Home > Documents > Referat Parese N III

Referat Parese N III

Date post: 03-Jun-2018
Category:
Author: andria-olivia
View: 254 times
Download: 4 times
Share this document with a friend
Embed Size (px)

of 24

Transcript
  • 8/12/2019 Referat Parese N III

    1/24

    BAB I

    PENDAHULUAN

    Tubuh kita merupakan suatu sistem yang terdiri dari berbagai macam organ dan

    saling terintegrasi oleh berbagai macam sistem koordinasi. Salah satu sistem yang

    mengatur tubuh kita adalah sistem persyarafan.

    Sistem persarafan kita diatur menjadi suatu sistem yang kompleks yang juga

    mengatur mata sebagai indera penglihatan sehingga mata dapat menjalankanfungsinya dengan sempurna.

    Mata di dalam fungsi persarafannya diatur langsung oleh 6 dari 12 saraf cranialis

    yang merupakan bagian dari sistem saraf perifer. Keenam saraf cranialis tersebut

    adalah nervus optikus ( N. II ), nervus occulomotoris ( N.III ), nervus

    trochlearis ( N. IV ), nervus trigeminus (N.V), nervus abducens (N.VI), dan

    nervus facialis (N.VII).Selain itu sistem syaraf autonom juga mengatur mata kita

    yaitu sistem saraf simpatis dan sistem saraf parasimpatis. ( 12!"

    Keenam saraf cranialis yang mengatur persarafan ke mata mempunyai fungsi

    distribusi topografi di otak yang berbeda#beda. Semuanya akan berintegrasi dan

    bersinergis sehingga membuat suatu sistem yang akan mengatur mata sehingga

    dapat menjalankan fungsinya.

    $erlunya kita mengetahui tentang persarafan orbita ini terutama tentang

    topografinya akan sangat membantu kita dalam mendiagnosa penyakit lebih dini

    sebelum kita melakukan pemeriksaan penunjang.

    %alam sari pustaka sebelumnya telah dibahas persarafan orbita secara umum tapi

    pada makalah ini akan dibahas persarafan pada orbita lebih detail (terutama &.'''"

  • 8/12/2019 Referat Parese N III

    2/24

    baik mengenai anatomi serta fisiologi termasuk kelainan#kelainan yang terjadi

    yang dapat membantu kita dalam mendiagnosa suatu penyakit.

    BAB II

    TINJAUAN PUSTAKA

    2.1 NEUROANATOMI

    Tiga saraf kranial yang mempersarafi otot#otot mata ner)us okulomotorius (&

    '''" ner)us trokhlearis (& '*" dan ner)us abdusens (& *'". &uklei ner)us

    okulomotorius dan ner)us trokhlearis terletak di tegmentum mesensefali

    sedangkan nukleus ner)us abdusens terletak di bagian tegmentum pontis di bagianba+ah dasar )entrikel keempat.

    ,arus diingat bah+a pergerakan mata biasanya konjugat yaitu keduanya biasanya

    menuju arah yang sama (umumnya hori-ontal atau )ertikal" pada kedua mata pada

    saat yang bersamaan. erakan kojugat hori-ontal khususnya melibatkan

    pergerakan simultan pada kedua mata dengan arah berla+anan dari garis tengah/

    satu mata bergerak ke medial sedangkan mata lainnya bergerak ke arah lateral.

    %engan demikian gerakan konjugat bergantung pada ketepatan koordinasi

    persarafan kedua mata dan pada nuklei otot yang mempersarafi gerakan mata

    pada kedua sisi. ,ubungan saraf sentral yang kompleks juga mempengaruhi

    terjadinya gerakan tersebut. Saraf yang mempersarafi otot#otot mata juga berperan

    pada beberapa refleks yaitu akomodasi kon)ergensi dan refleks cahaya pupil.

    Nervus okulomotorus !N III"

    0rea nuklear ner)us okulomotorius terletak di substansia grisea periakuaduktus

    mesensefali )entral dari akuaduktus setinggi kolikulus superior. 0rea ini

    memiliki dua komponen utama

    1. &ukleus parasimpatis yang terletak di medial disebut nukleus Edinger-

    Westphal yang mempersarafi otot#otot intraokular (M. sfingter pupil dan M.

    siliaris"/

    2. Kompleks yang lebih besar disebut Kompleks nukleus okulomotorius yang

    terletak lebih lateral yang mempersarafi empat dari enam otot#otot

    2

  • 8/12/2019 Referat Parese N III

    3/24

    ekstraokular antara lain M. rektus superior M. rektus inferior M. rektus

    medialis M. oblius inferior. Selain itu juga terdapat area nuklear kecil untuk

    M. le)ator palpebra. M. e)ator palpebrae dipersarafi secara bilateral/ M.

    rektus medialis M. rektus inferior dan M. oblius inferior dipersarafi secara

    ipsilateral/ dan M. rektus superior dipersarafi secara kontralateral dengan

    dekusasio serabut#serabut yang terjadi pada ujung kaudal dari kompleks ini.

