Referat THT

Date post:27-Sep-2015
Category:
View:29 times
Download:7 times
Share this document with a friend
Description:
THT
Transcript:

TONSILITISA. DefinisiTonsil adalah kelenjar getah bening di mulut bagian belakang (di puncak tenggorokan). Tonsil berfungsi membantu menyaring bakteri dan mikroorganisme lainnya sebagai tindakan pencegahan terhadap infeksiTonsilitis merupakan peradangan pada tonsil yang disebabkan oleh bakteri atau kuman Streptococcus beta hemolyticus, Streptococcus viridans dan Streptococcus pyogenes dapat juga disebabkan oleh virus.1. Tonsillitis AkutMerupakan radang pada tonsil yang timbulnya cepat, atau berlangsung dalam waktu pendek (tidak lama), dalam kurun waktu jam, hari hingga minggu. Tonsilitis akut dibagi menjadi 2 jenis berdasarkan etiologi, yaitu :a. Tonsilitis viral

Tonsilitis viral ini lebih menyerupaicommon cold yang disertai rasa nyeri tenggorok. Penyebab paling tersering adalah virus Epstein Barr.

b. Tonsilitis Bakterial

Radang akut tonsil dapat disebabkan kuman Streptococcus beta hemoliticus grup A yang dikenal sebagai strept throat, Pneumococcus, Streptococcus viridian dan Streptococcus piogenes.Infiltrasi bakteri pada lapisan epitel jaringan tonsil akan menimbulkan reaksi radang berupa keluarnya leukosit polimorfonuklear sehingga terbentuk detritus. Detritus ini merupakan kumpulan leukosit, bakteri yang mati dan epitel yang terlepas. Secara klinis detritus ini mengisi kripte tonsil dan tampak sebagai bercak kekuningan.Dari keduatonsilitis viral dan tonsilitis bakterial dapat menimbulkan gejala lanjutan dari tonsilitis akut, yaitu: 1) Tonsilitis folikularis dengan gejala tonsil membengkak dan hiperemis dengan permukaannya berbentuk bercak putih yang mengisi kripte tonsil yang disebut detritus.

Infiltrat peritonsiler dengan gejala perkembangan lanjut dari tonsilitis akut. Perkembangan ini sampai ke palatum mole, tonsil menjadi terdorong ke tengah, rasa nyeri yang sangat hebat, air liur pun tidak bisa di telan.

2. Tonsilitis Kronik

Merupakan radang pada tonsil yang berlangsung lama (bulan atau tahun). Bakteri penyebab tonsilitis kronik sama dengan tonsilitis akut, namun kadang-kadang bakteri berubah menjadi bakteri golongan gram negatif.

Faktor predisposisi tonsilitis kronis antara lain rangsangan kronis rokok, makanan tertentu, higiene mulut yang buruk, pengaruh cuaca, kelelahan fisik, dan pengobatan tonsilitis akut yang tidak adekuat. Karena proses radangberulang maka epitel mukosa dan jaringan limfoid terkikis, sehingga pada proses penyembuhan jaringan limfoid diganti dengan jaringan parut yang mengerut sehingga ruang antara kelompok melebar yang akan diisi oleh detritus, proses ini meluas hingga menembus kapsul dan akhirnya timbul perlekatan dengan jaringan sekitar fosa tonsilaris. Saat pemeriksaan ditemukan tonsil membesar dengan permukaan tidak rata, kripte membesar dan terisi detritus.

