oleh berbagai pihak namun upaya terse-but relatif belum efektif karena belum amannya habitat gajah Sumatera di Riau dari aktifitas kon-versi yang menjadi akar masalah terjadinya konflik. Dalam upaya mencari solusi bagi masalah tersebut Departemen Kehutanan dan WWF Indonesia, beker-jasama dengan mitra lainnya berupaya untuk mere-alisasikan perluasan Taman nasional Tesso Nilo dan menanggulangi perambahan di areal usulan perluas-annya. Status Taman Nasional diyakini akan mem-berikan kepastian hukum dan peningkatan efektivitas pengelolaan kawasan dalam melindungi hutan yang masih tersisa di Tesso Nilo yang akan dikelola seba-gai kawasan konservasi gajah. Upaya menghentikan perambahan harus dilaksanakan sesegera mungkin, untuk menghindari makin parahnya kerusakan yang ditimbulkan baik di dalam taman nasional maupun areal usulan perluasannya.

Untuk mewujudkan aksi nyata penanggulangan perambahan dan upaya perluasan Taman Nasional Tesso Nilo, WWF Indonesia telah menginisiasi bebe-rapa pertemuan terkait baik di tingkat daerah mau-pun nasional. Balai Taman Nasional Tesso Nilo sebagai pemegang otoritas kawasan yang secara

resmi baru berdiri pada akhir tahun 2006 juga terus bergiat untuk mencari upaya dan dukungan untuk menanggulangi perambahan dan mempercepat per-luasan Taman Nasional Tesso Nilo. Pada tanggal 8 Januari 2007, Kepala Balai Taman Nasional Tesso Nilo Drh. Hayani Suprahman Msc memberikan presentasi terkait permasalahan perambahan di Tesso Nilo pada pejabat terkait di Dirjen PHKA ( Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam). Dari presentasi yang disampai-kan oleh Kepala Balain TNTN tersebut terlihat pening-katan jumlah perambah baik dalam TNTN maupun kawasan usulan perluasan TNTN. Sementara upaya yang komprehensif untuk menangani perambahan ini belum tampak dilapangan. Dalam kesempatan ini, Kepala Balai TNTN juga menyampaikan beberapa rekomendasi aksi jangka pendek untuk mengatasi permasalahan tersebut antara lain: Menghentikan perambahan & kebakaran hutan, Memperluas Taman Nasional Tesso Nilo, Upaya memperjelas status penge-lolaan Hutan Produksi di sekitar Tesso Nilo.

Dari rangkaian pertemuan dengan pejabat-peja-bat terkait di Departemen Kehutanan, para pejabat terkait memahami kondisi kritis yang terjadi di TNTN dan mendukung rencana aksi yang akan dilakukan. Dephut melalui Dirjen PHKA setuju menetapkan situasi emergency terhadap kondisi permasalahan di Tesso Nilo, dan akan mengeluarkan dokumen Rencana aksi

bersama yang akan ditandatangani antara

Audiensi Manajemen WWF Indonesia dengan Gubernur Riau, H.M. Rusli Zainal. Foto : WWF Prog. Tesso Nilo

Bersama Menanggulangi Perambahan dan Pembalakan

Liar di Tesso Nilo

BULETIN WWF

EDISI Januari - Maret 2007Pengelolaan Kawasan Konservasi

Suara Tesso Nilo

11

WWF & Dephut. Rencana aksi Perluasan TNTN dan Penanggulangan Perambahan ini disusun untuk jang-ka waktu tiga bulan ( Januari-Maret 2007). Beberapa poin dalam rencana aksi ini antara lain; koordi-nasi internal di Dephut dalam rangka mendapatkan dukungan Menteri Dalam Negeri dan Pemda Riau untuk mengeluarkan perambah dari dalam taman nasional dan usulan perluasannya, koordinasi proses administrasi percepatan perluasan taman nasional, koordinasi kerjasama operasi pengamanan kawasan bersama KSDA, Dishut, Pemda beserta dukungan Polri, menindak lanjuti proses penegakan hukum terhadap oknum pemodal perambah, menjalin ker-jasama dengan berbagai pihak dalam mengembang-kan teknis pencegahan gangguan gajah (parit, pagar listrik, tata ruang desa dan model pertanian dalam mencegah gangguan gajah).

Sebagai salah satu realisasi sosialisasi rencana aksi ini, pada tanggal 31 Januari 2007 dilakukan audiensi dengan Gubernur Riau bertempat di kantor Gubernur Riau mengenai permasalahan di Tesso Nilo. Pada kesempatan ini Kepala Balai Taman Nasional Tesso Nilo, Drh. Hayani Suprahman, MSc menyam-paikan aktifitas perambahan yang semakin mening-kat baik di dalam taman nasional maupun kawasan usulan perluasan dan pentingnya perluasan Taman Nasional Tesso Nilo sebagai kawasan konservasi gajah. Audiensi ini juga dihadiri oleh pejabat terkait di provinsi Riau antara lain: Ketua DPRD Prov. Riau: Drh. H. Chaidir, MM, PLT Kepala Dinas Kehutanan Prov Riau: Ir. Sudirno, MM, dan Kepala Bapedalda Prov Riau: Drs. Chairul Zainal, MM. Tesso Nilo seba-gai pusat konservasi gajah harus dikelola dengan baik, mengurangi illegal pendatang dan perlu pen-dataan secara komprehensif. Pada kesempatan ini juga disampaikan bahwa WWF dan Ditjen PHKA telah menyusun rencana aksi bersama terkait perambahan dan perluasan Taman Nasional Tesso Nilo.

