Home >Documents >RELASI IBU MERTUA DAN MENANTU YANG TINGGAL ...3 mertua adalah orangtua dari salah satu pasangan,...

RELASI IBU MERTUA DAN MENANTU YANG TINGGAL ...3 mertua adalah orangtua dari salah satu pasangan,...

Date post:05-Nov-2020
Category:
View:9 times
Download:0 times
Share this document with a friend
Transcript:
  • RELASI IBU MERTUA DAN MENANTU YANG TINGGAL SERUMAH

    Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan Program Studi Strata I

    pada Jurusan Psikologi Fakultas Psikologi

    Oleh:

    RAHMAH

    F 100 140 020

    PROGRAM STUDI PSIKOLOGI

    FAKULTAS PSIKOLOGI

    UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

    2018

  • i

  • ii

  • iii

  • 1

    RELASI IBU MERTUA DAN MENANTU YANG TINGGAL SERUMAH

    Abstrak

    Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami dan mendeskripsikan relasi ibu

    ibu mertua dan menantu yang tinggal serumah. Informan penelitian berjumlah 8

    orang terdiri dari 4 pasang ibu mertua dan menantu yang diperoleh melalui teknik

    snowball sampling dengan usia hubungan ibu mertua dan menantu dibawah lima

    tahun. Pengumpulan data menggunakan wawancara semi terstruktur. Hasil

    menunjukkan bahwa relasi ibu mertua dan menantu meliputi komunikasi diantara

    ibu ibu mertua dan menantu yang lebih kepada pendalaman informasi mengenai

    pribadi maupun keluarga satu sama lain. Hal yang perlu diperhatikan lainnya yaitu

    bentuk kerjasama antara ibu mertua dan menantu dimana keduanya melakukan

    kegiatan-kegiatan bersama untuk menciptakan waktu berkualitas antara ibu ibu

    mertua dan menantu. Kemudian bentuk kerjasama yang lain yaitu keterlibatan

    menantu dalam tugas rumah tangga dan kontribusi dalam pengeluaran rumah

    tangga. Konflik antara ibu mertua dan menantu tak jarang terjadi, penyebabnya

    lebih kepada perbedaan pendapat mengenai pengasuhan dan tugas rumah tangga.

    Pengelolaan konflik setiap pasang ibu mertua dan menantu berbeda-beda namun

    untuk konflik-konflik ringan ibu mertua dan menantu seperti perbedaan keinginan

    masih dapat diterima oleh keduanya dan dapat diselesaikan dengan cara saling

    memahami serta mengkomunikasikannya diantara ibu ibu mertua dan menantu.

    Kata kunci: kerjasama, komunikasi, konflik dan pengelolaannya, relasi ibu

    mertua dan menantu.

    Abstract

    The purpose of this study is to understand and describe the relationship of mother

    and her son-or-daughter in-law who live at home. Informant research amounted to

    8 people consisting of 4 pairs of mother and son-or-daughter in-law who obtained

    through snowball sampling technique with the age of relationship between mother

    and her son-daughter in law under five years. Data collection using semi-

    structured interviews. In this case, the role of the couple as mediator

    communication is very helpful in the process of deepening information for both

    parties. Another thing to note is the form of cooperation between mother and her

    son-ordaughter in-law where the two conduct joint activities to create quality time

    between mother-in-law and son-daughter-in-law. Then another form of

    cooperation is the involvement of the son-or-daughter-in-law in household duties

    and contributions in household expenditures. Conflict between mother and her

    son-daughter in-law is not uncommon, the cause is more to disagree about

    parenting and household chores. Conflict management every pair of mother and

    her son-or-daughter in-law varies but for mild conflicts mother and her son-or-

    daughter in-law such as differences in desires are still acceptable by both and can

    be solved by mutual understanding and communicating between mother and her

    son-or-daughter in-law.

  • 2

    Keywords: teamwork, communication, conflict and how to overcome,

    relationship of mother and her son-or-daughter in-law.

