Home >Documents >Referat Hiv Aids

Referat Hiv Aids

Date post:30-Dec-2014
Category:
View:369 times
Download:15 times
Share this document with a friend
Description:
aids
Transcript:

BAB I 1. PENDAHULUAN Masalah HIV/AIDS adalah masalah besar yang mengancam Indonesia dan banyak Negara di seluruh dunia. UNAIDS memperkirakan jumlah ODHA di seluruh dunia pada Desember 2004 adalah 35,9 44,3 juta orng. Saat ini tidak ada Negara yang terbebas dari HIV/AIDS. Kasus pertama AIDS di dunia dilaporkan pada tahun 1981. Meskipun demikian, dari beberapa literature sebelumnya ditemukan kasus yang cocok dengan definisi surveilans AIDS pada tahun 1950 dan 1960-an di Amerika Serikat. Kasus pertama AIDS di Indonesia dilaporkan secara resmi oleh Departemen Kesehatan tahun 1987 yaitu pada seorang warga negara Belanda di Bali. Dan kini, kasus HIV/AIDS ini kini semakin meluas dan menyerang berbagai lapisan dan strata sosial. (1)

1

BAB II

2.1 DEFINISI HIV atau Human Immunodeficiency Virus, adalah virus yang menyerang system kekebalan tubuh manusia dan kemudian menimbulkan AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome). AIDS dapat diartikan sebagai kumpulan gejala atau penyakit yang disebabkan oleh menurunnya kekebalan tubuh akubat infeksi HIV. AIDS merupakan tahap akhir dari infeksi HIV.

2.2 EPIDEMIOLOGI Pada tahun 2005, jumlah ODHA di seluruh dunia diperkirakan sekitar 40,3 juta orang dan yang terinfeksi HIV sebesar 4,9 juta orang. Jumlah ini terus bertambah dengan kecepatan 15.000 pasien per hari. Jumlah pasien di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara sendiri diperkirakan berjumlah sekitar 7,4 juta pada tahun 2005. Menurut catatan Departemen Kesehatan, pada tahun 2005 terdapat 4.186 kasus AIDS. (1,6,7.8,9) dengan 305 di antaranya berasal dari Jawa Barat. Saat ini, dilaporkan adanya pertambahan kasus baru setiap 2 jam, dan setiap hari minimal 1 pasien meninggal karena AIDS di Rumah Sakit Ketergantungan Obat dan di Rumah Tahanan. Dan di setiap propinsi ditemukan adanya ibu hamil dengan HIV dan anak yang HIV atau AIDS.(1,6,7,8,9)

2

2.3 ETIOLOGI Virus HIV yang termasuk dalam famili retrovirus genus lentivirus diketemukan oleh Luc Montagnier, seorang ilmuwan Perancis (Institute Pasteur, Paris 1983), yang mengisolasi virus dari seorang penderita dengan gejala limfadenopati, sehingga pada waktu itu dinamakan Lymphadenopathy Associated Virus (LAV). Gallo (national Institute of Health, USA 1984) menemukan Virus HTLV-III (Human T Lymphotropic Virus) yang juga adalah penyebab AIDS. Pada penelitian lebih lanjut dibuktikan bahwa kedua virus ini sama, sehingga berdasarkan hasil pertemuan International Committee on Taxonomy of Viruses (1986) WHO member nama resmi HIV. Pada tahun 1986 di Afrika ditemukan virus lain yang dapat pula menyebabkan AIDS, disebut HIV-2, dan berbeda dengan HIV-1 secara genetic maupun antigenic. HIV-2 dianggap kurang patogen dibandingkan dengan HIV-1. Untuk memudahkan, kedua virus itu disebut sebagai HIV saja. (1,6)

