Home > Documents > Referat THT

Referat THT

Date post: 27-Sep-2015
Category:
Author: ulan-nopputri
View: 30 times
Download: 7 times
Share this document with a friend
Description:
THT
Embed Size (px)
of 73 /73
TONSILITIS A. Definisi Tonsil adalah kelenjar getah bening di mulut bagian belakang (di puncak tenggorokan). Tonsil berfungsi membantu menyaring bakteri dan mikroorganisme lainnya sebagai tindakan pencegahan terhadap infeksi Tonsilitis merupakan peradangan pada tonsil yang disebabkan oleh bakteri atau kuman Streptococcus beta hemolyticus, Streptococcus viridans dan Streptococcus pyogenes dapat juga disebabkan oleh virus. 1. Tonsillitis Akut Merupakan radang pada tonsil yang timbulnya cepat, atau berlangsung dalam waktu pendek (tidak lama), dalam kurun waktu jam, hari hingga minggu. Tonsilitis akut dibagi menjadi 2 jenis berdasarkan etiologi, yaitu : a. Tonsilitis viral Tonsilitis viral ini lebih menyerupai common cold yang disertai rasa nyeri tenggorok. Penyebab paling tersering adalah virus Epstein Barr. b. Tonsilitis Bakterial Radang akut tonsil dapat disebabkan kuman Streptococcus beta hemoliticus grup A yang dikenal sebagai Epi Nurafni/ H1A010043/ Koass THT Periode 8 171
Transcript

TONSILITISA. DefinisiTonsil adalah kelenjar getah bening di mulut bagian belakang (di puncak tenggorokan). Tonsil berfungsi membantu menyaring bakteri dan mikroorganisme lainnya sebagai tindakan pencegahan terhadap infeksiTonsilitis merupakan peradangan pada tonsil yang disebabkan oleh bakteri atau kuman Streptococcus beta hemolyticus, Streptococcus viridans dan Streptococcus pyogenes dapat juga disebabkan oleh virus.1. Tonsillitis AkutMerupakan radang pada tonsil yang timbulnya cepat, atau berlangsung dalam waktu pendek (tidak lama), dalam kurun waktu jam, hari hingga minggu. Tonsilitis akut dibagi menjadi 2 jenis berdasarkan etiologi, yaitu :a. Tonsilitis viral

Tonsilitis viral ini lebih menyerupaicommon cold yang disertai rasa nyeri tenggorok. Penyebab paling tersering adalah virus Epstein Barr.

b. Tonsilitis Bakterial

Radang akut tonsil dapat disebabkan kuman Streptococcus beta hemoliticus grup A yang dikenal sebagai strept throat, Pneumococcus, Streptococcus viridian dan Streptococcus piogenes.Infiltrasi bakteri pada lapisan epitel jaringan tonsil akan menimbulkan reaksi radang berupa keluarnya leukosit polimorfonuklear sehingga terbentuk detritus. Detritus ini merupakan kumpulan leukosit, bakteri yang mati dan epitel yang terlepas. Secara klinis detritus ini mengisi kripte tonsil dan tampak sebagai bercak kekuningan.Dari keduatonsilitis viral dan tonsilitis bakterial dapat menimbulkan gejala lanjutan dari tonsilitis akut, yaitu: 1) Tonsilitis folikularis dengan gejala tonsil membengkak dan hiperemis dengan permukaannya berbentuk bercak putih yang mengisi kripte tonsil yang disebut detritus.

Infiltrat peritonsiler dengan gejala perkembangan lanjut dari tonsilitis akut. Perkembangan ini sampai ke palatum mole, tonsil menjadi terdorong ke tengah, rasa nyeri yang sangat hebat, air liur pun tidak bisa di telan.

2. Tonsilitis Kronik

Merupakan radang pada tonsil yang berlangsung lama (bulan atau tahun). Bakteri penyebab tonsilitis kronik sama dengan tonsilitis akut, namun kadang-kadang bakteri berubah menjadi bakteri golongan gram negatif.

Faktor predisposisi tonsilitis kronis antara lain rangsangan kronis rokok, makanan tertentu, higiene mulut yang buruk, pengaruh cuaca, kelelahan fisik, dan pengobatan tonsilitis akut yang tidak adekuat. Karena proses radangberulang maka epitel mukosa dan jaringan limfoid terkikis, sehingga pada proses penyembuhan jaringan limfoid diganti dengan jaringan parut yang mengerut sehingga ruang antara kelompok melebar yang akan diisi oleh detritus, proses ini meluas hingga menembus kapsul dan akhirnya timbul perlekatan dengan jaringan sekitar fosa tonsilaris. Saat pemeriksaan ditemukan tonsil membesar dengan permukaan tidak rata, kripte membesar dan terisi detritus.

B. EtiologiPenyebab terserang tonsilitis akut adalah Streptococcus beta hemoliticus grup A. Bakteri lain yang juga dapat menyebabkan tonsilitis akut adalah Haemophilus influenza, Pneumococcus dan Staphyillococcus. Virus juga kadang-kadang ditemukan sebagai penyebab tonsilitis akut.C. PatofisiologiPada tonsilitis akut penularan terjadi melalui droplet dimana kuman menginfiltrasi lapisan epitel kemudian bila epitel ini terkikis maka jaringan limfoid superkistal bereaksi dimana terjadi pembendungan radang dengan infiltrasi leukosit polimorfonuklear.Tonsilitis kronik terjadi karena proses radang berulang maka Epitel mukosa dan jaringan limpold terkikis, sehingga pada proses penyembuhan jaringan limpold, diganti oleh jaringan parut. Jaringan ini akan mengerut sehingga ruang antara kelompok melebar (kriptus) yang akan di isi oleh detritus proses ini meluas hingga menembus kapsul dan akhirnya timbul purlengtan dengan jaringan sekitar fosa tonsilaris.Tonsil meradang dan membengkak, terdapat bercak abu-abu atau kekuningan pada permukaannya, dan jika berkumpul maka terbentuklah membran. Bercak-bercak tersebut adalah penumpukan leukosit, sel epitel yang mati, dan kuman kuman baik yang hidup maupun yang sudah mati.

D. Manisfestasi Klinis1. Penderita biasanya mengeluh sakit menelan, lesu seluruh tubuh, nyeri sendi, dan kadang atalgia sebagai nyeri alih dari Nervus IX2. Suhu tubuh sering mencapai 40C, terutama pada anak.3. Tonsil tampak bengkak, merah, dengan detritus berupa folikel atau membran. Pada anak, membran pad tonsil mungkin juga disebabkan oleh tonsilitis difteri.4. Pemeriksaan darah biasanya menunjukkan leukositosis.5. Pada tonsilitis kronik hipertrofi, tonsil membesar dengan permukaan tidak rata, kripta lebar berisi detritus. Tonsil melekat ke jaringan sekitarnya. Pada bentuk atrofi, tonsil kecil seperti terpendam dalam fosa tonsilaris.6. Gejala lainnya adalah demam, tidak enak badan, sakit kepala dan muntah.E. DiagnosisDiagnosis berdasarkan gejala klinik dan pemeriksaan fisik. Dengan bantuan spatel, lidah ditekan untuk melihat keadaan tonsil, yaitu warna, ukuran, muara kripte apakah melebar dan ada detritus, nyeri tekan, arkus anterior hiperemis atau tidak. Besar tonsil diperiksa sebagai berikut:

T0= tonsil berada di dalam fossa tonsil atau telah diangkat

T1= bila besarnya 1/4 jarak arkus anterior dan uvula

T2= bila besarnya 2/4 jarak arkus anterior dan uvula

T3= bila besarnya 3/4 jarak arkus anterior dan uvula

T4= bila besarnya mencapai arkus anterior atau lebih

Gambar 1. Ukuran tonsilPemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk memperkuat diagnosa tonsilitis akut adalah pemeriksaan laboratorium meliputi:leukosit terjadi peningkatan, hemoglobin terjadi penurunan, usap tonsil untuk pemeriksaan kultur bakteri dan tes sensitifitas obat, kultur dan uji resistensi bila perlu kultur dan uji resistensi kuman dari sediaan apus tonsil.F. PenatalaksanaanJika penyebabnya adalah bakteri, diberikan antibiotik per oral selama 10 hari. Jika anak mengalami kesulitan menelan bisa diberikan dalam bentuk suntikan.1. Penisilin V 1,5 juta IU 2 x sehari selama 5 hari atau 500 mg 3 x sehari.2. Pilihan lain adalah eritromisin 500 mg 3 x sehari atau amoksisilin 500 mg 3 x sehari yang diberikan selama 5 hari. Dosis pada anak: eritromisin 40 mg/kgBB/ hari, amoksisilin 30 50 mg/kgBB/hari.3. Tak perlu memulai antibiotik segera, penundaan 1 3 hari tidak meningkatkan komplikasi atau menunda penyembuhan penyakit.4. Antibiotik hanya sedikit memperpendek durasi gejala dan mengurangi risiko demam rematik.5. Bila suhu badan tinggi, penderita harus tirah baring dan dianjurkan untuk banyak minum. Makanan lunak diberikan selama penderita masih nyeri menelan.6. Analgetik (parasetamol dan ibuprofen adalah yang paling aman) lebih efektif daripada antibiotik dalam menghilangkan gejala. Nyeri faring bahkan dapat diterapi dengan spray lidokain.7. Pasien tidak lagi menularkan penyakit sesudah pemberian 1 hari antibiotik.8. Bila dicurigai adanya tonsilitis difteri, penderita harus segera diberi serum anti difteri (ADS), tetapi bila ada gejala sumbatan nafas, segera rujuk ke rumah sakit.9. Pada tonsilitis kronik, penting untuk memberikan nasihat agar menjauhi rangsangan yang dapat menimbulkan serangan tonsilitis akut, misalnya rokok, minuman/makanan yang merangsang, higiene mulut yang buruk, atau penggunaan obat kumur yang mengandung desinfektan.10. Bila terapi medikamentosa tidak berhasil dianjurkan terapi radikal dengan tonsilektomi.Indikasi tonsilektomi.

a. Relatif

1) Terjadi 3 episode atau lebih infeksi tonsil pertahun dengan terapi antibiotik adekuat.