    Serabut radikular motorik yang keluar dari area nuklear ini berjalan ke arah

    )entral bersama dengan serabut parasimpatis. 3eberapa di antara serabut#serabut

    tersebut menyilang garis tengah dan sebagian lagi tidak menyilang (semua serabut

    untuk M. rektus superior menyilang garis tengah". Kombinasi serabut motorik dan

    parasimpatis mele+ati nukleus ruber dan akhirnya keluar dari batang otak di fosa

    interpedunkularis.

    4asikulus ner)us okulomotorius pertama#tama berjalan ke arah posterior diantara

    a. serebelaris superior dan posterior kemudian menembus duramater berjalan

    mele+ati sinus ka)ernosus dan memasuki rongga orbita melalui fisura orbitalis

    superior. 3agian parasimpatis saraf membentuk cabang di sini dan berjalan ke

    gangglion siliare tempat berakhirnya serabut praganglionik dan sel#sel ganglion

    membentuk serabut postganglionik pendek untuk mempersarafi otot#otot

    intraokular.

    !

  • 8/12/2019 Referat Parese N III

    4/24

    Serabut motorik somatik ner)us okulomotorius terbagi menjadi dua cabang5di)isi

    cabang5di)isi superior mempersarafi M. le)ator palpebra dan M. rektus superior

    dan cabang5di)isi inferior mempersarafi M.rekti medialis dan inferior serta M.

    oblius inferior.

  • 8/12/2019 Referat Parese N III

    5/24

    RE#LEKS PUPIL

    Re$leks %&'&(&

    7efleks cahaya terjadi konstriksi pupil yang seimbang dan terjadi bersamaan di

    kedua mata. 8alur pupil bersamaan dengan jaras penglihatan. &amun pada akhir

    traktus optic serat pupil memasuki pretectal midbrain dan nucleus 9dinger

    :estphal.

    Re$leks mel'&t )ek&t

    7efleks melihat dekat meliputi akomodasi konstriksi pupil dan kon)ergensi.

    ambar !. 8aras $upil

    (dari fig 9.1, Kanski JJ, chapter 9. Ophthalmology. !ocket "e#t$ook tlas %nd

    Ed. %&&', p. %%'

    2.2 ASPEK MOTORIK OTOT*OTOT EKTRAOKULAR

    $osisi mata ditentukan oleh keseimbangan yang dicapai oleh tarikan keenam otot

    ekstraokular. Mata berada dalam posisi memandang primer se+aktu kepala dan

    ;

  • 8/12/2019 Referat Parese N III

    6/24

    mata terletak sejajar dengan bidang yang dilihat.

  • 8/12/2019 Referat Parese N III

    7/24

    T&+el 2. #u-,s otot m&t&

    =tot Kerja primer Kerja sekunder

    7ektus lateralis 0bduksi Tidak ada

    7ektus medialis 0duksi Tidak ada

    7ektus superior 9le)asi 0duksi intorsi

    7ektus inferior %epresi 0duksi ekstorsi

    =blius superior 'ntorsi %epresi abduksi

    =blius inferior 9kstorsi 9le)asi abduksi

    =tot rektus medialis dan lateralis masing#masing menyebabkan aduksi danabduksi mata dengan efek ringan pada ele)asi atau torsi. =tot rektus )ertikalis

    dan oblius memiliki fungsi rotasi )ertikal dan torsional. Secara umum otot#otot

    rektus )ertikalis merupakan ele)ator dan depresor utama untuk mata dan otot

    oblius terutama berperan dalam gerakan torsional. 9fek )ertikal otot rektus

    superior dan inferior lebih besar apabila mata dalam keadaan abduksi. 9fek

    )ertikal otot oblius lebih besar apabila mata dalam keadaan aduksi.

    >

  • 8/12/2019 Referat Parese N III

    8/24

    Otot*otot s-er,stk )&- &-t&,o-stk !Hukum S'err-,to-"

    =tot#otot sinergistik adalah otot#otot yang memiliki bidang kerja yang sama.