3

2.3 PATOGENESIS HIV(4)

Gambar : pathogenesis virus hiv (4) HIV adalah retrovirus yang menggunakan RNA sebagai genom. Untuk masuk ke dalam sel, virus ini berikatan dengan receptor (CD4) yang ada di permukaan sel. Artinya, virus ini hanya akan menginfeksi sel yang memiliki receptor CD4 pada permukaannya. Karena biasanya yang diserang adalah sel T lymphosit (sel yang berperan dalam sistem imun tubuh), maka sel yang diinfeksi oleh HIV adalah sel T yang mengekspresikan CD4 di permukaannya (CD4+ T cell). (1,8)

4

Setelah berikatan dengan receptor, virus berfusi dengan sel (fusion) dan kemudian melepaskan genomnya ke dalam sel. Di dalam sel, RNA mengalami proses reverse transcription, yaitu proses perubahan RNA menjadi DNA. Proses ini dilakukan oleh enzim reverse transcriptase. Proses sampai step ini hampir sama dengan beberapa virus RNA lainnya. Yang menjadi ciri khas dari retrovirus ini adalah DNA yang terbentuk kemudian bergabung dengan DNA genom dari sel yang diinfeksinya. Proses ini dinamakan integrasi (integration). Proses ini dilakukan oleh enzim integrase yang dimiliki oleh virus itu sendiri. DNA virus yang terintegrasi ke dalam genom sel dinamakan provirus. (1,8) Dalam kondisi provirus, genom virus akan stabil dan mengalami proses replikasi sebagaimana DNA sel itu sendiri. Akibatnya, setiap DNA sel menjalankan proses replikasi secara otomatis genom virus akan ikut bereplikasi. Dalam kondisi ini virus bisa memproteksi diri dari serangan sistem imun tubuh dan sekaligus memungkinkan manusia terinfeksi virus seumur hidup (a life long infection). (1,8) Spesifikasi HIV terhadap CD4+ T cell ini membuat virus ini bisa digunakan sebagai vektor untuk pengobatan gen (gene therapy) yang efisien bagi pasien HIV/AIDS. Soalnya, vektor HIV yang membawa gen anti-HIV hanya akan masuk ke dalam sel yang sudah dan akan diinfeksi oleh virus HIV itu sendiri. Limfosit CD4+ merupakan target utama infeksi HIV karena virus mempunyai afinitas terhadap molekul permukaan CD4. Limfosit CD4+ berfungsi mengkoordinasikan sejumlah fungsi imunologis yang penting. Hilangnya fungsi tersebut menyebabkan gangguan respon imun yang progresif. Kejadian infeksi HIV primer dapat dipelajari pada model infeksi akut Simian Immunodeficiency Virus ( SIV ). SIV dapat menginfeksi limfosit CD4+ dan monosit pada mukosa vagina. (1,8)

5

GAMBAR: Penyebaran virus ke organ seluruh tubuh.(4) Virus dibawa oleh antigen presenting cells ke kelenjar getah bening regional. Pada model ini, virus dideteksi pada kelenjar getah bening dalam 5 hari setelah inokulasi. Sel individual di kelenjar getah bening yang mengekspresikan SIV dapat di deteksi dengan hibridisasi in situ dalam 7- 14 hari setelah inokulasi. Viremia SIV dideteksi 7-21 hari setelah infeksi . Puncak jumlah sel yang mengekspresikan SIV di kelenjar getah bening berhubungan dengan puncak antigenemia p26 SIV. Jumlah sel yang mengekspresikan virus di jaringan limfoid kemudian menurun secara cepat dan di hubungkan sementara dengan pembentukan respon imun spesifik. Koinsiden dengan menghilangnya viremia adalah peningkatan sel limfosit CD8. Walaupun demikian tidak dapat dikatakan bahwa respon sel limfosit CD8+ menyebabkan kontrol optimal terhadap replikasi HIV. Replikasi HIV berada pada keadaan steady-state beberapa bulan setelah infeksi . Kondisi ini bertahan relatif stabil selam beberapa tahun, namun lamanya sangat bervariasi. Faktor yang mempengaruhi tingkat6

replikasi HIV tersebut, dengan demikian juga perjalanan kekebalan tubuh pejamu, adalah heterogeneitas kapasitas replikatif virus dan heterogeneitas intrinsik pejamu. (1,8) Antibodi muncul di sirkulasi dalam beberapa minggu setelah infeksi, namun secara umum dapat dideteksi pertama kali setelah replikasi virus telah menurun sampai ke level steady state. Walaupun antibodi ini umumnya memiliki aktifitas netralisasi yang kuat melawan infeksi virus, namun ternyata tidak dapat mematikan virus. (1,8)