2) Halitosis (nafas bau) akibat tonsilitis kronik yang tidak membaik dengan pemberian terapi medis.

3) Tonsilitis kronis atau berulang pada linier Streptokokkus yang tidak membaik dengan pemberian antibiotik.

b. Mutlak (Absolut)

1) Pembengkakan tonsil menyebabkan obstruksi saluran napas, disfagia berat, gangguan tidur dan komplikasi kardiopulmonal.

2) Abses peritonsil yang tidak membaik dengan pengobatan medis dan drainase.

3) Tonsilitis yang menimbulkan kejang demam

4) Tonsilitis yang membutuhkan biopsi untuk menentukan tempat yang dicurigai limfoma (keganasan)

5) Hipertropi tonsil atau adenoid dengan sindrom apnoe waktu tidur.

G. PrognosisGejala tonsilitis akibat radang biasanya menjadi lebih baik sekitar 2 atau 3 hari setelah pemberian antibiotik. Dapat berulang hingga menjadi kronis bila faktor predisposisi tidak dihindari.TULI KONDUKTIF DAN TULI SENSORINEURAL

TULI KONDUKTIF

A. DefinisiTuli konduktif atau conductive hearing loss (CHL) adalah jenis ketulian yang tidak dapat mendengar suara berfrekuensi rendah. Misalnya tidak dapat mendengar huruf U dari kata susu sehingga penderita mendengarnya ss. Biasanya gangguan ini reversible karena kelainannya terdapat di telinga luar dan telinga tengah.Tuli konduktif adalah kerusakan pada bagian telinga luar dan tengah, sehingga menghambat bunyi-bunyian yang akan masuk ke dalam telinga. Kelainan telinga luar yang menyebabkan tuli konduktif adalah otalgia, atresia liang telinga, sumbatan oleh serumen, otitis eksterna sirkumskripta, otitis eksterna maligna, dan osteoma liang teliga. Kelainan telinga tengah yang menyebabkan tuli konduktif ialah sumbatan tuba eustachius, otitis media, otosklerosis, timpanisklerosia, hemotimpanum, dan dislokasi tulang pendengaran.

B. EtiologiPada telinga luar dan telinga tengah proses degenerasi dapat menyebabkan perubahan atau kelainan diantaranya sebagai berikut :

1. Berkurangnya elastisitas dan bertambah besarnya ukuran daun telinga (pinna)

2. Atropi dan bertambah kakunya liang telinga

3. Penumpukan serumen

4. Membrane tympani bertambah tebal dan kaku

5. Kekuatan sendi tulang-tulang pendengaran

6. Kelainan bawaan (Kongenital)7. Atresia liang telinga, hipoplasia telinga tengah, kelainan posisi tulang-tulang pendengaran dan otosklerosis. Penyakit otosklerosis banyak ditemukan pada bangsa kulit putih.

8. Gangguan pendengaran yang didapat, misal otitis media

C. Manifestasi klinik1. rasa penuh pada telinga

2. pembengkakan pada telinga bagian tengah dan luar

3. rasa gatal

4. trauma

5. tinnitusD. PatofisiologiSaat terjadi trauma akan menimbulkan suatu peradangan bisa saja menimbulkan luka, nyeri kemudian terjadi penumpukan serumen atau otorrhea. Penumpukan serumen yang terjadi dapat mengakibatkan transmisi bunyi atau suara yang terganggu sehingga penderita tidak dapat mempersepsikan bunyi atau suara yang di dengarnya.

E. Pemeriksaan 1. Audiometri

2. X-rayF. PenatalaksanaanLiang telinga di bersihkan secara teratur. dapat diberikan larutan asam asetat 2-5 % dalam alcohol yang di teteskan ke liang teling atau salep anti jamur. Tes suara bisikan, Tes garputala.

TULI SENSORINEURALA. Definisi

Tuli sensorineural adalah kerusakan telinga bagian dalam dan hubungan saraf otak yang terbagi atas tuli sensorineural koklea dan tuli sensorineural retrokoklea. Tuli sensorineural koklea disebabkan aplasia, labirinitis, intoksikasi obat ototaksik atau alkohol.Dapat juga disebabkan tuli mendadak, tauma kapitis, trauma akustik dan pemaparan bising tuli sensorineural retrokoklea disebabkan neuoroma akustik, tumor sudut pons serebellum, mieloma multipel, cedera otak, perdarahan otak, dan kelainan otak lainnya.B. EtiogiFaktor-faktor resiko tinggi yang menjadi penyebab tuli sensorineural yaitu:

1. Tuli Bawaan (Genetik).

2. Tuli Rubella.

3. Tuli dan Kelahiran Prematur

4. Tuli Ototosik.C. KlasifikasiDibagi menjadi tuli sensori neural coklea atau retrokoklea.1. Tuli sensori neural cocleaa. Aplasia (kongenital)b. Labirintitis oleh bakteri/virusc. Intoksikasi obat streptomisin, kanamisin, garamisin, neomisin, kina, asetosal atau alkohol.d. Trauma kapitise. Trauma akustikf. Pemaparan bisingg. Presbicusis2. Tuli sensori neural retrokokleaNeuroma akustik, tumor sudut pons serebellum, cidera otak, dan perdarahan otak.D. Manifestasi klinisRasa tidak enak di telinga, tersumbat, dan pendengaran terganggu. Rasa nyeri akan timbul bila benda asing tersebut adalah serangga yang masuk dan bergerak serta melukai dinding liang telinga. Pada inspeksi telinga dengan atau tanpa corong telingaakan tampak benda asing tersebut.

E. Pemeriksaan 1. Pemeriksaan Dengan Garputala

Pada dewasa, pendengaran melalui hantaran udara dinilai dengan menempatkan garputala yang telah digetarkan di dekat telinga sehingga suara harus melewati udara agar sampai ke telinga. Penurunan fungsi pendengaran atau ambang pendengaran subnormal bisa menunjukkan adanya kelainan pada saluran telinga, telinga tengah, telinga dalam, sarat pendengaran atau jalur saraf pendengaran di otak.Pada dewasa, pendengaran melalui hantaran tulang dinilai dengan menempatkan ujung pegangan garputala yang telah digetarkan pada prosesus mastoideus.Getaran akan diteruskan ke seluruh tulang tengkorak, termasuk tulang koklea di telinga dalam. Koklea mengandung sel-sel rambut yang merubah getaran menjadi gelombang saraf, yang selanjutnya akan berjalan di sepanjang saraf pendengaran.

Pemeriksaan ini hanya menilai telinga dalam, saraf pendengaran dan jalur saraf pendengaran di otak. Jika pendengaran melalui hantaran udara menurun, tetapi pendengaran melalui hantaran tulang normal, dikatakan terjadi tuli konduktif.Jika pendengaran melalui hantaran udara dan tulang menurun, maka terjadi tuli sensorineural. Kadang pada seorang penderita, tuli konduktif dan sensorineural terjadi secara bersamaan

2. Audiometri

Audiometri dapat mengukur penurunan fungsi pendengaran secara tepat, yaitu dengan menggunakan suatu alat elektronik (audiometer) yang menghasilkan suara dengan ketinggian dan volume tertentu. Ambang pendengaran untuk serangkaian nada ditentukan dengan mengurangi volume dari setiap nada sehingga penderita tidak lagi dapat mendengarnya.Telinga kiri dan telinga kanan diperiksa secara terpisah.Untuk mengukur pendengaran melalui hantaran udara digunakan earphone, sedangkan untuk mengukur pendengaran melalui hantaran tulang digunakan sebuah alat yang digetarkan, yang kemudian diletakkan pada prosesus mastoideus.

3. Audiometri Ambang BicaraAudiometri ambang bicara mengukur seberapa keras suara harus diucapkan supaya bisa dimengerti. Kepada penderita diperdengarkan kata-kata yang terdiri dari 2 suku kata yang memiliki aksentuasi yang sama, pada volume tertentu. Dilakukan perekaman terhadap volume dimana penderita dapat mengulang separuh kata-kata yang diucapkan dengan benar.

4. Diskriminasi

Dengan diskriminasi dilakukan penilaian terhadap kemampuan untuk membedakan kata-kata yang bunyinya hampir sama. Digunakan kata-kata yang terdiri dari 1 suku kata, yang bunyinya hampir sama.Pada tuli konduktif, nilai diskriminasi (persentasi kata-kata yang diulang dengan benar)biasanya berada dalam batas normal.Pada tuli sensori, nilai diskriminasi berada di bawahnormal. Pada tuli neural, nilai diskriminasi berada jauh di bawah normal.

5. TimpanometriTimpanometri merupakan sejenis audiometri, yang mengukur impedansi (tahanan terhadap tekanan) pada telinga tengah.Timpanometri digunakan untuk membantu menentukan penyebab dari tuli konduktif. Prosedur in tidak memerlukan partisipasi aktif dari penderita dan biasanya digunakan padaanak-anak. Timpanometer terdiri dari sebuah mikrofon dan sebuah sumber suara yang terus menerus menghasilkan suara dan dipasang di saluran telinga. Dengan alat ini bisa diketahui berapa banyak suara yang melalui telinga tengah dan berapabanyak suara yang dipantulkan kembali sebagai perubahan tekanan di saluran telinga.Hasil pemeriksaan menunjukkan apakah masalahnya berupa: 1) penyumbatan tuba eustakius (saluran yang menghubungkan telinga tengah dengan hidung bagian belakang); 2) cairan di dalam telinga tengah; 3) kelainan pada rantai ketiga tulang pendengaran yang menghantarkan suara melalui telinga tengah.

