Home > Documents > Revisi Her Pene 18 Feb 14 Isi

Revisi Her Pene 18 Feb 14 Isi

Date post: 14-Dec-2015
Category:
Author: trznawijaya
View: 7 times
Download: 0 times
Share this document with a friend
Description:
penelitian ikm
Embed Size (px)
of 88 /88
Gambaran Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Penderita Batuk Berdahak Lebih Dari 3 Minggu Terhadap Tuberkulosis Paru di Wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Mauk Kabupaten Tangerang Provinsi Banten Periode 16 Agustus – 28 Agustus 2012 BAB I PENDAHULUAN I. 1. Latar Belakang Tuberkulosis paru merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia maupun di Indonesia. Pada tahun 2010, 8,8 juta orang menderita tuberkulosis, jumlah terbesar sebanyak 60% kasus baru terjadi di Asia. Dari jumlah tersebut, 1,4 juta meninggal dengan lebih dari 95% kematian akibat tuberkulosis paru terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Menurut data World Health Organization (WHO), di Asia Tenggara terdapat sekitar 3,5 juta insiden pada tahun 2010. Jumlah tersebut merupakan 40 persen dari total kasus global. Dan 5 dari 11 negara di kawasan Asia Tenggara tersebut merupakan 22 negara dengan angka kejadian tertinggi di dunia. 1,2,3 Jumlah penderita tuberkulosis paru Indonesia sekarang berada pada ranking kelima dunia . Estimasi prevalensi Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Jakarta 1
Transcript

Gambaran Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Penderita Batuk Berdahak Lebih Dari 3 Minggu Terhadap Tuberkulosis Paru di Wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Mauk Kabupaten Tangerang Provinsi Banten Periode 16 Agustus 28 Agustus 2012

BAB I

PENDAHULUAN

I. 1. Latar BelakangTuberkulosis paru merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia maupun di Indonesia. Pada tahun 2010, 8,8 juta orang menderita tuberkulosis, jumlah terbesar sebanyak 60% kasus baru terjadi di Asia. Dari jumlah tersebut, 1,4 juta meninggal dengan lebih dari 95% kematian akibat tuberkulosis paru terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Menurut data World Health Organization (WHO), di Asia Tenggara terdapat sekitar 3,5 juta insiden pada tahun 2010. Jumlah tersebut merupakan 40 persen dari total kasus global. Dan 5 dari 11 negara di kawasan Asia Tenggara tersebut merupakan 22 negara dengan angka kejadian tertinggi di dunia.1,2,3Jumlah penderita tuberkulosis paru Indonesia sekarang berada pada ranking kelima dunia . Estimasi prevalensi tuberkulosis semua kasus adalah sebesar 660.000 (WHO, 2010) dan estimasi insidensi berjumlah 430.000 kasus baru per tahun. Jumlah kematian akibat tuberkulosis diperkirakan 61.000 kematian per tahunnya.4Di Kecamatan Mauk tahun 2011 didapatkan jumlah penderita tuberkulosis paru tiap bulannya sekitar 6 orang. Hingga Agustus 2012 didapatkan, peningkatan rata-rata penderita tuberkulosis paru per bulan dari 6 orang menjadi 9 orang. Hal ini cukup mengkhawatirkan karena jika terus berlangsung maka nantinya pada akhir tahun 2012 akan terjadi peningkatan jumlah penderita tuberkulosis paru dibandingkan tahun sebelumnya. 5Peningkatan jumlah penderita tuberkulosis paru dipengaruhi oleh banyak faktor, yaitu faktor internal maupun eksternal. Faktor internal yang diduga memiliki hubungan antara lain pengetahuan, sikap dan perilaku penderita tuberkulosis paru itu sendiri sebagai sumber penularan. Hal ini sesuai dengan pengamatan penulis terhadap penderita tuberkulosis paru di Puskesmas Kecamatan Mauk serta wawancara dengan staf Puskesmas, dimana pada kenyataannya masih relatif banyak penderita tuberkulosis paru tersebut yang memiliki pengetahuan, sikap maupun perilaku yang kurang. Namun data mengenai hal tersebut di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Mauk belum ada. Berdasarkan hal tersebut, penulis ingin mencari tahu bagaimana sebenarnya gambaran pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat terhadap tuberkulosis paru di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Mauk.I. 2. Perumusan Masalah