B. EtiologiPenyebab terserang tonsilitis akut adalah Streptococcus beta hemoliticus grup A. Bakteri lain yang juga dapat menyebabkan tonsilitis akut adalah Haemophilus influenza, Pneumococcus dan Staphyillococcus. Virus juga kadang-kadang ditemukan sebagai penyebab tonsilitis akut.C. PatofisiologiPada tonsilitis akut penularan terjadi melalui droplet dimana kuman menginfiltrasi lapisan epitel kemudian bila epitel ini terkikis maka jaringan limfoid superkistal bereaksi dimana terjadi pembendungan radang dengan infiltrasi leukosit polimorfonuklear.Tonsilitis kronik terjadi karena proses radang berulang maka Epitel mukosa dan jaringan limpold terkikis, sehingga pada proses penyembuhan jaringan limpold, diganti oleh jaringan parut. Jaringan ini akan mengerut sehingga ruang antara kelompok melebar (kriptus) yang akan di isi oleh detritus proses ini meluas hingga menembus kapsul dan akhirnya timbul purlengtan dengan jaringan sekitar fosa tonsilaris.Tonsil meradang dan membengkak, terdapat bercak abu-abu atau kekuningan pada permukaannya, dan jika berkumpul maka terbentuklah membran. Bercak-bercak tersebut adalah penumpukan leukosit, sel epitel yang mati, dan kuman kuman baik yang hidup maupun yang sudah mati.

D. Manisfestasi Klinis1. Penderita biasanya mengeluh sakit menelan, lesu seluruh tubuh, nyeri sendi, dan kadang atalgia sebagai nyeri alih dari Nervus IX2. Suhu tubuh sering mencapai 40C, terutama pada anak.3. Tonsil tampak bengkak, merah, dengan detritus berupa folikel atau membran. Pada anak, membran pad tonsil mungkin juga disebabkan oleh tonsilitis difteri.4. Pemeriksaan darah biasanya menunjukkan leukositosis.5. Pada tonsilitis kronik hipertrofi, tonsil membesar dengan permukaan tidak rata, kripta lebar berisi detritus. Tonsil melekat ke jaringan sekitarnya. Pada bentuk atrofi, tonsil kecil seperti terpendam dalam fosa tonsilaris.6. Gejala lainnya adalah demam, tidak enak badan, sakit kepala dan muntah.E. DiagnosisDiagnosis berdasarkan gejala klinik dan pemeriksaan fisik. Dengan bantuan spatel, lidah ditekan untuk melihat keadaan tonsil, yaitu warna, ukuran, muara kripte apakah melebar dan ada detritus, nyeri tekan, arkus anterior hiperemis atau tidak. Besar tonsil diperiksa sebagai berikut:

T0= tonsil berada di dalam fossa tonsil atau telah diangkat

T1= bila besarnya 1/4 jarak arkus anterior dan uvula

T2= bila besarnya 2/4 jarak arkus anterior dan uvula

T3= bila besarnya 3/4 jarak arkus anterior dan uvula

T4= bila besarnya mencapai arkus anterior atau lebih

Gambar 1. Ukuran tonsilPemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk memperkuat diagnosa tonsilitis akut adalah pemeriksaan laboratorium meliputi:leukosit terjadi peningkatan, hemoglobin terjadi penurunan, usap tonsil untuk pemeriksaan kultur bakteri dan tes sensitifitas obat, kultur dan uji resistensi bila perlu kultur dan uji resistensi kuman dari sediaan apus tonsil.F. PenatalaksanaanJika penyebabnya adalah bakteri, diberikan antibiotik per oral selama 10 hari. Jika anak mengalami kesulitan menelan bisa diberikan dalam bentuk suntikan.1. Penisilin V 1,5 juta IU 2 x sehari selama 5 hari atau 500 mg 3 x sehari.2. Pilihan lain adalah eritromisin 500 mg 3 x sehari atau amoksisilin 500 mg 3 x sehari yang diberikan selama 5 hari. Dosis pada anak: eritromisin 40 mg/kgBB/ hari, amoksisilin 30 50 mg/kgBB/hari.3. Tak perlu memulai antibiotik segera, penundaan 1 3 hari tidak meningkatkan komplikasi atau menunda penyembuhan penyakit.4. Antibiotik hanya sedikit memperpendek durasi gejala dan mengurangi risiko demam rematik.5. Bila suhu badan tinggi, penderita harus tirah baring dan dianjurkan untuk banyak minum. Makanan lunak diberikan selama penderita masih nyeri menelan.6. Analgetik (parasetamol dan ibuprofen adalah yang paling aman) lebih efektif daripada antibiotik dalam menghilangkan gejala. Nyeri faring bahkan dapat diterapi dengan spray lidokain.7. Pasien tidak lagi menularkan penyakit sesudah pemberian 1 hari antibiotik.8. Bila dicurigai adanya tonsilitis difteri, penderita harus segera diberi serum anti difteri (ADS), tetapi bila ada gejala sumbatan nafas, segera rujuk ke rumah sakit.9. Pada tonsilitis kronik, penting untuk memberikan nasihat agar menjauhi rangsangan yang dapat menimbulkan serangan tonsilitis akut, misalnya rokok, minuman/makanan yang merangsang, higiene mulut yang buruk, atau penggunaan obat kumur yang mengandung desinfektan.10. Bila terapi medikamentosa tidak berhasil dianjurkan terapi radikal dengan tonsilektomi.Indikasi tonsilektomi.