    %engan demikian untuk tatapan )ertikal otot rektus superior dan oblius inferior

    bersinergi menggerakan mata ke atas. =tot#otot yang sinergistik untuk suatu

    fungsi mungkin antagonistik untuk fungsi lain. Misalnya otot rektus superior dan

    oblius inferior adalah antagonis untuk torsi karena rektus superior menyebabkan

    intorsi dan oblius inferior menyebabkan ekstorsi. =tot#otot ekstraokular seperti

    otot rangka memperlihatkan persarafan timbal balik otot#otot antagonistik

    (,ukum Sherrington". %engan demikian pada dekstro)ersi otot rektus medialis

    kanan dan lateralis kiri mengalami inhibisi sementara otot lateralis kanan dan

    rektus medialis kiri terstimulasi.

    Otot &s&-,&- se&r&' !Hukum Her-,"

    0gar gerakan kedua mata berada dalam arah yang sama otot#otot agonis harus

    menerima persarafan yang setara (,ukum ,ering". $asangan otot agonis dengan

    kerja primer yang sama disebut pasangan searah. =tot rektus lateralis kanan dan

    rektus medialis kiri adalah pasangan searah untuk menatap ke kanan. =tot rektus

    inferior kanan dan oblius superior kiri adalah pasangan searah untuk memandang

    ke ba+ah dan ke kanan.

    Tabel 2. =tot#otot pasangan searah dalam posisi menatap5melirik utama

    Mata ke atas dan kanan 7S7 dan '=

    Mata ke atas dan kiri S7 dan 7'=

    Mata ke kanan 77 dan M7

    Mata ke kiri 7 dan 7M7

    Mata ke ba+ah dan kanan 7'7 dan S=

    Mata ke ba+ah dan kiri '7 dan 7S=

    M. lev&tor &le+r&

    4ungsi M. le)ator palpebra adalah untuk mengangakat kelopak mata. $tosis

    biasanya mengindikasikan lemahnya fungsi dari otot le)ator palpebra superior

    (otot kelopak mata atas". &ormalnya kelopak mata terbuka adalah 1? mm. [email protected]

    A

  • 8/12/2019 Referat Parese N III

    9/24

    rata lebar fisura palpebra5celah kelopak mata pada posisi tengah adalah berkisar

    11 mm panjang fisura palpebra berkisar 2A mm. 3atas kelopak mata atas

    biasanya menutupi 1.; mm kornea bagian atas sehingga batas kelopak mata atas

    di posisi tengah seharusnya mm diatas reflek cahaya pada kornea. 8ika batas

    kelopak mata atas menutupi kornea 1 atau 2 mm keba+ah masih dapat dikatakan

    normal dan jika menutupi kornea mm termasuk ptosis berat.

    Tipe#tipe ptosis

    1. $tosis Kongenital

    8ika kelopak mata menutupi mata sehingga menghalangi fungsi mata ini

    dapat dianggap sebagai keadaan oftalmik darurat relati)e karena

    tertundanya ele)asi dari kelopak mata dapat menyebabkan berkembangnya

    amblyopia. $enyebab paling sering dari ptosis kongenital adalah distrofi

    dari otot le)ator palpebra dan terkadang adanya ri+ayat keluarga dari

    kondisi ini. Kelainan ini bersifat herediter dan autosomal dominan.

    $enyebab lainnya juga bisa karena adanya aplasia dari inti ner)us

    okulomotorius yang mempersarafi otot le)ator palpebra.

    2. $tosis didapat (0cuired $tosis"

    $tosis 0poneurotik

    $tosis aponeurotik biasanya disebabkan oleh proses penuaan atau

    pengulangan episode dari adanya udem +alaupun ini dapat

    muncul secara kongenital. Karakteristik pasien ini biasanya masih

    dapat mempertahankan fungsi le)ator akan tetapi biasanya

    didapatkan banyak keriput dan kelopak mata atas yang tipis.

    $tosis Myogenik

    B

  • 8/12/2019 Referat Parese N III

    10/24

    $enyebab utama ptosis myogenik adalah kelainan dari otot seperti

    misalnya chronic progressi)e eCternal ophtalmolplegia (D$9=".

    $tosis myastenik disebabkan oleh gangguan transmisi

    neuromuscular.