I. 2.1. Pernyataan Masalah

Meningkatnya jumlah penderita tuberkulosis paru per bulan di Puskesmas Kecamatan Mauk.I. 2. 2. Pertanyaan masalah1. Bagaimana gambaran pengetahuan secara keseluruhan mengenai penyakit tuberkulosis paru (tentang gejala dan cara penularan, pengobatan, pencegahan penularan tuberkulosis paru, rumah sehat serta penyuluhan) di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Mauk?2. Bagaimana gambaran sikap secara keseluruhan mengenai penyakit tuberkulosis paru (tentang pengobatan, pencegahan penularan tuberkulosis paru, rumah sehat serta penyuluhan) di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Mauk?3. Bagaimana gambaran perilaku secara keseluruhan mengenai penyakit tuberkulosis paru (tentang pengobatan, pencegahan penularan tuberkulosis paru, rumah sehat serta penyuluhan) di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Mauk?4. Dari ketiga faktor tersebut (pengetahuan, sikap dan perilaku), mana yang menjadi faktor dominan yang berperan terhadap peningkatan jumlah penderita tuberkulosis paru di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Mauk?I. 3. Tujuan

1. 3. 1. Tujuan Umum :Dihilangkannya peningkatan jumlah penderita tuberkulosis paru per bulannya di Puskesmas Kecamatan Mauk.

1. 3. 2. Tujuan Khusus : 1. Diketahuinya gambaran pengetahuan secara keseluruhan mengenai penyakit tuberkulosis paru (tentang gejala dan cara penularan, pengobatan, pencegahan penularan tuberkulosis paru, rumah sehat serta penyuluhan) di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Mauk.

2. Diketahuinya gambaran sikap secara keseluruhan mengenai penyakit tuberkulosis paru (tentang pengobatan, pencegahan penularan tuberkulosis paru, rumah sehat serta penyuluhan) di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Mauk.

3. Diketahuinya gambaran perilaku secara keseluruhan mengenai penyakit tuberkulosis paru (tentang pengobatan, pencegahan penularan tuberkulosis paru, rumah sehat serta penyuluhan) di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Mauk.4. Diketahuinya faktor dominan yang berperan terhadap peningkatan jumlah penderita tuberkulosis paru di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Mauk dilihat dari ketiga faktor tersebut (pengetahuan, sikap dan perilaku).I. 4. Manfaat PenelitianI. 4. 1. Bagi Responden :

Memberi tambahan informasi mengenai masalah pengetahuan, sikap dan perilaku terhadap tuberkulosis paru di Kecamatan Mauk dengan memberikan penyuluhan perorangan. I. 4. 2. Bagi Masyarakat :Memberi informasi bagi masyarakat mengenai masalah pengetahuan, sikap dan perilaku terhadap tuberkulosis paru.I. 4. 2. Bagi Puskesmas Kecamatan MaukDapat mengevaluasi pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat terhadap tuberkulosis paru di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Mauk sehingga dapat mengambil tindakan yang tepat dalam rangka mencegah peningkatan jumlah penderita tuberkulosis paru.

I. 4. 3. Bagi Peneliti :

Mendapat pengetahuan dan pengalaman dalam melakukan penelitian.

Menambah wawasan berkaitan dengan bidang yang diteliti. BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II. 1.Tuberkulosis Paru

II. 1. 1. Definisi

Tuberkulosis paru adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis) yang menyerang paru.6II. 1. 2. EtiologiMycobacterium tuberculosis merupakan kuman berbentuk batang. Sebagian besar dinding kuman terdiri atas asam lemak (lipid) yang membuat kuman lebih tahan terhadap asam sehingga disebut bakteri tahan asam (BTA) dan ia juga lebih tahan terhadap gangguan kimia dan fisis. Kuman ini juga dapat tahan hidup pada udara kering maupun dingin. Hal ini terjadi karena kuman berada dalam sifat dorman. Sifat lain kuman ini adalah aerob yang menunjukkan bahwa kuman lebih menyenangi jaringan yang tinggi kandungan oksigennya.1II. 1. 3. Cara Penularan