Menanggapi kondisi yang terjadi di Tesso Nilo, Gubernur Riau, H. Rusli Zainal sangat prihatin untuk itu dia meminta adanya penganggaran dan program yang konkrit terhadap masalah TNTN, dan meminta Dinas kehutanan Prov Riau segera laku-kan penanganan perambahan bila memang men-jadi kewenangan provinsi. Untuk rencana aksi yang disusun, Gubernur Riau menambahkan agar rencana tersebut dapat sesegera mungkin menghentikan perambahan, selain itu dia juga menekankan per-lunya penegakan hukum pada masalah perambah-an tersebut. Sebagai tindak lanjut dari audiensi dengan Gubernur Riau ini, Balai Taman Nasional

Tesso, Dinas Kehutanan Provinsi Riau dan juga WWF kemudian bersama-sama menyusun rencana aksi satu tahun pemerintah provinsi Riau untuk menga-tasi perambahan di Tesso Nilo.

Rangkaian pertemuan terkait pun terus dilaku-kan. Pada tanggal 1 Maret 2007 manajemen WWF Indonesia melakukan pertemuan dengan Menteri Kehutanan untuk membicarakan perluasan Taman Nasional Tesso Nilo. Pada kesempatan ini juga disam-paikan perkembangan rencana aksi jangka pendek (3 bulan) bersama WWF-PHKA dan adanya rencana aksi (1 tahun) serupa dari pemerintah provinsi Riau. Dalam kesempatan ini Menteri menyambut baik dan mendukung upaya WWF dan meminta rencana aksi tersebut tetap dikoordinasikan dengan Dirjen terkait. Menteri juga berharap bahwa rencana aksi yang sudah disusun tepat sasaran sehingga hasilnya dapat terlihat pada akhir tahun 2008.

Sementara itu rangkaian pertemuan di ting-kat daerah baik dengan pemkab Pelalawan mau-pun perusahaan yang beroperasi di sekitar Tesso Nilo pun terus berlanjut dengan satu tujuan yaitu adanya aksi bersama menghentikan peram-bahan di Tesso Nilo dan mempercepat proses perluasan Taman Nasional tersebut. Pertemuan-pertemuan tersebut diantaranya menghasilkan suatu kesepakatan bersama PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN PERAMBAHAN HUTAN, ILLEGAL LOGGING, KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN DI KAWASAN TESSO NILO. Kesepakatan ini ditandata-ngani pada 1 Maret 2007 oleh DINAS KEHUTANAN KABUPATEN PELALAWAN, BALAI TAMAN NASIONAL TESSO NILO, BALAI KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM RIAU, PT. RIAU ANDALAN PULP AND PAPER (RIAUPULP), PT. NANJAK MAKMUR, PT. SIAK RAYA TIMBER, PT. HUTANI SOLA LESTARI, PROGRAM KONSERVASI RIAU-WWF INDONESIA, FORUM MASYARAKAT TESSO NILO DAN YAYASAN TAMAN NASIONAL TESSO NILO.

Semangat kebersamaan untuk menanggulangi perambahan dan mempercepat perluasan Taman Nasional Tesso Nilo telah sama-sama menjadi komit-men bersama para pemangku kepentingan di Tesso Nilo. Dua isu ini pun telah menjadi agenda daerah dan nasional untuk segera ditindak lanjuti. Kita ber-harap semangat dan komitmen ini akan terealisasi dalam waktu dekat sehingga hutan Tesso Nilo dapat dikelola dengan baik dan dapat memberikan solusi bagi permasalahan konflik manusia dan gajah di Riau. (Syamsidar)

EDISI Januari - Maret 2007Pengelolaan Kawasan Konservasi

BULETIN WWF Suara Tesso Nilo

12

BULETIN WWF

EDISI Januari - Maret 2007Pemberantasan Kejahatan Kehutanan

Suara Tesso Nilo

13

Bunyi keriuhan mesin gergaji terdengar dari kejauhan di suatu hutan. Sementara deru-man alat berat ekskavator tak kalah berisik membelah kehe-ningan rimba yang tiba-tiba kehilangan suara alamnya. Pagi itu pohon-pohon rebah dan hutan itu makin benderang saja dengan sinar matahari yang menusuk dari segala sisi.

Ouch, betapa hutan di negeri ini telah terpolusi dengan botol - kaleng minyak dan pelumas yang berserakan di sudut-sudut rimba. Pohon-pohonpun bertum-bangan seperti meregang nyawa setiap detiknya.

Ketika pembalakan liar (ille-gal logging) marak di negeri ini, sepertinya penegak hukum telah raib entah kemana. Pembalakan liar melibatkan mulai dari perseorangan dengan modal kerja sederhana hingga kor-porasi dengan investasi global tak terbatas. Mereka lah yang meluluhlantakkan hutan rimba negeri ini dan menjual kayu-kayu dengan sesuka hati mere-ka sendiri. Malaysia dan Cina menikmati perdagangan liar produk hutan ini, melewati jalur-jalur yang sudah dikawal oleh para oknum penegak hukum. Kerjasama erat antara jajaran pembalak dan oknum aparat berjalan baik selama bertahun-tahun, meski sekarang tampak mendingin.