    $tosis &eurogenik

    $tosis neurogenik melibatkan kelainan saraf cranial ''' dan

    sindrom ,orner dan keduanya memiliki etiologi yang berpotensi

    dapat mengancam nya+a seperti misalnya aneurisma interkranial

    atau neoplasma apikal paru. $ada parese ner)us ''' terdapat

    abnormalitas dari gerakan ocular dan pupil dapat berdilatasi. $ada

    sindrom ,orner yang disebabkan oleh lesi pada saraf simpatis

    didapatkan pupil yang kecil dan hilangnya keringat dan kontrol

    )asomotor pada sisi yang sama di +ajah. Tipe yang khusus dari

    ptosis neurogenik muncul secara kongenital disebabkan oleh

    koneksi batang otak yang abnormal.

    $tosis mekanik

    $tosis mekanik biasanya disebabkan oleh beratnya tumor kelopak

    mata atas misalnya neurofibroma

    2./ ETIOLO0I

    $enyebab parese ner)us okulomotorius antara lain

    Kongenital terjadi kelumpuhan pada otot#otot ekstraokular dan kadang disertai

    ptosis. Tidak terdapat internal oftalmoplegia.

    1?

  • 8/12/2019 Referat Parese N III

    11/24

    Trauma dapat berupa trauma saat kelahiran ataupun akibat kecelakaan.

    &amun terkenannya ner)us okulomotorius lebih kecil kemungkinannya

    dibandingkan ner)us abdusens.

    0neurisma biasanya mengenai a. komunikans posterior atau a. karotis interna

    pars supraklinoid. Kelumpuhan ner)us okulomotorius dapat terjadi sebagian

    ataupun total dan biasanya disertai dengan nyeri hebat di sekitar mata. 0pabila

    aneurisma terjadi pada a. karotis interna pars infraklinoid maka kelumpuhan

    ner)us okulomotorius biasanya didahului oleh kelumpuhan ner)us abdusens.

    %iabetes dan hipertensi kelumpuhan ner)us okulomotorius disebabkan oleh

    arteriosklerosis.

    &eoplasma kerusakan pada ner)us okulomotorius dapat terjadi akibat in)asi

    neoplasma pada nukleus ner)us okulomotorius atau akibat kerusakan di

    sepanjang perjalanan & ''' mulai dari fasikulus ner)us okulomotorius sampai

    ke terminalnya di orbita (misalnya akibat tumor nasofaring tumor kelenjar

    hipofisis meningioma".

    $enyebab parese ner)us okulomotorius pada orang de+asa berbeda dengan anak#

    anak. 3erikut ini berbagai macam penyebab parese ner)us okulomotorius pada

    orang de+asa dan anak#anak.

    T&+el /. Pe-(e+&+ &rese -ervus okulomotorus &)& or&-, )e&s&

    7ucker

    (!!; kasus"

    7ucker

    (2> kasus"

    reen et al

    (1!? kasus"

    &o. E &o. E &o. E

    0neurisma 6 1B ;? 1A !A 1!

    $enyakit

    )askuler F6! 1B > 1> 2; 6

    Trauma ;1 1; ! 1! 1 ;

    Sifilis 6 2 ? ? 12

    &eoplasma !; 11 ;? 1A ; 1

    ain#lain B; 2A ;; 2? !! 12

    $enyakit 21 6 !A 12 ; 1

    11

  • 8/12/2019 Referat Parese N III

    12/24

    misellanous

    F Termasuk diabetes mellitus

    T&+el . Pe-(e+&+ &rese -ervus okulomotorus &)& &-&k*&-&k

    Miller

    (!? kasus"

    ,arley

    (!2 kasus"

    &o. E &o. E

    Kongenital 1! F ! 1; >

    0neurisma 2 > ! B

    &eoplasma ! 1?

    $enyakit )askuler 2 G 6

    Trauma 6 2? 1!

    'nflamasi 1! ! B

    Misellanous 2 H > ; 1?

    F Termasuk trauma kelahiran

    G Migren oftalmoplegia yaitu suatu sindroma yang jarang ditemukan dimana biasanya

    onsetnya pada masa anak. Kelumpuhan saraf otak pada pasien dengan migren

    oftalmoplegia biasanya berkembang sebagai fase meredanya nyeri kepala meskipun hal

    itu mungkin terjadinya kapan saja dalam hubungannya dengan fase#fase nyerinya. =nset

    dari ptosis pada beberapa pasien ini merupakan sinyal bah+a nyeri kepalanya sedang

    akan menghilang. Kelemahan otot ekstra okuler cenderung akan lebih lama pada tiap

    episodenya dan pada beberapa orang terjadi parese okulomotor yang permanen.