a. Relatif

1) Terjadi 3 episode atau lebih infeksi tonsil pertahun dengan terapi antibiotik adekuat.

2) Halitosis (nafas bau) akibat tonsilitis kronik yang tidak membaik dengan pemberian terapi medis.

3) Tonsilitis kronis atau berulang pada linier Streptokokkus yang tidak membaik dengan pemberian antibiotik.

b. Mutlak (Absolut)

1) Pembengkakan tonsil menyebabkan obstruksi saluran napas, disfagia berat, gangguan tidur dan komplikasi kardiopulmonal.

2) Abses peritonsil yang tidak membaik dengan pengobatan medis dan drainase.

3) Tonsilitis yang menimbulkan kejang demam

4) Tonsilitis yang membutuhkan biopsi untuk menentukan tempat yang dicurigai limfoma (keganasan)

5) Hipertropi tonsil atau adenoid dengan sindrom apnoe waktu tidur.

G. PrognosisGejala tonsilitis akibat radang biasanya menjadi lebih baik sekitar 2 atau 3 hari setelah pemberian antibiotik. Dapat berulang hingga menjadi kronis bila faktor predisposisi tidak dihindari.TULI KONDUKTIF DAN TULI SENSORINEURAL

TULI KONDUKTIF

A. DefinisiTuli konduktif atau conductive hearing loss (CHL) adalah jenis ketulian yang tidak dapat mendengar suara berfrekuensi rendah. Misalnya tidak dapat mendengar huruf U dari kata susu sehingga penderita mendengarnya ss. Biasanya gangguan ini reversible karena kelainannya terdapat di telinga luar dan telinga tengah.Tuli konduktif adalah kerusakan pada bagian telinga luar dan tengah, sehingga menghambat bunyi-bunyian yang akan masuk ke dalam telinga. Kelainan telinga luar yang menyebabkan tuli konduktif adalah otalgia, atresia liang telinga, sumbatan oleh serumen, otitis eksterna sirkumskripta, otitis eksterna maligna, dan osteoma liang teliga. Kelainan telinga tengah yang menyebabkan tuli konduktif ialah sumbatan tuba eustachius, otitis media, otosklerosis, timpanisklerosia, hemotimpanum, dan dislokasi tulang pendengaran.

B. EtiologiPada telinga luar dan telinga tengah proses degenerasi dapat menyebabkan perubahan atau kelainan diantaranya sebagai berikut :

1. Berkurangnya elastisitas dan bertambah besarnya ukuran daun telinga (pinna)

2. Atropi dan bertambah kakunya liang telinga

3. Penumpukan serumen

4. Membrane tympani bertambah tebal dan kaku

5. Kekuatan sendi tulang-tulang pendengaran

6. Kelainan bawaan (Kongenital)7. Atresia liang telinga, hipoplasia telinga tengah, kelainan posisi tulang-tulang pendengaran dan otosklerosis. Penyakit otosklerosis banyak ditemukan pada bangsa kulit putih.

8. Gangguan pendengaran yang didapat, misal otit

Click here to load reader

Embed Size (px)
Recommended