Timpanometri juga bisa menunjukkan adanya perubahan pada kontraksi otot stapedius, yangmelekat pada tulang stapes (salah satu tulang pendengaran di telinga tengah). Dalam keadaan normal, otot ini memberikan respon terhadap suara-suara yang keras/gaduh(refleks akustik) sehingga mengurangi penghantaran suara dan melindungi telinga tengah.Jika terjadi penurunan fungsi pendengaran neural, maka refleks akustik akan berubah ataumenjadi lambat. Dengan refleks yang lambat, otot stapedius tidak dapat tetap berkontraksi selama telinga menerima suara yang gaduh.6. Respon Auditoris Batang OtakPemeriksaan ini mengukur gelombang saraf di otak yang timbul akibat rangsangan pada saraf pendengaran. Respon auditoris batang otak juga dapat digunakan untuk memantau fungsi otak tertentu pada penderita koma atau penderita yang menjalani pembedahan otak.

7. ElektrokokleografiElektrokokleografi digunakan untuk mengukur aktivitas koklea dan saraf pendengaran. Kadang pemeriksaan ini bisa membantu menentukan penyebab dari penurunan fungsi pendengaran sensorineural. Elektrokokleografi dan respon auditoris batang otak bisa digunakan untuk menilaipendengaran pada penderita yang tidak dapat atau tidak mau memberikan respon bawah sadarterhadap suara. Misalnya untuk mengetahui ketulian pada anak-anak dan bayi atau untuk memeriksa hipakusis psikogenik (orang yang berpura-pura tuli).Jalur saraf dari setiap telinga menyilang ke sisi otak yang berlawanan, karena itu kelainan pada otak kanan akan mempengaruhi pendengaran pada telinga kiri. Kelainan pada batang otak bisa mempengaruhi kemampuan dalam menggabungkan pesan yang tidak lengkap menjadi pesan yang bermakna dan dalam menentukan sumber suara.

Beberapa pemeriksaan yang khusus dilakukan pada anak anak adalah:

1. Free Field Test Dilakukan pada ruangan kedap suara dan diberikan rangsangan suara dalam berbagai frekuensi untuk menilai respons anak terhadap bunyi

2. Behavioral Observation (0 6 bulan)Pada pemeriksaan ini diamati respons terhadap sumber bunyi berupa perubahan sikap atau refleks pada bayi yang sedang diperiksa

3. Conditioned Test (2 4 tahun)

Anak dilatih untuk melakukan suatu kegiatan saat mendengar suara stimuli tertentu.

F. Tatalaksana

Pengobatan untuk penurunan fungsi pendengaran tergantung kepada penyebabnya. Jika penurunan fungsi pendengaran konduktif disebabkan oleh adanya cairan di telinga tengah atau kotoran di saluran telinga, maka dilakukan pembuangan cairan dan kotoran tersebut. Jika penyebabnya tidak dapat diatasi, maka digunakan alat bantu dengar atau kadang dilakukan pencangkokan koklea.

1. Alat bantu dengarAlat bantu dengar merupakan suatu alat elektronik yang dioperasikan dengan batere, yang berfungsi memperkuat dan merubah suara sehingga komunikasi bisa berjalan dengan lancar.

Berdasarkan hasil tes fungsi pendengaran, seorang audiologis bisa menentukan apakah penderita sudah memerlukan alat bantu dengar atau belum (audiologis adalah seorang profesional kesehatan yang ahli dalam mengenali dan menentukan beratnya gangguan fungsi pendengaran). Alat bantu dengar sangat membantu proses pendengaran dan pemahaman percakapan pada penderita penurunan fungsi pendengaran sensorineural. Ada beberapa macam alat bantu dengar, yaitu: 1) alat bantu dengar hantaran udara; 2) alat bantu dengar yang dipasang di badan; 3) alat bantu dengar yang dipasang di belakang telinga; 4) cros (contralateral routing of signals).

2. Pencangkokan kokleaPencangkokan koklea (implan koklea) dilakukan pada penderita tuli berat yang tidak dapat mendengar meskipun telah menggunakan alat bantu dengar. Alat ini dicangkokkan di bawah kulit di belakang telinga dan terdiri dari 4 bagian:

a. Sebuah mikrofon untuk menangkap suara dari sekitar

b. Sebuah prosesor percakapan yang berfungsi memilih dan mengubah suara yang tertangkap oleh mikrofon c. Sebuah transmiter dan stimulator/penerima yang berfungsi menerima sinyal dari prosesor percakapan dan merubahnya menjadi gelombang listrik d. Elektroda, berfungsi mengumpulkan gelombang dari stimulator dan mengirimnya ke otak.

Suatu implan tidak mengembalikan ataupun menciptakan fungsi pendengaran yang normal, tetapi bisa memberikan pemahaman auditoris kepada penderita tuli dan membantu mereka dalam memahami percakapan. Implan koklea sangat berbeda dengan alat bantu dengar. Alat bantu dengar berfungsi memperkeras suara. Implan koklea menggantikan fungsi dari bagian telinga dalam yang mengalami kerusakan.

Jika fungsi pendengaran normal, gelombang suara diubah menjadi gelombang listrik oleh telinga dalam.Gelombang listrik ini lalu dikirim ke otak dan kita menerimanya sebagai suara. Implan koklea bekerja dengan cara yang sama. Secara elektronik, implan koklea menemukan bunyi yang berarti dan kemudian mengirimnya ke otak.

KARSINOMA LARING

A. Definisi

Karsinoma laring merupakan keganasan yang sering terjadi pada saluran nafas dan masih merupakan masalah karena penanggulannnya mencakup berbagai segi.

B. Etiologi

Penyebab pasti sampai saat ini belum diketahui. Dikatakan oleh para ahli bahwa perokok dan peminum alkohol merupakan kelompok orang-orang denganresiko tinggi terhadap karsinoma laring. Merokok merupakan faktor risiko utamapada karsinoma laring dimana pada rokok terdapat 43 bahan karsinogen antaralain polisiklik hirokarbon, nitrosamin, radioaktif polonium-210.

Alkohol (etanol) jika dikombinasi dengan penggunaan rokok maka akanberpotensi untuk memberikan efek karsinogenik yang akan memudahkanpenetrasi zat karsinogenik dalam jaringan tubuh. Etanol juga mengganggu sintesisretinoid, derivat vitamin A yang mana zat ini memberikan efek protektif dari perkembangan sel kanker.

Virus yang dikaitkan dengan kejadian karsinoma laring yaitu HPV(Human Papilloma Virus) dan Eibstein Barr Virus. HPV dikatagorikan menjadirisiko tinggi (tipe 16,18), medium (tipe 31,33), risiko rendah (tipe 6,11). Faktor risiko lainnya adalah paparan debu kayu, sinar radio aktif, polusiudara, radiasi leher dan asbestosis.

C. Patofisiologi

Paparan karsinogenik berulang-ulang akan menyebabkan struktur DNA sel normal akan terganggu sehingga terjadi diferensiasi dan proliferasi abnormal. Adanya mutasi serta perubahan pada fungsi dan karakteristik sel berakibat padaburuknya sistem perbaikan sel dan terjadilah apoptosis serta kematian sel. Pro-onkogen akan terus meningkat sementara tumor supressor gene menurun, keadaan ini mengakibatkan proliferasi terus-menerus dari sel anaplastik yang akan mengambil suply oksigen, darah dan nutrien dari sel normal sehingga penderita akan mengalami penurunan berat badan. Selain itu akan terjadi penurunan serta destruksi komponen darah, penurunan trombosit menyebabkan gangguan perdarahan, penurunan jumlah eritrosit menyebabkan anemia dan penurunan leukosit menyebabkan gangguan status imunologi pasien. Proliferasi sel kanker yang terus berlanjut hingga membentuk suatu masa mengakibatkan kompresi pada pembuluh darah sekitar dan saraf sehingga terjadi odinofagi, disfagi, dan nyeri pada kartilago tiroid. Massa tersebut juga mengakibatkan hambatan pada jalan nafas. Iritasi pada nervus laringeus menyebabkan suara menjadi serak. Jika mutasiyang terjadi sangat progresif, kanker dapat bermetastasis ke jaringan sekitar dan kelenjar getah bening.

D. Klasifikasi

Berdasarkan Union International Centre le Cancer (UICC) 1982, klasifikasi dan stadium tumor ganas laring terbagi atas: 1. Supraglotis (30-35%); 2. Glotis (60-65%); 3. Subglotis (1%). Yang termasuk supraglotis adalah permukaan posterior epiglotis yang terletak di sekitar os hioid, lipatan ariepiglotik, aritenoid, epiglotis yang terletak dibawah os hioid, pita suara palsu, ventrikel. Yang termasuk glottis adalah pita suara asli, komisura anterior dan komisura posterior. Yang termasuk subglotis adalah dinding subglotis.

E. Manifestasi Klinis

1. Suara serak

Suara serak merupakan gejala paling dini tumor pita suara. Hal ini disebabkan karena ganguan fungsi fonasi laring. Kualitas nada sangat dipengaruhi oleh besar kecilnya celah glotik, besar pita suara, ketajaman tepi pita suara, kecepatan getaran, dan ketegangan pita suara. Pada tumor ganas laring, pita suara gagal berfungsi secara baik disebabkan ketidakteraturan pita suara, oklusi atau penyempitan celah glotik, terserangnya otot-otot vokalis, sendi dan ligamen krikoaritenoid, dan kadang-kadang menyerang saraf. Serak menyebabkan kualitas suara menjadi kasar, menganggu, sumbang, dan nadanya lebih rendah dari biasanya. Kadang bisa afoni karena nyeri, sumbatan jalan nafas, atau paralisis komplit.

Hubungan antara suara serak dengan tumor laring tergantung dari letaktumornya. Apabila tumbuh di pita suara asli, maka serak merupakan gejala dini dan menetap. Pada tumor subglotik dan supraglotik, serak dapat merupakan gejala akhir atau tidak muncul sama sekali.