    H 'nformasi terbatas

    2. 0EJALA KLINIS

    A. P&rese okulomotor

    angguan pada ner)us okulomotorius dapat terjadi dimana saja sepanjang

    perjalanan saraf tersebut. esi di nukleus ner)us okulomotorius

    mempengaruhi M. rekti medialis dan inferior ipsilateral kedua M. le)ator

    palpebra dan kedua M. rektus superior. 0kan terjadi ptosis bilateral dan

    pembatasan ele)asi bilateral serta pembatasan aduksi dan depresi ipsilateral.

    %ari fasikulus ner)us okulomotorius di otak tengah ke terminalnya di orbita

    semua lesi lain menimbulkan lesi yang semata#mata ipsilateral.

    0pabila lesi mengenai ner)us okulomotorius di mana saja dari nukleus (otak

    tengah" ke cabang perifer di orbita maka mata akan berputar ke luar karena

    12

  • 8/12/2019 Referat Parese N III

    13/24

    otot rektus lateralis yang utuh dan sedikit depresi oleh otot oblius superior

    yang tidak terpengaruh. Mungkin dijumpai dilatasi pupil hilangnya

    akomodasi dan ptosis kelopak mata atas sering cukup berat sehingga pupil

    tertutup. Mata mungkin hanya dapat digerakan ke lateral.

    $arese ner)us okulomotorius dapat dibagi menjadi

    Kelumpuhan total ner)us okulomotorius

    $ada kelumpuhan total ner)us okulomotorius semua otot intraokular dan

    semua otot ekstraokular yang dipersarafi oleh ner)us okulomotorius

    terkena disertai dengan hilangnya refleks akomodasi dan refleks cahaya

    pupil. Kerusakan dari serabut parasimpatis pada & ''' menyebabkan pupil

    midriasis juga terdapat ptosis karena M. le)ator palpebra ikut mengalami

    kelumpuhan.

    0kibat lumpuhnya otot#otot ekstraokular yang dipersarafi oleh ner)us

    okulomotorius dan karena fungsi dari M. rektus lateral dan M. oblius

    superior masih baik maka mata akan berde)iasi ke luar dan ke ba+ah.

    %e)iasi mata yang disebabkan oleh parese & ''' dapat digolongkan ke

    dalam strabismus paralitik atau inkomitan. $asien tidak mengalami

    diplopia karena kelopak mata yang ptosis menutupi pupil.

    Complete left ptosis (looking straight ahead).

    1!

  • 8/12/2019 Referat Parese N III

    14/24

    Left inferior oblique paralysis Left superior rectus paralysis

    (looking up and right). (looking up and left).

    Left medial rectus paralysis Normal left lateral rectus

    (looking right). (looking left).

    Left superior oblique action Left inferior rectus paralysis

    is limited (because of inability (looking down and left).

    to adduct: looking down and

    1

  • 8/12/2019 Referat Parese N III

    15/24

    right).

    Kelumpuhan parsial ner)us okulomotorius

    $ada kelumpuhan parsial ner)us okulomotorius paralisis otot#otot

    intraokular dan ekstraokular dapat terjadi secara terpisah.

    -9ksternal oftalmoplegia

    Kelumpuhan hanya terjadi pada otot#otot ekstraokular yang dipersarafi

    oleh ner)us okulomotorius. Mata akan berde)iasi ke luar dan ke ba+ah

    dan apabila ptosis tidak menutupi pupil maka pasien akan mengalami

    diplopia.

  • 8/12/2019 Referat Parese N III

    16/24

    B. S-k-ess okulomotor !Re,e-er&s &+er&- -ervus okulomotorus"

    4enomena ini ditandai oleh

    %iskinesia kelopak mata pada saat menatap hori-ontal akibat M. le)ator

    palpebra bekerja se+aktu M. rektus medialis bekerja/

    0duksi se+aktu berusaha melihat ke atas akibat M. rektus medialis bekerja

    se+aktu M. rektus superior bekerja/

    7etraksi se+aktu berusaha melihat ke atas karena kedua rektus yang

    bersifat retraktor bekerja/

    $upil pseudo#0rgyll 7obertson yaitu tidak ada respon cahaya tidak ada

    respon dekat pada posisi primer tetapi respon IdekatJ pada aduksi atau

    aduksi#depresi akibat persarafan pupil dari M. rektus inferior atau medialis/

    Tanda pseudo#raefe dimana terjadi retraksi kelopak mata se+aktu

    menatap ke ba+ah akibat persarafan kelopak dari M. rektus inferior/ dan

    7espon nistagmus optokonetik )ertikal monokular akibat otot#otot yang

    memfiksasi mata yang terkena bekerja bersama#sama sehingga hanya mata

    normal yang berespon terhadap target yang bergerak.

