Home >Documents >Referat vertigo

Referat vertigo

Date post:27-Oct-2015
Category:
View:199 times
Download:0 times
Share this document with a friend
Description:
review
Transcript:

REFERAT

VERTIGO ASPEK RADIOLOGI

Oleh:Sulchan Chris Wardana, S. Ked J500080029Mios Agung Sukarno Putro, S.KedJ500080086

Pembimbing:dr. Hardiyanto, Sp.Rad

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU RADIOLOGI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KARANGANYARFAKULTAS KEDOKTERANUNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA8 JULI 2013 20 JULI 2013REFERAT

VERTIGO ASPEK RADIOLOGI

Oleh:Sulchan Chris Wardana, S. Ked J500080029Mios Agung Sukarno Putro, S.KedJ500080086

Telah disetujui dan disahkan oleh bagian Program Pendidikan Profesi Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah SurakartaRabu, 16 Juli 2013

Pembimbing:dr. Hardiyanto, Sp.Rad(.............................................)

Dipresentasikan dihadapan:dr. Hardiyanto, Sp.Rad(.............................................)

Disahkan Ka. Program Pendidikan Profesi FK UMS:dr. Dona Dewi Nirlawati(.............................................)

DAFTAR ISI

Cover ......................................................................................................................... iHalaman Pengesahan ................................................................................................ iiDaftar Isi ................................................................................................................... iiiDaftar Gambar .. ivDaftar Tabel .. vBAB I Pendahuluan ................................................................................................... 11. Latar Belakang ............................................................................................... 11. Batasan Masalah .... 21. Tujuan Penulisan ........................................................................................... 2BAB II Tinjauan Pustaka .......................................................................................... 31. Definisi .......................................................................................................... 31. Anatomi dan Fisiologi Sistem Keseimbangan .............................................. 41. Patofisiologi .................................................................................................. 111. Diagnosis ....................................................................................................... 151. Diagnosis Banding ........................................................................................ 261. Prognosis ... 271. Penatalaksanaan ............................................................................................ 33BAB III Kesimpulan dan Saran ................................................................................ 36Daftar Pustaka ........................................................................................................... 37

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.:Masukan dan keluaran nucleus vestibularisGambar 2.:Sistem kompleks keseimbangan perifer dan sentralGambar 3.:Perpindahan otokonia dari utikulus ke bagian lain dari telingaGambar 4.:BPPV kanalis horizontal dengan nistagmus geotropik kiriGambar 5.:BPPV kanalis horizontal dengan nistagmus apogeotropik kiriGambar 6.:Membran labirin normalGambar 7.:Membran labirin pada penyakit MeniereGambar 8.:Fistula pada round windowGambar 9.: The Epley Manuver

DAFTAR TABEL

Tabel 1: Obat-obatan yang digunakan pada terapi simtomatik vertigo

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar BelakangDi Amerika Serikat, kejadian cedera kepala setiap tahunnya diperkirakan mencapai 500.000 kasus. Dari jumlah tersebut, 10% meninggal sebelum tiba di rumah sakit. Yang sampai di rumah sakit, 80% dikelompokkan sebagai cedera kepala ringan (CKR), 10% termasuk cedera kepala sedang (CKS), dan 10% sisanya adalah cedera kepala berat (CKB). Insiden cedera kepala terutama terjadi pada kelompok usia produktif antara 15 sampai 44 tahun. Kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab 48%-53% dari insiden cedera kepala, 20%-28% lainnya karena jatuh dan 3%-9% lainnya disebabkan tindak kekerasan, kegiatan olahraga dan rekreasi. Data epidemiologi di Indonesia belum ada, tetapi data dari salah satu rumah sakit di Jakarta, RS Cipto Mangunkusumo, untuk penderita rawat inap, terdapat 60%-70% dengan CKR, 15%-20% CKS, dan sekitar 10% dengan CKB. Angka kematian tertinggi sekitar 35%-50% akibat CKB, 5%-10% CKS, sedangkan untuk CKR tidak ada yang meninggal.Ada beberapa komplikasi setelah terjadinya cedera kepala salah satunya adalah vertigo. Pasien cedera kepala yang mengalami vertigo pasca trauma kepala sebesar 80% dan hal ini sangat mengganggu bagi aktivitasnya (Lenaerts & Couch, 2004 :508). Vertigo digambarkan sebagai rasa berputar, rasa oleng, tak stabil atau rasa pusing (dizziness); deskripsi keluhan tersebut penting diketahui agar tidak dikacaukan dengan nyeri kepala atau sefalgi, terutama karena di kalangan awam kedua istilah tersebut (pusing dan nyeri kepala) sering digunakan secara bergantian. Vertigo pada pasien dengan cedera kepala berdasarkan Headache Society Classification of Headache Disorders (ICHD) diklasifikasikan menjadi dua kategori yaitu akut dan kronik, akut jika kurang dari 2 bulan dan kronik jika lebih dari 2 bulan. Berdasarkan penelitian dari Spies et al (2008: 115) mengatakan gejala yang tampak pada vertigo pasca trauma kepala adalah nyeri kepala berat 16%, berdenyut 53%, muntah 11%, photophobia 44% dan phonophobia 55%.