Pembalakan liar bukanlah perkara baru. Ia telah ada sejak abad ke-18 sewaktu birokrasi bergaji kecil di Perancis menerima sogok untuk praktek menebang dan menjual kayu secara ilegal (Williams, 2003). Sementara di New England, Amerika Utara, antara 1722 dan 1776 direcoki

kin tergantung pada hutan tidak dihukum secara semena-mena.

Aktivitas haram kehutanan sejatinya cukup luas cakup-an pelanggarannya mulai dari penindasan hak penduduk asli dan hak kepemilikan publik atau pribadi; peraturan pemanfaatan hutan serta kesepakatan kontrak lainnya; peraturan transportasi dan perdagangan; peraturan kayu olahan termasuk penggu-naan kayu panenan ilegal; serta peraturan keuangan, akuntansi dan perpajakan. Tentunya, aparat penegak hukum harus melek dan piawai mengendus bau busuk praktek kejahatan hutan ini, pun perangkat hukum yang tegas.

Pemberantasan illegal log-ging di Indonesia diatur dalam UU Kehutanan Nomor 41/1999 dimana pasal 50 ayat (3) huruf (f) melarang menerima, mem-beli atau menjual, menerima

Illegal Logging: Tetap Terlarang Meski Banyak Penikmatnya

dengan penebangan liar oleh para pekerja hutan. Memang, mulai dasawarsa 1990-an hing-ga kini pembalakan liar menjadi isu sentral yang dibicarakan di kancah kebijakan hutan global.

Pembalakan liar menghan-curkan hutan, merusak habitat satwa liar, memicu perubahan iklim, merugikan masyarakat dan menghilangkan pendapatan negara hingga sekitar 15 miliar dolar AS per tahun.

Sebuah laporan Bank Dunia memaparkan praktek lengkap kegiatan haram di sektor kehu-tanan mulai dari pencurian kayu hingga penggelapan pajak dan biaya serta ketidaktaatan pada undang-undang lingkungan dan perburuhan. Laporan itu juga menekankan kegagalan hukum dan penegakannya yang seha-rusnya dicapai untuk mening-katkan tata kelola kehutanan dan menjamin masyarakat mis-

BULETIN WWF

EDISI Januari - Maret 2007Pemberantasan Kejahatan Kehutanan

Suara Tesso Nilo

14

tukar, menerima titipan, menyim-pan, atau memiliki hasil hutan yang diketahui atau patut diduga berasal dari kawasan hutan yang diambil atau dipungut secara tidak sah.

Selain itu, juga diperkuat dengan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 4 Tahun 2005 Tanggal 18 Maret 2005 Tentang Pemberantasan Penebangan Kayu Secara Illegal di Kawasan Hutan dan Peredarannya di Seluruh Wilayah Republik Indonesia dan Keputusan Gubernur Riau (Nomor Kpts.472/X/2005 pada 21 Oktober 2005 Tentang Pembentukan tim pemberan-tasan penebangan kayu secara illegal dan peredarannya di selu-ruh wilayah Propinsi Riau).

Aturan spesifik juga disiap-kan. Saat ini Rancangan Undang-Undang Pemberantasan Pembalakan Liar sedang ditinjau publik sebelum disetujui DPR. Betapapun UU Pemberantasan Pembalakan Liar nantinya begi-tu lengkap dan jelas menjerat para pelaku, namun jika aparat hukum tidak memiliki nura-ni keadilan, tentu saja produk hukum itu bagaikan membuang garam ke laut.

Sudah saatnya penegakan hukum terhadap pembalakan liar diperkuat, mengingat selama ini para tersangka sering bebas atau mendapat keringanan hukum. Bahkan masih banyak cukong kayu ilegal kelas kakap berkeli-aran dengan bebas, tanpa bisa disentuh dewi keadilan.

Sudah menjadi rahasia umum kalau elit politik beserta kelom-pok kepentingannya diuntungkan dengan dana yang didapat dari praktek balak liar, langsung atau tidak langsung. Ancaman pidana korupsi dan pencucian uang bisa diterapkan kepada para pemba-lak liar, terutama para cukong dan bekingnya.

Menolong Si MiskinMenurut data Bank Dunia,

ada sekitar 1,2 miliar orang yang menggantungkan hidupnya dari kekayaan hutan, kebanyakan mereka berasal dari kelompok termiskin. Serentan-rentannya suatu pihak, maka yang paling rawan posisinya dalam pemba-lakan liar adalah masyarakat tempatan. Ketika para cukong dan perusahaan mendapat keuntungan besar dari praktek haram ini, maka penduduk tem-patan hanya mendapat seupil uang. Padahal mereka kelom-pok yang rawan dibidik konflik sosio-ekonomi, dikriminalisasi oleh penerapan hukum yang tidak adil dan menderita dampak kerusakan hutan dan lingkungan pasca pembalakan liar.

Sudah menjadi kredo ada gula ada semut, para pen-duduk miskin sering didanai oleh cukong-cukong kayu ber-duit untuk membalak liar demi kepentingan segelintir pebisnis haram itu. Ketika terjadi kegi-atan penegakan hukum, maka orang-orang berekonomi lemah

inilah yang diminta pertanggung-jawabannya. Kasus pembakaran hutan dan lahan yang merupa-kan lanjutan dari illegal logging sering dituduh dilakukan pen-duduk oleh pihak pengusaha dan penguasa.

