Home > Documents > Ref Karawang Blog Unpad

Ref Karawang Blog Unpad

Date post: 16-Oct-2015
Category:
Author: bagus-yulianto
View: 73 times
Download: 0 times
Share this document with a friend
Embed Size (px)

of 28

Transcript

Kamis, 12 Desember 2013Sketsa Gua Cinyurup

Sketsa Gua Ini Dibuat oleh Jabir a.k.a.Bayu Era Sandera

Pada tanggal 7 s.d. 10 Juli 2005 satu tim caving Palawa Unpad mendatangi kawasan karst Pangkalan, Karawang. Salah satu oleh-oleh yang dibawa ketika pulang adalah sketsa ini dan beberapa catatan ringkas mengenai kondisi alam dan kronik perjalanan.Diposkan olehDok Palawa Unpaddi01.48Tidak ada komentar:Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke PinterestLabel:Bayu Era Sandera,gunung kapur karawang,karawang,karst jabar,karst karawang,karst pangkalan,kawasan karst,Latgab Caving Jabodetabeka,Renaldi Bangun Sugito,save our karst,Sejarah Ringkas KarawangRabu, 11 Desember 2013Gua GedePeta dibuat oleh Tim Latgab Caving Jabodetabeka

Peta dibuat oleh Tim Latgab Caving Jabodetabeka

Peta ini dibuat oleh tim latgab cavingJabodetabeka. Terimakasih kepada seluruh tim dan pendukungnya. Semoga ini menjadi amal ibadah yang tiada akan pernah putus. Amin.Diposkan olehDok Palawa Unpaddi19.47Tidak ada komentar:Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke PinterestGua Cikeman

Peta dibuat oleh Tim Latgab Caving Jabodetabeka

Peta ini dibuat oleh tim latgab cavingJabodetabeka. Terimakasih kepada seluruh tim dan pendukungnya.Diposkan olehDok Palawa Unpaddi19.16Tidak ada komentar:Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke PinterestLabel:gunung kapur karawang,karawang,karst jabar,karst karawang,karst pangkalan,kawasan karst,Latgab Caving Jabodetabeka,save our karst,Sejarah Ringkas Karawang,T BachtiarCandi Batujaya dan Karst PangkalanSengaja saya tempatkan Candi Batujaya dalam posisi sejajar dengan Karst Pangkalan karena dengan susunan itu saya bermaksud sedikit menyinggung keterhubungan di antara keduanya. Ternyata, dari salah sebuahrilis beritadapat terbaca bahwa, Karst Pangkalan telah berfungsi penting sejak zaman Tarumanegara (sekira abad ke-3 atau ke-4 M).Informasi tersebut bagi saya menarik dan unik. Melalui teknologi beton stuko (stucco), kita dapat membayangkan peradaban seperti apa yang pernah hadir di Karawang. Beton stuko adalah simbol kemajuan. Darinya kita dapat membayangkankemandirian dan kemajuan masyarakat di sana pada zaman itu. Stuko atau plester berwarna putih digunakan sebagai pelapis tembok candi-candi di kompleks percandian Batujaya agar lebih kuat. Stuko juga digunakan untuk membuat ornamen, relief, dan arca. Bahan baku stuko diperoleh dari pembakaran batu kapur pada suhu 900-1.000 derajat celsius. Dan kapur tersebut diambil dari pegunungan gamping yang membentang dari arah barat-timur sepanjang 20 kilometer diwilayah Karawang Selatan.

Radar Karawang, dalam sebuah rilisnya, memberi banyak keterangan dasar untuk mengenal kawasan karst Pangkalan. Diketahui, secara geologis, Karst Pangkalan merupakan bentang alam yang terbentuk pada formasi batu gamping berumur Miosen Tengah-Akhir, kira-kira 10 15 juta tahun yang lalu yang dinamakan Formasi Parigi. Batuannya berupa batu gamping terumbu. Hal itu menunjukkan bahwa pada kala itu, daerah Pangkalan merupakan laut dangkal yang ditumbuhi terumbu karang yang tumbuh subur pada kondisi iklim hangat dengan air laut yang jernih. Saat terangkat sekarang ini, terumbu itu telah berubah menjadi wilayah perbukitan dengan ketinggian 50 120 m di atas permukaan laut sekarang.

