Home > Documents > RIAU ELEPHANT CONSERVATION...

RIAU ELEPHANT CONSERVATION...

Date post: 30-Mar-2019
Category:
Author: lydung
View: 220 times
Download: 0 times
Share this document with a friend
Embed Size (px)
of 20 /20
l Edisi : April - Juni 2007
Transcript

RIAU ELEPHANT CONSERVATION PROGRAM

l Edisi : April - Juni 2007

BULETIN WWF

EDISI April - Juni 2007

Suara Tesso Nilo

2

SuSunan RedakSi

PenanggungjawabDudi Rufendi

Redaksi Nursamsu Sri Mariati

Dani Rahadian Suhandri

SyamsidarM. Yudi Agusrin

Bulletin intern WWF Indonesia

Riau Conservation Program

Alamat Redaksi: Perkantoran Grand Sudirman B.1Jl. Dt. Setia Maharaja - Pekanbaru

Telp/Fax: (0761) 855006E-mail: [email protected]

Website: http://www.wwf.or.id/tessonilo

alam Lestari,

Pembaca yang terhormat,Selamat bertemu kembali dengan Buletin Suara Tesso Nilo dan seperti harapan kami

bahwa kehadiran buletin ini dapat menjadi sumber informasi terutama mengenai upaya konservasi di Tesso Nilo.

Upaya untuk mengamankan Tesso Nilo dari perambahan, pembalakan liar dan kebakaran hutan dan lahan sudah menjadi semangat bersama terutama bagi stakeholder di Tesso Nilo. Hal ini terbukti dengan ditandatanganinya kesepakatan bersama untuk pencegahan dan penanggulangan perambahan, illegal logging dan kebakaran hutan dan lahan di Tesso Nilo oleh sepuluh lembaga terkait pada tanggal 1 Maret 2007. Salah satu implementasi dari kesepakatan bersama tersebut adalah melakukan patroli bersama pengamanan kawasan Taman Nasional Tesso Nilo dan usulan perluasannya dari kegiatan illegal. Sejak dilakukannya penandatanganan Kesepakatan Bersama tersebut hingga Juni, telah dilaksanakan empat kali patroli. Namun ternyata tugas dan tanggung jawab tim patroli tidak berjalan mulus, ketika melaksanakan patroli yang ketiga tim patroli dihadang dan dikeroyok oleh ratusan perambah yang telah terprovokasi.

Tiga dari anggota patroli mendapat pukulan dan hantaman yang serius dari perambah tersebut. Selain itu tim sempat disandera beberapa jam oleh para perambah sebelum akhirnya dibebaskan setelah terjadi negosiasi. Ini adalah sebagian informasi yang akan pembaca dapatkan pada edisi kali ini. Insiden ini sungguh disayangkan; tim patroli yang sebagian anggotanya merupakan petugas penegak hukum ketika melaksanakan tugasnya mendapat tantangan dari pihak-pihak tidak bertanggung jawab. Menanggapi insiden ini, tim bersepakat untuk menyerahkannya kepada proses hukum yang berlaku dengan harapan penuntasan kasus ini dapat memberikan efek yang lebih besar untuk perlindungan Tesso Nilo.

Upaya penanganan perambahan dan perluasan Taman Nasional Tesso Nilo memang sudah menjadi agenda bersama, hal ini sejalan dengan dibentuknya Tim Penanggulangan Perambahan Hutan dan Lahan Serta Perluasan Pada Taman Nasional Tesso Nilo lewat Surat Keputusan Gubernur Riau Kpts:271.a/VII/2007 pada tanggal 3 Juli 2007. Kita berharap dengan semangat kebersamaan ini, upaya-upaya yang dilakukan untuk melestarikan kawasan hutan Tesso Nilo sebagai salah satu alternatif pemecahan permasalahan konflik manusia-gajah di Riau akan segera menemui titik terang.

Pada edisi kali ini, redaksi juga memuat sekilas informasi tentang kerjasama Yayasan WWF-Indonesia dengan masyarakat Buluh Cina. Desa Buluh Cina adalah salah satu aset wisata provinsi Riau oleh karena itu sudah selayaknya kita bersama berpartisipasi mengembangkannya secara aktif maupun tidak langsung. Selain itu pembaca juga akan mendapatkan informasi mengenai konflik gajah-manusia di Dusun Redang Seko Kecamatan Ukui Kabupaten Pelalawan dimana lebih kurang dua ekor gajah liar dilaporkan memasuki perkebunan dan pemukiman masyarakat. Selain itu, seekor harimau buntung berhasil diabadikan oleh camera trap di Taman Nasional Tesso Nilo. Kaki harimau tersebut diduga buntung karena terkena jerat yang dipasang oleh pemburu. Sungguh sangat disayangkan perburuan si Raja Rimba tersebut masih berlangsung, sementara jumlahnya semakin sedikit saja. Selain itu keterancamannya juga semakin tinggi karena hidupnya kian terdesak karena habitatnya yang kian tergerus.

Akhir kata kami mengucapkan selamat membaca dan berharap bahwa semangat kebersamaan untuk upaya konservasi semakin mempererat kita. Kritik dan saran Anda tetap kami nantikan.

Wassalam,Dudi RufendiProgram Manager

daRi RedakSi

DAFTAR ISIl Patroli Perambahan di Tesso Nilo

l Penanganan Perambahan di Taman Nasional Tesso Nilo

l Pengukuhan Tim Tesso Nilo

l Pengusiran Gajah di Redang Seko

l Taman Wisata Alam Desa Buluh Cina

l Seekor Harimau Buntung di Taman Nasional Tesso Nilo

l Semarak Peringatan Hari Lingkungan Hidup se Dunia Bersama Dengan Pecinta Alam

l Peringatan Hari Bumi se Dunia Tahun 2007

S

BULETIN WWFLAPORAN UTAMA

Suara Tesso Nilo

3

Kawasan hutan Tesso Nilo se-bagai hutan dataran rendah yang memiliki keanekaragaman hayati tertinggi di dunia dan me-rupakan habitat gajah Sumatera yang masih relatif aman perlu dijaga keseimbangannya. Peram-bahan, pembalakan liar dan ke-bakaran hutan dan lahan adalah ancaman besar yang mengan-cam keutuhan ekosistem kawasan tersebut. Sebagian hutan Tesso Nilo dibuka untuk kemudian di-jadikan kebun sawit dan pemu-kiman. Hingga Agustus 2006 se-luas 7.000 ha kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) dan 11.000 ha kawasan di luar TNTN yang kini menjadi kawasan usulan perluasan TNTN telah dirambah.

Untuk membantu pemerintah pusat dan pemerintah provinsi Riau dalam hal mencegah laju kerusakan yang lebih tinggi, sepu-luh institusi terkait yang terdiri dari

Dinas Kehutanan Kabupaten Pela-lawan, Balai Taman Nasional Tesso Nilo, BBKSDA Riau, Yayasan Ta-man Nasional Tesso Nilo, WWF In-donesia-Program Konservasi Riau, Forum Masyarakat Tesso Nilo, PT. RAPP, PT. Nanjak Makmur, PT. Siak Raya Timber, dan PT. Hutani Sola Lestari pada tanggal 1 Maret 2007 telah menandatangani Kesepa-katan Bersama untuk melakukan upaya membantu pencegahan dan penanggulangan perambahan, il-legal logging dan kebakaran hutan dan lahan di Tesso Nilo. Tim ini ke-mudian disebut Tim Tesso Nilo.

Perlunya penyelamatan salah satu kawasan hutan dataran ren-dah yang masih tersisa di Pulau Sumatera yang juga merupakan habitat gajah yang masih relatif aman merupakan dasar dari pem-bentukan tim ini. Untuk mereali-sasikannya, stakeholder terkait di Tesso Nilo berkomitmen membuat

Patroli Perambahan di Tesso Nilo

rencana kegiatan bersama tentang pencegahan dan penanggulangan perambahan hutan, illegal logging, kebakaran hutan dan lahan di ka-wasan Tesso Nilo. Adapun ruang lingkup tugas tim ini adalah:1. Melakukan Patroli pengamanan

hutan di kawasan Tesso Nilo (Ta-man Nasional Tesso Nilo, kons-esi HPH PT. Siak Raya Timber, PT. Hutani Sola Lestari dan PT. Nanjak Makmur) yang arealnya termasuk wilayah administrasi Kabupaten Pelalawan

2. Melakukan penyuluhan, sosial-isasi status hukum perambah-an kawasan hutan

3. Melakukan peringatan terha-dap perambah dan penebang illegal

4. Melakukan pemeriksaan dan pendataan pengguna jalan akses

5. Melakukan pemeriksaan di check point

6. Melakukan pencegahan dan pe-nanggulangan kebakaran hutan dan lahan

7. Melakukan pelaporan dan pro-ses lebih lanjut kepada pihak berwenang

Sejak ditandatanganinya Ke-sepakatan Bersama tersebut hing-ga pertengahan tahun 2007, Tim Tesso Nilo telah melakukan pa-troli bersama sebanyak empat kali yaitu: 1. Patroli pertama: 20 s/d 24

Maret 20072. Patroli kedua : 10 s/d 14 April

20073. Patroli ketiga: 2 s/d 3 Mei

Tim patroli mensosialisasikan peraturan terkait kepada perambah Foto : Tim Patroli

EDISI April - Juni 2007

2007 4. Patroli keempat : 25 s/d 29

Juni 2007Sementara itu patroli dalam

kawasan taman nasional sendiri lebih diintensifkan oleh Balai Ta-man Nasional Tesso Nilo (BTNTN) bersama dengan WWF, Kepoli-sian Sektor Ukui dan masyarakat sekitar TNTN.

Pelaksanaan kegiatan patroli di kawasan usulan perluasan TNTN pada dasarnya merupakan langkah persuasif kepada para perambah dan pembalak liar yang melakukan aktifitas liar di kawasan hutan tersebut. Dengan demikian diharapkan para pelaku kegiatan illegal di Tesso Nilo da-pat memahami bahwa kegiatan yang mereka lakukan melanggar hukum dan peraturan yang ber-laku dan dapat secara sukarela menghentikan kegiatan illegalnya di kawasan hutan Tesso Nilo.