Proses terjadinya infeksi oleh Mycobacterium tuberculosis biasanya terjadi secara inhalasi, sehingga tuberkulosis paru merupakan manifestasi klinis yang paling sering dibanding organ lainnya. Penularan sebagian besar melalui inhalasi basil yang mengandung droplet nuclei ketika pasien batuk, atau dari basil yang terbawa angin dari ludah penderita tuberkulosis khususnya dari pasien tuberkulosis paru dengan basil tahan asam (BTA) positif. Pada tuberkulosis kulit atau jaringan lunak penularan bisa melalui inokulasi langsung.1II. 1. 4. Patofisiologi tuberkulosis paru

Penularan tuberkulosis paru dapat terjadi karena penderita batuk ataupun bersin, sehingga bakteri keluar menjadi droplet nuclei di udara sekitar kita. Partikel infeksi ini dapat bertahan di udara bebas selama 1 2 jam, tergantung dari kondisi lingkungan seperti adanya paparan sinar ultra violet yang cukup, adanya ventilasi yang cukup, dan kelembaban udara yang baik. Dalam suasana yang gelap, ventilasi yang buruk, dan lembab, bakteri tuberkulosis dapat bertahan selama berhari-hari, bahkan sampai berbulan-bulan. Apabila droplet terhisap oleh orang yang sehat, partikel ini akan menempel pada saluran pernapasan ataupun jaringan paru. Apabila partikel ini masuk ke dalam alveolar, maka tubuh akan merespon. Pertama-tama kuman akan dihadapi oleh neutrofil, kemudian dilanjutkan dengan makrofag. Dalam keadaan sehat, partikel infeksi ini akan mati dan dibersihkan oleh makrofag, keluar melalui cabang trakeobronkial dengan bantuan gerakan silia.1Bila bakteri menetap dalam jaringan paru, bakteri akan berkembang biak di dalam sitoplasma makrofag. Bakteri mudah masuk ke dalam sitoplasma makrofag, dikarenakan adanya lapisan lipid pada dinding sel bakteri tuberkulosis yang disenangi oleh makrofag. Bakteri yang menetap di jaringan paru, akan berbentuk seperti sarang yang disebut sarang Ghon. Bila menjalar ke pleura maka akan terjadi efusi pleura. Bakteri dapat juga masuk ke dalam jaringan gastrointestinal, jaringan limfe, orofaring dan kulit, dan terjadi limfadenopati regional kemudian bakteri masuk ke dalam vena dan menjalar ke seluruh organ seperti paru, otak, ginjal, dan tulang. Bila bakteri masuk ke arteri pulmonalis, maka akan menjalar ke seluruh bagian paru menjadi tuberkulosis milier. Dari sarang Gohn, akan menimbulkan peradangan saluran getah bening dan diikuti pembesaran kelenjar getah bening. Proses ini memakan waktu sekitar 3-8 minggu. Proses ini selanjutnya dapat menjadi sembuh sama sekali tanpa meninggalkan cacat, sembuh dengan meninggalkan sedikit bekas, serta berkomplikasi dan menyebar.1II. 1. 5. Manifestasi KlinisKeluhan yang dirasakan pasien tuberkulosis dapat bermacam-macam atau malah ditemukan tanpa keluhan sama sekali dalam pemeriksaan kesehatan.

a. DemamDemam biasanya subfebril menyerupai demam influenza. Tetapi kadang-kadang panas badan dapat mencapai 40-410C. Demam terjadi hilang timbul dipengaruhi oleh daya tahan tubuh pasien dan berat ringannya infeksi kuman tuberkulosis yang masuk.

b. Batuk / batuk darah

Batuk terjadi karena terdapat iritasi pada bronkus dan diperlukan untuk membuang produk-produk radang keluar. Sifat batuk dimulai dari batuk kering (non-produktif) kemudian setelah timbul peradangan menjadi produktif (menghasilkan sputum). Keadaan yang lanjut berupa batuk darah karena terdapat pembuluh darah yang pecah.c. Sesak napas

