Home >Documents >Referat tht sinusitis

Referat tht sinusitis

Date post:09-Aug-2015
Category:
View:181 times
Download:4 times
Share this document with a friend
Description:
sinusitis
Transcript:

BAB I PENDAHULUANSinusitis dianggap salah satu penyebab gangguan kesehatan tersering di dunia12. Data dari DEPKES RI tahun 2003 menyebutkan bahwa penyakit hidung dan sinus berada pada urutan ke-25 dari 50 pola penyakit peringkat utama atau sekitar 102.817 penderita rawat jalan di rumah sakit.12 Survei Kesehatan Indera Penglihatan dan Pendengaran 1996 yang diadakan oleh Binkesmas bekerja sama dengan PERHATI dan Bagian THT RSCM mendapatkan data penyakit hidung dari 7 propinsi13 .Data dari Divisi Rinologi Departemen THT RSCM Januari-Agustus 2005 menyebutkan jumlah pasien rinologi pada kurun waktu tersebut adalah 435 pasien, 69%nya adalah sinusitis13. Kejadian sinusitis umumnya disertai atau dipicu oleh rhinitis sehingga sinusitis sering juga disebut dengan rhinosinusitis. Rinosinusitis adalah penyakit inflamasi yang sering ditemukan dan mungkin akan terus meningkat prevalensinya. Rinosinusitis dapat mengakibatkan gangguan kualitas hidup yang berat, sehingga penting bagi dokter umum atau dokter spesialis lain untuk memiliki pengetahuan yang baik mengenai definisi, gejala dan metode diagnosis dari penyakit rinosinusitis ini. Penyebab utamanya ialah infeksi virus yang kemudian diikuti oleh infeksi bakteri. Secara epidemiologi yang paling sering terkena adalah sinus etmoid dan maksila. Yang berbahaya dari sinusitis adalah komplikasinya ke orbita dan intrakranial. Komplikasi ini terjadi akibat tatalaksana yang inadekuat atau faktor predisposisi yang tak dapat dihindari.12 Tatalaksana dan pengenalan dini terhadap sinusitis ini menjadi penting karena hal di atas. Awalnya diberikan terapi antibiotik dan jika telah begitu hipertrofi, mukosa polipoid dan atau terbentuknya polip atau kista maka dibutuhkan tindakan operasi.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. EMBRIOLOGI 2.1.1. EMBRIOLOGI HIDUNG Perkembangan dari kepala dan leher dibentuk oleh arcus brachial dan faringeal. Arcus ini terlihat pada minggu keempat dan kelima perkembangan dan ikut berperan pada tampilan luar dari embrio. Hidung dibentuk oleh nasal placode yang berasal dari prominensia frontonasalis.1 Pada minggu kelima nasal placode berinvaginasi untuk membentuk nasal pits. Di sekitar nasal pits dikelilingi oleh jaringan membentuk prominensia nasalis. Prominensia nasalis berubah menjadi dinding lateral dan medial hidung. Pada minggu ke enam nasal pits menjadi lebih dalam dan masuk ke dalam mesenkim. Membran oronasalis memisahkan nasal pits dari rongga mulut melalui koana, membesar di bagian dinding lateral menjadi konka superior, konka media dan konka lateralis. Ektoderm pada nasal placode dibentuk menjadi epitel olfaktorius.2

2.1.2. EMBRIOLOGI SINUS PARANASLIS Sinus paranasal terbentuk pada fetus usia bulan III atau menjelang bulan IV dan tetap berkembang selama masa kanak-kanak kecuali sinus sfenoid dan sinus frontal. Sinus maksila dan sinus etmoid telah ada sejak anak lahir, sedangkan sinus frontal berkembang dari sinus etmoid anterior pada anak yang berusia kurang lebih 8 tahun. Sinus-sinus ini umumnya mencapai besar maksimal pada usia antara 15-18 tahun. Sinus Maksilaris Terbentuk pada usia fetus bulan IV yang terbentuk dari prosesus maksilaris arcus I. Saat dilahirkan sinus maksilaris berukuran 6-8cm3. Sinus maxillaris (Antrum of Highmore) adalah sinus yang pertama berkembang. Sinus maksilaris terbentuk sebagai puncak pada dinding lateral dari bagian ethmoid dari kapsul nasal kurang lebih pada usia 3 bulan kehidupan. Kemudian membesar perlahan sesuai dengan usia janin. Struktur ini adalah pada umumnya berisi cairan pada kelahiran. Pertumbuhan