Hingga kini perambahan, pembalakan liar, kebakaran hu-tan dan lahan masih tetap terjadi baik di dalam Taman Nasional Tesso Nilo maupun di kawasan usulan perluasannya. Menurut analisa GIS (Geographic Informa-tion System) atau Sistem Infor-masi Geografi hingga pertengah-an 2006 kawasan yang dirambah di dalam Taman Nasional seluas 7.000 ha dimana 370 kk mendiami kawasan tersebut. Se-dangkan di luar taman nasional yang kini tengah diusulkan men-jadi kawasan perluasan TNTN te-lah dirambah seluas 11.000 ha dan sekitar 2.000 kk mendiami kawasan hutan tersebut. Semen-tara itu pemecahan masalah ini sejauh ini belum menemukan tit-ik terang padahal kondisi ini akan terus memicu tidak saja konflik manusia dengan gajah tapi juga konflik sosial budaya. Oleh ka-

rena itu peranan berbagai pihak seperti dunia usaha dalam pena-nganan perambahan dan perce-patan perluasan taman nasional tersebut sangat diperlukan. Selain itu penegakan hukum yang tegas atas kegiatan illegal di kawasan tersebut diyakini akan memberi-kan contoh positif bagi perlindun-gan hutan-hutan yang tersisa di provinsi Riau.

Hambatan Yang Dihadapi oleh Tim Tesso Nilo

Pada patroli pertama dan ked-ua, tim patroli Tesso Nilo telah melaksanakan tugasnya memberi-kan penyuluhan tentang peraturan terkait kepada para perambah dan pembalak liar yang ditemui di la-pangan. Bila pada patroli pertama, tim melakukan pendataan tentang perambahan di kawasan hutan Tesso Nilo, pada patroli kedua tim juga melakukan penyitaan bebe-rapa barang bukti kegiatan illegal di kawasan hutan Tesso Nilo beru-pa chainsaw.

Pada patroli ketiga tepatnya pada tanggal 3 Mei 2007, tim pa-troli pengamanan hutan Tesso Nilo mendapatkan suatu kendala besar

yaitu dihadang oleh ratusan pe-rambah yang telah terprovokasi. Hari itu tepatnya pukul 5 sore, tim tengah dalam perjalanan pulang ke luar dari melakukan patroli disekitar konsesi PT. Siak Raya Timber. Ketika tim sampai di km 60, Desa Bukit Kesuma ka-wasan yang masuk dalam usulan perluasan TNTN, tim menemukan jalan keluar telah diblokir dengan menggunakan satu unit truk colt diesel dan beberapa balok kayu. Dua orang aggota tim(perwakilan dari Kepolisian Sektor Pelalawan dan WWF) dan ketua tim (dari Di-nas Kehutanan Pelalawan) beru-paya mencari informasi terkait pemblokiran ini pada masyarakat sekitar. Namun masyarakat tidak memberikan informasi yang cu-kup selain menyarankan tim un-tuk menemui seorang pemuka masyarakat di Bukit Kesuma ber-nama Abdul Arifin.

Sementara ketua tim menuju rumah pemuka masyarakat di-maksud, anggota tim yang lainnya berusaha membuka jalan yang diblokir tersebut. Berhasil mele-wati blokiran tersebut ternyata tim sudah dihadang kembali oleh

BULETIN WWF

EDISI April - Juni 2007LAPORAN UTAMA

Suara Tesso Nilo

4

Sebuah camp pekerja pembibitan sawit dalam hutan Tesso Nilo , Foto : Samsul Komar/ WWF-Tesso Nilo Program

para perambah tetap berjaga-jaga di luar rumah tempat penyandera-an. Dengan dasar untuk dapat ke-luar dari lokasi penyanderaan dan karena berada dibawah tekanan, Koordinator Tim menyetujui untuk menandatangani perjanjian damai tersebut. Segera setelah ditanda-tanganinya surat tersebut, tim pun meninggalkan lokasi penyandera-an untuk kemudian berkoordinasi dengan kepolisian.

Tim tidak saja dipukuli namun juga dirampas beberapa prop-ertinya termasuk surat perintah tugas dan dokumen penting lain-nya. Sementara itu, salah seorang anggota tim sempat melihat ke-beradaan seorang aktor intelek-

BULETIN WWF

EDISI April - Juni 2007LAPORAN UTAMA

Suara Tesso Nilo

5

ratusan masyarakat yang pada umumnya adalah perambah di Tesso Nilo. Para perambah me-neriakkan yel-yel hajar dan bakar saja mobilnya. Para ang-gota tim pun satu per satu keluar dari mobil dan harus berhadap-an langsung dengan massa yang semakin emosi. Masyarakat se-makin terprovokasi ketika salah seorang oknum Dinas Kehutanan yang telah berada di lokasi terse-but, memprovokasi massa untuk melakukan pemukulan kepada anggota tim Tesso Nilo bahkan mengancam untuk membunuh anggota tim. Sebagian anggota tim menjadi sasaran hantaman membabi buta dari perambah bahkan sebagian dipukuli de-ngan kayu. Entah berapa banyak pukulan dan hantaman yang di-terima oleh sebagian anggota tim sebelum akhirnya mereka berha-sil meloloskan diri masing-ma-sing dari amukan perambah yang terprovokasi tersebut.

Dua orang anggota tim Tesso Nilo yaitu perwakilan dari Polres Pelalawan dan perwakilan dari PT. Nanjak Makmur berhasil lo-los dari kepungan massa. De-ngan menggunakan sepeda mo-tor masyarakat, mereka menuju camp Flying Squad WWF-BBKSDA Riau yang berada di Desa Lubuk Kembang Bunga. Dari sinilah, tim dapat menyampaikan informasi insiden pengeroyokan tersebut kepada kepolisian dan institusi masing-masing tim Tesso Nilo. Informasi ini segera ditanggapi oleh pihak kepolisian dengan menurunkan personilnya ke loka-si kejadian.

Sementara itu, anggota tim yang lain disandera selama be-berapa jam oleh para peram-bah dirumah Abdul Arifin. Dalam keadaan disandera, anggota tim

yang tersisa diminta untuk me-nandatangani surat perjanjian da-mai dengan perambah yang isinya kurang lebih menyatakan bahwa insiden yang terjadi adalah kes-alahpahaman belaka. Sementara itu, ratusan massa yang terdiri dari

tual (pemodal perambah) berada di sekitar lokasi insiden pengero-yokan tersebut. Pada hari sebe-lumnya, tim sempat bertemu de-ngan aktor intelektual tersebut yang berinisial Ch yang memiliki kantor lapangan di sekitar ka-wasan perambahan tersebut. Tim menanyakan kepada Ch tentang dokumen yang dimilikinya dalam mengusahakan lahan disekitar kawasan usulan perluasan Taman Nasional Tesso Nilo, namun Ch tidak dapat memberikan jawaban yang jelas atas permintaan dan pertanyaan tim. Ch sempat pula mengancam tim untuk tidak ber-tindak lebih jauh dengan temuan-nya di lapangan.

Pada pukul 20:20 WIB, tim dibebaskan dari penyandera-an tersebut dan segera menuju kantor PT. RAPP sektor Ukui un-tuk berkoordinasi dengan Kapol-sek Ukui dan pihak kepolisian dan mendapatkan perawatan medis. Setelah mendapatkan perawatan secukupnya, malam itu juga tim meninggalkan lokasi menuju Pol-res Pelalawan untuk membuat la-poran polisi. Selain itu, tim juga diberi rujukan ke RSUD Selasih-Pangkalan Kerinci untuk di visum dan tengah malam itu juga di-lakukan visum kepada beberapa korban pengeroyokan tersebut.

Keesokan harinya, tepatnya tanggal 4 Mei 2007 dilaksanakan rapat koordinasi Tim Tesso Nilo di kantor Dinas Kehutanan Kabupa-ten Pelalawan. Dari rapat koor-dinasi ini disepakati bahwa Tim Tesso Nilo menyerahkan kepada pihak kepolisian untuk melaku-kan upaya penegakan hukum terhadap insiden yang terjadi ke-pada anggota tim yang tengah menjalankan tugasnya.

Upaya Yang Telah Dilakukan

Perlunya penyelamatan salah satu kawasan hutan

dataran rendah yang masih tersisa di Pulau Sumatera

yang juga merupakan habitat gajah yang masih relatif aman

merupakan dasar dari pembentukan tim ini.

BULETIN WWF

EDISI April - Juni 2007LAPORAN UTAMA

Suara Tesso Nilo

6

Menyikapi insiden yang terja-di, Yayasan WWF Indonesia telah melakukan koordinasi kepada instansi terkait atas insiden ini baik langsung maupun tertulis. Manajemen WWF-Indonesia segera berkoordinasi dengan Direktorat Jendral Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam mengenai insiden ini. Menanggapi kejadian ini, pihak Departemen Kehutanan menga-takan akan segera melakukan operasi penertiban di kawasan hutan Tesso Nilo dan akan segera mengu-payakan perluasan Taman Nasional Tesso Nilo. Pada tanggal 14 Mei 2007, WWF Indonesia mengirimkan surat kepada Menteri Kehutanan Republik Indonesia, Gubernur Provinsi Riau dan Kapolda Riau yang me-nyatakan antara lain:

1. WWF mengecam tindakan kekerasan terhadap pekerja konservasi dan menyesali adanya pe-ranan dari staf Dinas Kehutanan dalam insiden tersebut

2. WWF memberikan apresiasi terhadap reaksi ce-pat Departemen Kehutanan dalam menanggapi kejadian ini dengan akan melakukan operasi pe-nertiban di kawasan hutan Tesso Nilo dari pelaku illegal logging dan perambahan liar dalam waktu dekat

3. WWF meminta pihak kepolisian melakukan se-

gala upaya penegakan hukum atas insiden ini dengan tegas

4. WWF meminta dukungan tegas dari Pemer-intah Provinsi Riau untuk menindak aparat Pemerintah Daerah yang terbukti melanggar

hukum dan membuka dialog multistake-holders dalam rangka mencari penyelesaian masalah di Taman Na-sional Tesso Nilo dan calon areal perluasan-nya.