Penduduk tempatan harus dilindungi dari jeratan keterli-batan dalam jaringan pembalak liar yang jelas-jelas mengek-sploitasi tenaga dan menghan-curkan ekologi tempat mereka biasa mencari nafkah. Pihak LSM dan pemangku kepentingan terkait, dibantu dengan kebijakan pemerintah, seharusnya memba-ngun kapasitas masyarakat kecil untuk aktif melestarikan hutan seraya mendapatkan insen-tif dalam upaya pelestarian itu. Keberpihakan perangkat hukum kehutanan yang hanya berba-sis pada keuntungan korporasi sudah seharusnya diakhiri.

Perang terhadap pembalakan liar harus dimulai dari segala penjuru, tidak hanya monopoli pihak kepolisian, tapi juga pihak-pihak yang selama ini mendapat keuntungan dari praktek mela-wan hukum itu. Aparat penegak hukum, DPR, DPRD, pemerin-tah, kepolisian, TNI, perusahaan, media, partai politik dan LSM/ormas sudah saatnya bahu-membahu memerangi kejahat-an kehutanan yang merugikan negara maupun komunitas dunia tersebut.

Mudah-mudahan Indonesia, termasuk Riau, tidak lagi kehi-langan hutan alamnya akibat ille-gal logging dalam berbagai versi dan oleh berbagai pelaku. Kalau tidak, tentu suara satwa liar dan konserto alam hanya akan jadi cerita nina bobo kepada anak cucu kelak. Pembalakan liar pun berandil bagi pemanasan glo-bal dan ancaman tenggelamnya pulau-pulau Nusantara.(Afdhal Mahyuddin)

BULETIN WWF

EDISI Januari - Maret 2007

Suara Tesso Nilo

15

Pemberdayaan Masyarakat

berkesempatan membuka acara tersebut. Dalam kata sambut-annya, ia mengatakan sangat menghargai adanya kelompok masyarakat disekitar kawasan hutan Tesso Nilo yang bertekad bulat untuk mempertahankan dan memelihara keberadaan kawasan tersebut. Kami menilai komitmen forum Tesso Nilo yang menekankan keseimbangan eko-sistem dalam visinya dan bah-kan menjadi tujuan musyawarah ini yaitu mewujudkan kelestarian Taman Nasional Tesso Nilo ada-lah sangat relevan dan sangat mendasar dan kami sangat mendukung hal tersebut. Kita menyadari tidak kecil hambatan dan masalah dan juga tantangan yang kita hadapi. Dari masalah yang mendesak yang perlu kita carikan jalan keluarnya adalah :1. Perambahan hutan. Masalah

perambahan dapat mengan-cam ekosistem kawasan Tesso Nilo karena perambah-an menyebabkan perubahan bentang alam dan sumber pemicu kebakaran hutan. Menurut laporan WWF sampai April 2006 luas perambahan di Tesso Nilo 18.162 ha dengan jumlah KK tercatat 2.345 KK. Dari jumlah ini seluas 7.000 ha dan 370 KK berada di kawasan Taman Nasional.

2. Masalah berikutnya adalah kebakaran hutan dan lahan. Penyebab kebakaran hutan dan lahan adalah akibat perambahan. Kami berharap

Musyawarah Besar Forum Masyarakat Tesso Nilo

Tiga tahun sudah berlalu sejak Forum Masyarakat Tesso Nilo dibentuk untuk pertama kali-nya pada Januari 2004. Dalam usianya yang masih dini tersebut Forum yang menaungi 22 desa yang ada disekitar hutan Tesso Nilo ini telah mampu menjadi suatu organisasi yang memiliki standar prosedur administrasi sendiri. Beberapa program kerja yang digariskan pada saat pem-bentukan forum ini telah dilak-sanakan antara lain penguat-an organisasi, pengembangan ekonomi dan lainnya.

Musyawarah besar yang ber-langsung selama tiga hari dari tanggal 12 hingga 13 Februari 2007 di Pekanbaru ini dihadiri oleh 80 peserta yang terdiri dari utusan desa anggota forum Tesso Nilo, Badan pengawas forum Tesso Nilo, Badan peng-urus forum Tesso Nilo, penga-

rah dan fasilitator. Selain bebe-rapa undangan lain dari pihak terkait antara lain: BKSDA Riau, Balai Taman Nasional Tesso Nilo, WWF dan beberapa LSM. Tujuan Musyawarah Besar FMTN:m Melihat pencapaian kegiatan

Forum periode 2004-2007m Menyusun rencana program

kerja Forum periode 2007-2010

m Melakukan pemilihan dan penetapan pengurus Forum periode 2007-2010Dengan tema Melalui

Musyawarah Besar Anggota Forum Masyarakat Tesso Nilo, Kita wujudkan Partisipasi Perlindungan & Kelestarian Taman Nasional Tesso Nilo menuju Masyarakat yang Sejahtera

Pada kesempatan pembukaan musyawarah besar ini kepala Balai Taman Nasional Tesso Nilo, Hayani Suprahman yang

Peserta Musyawarah Besar Forum Masyarakat Tesso Nilo, Foto : Forum Masyarakat Tesso Nilo

dari forum dapat memecahkan masalah ini dan kelompok-kelompok masyarakat peduli api perlu dikembangkan disekitar kawasan Taman Nasional Tesso Nilo.