    1. PENDAHULUAN

    Pernikahan adalah menyatukan dua keluarga yang berbeda. Suatu pernikahan

    tidak hanya terdapat hubungan suami istri, namun juga ada beberapa hubungan

    yang lain yaitu hubungan orangtua dan anak, saudara ipar, serta ibu mertua dan

    menantu. Diantara sejumlah permasalahan keluarga yang sering muncul dewasa

    ini adalah persoalan antara menantu dan ibu mertuanya. Problematika ini

    timbul karena banyak faktor yang mendukung ketidakharmonisan tersebut

    serta kesalahpahaman antar individu yang banyak didukung dengan adanya

    lingkungan yang kurang baik.

    Berdasarkan hasil penelitian Santi (2015) didapatkan bahwa sebanyak

    37% hubungan ibu mertua dan menantu tidak memiliki keterbukaan dan kurang

    menjalin hubungan yang baik karena keduanya lebih mementingkan keegoisan

    masing-masing, sehingga yang perlu dihindari adalah mengurangi egois

    masing-masing dengan cara saling meminta maaf dan memaafkan ketika

    merasa bersalah, karena keegoisan dapat merusak hubungan dalam keluarga.

    Beberapa penelitian yang dilakukan oleh Denmark dan Ahmed (Adhikari, 2015)

    ditemukan bahwa memiliki jarak dan sikap negatif yang lebih besar terhadap ibu

    mertua daripada orangtua. Menangani dengan baik hubungan antar ibu mertua dan

    menantu merupakan masalah yang harus diperhatikan setiap keluarga. Perlu

    diketahui, jika hubungan ibu mertua dan menantu tidak berjalan dengan baik,

    maka hubungan didalam keluarga juga tidak akan harmonis, pertengkaran besar

    dan kecil akan menyusul, dipastikan tidak bermanfaat sedikit pun bagi anak-anak

    yang hidup di bawah lingkungan seperti itu (Erabaru, 2017).

    Menurut Spradley dan McCurdy (Santoso, 2017) relasi atau hubungan

    yang terjalin antara individu yang berlangsung dalam waktu yang relatif lama

    akan membentuk suatu pola, pola hubungan ini juga disebut sebagai pola relasi

    sosial. Relasi merupakan hubungan timbal balik antar organisasi dengan individu

    yang lain atau masyarakat lain dan saling mempengaruhi (Santoso, 2017). Ibu

  • 3

    mertua adalah orangtua dari salah satu pasangan, baik dari suami maupun istri

    (Kertamuda, 2009).

    Ibu mertua dan menantu yang tinggal serumah harus lebih dapat

    meningkatkan kemampuan penyesuaian diri seperti dapat berperilaku yang sesuai

    dengan gaya hidup di rumah ibu mertua, lebih meningkatkan komunikasi yang

    efektif dengan ibu mertua, berusaha memahami sifat atau karakteristik ibu mertua,

    dapat mengontrol emosi dengan baik ketika terjadi masalah dalam rumah tangga

    maupun dengan ibu mertua agar tidak terjadi kesenjangan hubungan ibu mertua

    dengan menantu, serta ibu mertua tidak bersikap memaksa sesuai yang

    keinginannya dan ibu mertua tidak turut campur urusan anak dan menantu

    melainkan saling menghargai satu sama lain, berinteraksi serta memiliki

    hubungan yang hangat dengan menantu agar tidak akan terjadi kesenjangan

    hubungan antara ibu mertua dan menantu (Noviasari, 2016).

    Hubungan yang baik antar individu merupakan awal dari keharmonisan.

    Hal ini mengandung arti bahwa keharmonisan sulit untuk terwujud tanpa adanya

    hubungan yang baik antar individu, baik dalam keluarga maupun antar

    keluarga. Untuk membangun keluarga yang harmonis diperlukan rasa saling

    percaya, saling menghormati, serta saling membantu antar anggota keluarga

    (Guanchen & Shijie, 2013).

    Ibu mertua dan menantu perempuan tidak terhubung dengan ikatan darah

    tapi merupakan saudara menurut hukum. Mereka datang dari berbeda keluarga

    dengan gaya hidup berbeda atau bahkan status sosial yang berbeda. Sehingga

    mereka memiliki nilai dan pendapat yang berbeda, saat dibawa ke dalam satu

    keluarga, perbedaan pasti akan menimbulkan perselisihan dan pertentangan,

    membuat hubungan antara ibu mertua dan menantu perempuan jauh lebih halus

    dan rumit dibanding komunikasi antara keduanya anggota keluarga lainnya (Li &

    Gao, 2013).