B. BatasanMasalahReferat ini membahas tentang definisi, anatomi dan fisiologi, patofisiologi, diagnosis, diagnosis banding, penatalaksanaan dan prognosis vertigo.

C. TujuanPenulisan1. Memahami definisi, anatomi dan fisiologi, patofisologi, manifestasi klinis, diagnosis, diagnosis banding, penatalaksanaan dan prognosis vertigo.2. Meningkatkan kemampuan dalam penulisan ilmiah di bidang kedokteran.3. Memenuhi salah satu persayaratan kelulusan Kepaniteraan Klinik di Bagian Ilmu Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta.

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISIVertigo berasal dari kata latinvertere yang berarti memutar. Vertigo di dalam kamus bahasa diterjemahkan sebagai pusing; yaitu dizziness dan giddiness yang diterjemahkan sebagai ganar atau gayang. Ganar mencerminkan keluhan rasa gerakan yang umum (tidak spesifik), rasa goyah (unstable, unsteadiness), atau rasa disorientasi ruangan yang dapat dirasakan sebagai putaran (turning) atau pusingan (whirling). Gayang (giddiness) dikatakan sama dengan ganar atau merupakan suatu bentuk vertigo yang intensif atau vertigo singkat. Menurut Gowers (1893), vertigo adalah setiap gerakan atau rasa gerakan tubuh penderita atau obyek di sekitar penderita yang bersangkutan dengan kelainan sistem keseimbangan (ekuilibrium) (Joesoef AA, 2007). Vertigo merupakan perasaan halusinasi seolah-olah lingkungan atau diri sendiri berputar, keadaan ini biasanya disebabkan oleh gangguan pada sistem keseimbangan (Daroff RB, 1999).Vertigo adalah keluhan yang sering dijumpai pada individu yang memiliki riwayat trauma tumpul di kepala, leher dan perbatasan cranio-cervical. Trauma karena kecelakaan kendaraan bermotor, jatuh, serangan mendadak, dan kecelakaan olahraga dapat menyebabkan vertigo (Benson BE, 2012). Pasien bisa terkena defisit vestibuler sentral, perifer, atau kombinasi keduanya (Marzo SJ etc, 2004). Kondisi patologi vestibuler yang sering terjadi berhubungan dengan trauma kepala adalah Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV) yang terjadi sekitar 28% pada individu dengan trauma kepala. Gangguan vestibuler lain yang cukup sering disebabkan oleh trauma kepala termasuk cedera batang otak atau perlukaan serius n. VIII, sindrom Meniere pasca trauma atau hidrops endolimfatik, ruptur membran timpani atau fistula perilimfatik, dan trauma labirin (Benson BE, 2012).

B. ANATOMI DAN FISIOLOGI SISTEM KESEIMBANGANKeseimbangan postural (balance atau stability) didefinisikan sebagai kemampuan tubuh untuk memelihara pusat dari massa tubuh dengan batasan stabilitas yang ditentukan dengan dasar penyangga (Suhartono, 2005).Keseimbangan dan orientasi tubuh seseorang terhadap lingkungan di sekitarnya tergantung pada input sensorik dari reseptor vestibuler di labirin, organ visual, dan propioseptif. Gabungan informasi ketiga reseptor sensorik tersebut akan diolah di sistem saraf pusat (SSP), kemudian diteruskan ke efektor (sistem muskuloskeletal) sehingga menggambarkan keadaan posisi tubuh pada saat itu (Bashirudin J etc, 2010). 1. Sistem Sensoris Perifera. Sistem VisualReseptor ini memberikan informasi tentang orientasi mata dan posisi tubuh (kepala) terhadap kondisi lingkungan sekitar. Sekitar 20% serabut saraf mata berinteraksi dengan organ vestibuler. Otot-otot mata akan berkontraksi untuk memelihara posisi bola mata dan otot-otot leher berkontraksi dengan menegakkan kepala, sehingga akhirnya dapat dicapai keseimbangan postural. Dalam keadaan normal, masukan visual mampu mengkompensasi defisit dari input sensoris lain seperti susunan propioseptif yang terganggu, misalnya karena berdiri di landasan yang tidak stabil. Gangguan keseimbangan akan tampak lebih jelas lagi jika impuls afferent untuk visual ditiadakan, misalnya saat mata tertutup, maka akan terlihat ayunan (sway) tubuh menjadi berlebihan (Suhartono, 2005).

b. Sistem PropioseptifSusunan propioseptif memberikan informasi ke SSP tentang posisi tubuh terhadap kondisi lingkungan di sekitarnya (eksternal) dan posisi antara segmen badan itu sendiri (internal) melalui reseptor pada sendi, otot, tendon, ligamentum, dan kulit seluruh tubuh terutama yang ada pada kolumna vertebralis dan tungkai. Informasi itu dapat berupa tekanan, posisi sendi, tegangan, panjang, dan kontraksi otot (Suhartono, 2005).c. Sistem VestibulerOrgan vestibular memberikan informasi ke SSP tentang posisi dan gerakan kepala serta pandangan mata melalui reseptor macula dan krista ampularis yang terdapat di telinga dalam (Suhartono, 2005).Selain perannya dalam pendengaran yang bergantung pada koklea, telinga dalam m

Click here to load reader

Embed Size (px)
Recommended