3. Pencurian kayu (Illegal Loging) dan pencu-rian sumber daya alam hayati lainnya sangat menggangu ekosistem dan ini merupakan pintu gerbang untuk perambahan dan kami berharap perlu adanya penegakan hukum terhadap pelakunya dan kami berharap dari forum ini akan lahir program untuk menjaga kawasan Tesso Nilo dan kami tidak sanggup sendiri makanya kami sangat mengharapkan dukungan dari forum masyarakat Tesso Nilo ini.

Selama tiga hari tersebut untuk dapat men-capai tujuan kegiatan, peserta musyawarah dibagi dalam 3 komisi yaitu : Komisi I memba-has tentang pedoman umum pedoman khusus, Komisi II membahas tentang program dan komi-si III membahas tentang struktur organisasi dan pemilihan pengurus baru.

Komisi II menghasilkan beberapa rekomenda-si program kerja FMTN dalam upaya peningkatan kinerja pengurus forum yang terpilih nantinya antara lain:1. Pengembangan ekonomi a. Perikanan : keramba dan kolam b. Usaha madu dan lilin c. Pemasaran karet d. Lembaga keuangan mikro

BULETIN WWF

EDISI Januari - Maret 2007

Suara Tesso Nilo

16

Pemberdayaan Masyarakat

2. Komunikasi multi pihak a. Menjalin hubungan dengan berbagai pihak

dalam bidang ekonomi, peningkatan kapasitas dan aturan perundang-undangan, penyelesai-an konflik, dan bidang pendidikan.

b. Penyelesaian masalah-masalah terkait tata batas, serangan gajah dan pencaplokan tanah ulayat.

3. Perlindungan Sumber daya alam m Perlindungan Taman Nasional seiring dengan

implementasi program pemberdayaan masyarakat

m Pemetaan tapal batas Taman Nasional dilaku-kan oleh pemerintahan terkait bersama dengan masyarakat dan perlunya percepatan tapal batas yang jelas di lapangan

m Implementasi penanganan konflik gajah manusia antara lain membuat parit pengaman di batas taman nasional dan menambah im flying squad untuk daerah daerah yang mem-butuhkan

m Upaya mengurangi dan menghentikan peram-bahan di kawasan Tesso Nilo

4. Peningkatan Kapasitas Organisasi: a. Model pelaksanaan kegiatan Forum dilakukan

melalui koordinator di tingkat kecamatan dan desa

b. Pelatihan pelatihan untuk peningkatan penge-tahuan, keterampilan, dan sikap bagi peng-urus

Diskusi kelompok, Foto : Forum Masyarakat Tesso Nilo

e. Radio komunikasi f. Peternakan, sapi, kerbau

dan kambing. g. Perkebunan, karet dan

sawit. h. Simpan pinjam. Komisi ini

juga menyarankan bahwa penentuan lokasi tempat dilaksanakannya program-program tersebut diatas harus didahului dengan penilaian kebutuhan untuk kemudian dimusyawarah-kan bersama masyarakat desa.

BULETIN WWF

EDISI Januari - Maret 2007

Suara Tesso Nilo

17

Pemberdayaan Masyarakat

c. Peningkatan pengorganisasian masyarakat bagi koordinator di tingkat kecamatan dan desa.

d. Pelatihan pengorganisasian bagi koordina-tor di tingkat kecamatan dan desa

e. Upaya untuk menambah sumber penda-naan dan membangun sumber pendapa-tan secara mandiri.

Sesuai dengan tata cara pemilihan pengurus baru yang disusun oleh komisi III maka pada hari ke tiga Mubes ini dilaksanakanlah pemilihan pengurus Forum Masyarakat Tesso Nilo yang baru. Pada kesempatan ini peserta pemilih ber-jumlah 63 orang yang merupakan perwakilan dari 22 desa anggota forum masyarakat Tesso Nilo dari 4 kabupaten mengajukan dua calon ketua.Calon ini merupakan perwakilan dari Kabupaten Kampar dan Pelalawan, sementara Kabupaten Indragiri Hulu dan Kuantan Singingi tidak mengajukan calon.

Dengan mekanisme pemilihan yang telah disepakati bersama para pemilih memberi-kan hak suaranya untuk menentukan pilihan-nya. Calon yang mendapat suara terbanyak akan menduduki posisi Ketua FMTN sedang-kan suara berikutnya akan menjadi Sekretaris FMTN. Dua calon tersebut adalah Radaimon dari Kabupaten Kampar dan T. Effendi dari Kabupaten Pelalawan. Perolehan suara untuk kedua calon ini sangat ketat ketika panitia pemi-lihan melakukan penghitungan kertas suara satu

berlangsung ketat, jumlah suara saling susul menyusul. Namun akhirnya perolehan suara dimenangkan oleh Radaimon dengan jumlah suara 34 dari 63 pemilih. Dengan didapatnya hasil ini, Radaimon secara syah ditunjuk menja-di Ketua FMTN periode 2007-2010 dan T. Effendi menjadi Sekretaris FMTN.