2. Sesak nafas dan stridor

Terjadi karena adanya sumbatan jalan nafas oleh massa tumor, penumpukan kotoran atau sekret, maupun fiksasi pita suara. Adanya stridor dan dispnea adalah tanda prognosis kurang baik.3. Rasa nyeri di tenggorok

Keluhan bervariasi dari rasa goresan sampai rasa nyeri yang tajam.

4. Disfagia dan odinofagia

Merupakan ciri khas tumor pangkal lidah, supraglotik, hipofaring, hipofaring, dan sinus piriformis. Keluhan ini merupakan keluhan yang paling sering pada tumor ganas postkrikoid. Adanya odinofagi menandakan adanya tumor ganas lanjut yang mengenai struktur ekstra laring.

5. Batuk dan hemoptisis

Batuk jarang pada tumor ganas glotik, biasanya timbul dengan tertekannya hipofaring disertai sekret yang mengalir ke dalam laring. Sedangkan haemoptisis sering pada tumor ganas glotik dan supraglotik.

6. Nyeri alih telinga ipsilateral, halitosis, penurunan berat badan sertapembesaran kelenjar getah bening ddipertimbangkan sebagai perluasan tumorke luar laring atau metastasis jauh.

7. Nyeri tekan daerah laring

Gejala lanjut yang disebabkan oleh komplikasi supurasi tumor yang menyerang kartilago tiroid dan perikondrium.

F. Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan klinis.

1. Anamnesis

Pada anamnesis biasanya didapatkan keluhan suara parau yang diderita sudah cukup lama, tidak bersifat hilang-timbul meskipun sudah diobati dan makin lama menjadi berat. Penderita kebanyakan adalah seorang perokok berat, peminum alkohol atau seorang yang sering atau pernah terpapar sinar radioaktif, misalnya pernah diradiasi didaerah lain. Pada anamnesis kadang-kadang didapatkan hemoptisis, yang bisa tersamar bersamaan dengan adanya TBC paru, sebab banyak penderita menjelang tua dan dari sosial-ekonomi yang lemah.

2. Pemeriksaan fisik

Untuk melihat ke dalam laring dapat dilakukan dengan cara langsung maupun tak langsung dengan menggunakan laringoskop untukmenilai lokasi tumor, penyebaran tumor yang terlihat (field ofcancerisation). Selain itu dapat juga menggunakan fiber-optic laryngoscope dan flexible endoscope.

Gambar Karsinoma Laring3. Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan penunjang yang diperlukan selain pemeriksaan laboratorium darah, juga pemeriksaan radiologik. Foto torak diperlukan untuk menilai keadaan paru, ada tidaknya proses spesifik dan metastasis di paru. Pemeriksaan CT Scan laring dapat memperlihatkan keadaan tumor pada tulang rawan tiroid adan daerah pre-epiglotis serta metastasis kelenjar getah bening leher.

Diagnosis pasti ditegakkan dengan pemeriksaan patologikanatomik dari bahan biopsi laring, dan biopsi jarum halus pada pembesaran kelenjar getah bening di leher. Hasil patologi anatomik yang terbanyak adalah karsinoma sel skuamosa.

G. Tatalaksana

Secara umum ada 3 jenis penanggulangan karsinoma laring yaitu pembedahan, radiasi dan sitostatika, ataupun kombinasi.1. RadioterapiRadioterapi merupakan modalitas untuk mengobati tumor glotis dan supraglotis T1 dan T2 dengan hasil yang baik (angka kesembuhannya 90%). Keuntungan dengan cara ini adalah laring tidak cedera sehingga suara masih dapat dipertahankan. Dosis yang dianjurkan adalah 200 rad perhari sampai dosis total 6000-7000 rad.

Radioterapi dengan dosis menengah telah pula dilakukan oleh Ogura, Som, Wang, dkk, untuk tumor-tumor tertentu. Konsepnya adalah untukmemperoleh kerusakan maksimal dari tumor tanpa kerusakan yang tidak dapat disembuhkan pada jaringan yang melapisinya.

Komplikasi dari radiasi antara lain deskuamasi kulit, ulkus mukosa, suaraparau, striktur esofagus.

2. Pembedahan

a. Laringektomi: 1) Laringektomi parsial, diindikasikan untuk karsinoma laring stadium I yang tidak memungkinkan dilakukan radiasi, dan tumor stadium II; 2) Laringektomi total yaitu tindakan pengangkatan seluruh struktur laring mulai dari batas atas (epiglotis dan os hioid) sampai batas bawah cincin trakea.b. Diseksi leher radikal

Tidak dilakukan pada tumor glotis stadium dini (T1-T2) karena kemungkinan metastase ke kelenjar limfe leher sangat rendah. Sedangkan tumor supraglotis, subglotis dan tumor glotis stadium lanjut sering kali mengadakan metastase ke kelenjar limfe leher sehingga perlu dilakukan tindakan diseksi leher. Pembedahan ini tidakdisarankan bila telah terdapat metastase jauh.

Komplikasi dari pembedahan antara lain infeksi, perdarahan, fistel faring kutaneus, pneumonia aspirasi, stenosis stoma, faring dan esofagus serta dapat juga terjadi stenosis glotis dan supraglotis.

Gambar total laringektomi dengan diseksi radikal leher kiri

3. Kemoterapi

Diberikan pada tumor stadium lanjut, sebagai terapi adjuvant ataupunpaliatif. Obat yang diberikan adalah cisplatinum 80-120 mg/m2 dan 5 FU 800-1000 mg/m2.

4. Rehabilitasi

Rehabilitasi setelah operasi sangat penting karena telah diketahui bahwa tumor ganas laring yang diterapi dengan seksama memiliki prognosis yang baik. Rehabilitasi mencakup Vocal Rehabilitation, Vocational Rehabilitation dan Social Rehabilitation.

Laringektomi yang dikerjakan untuk mengobati karsinoma laring menyebabkan cacat pada pasien. Dengan dilakukannya pengangkatan laring beserta pita suara yang berada di dalamnya, maka pasien menjadi afonia dan bernafas melalui stoma permanen di leher.

Rehabilitasi suara dapat dilakukan dengan pertolongan alat bantu suara, yakni semacam vibrator yang ditempelkan di daerah submandibula, ataupun dengan suara yang dihasilkan dari esofagus melalui proses belajar.CORPUS ALIENUM

A. Definisi

Corpus alienum adalah benda asing yang berasal dari luar atau dalam tubuh yang dalam keadaan normal tidak ada pada tubuh.B. Jenis-jenisBenda asing yang berasal dari luar tubuh disebut benda asing eksogen, biasanya masuk melalui hidung atau mulut. Sedangkan yang berasal dari dalam tubuh disebut benda asing endogen. Benda asing eksogen terdiri dari benda padat, cair atau gas.Benda asing eksogen padat terdiri dari zat organic seperti kacang-kacangan (yang berasal dari tumbuhan-tumbuhan), tulang (yang berasal dari kerangka binatang) dan zat anorganik seperti paku, jarum, peniti, batu, dan lain-lain. Benda asing eksogen cair dibagi dalam benda cair yang bersifat iritatif, seperti zat kimia, dan benda cair non-iritatif, yaitu cairan dengan pH 7,4. Benda asing endogen dapat berupa secret kental, darah atau bekuan darah, nanah, krusta, perkijuan, membran difteri, bronkolit. Cairan amnion, mekonium dapat masuk ke dalam saluran napas bayi pada saat proses persalinan.

1. Benda Asing di TelingaLiang telinga luar terdiri dari cartilago dan tulang yang dilapisi oleh periosteum dan kulit. Bagian tulang merupakan bagian yang sangat sensitive. Karena itulah percobaan mengeluarkan benda asing di telinga terasa sangat sakit. Liang telinga luar menyempit pada bagian persambungan antara cartilago dan tulang. Benda asing dapat terjepit disini sehingga membuat semakin sulit pada pengangkatan benda asing. Percobaan mengambil benda asing dapat membuat benda tersebut semakin masuk kedalam dan tersangkut pada tempat penyempitan tersebut. Maka dari itu perlu pencahayaan yang kuat dan alat yang memadai. Biasanya alat yang digunakan adalah alat yang masuk ke telinga, magnet untuk bahan dari logam, irigasi telinga, dan mesin dengan alat hisap.

Gambar Letak predileksi benda asing di telinga

GejalaPada beberapa kasus pasien dengan benda asing di telinga adalah tanpa gejala, dan pada anak-anak ditemukan secara kebetulan. Pasien yang lain mungkin merasa sakit dengan gejala seperti otitis media, pendengaran berkurang, atau rasa penuh ditelinga. Beberapa kasus sering ditemukan pada anak-anak berumur kurang dari 8 tahun.Benda asing yang sering terdapat pada telinga adalah manik-manik, mainan plastik, kelereng, biji jagung.Serangga lebih sering pada pasien berumur lebih dari 10 tahun.Terkadang pada anak-anak umur kurang dari 10 tahun pengambilan benda asing perlu dilakukan anestesi umum.DiagnosaBenda asing dalam telinga dapat dilihat oleh dokter yang kompeten dengan langsung melihat ke dalam telinga menggunakan otoskop. Pada anak-anak perlu dicurigai adanya benda asing yang jumlahnya lebih dari satu ataupun lubang lain yang juga terlibat (mulut, dan hidung) yang juga harus diperiksa.PenatalaksanaanPada benda yang sangat kecil dapat dicoba untuk mengoyangkan secara hati-hati. Menarik pinna telinga kearah posterior meluruskan liang telinga dan benda asing dapat keluar dengan goncangan lembut pada telinga. Jika benda asing masuk lebih dalam maka perlu diangkat oleh dokter yang kompeten. Tidak dianjurkan untuk mengorek telinga sendiri karena dapat mendorong lebih kedalam dan menyebabkan ruptur membran timpani atau dapat melukai liang telinga. Beberapa tehnik di klinik pada pengeluaran benda asing di telinga: Forceps yang sudah dimodifikasi dapat digunakan untuk mengambil benda dengan bantuan otoskop

Suction dapat digunakan untuk menghisap benda

Irigasi liang telinga dengan air hangat dengan pipa kecil dapat membuat benda-benda keluar dari liang telinga dan membersihkan debris.