Pada kasus yang ringan, sesak napas belum dirasakan. Sesak napas baru ditemukan pada penyakit lanjut, yang infiltrasinya sudah meliputi setengah bagian paru-paru.d. Nyeri dadaGejala ini jarang ditemukan dan baru terjadi jika inflitrasi radang sudah sampai ke pleura sehingga menimbulkan pleuritis. e. Malaise

Gejala malaise sering ditemukan berupa anoreksia, penurunan berat badan, sakit kepala, meriang, nyeri otot, keringat malam, dan lain-lain. Gejala malaise ini makin lama makin berat dan terjadi hilang timbul secara tidak teratur. 1II. 1. 6. Faktor Risiko dan Patofisiologinya Beberapa faktor risiko kejadian tuberkulosis paru, antara lain:II. 1. 6. 1. Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia. Pengetahuan merupakan modal yang sangat penting dalam terbentuknya sikap maupun perilaku seseorang.7 Notoadmojo (2007) dalam bukunya menyebutkan adanya indikator-indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui tingkat pengetahuan atau kesadaran terhadap kesehatan antara lain:

a. Pengetahuan tentang sakit dan penyakit

Meliputi penyebab penyakit, gejala atau tanda penyakit, cara pengobatan, kemana mencari pengobatan, cara pencegahan termasuk imunisasi, dsb.

b. Pengetahuan tentang cara pemeliharaan kesehatan

Meliputi olahraga bagi kesehatan, menghindari minuman keras, narkoba, pentingnya istirahat cukup, rekreasi, dsb.