Karst Pangkalan, sebagaimana Kawasan Karst Kelas I lainnya, mempunyai nilai-nilai sos-ek-dik-bud yang tidak dapat dipisah sendiri-sendiri. Kawasan yang membentang dari barat ke timur ini besar kemungkinan menyimpan banyak gua. Setidaknya di Desa Tamansari diketahui terdapat banyak gua, penelitian yang komprehensif besar kemungkinan belum dilakukan. Gua vertikal dan berupa lubang di permukaan tanah umumnya merupakan ladang panen sarang walet yang juga potensi bagus untuk peningkatan ekonomi masyarakat setempat. Menyinggung sarang burung walet, ada sebuah buku berjudulMayor Jantje - Cerita Tuan Tanah Batavia Abad ke-19(Jakarta, 2008), yang merupakan terjemahan dari bukuDe Zwaluwen van Klapanoenggal(Den Haag, 1979),karangan Johan Fabricius, relevan untuk turut diketengahkan.

Singkatnya buku tersebut menceritakan bukti-bukti pemanfaatan kawasan karst di Citeureup, Jawa Barat. Kisahnyarealistis.Mayor Jantje adalah pemilik tanah terluas di Jawa Barat. Amat sangat kaya raya. Cerita dibangun untuk mengatakan bahwa kawasan karst dan sarang walet adalah pasangan ideal; pembaca diajak untuk mengetahui bahwa salah satu sektor yang paling banyak menyumbang penghasilan sang mayor sehingga pundi kekayaannya terus bertumpuk-tumpuk adalah sarang-sarang walet yang subur dan terawat di gua-gua miliknya. Meski gaya hidup bermewah-mewah dilakoninya, namun kekayaannya bagai takberkurang dan justru terus berlipat-lipat ganda. Tetamu yang datang ke Vila Citeureup milik sang mayor menjadi kerasan tinggal karena dijamu dengan sebaik-baiknya perjamuan. Makanan, minuman, dan perempuan terus disajikan bersama iringan kesenian tandak dan tanjidor. Bunga nilai ekonomis yang tumbuh dan mekar dari kawasan karst dan gua-guanya tergambar begitu jelas dan nyata sehinga sedikit-sedikit mendorong pembacanya untuk turut menyetujui betapa lanskap karst yang kaya dan masih terjaga jauh lebih bernilai dibandingkan dengan pertambangan dan usaha-usaha industri ekstraktif apa pun.

Wartawan Radar Karawang (2012), Raka, mengutipBudi Brahmantyo (2008), mencatat sedikitnya terdapat 17 gua dengan potensi sarang walet, yaitu Luweng Pangambuh, Cibunut, Cimiring, Sempit, Keman, Cisumur, Sitela, Gede, Sipeleng, Cileuwi, Haji, Situmeja, Silonong, Cibenda, Ja`in, Cikandil, dan Cimandor. Ada empat gua sebagai sarang lalay, yaitu di Luweng Bahu, Sikondang, Gua Lumpang, dan Masigit. Ada empat gua tempat masukan air dan sungai bawah tanah, yaitu di Luweng Gede, Cibadak, Baucinyusup, dan Sitamyang. Sebuah gua dikeramatkan oleh penduduk setempat yaitu di gua berbentuk ceruk yang dikenal dengan Song Paseban.

Tim Latgab Mapala Jabodetabeka(2010) juga pernah membuat peta beberapa gua di kawasan tersebut, di antaranyaGua-gua yang dipetakan tersebut adalah Gua Bahu, Cinyurup III, Cilele, Citamiang, Haji, Bagong,Gede, Terowong, NN, Keman, Bedawang, Cikondang,Khotib, Cikembar, Cipeuleung, Pengemboh, Miring, dan Angin.Selain hasil peta gua, hasil lain dari kegiatan ini juga berupa titik koordinat lokasi mulut gua pada peta topography skala 1 : 25.000 juga data sosial budaya masyarakat sekitar yang diperoleh dari hasil wawancara beberapa warga di sekitar lokasi kegiatan.

Selain itu, kawasan karst ini mempunyai sedikitnya dua mata air potensial. Pertama adalah Ciburial yang mempunyai debit air lebih dari 5 liter/detik. Mata air ini dikelola oleh PDAM untuk didistribusikan di Kecamatan Pangkalan yang meliputi tiga desa besar, yaitu Ciptasari, Tamansari, dan Jatilaksana. Mata air lain sekalipun tidak sebesar Ciburial, juga banyak dijumpai di kaki-kaki perbukitan karst, misalnya Citaman, yang menjadi pemasok air bersih utama bagi kampung-kampung di sekitarnya.

Banyaknya mata air karst tidak lepas dari kondisi lingkungan yang masih cukup berhutan di wilayah perbukitan. Tentu saja keberlangsungan air bersih akan terjaga jika wilayah hutan dipertahankan. Maka jelaslah bagaimana fungsi antara hutan, lubang-lubang, dan gua-gua di permukaan tanah, serta gua-gua di dalam batuan menjadi satu sistem hidrologis yang kait-mengait. Antara eksokarst dan endokarst. Satu unsur di dalam sistem terganggu, seluruhnya akan ikut menerima dampak.