Penggunaan alat seperti magnet dapat digunakan untuk benda dari logam

Sedasi pada anak perlu dilakukan jika tidak dapat mentoleransi rasa sakit dan takut.

Serangga dalam liang telinga biasanya diberikan lidocain atau minyak, lalu diirigasi dengan air hangat.

Setelah benda asing keluar, diberikan antibiotik tetes selama lima hari sampai seminggu untuk mencegah infeksi dari trauma liang telinga.

2. Benda Asing di Hidung

Benda asing sebagai penyebab sumbatan hidung hampir selalu ditemukan pada anak-anak. Anak-anak cenderung memasukan benda-benda kecil dalam hidung. Benda asing yang lazim ditemukan adalah manik-manik, kancing, kacang, kelereng, dan karet penghapus.Bila benda tersebut belum lama dimasukan, maka tidak atau hanya sedikit mengganggu, kecuali bila benda tersebut tajam atau sangat besar.GejalaGejala yang lazim adalah obstruksi unilateral dan secret yang berbau.Benda asing umumnya ditemukan di anterior vestibulum atau pada meatus inferior sepanjang dasar hidung.Tidak satupun benda asing boleh dibiarkan dalam hidung oleh karena bahaya nekrosis dan infeksi sekunder yang mukin timbul, dan kemungkinan aspirasi kedalam saluran pernapasan bawah.

Gambar Letak predileksi benda asing di hidung

DiagnosaUntuk memeriksa hidung bagian dalam dapat digunakan speculum hidung dan penlight. Pada inspeksi akan telihat benda asing yang terjepit dalam hidung.

Gambar Pemeriksaan rhinoskopi anterior

PenatalaksanaanPengangkatan dapat dilakukan di klinik pada anak yang kooperatif, setelah sebelumnya dioleskan suatu anastetik topical dan vasokonstriktor misalnya kokain. Suatu kait buntu yang diselipkan di belakang benda tersebut atau suatu forsep alligator yang kecil akan sangat membantu. Kadang diperlukan anestesi umum untuk mengeluarkan benda tersebut.3. Benda Asing di Laring, Trakea, dan BronkusSetelah benda asing teraspirasi, maka benda asing tersebut dapat tersangkut pada 3 tempat anatomis yaitu, laring, trakea atau bronkus. Dari semua aspirasi benda asing, 8090% diantaranya terperangkap di bronkus dan cabang-cabangnya.

Pada orang dewasa, benda asing bronkus cenderung tersangkut di bronkus utama kanan, karena sudut konvergensinya yang lebih kecil dibandingkan bronkus utama kiri.

Benda asing yang lebih besar lebih banyak tersangkut di laring atau trakea

GejalaGejala sumbatan benda asing di dalam saluran napas tergantung pada lokasi benda asing, derajat sumbatan (total atau sebagian), sifat, bentuk dan ukuran benda asing. Benda asing yang masuk melalui hidung dapat tersangkut di hidung, nasofaring, laring, trakea dan bronkus. Benda yang masuk melalui mulut dapat tersangkut di orofaring, hipofaring, tonsil, dasar lidah, sinus piriformis, esofagus atau dapat juga tersedak masuk ke dalam laring, trakea dan bronkus. Gejala yang timbul bervariasi, dari tanpa gejala hingga kematian sebelum diberikan pertolongan akibat sumbatan total. Seseorang yang mengalami aspirasi benda asing saluran napas akan mengalami 3 stadium. Stadium pertama merupakan gejala permulaan yaitu batuk-batuk hebat secara tiba-tiba (violent paroxysms of coughing), rasa tercekik (choking), rasa tersumbat di tenggorok (gagging) dan obstruksi jalan napas yang terjadi dengan segera. Pada stadium kedua, gejala stadium permulaan diikuti oleh interval asimtomatis. Hal ini karena benda asing tersebut tersangkut, refleks-refleks akan melemah dan gejala rangsangan akut menghilang. Stadium ini berbahaya, sering menyebabkan keterlambatan diagnosis atau cenderung mengabaikan kemungkinan aspirasi benda asing karena gejala dan tanda yang tidak jelas. Pada stadium ketiga, telah terjadi gejala komplikasi dengan obstruksi, erosi atau infeksi sebagai akibat reaksi terhadap benda asing, sehingga timbul batuk-batuk, hemoptisis, pneumonia dan abses paru.Benda asing di laring dapat menutup laring, tersangkut di antara pita suara atau berada di subglotis. Gejala sumbatan laring tergantung pada besar, bentuk dan letak (posisi) benda asing.Sumbatan total di laring akan menimbulkan keadaan yang gawat biasanya kematian mendadak karena terjadi asfiksia dalam waktu singkat. Hal ini disebabkan oleh timbulnya spasme laring dengan gejala antara lain disfonia sampai afonia, apnea dan sianosis. Sumbatan tidak total di laring dapat menyebabkan disfonia sampai afonia, batuk yang disertai serak (croupy cough), odinofagia, mengi, sianosis, hemoptisis, dan rasa subjektif dari benda asing (penderita akan menunjuk lehernya sesuai dengan letak benda asing tersebut tersangkut) dan dispnea dengan derajat bervariasi. Gejala ini jelas bila benda asing masih tersangkut di laring, dapat juga benda asing sudah turun ke trakea, tetapi masih menyisakan reaksi laring oleh karena adanya edema.DiagnosaPada kasus benda asing di saluran napas dapat dilakukan pemeriksaan radiologis dan laboratorium untuk membantu menegakkan diagnosis. Benda asing yang bersifat radioopak dapat dibuat rongent foto segera setelah kejadian, benda asing radiolusen dibuatkan rongent foto setelah 24 jam kejadian, karena sebelum 24 jam kejadian belum menunjukkan gambaran radiologis yang berarti. Biasanya setelah 24 jam baru tampak tanda-tanda atelektasis atau emfisema. Video fluoroskopi merupakan cara terbaik untuk melihat saluran napas secara keseluruhan, dapat mengevaluasi pada saat ekspirasi dan inspirasi dan adanya obstruksi parsial. Pemeriksaan laboratorium darah diperlukan untuk mengetahui adanya gangguan keseimbangan asam basa, serta tanda-tanda infeksi saluran napas.Penatalaksanaan

Untuk dapat menanggulangi kasus aspirasi benda asing dengan cepat dan tepat, perlu diketahui dengan baik lokasi tersangkutnya benda asing tersebut. Secara prinsip benda asing di saluran napas dapat ditangani dengan pengangkatan segera secara endoskopik dengan trauma minimum. Umumnya penderita dengan aspirasi benda asing datang ke rumah sakit setelah melalui fase akut, sehingga pengangkatan secara endoskopik harus dipersiapkan seoptimal mungkin, baik dari segi alat maupun personal yang telah terlatih.Penderita dengan benda asing di laring harus mendapat pertolongan segera, karena asfiksia dapat terjadi dalam waktu hanya beberapa menit. Cara lain untuk mengeluarkan benda asing yang menyumbat laring secara total ialah dengan cara perasat dari Heimlich (Heimlichmaneuver), dapat dilakukan pada anak maupun dewasa. Menurut teori Heimlich, benda asing yang masuk ke dalam laring ialah pada saat inspirasi. Dengan demikian paru penuh dengan udara, diibaratkan sebagai botol plastik yang tertutup, dengan menekan botol itu, maka sumbatnya akan terlempar keluar. Komplikasi perasat Heimlich adalah kemungkinan terjadinya ruptur lambung atau hati dan fraktur kosta. Oleh karena itu pada anak sebaiknya cara menolongnya tidak dengan menggunakan kepalan tangan tetapi cukup dengan dua buah jari kiri dan kanan. Pada sumbatan benda asing tidak total di laring perasat Heimlich tidak dapat digunakan. Dalam hal ini penderita dapat dibawa ke rumah sakit terdekat yang memiliki fasilitas endoskopik berupa laringoskop dan bronkoskop.

Gambar Benda asing di laring pada pemeriksaan foto Rontgen

Gambar Duri ikan pada laring tampak pada endoskopi

Gambar Benda asing pada bronkus principalis dekstra

KARSINOMA PARANASAL

A. Anatomi

Sinus paranasal merupakan salah satu organ tubuh manusia yang sulit dideskripsikan karena bentuknya sangat bervariasi pada tiap individu. Ada empat pasang sinus paranasal, mulai yang terbesar yaitu sinus maksilla, sinus frontal, sinus ethmoid dan sinus sfenoid kanan dan kiri. Sinus paransal merupakan hasil pneumatisasi tulang-tulang kepala, sehingga terbentuk rongga didalam tulang. Semua sinus mempunyai muara (ostium) ke rongga hidung.

Sinus maksila merupakan sinus yang terbesar. Saat lahir sinus maksila bervolume 6-8 ml, kemudian berkembang dengan cepat dan mencapai ukuran maksimal, yaitu 15 ml pada saat dewasa. Dinding anterior sinus maksilla adalah permukaan fasial os maksila, posteriornya adalah permukaan infratemporal maksila, medialnya adalah dinding lateral rongga hidung, superiornya adalah dasar orbita dan dinding inferiornya adalah processus alveolaris dan palatum. Ostium sinus maksila berada disebelah superior dinding medial sinus dan bermuara ke meatus media.

Sinus frontal terletak dalam tulang frontal dan biasanya sinus frontal kanan dan kiri tidak simetris, satu lebih besar dibandingkan yang lain dan dipisahkan oleh sekat yang ada digaris tengah. Ukuran sinus frontal adalah 2,8 cm tingginya, lebarnya 2,4 cm dan dalamnya 2 cm. Sinus frontal berdrainase melalui ostium yang terletak di resessus frontal. Resessus frontal adalah bagian dari sinus ethmoid anterior.