Dengan formasi badan pengurus Forum Masyarakat Tesso Nilo yang baru ini diharapkan Forum Tesso Nilo dapat berperan lebih aktif untuk menyuarakan isu konservasi khususnya disekitar kawasan hutan Tesso Nilo. Upaya-upaya konservasi oleh pemangku kepentin-gan terkait disekitar Tesso Nilo diharapkan dapat lebih terintegrasi dengan memperhati-kan kepentingan masyarakat sekitar. Sehingga diharapkan ekonomi masyarakat sekitar hutan Tesso Nilo dapat ditingkatkan dan hutan Tesso Nilo tetap memberikan fungsi ekologinya secara maksimal kepada kehidupan.(Syamsidar)

per satu. Hasilnya kedua calon memperoleh suara yang sama dimana masing-masingnya memperoleh 31 suara semen-tara satu suara dianggap gugur karena tidak memenuhi krite-ria. Menyikapi hasil ini, panitia dan peserta pemilih memutus-kan untuk melakukan pemu-ngutan suara ulang.

Pada awal penghitungan suara pada putaran pemungut-an kedua ini, perolehan suara oleh kedua calon tersebut tetap

Diskusi kelompok, Foto : Forum Masyarakat Tesso Nilo

Peserta Musyawarah Besar Forum Masyarakat Tesso Nilo, Foto : Forum Masyarakat Tesso Nilo

Muatiara Gondai FM 107,7 radio warga Gondai yang cinta damai......di pancarluaskan dari sekitar balai desa Pangkalan Gondai

inilah radio komunitas Mutiara Gondai FM....Radionya warga Gondai yang cinta damai....

Demikianlah jingle radio komunitas warga Gondai malam itu berkumandang untuk pertama kalinya di desa Pangkalan Gondai. Pendirian radio komunitas di Desa Pangkalan Gondai, Kecamat-an Langgam, Pelalawan ini didasari oleh kebutuhan akan pen-tingnya sarana komunikasi dan informasi yang selama ini dirasa kurang oleh sebagian besar masyarakat. Oleh karena itu WWF dan Forum Masyarakat Tesso Nilo beserta masyarakat setempat mencoba mewujudkan berdirinya stasiun radio ini.

Dalam upaya mewujudkan berdirinya stasiun radio komuni-tas di Desa Pangkalan Gondai ini, WWF dan Forum melibatkan lembaga Combine dari Jogyakarta sebagai salah satu lembaga yang ahli dibidang Radio Komunitas atau disingkat rakom dalam proses pembentukannya. Hal ini dirasa perlu dan penting karena prinsip rakom sendiri bukan seperti radio swasta yang profit ori-ented (berorientasi ekonomi), namun radio yang dibangun dari, oleh dan untuk masyarakat. Karena prinsip-prinsip dan cara ker-janya berbeda maka diperlukan suatu kesepakatan dan komit-men masyarakat dalam menjalankan rakom ini.

Dalam menunjang berdiri dan beroperasinya rakom di Desa Gondai dibentuklah susunan kepengurusan yang terdiri dari Dewan Penyiaran Komunitas (DKP) dan Badan Penyelenggara Penyiaran Komunitas (BPPK). Dewan Penyiaran Komunitas ini merupakan kelembagaan yang mencerminkan kepemilikan ko-munitas, pengaturan secara umum dan berfungsi sebagai lem-baga konsultatif dan melakukan pengawasan terhadap jalannya kegiatan rakom dan mutu siaran yang dihasilkan. Keanggotaan DKP terdiri dari tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama dan kepala desa. Sedangkan Badan Penyelenggara Penyiaran Komu-nitas (BPPK) bertanggung jawab dalam pelaksana harian radio komunitas dan mendengar masukan serta pengawasan dari De-wan Penyiaran. BPPK secara kelembagaan bertanggung jawab kepada DKP. Keanggotaan BPPK berasal dari pemuda-pemuda desa yang merasa terpanggil dan perduli dengan perkembangan dan kemajuan desanya.

Sejak berdirinya rakom di Desa Pangkalan Gondai hingga hari ini terdapat perkembangan di tingkat masyarakat khususnya yang menjadi ciri khas dalam pengorganisasian rakyat yaitu:n Partisipatif; Keterlibatan warga dalam semangat keswa-

dayaan. m Bantuan kepala desa berupa genset untuk membantu

beroperasinya radio sehingga tidak tergantung pada genset milik salah seorang warga yang tinggal didekat lokasi studio radio tersebut. Hingga saat ini desa Pang-kalan Gondai memang belum tersentuh jaringan listrik PLN

m Perbaikan dan renovasi bangunan yang menjadi studio dilakukan bersama-sama tanpa imbalan apa pun

m Penentuan lokasi studio berdasarkan kesepakatan ber-sama masyarakat

m Beberapa warga menyumbangkan CD atau kaset lagu-lagu yang mereka miliki ke pengurus rakom, selain me-minta agar lagu-lagu itu diputarkan mereka juga ingin berpartisipasi untuk melengkapi koleksi lagu rakom tersebut.

n Pemecahan masalah bersama; m Masalah dana untuk operasional bahan bakar genset di-

tanggulangi dengan pembuatan kartu permintaan lagu (request card) senilai Rp.500 per lembar

m Pembuatan jingle rakom sebagai identitas diri dilakukan secara bersama dan disesuaikan dengan konteks lokal

n Kebutuhan informasi tingkat lokal; m Studio rakom menjadi pusat tempat berkumpulnya war-

ga dan berbagi informasi disekitar wilayah tempat ting-gal mereka

m Dimanfaatkannya rakom tersebut untuk penyampaian informasi kepada warga seperti halnya pertemuan pem-bentukan kepengurusan panitia pembangunan mesjid raya Pangkalan Gondai yang diadakan usai shalat Jumat pada akhir bulan Maret lalu. Pertemuan itu disiarkan secara langsung oleh rakom sehingga seluruh warga setempat dan desa sekitarnya mengetahui secara lang-sung proses dan hasil pertemuan tersebut.