Sementara itu, se-bagai bentuk kepriha-tinan terhadap kasus yang menimpa para penggiat konservasi dan aparat pemerintah yang tengah melaksanakan tugasnya, 11 perwaki-lan LSM menyampaikan pernyataan sikap pada tanggal 10 Mei 2007. Ke 11 LSM yang terdiri dari Jikalahari, Yayasan TN Tesso Nilo, WWF-Riau, KBH Riau, LBH Pekanba-

ru, LALH, Yasa, Kaliptra, Walhi Riau, Elang, Sik-lus, dan Mitra Insani mengecam keras tindakan perampasan, pengancaman, pengeroyokan dan penyanderaan oleh perambah yang menimpa Tim Tesso Nilo pada 3 Mei 2007. Pernyataan sikap ini diikuti dengan penyampaian surat yang ditujukan kepada Kapolda Riau, Gubernur Riau, Menteri Kehutanan dan institusi terkait lainnya untuk melaksanakan upaya penegakan hukum terhadap insiden ini.

Dengan semangat penegakan hukum, kita berharap kasus pengeroyokan terhadap tim Tesso Nilo ini dapat segera diungkap. Tuntasnya kasus ini diharapkan tidak saja memberikan efek jera bagi pelaku tetapi juga mengungkap jaring-an penjualan lahan dalan kawasan hutan yang kini tengah marak terjadi, tidak hanya di Tesso Nilo. Selain itu, tentu saja proses yang kondusif dalam pengungkapan kasus ini menjadi sema-ngat para institusi terkait dalam upaya penye-lamatan hutan sebagai sumber kehidupan kita.(Syamsidar)

BULETIN WWF

EDISI April - Juni 2007Pengelolaan Kawasan Konservasi

Suara Tesso Nilo

7

Pelaksanaan patroli pengamanan Taman Nasional Tesso Nilo me-libatkan unsur Balai Taman Nasional Tesso Nilo, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Riau, WWF-Riau dan PAM Swakarsa. Dalam melakukan patroli, tim lebih mengedepankan pada pem-binaan terhadap masyarakat dengan beberapa tahap pendekatan seperti peringatan, penyuluhan dan proses hukum terhadap pelaku perambahan dan illegal logging.

Pada tanggal 23 Mei, ketika te-ngah melakukan kegiatan patroli, tim diserang bahkan disandera bebe-rapa jam oleh pelaku illegal logging di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo. Sekitar pukul 13:20 wib, tim mende-ngar suara chainsaw yang jaraknya tidak jauh dari jalan. Tim kemudian memanggil dua orang pelaku yang se-dang mengolah kayu hasil tebangan mereka, namun pelaku tidak menghi-raukaan dan terus bekerja. Akhirnya tim mendatangi pelaku ke lokasi di-maksud untuk kemudian membawa dua orang pelaku dan satu unit chain-saw ke mobil patroli. Sesampainya di mobil patroli, tim menanyakan hal terkait keberadaan mereka di lokasi Taman Nasional tersebut. Kemudian pelaku yang mengaku berasal dari Dusun Bagan Limau tersebut diberi penjelasan oleh tim dan diminta untuk datang esok harinya (24 Mei 2007) ke Pos kerja BTNTN di Desa Lubuk Kembang Bunga, sedangkan

chainsaw disita oleh tim.Tim kemudian melanjutkan per-

jalanan dan kemudian menemukan kembali tiga orang pelaku pemba-lak liar dengan tiga unit chainsaw. Setelah tim menginterogasi ketiga pelaku tersebut, pelaku diminta un-tuk melapor ke Pos kerja BTNTN kee-sokan harinya. Sementara itu, ketika tim membawa barang bukti tiga unit chainsaw tersebut menuju mobil pa-troli, tim sudah ditunggu oleh dua orang masyarakat yang mengaku pemiliki chainsaw dari dusun Bagan Limau. Tim menanyakan identitas pelaku namun dijawab dengan kasar dan ingin mengambil chainsaw yang telah disita tim. Dua pelaku tersebut memberikan ancaman kepada tim

Penanganan Perambahan di Taman Nasional Tesso Nilo

Kalau tidak diserahkan maka awas tunggu saja disana, Kata seorang pelaku sambil menunjuk kearah jalan pulang. Tidak berhasil mengambil chainsaw, pelaku pulang sambil men-gucapkan kata-kata ancaman.

Pada pukul 15:00 WIB, dua orang pelaku yang meminta chainsaw terse-but kemudian datang membawa mas-sa sekitar 20 hingga 30 orang. Se-sampainya di lokasi ketua rombongan meminta kepada tim agar chainsaw

yang disita dikembalikan karena me-reka merasa tidak bersalah. Mere-ka mengaku melakukan pekerjaan liar tersebut karena terbentur de-ngan masalah ekonomi. Tim patroli mencoba melakukan negosiasi agar chainsaw tersebut dijemput esok hari di Pos kerja TNTN dengan dasar tim melaksanakan tugas yang bersi-fat pembinaan. Akan tetapi berbagai macam kata-kata kasar dan ancaman dilontarkan massa terhadap tim dan memaksa agar chainsaw tetap dise-rahkan. Melihat situasi yang kian me-manas dimana tim sudah dikelilingi massa, tim tidak dapat berbuat ba-nyak ketika massa mengambil paksa 4 unit chainsaw dari dalam mobil pa-troli.

Perambahan di TNTN. Foto: Al Hamran Ariawan/WWF-Prog. Tesso Nilo

nya dapat menjumpai 3 orang yang diduga menjadi pelaku.

Berdasarkan temuan ini, tim ke-mudian mendatangi rumah pelaku yang diduga terlibat dalam penye-rangan hari sebelumnya. Ketika di-jumpai pelaku ada yang merasa ke-takutan dan ada pula yang pura-pura merasa tidak bersalah dan ada pula yang berani melakukan debat de-ngan petugas dengan alasan tim pa-troli selama ini tidak pernah melapor kepada aparat pemerintahan Dusun Bagan Limau. Polisi menjelaskan posisi tim patroli sebagai petugas negara yang punya tanggung jawab dan dilindungi undang-undang dalam melaksanakan tugasnya. Aksi yang dilakukan oleh pelaku dengan cara merampas barang bukti, melakukan pengancaman dan melawan petugas adalah perbuatan melawan hukum yang berkonsekuensi pada proses hukum.

Pelaku ada yang tetap emosio-nal, sehingga pihak kepolisian harus dengan tegas memberikan pilihan apakah kasus ini mau diselesaikan dengan cara pembinaan atau segera diproses hukum. Atas penjelasan pihak kepolisian, pelaku meminta maaf dan berjanji tidak akan meng-ulangi lagi kegiatan illegalnya. Atas kondisi ini maka sesuai instruksi Ka-polsek Ukui tidak ada penangkapan kepada pelaku, aparat hanya melaku-kan pembinaan, dan insiden tersebut dianggap selesai.

Pada pukul 19.15, rombongan meninggalkan Dusun Bagan Limau menuju TKP penyerangan dengan tu-juan untuk mengambil kayu temuan sebagai barang bukti yang jumlahnya 13 M. Namun dengan kondisi jalan dan jembatan yang sepertinya senga-ja dirusak oleh oknum masyarakat, tim tidak bisa sampai ke lokasi. Tim akhirnya memutuskan untuk pulang. (Syamsidar, Alhamran Ariawan)

BULETIN WWF

EDISI April - Juni 2007

Suara Tesso NiloPengelolaan Kawasan Konservasi

8

Dalam suasana panas, tim dida-tangi seseorang dengan bersepeda motor dan langsung mengeluar-kan kata-kata ancaman kepada tim khususnya kepada perwakilan masyarakat yang menjadi bagian dari tim tersebut. Bahkan pelaku ini akan memukul dua orang masyarakat tersebut namun berhasil dihalangi oleh anggota tim yang lainnya. Se-telah chainsaw diambil paksa, maka massa membubarkan diri namun ha-nya dalam jarak ratusan meter. Mere-ka masih menunggu di setiap persim-pangan jalan menuju arah pulang. Tim terkepung beberapa jam tidak bisa keluar mencari jalan pulang ka-rena masyarakat perambah tetap berjaga-jaga pada ruas-ruas jalan. Dalam situasi ini, tim menghubungi Polsek Ukui untuk berkoordinasi me-ngenai insiden tersebut termasuk kepada Balai TNTN dan WWF. Pukul 17:00 WIB tim akhirnya berhasil meninggalkan lokasi dengan mencari jalan-jalan alternatif.

Tim kemudian menuju kantor Pol-sek Ukui untuk berkoordinasi menge-nai insiden tersebut kepada Kapolsek Ukui dan memberikan keterangan untuk pembuatan laporan polisi dan Berita Acara pemeriksaan sebagai

pelapor. Keesokan harinya, tanggal 24

Mei 2007, tim melakukan koordinasi dengan Kapolsek Ukui untuk pena-nganan selanjutnya. Hasil koordinasi tersebut, diputuskan bahwa akan diturunkan satuan anggota Polsek Ukui untuk pengamanan lokasi seka-ligus mengantar 2 orang masyarakat yang menjadi anggota tim yang ikut terancam. Tujuan dari aksi ini adalah dalam rangka menciptakan situasi kondusif dan memberi penyuluh-an kepada pelaku dan masyarakaat yang diancam dapat merasa tenang. Selain itu, tim juga bermaksud meny-ita barang bukti berupa kayu olahan untuk diamankan.

