Home >Documents >REFERAT THT Bismilllah

REFERAT THT Bismilllah

Date post:31-Jul-2015
Category:
View:225 times
Download:5 times
Share this document with a friend
Transcript:

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tonsilitis kronis merupakan peradangan kronik pada tonsil yang biasanya merupakan kelanjutan dari infeksi akut berulang atau infeksi subklinis dari tonsil. Kelainan ini merupakan kelainan tersering pada anak di bidang THT. Pada tonsilitis kronis, ukuran tonsil dapat membesar sedemikian sehingga disebut tonsilitis kronis hipertrofi. Infeksi pada tonsil merupakan masalah yang cukup sering dalam populasi penduduk. Keluhan yang ditimbulkan berupa nyeri menelan, demam, obstruksi jalan napas dan otitis media merupakan alasan penderita berobat. Berdasarkan data epidemiologi penyakit THT pada 7 provinsi (Indonesia) pada tahun 19941996 prevalensi tonsillitis kronik sebesar 3,8% tertinggi kedua setelah nasofaringitis akut (4,6%). Di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar jumlah kunjungan baru dengan tonsillitis kronik mulai Juni 2008Mei 2009 sebanyak 63 orang. Apabila dibandingkan dengan jumlah kunjungan baru pada periode yang sama, maka angka ini merupakan 4,7% dari seluruh jumlah kunjungan baru.1 Tonsil adalah jaringan limfoid yang mengandung limfosit B, limfosit T dan sel plasma. Sentrum germinativum tonsil menghasilkan berbagai macam imunoglobulin meliputi Ig G, Ig M, Ig A, Ig D dan Ig E.2 Ig A sekretori (s-IgA merupakan imunoglobulin terbanyak dalam saliva, yang dapat mencegah penetrasi antigen melalui mukosa rongga mulut. Tonsilektomi sudah sejak lama merupakan kontroversi di berbagai kalangan, baik awam maupun profesi.2 Tonsilitis kronis dengan hipertrofi tonsil dapat menyebabkan berbagai gangguan tidur, seperti mendengkur sampai dengan terjadinya apnea obstruktif sewaktu tidur (Obstructive Sleep apnea). Obstructive sleep apnea atau OSA merupakan kondisi medik yang serius, ditandai dengan episode obstruksi saluran napas atas selama tidur sehingga menyebabkan berkurangnya asupan

1

oksigen secara periodik. Beberapa ahli memperkirakan kelainan ini secara epidemiologi merupakan kelainan yang umum di masyarakat, namun sering tidak terdiagnosis.2 Meskipun tonsilitis kronis masih merupakan alasan paling umum untuk operasi tonsilektomi, namun, kriteria histopatologi untuk infeksi ini belum diteliti dengan baik. Semua penyelidikan yang terbatas pada pusat, folikel limfoid germinal dan kriptus, daripada menyelidiki perubahan di daerah tonsil termasuk epitel permukaan.2 Untuk pertama kalinya Susan McClory et al (2012), para peneliti telah menemukan bahwa tonsil melakukan kerja yang tidak diduga sebelumnya, yaitu sumber penting dari sel-sel imun yang dikenal sebagai T-sel yang sebelumnya diyakini bahwa sel T berasal dari Timus. Susan McClory et al (2012) menganalisis jaringan tonsil diperoleh dari anak-anak yang menjalani tonsilektomi rutin di Rumah Sakit Anak Nationwide di OSU.3 Hingga saat ini, manfaat respon imun tonsil pada kejadian tonsilitis kronis masih belum jelas. Dengan demikian, tindakan tonsilektomi masih belum sepenuhnya jelas dalam hal ini, sehingga perlu kajian lebih lanjut.3, 4. Selama beberapa generasi, tonsilektomi adalah sedikit dari ritus perjalanan untuk anak-anak di AS. Pada puncak popularitas di sekitar tahun 1960, sebuah tonsilektomi dilakukan setiap 30 detik di negara ini, terhitung lebih dari satu juta operasi per tahun. 3 Tindakan ATE (adenotonsilektomi) juga sering dilakukan oleh spesialis THT di Indonesia. Data selama tahun 2002 di RSUD dr. Moewardi Surakarta telah dilakukan tindakan ATE dan Tonsilektomi (TE) sebanyak 220 di antara 501 tindakan atau operasi THT yang lain. Lebih dari 65% penderita yang dilakukan tindakan ATE atau TE berumur antara 2 sampai 15 tahun. Tindakan ATE dilakukan atas dasar indikasi klinis dan kasus demi kasus (Bicknell, 1994). Selama ini indikasi tindakan ATE berdasar atas hasil pemeriksaan klinis. Dengan demikian dasar pertimbangan dilakukan ATE masih bersifat subjektif. Gejala obstruksi menghilang setelah dilakukan tindakan ATE.2