    Sinkinesis okulomotor ini mungkin terjadi tidak saja sebagai kombinasi kesalahan

    arah akson yang sedang tumbuh ke selaput yang salah tetapi juga sebagai akibat

    dari transmisi atau timbal balik antara akson#akson yang tidak memiliki penutup

    selaput mielin.

    Sinkinesis okulomotor dapat terjadi akibat trauma berat atau penekanan & ''' oleh

    aneurisma a. komunikans posterior atau secara primer disebabakan oleh

    aneurisma a. karotis interna atau meningioma di sinus ka)ernosus. 0pabila

    penekanan berlangsung beberapa minggu maka sering diperlukan bedah

    strabismus untuk memperoleh penglihatan tunggal binokular.

    %. Kelumu'&- okulomotor sklk

    16

  • 8/12/2019 Referat Parese N III

    17/24

    Kelumpuhan okulomotor siklik dapat menjadi penyulit kelumpuhan kongenital

    ner)us okulomotorius. Kelainan ini merupakan proses predominan unilateral yang

    jarang terjadi berupa kelumpuhan & ''' yang memperlihatkan spasme siklik setiap

    1?#!? detik. Selama selang +aktu ini ptosis membaik dan akomodasi meningkat.

    4enomena ini berlanjut terus seumur hidup tetapi berkurang se+aktu tidur dan

    meningkat seiring dengan tingkat ke+aspadaan. Kelainan ini mungkin terjadi

    akibat lepas muatan periodik oleh neuron#neuron yang rusak di nukleus

    okulomotorius yang menimbulkan rangsang su$threshold yang semakin

    bertambah sampai timbul lepas muatan.

    2.3 PEMERIKSAAN KLINIS

    A. A-&m-ess

  • 8/12/2019 Referat Parese N III

    18/24

    bayangan tersebut yang dilihat dalam posisi menatap tertentu dapat

    memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai otot ekstraokular mana

    yang mengalami kelumpuhan. Misalnya diplopia akan terlihat lebih jelas

    bila pasien melirik ke kanan dan bayangan tersebut terpisah secara

    hori-ontal maka otot ekstraokular yang mungkin terkena adalah otot rektus

    lateralis kanan atau rektus medialis kiri. ,al ini sebaiknya dilakukan

    bersamaan dengan pemeriksaan pergerakan bola mata.

    Ketajaman penglihatan baik atau menurun

    7i+ayat penyakit diabetes melitus hipertensi aneurisma neoplasia atau

    trauma (trauma saat kelahiran ataupun trauma kepala akibat kecelakaan".

    7i+ayat penyakit ini penting dalam hal mencari faktor yang mendasari atau

    faktor penyebab paresenya ner)us okulomotorius.

    B. Pemerks&&- $sk

    I-seks4 inspeksi dapat memperlihatkan apakah strabismus yang terjadi

    konstan atau intermiten berpindah#pindah atau tidak dan ber)ariasi atau

    konstan. 0danya posisi kepala yang abnormal dan ptosis juga dapat

    diketahui. $ada ptosis neurogenik jatuhnya kelopak mata atas dapat

    unilateral sedangkan pada ptosis miogenik biasanya bilateral. Karakteristik

    dari ptosis unilateral adalah pasien berusaha untuk meningkatkan fisura

    palpebra dengan cara merengut atau mengernyitkan dahi (kontraksi dari otot

    frontalis". $tosis kongenital biasanya mengenai satu mata saja.

    Pul4ukuran isokor5anisokor refleks cahaya langsung dan tidak langsung.

    Hirschberg reflction test) memeriksa reflek cahaya pada kedua permukaan

    kornea. %engan tes ini adanya strabismus dapat dideteksi setiap 1 mm

    penyimpangan sama dengan 1; dioptri prisma (>?".

    =rtofori bila masing#masing refleks cahaya pada kornea berada di

    tengah#tengah pupil.

    ,eterofori bila salah satu refleks cahaya pada kornea tidak berada di

    tengah#tengah pupil.