2.5 PERJALANAN PENYAKIT Dalam tubuh odha, partikel virus bergabung dengan DNA sel pasien, sehingga satu kali seseorang terinfeksi HIV, seumur hidup ia akan tetap terinfeksi. Dari semua orang yang terinfeksi HIV sebagian berkembang masuk tahap AIDS pada 3 tahun pertama, 50% berkembang menjadi pasien AIDS sesudah 10 tahun, dan sesudah 13 tahun hampir semua orang yang terinfeksi HIV menunjukkan gejala AIDS, dan kemudian meninggal. Perjalanan penyakit tersebut menunjukkan gambaran penyakit yang kronis, sesuai dengan kerusakan sistem kekebalan tubuh yang juga bertahap. (1,8) Infeksi HIV tidak akan langsung memperlihatkan tanda atau gejala tertentu. Sebagian memperlihatkan gejala tidak khas pada infeksi HIV akut, 3-6 minggu setelah terinfeksi. Gejala yang terjadi adalah demam, nyeri menelan, pembengkakan kelenjar getah bening, ruam, diare, atau batuk. Setelah infeksi akut, di mulailah infeksi HIV asimptomatik (tanpa gejala). Masa tanpa gejala ini umumnya berlangsung selama 8-10 tahun. Tetapi ada sekelompok kecil orang yang perjalanan penyakitnya amat cepat, dapat hanya sekitar 2 tahun, dan ada pula yang perjalanannya lambat (non-pogresor). Seiring dengan makin memburuknya kekebalan tubuh, odha mulai menampakkan gejala-gejala akibat infeksi oportunistik seperti berat badan menurun, demam lama, rasa lemah, pembesaran kelenjar getah bening, diare, tuberculosis, infeksi jamur, herpes, dll. (1,8) Tanpa pengobatan ARV, walaupun selama beberapa tahun tidak menunjukkan gejala, secara bertahap sistem kekebalan tubuh orang yang terinfeksi HIV akan memburuk, dan akhirnya pasien menunjukkan gejala klinik yang makin berat, pasien masuk tahap AIDS. Jadi yang disebut laten secara klinik (tanpa gejala), sebetulnya bukan laten bila ditinjau dari sudut penyakit HIV. Manifetasi dari awal dari kerusakan sistem kekebalan tubuh adalah kerusakan7

mikro arsitektur folikel kelenjar getah bening dan infeksi HIV yang luas di jaringan limfoid, yang dapat dilihat dengan pemeriksaan hibridisasi in situ.Sebagian besar replikasi HIV terjadi di kelenjar getah bening, bukan di peredaran darah tepi. (1,8) Pada waktu orang dengan infeksi HIV masih merasa sehat, klinis tidak menunjukkan gejala, pada waktu itu terjadi replikasi HIV yang tinggi, 10 partikel setiap hari. Replikasi yang cepat ini disertai dengan mutasi HIV dan seleksi, muncul HIV yang resisten. Bersamaan dengan replikasi HIV, terjadi kehancuran limfosit CD4 yang tinggi, untungnya tubuh masih bias mengkompensasi dengan memproduksi limfosit CD4 sekitar 109 sel setiap hari. (1,8) Perjalanan penyakit lebih progresif pada pengguna narkotika. Lebih dari 80% pengguna narkotika terinfeksi virus hepatitis C. Infeksi pada katup jantung juga adalah penyakit yang dijumpai pada odha pengguna narkotika dan biasanya tidak ditemukan pada odha yang tertular dengan cara lain. Lamanya penggunaan jarum suntik berbanding lurus dengan infeksi pneumonia dan tuberkulosis. Makin lama seseorang menggunakan narkotika suntik , makin mudah terkena pneumonia dan tuberkulosis. Infeksi secara bersamaan ini akan menimbulkan efek yang buruk. Infeksi oleh kuman penyakit lain akan menyebabkan virus HIV membelah dengan lebih cepat sehingga jumlahnya akan meningkat pesat. Selain itu juga dapat menyebabkan reaktivasi virus di dalam limfosit T. Akibatnya perjalanan penyakitnya biasanya lebih progresif. (1,8)