    Berdasarkan pemaparan diatas, peneliti tertarik untuk melakukan

    penelitian serta mengetahui relasi ibu mertua dan menantu yang tinggal serumah

    dimana hubungan antar keduanya merupakan hal terus menjadi pembicaraan

    publik, hubungan ibu mertua dan menantu yang akan selalu ada pada setiap

  • 4

    pernikahan terkhusus pada hubungan ibu mertua dan menantu yang tinggal

    serumah. Bagaimana mereka menciptakan hubungan baik, konflik apa biasa

    terjadi serta pengelolaannya. Penelitian ini bertujuan untuk memahami dan

    mendeskripsikan mengenai relasi ibu ibu mertua dan menantu yang tinggal

    serumah.

    2. METODE

    Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif. Metode yang

    digunakan yaitu kualitatif deskriptif. Fokus penelitian ini adalah relasi ibu ibu

    mertua dan menantu yang tinggal serumah. Teknik yang digunakan dalam

    memilih informan dalam penelitian ini adalah snowball sampling. Metode

    pengumpulan data dalam penelitian ini adalah wawancara semi terstruktur.

    Kemudian data dianalisis dengan cara mengumpulkan data, mengatur,

    mengelompokkan, mengkategorikan serta menyimpulkan temuan data Sedangkan

    keabsahan data dalam penelitian ini menggunakan trangulasi data. Informan pada

    penelitian ini berjumlah 8 orang yang terdiri dari 4 pasang ibu ibu mertua dan

    menantu menggunakan teknik snowball sampling dengan karakteristik: ibu ibu

    mertua dan menantu yang tinggal serumah dengan usia pernikahan dibawah 5

    tahun. Berikut data informan.

    Tabel 1. Data Informan Penelitian

    Keluarga Nama Usia Jenis

    Kelamin Pekerjaan

    Lama tinggal

    bersama

    K1 SS 46 tahun Perempuan Guru

    ± 6 bulan RFL 23 tahun Perempuan Mahasiswa

    K2 R 54 tahun Perempuan IRT

    ± 1 tahun M 27 tahun Laki-laki Wiraswasta

    K3 RD 56 tahun Perempuan IRT

    ± 4 bulan RNF 23 tahun Perempuan Mahasiswa

    K4 S 65 tahun Perempuan IRT

    ± 5 tahun L 35 tahun Perempuan Buruh Pabrik

  • 5

    3. HASIL DAN PEMBAHASAN

    Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti kepada informan ditemukan

    beberapa kategori terkait dengan relasi ibu ibu mertua dan menantu yang tinggal

    serumah.

    3.1 Komunikasi

    Komunikasi merupakan jembatan membangun relasi yang baik dalam sebuah

    hubungan. Topik pembicaraan antara lain pengenalan keluarga, menceritakan

    masa lalu, menceritakan kegiatan-kegiatan, hobi atau minat, maupun tentang

    pengasuhan anak. Berikut hasil wawancara menantu M dan ibu mertua R yang

    menyatakan bahwa melakukan komunikasi dengan baik.

    “...jadi intinya kalo saya pribadi itu kalo komunikasi itu penting

    sekali walaupun kadang kemauan kita itu lebih tapi itu tidak bisa

    dilakukan secara sepihak”(W.M/58-60)

    “...Setahun ini ndak ada sih kalo pun ada masalah langsung

    dikomunikasikan jadi langsung menemukan titik temu ya apapun

    itu kalo dikomunikasikan akan baik, kalo komunikasinya baik ya

    akan baik...”(W.R/108-110)

    Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat permasalahan dalam hal komunikasi

    antara ibu mertua dan menantu. Komunikasi diantara keduanya berjalan dengan

    baik, ibu mertua dan menantu menjalin komunikasi disetiap kesempatan yang ada

    yaitu ketika menonton tv, memasak dan ketika sedang melakukan suatu aktivitas

    bersama. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Santi (2015)

    menyatakan bahwa 53% menantu dan ibu mertua perempuan sering melakukan

    komunikasi dengan baik.