dari sinus ini adalah biphasic dengan pertumbuhan selama 0-3 tahun dan 7-12 tahun. Sampai usia 3 tahun perkembangan dari sinus maksilaris sangat cepat dan perkembangannya kemudian melambat sampai usia 7 tahun. Sepanjang pneumatisasi kemudian menyebar ke tempat yang rendah di mana gigi yang permanen mengambil tempat mereka. Pneumatisasi dapat sangat luas sampai akar gigi hanya suatu lapisan yang tipis dari jaringan halus yang mencakup mereka. Sinus Ethmoidalis Terbentuk pada usia fetus bulan IV. Saat lahir, berupa 2-3 cellulae (ruang-ruang kecil), saat dewasa terdiri dari 7-15 cellulae, dindingnya tipis. Sinus ethmoid merupakan struktur yang berisi cairan pada bayi yang baru dilahirkan. Selama masih janin, perkembangan pertama sel anterior diikuti oleh sel posterior. Sel tumbuh secara berangsur-angsur sampai dewasa umur 12 tahun. Sel ini tidak dapat dilihat dengan sinar x sampai umur 1 tahun. Septa yang secara berangsur-angsur tipis dan pneumatisasi berkembang sesuai usia. Sel ethmoid bervariasi dan sering ditemukan di atas orbita, sphenoid lateral, ke atap maxilla dan sebelah anterior diatas sinus frontal. Sel ini disebut sel supraorbital dan ditemukan 15% dari pasien. Penyebaran sel ethmoid ke dasar sinus frontal disebut frontal bulla. Penyebaran ke turbinate medial disebut concha bullosa. Sel yang berada pada dasar sinus maxilla ( infraorbita ) disebut Hallers sel dan dijumpai pada 10% populasi. Sel-sel ini dapat menyumbat ostia maxilla dan membatasi infundibulum mengakibatkan gangguan pada fungsi sinus. Sel yang meluas ke anterior lateral sinus sphenoid disebut Onodi sel. Variasi dari sel ini penting pada saat preoperative untuk memperjelas anatomi pasien secara individu. Sinus Frontalis Sinus ini dapat terbentuk atau tidak.6 Sinus frontalis sepertinya dibentuk oleh pergerakan keatas dari sebagian besar sel-sel ethmoid anterior. Os frontal masih merupakan selaput (membran) pada saat kelahiran dan tulang mulai untuk mengeras sekitar usia 2 tahun. Secara radiologi jarang bisa terlihat struktur selaput (membran) ini. Perkembangannya mulai usia 5 tahun dan berlanjut sampai usia belasan tahun akan mencapai ukuran maksimal pada usia 20 tahun. Sinus frontal kanan dan kiri biasanya tidak sama dan dipisahkan oleh sekat yang terletak di garis tengah.

Sinus Sfenoid Terbentuk pada fetus usia bulan III.6 Sinus sphenoidalis adalah unik oleh karena tidak dibentuk dari kantong rongga hidung. Sinus ini dibentuk di dalam kapsul rongga hidung dari hidung janin. Tidak berkembang hingga usia 3 tahun. Pneumatisasi sinus sphenoid dimulai pada usia 7-10 tahun dan berasal dari bagian postero-superior rongga hidung. Usia 7 tahun pneumatisasi telah mencapai sella turcica. Usia 18 tahun, sinus sudah mencapai ukuran penuh.

2.2. ANATOMI dan HISTOLOGI 2.2.1.1. Anatomi Hidung3 a. Hidung Luar Hidung luar merupakan bagian yang menonjol pada garis tengah di antara pipi dengan bibir atas. Hidung luar berbentuk piramid dengan bagian-bagiannya dari atas ke bawah : 1. Pangkal hidung ( bridge ) 2. Dorsum nasi 3. Puncak hidung ( apeks ) 4. Ala nasi 5. Kolumela 6. Lubang hidung ( nares anterior )

Gambar 1. Pembagian hidung bagian luar

Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan. Kerangka tulang terdiri dari : 1. Sepasang os nasalis ( tulang hidung ) 2. Prossesus frontalis os maksila 3. Prossesus nasalis os frontalis

Sedangkan kerangka tulang rawan terdiri dari beberapa pasang tulang rawan yang terletak dibagian bawah hidung, yaitu : 1. Sepasang kartilago nasalis lateralis superior 2. Sepasang kartilago nasalis lateralis inferior ( kartilago alar mayor ) 3. Beberapa pasang kartilago alar minor 4. Tepi anterior kartilago septum nasi

Gambar 2. Tulang-tulang penyusun hidung

Struktur hidung luar terdiri dari tiga bagian yaitu kubah tulang yang tak dapat digerakkan, di bawahnya terdapat kubah kartilago yang sedikit dapat digerakkan dan yang paling bawah adalah lobulus hidung yang mudah digerakkan. Kubah tulang dibentuk pross esus maksila yang berjalan ke

atas dan kedua tulang hidung, semuanya disokong oleh prosesus nasalis tulang frontalis dan suatu bagian lamina perpendikularis. Kubah kartilago dibentuk oleh kartilago lateralis superior yang saling berfusi digaris tengah serta berfusi dengan tepi atas kartilago septum kuadrangularis. Sepertiga bawah hidung luar atau lobulus hidung dipertahankan bentuknya oleh katilago lateralis inferior.5

b. Hidung Dalam Hidung dalam membentang dari os internum di sebelah anterior hingga koana di bagian posterior, yang memisahkan rongga hidung dan nasofaring.

Gambar 3. Penampang hidung dalam

i. Vestibulum Terletak tepat dibelakang nares anterior, dilapisi oleh kulit yang mempunyai kelenjar sebasea dan rambut-rambut panjang yang disebut vibrisae. ii. Septum nasi Septum dibentuk oleh tulang dan tulang rawan. Bagian tulang terdiri dari : - lamina perpendikularis os etmoid - vomer - krista nasalis os maksila

- krista nasalis os palatina Bagian tulang rawan terdiri dari : - kartilago septum ( lamina kuadrangularis ) - kolumela iii. Kavum nasi o Dasar hidung Dasar hidung dibentuk oleh prosesus palatina os maksila dan prosesus horisontal os palatum. o Atap hidung Terdiri dari kartilago lateralis superior dan inferior, os nasal, prosesus frontalis os maksila, korpus os etmoid dan korpus os sfenoid. Sebagian besar atap hidung dibentuk oleh lamina kribrosa yang dilalui filamen-filamen n. Olfaktorius yang berasal dari permukaan bawah bulbus olfaktorius berjalan menuju bagian teratas septum nasi dan permukaan kranial konka superior. o Dinding lateral Dinding lateral dibentuk oleh permukaan dalam prosesus frontalis os maksila, os lakrimalis, konka superior, konka media, konka inferior, lamina perpendikularis os palatum dan lamina pterigoideus medial. o Konka Pada dinding lateral hidung terdapat 4 buah konka. Yang terbesar dan letaknya paling bawah ialah konka inferior, kemudian yang lebih kecil ialah konka media dan konka superior, sedangkan yang terkecil disebut konka suprema. Konka suprema ini biasanya rudimenter. Konka inferior merupakan tulang tersendiri yang melekat pada os maksila dan labirin etmoid, sedangkan konka media,superior dan suprema merupakan bagian dari labirin etmoid. o Meatus nasi Diantara konka-konka dan dinding lateral hidung terdapat rongga sempit yang disebut meatus. Meatus inferior terletak diantara konka inferior dengan dasarhidung dan dinding lateral rongga hidung. Pada meatus inferior terdapat muara duktus nasolakrimalis. Meatus media terletak diantara konka media dan dinding lateral rongga hidung. Disini terdapat

