Home >Documents >Referat Bedah (Ats, Tt, Sabu)

Referat Bedah (Ats, Tt, Sabu)

Date post:23-Nov-2015
Category:
View:46 times
Download:2 times
Share this document with a friend
Transcript:

ARANI NADHIRA 1102009039

TETANUS

Tetanus adalah suatu penyakit toksemik akut dan fatal yang disebabkan oleh Clostridium tetani dengan tanda utama spasme tanpa gangguan kesadaran. Clostridium tetani menghasilkan eksotoksin bersifat anaerob, merupakan basil gram positif. Masa inkubasi penyakit ini adalah 154 hari, rata-rata 8 hari. Semakin lambat debridemen dan penanganan antitoksin, semakin pendek masa inkubasinya dan semakin buruk pula prognosisnya. Kuman masuk ke dalam luka melalui tanah, debu, atau kotoran.

Terdapat beberapa faktor yang memperburuk prognosis seperti masa inkubasi yang pendek, stadium penyakit yang parah, penderita yang lanjut usia, neonatus, kenaikan suhu yang tinggi, pengobatan yang lambat, adanya komplikasi seperti status konvulsivus, gagal jantung, fraktur vertebra, pneumonia. Ciri khas kejang pada tetanus yaitu kejang tanpa penurunan kesadaran, dan awitan penyakit (waktu dari timbulnya gejala pertama hingga terjadi kejang) adalah 2472 jam.

Gejala klinis timbul sebagai dampak eksotoksin pada sinaps ganglion spinal dan neuromuscular junction serta saraf autonom. Tetanus neonatorum menyebabkan 50% kematian perinatal dan 20% kematian bayi. Angka kejadian 6-7/100 kelahiran hidup di perkotaan dan 11-23/100 kelahiran hidup di pedesaan. Disebut juga lockjaw karena terjadi kejang pada otot rahang. Tetanus banyak ditemukan di negara-negara berkembang.

Gejala dan tandaGejala pertama biasanya rasa sakit pada luka, diikuti trismus (kaku rahang, sukar membuka mulut lebar-lebar), rhisus sardonicus (wajah setan). Kemudian diikuti kaku kuduk, kaku otot perut, gaya berjalan khas seperti robot, sukar menelan, dan laringospasme. Pada keadaan yang lebih berat, terjadi epistothonus (posisi cephalic tarsal), dimana pada saat kejang badan penderita melengkung dan bila ditelentangkan hanya kepala dan bagian tarsa kaki saja yang menyentuh dasar tempat berbaring. Dapat terjadi spasme diafragma dan otot-otot pernapasan lainnya. Pada saat kejang, penderita tetap dalam keadaan sadar. Suhu tubuh normal hingga subfebris, sekujur tubuh berkeringat.

Pada pasien anak, ketika melakukan anamnesis sebaiknya ditanyakan: Riwayat mendapat trauma, pemotongan dan perawatan tali pusat yang tidak steril, riwayat menderita otitis media supurativa kronik (OMSK), atau gangren gigi. Riwayat tidak diimunisasi/tidak lengkap imunisasi tetanus.

Pemeriksaan fisis Masa inkubasi 5-14 hari. Gejala awal adalah trismus; pada neonatus tidak dapat/sulit menetek, mulut mencucu. Disertai dengan kaku kuduk, resus sardonikus, opistotonus, perut papan. Selanjutnya dapat diikuti kejang apabila dirangsang atau kejang spontan; pada kasus berat dijumpai status konvulsivus.

Derajat penyakit Derajat I (tetanus ringan) Trismus ringan sampai sedang. Kekakuan umum: kaku kuduk, opistotonus, perut papan. Tidak dijumpai disfagia atau ringan. Tidak dijumpai kejang. Tidak dijumpai gangguan respirasi.

Derajat II (tetanus sedang) Trismus sedang. Kekakuan jelas. Dijumpai kejang rangsang, tidak ada kejang spontan. Takipneu. Disfagia ringan.

Derajat III (tetanus berat) Trismus berat. Otot spastis, kejang spontan. Takipne, takikardia. Serangan apne (apneic spell). Disfagia berat. Aktivitas sistem autonom meningkat.

