Home >Documents >Refrat Radiologi Trauma Thoraks

Refrat Radiologi Trauma Thoraks

Date post:18-Oct-2015
Category:
View:133 times
Download:3 times
Share this document with a friend
Transcript:

BAB I

PENDAHULUANA. Latar BelakangDewasa ini terjadi peningkatan jumlah kasus trauma meningkat tajam. Hal ini diakibatkan oleh meningkatnya penggunaan kendaraan bermotor yang juga diikuti oleh meningkatnya jumlah kecelakaan. Meningkatnya jumlah kasus trauma menjadikan trauma sebagai penyebab kematian utama pada kelompok usia muda dan produktif di seluruh dunia. Angka kematian ini dapat diturunkan melalui upaya pencegahan trauma dan penanggulangan optimal yang diberikan sedini mungkin kepada korbannya. Perlu diingat bahwa penanggulangan trauma bukan hanya masalah di rumah sakit, tetapi mencakup penanggulangan menyeluruh yang dimulai di tempat kejadian, dalam perjalanan ke rumah sakit dan di rumah sakit.1Foto toraks sebaiknya selalu dilakukan pada penderita dengan trauma yang mengancam nyawa. Dengan foto toraks, dapat dilihat pneumotoraks, hematotoraks, fraktur iga, cedera mediastinum dan juga dapat dilihat cedera pada diafragma. Pada penderita yang syok tanpa tanda adanya perdarahan diluar, biasanya terjadi perdarahan di daerah fraktur di dalam toraks atau di abdomen. 1Trauma dada kebanyakan disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas yang umumnya berupa trauma tumpul. Trauma tajam terutama disebabkan oleh tikaman dan tembakan. Cedera toraks sering disertai dengan cedera perut, kepala dan ekstrimitas sehingga merupakan cedera majemuk.2Cedera dada yang memerlukan tindakan darurat adalah obstruksi jalan nafas, hemotoraks besar, tamponade jantung, pneumotoraks desak, flail chest, pneumotoraks terbuka, dan kebocoran udara trakeobronkial. Semua kelainan ini menyebabkan gawat dada atau toraks akut analog dengan gawat perut, dalam arti diagnosis harus ditegakkan secepat mungkin dan penanganan dilakukan segera untuk mempertahankan pernafasan, ventilasi paru dan pendarahan. Sering tindakan yang diperlukan untuk menyelamatkan penderita bukan merupakan tindakan operasi seperti membebaskan jalan nafas, aspirasi rongga pleura, aspirasi rongga perikard, dan menutup sementara luka dada. Akan tetapi kadang kadang diperlukan torakotomi darurat. Luka tembus di dada harus segera ditutup dengan jahitan yang kedap udara.2BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi dan FisiologiDada berisi organ vital paru dan jantung. Rangka dinding toraks, yang dinamakan compage thoracis yang dibentuk oleh columna vertebralis di belakang, costae dan spatium intercostalis di samping dan sternum serta rawan iga di depan. Di superior toraks, berhubungan dengan leher melalui aperture thoracis superior dan di inferior dipisahkan dari abdomen oleh diafragma. Compages thoracis melindungi