muara sinus maksila, sinus frontal dan sinus etmoid anterior. Pada meatus superior yang merupakan ruang diantara konka superior dan konka media terdapat muara sinus etmoid posterior dan sinus sfenoid. o Dinding medial Dinding medial hidung adalah septum nasi. Septum nasi merupakan struktur tulang di garis tengah, secara anatomi membagi dua rongga hidung.

2.2.1.2. Histologi 1. Mukosa pernafasan hidung Epitel pada rongga pernafasan biasanya berupa epitel torak bersilia, bertingkat palsu (pseudostratified). Mukosa pada ujung anterior konka dan septum sdikit melampaui os internum masih dilapisi oleh epitel berlapis gepeng tanpa silia. Sinus mengandung epitel kubus dan silia yang sama panjang dan jaraknya.

2. Silia Silia memiliki panjang 5-7 mikron terletak pada lamina akhir sel-sel permukaan epitelium, dan jumlahnya sekitar 100 per mikron persegi, atau sekitar 250 per sel pada saluran napas atas.

Gambar 4. Histologi mukosa hidung

2.2.2.1. Anatomi Sinus Ada delapan sinus paranasal, empat buah pada masing-masing sisi hidung. Anatominya dapat dijelaskan sebagai berikut : sinus frontal kanan dan kiri, sinus ethmoid kanan dan kiri (anterior dan posterior), sinus maksila kanan dan kiri (antrium highmore), dan sinus sfenoid kanan dan kiri. Semua sinus ini dilapisi oleh mukosa yang merupakan lanjutan mukosa hidung, berisi udara dan semua bermuara di rongga hidung melalui ostium masing-masing.6

Gambar 5. Anatomi Sinus Paranasalis Dinding lateral nasal meliputi bagian dari os ethmoid, os maxilla, os palatina, os lacrimal, lamina pterygoideus medial os sphenoid, os nasal dan turbinate inferior. Tiga dari empat turbine dari dinding supreme, superior dan medial menjadi proyeksi dari os ethmoid. Bagian inferior merupakan suatu struktur yang independen. Masingmasing struktur ini disebut dengan meatus .Tulang kecil dari projeksi os ethmoid yang menutup, membuka kesamping menempatkan sinus maxillaris dan membentuk suatu palung di belakang pertengahan turbinate. Sekat bertulang tipis ini dikenal sebagai processus uncinatus. Dinding superior nasal terdiri dari ethmoid sel sinus terletak sebelah lateral dari epithelium olfactorius dan cribiform plate yang mudah pecah. Bagian superior dari sebagian besar sel ethmoid anterior barada pada sinus frontal. Bagian posterior superior dari dinding nasal lateral menjadi dinding anterior dari sinus sphenoidalis yang mendekap dibawah sella turcica dan sinus cavernosus.10 Pada meatus medius yang merupakan ruang di antara konka superior dan konka inferior rongga hidung terdapat suatu celah

sempit yaitu hiatus semilunaris yakni muara dari sinus maksila, sinus frontalis dan ethmoid anterior.10 Pada meatus superior yang merupakan ruang di antara konka superior dan konka media terdapat muara sinus ethmoid posterior dan sinus sfenoid.

Gambar 6. Anatomi Sinus Paranasalis A. Sinus Maksilaris Struktur Sinus maxillaris orang dewasa adalah berbentuk piramida mempunyai volume kirakira 15 ml ( 34 x 33 x 23mm ). Dasar dari piramida adalah dinding nasal dengan puncak yang menunjuk ke arah processus zygomaticum. Dinding anterior mempunyai foramen infraorbital berada pada bagian midsuperior dimana nervus infraorbital berjalan di atas atap sinus dan keluar melalui foramen itu. Saraf ini dapat dehiscens (14%). Bagian yang tertipis dari dinding anterior adalah sedikit di atas fossa canina. Atap dibentuk oleh dasar orbital dan di transeksi oleh nervus infraorbital . Dinding posterior tidak bisa ditandai. Di belakang dinding ini adalah fossa pterygomaxillaris dengan arteri maxillaris interna, ganglion sphenopalatina dan saluran Vidian, nervus palatina mayor dan foramen rotundum. Dasar dari sinus, seperti dibahas di atas, bervariasi tingkatannya. Sejak lahir sampai umur 9 tahun dasar dari sinus adalah di atas rongga hidung. Pada umur 9 tahun dasar sinus secara umum sama dengan dasar nasal. Dasar sinus berlanjut menjadi peumatisasi sinus maxillaris. Oleh karena itu

berhubungan erat dengan penyakit pertumbuhan gigi yang

dapat menyebabkan

infeksi rahang dan pencabutan gigi dapat mengakibatkan fistula oral-antral.10

Perdarahan Cabang dari arteri maxillaris internal mendarahi sinus ini. Termasuk infraorbital ( yang berjalan dengan nervus infraorbital ), cabang lateral dari sphenopalatine, palatina mayor, vena axillaris dan vena jugularis sistem dural sinus.10

Persarafan Sinus maxilla disarafi oleh cabang dari V.2. yaitu nervus palatina mayor dan cabang dari nervus infraorbital.10

Struktur yang terkait Ductus nasolacrimalis mengalir ke kantung lacrimalis dan berjalan dari fossa

lacrimalis di bawah orbita sebelah posterior dari dinding penunjang rahang yang vertikal dan kosong di sebelah depan dari meatus inferior. Saluran ini berada sangat dekat dengan ostium rmaxilla, rata-rata berada pada 4 - 9mm di depan ostium.