2.6 MANIFESTASI KLINIS Gejala infeksi HIV pada awalnya sulit dikenali karena seringkali mirip penyakit ringan sehari-hari seperti flu dan diare sehingga penderita tampak sehat. Kadang-kadang dalam 6 minggu pertama setelah kontak penularan timbul gejala tidak khas berupa demam, rasa letih, sakit sendi, sakit menelan dan pembengkakan kelenjar getah bening di bawah telinga, ketiak dan selangkangan. Gejala ini biasanya sembuh sendiri dan sampai 4-5 tahun mungkin tidak muncul gejala. (1,6,7,8,9) Pada tahun ke 5 atau 6 tergantung masing-masing penderita, mulai timbul diare berulang, penurunan berat badan secara mendadak, sering sariawan di mulut dan pembengkakan di daerah kelenjar getah bening. Kemudian tahap lebih lanjut akan terjadi

8

penurunan berat badan secara cepat (> 10%), diare terus-menerus lebih dari 1 bulan disertai panas badan yang hilang timbul atau terus menerus. (1,6,7,8,9) Tanda-tanda seorang tertular HIV Sebenarnya tidak ada tanda-tanda khusus yang bisa menandai apakah seseorang telah tertular HIV, karena keberadaan virus HIV sendiri membutuhkan waktu yang cukup panjang (5 sampai 10 tahun hingga mencapai masa yang disebut fullblown AIDS). Adanya HIV di dalam darah bisa terjadi tanpa seseorang menunjukan gejala penyakit tertentu dan ini disebut masa HIV positif. Bila seseorang terinfeksi HIV untuk pertama kali dan kemudian memeriksakan diri dengan menjalani tes darah, maka dalam tes pertama tersebut belum tentu dapat dideteksi adanya virus HIV di dalam darah. Hal ini disebabkan karena tubuh kita membutuhkan waktu sekitar 3 6 bulan untuk membentuk antibodi yang nantinya akan dideteksi oleh tes darah tersebut. Masa ini disebut window period (periode jendela) . Dalam masa ini , bila orang tersebut ternyata sudah mempunyai virus HIV di dalam tubuhnya (walau pun belum bisa di deteksi melalui tes darah), ia sudah bisa menularkan HIV melalui perilaku yang disebutkan di atas tadi(1,6,7,8,9)

Secara umum, tanda-tanda utama yang terlihat pada seseorang yang sudah sampai pada tahapan AIDS adalah: (1,6,7,8,9) Berat badan menurun lebih dari 10% dalam waktu singkat Demam tinggi berkepanjangan (lebih dari satu bulan) Diare berkepanjangan (lebih dari satu bulan) Sedangkan gejala-gejala tambahan berupa : Batuk berkepanjagan (lebih dari satu bulan) Kelainan kulit dan iritasi (gatal) Infeksi jamur pada mulut dan kerongkongan Pembengkakan kelenjar getah bening di seluruh tubuh, seperti di bawah telinga, leher, ketiak dan lipatan paha.

9

Perbedaan antara HIV dan AIDS, yaitu: (1,6,7,8,9) A. HIV adalah Human Immuno Deficiency Virus, suatu virus yang menyerang sel darah putih manusia dan menyebabkan menurunnya kekebalan/ daya tahan tubuh, sehingga mudah terserang infeksi/penyakit. B. AIDS adalah Acquired Immune Deficiency Syndrome, yaitu timbulnya sekumpulan gejala penyakit yang terjadi karena kekebalan tubuh menurun,oleh karena adanya virus HIV di dalam darah dap HIV/AIDS yang meninggal Gejala muncul setelah 2 - 10 tahun terinfeksi HIV. Pada masa tanpa gejala sangat mungkin menularkan kepada orang lain. Setiap orang dapat tertular HIV/AIDS. Belum ada vaksin dan obat penyembuhnya.