Sinus ethmoid merupakan sinus paranasal yang paling bervariasi. Pada orang dewasa bentuk sinus ethmoid seperti piramid dengan dasarnya dibagian posterior. Ukurannya dari anterior ke posterior 4-5 cm, tinggi 2,4 cm, lebar 0,5 cm dibagian anterior dan 1,5 cm dibagian posterior. Sinus ethmoid berongga- rongga, terdiri dari sel-sel yang menyerupai sarang tawon dengan jumlah sel yang bervariasi antara 4 17 sel (rata-rata 9 sel). Berdasarkan letaknya sinus ethmoid dibagi menjadi sinus ethmoid anterior yang bermuara di meatus media dan sinus ethmoid posterior yang bermuara di meatus superior. Atap sinus ethmoid adalah fovea ethmoidal, dinding lateralnya adalah lamina papirasea dan dinding posterior sinus berbatasan dengan sinus sfenoid.

Sinus sfenoid terletak dalam os sfenoid dibelakang sinus ethmoid posterior. Sinus ini dibagi dua oleh sekat yang dengan septum intersfenoid. Tingginya adalah 2 cm, dalamnya 2,3 cm dan lebarnya 7,5 cm. Batas superiornya adalah fossa serebri media dan kelenjar hipofisa, inferiornya adalah atap nasofaring, lateralnya adalah sinus kavernosus dan posteriornya adalah fossa serebri posterior..

B. Histologi

Sinus paranasal dibatasi oleh lapisan jaringan yang menghasilkan mukous yang disebut mukosa. Mukosa sinus paranasal mempunyai berbagai tipe sel antara lain : Sel-sel epitel kolumner pseudocomplek bersilia yang melapisi dan membentuk sebagian besar mukosa

Sel-sel kelenjar yang menghasilkan mukous dan cairan-cairan lainnya.

C. Etiologi

Penyebab pasti karsinoma sinus paranasal masih belum jelas. Pada 44% kasus berhubungan dengan paparan bahan-bahan seperti nikel, krom, isopropil, hidrokarbon volatil, dan serat organik yang terdapat dalam kayu, sepatu, dan industri tekstil, alkohol, radium.

Dalam satu penelitian dinyatakan bahwa human papillomavirus dapat berperan sebagai kofaktor, tercatat bahwa human papillomavirus 6 dan 12 ditemukan pada 4% dari karsinoma sel squamosa. Merokok dan konsumsi alkohol diketahui juga dapat meningkatkan resiko keganasan kepala dan leher. Hubungan antara merokok dan konsumsi alkohol dengan neoplasma sinus paranasal lebih sulit untuk diketahui, tetapi Zheng dkk. manyatakan bahwa kedua hal tersebut dapat meningkatkan resiko kanker paranasal, terutama di sinus maksila. Sinusitis kronis juga dapat meningkatkan resiko kanker sinus paranasal.

D. Diagnosis

Diagnosis karsinoma sinus paranasal ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.

Gejala tergantung dari asal primer tumor serta arah dan perluasannya. Tumor di dalam sinus maksila biasanya tanpa gejala. Gejala timbul setelah tumor besar, mendorong atau menembus dinding tulang meluas ke rongga hidung, rongga mulut, pipi atau orbita.

Tergantung dari perluasan tumor, gejala dapat dikategorikan sebagai berikut:

Gejala Nasal. Gejala nasal berupa obstruksi hidung unilateral dan rhinorhea. Sekretnya sering bercampur darah atau epistaksis. Tumor yang besar dapat mendesak tulang hidung sehingga terjadi deformitas hidung. Khas pada tumor ganas ingusnya berbau karena mengandung jaringan nekrotik. Gejala nasal ditemukan pada sekitar 50% pasien9.

Gejala Oral. Perluasan tumor ke rongga mulut menyebabkan penonjolan atau ulkus di palatum atau di processus alveolaris. Pasien mengeluh gigi palsunya tidak pas lagi atau gigi geliginya goyah. Seringkali pasien datang ke dokter gigi karena nyeri di gigi. Tapi tidak sembuh meskipun gigi yang sakit telah dicabut. Gejala oral ditemukan pada sekitar 25 35% pasien9.

Gejala Orbital. Perluasan tumor ke arah orbita menimbulkan gejala diplopia, proptosis atau penonjolan bola mata, ofthalmoplegia, gangguan visus dan epifora. Gejala orbita ditemukan pada sekitar 25% pasien9.

Gejala Fasial. Perluasan tumor ke depan akan menyebabkan penonjolan pipi, Disertai nyeri, anestesi, parestesi muka jika mengenai nervus trigeminus. Asimetri wajah bisa juga didapatkan. Gejala Telinga. Perluasan tumor ke nasofaring akan menyebabkan otitis media serosa, pasien biasanya mengeluh kerang pendengaran atau gemrebeg. Gejala Intrakranial. Perluasan tumor ke intrakranial menyebabkan sakit kepala hebat, ofthalmoplegia dan gangguan visus, dapat disertai likuorhea, yaitu cairan otak yang keluar melalui hidung. Jika perluasan sampai ke fossa kranii media maka nervus otak lainnya juga terkena. Jika tumor meluas ke belakang, terjadi trismus akibat terkenanya muskulus pterigoideus disertai anestesi dan parestesia daerah yang dipersarafi nervus maksilaris dan mandibularis.

Saat memeriksa pasien, pertama tama perhatikan wajah pasien apakah ada asimetri atau distorsi. Jika ada proptosis, perhatikan arah pendorongan bola mata. Jika mata terdorong ke atas berarti tumor berasal dari sinus maksila, jika ke bawah dan lateral berarti tumor berasal dari sinus frontal atau etmoid.

Selanjutnya periksa dengan seksama kavum nasi dan nasofaring melalui rinoskopi anterior dan posterior. Deskripsi massa sebaik mungkin, apakah permukaanya licin, merupakan pertanda tumor jinak, atau permukaan berbenjol-benjol, rapuh dan mudah berdarah, merupakan pertanda tumor ganas. Jika dinding lateral kavum nasi terdorong ke medial berarti tumor berada di sinus maksila.

Untuk memeriksa rongga oral, di samping inspeksi lakukanlah palpasi dengan memakai sarung tangan, palapsi gusi rahang atas dan palatum, apakah ada nyeri tekan, penonjolan atau gigi goyah.

Pemeriksaan naso-endoskopi dan sinuskopi dapat membantu menemukan tumor dini. Adanya pembesaran kelenjar leher juga perlu dicari meskipun tumor ini jarang metastasis ke kelenjar.

Foto polos sinus paranasal kurang berfungsi mendiagnosis dan menentukan perluasan tumor kecuali pada tumor tulang seperti osteoma. Tetapi foto polos tetap berfungsi sebagai diagnosis awal, terutama jika ada erosi tulang dan perselubungan pada unilateral, harus dicurigai keganasan dan buatlah tomogram atau CT scan .

CT scan merupakan sarana terbaik karena lebih jelas memperlihatkan perluasan tumor dan destruksi tulang. MRI atau magnetic resonance imaging dapat membedakan jaringan tumor dan jaringan normal tetapi kurang begitu baik dalam memperlihatkan destruksi tulang. Foto polos paru diperlukan untuk melihat adanya metastasis tumor di paru.

Diagnosis pasti ditegakkan berdasarkan pemeriksaan histopatologi jaringan yang diperoleh dari biopsi. Bahan biopsi dapat diperoleh dengan berbagai cara antara lain: biopsi intranasal, Caldwell-luc, lesi eksofitik dari palatum, antrostomi nasal, masa di pipi, masa di leher atau secara kebetulan pada saat operasi.E. Stadium Klinik

Pembagian stadium pada karsinoma sinus paranasal tidak sebaik pembagian stadium pada tumor-tumor kepala dan leher lainnya. Hanya sinus maksila dan sinus ethmoid yang mempunyai sistem pembagian stadium sebagaimana disetujui oleh American Joint Committee on Cancer (AJCC). Untuk karsinoma sinus maksila dan sinus ethmoid, AJCC telah mendesain suatu sistem pembagian stadium dengan klasifikasi TNM yaitu: Sinus maksila

Tumor primer (T)

Tx :Tumor primer tidak bisa dinilai

T0 :Tidak ditemukan tumor primer

Tis :Karsinoma in situ

T1 :Tumor terbatas pada mukosa antrum tanpa adanya erosi atau destruksi pada tulang.

T2 :Tumor menyebabkan erosi atau destruksi tulang, kecuali pada dinding posterior dari antrum, termasuk perluasan ke palatum durum dan atau ke meatus medius.

T3 :Tumor menginvasi ke tempat-tempat berikut ini: Tulang dari dinding posterior sinus maksila, jaringan subkutan, kulit pipi, dasar atau dinding medial dari orbita, fossa infratemporal, lempeng pterygoid, sinus ethmoid.

T4 :Tumor menginvasi isi orbita, lebih jauh dari dasar atau dinding medial dari orbita, termasuk: puncak orbita, lempeng kribriformis, basis cranium, nasofaring, sphenoid dan sinus frontalis6.

Sinus Ethmoid

Tumor primer (T)

T1 :Tumor terbatas hanya pada sinus ethmoid dengan atau tanpa erosi tulang.

T2 :Tumor meluas hingga ke kavum nasi.

T3 :Tumor meluas ke orbita anterior dan atau ke sinus maksila.

T4 :

Tumor dengan perluasan intrakranial, perluasan ke orbita telah mencapai apex, mencapai sphenoid, dan atau sinus frontalis dan atau kulit luar dari hidung.

Limfonodi regional (N) Nx :Limfonodi regional tidak dapat dinilai

N0 :Tidak ada metastasis ke limfonodi regional.

N1 :Metastasis pada satu limfonodi ipsilateral, paling besar kurang dari atau sama dengan 3 cm.