Pukul 10:30 tim patroli bersama 10 orang personil Polsek Ukui turun ke Dusun Bagan Limau. Sesampainya di dusun tersebut, tim menuju rumah salah seorang warga dimana Kanit Reskrim Polsek Ukui (Turmin) mem-berikan penyuluhan kepada warga. Tim dibagi dua, satu tim tetap berada di rumah warga tersebut dan satu tim lagi berpatroli di sekitar Dusun Bagan Limau mencari pelaku penyerang-an. Dari sekian puluh orang pelaku ternyata hari itu hampir semua sudah menghilang entah kemana, tim ha-

Taman Nasional Tesso NIlo. Foto: WWF-Prog. Tesso Nilo

BULETIN WWF

EDISI April - Juni 2007Kejahatan Kehutanan

Suara Tesso Nilo

9

Pengukuhan Tim Tesso Nilo

Untuk memberikan dukungan atas keberadaan Tim Tesso Nilo da-lam menjalankan tugas dan fungsinya maka pada tanggal 21 Juni bertempat di Hotel Pangeran di Pekanbaru dilaku-kan pengukuhan Tim Tesso Nilo oleh pemerintah provinsi Riau. Pengukuhan ini dilakukan oleh Asisten II peme-rintahan provinsi Riau, Herlian Saleh yang mewakili Gubernur Riau, H. M. Rusli Zainal. Pada kesempatan ini di-lakukan juga pelepasan tim lapangan Tesso Nilo yang akan melakukan pa-troli pengamanan hutan Tesso Nilo.

Dalam pidato sambutan Gubernur Riau yang dibacakan oleh Asisten II, menyatakan bahwa pemberantasan perambahan, pembalakan liar (illegal logging) serta penanggulangan keba-karan hutan dan lahan merupakan tu-gas mendesak yang harus dilakukan guna melindungi kawasan hutan yang masih tersisa di provinsi Riau. Hal ini merupakan tanggung jawab bersama karena tugas besar ini akan bisa di-tuntaskan apabila terjalin kerjasama yang baik diantara semua pemangku kepentingan. Perambahan dan pemba-

lakan liar serta kebakaran hutan dan la-han adalah ancaman besar yang meng-ganggu keutuhan kawasan hutan Tesso Nilo. Dampak dari ancaman ini bukan saja dirasakan oleh masyarakat setem-pat, tapi lambat laun oleh masyarakat yang lebih luas dimana konflik gajah-manusia akan meningkat, banjir akan melanda, dan keanekaragaman hayati hutan dataran rendah akan punah. Untuk menghindari dampak-dampak tersebut perlu segera dilakukan upaya penanganan permasalahan di Tesso Nilo dan percepatan perluasan Taman Nasional tersebut. Oleh karena itu di-harapkan semua pihak terkait bersedia membantu penanganan masalah pe-rambahan di Tesso Nilo dan di kawasan usulan perluasannya dan perlunya per-cepatan proses perluasan Taman Na-sional Tesso Nilo.

Pada acara pengukuhan ini di-lakukan penandatanganan doku-men kesepakatan bersama Tim Tesso Nilo secara simbolis oleh pemerintah provinsi Riau sebagai bukti dukungan terhadap keberadaan tim ini. Kegiat-an ini disaksikan oleh para perwakilan

institusi anggota Tim Tesso Nilo yang telah melakukan kesepakatan bersama tersebut dan Ketua DPRD Riau, Drh. Chaidir yang juga merupakan salah se-orang anggota Badan Pembina Yayasan Taman Nasional Tesso Nilo. Sementara itu, kegiatan pelepasan tim patroli yang akan melakukan patroli pengamanan kawasan hutan Tesso Nilo ditandai de-ngan pemasangan topi kepada tim la-pangan tersebut oleh Asisten II Pem-prov Riau.

Sasaran kegiatan Tim Tesso Nilo adalah menghentikan perambahan hutan, illegal logging, kebakaran hu-tan dan lahan di kawasan Tesso Nilo. Sedangkan tugas pokoknya adalah melakukan patroli pengamanan hutan, pemeriksaan di check point, pencegah-an dan penanggulangan kebakaran hu-tan dan lahan serta melaporkan kasus perambahan, illegal logging dan keba-karan kepada pihak terkait.

Dalam menjalankan tugasnya tim mengacu kepada petunjuk pelaksanaan patroli yang telah disepakati oleh ang-gota tim Tesso Nilo. Kegiatan patroli ini sendiri dilaksanakan melalui tahapan

Pengukuhan Tim Tesso Nilo oleh Pemprov Riau. Foto: Rudi/ YTNTN

BULETIN WWF

EDISI April - Juni 2007

Suara Tesso Nilo

10

Kejahatan Kehutanan

prosedur:1.1. Penyuluhan, sosialisasi status hu-kum dan peringatan bagi perambah dan penebang illegala. Tim patroli melakukan pendataan

setiap individu atau kelompok pe-rambah dan illegal logging yang ditemukan. Pengumpulan data bertujuan untuk melihat perkem-bangan aktivitas perambahan dan illegal logging.

b. Tim patroli memberikan penjelasan ke setiap perambah dan penebang liar baik secara individu maupun kelompok tentang status areal yang digunakan dan kayu yang ditebang. Tim memberikan penjelasan dan foto copy kebijakan pemerintah tentang larangan melakukan pe-rambahan dan pembakaran hutan dan lahan.

c. Tim patroli memberikan peringat-an lisan kepada perambah dan/atau penebang liar untuk tidak menambah areal dan melakukan penebangan serta tidak melaku-kan pembakaran pada hutan dan lahan.

d. Peringatan terhadap perambah dan penebang illegal yang tetap melakukan perambahan, pe-nebangan dan pembakaran yang sebelumnya sudah mendapatkan informasi dan penyuluhan akan diberikan peringatan tertulis.

e. Tim Patroli melakukan pemeriksa-an terhadap truk bermuatan kayu meliputi pemeriksaan terhadap kelengkapan surat-surat atau do-kumen yang terkait dengan sah-nya muatan kayu. Bagi kendaraan bermuatan kayu yang tidak dileng-kapi dengan dokumen yang sah diserahkan kepada pejabat yang berwenang untuk dilakukan proses hukum.

f. Pemeriksaan dan pendataan peng-guna jalan akses meliputi pemerik-saan identitas pribadi, tujuan ke-

datangan dan daerah yang dituju. Apabila diduga kedatangan dan tujuannya untuk melakukan ille-gal logging dan perambahan hutan maka yang bersangkutan dilarang memasuki kawasan hutan.

g. Pelaporan dan proses lebih lanjut mengenai kasus perambahan hu-tan, illegal logging, kebakaran hu-tan dan lahan dilaporkan kepada pihak berwenang.

1.2. Penindakan dan Pengamanana. Terhadap pelaku perambahan hu-

tan, yang telah diberi peringatan (tertulis) namun tetap melakukan kegiatannya, maka Tim melaporkan ke pihak berwenang untuk dilaku-kan proses secara hukum.

b. Terhadap pelaku illegal logging, pembakaran hutan dan lahan dise-rahkan ke pihak berwenang untuk dilaksanakan proses hukum

c. Apabila terjadi reaksi-reaksi yang bersifat pelanggaran/ancaman/ perusakan terhadap pelaksanaan juklak ini, maka tim dapat meminta bantuan Kepolisian untuk mengam-bil tindakan yang di perlukan Pengamanan hutan Tesso Nilo dari

perambahan liar sudah menjadi komit-men pemerintah Provinsi Riau hal ini didukung dengan telah dibentuknya

Pelepasan Simbolis Tim Patroli Tesso Nilo oleh Bpk. Herlian Saleh. Foto: Rudi/ YTNTN

Tim Penanggulangan Perambahan Hu-tan dan Lahan Serta Perluasan Pada Taman Nasional Tesso Nilo lewat Surat Keputusan Gubernur Riau no 271.a/VII/2007 tanggal 3 Juli 2007. Hal ini didasari oleh suatu kebutuhan untuk menyelamatkan hutan Tesso Nilo yang akan dapat menjadi solusi permasa-lahan konflik gajah-manusia di Riau. Tim ini mempunyai tugas:1. Membuat langkah-langkah untuk

penanggulangan perambahan hu-tan dan pelaksanaanya sesuai ke-wenangan masing-masing

2. Mengidentifikasikan pelaku peram-bahan hutan dan mengupayakan alternatif bagi masyarakat peram-bah setelah keluar dari kawasan hutan Tesso Nilo

3. Melakukan upaya-upaya memper-cepat proses perluasan Taman Na-sional Tesso Nilo pada Departemen Kehutanan RI

4. Membuat rencana dan melaksana-kan rehabilitasi kawasan hutan Tesso Nilo bekerjasama dengan instansi terkait

Mengingat perambahan di kawasan hutan Tesso Nilo semakin meluas dan saat ini telah mencapai jumlah 2.345 kepala keluarga dengan luas total ka-wasan yang dirambah seluas 18.162

BULETIN WWF

EDISI April - Juni 2007Kejahatan Kehutanan

Suara Tesso Nilo

11

Horas tersebut. Tanggal 27 hingga 29 Juni 2007,

tim melanjutkan pendataan dan pe-masangan tanda-tanda peringatan di kawasan usulan perluasan TNTN dan di dalam TNTN. Sepanjang tiga hari tersebut tim menemukan beberapa pelaku pembalak dan perambah liar di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo. Terhadap temuan ini tim memberikan

tersebut kembali melaksanakan patroli pada hari Senin tanggal 25 Juni 2007. Hal ini diawali dengan rapat bersama untuk persiapan pelaksanaan operasi bertempat di Kantor Dinas Kehutanan Kabupaten Pelalawan. Kali ini kompo-sisi tim diperkuat dengan tambahan tiga orang personil dari kepolisian Pol-res Pelalawan.