(1,6,7,8,9)

Dalam masa sekitar 3 bulan setelah tertular, tubuh belum membentuk antibodi secara sempurna, sehingga tes darah tidak memperlihatkan bahwa orang tersebut telah tertular HIV. Masa 3 bulan ini sering disebut dengan masa jendela

Masa tanpa gejala, yaitu waktu (5 - 7 tahun) dimana tes darah sudah menunjukkan adanya anti bodi HIV dalam darah, artinya positif HIV, namun pada masa ini tidak timbul gejala yang menunjukkan orang tersebut menderita AIDS, atau dia tampak sehat.

Masa dengan gejala, ini sering disebut masa sebagai penderita AIDS. Gejala AIDS sudah timbul dan biasanya penderita dapat bertahan 6 bulan sampai 2 tahun dan kemudian meninggal

10

2.7 PEMERIKSAAN PENUNJANG Tes darah(1,6,7,8,9) Tes untuk mengetahui antibodi HIV pertama tersedia pada 1985. Baru setelah tes dapat diperoleh, muncul berbagai pertanyaan tentang bagaimana cara memakai tes tersebut. Umumnya, orang dapat dibagi dalam dua kubu: mereka yang setuju dengan tes secara sukarela dan mereka yang mengusulkan tes wajib. Gagasan wajib melakukan tes ditolak oleh sebagian besar negara akibat biaya dan masalah logistik yang terkait.3 Tiga negara yang mewajibkan tes adalah Kuba (75 persen warga dites), Bulgaria (45 persen dites) dan bekas Uni Soviet (30 persen). (1,6,7,8,9) Karena HIV tidak ditularkan melalui hubungan biasa sehari-hari (yaitu, bukan virus yang diangkut udara) tetapi melalui perilaku tertentu, tes wajib untuk seluruh penduduk dilihat sangat mahal, secara ilmiah tidak dapat dibenarkan, dan dapat menimbulkan perlakuan tidak adil. Di negara lain, kelompok tertentu dijadikan sasaran, sering kali tanpa persetujuan dari yang bersangkutan. Kelompok ini mencakup narapidana, pekerja seks, pengguna narkoba dalam tempat pemulihan, dan wanita hamil. (1,6,7,8,9) Penolakan terhadap tes HIV berarti program harus mengembangkan strategi untuk membujuk orang yang berisiko terinfeksi HIV untuk melakukan tes HIV karena akan bermanfaat untuk mereka. (1,6,7,8,9) Orang yang mengusulkan tes sukarela secara luas menganggap bahwa jika seseorang mengetahui apakah ia terinfeksi HIV atau tidak akan menjadi unsure penting dalam mendorong terjadinya perubahan. Berarti, orang dengan HIV akan menerapkan penggunaan narkoba atau hubungan seks yang lebih aman untuk melindungi pasangannya, dan orang yang memakai narkoba bersamanya. Untuk mereka yang HIV-negatif, akan mendorong perubahan perilaku agar meyakinkan bahwa mereka tidak tertular HIV di masa yang akan datang. Sebaliknya, ada yang menganggap bahwa setiap orang yang menggunakan narkoba dengan jarum suntik dan melakukan seks yang tidak aman harus mengubah perilakunya, terlepas apakah mereka HIV-positif atau tidak. Karena pesannya sama, tes tidak dibutuhkan dan dapat meningkatkan perlakuan tidak adil, stigmatisasi dan pengucilan. Daripada melakukan tes secara massal, mereka mengusulkan program pendidikan massal sebagai gantinya. Banyak negara di Asia melakukan gabungan antara tes wajib, tes sukarela dan surveilans sentinel.(1,6,7,8,9)