    Komunikasi diantara ibu ibu mertua dan menantu juga meliputi

    keterbukaan diantara keduanya. Tingkat keterbukaan dan keharmonisan antara

    menantu dan ibu mertua perempuan diketahui 63% mengalami hubungan

    terbuka dan harmonis dalam keluarga, dikarenakan antara menantu dan ibu

    mertua saling mengerti satu sama lain, dalam artian perlu saling menjaga,

    bertutur sapa, saling menghargai dan saling membantu (Santi, 2015). Berikut

    hasil wawancara menantu L dan RNF mengenai keterbukaan masalah kepada ibu

    mertua:

  • 6

    “Ndak (iter: ndak ya jadi didiskusikan sama suami gitu ya) ya

    kalo cerita ikut hehehe”(W.L/124-125)

    “Masalahku sama mas I (iter: he’h) yo ndak...” (W.RNF/332)

    Keterbukaan disini menyangkut keterbukaan menantu terhadap permasalahan

    dengan pasangan dimana berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa ada hal-

    hal yang menjadi privasi diantara pasangan sehingga hal tersebut tidak perlu

    diceritakan kepada ibu mertua. Keterbukaan disini tergantung pada konteks,

    sehingga ibu mertua dan menantu memiliki keterbukaan namun juga memiliki

    batasan perivasi pasangan.

    3.2 Kerjasama

    Keberhasilan dalam hubungan ibu mertua dan menantu dapat diukur dengan

    bagaimana kerjasama terbangun diantara keduanya. Waktu keluarga yang

    berkualitas masuk dalam menejemen waktu, dimana waktu tersebut merupakan

    waktu bahagia tanpa teknologi maupun pekerjaan rumah sehingga dapat

    membentuk interaksi sosial diantara ibu ibu mertua dan menantu. Berikut hasil

    wawancara menantu RNF dan ibu mertua RD yang menjelaskan tentang kegiatan

    yang dilakukan bersama.

    “Sama mama kegiatan bareng-bareng itu CFD sama mama

    terus belanja terus pernah tadi jagong sama

    mama...”(W.RNF/244-245)

    “Ya kadang kalo keluar bareng itu pas acara pertemuan

    keluarga...saya ajak kalo jagongz”(W.RD/77-88)

    Kegiatan bersama ibu mertua dan menantu meliputi memasak, belanja, car free

    day, jagong dan lain sebagainya. Kegiatan bersama disini guna menciptakan

    waktu berkualitas diantara ibu mertua dan menantu seperti yang dijelaskan oleh

    Fraenkel (Luk-Fong, 2013) satu menit waktu bahagia, hari untuk keluarga,

    menggunakan waktu tanpa teknologi termasuk telepon dan komputer.

    Kerjasama antara ibu mertua dan menantu juga bisa dilihat dari bentuk

    keterlibatan menantu dalam tugas rumah tangga dan kontribusi terhadap

    pengeluaran rumah tangga. Menurut Gottman (Santrock dalam Saputra, Hartati &

    Aviani, 2014) hal-hal yang dapat menjadi masalah dalam pernikahan dan

    dapat menyebabkan perceraian adalah hubungan dengan ibu mertua, keuangan,

  • 7

    perkawinan, stres, pekerjaan rumah tangga, seks, dan bayi. Pekerjaan rumah

    tangga dan keuangan disebutkan menjadi penyebab timbulnya konflik pernikahan

    dimana juga bisa menjadi konflik ibu mertua dan menantu. berikut hasil

    wawancara dengan menantu A dan RNF yang menyatakan bahwa subjek jarang

    melakukan pekerjaan rumah tangga.

    “...kalo pekerjaan aku jarang paling aku ya cuman nyuci

    kalo saya ya nyuci kalo masak ibu mertua...”(W.L/119-120)

    “...Cuma bantu mama isah-isah tok mama juga ndak

    pernah nyuruh...” (W.RNF/197-198)

    Serta kontribusi menantu terhadap pengeluaran ibu mertua, dimana biaya listrik,

    air dan sebagainya masih ditanggung oleh ibu mertua, berikut hasil wawancaranya

    menantu A, RFL, dan RNF.