paru-paru dan jantung dan merupakan tempat perlekatan untuk otot-otot toraks, ekstrimitas atas, abdomen dan punggung. Cavitas thoracis dapat dibagi dalam bagian median yang dinamakan mediastinum, dan bagian lateral yang ditempati oleh paru-paru dan pleura. Paru-paru diliputi oleh membran tipis yang dinamakan pleura viseralis yang berjalan dari pangkal masing-masing paru menuju ke permukaan dalam dinding thoraks yang dinamakan pleura parietalis. Dengan cara ini terbentuk dua kantong membranosa yang dinamakan cavitas pleuralis pada setiap pinggir toraks antara paru-paru dan dinding toraks.3Gambar 2.1: Anatomi Rangka Diniding ToraksTrakea terbentang dari pinggir bawah cartilage cricoidea (berhadapan dengan corpus vertebrae cervical VI) di leher sampai setinggi angulus sterni pada toraks. Trakea terdapat di garis tengah dan berakhir tepat di sebelah kanan garis tengah dengan bercabang menjadi bronchus principalis dextra dan sinistra. Bronkus prinsipalis kanan lebih lebar, lebih pendek dan lebih vertical dibandingkan kiri. Sebelum masuk ke hilus paru-paru kanan, bronkus principalis mempercabangkan bronkus lobaris superior. Waktu masuk ke hillus, ia membelah menjadi bronkus lobaris medius dan bronkus lobaris inferior. Sedangkan bronkus prinsipalis kiri, waktu masuk ke hillus paru kiri, ia akan bercabang menjadi bronkus lobaris superior dan inferior.3Paru-paru berbentuk konus dan diliputi oleh pleura viseralis. Paru-paru terbenam bebas dalam rongga pleuranya sendiri, hanya dilekatkan ke mediastinum oleh radiks pulmonis. Masing-masing paru mempunyai apeks yang tumpul, yang menjorok ke atas, masuk ke leher sekitar 2,5 cm diatas klavikula, facies costalis yang konveks, yang berhubungan dengan dinding dada dan facies mediastinalis yang konkaf, yang membentuk cetakan pada perikardium dan struktur mediastinum lain. Sekitar pertengahan permukaan kiri, terdapat hillus pulmonis, suatu lekukan dimana bronkus, pembuluh darah, dan saraf masuk ke paru-paru untuk membentuk radiks pulmonis.3Di inferior, toraks berhubungan dengan abdomen melalui lubang besar yang dinamakan aperture thoracis inferior. Lubang ini dibatasi oleh articulatio xiphosternalis, arcus costae, dan corpus vertebrae thoracica XII. Diafragma merupakan otot utama respirasi. Diafragma berbentuk kubah yang terdiri atas bagian otot di perifer, yang berasal dari pinggir aperture thoracis inferior dan di tengah diganti oleh tendo.3Pernafasan berlangsung dengan bantuan gerak dinding dada. Jaringan paru dibentuk oleh jutaan alveolus yang mengembang dan mengempis tergantung mengembang atau mengecilnya rongga dada. Inspirasi terjadi karena kontraksi otot pernafasan, yaitu m.intercostalis dan diafragma, yang menyebabkan rongga dada membesar dan paru-paru mengembang sehingga udara terhisap ke alveolus melalui trakea dan bronkus.2