11

Bagaimanakah tes HIV dipakai? Umumnya tes HIV dipakai dalam dua cara: untuk surveilans masyarakat (surveilans sentinel) dan untuk diagnosis perorangan. Surveilans masyarakat biasanya dilakukan dengan melakukan tes intensif (skrining) terhadap kelompok kunci dalam masyarakat agar mengetahui luasnya penyebaran infeksi HIV. Ini dapat dilakukan dengan mengadakan skrining HIV pada perempuan hamil atau pasien IMS, agar mengetahui berapa yang terinfeksi HIV pada waktu tertentu: skrining ulangan di kemudian hari dapat menunjukkan cepatnya HIV menyebar dalam masyarakat tertentu itu. Orang yang dites dengan cara ini tidak diberitahukan hasil tesnya dan hasilnya juga anonim (tanpa nama). (1,6,7,8,9) Tes perorangan adalah untuk mereka yang merasa mungkin telah terpajan oleh HIV melalui praktek penyuntikan, seks yang berisiko, atau dari transfusi darah. Tes seperti ini harus mencakup konseling prates dan pascates (untuk informasi lebih lanjut lihat ini). Melakukan tes memungkinkan orang untuk mengubah perilakunya sehingga mereka tidak menularkan virus itu (jika hasil tesnya positif) atau, jika hasil tes mereka negatif, untuk meyakinkan mereka supaya tidak tertular virus ini di masa mendatang. Tes juga bisa berarti bahwa orang mungkin mendapatkan saran-saran berkaitan dengan kesehatan mereka, pengobatan untuk infeksi oportunistik seperti TB, dan informasi tentang bagaimana mengurangi kemungkinan menularkan virus pada bayinya yang belum lahir, saat melahirkan atau ketika menyusui. (1,6,7,8,9)

12

2.8 PENCEGAHAN (1,6,7,8,9) 2.8.1 PENULARAN LEWAT SUNTIKAN - Gunakan selalu jarum suntik yang steril dan baru setiap kali akan melakukan penyuntikan atau proses lain yang mengakibatkan terjadinya luka

1. Semua alat yang menembus kulit dan darah (jarum suntik, jarum tato, atau pisau cukur) harus disterilisasi dengan benar 2. Jangan memakai jarum suntik atau alat yang menembus kulit bergantian dengan orang lain

2.8.2 PENULARAN LEWAT HUBUNGAN SEKS - Selalu menerapkan kewaspadaan mengenai seks aman (artinya : hubungan seks yang tidak memungkinkan tercampurnya cairan kelamin, karena hal ini memungkinkan penularan HIV)

1. Abstinensi (atau puasa, tidak melakukan hubungan seks) 2. Melakukan prinsip monogami yaitu tidak berganti-ganti pasangan dan saling setia kepada pasangannya 3. Untuk yang melakukan hubungan seksual yang mengandung risiko, dianjurkan melakukan seks aman termasuk menggunakan kondom

2.8.3 PENULARAN LEWAT ASI - Bila ibu hamil dalam keadaan HIV positif sebaiknya diberitahu tentang semua resiko dan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pada sendiri dan bayinya, sehingga keputusan untuk menyusui bayi dengan ASI sendiri bisa dipertimbangkan.

13

2.8.4 PENULARAN DARI IBU KE BAYI (3) 1. pencegahan penularan HIV pada perempuan usia reproduksi 2. Pencegahan kehamilan yang tidak direncanakan pada ibu HIV positif 3. pencegahan penularan HIV dari ibu hamil HIV positif ke bayi yang dikandungnya. 4. pemberian dukugan psikologis, social dan perawatan kepada ibu HIV positif berserta bayi dan keluarganya. Strategi yang digunakan untuk emncegah penularan disaat kehamilan, persalinan dan penyusuan adalah. 1. penggunaan terapi ARV pada ibu dan bayi. 2. seksio sesaria sebelum terjadinya pecah selaput ketuban. 3. pemberian susu formula.

Pemberian terapi arv pada bayi yang lahir denga ibu HIV. (3) AZT 2X/hari sejak lahir hingga usia 4-6 minggu dosis 4 mg/kgBB/kali

14

PEMBERIAN ARV PROFILAKSIS PADA BAYI YANG LAHIR DARI IBU HIV(3).