Derajat IV (stadium terminal), derajat III ditambah dengan: Gangguan autonom berat. Hipertensi berat dan takikardi, atau hipotensi dan bradikardi. Hipertensi berat atau hipotensi berat.

Mekanisme kerja toksin tetanus1. Jenis toksinClostridium tetani menghasilkan tetanolisin dan tetanospasmin. Tetanolisin mempunyai efek hemolisin dan protease, pada dosis tinggi berefek kardiotoksik dan neurotoksik. Sampai saat ini peran tetanolisin pada tetanus manusia belum diketahui pasti. Tetanospasmin mempunyai efek neurotoksik, penelitian mengenai patogenesis penyakit tetanus terutama dihubungkan dengan toksin tersebut.

2. Toksin tetanus dan reseptornya pada jaringan sarafToksin tetanus berkaitan dengan gangliosid ujung membran presinaptik, baik pada neuromuskular junction, mupun pada susunan saraf pusat. Ikatan ini penting untuk transport toksin melalui serabut saraf, namun hubungan antara pengikat dan toksisitas belum diketahui secara jelas.Lazarovisi dkk (1984) berhasil mengidentifikasikan 2 bentuk toksin tetanus, yaitu toksin A yang kurang mempunyai kemampuan untuk berikatan dengan sel saraf namun tetap mempunyai efek antigenitas dan biotoksisitas, dan toksin B yang kuat berikatan dengan sel saraf.

NormalInhibitory interneuron glycine blocks excitation & acetylcholine release muscle relaxation

Tetanus toxinBlocks glycine release no inhibition at acetylcholine release irreversible contraction spastic paralysis

3. Kerja toksin tetanus pada neurotransmitterTempat kerja utama toksin adalah pada sinaps inhibisi dari susunan saraf pusat, yaitu dengan jalan mencegah pelepasan neurotransmiter inhibisi, seperti glisin, Gamma Amino Butyric Acid (GABA), dopamin dan noradrenalin. GABA adalah neuro-inhibitor yang paling utama pada susunan saraf pusat, yang berfungsi mencegah pelepasan impuls saraf yang eksesif. Toksin tetanus tidak mencegah sintesis atau penyimpanan glisin maupun GABA, namun secara spesifik menghambat pelepasan kedua neurotransmiter tersebut di daerah sinaps dangan cara mempengaruhi sensitifitas terhadap kalsium dan proses eksositosis.

Penatalaksanaan1. AntibiotikPenisilin: dosis dewasa 1,2 juta IU per 8 jam IM selama 5 hari; dosis anak-anak 50 ribu IU/kgBB/hari, dilanjutkan hingga 3 hari bebas panas.Tetrasiklin: dosis dewasa 4 x 500 mg/hari; dosis anak-anak 40 mg/kgBB/hari.Pengobatan dengan antibiotika ditujukan untuk bentuk vegetatif Clostridium tetani, sebagai pengobatan radikal untuk membunuh kuman tetanus yang masih ada dalam tubuh sehingga tidak ada lagi sumber eksotoksin.2. Netralisasi toksinAnti tetanus serum (ATS), dilakukan uji kulit lebih dulu.Bila tersedia, dapat diberikan human tetanus immunoglobulin (HTIg).3. Anti konvulsanFenobarbital: dosis dewasa 3 x 100 mg IM, dosis anak-anak mula-mula 60100 mg IM kemudian 6 x 30 mg per oral, maksimum 200 mg/hari.Diazepam: dosis dewasa 3 x 10 mg IV; dosis anak-anak mula-mula 0,51 mg/kgBB IM kemudian per oral 1,54 mg/kgBB/hari dibagi dalam 6 dosis.4. Perawatan luka atau port dentree dilakukan setelah diberi antitoksin dan anti-konvulsan.5. Terapi suportif Bebaskan jalan napas. Hindarkan aspirasi dengan mengisap lendir perlahan-lahan dan memindah-mindahkan posisi pasien. Pemberian oksigen. Perawatan dengan stimulasi minimal. Pemberian cairan dan nutrisi adekuat, bila trismus berat dapat dipasang sonde nasogastrik (NGT). Bantuan napas pada tetanus berat atau tetanus neonatorum. Pemantauan/monitoring kejang dan tanda penyulit.