Kemudian tim memulai patroli,

ha, dan hutan Tesso Nilo sebagai hutan dataran rendah yang masih tersisa di Pulau Sumatera perlu dijaga keseim-bangan ekosistem dan keanekaraga-man hayati terutama kelestarian gajah dan harimau Sumatera antara lain me-rupakan dasar pembentukan tim ini

Dengan terbentuknya Tim Penang-gulangan Perambahan Hutan Dan Lahan Serta Perluasan Pada Taman

Nasional Tesso Nilo oleh pemerintah Provinsi Riau semakin memperkuat dukungan untuk segera menangani masalah perambahan, ancaman terbe-sar bagi keutuhan ekosistem hutan Tesso Nilo. Disamping itu juga perma-salahan illegal logging, dan kebakaran hutan dan lahan di Tesso Nilo juga akan dapat dituntaskan. Tentunya dukung-an ini juga akan memacu percepatan upaya perluasan Taman Nasional Tesso Nilo sehingga harapan untuk menjadi-kan Taman Nasional Tesso Nilo sebagai altenatif pemecahan permasalah kon-flik manusia-gajah di Riau dapat diwu-judkan.

Patroli Terus BerlanjutMeskipun tim Tesso Nilo meng-

hadapi kendala dalam pelaksanaan tugasnya, tim tetap komitmen untuk melaksanakan patroli pengamanan hutan Tesso Nilo. Setelah tim ini dilepas secara seremonial oleh pemerintah provinsi Riau, tim patroli bersama

sepanjang perjalanan di koridor RAPP sektor Ukui-Gondai, tim melakukan pemasangan papan informasi peri-ngatan dan larangan terkait seperti tidak melakukan pembakaran lahan, dan lain-lain. Pemasangan dilakukan pada beberapa titik rawan terjadi ke-bakaran hutan dan perambahan.

Pada Selasa tanggal 26 Juni, berte-patan dengan kunjungan Prof. Emil Salim ke kawasan hutan Tesso Nilo, tim Tesso Nilo berkesempatan berdia-log dengan penasehat presiden bidang lingkungah hidup tersebut. Dalam kesempatan tersebut tim menyampai-kan kondisi kawasan hutan Tesso Nilo dan upaya-upaya penanganan terha-dap perambahan yang terjadi saat ini. Tim juga berkesempatan mendampingi Emil Salim meninjau kondisi peram-bahan di kawasan usulan perluasan TNTN pada konsesi PT. Siak Raya Tim-ber. Emil Salim juga berkesempatan berdialog dengan pelaku perambah di kawasan yang dikenal dengan Bukit

Mantan Menteri lingkungan hidup Prof. Dr Emil Salim sedang melakukan dialog dengan tim patroli mengenai kegiatan tim. Foto: Tim Patroli Tesso Nilo

Tim Patroli melakukan pemasangan rambu-rambu peringatan di dalam TNTN. Foto: Tim Patroli Tesso Nilo

penyuluhan untuk tidak melakukan ke-giatan illegal tersebut dan meninggal-kan kawasan hutan Tesso Nilo. Selain itu tim juga bertemu dengan beberapa orang pemilik lahan atau ketua kelom-pok perambahan. Tim melakukan dialog dan memberikan penjelasan tentang status kawasan tersebut yang masuk dalam Taman Nasional Tesso Nilo, dan meminta secara tegas agar tidak lagi melakukan penambahan pembukaan lahan baru dan tidak melakukan pem-bukaan lahan dengan dibakar.

Upaya penanganan perambahan, pembalakan liar dan kebakaran hutan dan lahan di Riau sudah selayaknya di-ikuti dengan komitmen yang kuat dari semua pihak. Hari demi hari peram-bahan tersebut telah merusak hutan Tesso Nilo, dan akan semakin parah bila kita menunda upaya nyata untuk menyelamatkannya. (Syamsidar, Al-hamran Ariawan)

BULETIN WWF

EDISI April - Juni 2007Mitigasi Konflik Manusia-Gajah

Suara Tesso Nilo

13

kembali ke Redang Seko. Hal ini terbukti bahwa pada tanggal 26 Mei, tim Flying Squad kembali mendapat informasi gajah sudah kembali berada di Redang Seko. Pada tanggal 28 Mei 2007 Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau-wilayah I Rengat mengirimkan surat ke WWF meminta ban-tuan Tim Flying Squad untuk menangani gangguan gajah di Redang Seko. Berdasarkan surat tersebut tim Flying Squad berangkat ke Redang Seko untuk melakukan pengusiran gajah liar. Sesampainya di lokasi pada tanggal 29 Mei, tim mendapatkan informasi bahwa gajah sudah tidak berada di Dusun Redang Seko, tetapi berada di areal perke-bunan sawit PT. Indosawit. Tim segera melakukan pengecekan lapangan dan ternyata benar gajah memang berada di dalam perkebunan sawit terse-but. Namun karena hari sudah larut malam, tim memutuskan untuk menelusuri gajah liar tersebut esok hari.

Keesokan harinya sekitar jam 10 pagi, tim mulai menelusuri jejak-jejak gajah tersebut dengan didampingi oleh mandor dan pekerja PT. Indosawit. Dalam waktu sekitar setengah jam, tim sudah menemukan posisi gajah ditandai dengan adanya jejak terbaru disekitar lokasi. Tepat pukul 11.30 wib tim benar-benar sudah menemukan keberadaan gajah liar tersebut dimana di sela-sela pohon sawit terlihat dua ekor gajah betina dewasa. Awalnya tim mendapat beragam informasi ada yang menga-takan jumlahnya enam ekor dan ada pula yang mengatakan dua ekor yang terdiri dari satu anak dan satu induk.

Hasil pengamatan tim, gajah-gajah liar tersebut tengah mencari jalan keluar dari lokasi tersebut, namun dikarenakan ramainya aktifitas manusia disekitar lokasi cukup menghambat mereka mene-mukan jalan keluar. Jika diperhatikan dari kotoran yang dikeluarkan kelihatan gajah-gajah tersebut stres hal ini diindikasikan dengan tanda-tanda bahwa gajah megeluarkan kotoran sambil berjalan dan kotoran berceceran tidak menumpuk. Kondisi lapangan yang penuh dengan aktifitas manusia memang sangat menyulitkan bagi gajah tersebut untuk mencari jalan ke luar kembali ke trek nya.

Setelah melakukan observasi selama tiga hari di lokasi tersebut, tim berkesimpulan bahwa kon-disi lapangan yang penuh dengan pemukiman dan aktifitas manusia sangat menyulitkan untuk dilakukan pengusiran. Pengusiran tidak akan efek-tif karena ruang gerak gajah untuk keluar lokasi tersebut sangat terbatas. Jika ini dilakukan juga, akan sangat berbahaya tidak saja bagi gajah tapi bagi manusia. Pengusiran atau penggiringan gajah liar akan efektif jika jarak yang akan ditempuh ke tidak lebih dari 10 kilo meter.

Dengan kondisi seperti ini pilihan yang dapat dilakukan adalah :1. Pengusiran dapat dilakukan dengan mengguna-

kan gajah terlatih namun daerah yang akan dile-wati gajah harus dikosongkan terlebih dahulu

2. Gajah liar tersebut ditangkap dengan mengguna-kan tembak bius untuk kemudian diangkut dan dilepaskan kembali ke Taman Nasional Tesso Nilo

Hasil pemantauan di lapangan ini telah disam-paikan kepada pemangku otoritas sebagai masukan untuk langkah-langkah selanjutnya. Sementara itu, Tim Flying Squad masih tetap memantau perkembangan pergerakan gajah tersebut dengan cara bertukar informasi lewat informan yang ada dilokasi dan koordinasi dengan BBKSDA wilayah I Rengat. Diperlukan kebijakan yang konkrit dan arif dari pemangku otoritas untuk segera memberikan solusi permasalahan ini. Di satu sisi keberadaan gajah-gajah liar ini di tengah-tengah aktifitas masyarakat sudah tentu meresahkan namun di lain sisi kehilangan habitat alaminya telah menyebab-kan gajah-gajah ini tidak memiliki rumah yang nyaman baginya untuk bermukim. Di lain sisi mere-ka adalah satwa dilindungi yang terancam punah dan sudah menjadi tanggung jawab kita bersama untuk melindunginya dan habitatnya. (Syamsidar, Syamsuardi)

Tim Flying Squad dan pekerja Perkebunan PT. Indosawit bersama melakukan pengusiran gajah liar. Foto: Syamsuardi / WWF-Prog. Tesso Nilo

Perambahan, pembalakan liar dan kebakaran hutan dan lahan di sekitar hutan Tesso Nilo telah menyebabkan semakin sempitnya daerah jelajah satwa liar. Kondisi ini menyebabkan gajah-gajah liar keluar dari habitatnya ke perkebunan atau pun pemukiman. Salah satu yang terjadi ada-lah masuknya gajah liar ke pemukiman masyarakat di sekitar Dusun Redang Seko, Kecamatan Ukui sekitar 25 km sebelah utara Taman Nasional Tesso Nilo pada Mei lalu.

WWF mendapatkan informasi mengenai keberadaan gajah liar di Redang Seko dan seki-tarnya pada tanggal 8 Mei 2007. Informasi ini didapat dari salah seorang warga masyarakat SP 6-Ukui yang melaporkan kepada salah seorang anggota tim Flying Squad melalui telefon bahwa ada dua ekor gajah berkeliaran di perkebunan sawit masyarakat. Tiga orang anggota tim Flying Squad segera melakukan pengecekan ke lapang-an. Hasil pengecekan dan koordinasi dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau wilayah I Rengat, menunjukkan bahwa tim belum menemu-kan tanda-tanda gajah liar.

Pada tanggal 19 dan 20 Mei 2007, kembali tim Flying Squad menerima laporan bahwa gajah tersebut berada di desa Rumpian 30 km arah utara dari Redang Seko. Tim segera melakukan pengecekan ke lokasi namun hanya menemukan bekas jejak dan kotoran gajah. Dari tanda-tanda yang ditemui dilapangan, gajah-gajah liar tersebut sudah mengarah ke Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) yang diperkirakan berjarak sekitar 8 km dari lokasi tersebut.