    “Listrik ibu mertua (iter: disini airnya apa bu?) PAM

    (iter: PAM ya) air sumur apa (iter: Oh sanyo gitu ya?)

    bayarnya cuman listrik, sumur ya ada dibelakang (iter:

    enak ya kalo di kota kan PAM pemerintah) (iter: kalo

    biasanya bahan-bahan makana atau oerkengkapan

    rumah gitu bu?) ya beli bersama-sama dong (iter:

    bersama-sama) kalo beras kan ada beli ya palingan

    sayur sabun aku sayur ya bantu dikit-dikit”(W.L/127-

    132)

    “...oh itu udah semuanya ibu (iter: hemm) soale kan aku

    disana istilahe numpang lah..”(W.RFL/328-329)

    “Kalau masalah air, listrik gitu kan masih ikut mama,

    jadi mama yang bayar,cuman kalau ini kan suamiku kan

    kerjane ee.. sering pakai wifi ya.. jadi, bongso youtube,

    edit video, itukan semuanya pakai wifi disini, aku sama

    suamiku itu, bayar uang wifi itu...kalau untuk yang lain-

    lain, mama sendiri udah...”(W.RNF/632-639)

    Hasil penelitian ini tidak didapatkan hal yang demikian meskipun menantu tidak

    banyak terlibat dalam tugas rumah tangga karena terhalang oleh pekerjaan dan

    lain sebagainya juga menantu yang tidak begitu berkontribusi didalam

    pengeluaran rumah tangga dalam artian biaya masih banyak ditanggung oleh ibu

    mertua namun hal ini tidak menjadi penyebab konflik diantara keduanya, karena

  • 8

    ibu mertua memaklumi kondisi menantu dan berharap menantu akan belajar

    dikemudian hari.

    Bagi menantu yang tinggal bersama dengan ibu mertua, tidak bisa

    dipungkiri bahwa dalam melaksanakan peran didalam rumah tangga menantu

    tidak bisa lepas dari bantuan ibu mertua seperti yang dijelaskan didalam hasil

    studi kualitatif Kung, Hsu & Cheng (Sun & Lin, 2015) bahwa ketika ibu mertua

    dan menantu tinggal bersama bantuan ibu mertua merupakan sumber daya

    keluarga yang luar biasa, meskipun keduanya memiliki perbedaan kebiasaan gaya

    hidup dan wewenang rumah tangga yang tidak setara dapat menyebabkan banyak

    konflik antara ibu ibu mertua. Ibu mertua memiliki rasa tanggungjawab untuk

    membantu menantunya terlebih ketika mereka tinggal bersama. Hal itu lah yang

    membuat ibu mertua ingin membantu ketika menantu memiliki kesulitan dalam

    melaksanakan peran.

    3.3 Konflik dan cara mengatasinya

    Setiap hubungan pasti memiliki bumbu konflik didalamnya, begitu pula didalam

    hubungan ibu mertua dan menantu terutama yang tinggal serumah. Hal sekecil

    apapun bisa menjadi penyebab timbulnya konflik diantara keduanya. Gottman

    (Santrock dalam Saputra, Hartati & Aviani, 2014) salah satu hal yang dapat

    menjadi masalah dalam pernikahan dan dapat menyebabkan perceraian adalah

    pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan

    bahwa hal-hal yang menjadi penyebab timbulnya konflik yaitu mengenai

    pengasuhan, pekerjaan rumah dan perbedaan pendapat. Berikut hasil wawancara

    dengan menantu RFL dan ibu mertua SS.