Gambar 2.2 : Anatomi ParuSebaliknya, bila m.intercostalis melemas, dinding dada mengecil kembali dan udara terdorong ke luar. Sementara itu, karena tekanan intraabdomen, diafragma akan naik ketika m.interkostalis tidak berkontraksi. Ketiga faktor ini, yaitu kelenturan dinding toraks, kekenyalan paru dan tekanan intraabdomen menyebabkan ekspirasi jika otot interkostal dan diafragma kendur dan tidak mempertahankan keadaan inspirasi. Dengan demikian, ekspirasi merupakan kegiatan yang pasif.2Jika pernafasan gagal karena otot pernafasan tidak bekerja, ventilasi paru dapat dibuat dengan meniup cukup kuat agar paru mengembang di dalam toraks bersamaan dengan mengembangnya toraks. Kekuatan tiupan harus melebihi kelenturan dinding dada, kekenyalan jaringan paru dan tekanan intraabdomen. Hal ini dilakukan pada ventilasi dengan respirator atau pada resusitasi dengan nafas buatan mulut ke mulut.2Adanya lubang di dinding dada atau di pleura viseralis akan menyebabkan udara masuk ke rongga pleura sehingga pleura viseralis terlepas dari pleura parietalis dan paru tidak lagi ikut dengan gerak nafas dinding toraks dan diafragma. Hal ini terjadi pada pneumotoraks. Jika dipasang penyalir tertutup yang diberi tekanan negatif, udara ini akan terisap dan paru dapat dikembangkan lagi.2Jantung merupakan organ muscular berongga yang bentuknya mirip piramid dan terletak di dalam perikardium di mediastinum. Basis kordis dihubungkan dengan pembuluh pembuluh darah besar, meskipun demikian terletak bebas di dalam perikardium. Jantung juga mempunyai apeks yang arahnya ke bawah, depan dan ke kiri. Apeks ini dibentuk oleh ventriculus sinister mengarah ke bawah depan dan kiri. Apeks terletak setinggi spatium intercostalis V sinistra, Sembilan cm dari garis tengah. Basis cordis berbentuk piramid dan terletak berlawanan dengan apeks. Batas kanan jantung dibentuk oleh atrium dextra, batas kiri oleh aurikula sinistra dan dibawah oleh ventrikulus sinistra. Batas bawah terutama dibentuk oleh ventrikulus dekstra tetapi juga oleh atrium dekstra dan apeks oleh ventrikulus sinister. Batas-batas ini penting pada pemeriksaan radiografi jantung.2Gambar 2.3 : Anatomi Radiografi Toraks Normal (lange)B. Definisi dan Epidemiologi Trauma ToraksTrauma adalah keadaan yang disebabkan oleh luka atau cedera. Definisi ini memberikan gambaran superfisial dari respon fisik terhadap cedera. Trauma merupakan penyebab kematian utama pada kelompok umur dibawah 35 tahun. Di Indonesia, trauma merupakan penyebab kematian nomor empat, tetapi pada kelompok umur 15-25 tahun, trauma merupakan penyebab kematian utama.1Trauma dada kebanyakan disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas yang umumnya berupa trauma tumpul. Trauma tajam terutama disebabkan oleh tikaman dan tembakan. Cedera toraks sering disertai dengan cedera perut, kepala dan ekstrimitas sehingga merupakan cedera majemuk.1Setiap tahun di Amerika Serikat, lebih dari 300.000 pasien dirawat dan 25.000 di antaranya meninggal segagai akibat langsung dari trauma toraks. Trauma toraks terhitung 25% dari seluruh kematian karena trauma, dan terutama trauma toraks merupakan sebuah faktor dari 50% kecelakaan lalu lintas yang berakibat fatal. Trauma toraks yang paling banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat adalah trauma tumpul toraks (90%), biasanya sebagai akibat dari kecelakaan sepeda motor. Insiden trauma tembus seimbang atau lebih sedikit, dan banyak luka tembus pada dada dapat ditanggulangi dengan tube thoracostomy saja.4Gambar 2.4 : Mekanisme Trauma

Trauma tumpul toraks dapat mempengaruhi komponen dinding toraks dan rongga toraks. Trauma ini dapat mencederai tulang (iga, klavikula, skapula dan sternum), paru dan pleura, trakeobronkial, esofagus, jantung, pembuluh darah besar toraks, dan diafragma.5

C. Peranan Radiologi Pada Kasus Trauma ToraksTujuan pemeriksaan radiologis :61. Mencari adanya fraktur tulang-tulang dinding dada

2. Mencari adanya benda asing (luka tembak)

3. Mencari adanya kelainan pada mediastinum

4. Mencari adanya hematotoraks, pneumotoraksPemeriksaan radiologis yang dapat dilakukan antara lain :1. Radiografi konvensionalRadiografi dipakai sebagai dasar untuk mencari fraktur, pneumotoraks, hematotoraks, benda asing, dan melihat kelainan diafragma sinus.6Radiografi toraks merupakan hal penting dalam trauma toraks, hanya dalam kasus yang bisa mengancam nyawa, radiografi toraks bisa ditunda. Penilaian sistematis dari radiografi dapat menemukan kelainan yang terlihat dan yang tidak terlihat secara klinis. Tulang-tulang toraks, ya

Embed Size (px)
Recommended