1. Ostium alami. Ostium maxillaris terletak di bagian superior dari dinding medial sinus. Intranasal biasanya terletak pada pertengahan posterior infundibulum ethmoidalis, atau disamping 1/3 bawah processus uncinatus. Tepi posterior dari ostium ini berlanjut dengan lamina paprycea sekaligus ini menjadi tanda (landmark) untuk batas lateral dari diseksi pembedahan. Ukuran ostium ini rata-rata 2,4 mm tetapi dapat bervariasi antara 1-17 mm. Ostium ini jauh lebih kecil dibanding defect pada tulang sebab mcosa mengisi area ini dan menggambarkan tingkat dari pembukaan itu. 88% dari ostium maxilla bersembunyi dibelakang processus uncinatus oleh karena itu tidak bisa dilihat secara endoscopi.

2. Fontanella anterior dan posterior ostium acessorius. Dua tulang dehiscens dari dinding nasal / dinding medial sinus maxillaris kadangkadang ada satu dehiscence tulang yang besar, pada umumnya ditutup oleh mucosa. Beberapa individu dimana fontanella anterior atau posterior mungkin tetap terbuka mengakibatkanterdapat suatu ostium assesori. Ostium ini biasanya tidak berfungsi, mengalirkan sinus jika ostium yang alami dihalangi dan adanya tekanan/gravitasi gerak intrasinus dari ostium itu. Ostium asesorius pada umumnya ditemukan pada fontanella posterior.10

B. Sinus Ethmoidalis Struktur Bentuknya berupa rongga tulang seperti sarang tawon, terletak antara hidung dan mata. Gabungan sel anterior dan posterior mempunyai volume 15 ml (3,3 x 2,7 x 1,4 cm). Bentuk ethmoid seperti piramid dan dibagi menjadi multipel sel oleh sekat yang tipis. Atap dari ethmoid dibentuk oleh berbagai struktur yang penting. Sebelah anterior posterior agak miring (15 derajat). Dua pertiga anterior tebal dan kuat dibentuk oleh os frontal dan faveola ethmoidalis. Sepertiga posterior lebih tinggi sebelah lateral dan sebelah medial agak miring kebawah kearah cribiform plate. Perbandingan antara tulang tebal sebelah lateral dan plate adalah sepersepulah kuat atap sebelah lateral. Perbedaan berat antara atap medial dan lateral bervariasi antara 15-17 mm. Sel ethmoid posterior berbatasan dengan sinus sphenoid. Dinding lateralnya adalah lamina paprycea orbita.

Gambar 7. Anatomi Sinus Paranasalis Perdarahan Sinus ethmoid mendapat aliran darah dari arteri carotis eksterna dan interna. Arteri sphenopalatina dan juga arteri opthalmica mendarahi sinus. Pembuluh vena mengikuti arterinya dan dapat menyebabkan infeksi intracranial.

Persarafan. Disarafi oleh nervus V.1 dan V.2, nervus V.1 mensarafi bagian superior sedangkan sebelah inferior disarafi oleh nervus V.2. Persarafan parasimpatis melalui nervus Vidian, sedangkan persarafan simpatis melalui ganglion sympathetic cervical dan berjalan bersama pembuluh darah menuju mukosa sinus. Struktur yang terkait 1. Lamella basal dari turbinate medial Struktur ini dibentuk oleh pemisahan antara sel ethmoid anterior dan posterior merupakan pemasangan dari turbinate medial dan berjalan pada tiga tempat yang

berbeda didalamnya dari anterior ke posterior. Sebagian dari bagian anterior adalah vertikal dan menyisip di crista ethmoidalis dan dasar tengkorak. 1/3 tengah berjalan miring menyisip ke lamina papyracea. 1/3 akhir menyisip sejajar dengan lamina papyracea. Ruangan dibawah concha medial disebut meatus medial menuju ethmoid anterior, sinus frontal, dan aliran sinus maxilla . Kesalahan dalam operasi dapat

merusak turbinate medial anterior dan posterior dan dibagian anteriornya dapat merusak cribriform plate. 2. Sel ethmoid anterior dan posterior Sel di bagian anterior menuju lamella basal. Pengalirannya ke meatus medial melalui infundibulum ethmoid. Termasuk sel agger nasi, bulla ethmoid dan sel-el anterior lainnya. Sel yang di posterior bermuara ke meatus superior dan berbatasan dengan sinus sphenoid. Sel bagian posterior secara umum lebih sedikit dalam jumlah dan lebih besar dari sel bagian anterior. 3. Sel agger nasi Sel ini dijumpai di os lacrimal anterior dan superior persimpamgan dari turbinate medial dengan dinding nasal. Sel ini tersembunyi di belakang anterior dari processus uncinatus dan mengalirkan ke dalam hiatus semilunaris. Ini merupakan sel yang pertama pneumatisasi pada bayi yang baru lahir sampai masa anak-anak. Terdapat satu sampai tiga sel. Dinding sel posterior membentuk dinding anterior dari recessus frontal. Atap sel agger nasi adalah dasar dari sinus frontal, yang merupakan tanda penting untuk operasi sinus frontal. 4. Bulla ethmoid Ini penting sebagai pertanda untuk kasus operasi. Terletak diatas infundibulum dan permukaaan lateral / inferiornya, dan tepi superior processus uncinatus membentuk hiatus semilunaris. Ini merupakan sel ethmois anterior yang terbesar. Arteri ethmoidalis anterior umumnya menyilang terhadap atap sel ini. Recessus suprabullar dan retrobullar dibentuk ketika bulla ethmoid tidak meluas ke dasar tengkorak.