c. Pengetahuan tentang kesehatan lingkungan

Meliputi manfaat air bersih, akibat polusi bagi kesehatan, manfaat pencahayaan dalam rumah. 7Pengetahuan seseorang secara keseluruhan terhadap suatu penyakit juga meliputi semua bagian yang telah disebutkan di atas, antara lain pengetahuan mengenai gejala dan cara penularan suatu penyakit, pengobatan, pencegahan, upaya pemeliharaan kesehatan salah satunya dengan penyuluhan, upaya kesehatan lingkungan misalnya melalui rumah sehat. 7Pengetahuan mengenai gejala dan cara penularan penting diketahui oleh setiap penderita tuberkulosis paru. Penderita tuberkulosis paru biasanya mengalami keluhan batuk berdahak lebih dari 3 minggu, batuk darah, sesak napas, badan lemas, nafsu makan menurun, berat badan menurun, keringat pada malam hari saat istirahat ataupun demam meriang lebih dari 1 bulan. Kurangnya pengetahuan mengenai gejala awal penyakit tuberkulosis paru menyebabkan tertundanya seorang penderita mencari pengobatan untuk mencegah penyebaran penyakitnya lebih lanjut sehingga menyebabkan peningkatan angka penderita tuberkulosis paru. Penyakit tuberkulosis paru sendiri menular melalui udara. Kurangnya pengetahuan mengenai cara penularan tuberkulosis paru akan meningkatkan kemungkinan terinfeksi tuberkulosis paru yang akhirnya akan meningkatkan angka kejadian tuberkulosis paru. 7, 8Pengobatan tuberkulosis paru bertujuan untuk menyembuhkan pasien, mencegah kematian, mencegah kekambuhan, memutuskan rantai penularan dan mencegah resistensi kuman terhadap Obat Anti Tuberkulosis (OAT). Pengobatan perlu dilakukan secara teratur minimal dalam waktu 6 bulan. Untuk meningkatkan kepatuhan berobat penderita tuberkulosis paru, diperlukan Pengawas Minum Obat (PMO) yaitu petugas kesehatan atau orang terdekat yang mengawasi keteraturan minum obat penderita tuberkulosis paru. Kurangnya pengetahuan mengenai PMO dan pengobatan tuberkulosis paru akan mengurangi kepatuhan pasien dalam berobat yang dapat mengakibatkan terjadinya kekambuhan, resistensi kuman terhadap OAT yang akhirnya meningkatkan kemungkinan terinfeksi tuberkulosis paru dan meningkatkan angka kejadian tuberkulosis paru. 6Pengetahuan mengenai pencegahan tuberkulosis paru diperlukan bagi penderita tuberkulosis paru maupun masyarakat sekitar. Saat ini, tersedia imunisasi Bacillus Calmette Guerin (BCG) yang dapat membantu mengurangi tingkat keparahan tuberkulosis paru. Kurangnya pengetahuan seseorang mengenai imunisasi BCG akan mengakibatkan orang tersebut tidak menerima imunisasi yang mengakibatkan terjadinya tingkat keparahan yang serius pada dirinya jika ia terinfeksi oleh bakteri tuberkulosis paru. Tuberkulosis paru menular melalui udara yang dikeluarkan oleh penderita tuberkulosis paru ketika batuk, bersin atau membuang dahak. Untuk mencegah terjadinya penularan dari satu ke orang lain diperlukan pengetahuan yang cukup mengenai pencegahan penularan tuberkulosis paru, seperti menutup mulut ketika batuk serta tidak membuang dahak di sembarang tempat yang dapat menurunkan angka kejadian tuberkulosis paru. 9, 10Rumah sehat dapat memungkinkan penghuni memperoleh derajat kesehatan yang optimal. Ventilasi rumah berfungsi untuk mengeluarkan udara yang tercemar (bakteri, CO2) di dalam rumah dan menggantinya dengan udara yang segar dan bersih atau untuk tempat masuknya cahaya ultra violet. Ventilasi yang kurang dapat menyebabkan cahaya tidak dapat masuk ke dalam rumah mengakibatkan meningkatnya kelembaban, sehingga kuman tuberkulosis paru akan tumbuh dengan baik dan dapat menginfeksi penghuni rumah. Pencahayaan yang baik juga sangat diperlukan. Masuknya sinar matahari ke dalam ruangan dapat mematikan kuman tuberkulosis paru dalam waktu 6-8 jam. Kuman tersebut dapat hidup 2-7 hari dalam ruang dengan penerangan kurang, bahkan berbulan-bulan pada ruangan gelap. Kurangnya pengetahuan mengenai rumah sehat yaitu mengenai fungsi ventilasi dan cahaya matahari yang masuk ke rumah merupakan faktor risiko yang berhubungan dengan meningkatnya angka tuberkulosis paru. 11, 12Pengetahuan mengenai penyuluhan diperlukan oleh penderita tuberkulosis paru maupun masyarakat. Penyuluhan mengenai penyakit tuberkulosis paru merupakan bagian dari promosi kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan peran serta masyarakat dalam penanggulangan tuberkulosis paru. Penyuluhan dapat secara langsung oleh tenaga kesehatan termasuk para kader dan PMO maupun tidak langsung melalui media massa. Penyuluhan ditujukan kepada penderita tuberkulosis paru maupun masyarakat sekitar untuk meningkatkan pengetahuan penderita agar dapat menjaga kesehatan dan mencegah penularan dan masyarakat supaya terhindar dari penularan tuberkulosis paru. Kurangnya pengetahuan mengenai keberadaan dan fungsi penyuluhan mengakibatkan rendahnya pengetahuan maupun perilaku masyarakat mengenai tuberkulosis paru yang akan meningkatkan angka kejadian tuberkulosis paru.13II. 1. 6. 2. Sikap

Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Manifestasi sikap tidak dapat langsung dilihat tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup.7Setelah seseorang mengetahui stimulus atau objek, proses selanjutnya menilai atau bersikap terhadap stimulus atau objek kesehatan tersebut. Oleh sebab itu indikator untuk sikap kesehatan(dalam hal ini adalah masalah kesehatan, termasuk penyakit) juga sejalan dengan pengetahuan kesehatan, yakni:

a. Sikap terhadap sakit dan penyakit

Adalah bagaimana penilaian atau pendapat seseorang terhadap gejala atau tanda-tanda penyakit, penderita penyakit, penyebab penyakit, cara penularan penyakit, cara pencegahan penyakit, pengobatan, dan sebagainya.

b. Sikap cara pemilihan dan cara hidup sehat

Adalah penilaian atau pendapat seseorang terhadap cara-cara pemeliharaan dan cara-cara berperilaku hidup sehat.