N2 :Metastasis pada satu limfonodi ipsilateral, yang paling besar lebih dari 3 cm tapi tidak lebih dari 6 cm, atau pada banyak limfonodi ipsilateral, yang paling besar tidak ada yang lebih dari 6 cm, atau pada limfonodi bilateral atau kontralateral, yang paling besar tidak ada yang lebih dari 6 cm.

N2a :Metastasis pada satu limfonodi ipsilateral, yang paling besar lebih dari 3 cm tapi tidak lebih dari 6 cm.

N2b :Metastasis pada banyak limfonodi ipsilateral, yang paling besar tidak ada yang lebih dari 6 cm.

N2c :Metastasis pada limfonodi bilateral atau kontralateral, yang paling besar tidak ada yang lebih dari 6 cm.

N3 :Metastasis pada limfonodi, yang paling besar ukurannya lebih dari 6 cm.

Metastasis jauh (M) Mx :Metastasis jauh tidak bisa dinilai

M0 :Tidak ada metastasis jauh

M1 :Ada metastasis jauh6.

Pembagian stadium menurut AJCC

Stadium 0

Tis, N0, M0

Stadium I

T1, N0, M0

Stadium II

T2, N0, M0

Stadium III

T3, N0, M0

T1, N1, M0

T2, N1, M0

T3, N1, M0

Stadium IVA

T4, N0, M0

T4, N1, M0

Stadium IVB

T any, N2, M0 T any, N3, M0

Stadium IVC

T any, N any, M1

F. Terapi dan Penatalaksanaan

Terapi yang digunakan untuk tumor ganas hidung dan sinus paranasal adalah:

1. Terapi bedah

Terapi bedah biasa digunakan untuk mengangkat karsinoma sinus paranasal. Seorang dokter mungkin harus memotong tulang atau jaringan di sekitar karsinoma tergantung lokasi kanker dan seberapa luas penyebarannya. Bila kanker sudah menyebar ke kelenjar limfe di leher, kelenjar tersebut harus diambil (diseksi). Operasi berupa maksilektomi baik medial, total maupun radikal. Maksilektomi radikal dilakukan misalnya pada tumor yang sudah infiltrasi ke orbita, terdiri dari pengangkatan maksila secara en bloc disertai eksenterasi orbita. Jika tumor meluas ke rongga intra kranial dilakukan reseksi kraniofasial atau kalau perlu kraniotomi, tindakan dilakukan dalam tim bersam dokter bedah saraf.

2. Terapi radiasi

Terapi radiasi juga merupakan terapi umum untuk karsinoma sinus paranasal dengan menggunakan sinar X berenergi tinggi untuik membunuh sel kanker dan mengecilkan tumor. Radiasi bisa berasal dari alat dar tubuh (terapi radiasi eksternal) maupun dengan meletakkan bahan yang menghasilkan radiasi (radiosotop) melalui tabung plastik tipis di daerah di mana sel kanker ditemukan (terapi radiasi internal).

3. Kemoterapi

Kemoterapi menggnakan obat untuk membunuh sel kanker, bisa dalam bentuk pil (oral) dan intavena. Kemoterapi disebut terapi sistemik karena obat mengikuti aliran darah tubuh dan membunuh sel kanker melalui tubuh.

Sinus paranasal berperan dalam proses bicara dan pernapasan juga dekat dengan wajah sehingga pasien akan memerlukan nasihat khusus dalam menghadapi efek samping kanker dan pengobatannya.

Sesudah maksilektomi, harus dipasang protesis maksila sebagai tindakan rekonstruksi dan rehabilitasi, supaya pasien tetap dapat melakukan fungsi menelan dan berbicara dengan baik, di samping perbaikan kosmetis melalui operasi bedah plastik. Dengan tindakan tindakan ini pasien dapat bersosialisasi kembali dalam keluarga dan masyarakat.

Penanganan Menurut Stadium

Terapi tergantung pada jenis kanker dan lokasi

Stadium I

Kanker pada sinus maksilaris dilakukan operasi untuk mengangkat tumor dan dapat diikuti dengan terapi radiasi

Kanker pada sinus ethmoid: terapi yang digunakan adalah operasi dan dapat diikuti dengan terapi radiasi Kanker pada sinus sphenoid dilakukan terapi radiasi

Stadium II

Kanker pada sinus maksilaris dilakukan operasi dan dapat disertai terapi radiasi sebelum atau sesudah operasi

Kanker pada sinus ethmoid: digunakan terapi radiasi eksternal atau operasi yang diikuti dengan terapi radiasi

Kanker pada sinus sphenoid dilakukan terapi radiasi

Stadium III

Kanker pada sinus maksilaris:

1. Terapi bedah untuk mengangkat kanker, radiasi diberikan sebelum atau sesudah operasi

2. Kemoterapi dikombinasi dengan terapi radiasi

Kanker pada sinus ethmoid:

1. Bedah yang diikuiti dengan terapi radiasi

2. Kemoterapi sebelum operasi atau terapi radiasi

3. Kemoterapi setelah operasi dengan/tanpa terapi radiasi

4. Kemoterapi dikombinasi dengan terapi radiasi

Kanker pada sinus sphenoid dilakukan terapi radiasi

Stadium IV

Kanker pada sinus maksilaris

1. Terapi radiasi

2. Kemoterapi sebelum operasi atau terapi radiasi

3. Kemoterapi setelah operasi dengan/tanpa terapi radiasi

4. Kemoterapi dikombinasi dengan terapi radiasi

Kanker pada sinus ethmoid

1. Bedah yang diikuiti dengan terapi radiasi

2. Terapi radiasi diikuti dengan operasi

3. Kemoterapi sebelum operasi atau terapi radiasi

4. Kemoterapi setelah operasi dengan/tanpa terapi radiasi

5. Kemoterapi dikombinasi dengan terapi radiasi

Kanker pada sinus sphenoid dilakukan terapi radiasi 6Karsinoma Sinus Paranasal Rekuren

Pengobatan tergantung pada jenis kanker, lokasi dan terapi yang telah diberikan sebelumnya.

Kanker pada sinus maksilaris:

1. Bila operasi telah dilakukan sebelumnya, dilakukan terapi bedah yang lebih luas diikuti dengan terapi radiasi atau terapi radiasi tanpa operasi

2. Bila terapi radiasi telah dilakukan sebelumnya dilakukan operasi kemoterapi dengan uji coba menggunakan obat baru

Kanker pada sinus ethmoid

1. Bila operasi terbatas telah dilakukan sebelumnya, dilakukan terapi bedah yang lebih luas diikuti dengan terapi radiasi atau terapi radiasi tanpa operasi

2. Bila terapi radiasi telah dilakukan sebelumnya: dilakukan operasi

3. Kemoterapi

Kanker pada sinus sphenoid digunakan terapi radiasi. Kemoterapi diberikan bila terapi radiasi tidak berhasil.G. Prognosis

Pada umumnya prognosis kurang baik. Beberapa hal yang mempengaruhi prognosis antara lain adalah 1) diagnosis terlambat dan tumor sudah meluas sehingga sulit mengangkat tumor secara en bloc; 2) sulit evaluasi pasca terapi karena tumor berada dalam rongga; 3) sifat tumor yang agresif dan mudah kambuh.IRIGASI TELINGA

A. Definisi Irigasi TelingaIrigasi telinga adalah suatu tindakan medis yang bertujuan untuk membersihkan liang telinga luar dari nanah, serumen, dan benda benda asing. Irigasi telinga adalah suatu usaha untuk memasukkan cairan (air hangat kuku) ke dalam telinga. Tujuan: Untuk membersihkan atau mengeluarkan benda asing dari dalam telinga.1. Anatomi TelingaTelinga manusia terdiri dari 3 bagian : telinga luar, tengah, dan dalam. Telinga bagian luar, tengah dan koklea pada telinga bagian dalam merupakan alat alat pendengaran, sedangkan saluran semisirkularis dan bagian-bagian lain pada telinga dalam mengontrol keseimbangan.Telinga luar terdiri dari daun telinga dan saluran pendengaran luar; suara masuk ke dalam saluran hingga sampai ke gendang telinga. Saluran pendengaran merupakan rongga pada tubuh manusia yang hanya dilapisi dengan jaringan epidermis (kulit). Saluran eksternal mempunyai panjang kira-kira 2,6 cm, dan pembengkakan pada saluran telinga ini akan terasa sangat menyakitkan karena tidak ada jaringan sub kutan untuk mengurangi tekanan dan peregangan kulit.Infeksi telinga bagian luar (otitis eksterna) biasanya meliputi sakit ketika menarik atau memindahkan cuping telinga, dan mungkin pula terjadi pengaliran lilin telinga. Kadang kadang diperlukan untuk memindahkan kotoran dan lilin telinga (serumen) dengan membasuh saluran telinga dan kemudian menambahkan larutan asam (asam asetat atau aluminium asetat yang diencerkan) untuk menghambat pertumbuhan jamur dan bakteri.Telinga tengah terdiri dari gendang telinga dan rongga timpani. Lubang timpani adalah kantung yang berisi udara yang mengandung tulang tulang pendengaran, yaitu maleus, inkus, dan stapes. Rongga ini dihubungkan ke faring melalui saluran eustachius yang berfungsi menjaga tekanan udara pada kedua sisi gendang telinga agar tetap berada dalam kesetimbangan. Infeksi telinga tengah biasanya bersamaan dengan infeksi pada bagian nasofaring melalui saluran eustachius. Pembengkakan pada telinga tengah disebut sebagai otitis media.Telinga bagian dalam atau labirin merupakan rangkaian kompleks dari saluran saluran yang berisi cairan yang dalam sebagian besar berperan mengontrol keseimbangan seseorang.2. Fisiologi Telinga