Recessus suprabullar adalah suatu celah antara atap bulla ethmoid dan fovea. Ruang retrobullar dibentuk ketika ada celah antara lamella basal dan bulla. Ruang retrobular ini dikenal sebagai hiatus semilunaris superior . 5. Infundibulum ethmoid Perkembangan infundibulum mendahului sinus. Dibentuk oleh struktur yang kompleks. Dinding anterior dibentuk oleh processus uncinatus, dinding medial dibentuk oleh processus frontalis os maxilla dan lamina papyracea. Jika melakukan

operasi pada sinus ini kemudian dindingnya pecah maka darah masuk ke daerah orbita sehingga terjadi Brill Hematoma.6 6. Arteri ethmoid anterior dan posterior Arteri ethmoid anteior dan posterior berasal dari arteri opthalmica. Arteri ethmoid anterior menyilang ke rektus medial dan menembus lamina papyracea. Arteri ini kemudian menyilang ke atap sinus ethmoid pada sebuah tulang tipis ( biasanya dehisens), mendarahi cribiform plate dan septum anterior. Arteri ini biasanya besar dan tunggal dan di bagian inferiornya menutupi sel sinus. Letaknya yang tertutup berhubungan dengan letak strukturyang lebih medial yaitu fovea ethmoid. Arteri ethmoid posterior menyilang rektus medial, menembus lamina papyracea dan melalui sel ethmoid posterior menuju septum. Mendarahi sinus ethmoid posterior, turbinate superior dan medial dan sebagian kecil septum posterior. Arteri ini kecil dan bercabang-cabang. Letaknya tertutup kebawah diantara sel-sel sinus, bergabung dengan letak nervus opticus dekat vertex orbita. Sebab perkembangan dari struktur ini mendahului sinus hubungan ke sel ethmoid dapat bervariasi.10

C. Sinus Frontalis Struktur Volume sinus ini sekitar 6 - 7ml (28 x 24 x 20mm). Anatomi sinus frontalis sangat variasi tetapi secara umum ada dua sinus yang berbentuk seperti corong dan berbentuk point menaik. Tidak simetri kanan dan kiri, terletak di os frontalis.6 Kedalaman dari sinus berhubungan dengan pembedahan untuk menentukan batas yang berhubungan dengan pembedahan. Kedua bentuk sinus frontal mempunyai ostia yang bergantung dari rongga itu (posteromedial). Sinus ini dibentuk dari tulang diploe. Bagaimanapun, dinding posterior (memisahkan sinus frontal dari fosa kranium anterior) lebih tipis. Dasar sinus ini juga berfungsi sebagai bagian dari atap rongga mata.

Perdarahan Sinus frontalis mendapat perdarahan dari arteri opthalmica melalui arteri supraorbita dan supratrochlear. Aliran pembuluh vena melalui vena opthalmica superior menuju sinus cavernosus dan melalui vena-vena kecil mengalir ke sinus dural. didalam dinding posterior yang

Persarafan Sinus frontalis dipersarafi oleh cabang nervus V.1. Secara khusus, nervus-nervus ini meliputi cabang supraorbita dan supratrochlear.

Struktur terkait Recessus frontal Recessus frontal adalah ruang diantara sinus frontalis dan hiatus semilunaris yang menuju ke aliran sinus. Bagian anterior dibatasi oleh sel agger nasi, superior oleh sinus frontalis, medial oleh turbinate medial dan bagian lateral oleh lamina

papyracea. Rongga yang menyerupai suatu dambel seperti sinus frontalis merupakan ostium atau saluran yang kemudian membuka lagi kedalam recesus. Berdasarkan luasnya pneumatisasi ethmoid, recessus ini dapat kembali menjadi bentuk pipa yang menghasilkan dambel yang lebih panjang. Struktur yang anomali, seperti sinus lateralis (bagian posterior ke recessus frontal di dasar tengkorak) dan bula frontalis (bagian anterior ke receesus di dasar sinus frontalis) menyebabkan salah interpretasi seperti sinus frontalis ketika operasi sinus.10 . D. Sinus Sfenoidalis Struktur Usia belasan tahun sinus ini sudah mencapai ukuran penuh dengan volume 7,5ml (23 x 20 x 17mm). Pneumatisasai sinus ini, seperti sinus frontalis, sangat bervariasi. Secara umum merupakan struktur bilateral yang terletak posterosuperior dari rongga hidung. Pneumatisasi dapat meluas sejauh clivus, ala parva dan ala magna os sphenoid sampai ke foramen magnum. Dinding sinus sphenoidalis bervariasi ketebalannya, dinding anterosuperior dan dasar sinus paling tipis (1 ? 1,5mm). dinding yang lain lebih tebal, Bagian paling tipis dari dinding anterior adalah 1 cm dari fovea ethmoidalis. Letak dari sinus oleh karena hubungan anatominya tergantung dengan tingkat pneumatisasi. Sinus bisa terletak jauh di anterior, di anterior atau dengan seketika di bawah sella turcica (conchal, presellar, sellar atau postsellar). Kebanyakan posisi posterior dapat menempatkan sinus bersebelahan ke struktur yang penting seperti arteri carotid, nervus opticus, nervus maxillaris cabang dari nervus trigeminal, nervus vidian, pons, sella turcica dan sinus cavernosus. Struktur ini sering dikenali seperti lekukan di atap dan dinding sinus. Dalam presentase kecil akan