Dari pengecekan ini disimpulkan gajah yang awalnya sudah mendekat ke TNTN berbalik arah

Dua ekor gajah liar yang memasuki perkebunan sawit. Foto: Syamsuardi / WWF-Tesso Nilo Prog

Pengusiran Gajah di Redang Seko

EDISI April - Juni 2007Mitigasi Konflik Manusia-Gajah

BULETIN WWF Suara Tesso Nilo

12

Foto: Syamsuardi / WWF-Tesso Nilo Prog

BULETIN WWF

EDISI April - Juni 2007

Suara Tesso Nilo

15

Pemberdayaan Masyarakat

Harapan ini pun disambut oleh peme-rintah provinsi Riau dengan menjadikan kawasan tersebut menjadi taman wisata alam. Hutan Buluh Cina merupakan Hutan Produksi Terbatas yang sebagian kawasan hutan ini telah diubah dan ditunjuk men-jadi Kawasan Taman Wisata Alam dengan Keputusan Gubernur Riau Nomor 468/IX/2006 tanggal 6 September 2006 ten-tang penunjukan kelompok hutan Buluh Cina di Kabupaten Kampar Provinsi Riau seluas 1.000 Ha sebagai kawasan taman wisata alam.

Sebagai lembaga yang bergerak di bidang konservasi, maka WWF Indonesia sangat mendukung langkah-langkah yang telah dilakukan oleh Lembaga Musyawarah Besar tersebut. Awal mula keterlibatan WWF dalam mendukung upaya yang dilakukan oleh masyarakat di desa Buluh Cina dimulai sekitar tahun 2004-2005, ketika bpk. Makmur Hendrik (Ketua Lembaga Musyawarah Adat Buluh Cina) bertemu dengan manajemen Yayasan WWF Indonesia. Dalam kesem-patan itu, bp Makmur Hendrik mengu-tarakan niatnya meminta dukungan lem-baga konservasi dalam upaya pelestarian hutan ulayat masyarakat. Langkah ini kemudian dilanjutkan oleh WWF Program Riau pada September 2006 dengan melakukan pertemuan dengan ketua dan para pemuka adat Buluh Cina Kenegerian Enam Tanjung beserta masyarakat di desa Buluh Cina.

Guna menunjang pengelolaan kawasan taman wisata alam tersebut diperlukan pengamanan dan pembangun-an sarana serta prasarana. Pengelolaan kawasan yang efektif dilakukan bertujuan untuk menjamin dan memelihara keutu-han keberadaan kawasan dan ekosistem-nya, potensi dan nilai-nilai keanekara-gaman tumbuhan, satwa, komunitas, ekosistem penyusun kawasan, peman-faatan kawasan secara optimal, lestari dan bijaksana untuk kepentingan kegi-atan penelitian, pendidikan dan pengem-bangan ilmu pengetahuan dan pariwisata alam bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Kerjasama yang bergulir kemudian antara WWF dan masyarakat Buluh Cina

adalah berupa bantuan operasional dan infrastruktur yang mendukung upaya perlindungan kawasan hutan tersebut. Selain itu, WWF dan pihak masyarakat Buluh Cina bersepakat untuk memben-tuk gugus tugas pengamanan kawasan hutan ulayat di kawasan hutan wisata tersebut sesuai tugas pokok dan fungsi lembaga yang terlibat. Satuan tugas akan melibatkan masyarakat desa teru-tama kaum pemuda dibawah bimbingan lembaga adatnya.

WWF Program Konservasi Riau mem-berikan dukungan dana operasional keamanan Taman Wisata Alam untuk 12 bulan kegiatan dimulai dari Desember 2006 hingga November 2007, dan pem-bangunan sarana pendukung kegiatan pengamanan kawasan berupa 3 (tiga) buah pos keamanan di tiga lokasi per-batasan kawasan hutan dengan perke-bunan masyarakat. Bantuan lain adalah pembangunan satu buah bangunan seba-gai sarana pusat informasi (information center) bagi pengunjung. Pusat infor-masi tersebut menyediakan informasi mengenai keaneka-ragaman isi hutan, peta lokasi serta kantor yang dijadi-kan pusat pengendalian pengamanan kawasan hutan. Selain itu juga di ban-gunan itu tersedia kamar bagi wisatawan yang ingin bermalam. Sarana dan prasa-rana yang disediakan itu nantinya ber-fungsi sebagai bagian tempat kerja para

personil pengamanan Kawasan Taman Wisata Alam.

WWF juga memberikan bantu-an penyediaan alat komunikasi berupa handy-talkie dan radio RIG beserta antena dan kabel pendukung untuk pengaman-an kawasan hutan wisata. Pengamanan Kawasan Taman Wisata Alam sepenuh-nya akan dilakukan oleh masyarakat Desa Buluh Cina yang dikoordinir oleh Lembaga Musyawarah Besar Kenegerian Enam Tanjung. Kegiatan pengamanan yang dilakukan oleh Satgas PHU (Satuan Tugas Pengamanan Hutan Ulayat) dengan patroli mengelilingi kawasan hutan itu. Setiap hari sejumlah 18 petugas yang ter-bagi dalam 3 shift melakukan patroli rutin. Pendidikan dan pelatihan bagi kegiatan pengamanan ini dilakukan secara swa-daya oleh masyarakat desa Buluh Cina. Tugas mereka tidak hanya mengamankan kawasan hutan wisata namun juga turut membantu pemerintahan desa untuk ikut menjaga keamanan dan ketertiban ling-kungan desa.

Kita berharap bahwa upaya masyarakat Buluh Cina untuk melestarikan sebentang hutan yang masih tersisa di hamparan Riau daratan ini akan berkontribusi bagi lingkungan kita dan peningkatan ekonomi masyarakat setempat. Dan tentu saja ini dapat menjadi motivasi bagi kita semua untuk dapat berbuat yang sama.(M. Yudi Agusrin)

Pos Jaga di Taman Wisata Alam Buluh Cina, Foto: Yuyu Arlan/ WWF-Prog Tesso Nilo

Taman Wisata AlamDesa Buluh Cina

BULETIN WWF

EDISI April - Juni 2007Pemberdayaan Masyarakat

Suara Tesso Nilo

14

Hutan di Riau sedang mengalami proses kehilangan yang cukup luas akibat dari perubahan fungsi hutan dan dikonversi untuk berbagai tujuan dian-taranya untuk pembangunan Hutan Tanaman Industri (HTI), perkebunan sawit, pertambangan dan pemukiman. Namun demikian, di beberapa kawasan masih terdapat hutan yang relatif luas yang perlu kita jaga, selain kawasan konservasi seperti Taman Nasional Tesso Nilo, Taman Nasional Bukit tigapuluh, dan lainnya. Salah satu kawasan hutan terse-but terdapat di Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau

Pengelolaan sumberdaya hutan ber-basis masyarakat merupakan salah satu alternatif dalam pengelolaan sumberdaya hutan yang saat ini sedang mengalami keterpurukan, sebagai akibat akumulasi dari kesalahan pengurusan di masa lalu. Pengelolaan pengurusan yang sektoral dan sentralistik dan tidak memperhati-kan prinsip pengelolaan berkelanjutan penyumbang kerusakan kawasan hutan kita. Mengganti sistem yang akan mem-berikan alternatif ataupun sistem yang selama ini digunakan, bukanlah hal yang mudah dan dapat dipahami secara kese-luruhan. Namun unttuk kepentingan dan keberlanjutan pengelolaan sumberdaya alam yang berkelanjutan dan berkeadi-lan, prasyarat utama yang tidak bisa dita-war lagi adalah pilihan terhadap sistem pengelolaan yang dapat memenuhi aspek ekonomi, ekologi dan equity. Bangkitnya pilihan baru dalam pembangunan kehu-tanan juga disebabkan oleh pengelo-laan yang dilakukan oleh pemerintah tidak cukup mampu memenuhi prasyarat utama tersebut.

Pengelolaan hutan berbasis masyarakat berarti mendorong akses masyarakat dalam pengelolaan sum-berdaya hutan secara mandiri dalam

ini diiringi harapan bahwa pemerintah Kabupaten Kampar dapat membangunk-an kebun kelapa sawit seluas 1.500 ha dalam satu hamparan yang berada di bagian selatan tanah ulayat yang diserah-kan. Harapan lainnya adalah pemerintah dapat membangun sarana dan pra-sara-na di kawasan hutan sehingga memberi-kan kontribusi nyata bagi perekonomian masyarakat adat pemilik hutan ulayat tersebut. Kekhawatiran melihat kondisi hutan di wilayah Riau yang semakin lama semakin habis merupakan salah satu fak-tor yang mendorong masyarakat Buluh Cina untuk melindungi kawasan hutan tersebut. Berlandaskan pada pemikiran bahwa jika tidak dijaga, maka hutan mereka pun akan habis untuk itu perlu dukungan dari pihak Pemerintah Daerah Riau sebagai landasan hukum formal untuk memperkuat tujuan dan keinginan masyarakat tersebut.

pengelolaan hutan yang berkelanjut-an dan berkeadilan. Juga mengandung arti bahwa masyarakat dengan segala kemampuan yang ada mengatur pemenu-han kebutuhan-kebutuhan hidup mereka. Oleh karena itu status penguasaan atas lahan menjadi sangat penting dalam pengembangan kehutanan masyarakat. Berangkat dari berbagai persoalan yang selama ini dihadapi masyarakat yang hidup di kawasan pinggiran hutan, para tokoh masyarakat dan ninik mamak serta pemangku adat di sekitar kawasan hutan ulayat di Desa Buluh Cina sepakat untuk menjadikan kawasan hutan sebagai per-ekat bagi keutuhan seluruh masyarakat dalam suatu kebersamaan.