    “...koe teorine pinter ya kan, tapi prakteknya ketika anak laper,

    anak itu laper tidak hanya diajak diam terus diam dilolohi mau

    anu tapi kan dengan cara, piye carane ben bocah iki gen gelem

    maem... carane mendidik anaknya gitu lho teori bagus itu to

    karna apa kamu pelajari ... Kalo di teori ndak akan (iter: iya)

    kalo diteori ibu makan apapun ndak terkontaminasi sama anak

    (iter: iya) tapi prakteknya nyatanya...”(W.SS/494-521)

    ”Ya gimana ya perbedaanya iya namanya juga orang dulu sama

    sekarang ya beda... isitilahnnya dipaksa makan nantinya kayak

    gitu terus akhirnya makanya kemarin itu sempet satu minggu

  • 9

    lah itu GTM gerakan tutup mulut jadi haidar itu ndak mau

    makan bener-bener ndak mau makan...”(W.RFL/367-376)

    Masalah pekerjaan rumah dan pengasuhan anak merupakan masalah yang cukup

    serius dimana ibu mertua merasa perlu untuk membantu dalam hal pengasuhan

    anak seperti yang dijelaskan oleh penelitian Santi (2015) kebanyakan orangtua

    beranggapan lebih memiliki pengalaman yang lebih dalam suka duka berumah

    tangga sehingga orangtua merasa bahwa pengalamannya tersebut dapat membantu

    rumah tangga anak dan menantunya. Namun menantu merasa apa yang diajarkan

    oleh ibu mertua sudah berbeda zaman sehingga tidak sesuai ketika diterapkan

    kepada anaknya, serta pekerjaan rumah dimana keduanya saling menuntut ibu

    mertua merasa menantu seharusnya memiliki kesadaran untuk pekerjaan rumah

    dan menantu yang merasa semua pekerjaan dilakukan oleh dia namun tidak ada

    pengharagaan dari ibu mertua.

    Interaksi antara menantu dan ibu mertua yang dapat membawa

    keharmonisan dalam keluarga serta dapat terhindar dari konflik adalah apabila

    menantu tetap tenang ketika terjadi konflik dengan ibu mertua dan kemampuan

    menantu dengan ibu mertua untuk mengalihkan pembicaraan negatif menjadi

    positif (Putri, 2017). Berikut hasil wawancara dengan menantu M, ibu mertua R

    dan ibu mertua RD yang menyatakan bahwa perbedaan pendapat dapat

    diselesaikan dengan cara saling memahami, memaklumi serta dikomunikasikan

    dengan baik.

    “Ya bisa memahami sih, kadang kalo memang salah ya

    ditegur secara pribadi tapi ya ndak masalah sih selama

    prinsip itu ndak pernah keluar dari prinsip yang pokok gitu

    ya ndak jadi masalah...” (W.M/151-153)

    “Kalo beda pendapat kadang masih bisa di tolerir ya kalo

    masih bisa dibicarakan ya ayo karna kan namanya manusia

    punya pandangan beda-beda” (W.R/92-94)

    “...kadang kalo sudah buat ini maklum kesalahan kadang

    gini ini taruh sini tapi harusnya disini hehe terus tapi saya

    kalo ada kesalahan ndak pernah marahin sih ngasih tau

    Cuma gini-gini itu aja, ya aku mikirnya ya maaf ya maklum

    ya...” (W.RD/179-183)

  • 10

    Perbedaan pendapat yang menjadi penyebab konflik disini mengenai hal-

    hal yang mengacu pada keinginan yang berbeda, namun untuk masalah ini tidak

    menjadi konflik yang besar didalam hubungan ibu mertua dan menantu karena

    keduanya masih dapat saling memahami dan memaklumi.

    4. PENUTUP

    Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang telah dilakukan peneliti

    dapat menunjukkan bahwa relasi ibu mertua dan menantu meliputi komunikasi

    antara ibu mertua dan menantu merupakan hal yang perlu diperhatikan, didalam

    penelitian ini ditemukan bahwa komunikasi yang terjalin pada ibu ibu mertua dan

    menantu lebih pada pendalaman informasi terkait kehidupan keluarga satu sama

    lain. Keterbukaan antara ibu mertua dan menantu tergantung pada konteks apa

    yang diperlukan untuk dikomunikasikan. Bagi menantu ada hal-hal yang dirasa

    tidak perlu untuk dikomunikasikan kepada ibu mertua karena hal tersebut

    merupakan privasi dengan pasangan.