mempunyai dehisens tulang di atas struktur yang penting seperti nervus opticus dan arteri carotid. Hati-hati ketika memperbaiki septasinus ini mungkin di dalam kesinambungan dengan carotid dan canalis opticus yang dapat mengakibatkan kematian dan kebutaan. Ostium sinus sphenoidalis bermuara ke recessus sphenoethmoidalis. Ukurannya sangat kecil ( 0.5 - 4mm ) dan letaknya sekitar 10 mm di atas dasar sinus. 30 derajat kebawah dari dasar hidung anterior mendekati letak ostium diatas dinding posteriosuperior hidung, merupakan garis tengah persambungan antara 1/3 atas dan 2/3 bawah dari dinding anterior sinus. Biasanya sebelah medial ke turbinate superior dan hanya beberapa milimeter dari cribiform plate. Ostium ini, seperti sinus maxillaris, mempunyai tulang dehisens yang lebih besar yang dibatasi oleh sebuah septum membran.

Perdarahan Arteri ethmoid posterior mendarahi atap sinus sphenoidalis. Bagian lain dari sinus mendapat aliran darah dari arteri sphenopalatina. Aliran vena melalui vena maxillaris ke vena jugularis dan pleksus pterigoid. Persarafan Sinus sphenoidalis disarafi oleh cabang nervus V.1 dan V.2. Nervus nasociliaris (cabang nervus V.1) berjalan menuju nervus ethmoid posterior dan mensarafi atap sinus. Cabang-cabang nervus sphenopalatina (V.2) mensarafi dasar sinus.

Struktur terkait 1. Recessus sphenoethmoidalis Recessus sphenoethmoidalis adalah rongga disampinga dan diatas turbinate superior. Batasan-batasan dari rongga ini dibentuk oleh struktur yang kompleks. Dinding anterior dsinus sphenoidalis membentuk batas posterior. Septum nasi dan cribiform plate membentuk batas medial dan superior. Perluasan anteriolateral ditentukan oleh turbinate superior. Rongga ini keluar ke rongga hidung secara lebih rendah. Sel ethmoid posterior, seperti halnya sinus sphenoidalis mengalir ke daerah ini.

2. Rostrum sphenoid Struktur ini hanya proyeksi garis tengah dari dinding sinus sphenoid anterior, menyambung lamina perpendicular dan os vomer.

3. Onodi sel Telah dijelaskan diatas, sel ini adalah sel-sel ethmoid yang terletak anteolateral menuju sinus sphenoidalis. Struktur penting seperti areteri carotis dan nervus opticus bisa melalui sel ini. Struktur ini sering dehisens. Perlu tindakan pembedahan yang hati-hati di area ini dan pemeriksaan radiograpi yang baik untuk menghindari hasil yang tidak diinginkan.10

2.2.2. Histologi Sinus Sinus-sinus ini dilapisi oleh epitel pseudostratified ciliated columnar yang berkesinambungan dengan mukosa di rongga hidung. Epitel sinus ini lebih tipis dari epitel hidung. Ada 4 tipe sel dasar, yaitu epitel ciliated columnar, non ciliated columnar, sel basal dan sel goblet. Sel-sel ciliated memiliki 50 - 200 silia per sel dengan tambahan struktur mikrotubulus. Data penelitian menunjukkan sel ini berdetak 700-800 kali per menit, pergerakan mucosa pada suatu tingkat 9 mm per menit. Sel yang nonciliated ditandai oleh microvilli yang menutupi daerah apikal sel dan bertugas untuk meningkatkan area permukaan ( mungkin memudahkan pembasahan dan kehangatan dari udara inspirasi ). Ini penting untuk meningkatkan konsentrasi (sampai 50%) dari ostium sinus. Fungsi sel basal belum diketahui, sangat bervariasi baik dalam bentuk dan jumlah. Beberapa teori menjelaskan bahwa sel basal dapat bertindak sebagai suatu stem cell yang dapat membedakan jika dibutuhkan. Sel goblet memproduksi glikoprotein yang berfungsi untuk viskositas dan elastisitas mukosa. Sel goblet ini disarafi oleh saraf simpatis dan parasimpatis. Rangsangan saraf parasimpatis menghasilkan mucous yang lebih kental dan dengan rangsangan saraf simpatis pengeluaran mucous lebih encer. Lapisan epitel disokong oleh suatu basement membran yang tipis, lamina propia, dan periosteum. Keduanya, baik kelenjar serous dan mucinous mengalir ke dalam lamina propia. Studi anatomi menunjukkan tentang sel goblet dan kelenjar submucosal di sinus dibandingkan di mukosa hidung. Pada studi tersebut, sinus maxillaris mempunyai sel goblet yang paling tinggi. Ostia dari rahang, sphenoid dan sinus ethmoid anterior meningkat dalam jumlah submucosal yang mengandung kelenjar serous dan mucinous.11 Pada dinding lateral hidung terdapat 2 aliran transport mukosiliar dari sinus, yaitu: Lendir yang berasal dari kelompok sinus anterior yang bergabung di infundibulum ethmoid dialirkan ke nasofaring di depan muara tuba Eustachius.

-

Lendir yang berasal dari kelompok sinus posterior bergabung di resesus sphenoetmoidalis dialirkan ke nasofaring di postero-superior muara tuba.