Hadirnya rakom ini telah membawa beberapa kemajuan positif ditengah warga masyarakat karena keterbatasan me-dia komunikasi sedikitnya telah dapat diatasi. Hal ini terbukti dengan adanya beberapa pengalaman menarik selama berope-rasinya rakom tersebut. Salah satunya adalah tersampaikan-nya berita penting dimana ada seorang ibu yang tinggal di desa tersebut yang tengah sakit keras meminta sang suami yang se-dang bekerja mencari ikan di kuala Nilo untuk segera pulang. Sungguh suatu keberuntungan, pada malam disiarkannya berita tersebut, sang suami tengah mendengarkan radio. Berbekal in-formasi dari radio tersebut, sang suami pun segera pulang untuk menemui istrinya.

WWF dan Forum Masyarakat Tesso Nilo berharap dengan peran rakom ini dapat menjadi salah satu solusi untuk me-mudahkan informasi ke semua warga, hal ini mengingat jarak desa yang jauh dari ibukota kabupaten dan luasnya desa. Di-harapkan dengan informasi dan komunikasi yang cepat maka masyarakat bisa merespon sesuatu yang terjadi dengan cepat. Tentunya diharapkan pula rakom ini bisa menjadi media komu-nikasi masyarakat dalam menghadapi masalah gangguan gajah atau kebakaran hutan. Desa Pangkalan Gondai yang berdekatan dengan usulan perluasan Taman Nasional Tesso Nilo memang rentan dengan masalah konflik gajah dan kebakaran hutan ka-rena perambahan yang terus meningkat dikawasan usulan per-luasan taman nasional tersebut. (Adi Purwoko)

Radio Komunitas Memberi Warna Lain Kehidupan Masyarakat Pangkalan Gondai

BULETIN WWF

EDISI Januari - Maret 2007

Suara Tesso Nilo

18

Konservasi Harimau Sumatera

BULETIN WWF

EDISI Januari - Maret 2007

Suara Tesso Nilo

19

Konservasi Harimau Sumatera

Pendidikan dan Latihan SAR Rimba Gunung se Sumatera yang ber-langsung dari tanggal 20 sampai 30 Maret 2007 di Taman Nasional Bukit Tigapuluh dibuka secara resmi oleh Wakil Gubernur Riau, H. Wan Abu Bakar. Kegiatan ini bertujuan memberi pengetahuan tentang teknik hidup di alam terbuka khususnya pengua-saan materi navigasi darat untuk medan rimba gunung dan pengeta-huan SAR dan ESAR ( Explore, Search and Rescue). Kegiatan yang didukung oleh kerjasama multi pihak: WWF, Pemda Riau, Basarnas (Badan SAR Nasional), Paskhas AU, Brimobda Riau, Balai Taman Nasional Bukit Tigapuluh (BTNBT), Chevron dan RSUD diikuti oleh 45 peserta. WWF mengirimkan sepuluh orang anggota tim konservasi harimau, sementara peserta yang lain berasal dari BRIMOB, pecinta alam

dari seluruh Sumatra dan instansi pemerintah.

Dalam pidato pembukaannya Wakil Gubernur Riau mengatakan menyam-but baik terlaksananya kegiatan ini. Sudah saatnya Riau memiliki potensi-potensi anak muda yang dapat siap siaga dilibatkan dalam kegiatan SAR mengingat seringnya terjadi bencana alam akhir-akhir ini, baik yang ter-jadi di daerah sendiri maupun provinsi tetangga. Selain itu ia menambah-kan kegiatan di Taman Nasional Bukit Tigapuluh merupakan ajang untuk memperkenalkan potensi taman nasional tersebut ke publik yang lebih luas.

Dukungan WWF dalam kegiatan ini dilatarbelakangi adanya kebutuhan akan pengetahuan dan keterampilan menyangkut keselamatan bagi para pekerja lapangan. Dalam melaku-

kan studi dan patroli perlindungan harimau, para anggota tim WWF di lapangan seringkali harus berhadapan dengan kerasnya alam yang tentu-nya membawa resiko bagi kesela-matan dari anggota tim. Sementara itu, upaya mencari pertolongan tidak dapat serta merta dilakukan karena jarak lokasi kegiatan yang jauh dari aktifitas manusia. Dibutuhkan waktu berjam-jam untuk keluar dari hutan guna mendapatkan bantuan pertolon-gan dimaksud.