c. Sikap terhadap kesehatan lingkungan

Adalah pendapat atau penilaian seseorang terhadap kesehatan lingkungan, termasuk lingkungan tempat tinggalnya.7Sikap seseorang secara keseluruhan terhadap suatu penyakit juga meliputi semua bagian yang telah disebutkan di atas, antara lain sikap terhadap pengobatan, pencegahan suatu penyakit, upaya pemeliharaan kesehatan salah satunya dengan penyuluhan, upaya kesehatan lingkungan misalnya melalui rumah sehat. 7Sikap mengenai pengobatan penting bagi penderita tuberkulosis paru. Dengan pengetahuan yang cukup mengenai lamanya pengobatan tuberkulosis dan pentingnya keteraturan berobat maka seseorang dapat menentukan sikapnya terhadap pengobatan. Pendapat seseorang mengenai pentingnya PMO yang mempengaruhi kepatuhan berobat penderita tuberkulosis paru dan perlunya pengobatan yang teratur minimal selama 6 bulan akan mempengaruhi perilaku seseorang terhadap pengobatan. Kurangnya sikap mengenai pengobatan tuberkulosis paru dapat mengakibatkan kurangnya perilaku seseorang dalam pengobatan yang akan meningkatkan angka kejadian tuberkulosis paru. 6Sikap mengenai pencegahan tuberkulosis paru juga dapat mempengaruhi perilaku penderita tuberkulosis paru. Pendapat dan penilaian seseorang tentang pentingnya menutup mulut pada waktu batuk dan membuang ludah pada tempatnya dapat mempengaruhi perilaku seseorang, Kurangnya sikap mengenai pencegahan tuberkulosis paru dapat mempengaruhi perilaku seseorang dalam upaya pencegahan penyakit, yang pada akhirnya akan meningkatkan angka kejadian tuberkulosis paru. 9, 10Sikap mengenai pentingnya kontribusi ventilasi terhadap terjadinya sirkulasi udara dan cukupnya sinar matahari yang masuk ke rumah dapat mempengaruhi perilaku seseorang. Penilaian seseorang mengenai pentingnya fungsi ventilasi yang dapat mengurangi kelembaban dan mengakibatkan masuknya cahaya matahari yang akhirnya dapat membunuh bakteri dalam rumah dapat mempengaruhi perilaku seseorang mengenai rumah sehat. Jika seseorang menilai bahwa keberadaan ventilasi maupun pencahayaan dalam rumah itu tidak penting, maka dalam kehidupan sehari-harinya ia akan berperilaku sejalan dengan penilaiannya tersebut, yaitu dengan tidak membuka jendela maupun mengusahakan masuknya cahaya matahari, yang nantinya akan membawa penyakit dalam rumahnya tersebut. Kurangnya sikap mengenai rumah sehat dapat mempengaruhi perilaku seseorang dalam mengupayakan terjadinya rumah sehat yang akhirnya meningkatkan angka kejadian tuberkulosis paru. 11, 12Penyuluhan penting tidak hanya bagi penderita tuberkulosis paru tetapi juga bagi masyarakat sekitar. Pengetahuan mengenai penyuluhan tuberkulosis paru dapat mempengaruhi sikap seseorang mengenai penyuluhan. Penilaian seseorang mengenai pentingnya penyuluhan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan peran serta masyarakat dalam penanggulangan tuberkulosis paru dapat mempengaruhi perilaku seseorang dalam keikutsertaannya dalam penyuluhan. Kurangnya sikap seseorang terhadap penyuluhan dapat mengakibatkan rendahnya pengetahuan maupun perilaku masyarakat mengenai penyakit tuberkulosis paru, yang secara tidak langsung dapat meningkatkan angka kejadian tuberkulosis paru. 13II. 1. 6. 3. Perilaku Setelah seseorang mengetahui stimulus atau objek kesehatan, kemudian mengadakan penilaian terhadap apa yang diketahui, proses selanjutnya diharapkan ia akan melaksanakan atau mempraktikan apa yang diketahui atau disikapinya. Inilah yang disebut dengan perilaku. 7Menurut Notoatmodjo (2007), ada 3 pokok unsur perilaku kesehatan yaitu:

a. Perilaku sehubungan dengan penyakit

Tindakan atau perilaku ini mencakup: pencegahan penyakit( mengimunisasikan anaknya, menggunakan masker saat diperlukan), dan penyembuhan penyakit( minum obat sesuai petunjuk, berobat ke fasilitas pelayanan kesehatan yang tepat, dll).