2

B. Rumusan Masalah Rumusan masalah pada penulisan ini adalah : Bagaimanakah respon imun tonsil pada kejadian tonsilitis kronis? C. Tujuan Penulisan Penulis berharap dapat menjelaskan tinjauan secara umum tentang respon imun tonsil pada kejadian tonsilitis kronis

3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Anatomi Tonsil Tonsil merupakan suatu akumulasi dari limfonoduli permanen yang letaknya di bawah epitel yang telah terorganisir sebagai suatu organ. Pada tonsil terdapat epitel permukaan yang ditunjang oleh jaringan ikat retikuler dan kapsul jaringan ikat serta kripte di dalamnya. tonsil dibagi menjadi sebagai berikut : 1. Tonsilla lingualis, terletak pada radix linguae. 2. Tonsilla palatina (tonsil), terletak pada isthmus faucium antara arcus glossopalatinus dan arcus glossopharingicus. 3. Tonsilla pharingica (adenoid), terletak pada dinding dorsal dari nasofaring. 4. Tonsilla tubaria, terletak pada bagian lateral nasofaring di sekitar ostium tubaauditiva. 5. Plaques dari peyer, terletak pada ileum1,5

Berdasarkan lokasinya,

Dari kelima macam tonsil tersebut, Tonsilla lingualis, Tonsilla palatina, Tonsilla pharingica, dan Tonsilla tubaria membentuk cincin jaringan limfe pada pintu masuk saluran nafas dan saluran pencernaan. Cincin ini dikenal dengan nama cincin Waldeyer. Kumpulan jaringan ini melindungi anak terhadap infeksi melalui udara dan makanan. Jaringan limfe pada cincin waldeyer menjadi hipertrofi fisiologis pada masa kanak-kanak, adenoid pada umur 3 tahun dan tonsil pada umur 5 tahun dan kemudian menjadi atrofi pada masa pubertas.Jaringan limfoid pada cincin waldeyer berperan penting pada awal kehidupan, yaitu sebagai daya pertahanan lokal yang setiap saat berhubungan dengan agen dari luar (makan,minum, bernafas) dan sebagai surveilens imun. Fungsi ini didukung secara anatomis dimana didaerah faring terjadi tikungan jalannya material yang melewatinya disamping itu bentuknya tidak datar, sehingga terjadi turbulensi khususnya udara pernafasan. Dengan demikian kesempatan kontak berbagai agen yang ikut dalam proses fisiologis tersebut pada permukaan penyusun cincin waldeyer itu semakin besar.5

4

Tonsil palatina dan adenoid (tonsil faringeal) merupakan bagian terpenting dari cincin waldeyer. Tonsil palatina adalah masa jaringan limfoid yang terletak di dalam fossa tonsil pada kedua sudut orofaring dan dibatasi oleh m. palatoglosus (di anterior) dan m. palatofaringeus (di posterior). Adapun struktur yang terdapat disekitar tonsila palatina adalah:

Anterior : arcus palatoglossus Posterior : arcus palatopharyngeus Superior : palatum mole Inferior : 1/3 posterior lidah Medial : ruang orofaring Lateral : kapsul dipisahkan oleh m. constrictor pharyngis superior oleh jaringan areolar longgar. A. carotis interna terletak 2,5 cm di belakang dan lateral tonsila.