    1A

  • 8/12/2019 Referat Parese N III

    19/24

    Per,er&k&- m&t&4 memeriksa pergerakan mata pasien dengan meminta

    pasien mengikuti pergerakan jari pemeriksa ke sembilan arah yaitu lurus ke

    depan 6 posisi kardinal (kanan kanan atas kanan ba+ah kiri kiri atas kiri

    ba+ah" ke atas dan ke ba+ah. $ada saat mata melakukan pergerakan ke 6

    posisi kardinal hanya satu otot saja yang bekerja sedangkan saat mata

    melihat ke atas atau ke ba+ah beberapa otot bekerja bersamaan sehingga

    sulit menge)aluasi kerja masing#masing otot. =leh karena itu dalam menilai

    kelumpuhan otot#otot ekstraokular pergerakan mata ke 6 posisi kardinal

    lebih bernilai diagnostik.

    Selain itu penting juga untuk menilai kecepatan dari gerakan sakadik mata

    baik secara hori-ontal ataupun )ertikal. $ada gangguan atau kerusakan pada

    saraf yang mempersarafi otot#otot ekstraokuler ataupun pada tingkat yang

    lebih tinggi lagi dapat terlihat pergerakan mata jauh lebih lambat

    dibandingkan mata normal.

    Ket&5&m&- penglihatan masing#masing mata harus die)aluasi secara

    tersendiri. Ketajaman penglihatan dapat dinilai dengan kartu Snellen atau

    pada anak dapat dinilai dengan menggunakan I9J jungkir balik (Snellen"

    atau gambar 0llen.

    Cover-uncover test tes ini bertujuan untuk menentukan sudut de)iasi5sudut

    strabismus. Se+aktu pemeriksa mengamati satu mata di depan mata yang

    lain ditaruh penutup untuk menghalangi pandangannya kemudian amati

    mata yang tidak ditutup apakah mata tersebut bergerak untuk melakukan

    fiksasi atau tidak. Setelah itu buka penutup yang telah dipasang dan

    perhatikan apakah mata yang telah dibuka penutupnya melakukan fiksasi

    kembali atau tidak. 8ika mata tersebut melakukan fiksasi maka mata tersebut

    normal dan mata yang mengalami de)iasi adalah mata sebelahnya.

    1B

  • 8/12/2019 Referat Parese N III

    20/24

    Hess screen tes ini bertujuan untuk mengukur sudut de)iasi5sudut

    strabismus.

  • 8/12/2019 Referat Parese N III

    21/24

    DT brain 5 M7' 5 angiografi karotis pada kasus#kasus neurologis

    2.6 TERAPI

    A. Ter& u-tuk str&+smus

    $ada dasarnya terapi pada strabismus paralitik5inkomitan adalah dengan

    mengatasi faktor penyebab timbulnya parese ner)us okulomotorius.

    Ter& me)s

    Terapi ambliopia

    Terapi ambliopia yang utama adalah oklusi. Mata yang baik ditutup untuk

    merangsag mata yang mengalami ambliopia. 0da dua stadium terapi

    ambliopia yaitu

    -Stadium a+al terapi a+al standar adalah penutupan terus menerus. 3ila

    ambliopianya tidak terlalu parah atau anak terlalu muda maka diterapkan

    penutupan paruh +aktu. Terapi oklusi dilanjtukan selama ketajaman

    penglihatan membaik (kadang#kadang sampai setahun". $enutupan

    sebaiknya tidak terus#menerus lebih dari bulan apabila tidak terdapat

    kemajuan.

    -Stadium pemeliharaan terdiri dari penutupan paruh +aktu yang

    dilanjutkan setelah fase perbaikan untuk mempertahankan penglihatan

    terbaik mele+ati usia dimana ambliopianya kemungkinan besar kambuh

    (sekitar usia A tahun".

    $risma

    $risma menghasilkan pengarahan ulang garis penglihatan secara optis.

  • 8/12/2019 Referat Parese N III

    22/24

    Tujuan terapi bedah adalah untuk mengeliminasi diplopia dalam lapangan

    pandang yang normal baik pada penglihatan jauh ataupun dekat. Terapi bedah

    dapat ditunda selambat#lambatnya sampai satu tahun dengan maksud memberi

    kesempatan untuk pemulihan dengan sendirinya. Terapi bedah biasanya

    dilakukan bila penglihatan binokular tidak kunjung membaik setelah otot#otot

    ekstraokular pulih selambat#lambatnya sampai 6 bulan.