Maret 2004, ninik mamak, peme-rintahan desa dan ketua Lembaga Musyawarah Besar (LMB) Buluh Cina menyerahkan lahan ulayat seluas 1.000 ha kepada Gubernur Riau. Penyerahan

Potensi alam di Taman Wisata Alam Buluh Cina. Foto: Syamsidar/ WWF-Prog. Tesso Nilo

Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau

BULETIN WWF

EDISI April - Juni 2007

Suara Tesso Nilo

17

Konservasi Harimau Sumatera

oleh karena itu kita harus mencegah agar hal terse-but tidak terjadi lagi dikemudian hari.

Jerat liar ini terindikasi tidak hanya dapat meng-ancam populasi harimau, akan tetapi dapat memicu terjadinya tragedi yang fatal, yaitu konflik harimau-manusia kata Sunarto. Dengan kondisi pincang atau cacat, kemampuan harimau untuk memburu mangsa alaminya akan berkurang, sehingga dikha-watirkan akan mengincar ternak atau bahkan meng-ancam keselamatan penduduk yang berujung pada konflik antara harimau-manusia, Sunarto menam-bahkan.

Kerusakan habitat adalah ancaman besar bagi kelangsungan satwa dilindungi ini, alih fungsi lahan atas habitat mereka masih terus berlangsung untuk perkebunan dan industri kehutanan. Permasalahan ini telah menyebabkan konflik berkepanjangan antara manusia dan satwa liar yang hingga kini ben-tuk penanganannya belum menemukan titik terang. Di belakang konflik ini biasanya ada pihak-pihak yang mengambil kesempatan untuk mendapatkan harimau tersebut baik secara utuh atau pun bagian tubuhnya.

Menurut catatan WWF, sepanjang tahun 2006 terjadi sedikitnya 15 konflik harimau-manusia, 11 diantaranya terjadi di luar Lanskap Tesso Nilo-Bukit Tigapuluh. Sedangkan sepanjang enam bulan per-tama tahun 2007 tercatat sedikitnya enam konflik. Alih fungsi lahan menjadi perkebunan sawit, hutan tanaman industri dan pemukiman menyebabkan habitat alami harimau semakin sempit dan terfrag-mentasi menjadi bagian yang tidak utuh. Kondisi tersebut menyebabkan harimau semakin sering dan mudah bersinggungan dengan manusia

WWF bekerjasama dengan Balai TN Tesso Nilo dan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau dalam upaya konservasi harimau ter-masuk meningkatkan kesadaran masyarakat untuk tidak memasang jerat serta memberikan penyuluh-an bahayanya jerat bagi keselamatan satwa. Sejak akhir 2005, tim anti perburuan kerjasama WWF-BBKSDA Riau telah berhasil menyita sedikitnya 101 jerat yang mana 75 jerat berada di dalam Taman Nasional Tesso Nilo dan Suaka Margasatwa Rimbang Baling. Dari 101 jerat, ditemukan 23 diantaranya merupakan jerat khusus untuk harimau, sedangkan sisanya untuk menangkap babi hutan, kijang, rusa, dan beruang madu.

Kami akan terus mensosialisasikan kepada masyarakat yang bermukim di sekitar taman nasional tentang keberadaan harimau itu agar mereka dapat

lebih berhati-hati dan dapat mengambil langkah antisipasi konflik, kata Kepala Balai TN Tesso Nilo, Drh. Hayani Suprahman. Selain itu, Balai TN Tesso Nilo bersama mitra juga akan lebih mengintensifkan pengamanan kawasan dengan mencegah terjadinya kegiatan illegal yang mengancam harimau dan satwa lainnya di TN Tesso Nilo , jelas Hayani.

Untuk menghindari serangan harimau, masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan dapat melaku-kan beberapa langkah antisipatif antara lain:1. Membersihkan pekarangan rumah atau kebunnya

dari semak belukar2. Menghindari beraktifitas sendirian terutama

pada dini hari dan senja hari di kawasan yang diindikasikan ada keberadaan harimau

3. Bunyikan suara-suara keras ketika berjalan di tempat berisiko tinggi

4. Melaporkan segera kepada pihak berwenang bila menemui atau mendapatkan indikasi atau tanda-tanda keberadaan harimau di daerah sekitar

5. Ketika terjebak berhadapan dengan harimau, usahakan untuk tidak berlari. Gerakan secara tiba-tiba dapat mengejutkan harimau sehingga akan memicu nalurinya untuk memburu korban

6. Sedapat mungkin mengurangi aktivitas di tem-pat-tempat yang dihuni harimau.

TN Tesso Nilo merupakan kawasan penting untuk konservasi harimau Sumatera dan gajah Sumatera. WWF bersama para pihak terkait telah mengusulkan perluasan kawasan taman nasional dari 38.576 ha menjadi sekurangnya 100.000 ha untuk menjamin kelangsungan hidup jangka panjang populasi hari-mau dan gajah. Namun demikian, kawasan hutan Tesso Nilo tengah menghadapi masalah serius, yaitu perambahan, yang umumnya untuk membuka lahan perkebunan sawit. Sementara itu, Riau meru-pakan daerah penting bagi konservasi harimau di Sumatera.

Hasil penelitian WWF bekerjasama dengan BBKSDA Riau sejak Desember 2004 di Lanskap Tesso Nilo-Bukit Tigapuluh menggunakan kamera intai menunjukkan bahwa kawasan Tesso Nilo meru-pakan tempat yang relatif baik bagi harimau karena masih memiliki mangsa alami yang cukup. Penelitian di Taman Nasional Tesso Nilo sejauh ini berhasil mengidentifikasikan 8 individu harimau. Dari hasil estimasi sementara diperkirakan 1,4 harimau dewa-sa per 100 km2 di hutan Tesso Nilo. (Syamsidar, Sunarto)

BULETIN WWF

EDISI April - Juni 2007

Suara Tesso Nilo

16

Konservasi Harimau Sumatera

demikian, harimau Sumatera ini tetap diburu guna mendapatkan tubuh atau pun bagian tubuhnya untuk diperdagangkan, dikolek-si oleh komunitas tertentu atau digunakan untuk obat dengan ala-san mitos-mitos tertentu. Jerat dapat menjadi ancaman baru beberapa jerat memang sengaja dirancang khusus untuk menang-kap harimau oleh para pemburu, sedangkan jerat lainnya diran-cang untuk menangkap satwa lain seperti babi hutan yang dianggap sebagai hama oleh warga desa.

Kejadian harimau terjerat seperti ini sangat memprihatin-kan karena satwa tersebut dilin-dungi. Meski harimau di dalam foto tersebut tampak dalam kon-disi baik, namun kelanjutan masa depannya sulit diprediksi, kata Sunarto, Koordinator Survei dan Monitoring Harimau WWF di Riau. Keberadaan populasi harimau Sumatra saat ini sangat terancam,

Seekor Harimau Buntungdi Taman Nasional Tesso Nilo

Kamera intai WWF yang dipasang dalam kerja sama dengan Balai TNTN di dalam kawasan Taman Nasional Tesso Nilo menangkap gambar seekor harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) berkaki tiga alias bun-tung di dua lokasi berbeda pada Maret dan Mei 2007. Foto-foto tersebut menggambarkan harimau jantan yang kehilangan bagian kaki kanan depan, dari pergelang-an ke bawah. Dari dua seri foto yang berbeda, WWF mengidenti-fikasikan harimau tersebut seba-gai satu individu yang sama.

Pemasangan kamera intai (camera trap) pada periode pemasangan bulan Maret dilaku-kan pada 21 titik berbeda dengan jumlah 42 kamera. Pada pengece-kan bulan April dari foto-foto yang dihasilkan kamera tersebut, empat frame di antaranya berisikan foto harimau buntung tersebut. Untuk memastikan keberadaan harimau

buntung tersebut, pada periode pemasangan April tim konserva-si harimau WWF menempatkan kembali 40 buah kamera intai di 20 titik pemasangan. Titik-titik pemasangan kali ini ditem-patkan pada lokasi yang hampir sama dengan lokasi pemasangan pada periode Maret. Dan keti-ka dilakukan pengecekan pada bulan Mei, kembali ditemukan dua frame yang menunjukkan harimau buntung tersebut. Sementara itu tujuh frame menunjukkan foto harimau lainnya.

Harimau Sumatera merupakan sub-spesies harimau yang sangat terancam punah, hanya sekitar 400 ekor saja yang diperkira-kan masih tersisa di alam. Dan saat ini, hanya sub spesies ini yang masih bertahan hidup di Indonesia; sub spesies harimau Bali dan Jawa telah dinyatakan punah masing-masing pada tahun 1940-an dan 1980-an. Walaupun

Harimau buntung yang terfoto dalam Taman Nasional Tesso Nilo, Foto: WWF-Prog. Tesso Nilo

BULETIN WWF

EDISI April - Juni 2007

Suara Tesso Nilo

18

Info Konservasi

Suhu bumi semakin panas, secara perlahan akan mempengaruhi kehidupan mahluk hidup yang ada didalamnya. Beberapa kawasan yang ada di dunia ini mulai mera-sakan akibatnya. Kekeringan dan perubahan cuaca yang tidak wajar pun melanda, hal ini mempengaruhi produksi pangan dunia karena per-tumbuhan tanaman secara global mulai terganggu. Perlu dilakukan upaya penyelamatan lingkungan secara menyeluruh, untuk menye-lamatkan bumi ini dari perubahan iklim yang akan berakibat cukup fatal bagi keberlangsungan makhluk hidup.

Mencegah kerusakan lingkung-an menjadi tugas bersama, maka gabungan pecinta alam se Pekanbaru yang berasal dari kalangan maha-siswa dan kelompok pecinta alam bekerjasama dengan Yayasan WWF-Indonesia melaksanakan kegiatan kampanye untuk memperingati hari lingkungan hidup bertema Dengan kepedulian kita bersama maka terse-lamatkanlah sumber daya alam di

Riau. Tema ini diangkat, karena laju kehilangan hutan di Provinsi Riau cukup tinggi. Padahal 46 % wilayah daratan Riau adalah hutan dan lahan rawa gambut yang berfungsi sebagai penyerap karbon yang cukup tinggi. Apabila hutan di daerah ini hilang maka akan mengakibatkan emisi karbon yang cukup tinggi volumenya ke udara dan menyumbang secara signifikan terhadap pemanasan glo-bal.