Status HIV dari wanita hamil

Sudah didiagnosis HIV sebelumnya dan sudah mendapatkan terapi ARV

Tes HIV (+)

Tes HIV (-)

AZT + 3TC + NVP atau TDF + 3TC (atau FTC) + NVP ANTENATAL Atau AZT + 3TC + EFV atau

TDF + 3TC (atau FTC) + EFV -------------------------------------------------------------------------------------------------------------PERSALINAN

Lanjutkan terapi ARV

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------POSTPARTUM ASI eksklusif atau susu formula Ibu:lanjutkan ARV Bayi: AZT, 2x/hari, dari lahir hingga usia 4-6 minggu (tidak melihat cara pemberian makanan pada bayi)

2.8.4 PENCEGAHAN AIDS PADA PETUGAS KESEHATAN (2) Jenis pajanan: Perlukaan kulit, pajanan pada selaput mukosa, pajanan melalui kulit yang luka dan gigitan yang berdarah. Bahan Pajanan: Darah, cairan bercampur darah yang kasat mata, cairan yang potensial terinfeksi: semen, cairan vagina, cairan serebrospinal, c. sinovia, c. pleura, c peritoneal, c. perickardial, c. amnion dan virus yang terkonsentrasi.15

Prinsip penanganan: Jangan Panik! tapi selesaikan dalam 13 tahun, 300 mg/dosis, 2x/hari. 2. Lamivudin (NRTIs) Tablet: 150 mg Semua umur < 30 hari< 2 mg/kg/dosis, 2x/hari (profilaksis) > 30 hari atau

20

tetap Zinovudin plus Lamivudin 4. Nevirapin (NNRTIs)

300 (AZT)

mg

60 kg: 1 tablet/dosis, 2x/hari (tidak untuk berat badan 30 kg)

plus 150 mg (3TC) Tablet: 200 mg Semua umur

< 8 tahun: 200 mg/m2

Dua minggu pertama 1x/hari. Selanjutnya 2x/hari. > 8 tahun: 120-150 mg/m2,

Dua minggu pertama, 1x/hari Selanjutnya 2x/hari. 5. Efavirenz (NNRTIs) 600mg Hanya untuk anak >3 tahun dan berat >10 kg 10-15 kg: 200 mg

1x/sehari. 15 - 37.5 kg 300 mg/dosis, 2x/hari

8.

Tenofovir disoproxil

Tablet: 300 mg21

Diberikan setiap 24 jam. Interaksi obat dengan ddl, tidak lagi

fumarat (NRTIs) 9. Tenofovir emtricitabin + tablet 200 mg/ mg 300

dipadukan dengan ddl.

2.9.2 LINI KEDUA(3,5) No. Nama generik Formulasi Data farmakokin etik 1. Lopinavir/ ritonavir (PI) Tablet tahan suhu 6 bulan panas, 200 mg Lopinavir + 50 mg ritonavir 400 mg/100 mg setiap 12 jam untuk pasien naf baik dengan atau tanpa Dosis

kombinasi EFV atau NVP. 600 mg/ 150 mg setiap 12 jam bila dikombinasi

dengan EFV atau NVP untum pasien yag pernah mendapat terapi ARV 2 minggu- 6 bulan: 16 mg/4 mg/kg BB, 2x/hari 6 bulan 18 bulan: 10 mg/lgBB/dosis lopinavir 2. Tenofovir disoproxil fumarat (NRTIs) Tablet: 300 mg Diberikan setiap 24 jam interaksi obat dengan ddl, tidak lagi

dipadukan dengan ddl.