Dalam pengambilan data untuk penelitian harimau di lanskap Tesso Nilo-Bukit Tigapuluh, Tim Riset Harimau WWF ketika melakukan sur-vei pemasangan maupun pemeriksaan perangkap kamera (camera trap), atau kegiatan terkait lainnya, harus tinggal berhari-hari di dalam hutan: jauh dari akses komunikasi dan akti-fitas manusia lainnya. Demikian juga Tim Perlindungan Harimau dalam melakukan patroli pengamanan hari-mau dari segala ancaman yang ada dalam kawasan hutan. Tim dengan berbekal tenda dan perlengkapan lapangan secukupnya harus berpindah dari satu titik penelitian atau survei yang telah ditentukan ke titik beri-kutnya. Dari pengalaman selama ini, dengan bekal pengetahuan lapangan yang telah diberikan dapat dikatakan bahwa tim dapat mengatasi masalah yang dihadapi dalam melaksanakan kegiatan di lapangan. Namun untuk mengantisipasi resiko yang mungkin saja dihadapi dan meningkatkan kapa-sitas anggota tim harimau WWF maka dirasa perlu menambah pengetahuan dan ketrampilan menghadapi situasi darurat di lapangan.

Untuk mewujudkan pelatihan terse-

Pendidikan dan LatihanSAR Rimba Gunung se-Sumatera

Tim Harimau WWF Dibekali Dengan Ilmu Pengetahuan dan Ketrampilan Baru

Wakil Gubernur Riau, H. Wan Abu Bakar bersalaman dengan panitia dan peserta diklat setelah upacara pembukaan yang berlangsung di halaman kantor Bupati Indragiri Hulu Foto : Panitia

Tentu saja harapannya bahwa pela-tihan ini akan benar-benar bermanfaat bagi para peserta baik untuk keper-luannya dalam melaksanakan tugas di lapangan ataupun turut membantu bila terjadi bencana di sekitar. Bagi tim WWF, kegiatan ini sangat ber-manfaat karena telah membekali seti-ap peserta dengan pengetahuan dan keterampilan untuk keselamatan dan menambah semangat dalam melan-jutkan pekerjaan yang telah digeluti selama ini.

Kolaborasi dalam pelaksanaan kegiatan ini telah menciptakan nuansa baru bagi para stakeholder terkait. Bila selama ini kerjasama antar pihak yang terkait belum terjalin, kita ber-harap kegiatan ini telah menjadi sim-pul pemula dan kolaborasi semacam ini dapat terus berlanjut. (Sunarto, Syamsidar)

BULETIN WWF

EDISI Januari - Maret 2007Konservasi Harimau Sumatera

Suara Tesso Nilo

20

tengah menghadapi situasi pencarian dan penyelamatan korban. Namun ini tidaklah menjadi kendala, para peser-ta pelatihan kelihatan menikmati kegi-atan praktek lapangan ini. Skenario SAR juga disimulasikan pada praktek lapangan ini. Peserta yang telah dibagi menjadi 9 unit harus menyelamatkan 3 orang korban. Semua prosedur-prosedur standar SAR dijalankan ses-uai dengan teori yang telah diberikan.

Medical First Responder(MFR), naviga-si darat, SAR, ESAR, Evakuasi vertikal, penyelamatan diri, komunikasi lapang-an. Selain materi teknis, peserta juga mendapat tambahan pengetahuan mengenai sosiologi suku pedalaman, ekologi satwa, hutan hujan tropis, dan pengenalan Taman Nasional Bukit Tigapuluh. Instruktur yang mem-berikan materi berasal antara lain dari ASARNAS, WANADRI, PASKHAS.

Latihan dan praktek lapangan langsung Foto : Sunarto/WWF -Tesso Nilo Program

but, WWF mendukung inisiatif pecin-ta alam yang tergabung dalam JEC (Jungle Explorer Community) untuk menyelenggarakan kegiatan pendidi-kan pelatihan dan SAR Rimba Gunung se-Sumatra. Dengan semangat yang tinggi, anak-anak muda yang ter-gabung dalam JEC sebagai panitia inti kegiatan ini berupaya melakukan kegiatan ini dalam skala yang lebih besar karena besarnya manfaat yang akan didapat peserta pelatihan. Oleh karena itu JEC berusaha merangkul dukungan dari berbagai pihak. Betapa menggembirakan, dukungan pun mengalir menambah semangat untuk mewujudkannya menjadi Pelatihan SAR Rimba Gunung se Sumatera yang pertama.

Adapun materi yang didapat dalam 10 hari pelatihan ini antara lain : peralatan dan pengenalan lapangan,

Materi pelatihan yang diberikan pada kesempatan kali ini telah memenuhi standarisasi oleh karena itu BASARNAS akan memberikan kartu keanggotaan SAR bagi para peserta yang lulus atau memenuhi semua persyaratan dalam pelatihan ini. Dengan kepemilikan kartu tersebut, seseorang dengan resmi dapat terlibat dalam sebuah operasi SAR.

Dari hari ke 5 dan seterusnya pelatihan ini difokuskan pada praktek lapangan. Kondisi sekitar Camp Granit TNBT yang berbukit-bukit memberi-kan situasi alamiah untuk pelaksanaan kegiatan lapangan ini. Pada kegiat-an lapangan ini peserta latihan yang dibagi dalam kelompok-kelompok kecil diharuskan membuat camp, mema-sak dan menyediakan kebutuhan lain-nya sendiri. Situasi memang benar-benar diciptakan seolah-olah peserta

of 20/20
l Edisi : Januari - Maret 2006 RIAU ELEPHANT CONSERVATION PROGRAM
Embed Size (px)
Recommended