Gabungan pencinta alam ini, melaksanakan kegiatan kampanye pada tanggal 10 Juni 2007 bertem-pat di Mall SKA Pekanbaru. Pemilihan tempat ini didasari oleh lokasi pusat perbelanjaan yang cukup represen-tatif di tengah kota Pekanbaru dan padat oleh pengunjung. Sehingga diharapkan pesan kampanye dari kelompok pecinta alam ini dapat ter-sampaikan secara langsung kepada publik atau pengunjung mall.

Dengan melibatkan bebera-pa kelompok musik jalanan, yang melantunkan lagu-lagu bertema lingkungan, kegiatan kampanye

ini dibuka. Terlepas dari acara di panggung utama, beberapa pani-tia membuat stand untuk menjual suvenir dan produk hasil hutan non kayu khas kawasan hutan Tesso Nilo, yaitu madu sialang. Selain itu, brosur, poster dan sticker juga dibagikan kepada pengunjung yang datang dalam rangka menyebarkan semangat untuk cinta lingkungan.

Acara dilanjutkan dengan dipu-tarnya film-film lingkungan untuk memberikan gambaran kepada publik akan kondisi nyata yang ter-jadi terhadap hutan dan sumber daya alam di provinsi Riau. Kegiatan kemudian dilanjutkan Talk Show dengan mengambil tema konservasi tentang lingkungan. Suasana santai tapi serius, mewarnai Talk Show yang di tengahi secara cemerlang oleh sang moderator. Talk Show sessi I ini menghadirkan nara sum-ber dari Dinas Kehutanan Provinsi Riau, jaringan LSM Jikalahari, dan akademisi. Kondisi yang kini tengah dialami hutan alam Riau seperti alih fungsi lahan, pembalakan liar dan lainnya yang menjadi sorotan begitu apik dikupas.

Setelah Talk Show I usai, Sanggar AKMR (Akademi Kesenian Melayu Riau) menampilkan teatrikal yang merefleksikan, satwa-satwa liar yang biasa hidup di hutan yang digambar-kan dengan penari bertopeng gajah, kera, harimau, dan tumbuhan men-jadi kian terganggu dengan adanya eksploitasi sumber daya alam yang dipelintirkan dengan pipa angguk penyedot minyak. Sumber daya alam Riau semakin terpuruk dikala para pengusaha serakah mulai mengka-pling-kapling hutan. Sehingga akhir-nya bencana datang melanda seperti banjir. Teatrikal ini sempat menarik perhatian pengunjung pusat perbe-lanjaan ini untuk menyimak aksi-aksi segar seniman-seniman muda dalam beradu peran.

Semarak Peringatan Hari Lingkungan Hidup se Dunia Bersama

Dengan Pecinta Alam

Talkshow mengenai issu-issu konservasi dalam memperingati HLH 2007, Foto: Panitia HLH 2007

BULETIN WWF

EDISI April - Juni 2007

Suara Tesso Nilo

19

Info Konservasi

Seusai teatrikal, parade musik kembali digelar di atas pentas dengan melantunkan lagu yang berirama agak keras namun tetap berbau lingkungan. Setelah bebe-rapa kelompok musik menunjukan kebolehannya secara bergantian, panitia kembali mentaja Talk Show sessi II yang mengundang lebih banyak para pihak. Nara sumber kali ini adalah dari BKSDA-Riau, WWF-Indonesia, Yayasan Taman Nasional Tesso Nilo, Kepala Balai Taman Nasional Tesso Nilo, dan Forum Masyarakat Taman Nasional Tesso Nilo. Pada Talk Show sessi II ini, tema yang dibawakan adalah konservasi gajah. Dari pemaparan dan sesi diskusi para pembicara dan peserta banyak menyorot peliknya permasalahan satwa liar di Riau. Harapan dan tantangan kawasan Taman Nasional Tesso Nilo yang

telah lama diperjuangkan untuk menjadi kawasan konservasi gajah di Riau pun turut dikupas.

Setelah sessi Talk Show ber-lalu, kampanye dilanjutkan kem-bali dengan menampilkan parade musik dengan diisi oleh musi-si jalanan, kali ini petikan gitar instrument mewarnai lantunan

musik yang tetap saja kental ber-bau lingkungan. Untuk menggu-gah para khalayak untuk ikut serta melestarikan lingkungan bukan hanya tepat di hari peringatannya, namun juga menjadikan sebagai gaya hidup yang ramah terhadap lingkungan.(Dani Rahadian)

Pertunjukan theater sebagai refleksi hilangnya sumber daya alam Riau, Foto: Panitia HLH 2007

Dua ekor gajah Sumatera berna-ma Bangkin dan Kampar tiba di lokasi penanaman di Jl. SM. Amin Ke-camatan Tampan-Kotamadya Pekan-baru pada pukul 8:30. Saat itu per-siapan upacara pembukaan kegiatan penanaman dalam memperingati hari Bumi tahun 2007 tengah di laksana-kan pada tanggal 10 April. Kegiatan yang merupakan kerjasama Yayasan WWF-Indonesia dan Pemerintah Kota Pekanbaru dalam hal ini Dinas Keber-sihan dan Pertamanan dibuka oleh Sekretaris Kota Pekanbaru, Bapak H. Fauaz Ilyas, SH.

Kehadiran kedua gajah jantan ini sontak saja menjadi perhatian, teru-tama peserta dari anak TK yang ber-jumlah 30 orang. Ada gajah-ada ga-jah teriak mereka. Kedua ekor gajah ini didatangkan dari PLG (Pusat La-tihan Gajah)- Minas bekerjasama de-ngan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Riau. Gajah-gajah ini kemudian

ditempatkan diantara barisan para Sispala (Siswa Pencinta Alam) dan siswa SMK Taruna untuk ikut serta da-lam upacara seremonial pagi itu.

Kegiatan penghijuan ini direspon sangat positif oleh pemerintah setem-pat. Pihak Kecamatan menurunkan

Peringatan Hari Bumi se Dunia Tahun 2007Penanaman Pohon dan Pengenalan Gajah Sumatera

150 orang siswa-siswi Sekolah Mene-ngah Atas yang berada dalam wilayah administrasi kecamatan tersebut un-tuk memberikan bantuan teknis ke-suksesan acara ini. Jumlah ini akhir-nya menambah peserta penghijauan dari yang dialokasikan oleh pihak

Upacara pembukaan penghijauan dalam rangka Hari Bumi 2007, Foto: Sunandar/ WWF-Prog Tesso Nilo

BULETIN WWF

Info Konservasi

Suara Tesso Nilo

20

panitia sebanyak 60 siswa. Tentu saja ini membuat kegiatan bertambah marak dan semangat. Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan dari usia dini dan menge-nalkan potensi Riau sebagai habitat gajah Sumatera.

Kegiatan penanaman pohon ini merupakan bagian dari rangkaian ke-giatan WWF Indonesia dalam rangka menyambut peringatan hari Bumi yang jatuh pada tanggal 22 April. Ke-giatan penanaman ini secara seren-tak dilakukan pada hari yang sama di sepuluh kota di Indonesia dimana terdapat program WWF Indonesia antara lain di Jakarta, Kalimantan Tengah, Bali, Manado, Jayapura dan Nusa Tenggara bekerjasama dengan berbagai institusi terkait.

Setelah upacara seremonial, Ba-pak Fauaz Ilyas melakukan penanam-an tanda dimulainya kegiatan pena-naman oleh para siswa-siswi. Segera setelah itu para siswa-siswi mulai melakukan penanaman 400 batang bibit sumbangan dari Dinas Kehu-tanan Provinsi Riau. Bibit yang terdiri

kan dengan ciri-ciri gajah Sumatera. Dengan semangat mereka mende-ngarkan penjelasan Syamsuardi, Fly-ing Squad Officer tentang gajah Su-matera. Namun sepertinya gak bisa berlama-lama karena mereka sangat ingin untuk dapat menunggangi gajah Sumatera tersebut. Dengan bergiliran akhirnya setiap anak bereksempatan naik gajah Sumatera.

Peserta penanaman kembali ke Posko untuk beristirahat, setelah makan siang mereka pun dihibur kembali dengan gajah. Tapi hiburan kali ini berbeda karena hiburan yang didapat adalah pengenalan gajah Sumatera dan habitatnya di Tesso Nilo. Perasaan letih setelah melaku-kan penanaman pohon dibawah teriknya matahari tidak mengen-

dari jenis Johar, Tanjung, Angsana dan Mahoni ini kemudian ditanami di bahu kiri dan kanan jalan.

Sementara dilakukan penanam-an, anak-anak TK berlomba bersama waktu untuk mewarnai poster gajah. Seru juga melihat tingkah laku mere-ka ada yang ingin cepat-cepat selesai biar juara dan dapat hadiah katanya. Setelah lomba mewarnai poster ga-jah selesai, anak-anak TK diperkenal-

dorkan semangat mereka untuk mendengar penjelasan mengenai gajah Sumatera. Pertanyaan para siswa-siswi ini datang silih berganti menujukkan atusiasme mereka un-tuk mengetahui kehidupan gajah Sumatera. Semoga semangat untuk mencintai gajah Sumatera dapat diimpelementasikan dengan melin-dungi habitatnya yang semakin ter-jepit. (Syamsidar)

Bpk. Fauaz Ilyas melakukan penanaman pohon didampingi Camat Tampan, Foto: Sunandar/ WWF-Prog Tesso Nilo

EDISI April - Juni 2007

Siswa-siswi SLTA tengah melakukan penanaman pohon, Foto: Sunandar/ WWF-Prog Tesso Nilo


Recommended