b. Perilaku pemeliharaan dan peningkatan kesehatan

Tindakan atau perilaku ini mencakup antara lain berolahraga secara teratur, tidak minum-miuman keras dan narkoba, dll.

c. Perilaku kesehatan lingkungan

Perilaku ini antara lain mencakup membuang air besar pada tempatnya, menjaga kebersihan tempat tinggal termasuk mengusahakan ventilasi dan pencahayaan yang cukup, menggunakan air bersih untuk manci, cuci dan masak.7Perilaku seseorang secara keseluruhan terhadap suatu penyakit juga meliputi semua bagian yang telah disebutkan di atas, antara lain perilaku terhadap pengobatan, pencegahan suatu penyakit, upaya pemeliharaan kesehatan salah satunya dengan penyuluhan, upaya kesehatan lingkungan misalnya melalui rumah sehat. 7Perilaku mengenai pengobatan tuberkulosis paru dipengaruhi oleh pengetahuan dan sikap seseorang tentang pengobatan tersebut. Dengan mengetahui lama pengobatan tuberkulosis paru, pentingnya keteraturan untuk berobat dengan lama minimal 6 bulan dan pentingnya PMO untuk meningkatkan kepatuhan minum obat, maka akan mempengaruhi sikap dan akhirnya mempengaruhi perilaku seseorang. Kurangnya tindakan untuk mematuhi PMO akan mengakibatkan ketidakpatuhan untuk berobat yang dapat menimbulkan terjadinya kekambuhan, memungkinkan terjadinya resistensi kuman terhadap OAT memperpanjang proses penyembuhan sehingga meningkatkan kemungkinan terinfeksi tuberkulosis paru dan akhirnya akan meningkatkan angka kejadian tuberkulosis paru. 6Pengetahuan dan penilaian yang cukup mengenai pencegahan tuberkulosis paru akan mempengaruhi perilaku seseorang dalam mencegah penularan tuberkulosis paru. Kurangnya perilaku seseorang tentang kesadaran untuk menutup mulut saat batuk dan membuang ludah pada tempatnya akan meningkatkan resiko penularan. Inhalasi basil yang mengandung droplet nuclei ketika pasien batuk atau basil yang terbawa angin dari ludah penderita tuberkulosis khususnya dari pasien tuberkulosis paru BTA (+) akan meningkatkan kejadian terinfeksi tuberkulosis paru yang akhirnya meningkatkan angka kejadian tuberkulosis paru. 1, 9, 10Tindakan untuk membuka jendela pada pagi hari penting untuk mengurangi kelembaban rumah dan memungkinkan masuknya cahaya sinar ultraviolet dari cahaya matahari pagi yang dapat membunuh kuman tuberkulosis paru. Untuk membentuk kebiasaan tersebut, diperlukan pengetahuan dan sikap yang cukup mengenai rumah sehat bagi penderita tuberkulosis paru. Kurangnya perilaku untuk membuka jendela pada pagi hari akan mengakibatkan lingkungan rumah yang lembab dan pencahayaan yang kurang yang mengakibatkan kuman tuberkulosis paru dapat bertahan hidup lebih lama yang meningkatkan kemungkinan terinfeksi tuberkulosis paru dan akhirnya terjadi peningkatan angka tuberkulosis paru. 11, 12Keikutsertaan penderita tuberkulosis dan masyarakat sekitar terhadap penyuluhan baik dilakukan oleh tenaga kesehatan maupun melalui media massa juga penting untuk dilakukan. Dengan kurangnya perilaku terhadap penyuluhan, maka pengetahuan seseorang tentang tuberkulosis paru akan rendah yang akibatnya akan menurunkan kesadaran, kemauan dan peran serta masyarakat dalam penanggulangan tuberkulosis paru dan akhirnya akan meningkatkan angka kejadian tuberkulosis paru. 13II. 1. 6. 4. UmurKekuatan untuk melawan infeksi adalah tergantung pertahanan tubuh dan ini sangat dipengaruhi oleh umur penderita. Pada awal kelahiran pertahanan tubuh sangat lemah dan akan meningkat secara perlahan sampai umur 10 tahun, setelah masa pubertas pertahanan tubuh lebih baik dalam mencegah penyebaran infeksi melalui darah, tetapi lemah dalam mencegah penyebaran infeksi di paru. Variabel umur berperan dalam kejadian penyakit tuberkulosis paru, risiko untuk mendapatkan penyakit tuberkulosis paru dapat dikatakan seperti kurva normal terbalik, yakni tinggi ketika awalnya, menurun karena di atas 2 tahun hingga dewasa memiliki daya tangkal terhadap tuberkulosis paru dengan baik. Puncaknya tentu dewasa muda dan menurun kembali ketika seseorang atau kelompok menjelang usia tua (Warren,1994, Daniel dalam harison, 1991). Namun di Indonesia diperkirakan 75% penderita tuberkulosis paru adalah usia produktif yaitu 15 hingga 50 tahun. (Depkes,2002). Tingkat umur penderita dapat mempengaruhi kerja efek obat, karena metabolisme obat dan fungsi organ tubuh kurang efisien pada bayi yang sangat mudah dan pada orang tua, sehingga dapat menimbulkan efek yang lebih kuat dan panjang pada kedua kelompok umur ini.14II. 1. 6. 5. Jenis kelamin