Inilah sebabnya pada sinusitis didapati post nasal drip tetapi belum tentu ada sekret di rongga hidung. Fungsi dari sistim mukosiliar ini dapat diketahui dengan metode yang dilakukan oleh Quinlan et al (1969) dengan memberikan partikel radioisotop berlabel pada mukosa hidung anterior dan melacaknya dengan gamma camera, namun hal ini tak rutin dilakukan.

Gambar 8. Struktur halus seperti rambut (silia) pada mukosa sinus membantu drainase mukus

2.3. FISIOLOGI 2.3.1 HIDUNG Fungsi hidung ialah untuk : 1. Jalan napas Berperan pada saat melakukan inspirasi maupun ekspirasi. 2. Alat pengatur kondisi udara (air-conditioning) Fungsi hidung sebagai pengatur kondisi udara perlu untuk mempersiapkan udara yang akan masuk ke dalam alveolus paru. Fungsi ini dilakukan dengan cara mengatur kelembaban udara dan mengatur suhu. Pengaturan kelembaban udara dilakukan oleh palut lendir (mucous blanket). Pengaturan suhu dimungknkan karena banyaknya pembuluh darah di bawah epitel dan adanya permukaan konka dan septum yang luas. 3. Penyaring udara Fungsi ini untuk membersihkan udara inspirasi dari debu dan bakteri. Dilakukan oleh : rambut (vibrissae), silia, palut lendir (mucous blanket).

4. Sebagai indera penghidu Dengan adanya mukosa olfaktorius pada atap rongga hidung, konka superior dan sepertiga bagian atas septum. 5. Untuk resonansi suara Reonansi penting untuk bersuara atau menyanyi. 6. Turut membantu proses bicara Pada pembentukkan konsonan nasal (m,n,ng) rongga mulut tertutup dan hidung terbuka,palatum molle turun untuk aliran udara. 7. Refleks nasal Mukoa hidung merupakan reseptor refleks yang berhubungan dengan saluran cerna,ardiovaskler dan pernafasan.3

2.3.2 SINUS PARANASALIS Sinus tidak mempunyai fungsi fisiologis yang nyata. Negus mengatakan bahwa sinus berfungsi sebagai indra penghidu dengan jalan memudahkan perluasan dari etmokonka, terutama sinus frontalis dan sfenoidalis. Etmokonka yang dilapisi epitel penghidu dapat ditemukan pada beberapa binatang rendah. Pada manusia, sinus biasanya kosong dan indra penghidu kita jauh lebih rendah dari misalnya anjing dan kucing; etmokonka manusia jelas telah menghilang selama proses evolusi. Fungsi dari sinus paranasal ada beberapa yaitu: Sebagai pengatur kondisi udara Sebagai penahan suhu Membantu keseimbangan Membantu resonansi suara Peredam perubahan tekanan udara Membantu memproduksi mukus untuk membersihkan rongga hidung

2.4. DEFINISI Rinitis adalah radang akut pada mukosa hidung yang disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri. 4 Sinusitis adalah radang mukosa sinus paranasal, bila mengenai beberapa sinus disebut multisinusitis, sedangkan bila mengenai semua sinus paranasal disebut pansinusitis.

Sinus sendiri adalah rongga udara yang terdapat di area wajah yang terhubung dengan hidung. Sesuai dengan anatomi sinus yang terkena dapat dibagi menjadi sinusitis maksila, sinusitis ethmoid, sinusitis frontal dan sinusitis sfenoid. Paling sering ditemukan ialah sinusitis maksila dan sinusitis ethmoid, sedangkan sinusitis frontal dan sinisitis sfenoid lebih jarang. Pada anak hanya sinus maksila dan sinus ethmoid yang berkembang, sedangkan sinus frontal dan sinus sfenoid belum.7 Sinusitis paling sering mengenai sinus maksila (Antrum Highmore), karena merupakan sinus paranasal yang terbesar, letak ostiumnya lebih tinggi dari dasar, sehingga aliran sekret (drenase) dari sinus maksila hanya tergantung dari gerakan silia, dasar sinus maksila adalah dasar akar gigi (prosesus alveolaris), sehingga infeksi gigi dapat menyebabkan sinusitis maksila, ostium sinus maksila terletak di meatus medius di sekitar hiatus semilunaris yang sempit sehingga mudah tersumbat.

2.5. KLASIFIKASI 2.5.1 KLASIFIKASI RHINITIS 1. Rhinitis akut Rinitis akut merupakan infeksi saluran napas atas terutama hidung, umumnya disebabkan oleh virus. Sebagian besar yang mencakup virus, meliputi rhinovirus, Respiratory syncytial viruses (RSV), ECHO, virus parainfluenza, virus influenza, dan adenovirus. selain virus, bakteri juga berperan dalam menyebabkan terjadinya rhinitis seperti S.aureus, Streptococcus, dan Pneumococus. Berikut adalah jenis-jenis rhinitis akut : rhinitis simpleks disebabkan oleh virus A,B, dan C dari golongan ortomiksovirus. Gejalanya adalah bersin, sekret hidung berair, hidung tersumbat tanpa adanya factor pencetus, dapat juga disertai demam dan nyeri kepala. rhinitis supuratif biasanya merupakan infeksi bakteri sekunder pada orang dewasa dan sering disertai dengan sinusitis bakterialis. Bakteri yang berperan pada umumnya adalah Pneumococcus, streptococcus, dan staphylococcus. Gejala yang muncul umumnya mirip seperti rhinitis simpleks namun biasanya ingus menjadi lebih kental (terkadang mengandung pus) dan sumbatan hidung menjadi lebih bertambah.5