Proses mendengarkan diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh daun telinga dalam bentuk gelombang yang dialirkan melalui udara atau tulang ke koklea. Getaran tersebut menggetarkan membrane timpani kemudian diteruskan ke telinga tengah melalui rangkaian tulang pendengaran., perbandingan membrane timpani dan tingkap lonjong. Energy getar yang telah diamplifikasikan ini diteruskan ke stapes yang menggerakkan tingkap lonjong. Sehingga paralimfe pada skala vestibule bergerak.Getaran diteruskan melalui membrane reisner yang mendorong endolimfe, sehingga akan menimbulkan gerak relatif antara membran basalis dan membrane tektoria. Proses ini merupakan rangsang mekanik yang menyebabkan terjadinya deflekasi stereosila sel-sel rambut. Sehingga melepaskan neurotransmitter ke dalam sinapsis yang akan menimbulkan potensial aksi pada saraf auditorius lalu dilanjutkan ke nucleus auditorius sampai ke korteks pendengaran (area 39 - 40) di lobus temporalis.Secara fisiologis telinga dapat mendengar nada antara 20 20.000 Hz, untuk pendengaran sehari-hari bentuk percakapan yang paling efektif antara 500 2000 Hz, Hz adalah singkatan dariherts, yang merupakan istilah kontemporer dari siklus perdetik sebagai satuan frekuensi. Semakin tinggi frekuensi maka semakin tinggi pula nadanya. Oleh karena itu, untuk memeriksa pendengaran digunakan garputala.(Roger Watson. 2002)3. Prinsip KerjaTelinga irigasi dapat dilakukan dengan menggunakan jarum suntik 50-60-cc (suntik 20-30-cc untuk anak-anak). Beberapa perawat memilih untuk melampirkan lubang yang besar IV (intravena) kateter (dengan jarum dihapus) untuk jarum suntik untuk arah lebih mudah fluida. Dengan menggunakan metode ini, cairan yang disedot ke dalam jarum suntik dan disemprotkan ke dalam liang telinga. Metode lain menggunakan larutan IV dan tubing, dengan konektor irigasi telinga pakai yang pas dan ke atas telinga luar. Bila menggunakan metode ini, IV diaktifkan dan arus fluida oleh gravitasi ke telinga untuk menciptakan irigasi. Bila menggunakan metode IV, tas harus sekitar 6 inci (15 cm) atau kurang di atas kepala pasien untuk menciptakan tekanan fluida yang tepat.Setelah posisi pasien, daun telinga dari telinga yang terkena dampak harus diadakan kembali, dan sampai (belakang dan ke bawah untuk bayi). Ujung jarum suntik atau kateter irigasi harus ditempatkan di pintu masuk ke telinga Jaringan telinga tidak boleh disentuh. Saluran telinga tidak boleh tersumbat, atau solusi tidak akan dapat berlari kembali keluar dari telinga dengan lembut mengarahkan aliran larutan irigasi terhadap aspek atas dari saluran telinga eksternal, perawat harus jarum suntik atau menjalankan dalam cairan IV pada tingkat lambat, stabil, yang memungkinkan cairan untuk melarikan diri keluar dari saluran telinga dan ke baskom. Jika menggunakan alat PIK gigi, pengaturan terendah harus digunakan.. Mengerahkan terlalu banyak tekanan dapat memaksa benda asing atau oklusi lilin lebih ke dalam liang telinga. Cairan kembali kemudian harus diperiksa sebelum jarum suntik diisi ulang-atau setelah 100cc cairan untuk dewasa, dan 30cc cairan bagi seorang anak. Perawat harus menyelidiki apakah objek lilin atau asing telah mengguyur dari telinga. Bila oklusi telah dihapus, 500cc cairan irigasi harus digunakan untuk-dewasa 100cc untuk anak, atau seperti yang diperintahkan oleh dokter. Prosedur ini harus terputus jika pasien mengeluh sakit atau pusing.4. Indikasi :a. Untuk mengeluarkan cairan, serumen, bahan-bahan asing dari kanal audiotory eksternal.

b. Untuk mengirigasi kanal audiotory eksternal dengan lartutan antiseptic.

c. Untuk menghangatkan atau mendinginkan kanal audiotory eksternal.

5. Kontra Indikasi :a. Perforasi membran timpani atau resiko tidak utuh (injurie sekunder, pembedahan, miringitomi).

b. Terjadi komplikasi sebelum irigasi.

c. Temperatur yg ekstrim panas dapat menyebabkan pusing, mual dan muntah.

d. Bila ada benda penghisap air dalam telinga, seperti bahan sayuran (kacang), jangan diirigasi karena bahan-bahan tersebut mengmbang dan sulit dikeluarkan.6. Kemungkinan Komplikasi :a. Ruptur (pecah) pada membran tympani.Kehilangan pendengaran.

b. Trauma/injury kanal teling dalam.

c. Vertigo, mual, nyeri selama dan setelah prosedur, stop segera bila terjadi, kemudian ulangi lagi dan pastikan tekanan dan temperatur yang cocok untuk mencegah berulangnya gejala.7. Bahaya :a. Infeksi Pecahnya gendang telinga.

b. Ruptur membran timpani.

c. Kehilangan pendengaran.

d. Trauma/injury kanal telinga dalam.8. Hal Yang Harus Diperhatikana. Kanal telinga anak-anak lebih kecil.b. Tarik aurikel ke bawah dan kebelakang.c. Anak-anak posisi supinasi bila perlu di resraint untuk menghindari pergerkan.d. Untuk mengurangi ansieas jelaskan prosedur dan izinkan anak-anak untuk menyentuh air atau mendengarkan suara air.9. Obat Irigasi Telinga :a. Diuretic

b. Obat kemoterapi

c. Antimalaria

d. Obat anti imflamasi

e. Bahan kimia

f. Antibiotika Aminoglikosida

g. Antibiotika lain

h. Logam berat10. Prosedur Irigasi Telingaa. Alat dan Bahan :Baki berisi alat alat yang steril1. Mangkok kecil berisi cairan dengan suhu 37o c.

2. Semprot telinga.

3. Pinset telinga.

4. Corong telinga.

5. Pemilin telinga.

6. Pengail telinga.Baki berisi alat alat yang tidak steril :

1. Bengkok 1 buah.

2. Perlak dan alasnya.

3. Lampu spiritus.

4. Lampu kepala.

5. Kapas dalam tempatnya.

6. Ember kotoranB. Persiapan Pasien

1. Jelaskan bahwa klien mungkin merasakan penuh, hangat dan sekali-kali rasa tidak nyaman ketika cairan mengalami kontak dengan membran tympani

2. Bantu klien untuk duduk atau berbaring dengan kepala dibalik pada telingan yang ditindaki. Cairan dapat mengalir dari telinga ke bengkok.

3. Letakkan kain tahan lembab di sekitar bahu klien di bawah telinga yang diirigasi dan tempatkan bengkok di bawah telinga yang akan diirigasiC. Prosedur Kerja1. Beritahu tindakan apa yang akan dilakukan kepada klien.

2. Klien diberitahu dalam posisi duduk. Bila klien adalah anak kecil, harus di pangku sambil dipegang kepalanya.

3. Perlak dan alasnya dipasang pada bahu dibawah telinga yang akan dibersihkan.

4. Pasang lampu kepala.

5. Perawat cuci tangan.

6. Bersihkan kotoran telinga dengan kapas, memakai pemilin kapas yang telah di flamber terlebih dahulu.

7. Berikan bengkok pada pasien dan minta kerjasama pasien untuk memegang bengkok dengan posisi di bawah telinga.

8. Luruskan canalis auditorius. Pada anak-anak, tarik pelan-pelan pinna ke arah bawah, pada dewasa, tarik pinna ke arah atas belakang. Canalis auditorius diteruskan sehingga cairan dapat mengalir ke sepanjang saluran.9. Masukkan ujung spoit ke dalam meatus auditorius dan arahkan cairan perlahan-lahan pada bagian atas pada canalis. Cairan akan mengalir di seluruh saluran dan keluar pada bagian bawah. Cairan di instilasi dengan pelan-pelan karena tekanan yang kuat dari cairan dapat menyebabkan rasa tidak nyaman dan kerusakan membran tympani.10. Lanjutkan instilasi cairan sampai semua cairan yang digunakan atau sampai saluran bersih, tergantung pada tujuan irigasi. Perhatikan jangan menahan aliran cairan keluar dengan spoit.11. Jika sudah bersih, keringkan daun telinga dengan kapas yang telah dipilin dan di flamber.

12. Lihat atau periksa kembali liang telinga klien apakah sudah bersih atau belum dengan menggunakan corong telinga

13. Perawat cuci tangan.

14. Bersihkan alat alat.

15. Tulis hasil dalam catatan keperawatan.D. Kaji respon klien

1. Pada irigasi, kaji klien adanya ketidaknyamanan dan cairan yang keluar, keadaan dan baunya2. Pada instilasi, kaji karkter dan jumlah kotoran, keadaan kana, rasa tidak nyaman dan sebagainya. Segera setelah instilasi dan ulangi ketika obat diperkirakan sudah bereaksi. Inspeksi bola kapas adanya rembesan.E. Dokumentasi1. Catat semua pengkajian dan intervensi keperawatan yang berhubungan dengan prosedur.2. Pada irigasi termasuk jenis, konsentrasi, jumlah dan temperatur cairan yang digunakan, keadaan haluaran dan adanya rasa tidak nyaman.3. Pada instilasi meliputi waktu, dosis dan berbagai keluhan nyeri. Banyak institusi menggunakan flow sheet, yang lain mungkin memerlukan bahwa pencatatan dibuat pada catatan keperawatan.F. PerhatianApabila perawatan ini tidak berhasil, misalnya karena serumen keras dan besar, laporkan pada dokter. Biasanya akan diberikan obat tetes telinga. Kemudian setelah 3 hari perawatan irigasi diulang kembali.Epi Nurafni/ H1A010043/ Koass THT Periode 8 171Epi Nurafni/ H1A010043/ Koass THT Periode 8 174


Recommended