Pada usia produktif, tuberkulosis paru dikatakan lebih sering menyerang perempuan daripada laki-laki. Hal ini diduga karena faktor imunitas dimana imunitas perempuan biasanya menurun pada usia produktif berhubungan dengan kehamilan yang biasanya terjadi pada usia produktif.15II. 1. 6. 6. Tingkat pendidikan

Dengan mengeyam pendidikan, seseorang akan lebih mudah menerima pengetahuan ataupun informasi yang ada, dalam hal ini informasi mengenai kesehatan dan penyakit sehingga orang tersebut dapat mencegah, mengenali secara dini, maupun mencari pengobatan akan penyakitnya. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk meneliti hubungan antara pendidikan dengan terjadinya suatu penyakit. Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan di India. Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa orang dengan tingkat pendidikan rendah atau buta huruf memiliki risiko 3 kali lebih besar untuk terkena tuberkulosis paru daripada orang dengan tingkat pendidikan tinggi (dalam penelitian ini SLTA). Maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan seseorang memegang peranan cukup penting dalam menurunkan angka kesakitan suatu penyakit, termasuk tuberkulosis paru. 16II.2. Kerangka teori

Gambar II. 1: Kerangka teori tentang faktor-faktor yang dimiliki oleh penderita tuberkulosis paruBAB III

KERANGKA KONSEP

III.1. Kerangka konsepPada penelitian ini, variabel bebas adalah pengetahuan, sikap, dan perilaku. Hal ini berdasarkan pengamatan penulis terhadap penderita tuberkulosis paru di Puskesmas Kecamatan Mauk serta wawancara dengan staf Puskesmas, dimana pada kenyataannya masih relatif banyak penderita tuberkulosis tersebut yang memiliki pengetahuan, sikap maupun perilaku yang kurang. Namun data mengenai hal tersebut di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Mauk belum ada. Sehingga penulis memilih pengetahuan, sikap, dan perilaku sebagai variabel bebas dalam penelitian ini.

Gambar III. 1: Kerangka konsep

III. 2. Definisi OperasionalIII.2.1. Penderita Tuberkulosis Paru

Definisi: Dinilai dari 2 pertanyaan mengenai gejala tuberkulosis paru (no 1) dan pemeriksaan dahak (no 9). Masing-masing pertanyaan bernilai 1 jika jawaban Ya dan 0 jika jawaban Tidak. Nilai tertinggi 2, nilai terendah 0. Hasil penjumlahan kedua jawaban dikategorikan menjadi penderita tuberkulosis paru (jumlah 2) dan bukan penderita tuberkulosis paru (jumlah


Recommended