    Selanjutnya kerjasama ibu mertua dan menantu meliputi kegiatan-kegiatan

    bersama. Kemudian keterlibatan dan kontribusi menantu dalam tugas serta

    pengeluaran rumah tangga, dalam hal ini menantu tidak banyak terlibat dalam

    tugas rumah tangga serta kurang berkontribusi dalam pengeluaran rumah tangga

    namun ibu ibu mertua berusaha memaklumi setiap keadaan menantunya serta

    berharap adanya kesadaran dari menantu dikemudian hari. Tak jarang ibu ibu

    mertua membantu menantunya dalam hal pengasuhan anak juga perekonomian.

    Ibu ibu mertua merasa memiliki tanggung jawab untuk membantu menantunya

    karena pengalaman yang dimilikinya. Hal-hal demikian juga dapat memicu

    konflik diantara ibu ibu mertua dan menantu dimana penyebab konflik yang

    timbul yaitu mengenai perbedaan pendapat dalam hal pengasuhan anak dan

    pekerjaan rumah tangga. Penyelesaian konflik antara ibu ibu mertua dan menantu

    lebih kepada saling memahami dan memaklumi ketika terjadi perbedaan pendapat

    serta komunikasi secara langsung untuk memusyawarahkan masalah yang terjadi.

  • 11

    DAFTAR PUSTAKA

    Adhikari, H. (2015). Limerence cusing conflict in relationship between mother-in

    law and daughter-in-law: a study on unhappiness in family relations and

    broken family. The International Journal of Indian Psychology , 92-103.

    Erabaru. (2017, September 05). Wajibkah menantu perempuan berbakti pada ibu

    mertua? mengapa? Retrieved from

    Erabaru:http://www.erabaru.net/2017/09/05/wajibkah-menantu-

    perempuan-berbakti-pada-ibu mertua-mengapa/

    Guanchen, S., & Shijie, S. (2013). Constructing a harmonious family: family

    relationships from estrangement to interaction. Cross-Cultural

    Communication 9(5), 82-86.

    Kertamuda, F. E. (2009). Konseling pernikahan untuk keluarga indonesia.

    Jakarta: Salemba Humanika.

    Li, Y., & Gao, Y. (2013). An attitude study on the conflict between mother and

    her daughter-in-law in the novel double-sided adhesive from appraisal

    heory perspective. Theory and Practice in Language Studies 3 (10), 1784-

    1789.

    Noviasari, N. (2016). Hubungan psychological well-being dengan penyesuaian

    diri pada istri yang tinggal dirumah ibu mertua. Jurnal Unika 5(1), 135-

    151.

    Ramadhani, Y. (2017, September 28). Tirto.id. Diambil kembali dari

    Membongkar Ketegangan Antara Menantu Ibu mertua Wanita:

    https://tirto.id/membongkar-ketegangan-antara-menantu-ibu mertua-

    wanita-cxoQ

    Santoso, R. (2017). Relasi antar kelembagaan desa dalam pembangunan

    insfratruktur di desa mayang pongkai kecamatan kampar kiri tengah

    kabupaten kampar tahun 2016. JOM FISIP 4(2), 1-12.

    Santi, Y. (2016). Peran komunikasi interpersonal dalam menjaga hubungan yang

    harmonis antara ibu mertua dan menantu perempuan. Jurnal Ilmu Sosial

    dan Ilmu Politik 4(3) , 466-472.

    Saputra, F., Hartati, N., & Aviani, Y. I. (2014). Perbedaan kepuasan pernikahan

    antara pasutri yang serumah dan terpisah dari orangtua/ibu mertua. Jurnal

    RAP UNP 5(2), 136-145.

    Sun, L.-C. (2015). Lingking maternal self-efficacy, mother and daughter-in-law

    relationship and role of husband in taiwanese families. The Journal of

    International Management Studies 10(1), 68-77.

    http://www.erabaru.net/2017/09/05/wajibkah-menantu-perempuan-berbakti-pada-mertua-mengapa/http://www.erabaru.net/2017/09/05/wajibkah-menantu-perempuan-berbakti-pada-mertua-mengapa/
of 15/15
RELASI IBU MERTUA DAN MENANTU YANG TINGGAL SERUMAH Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan Program Studi Strata I pada Jurusan Psikologi Fakultas Psikologi Oleh: RAHMAH F 100 140 020 PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2018
Embed Size (px)
Recommended