Gambar 1. Anatomi Tonsil

5

Gambar 2. Histologi Tonsil Tonsil berbentuk oval dengan panjang 2-5 cm, masing-masing tonsil mempunyai 10 -30 kriptus yang meluas kedalam jaringan tonsil. Tonsil tidak mengisi seluruh fosa tonsilaris,daerah yang kosong di atasnya dikenal sebagai fossa supratonsilaris. Bagian luar tonsilterikat longgar pada muskulus konstriktor faring superior, sehingga tertekan setiap kalimakan. Walaupun tonsil terletak di orofaring karena perkembangan yang berlebih tonsil dapat meluas ke arah nasofaring sehingga dapat menimbulkan insufisiensi velofaring atau obstruksihidung walau jarang ditemukan. Arah perkembangan tonsil tersering adalah ke arah hipofaring, sehingga sering menyebabkan terjaganya anak saat tidur karena gangguan pada jalan nafas. Secara mikroskopik mengandung 3 unsur utama yaitu 1) Jaringan ikat/trabekula sebagai rangka penunjang pembuluh darah, saraf dan limfa. 2) Folikel germinativum dan sebagai pusat pembentukan sel limfoid muda. 3) Jaringan interfolikuler yang terdiri dari jaringan limfoid dalam berbagaistadium Tonsil merupakan jaringan limfoid yang mengandung sel limfosit, 0,1-0,2 % dari keseluruhan limfosit tubuh pada orang dewasa. Proporsi limfosit B dan T pada tonsil adalah 50%:50%, sedangkan di darah 5557%:15-30%. Pada tonsil terdapat sistem imun kompleks yang terdiri atas sel

6

M (sel membrane), makrofag, sel dendrit dan APCs (antigen precenting cells) yang berperan dalam proses transportasi antigen ke sel limfosit sehingga terjadi sintesis immunoglobulin spesifik. Juga terdapat sel limfosit B, limfosit T, sel plasma dan sel pembawa IgG. Tonsil merupakan organ limfatik sekunder yang diperlukan untuk diferensiasi dan proliferasi limfosit yang sudah disensitisasi. 5

B. Imunologi Tonsil Tonsil merupakan salah satu bagian dari sistem kekebalan, yang berpartisipasi dalam rekognisi dan penolakan dari material asing dan organisme.6 Tonsil terletak pada jalan masuk respiratorik dan pencernaan dimana mereka terus menerus diserang antigen, tidak seperti kelenjar limfe umumnya, dimana menerima antigen melalui aliran darah. Pada dasar dari kripte tonsiler ada microphore cell (sel M) dengan sistem tubulovesicular untuk transport antigen. Selain itu, ada mikropor yang ditemukan di dinding kripte, yang masih belum diketahui apakah fisiologis atau pathologis.6 Berdasarkan analogi dengan peristiwa yang terjadi pada MALT (The mucosal associated lymphoid tissues), dimana MALT mempunyai fungsi utama adalah menghasilkan dan penyebaran dari sel B yang telah disensitisasi antigen yang membutuhkan sinyal kedua untuk differensiasi terminal menjadi sel plasma yang menghasilkan antibodi pada berbagai jaringan sekretorik.6,7

Demikian pula, tonsil mungkin berfungsi dengan cara yang sama. Di dalam tonsil, antigen dibawa pada sel yang memproses antigen, yang merupakan sel yang serupa dengan makrofag, yang mempresentasiken ke sel T helper dan sel B. Hal ini akan menjadi konstituen utama dari pusat germinal yang ada di tonsil (gambar 3 dan 4).

7

Gambar 3 Tonsil manusia memperlihatkan MALT. Sejumlah pusat germinal yang sering ditemukan pada jaringan limfoid tonsil.

Gambar 4. Folikel limfoid sekun

Click here to load reader

Embed Size (px)
Recommended