2. Rhinitis kronik o rhinitis alergika karena rhinitis ini disebabkan oleh alergi maka pada umunya gejala yang dapat timbul adalah hidung yang gatal/ingusan, bersin yang pada umunya dicetuskan oleh paparan alergen, dan hidung yang buntu/mampet. Gejalagejala alergi lain termasuk: o telinga-telinga dan tenggorokan yang gatal, o mata-mata yang merah/berair o batuk o kelelahan/kehilangan kekurangan tidur o sakit-sakit kepala Seasonal allergic rhinitis (hay fever) Biasanya disebabkan oleh serbuk sari di udara, dan pasien-pasien yang sensitif mempunyai gejala-gejala selama musim tahun itu. Perennial alergik rhinitis Biasanya disebabkan oleh allergens dalam rumah seperti debu dan binatang. Gejala-gejala yang timbul sewaktu-waktu (tidak tergantung musim) o rhinitis non alergika rhinitis atrofi adalah rhinitis kronik dimana terjadi atrofi dari membrane mucus dan tulang konka. Awalnya mengenai mukosa hidung dimana terdapat beberapa daerah metaplasia yang kering dan tipis serta terbentuk krusta kecil serta secret yang kental dan dapat juga terjadi ulserasi ringan dan perdarahan. Penyebabnya masih belum diketahui namun beberapa factor yang dianggap sebagai penyebab adalah infeksi kuman, defisiensi Fe, defisiensi vitamin A, sinusitis kronis, kelainan hormonal. Gejala yang timbul biasanya berupa nafs berbau, ingus kental berwarna konsentrasi/kehilangan energi dari

hijau, ada krusta hijau, ganguan penciuman, sakit kepala, dan hidung tersumbat.

Gambar 9. Rhinitis Atrofika rhinitis vasomotor rhinitis vasomotor diperkirakan terjadi karena pengaturan yang abnormal dari aliran darah hidung dan mungkin diinduksi oleh fluktuasi-fluktuasi temperatur di lingkungan seperti, udara yang dingin atau kering, atau irritants seperti: o polusi udara, o asap/kabut, o asap tembakau, o o asap mobil, atau bau-bau kuat seperti, detergents atau fragrances (bau-bau wangi)

rhinitis medikamentosa Kelainan ini merupakan akibat dari pemakaian vasokontriktor topikal (obat tetes hidung atau obat semprot hidung) dalam waktu lama dan berlebihan, sehingga menyebabkan sumbatan hidung yang menetap. Rhinitis medikamentosa dikenal juga dengan rebound atau rhinitis kimia karena menggambarkan kongesti mukosa hidung yang diakibatkan penggunaan vasokontriksi topikal yang berlebihan. Obatobatan lain yang bisa mempengaruhi keseimbangan vasomotor adalah antagonis -adrenoreseptor oral, inhibitor fosfodiester, kontrasepsi pil, dan antihipertensi. Tetapi mekanisme terjadinya kongesti antara vasokontriktor hidung dengan obat-obat di atas berbeda sehingga istilah rhinitis medikamentosa hanya untuk rhinitis yang disebabkan

oleh penggunaan vasokontiktor topikal sedangkan yang disebabkan oleh obat-obat oral dinamakan rhinitis yang dicetuskan oleh obat (drug induced rhinitis). Gejala dapat berupa hdung tersumbat terus menerus dan berair. Pada pemeriksaan tampak edema konka dengan secret hidung yang berlebihan. rhinitis hipertrofik rhinitis hipertrofik ditandai dengan adanya pembengkakan jaringan lunak, secret yang banyak, hipertrofi mukosa, penebalan periosteum, serta pembetukan tulang baru. Timbul akibat infeksi hidung akut yang berulang atau serangan sinusitis supuratif yang berulang, dapat juga akrena lanjutan dari rhinitis alergi dan vasomotor. Gejala utamanya adalah sumbatan hidung, secret biasanya banyak berupa mukpurulen, dan sering sakit kepala. rhinitis sicca rhinitis sicca sering dianggap sebagai suatu gangguan atau perubahan faal hidung yang dipengaruhi oleh perubahan lingkungan terutama udara inspirasi yang kering. Pada rhinitis ini biasanya krusta sedikit atau tidak ada. Gejala yang timbul seperti rasa iritasi atau kering di hidung yang terkadang disertai dengan epistaksis.5

Gambar 10. Rhinitis Sicca 2.5.2 KLASIFIKASI SINUSITIS Sinusitis Non-Infeksiosa : - Barosinusitis - Sinusitis Alergika

Penyakit Sinus Kongenital : - Agenesis Sinus - Sindrom Kartagener : kelainan autosomal resesif berupa situs invertus, bronkiektasis, dan sinusitis. - Fibrosis Kistik : kelainan autosomal resesif, disebut juga mukovisidosis.

Penyakit Sinus Traumatik : Fraktur sinus frontalis, fraktur nasoetmoidalis, fraktur tulang pipi pada umumnya berhubungan dengan sinus paranasalis sehingga merupakan fraktur terbuka.

Penyakit Sinus Neoplastik : Osteoma : tumor jinak yang berkembang di dalam sinus - paling sering pada sinus frontalis

Kategori klinis bagi rinosinusitis sebagian besar didasarkan pada durasi dari gejala yang timbul : Akut (12 minggu), akut-rekuren (>4 episode/tahun tanpa tanda-tanda intervensi), kronik eksaserbasi akut (perburukan tibatiba dari sinusitis kronik). Klasifikasi ini hanya didasarkan atas gejala dan hanya dipakai dalam panduan tata laksana.

Kategori sinusitis fungal : - Sinusitis Fungal Invasif Ganas Akut durasinya