Tetanus ringan dan sedang Diberikan pengobatan tetanus dasar.

Tetanus sedang Terapi dasar tetanus. Perhatian khusus pada keadaan jalan napas (akibat kejang dan aspirasi). Pemberian cairan parenteral, bila perlu nutrisi secara parenteral.

Tetanus berat Terapi dasar seperti di atas. Perawatan dilakukan di ICU, diperlukan intubasi dan ventilator. Keseimbangan cairan dimonitor secara adekuat. Apabila spasme sangat hebat, berikan pankuronium bromida 0,02 mg/kg IV, diikuti 0,05 mg/kg/kali, diberikan tiap 2-3 jam. Apabila terjadi aktivitas simpatis yang berlebihan, berikan b-blocker seperti propranolol atau a dan b-blocker labetolol.

Pencegahan1. Pencegahan pada luka (tanpa memperhatikan status imunisasi) Luka dibersihkan, jaringan nekrotik dan benda asing dibuang. Luka ringan dan bersih Imunisasi lengkap: tidak perlu ATS atau tetanus imunoglobulin. Imunisasi tidak lengkap: imunisasi aktif DPT/DT. Luka sedang/berat dan kotor Imunisasi (-) atau tidak jelas: ATS 3000-5000 U, IV, tetanus imunoglobulin 250-500 U. Toksoid tetanus pada sisi lain. Imunisasi (+), lamanya sudah >5 tahun: ulangan toksoid, ATS 3000-5000 U, IV, tetanus imunoglobulin 250-500 U.2. Tetanus Toksoid (TT)Imunisasi dasar dengan dosis 0,5 cc IM, yang diberikan 1x sebulan selama 3 bulan berturut-turut. Booster diberikan 10 tahun kemudian setelah suntikan ketiga imunisasi dasar, selanjutnya setiap 10 tahun setelah pemberian booster di atas. Setiap penderita luka harus mendapat tetanus toksoid IM pada saat cedera, kecuali bila penderita telah mendapatkan booster atau menyelesaikan imunisasi dasar dalam 5 tahun terakhir.

3. Imunisasi pasifATS dapat merupakan antitoksin bovine maupun equine. Dosis yang diberikan untuk orang dewasa adalah 1500 IU per IM, dan untuk anak adalah 750 IU per IM.Human Tetanus Immunoglobuline (HTIg) diberikan 250 IU per IM untuk dewasa dan 125 IU per IM untuk anak-anak. HTIg diberikan bila penderita mempunyai alergi terhadap ATS yang berasal dari hewan. Kerugian HTIg adalah harganya mahal, sedangkan keuntungannya adalah pemberiannya tanpa didahului tes sensitivitas. Pasien yang belum pernah mendapat imunisasi aktif maupun pasif, merupakan keharusan untuk diimunisasi.ATS dan HTIg ditujukan untuk mencegah eksotoksin berikatan dengan susunan saraf pusat (yang menyebabkan kejang). ATS/HTIg hanya mengikat eksotoksin yang berada di darah. Untuk mencegah terbentuknya eksotoksin baru, maka Clostridium tetani harus dilumpuhkan dengan antibiotik.

ANTI-TETANUS SERUM (ATS)

Serum anti-tetanus ini adalah serum yang dibuat dari plasma kuda yang dikebalkan terhadap toksin tetanus. Plasma ini dimurnikan dan dipekatkan serta mengandung fenol 0,25% sebagai pengawet.

Dosis dan cara pemberian1. Dosis profilaksis 1500 IUper IM secepat mungkin kepada seseorang yang luka dan terkontaminasi dengan tanah, debu jalan, atau lain-lain bahan yang dapat menyebabkan infeksi Clostridium tetani. Dua minggu kemudian dilanjutkan dengan pemberian kekebalan aktif dengan vaksin serap tetanus, supaya jika mendapat luka lagi tidak perlu diberi serum anti-tetanus profilaktik, tetapi cukup diberi booster vaksin serap tetanus.2. Dosis terap

Click here to load reader

Embed Size (px)
Recommended