    $rosedur yang digunakan yaitu reseksi dan resesi. Secara konseptual tindakan

    ini merupakan tindakan paling sederhana. Sebuah otot diperkuat dengan suatu

    tindakan yang disebut reseksi. =tot dilepaskan dari mata diregangkan lebih

    panjang secara terukur kemudian dijahit kembali ke mata biasanya di tempat

    insersi semula. 7esesi adalah tindakan perlemahan standar. =tot dilepas dari

    mata dibebaskan dari perlekatan fasia dan dibiarkan mengalami retraksi. =tot

    tersebut dijahit kembali ke mata pada jarak tertentu di belakang insersinya

    semula.

    B. Ter& u-tuk toss

    $tosis kongenital pada ptosis kongenital yang menghalangi penglihatan

    mata terapi aksis )isual harus dilakukan tanpa penundaan untuk mencegah

    perkembangan ptosis menjadi ambliopia. Selain itu perkembangan )isual

    dapat di monitor dan tindakan operasi dapat dilakukan pada usia prasekolah

    saat jaringannya masih berkembang sangat baik. Tindakan operasi yang

    dilakukan berupa bedah retraksi dari kelopak mata atas yang sebaiknya

    dilakukan sesegera mungkin saat ditemukan adanya resiko berkembangnya

    gangguan penglihatan akibat ptosis. 7esiko dari keratopati terpapar harus dijelaskan kepada pasien dan kemungkinan kelopak mata dapat jatuh atau

    turun lagi jika masalah keratopati terpaparnya cukup serius harus juga

    dijelaskan kepada pasien. 0ntibiotik dan lubrikan diberikan saat pasca

    operasi sampai permukaan ocular menjadi terbiasa dengan tinggi kelopak

    mata yang baru.

    22

  • 8/12/2019 Referat Parese N III

    23/24

    BAB III

    KESIMPULAN

  • 8/12/2019 Referat Parese N III

    24/24

    DA#TAR PUSTAKA

    1. Michael 7ubin. $alsies of Dranial &er)es That Dontrol 9ye Mo)ement.

    2?12.

    2. http55+++.merckmanuals.com5home5brainLspinalLcordLandLner)eLdisor

    ders5cranialLner)eLdisorders5palsiesLofLcranialLner)esLthatLcontrolLeyeL

    mo)ement.htmldiunduh pada tanggal 2? Mei 2?1

    !. = 4inn. 'nformation 0bout The =culomotor &er)e of The 9ye. 2??B.

    . http55+++.healthguideinfo.com5eye#health5p;;1;A5diunduh pada tanggal

    2? Mei 2?1

    ;. Mardjono M Sidharta $. Sarafotak dan $atologinya. %alam &eurologi

    Klinis %asar. $enerbit $T. %ian 7akyat. 8akarta. 2??? 11 @ A2.

    6. Sidarta 'lyas. 0natomi dan 4isiologi =tot $engerak 3ola Mata. %alam

    'lmu $enyakit Mata. 4akultas Kedokteran A 1? @ 21.

    http://www.merckmanuals.com/home/brain_spinal_cord_and_nerve_disorders/cranial_nerve_disorders/palsies_of_cranial_nerves_that_control_eye_movement.htmlhttp://www.merckmanuals.com/home/brain_spinal_cord_and_nerve_disorders/cranial_nerve_disorders/palsies_of_cranial_nerves_that_control_eye_movement.htmlhttp://www.merckmanuals.com/home/brain_spinal_cord_and_nerve_disorders/cranial_nerve_disorders/palsies_of_cranial_nerves_that_control_eye_movement.htmlhttp://www.merckmanuals.com/home/brain_spinal_cord_and_nerve_disorders/cranial_nerve_disorders/palsies_of_cranial_nerves_that_control_eye_movement.htmlhttp://www.healthguideinfo.com/eye-health/p55158/http://www.merckmanuals.com/home/brain_spinal_cord_and_nerve_disorders/cranial_nerve_disorders/palsies_of_cranial_nerves_that_control_eye_movement.htmlhttp://www.merckmanuals.com/home/brain_spinal_cord_and_nerve_disorders/cranial_nerve_disorders/palsies_of_cranial_nerves_that_control_eye_movement.htmlhttp://www.merckmanuals.com/home/brain_spinal_cord_and_nerve_disorders/cranial_nerve_disorders/palsies_of_cranial_nerves_that_control_eye_movement.htmlhttp://www.merckmanuals.com/home/brain_spinal_cord_and_nerve_disorders/cranial_nerve_disorders/palsies_of_cranial_nerves_that_control_eye_movement.htmlhttp://www.healthguideinfo.com/eye-health/p55158/

Recommended