22

2.9.3 REGIMEN ARV KOMBINASI UNTUK ANAK-ANAK(3,5) Singkatan menurut WHO FDC Stavudinr (D4T) Dosis/tablet (mg) Lamivudine(3TC) Dosis/tablet (mg) 60 Nevirapine (NVP)

Dosis/tablet (mg) -

Paediatric FDC 12 12 dual Paediatric FDC 12 12 tripel

60

100

2.9.4 DOSIS KOMBINASI TERAPI ARV UNTUK ANAK (3) REGIMEN d4T 3TC NVP BB Pengobatan hari ke 1-14 inisial Dosis setelah 2 REGIMEN d4T 3TC EFV rumatan D4T 3TC minggu EFV

pengobatan inisial Tab tripel am 68.9 kg 9-12 kg 12-13.9 kg 14-16.9 kg 1.5 1 1.5 1 1.5 1 200 plus mg 17-19,9 kg 1.5 1 1.5 1 1.5 1 200 plu mg 20-24.9 kg 1.5 1.5 1.5 1.5 1.5 1.5 200 plus 2x50 mg 25-29.9 kg 2 2 2 2 2 2 200 plus mg mg mg 50 mg 50 Tab dual Tab tripel Tab pm am tripel pm Tabl dual Tab dual Kapsul am pm efavirens pm 0.5 1 1 0.5 0.5 1 0.5 1 1 0.5 0.5 1 1 1 0.5 1 200 mg 200 mg

23

3x50 mg

2.9.5 REGIMEN KOMBINASI UNTUK DEWASA (3) 2NRTI + 1NNRTI atau AZT + 3TC +EFV AZT + 3TC + NVP TDF + 3TC (atau FTC) + EFV TDF + 3TC (atau FTC) + NVP

Tidak dianjurkan regiman berbasis Protease Inhibitor (PI) 2.9.6 REKOMENDASI WAKTU MEMULAI ARV (3) Target pasien Asimtomatik Simtomatik Klinis WHO stadium 1 WHO stadium 2 WHO stadium 3 atau 4 TB dan Hepatitis B TB aktif Rekomendasi CD4 < 350 CD4 < 350 CD4 berapa pun CD4 berapa pun diberikan secepatnya setelah OAT 2 bulan Ibu hamil WHO stadium apa pun CD4 berapa pun

Pemilihan obat yang berdasarkan pada kondisi pasien diantaranya adalah. 1. Kombinasi awal yang digunakan bagi pasien HIV dengan hasil lab normal adalah AZT+3TC (Duviral) + NVP (Neviral). 2. Bila pasien tersebut sedang dalam pengobatab TB maka yang digunakan adalah EFV. Setelah selesai pengobatan TB maka yang digunakan adalah EFV. Setelah selsai pengobatan TB, EFV diganti dengan NVP. 3. Bila pasien tersebut memiliki Hb 5000 kopi/ml Ambang batas viral load optimal mendefinisikan untuk kegagalan

virologist belum ditentukan VL>5000 berhubungan perkembangan penurunan CD4 kopi/ml dengan klinis dan

29

Alur pemindahan lini pertama ke lini kedua(3,5)

Dicurigai kegagalan klinis atau imunologis Pemeriksaan viral load

VL > 5000 kopi/ml

Penatalaksanaan kepatuhan

Pemeriksaan ulang VL

VL

of 55/55
BAB I 1. PENDAHULUAN Masalah HIV/AIDS adalah masalah besar yang mengancam Indonesia dan banyak Negara di seluruh dunia. UNAIDS memperkirakan jumlah ODHA di seluruh dunia pada Desember 2004 adalah 35,9 – 44,3 juta orng. Saat ini tidak ada Negara yang terbebas dari HIV/AIDS. Kasus pertama AIDS di dunia dilaporkan pada tahun 1981. Meskipun demikian, dari beberapa literature sebelumnya ditemukan kasus yang cocok dengan definisi surveilans AIDS pada tahun 1950 dan 1960-an di Amerika Serikat. Kasus pertama AIDS di Indonesia dilaporkan secara resmi oleh Departemen Kesehatan tahun 1987 yaitu pada seorang warga negara Belanda di Bali. Dan kini, kasus HIV/AIDS ini kini semakin meluas dan menyerang berbagai lapisan dan strata sosial. (1) 1
Embed Size (px)
Recommended