Di dalam berita yang dirilisKompas, kita juga menjadi tahu dan sedikit paham bahwa sudah selayaknya untuk diupayakan sebuah pengelolaan yg lestari dan berperspektif jangka panjang, pemerintah daerah juga harus berani menetapkan perlindungan terhadap situs utama (Batujaya) dan situs pendukung (Karst Pangkalan).

Saat ini, Karst Pangkalan nasibnya berada di ujung tanduk akibat eksploitasi penambangan dan pembuatan kapur bakar. Apakah pantas kalau kita hanya duduk sambil berpangku tangan? Ayo susun rencana. Pada mulanya (mungkin) ekskursi.

Diposkan olehDok Palawa Unpaddi09.51Tidak ada komentar:Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke PinterestLabel:Budi Brahmantyo,gunung kapur karawang,karst jabar,karst karawang,karst pangkalan,save our karstSelasa, 10 Desember 2013Gua Cinyurup III

Peta dibuat oleh Tim Latgab Caving Jabodetabeka

Peta ini dibuat oleh tim latgab cavingJabodetabeka. Terimakasih kepada seluruh tim dan pendukungnya. Semoga ini menjadi amal ibadah yang tiada akan pernah putus. Amin.Diposkan olehDok Palawa Unpaddi19.34Tidak ada komentar:Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke PinterestLabel:gunung kapur karawang,karawang,karst jabar,karst karawang,karst pangkalan,kawasan karst,Latgab Caving Jabodetabeka,save our karst,Sejarah Ringkas Karawang,T BachtiarGua Cilele

Peta dibuat oleh tim Latgab Caving Jabodetabeka

Peta ini dibuat oleh tim latgab cavingJabodetabeka. Terimakasih kepada seluruh tim dan pendukungnya.Diposkan olehDok Palawa Unpaddi19.22Tidak ada komentar:Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke PinterestLabel:gunung kapur karawang,karawang,karst jabar,karst karawang,karst pangkalan,kawasan karst,Latgab Caving Jabodetabeka,save our karst,Sejarah Ringkas KarawangGua Lorong

Peta dibuat oleh Tim Latgab Caving Jabodetabeka

Peta ini dibuat oleh tim latgab cavingJabodetabeka.Terimakasih kepada seluruh tim dan pendukungnya.Diposkan olehDok Palawa Unpaddi19.11Tidak ada komentar:Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke PinterestLabel:Budi Brahmantyo,gunung kapur karawang,karawang,karst jabar,karst karawang,karst pangkalan,kawasan karst,Latgab Caving Jabodetabeka,save our karst,Sejarah Ringkas Karawang,T BachtiarSenin, 09 Desember 2013Citarum Pangkalan Batujaya

menarik dicermati

Dari Citarum melintas dekat Pangkalan ke Batujaya. Menarik dicermati.

Sumber:Kompas.Diposkan olehDok Palawa Unpaddi01.23Tidak ada komentar:Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke PinterestMinggu, 08 Desember 2013Soal Izin Tambang Batu Kapur Kepala BPMPT Gusar

DPRD Dinilai Hambat Kinerja BPMPT

KARAWANG, RAKA - 1 November 2013 | Kepala Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu (BPMPT) Karawang Okih Hermawan, membantah keras jika pihaknya telah mengeluarkan ijin pemanfaatan ruang atas tanah seluas 150 hektar di wilayah Kecamatan Telukjambe Barat kepada PT Jui Shin Indonesia.

"Saya tidak akan mungkin berani mengeluarkan izin tanpa pertimbangan teknis dari BPN (Badan Pertanahan Nasional). Jadi apa yang ditulis Radar Karawang edisi hari ini (kemarin) di halaman 6, itu siapa sumbernya? Kalau ngomong atau nulis berita tolong deh jangan asal. Nih, soal izin itu yang luasnya di atas 50 hektar, pimpinan dewan juga terlibat. Mereka harus dilibatkan untuk memberikan persetujuan. Makanya jika kebijakan saya salah, saya siap dipecat dari kepala BPMPT," tandas Okih.

Bahkan ia berani mengingatkan siapapun, termasuk DPRD atas pernyataannya di koran ini, agar tidak menghambat kinerja BPMPT yang sedang serius mendorong tumbuhnya investasi di wilayah Kabupaten Karawang guna mendongkrak pendapatan asli daerah (PAD). Dikatakannya, tanah di wilayah Kecamatan Pangkalan kondisinya semerawut. Sehingga untuk memberikan perizinan atas penggunaannya sesuai ketentuan Perda nomor 2 tahun 2013 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Karawang 2011-2031, menurutnya, bukan persoalan sederhana.

"Sekali lagi saya tegaskan, mengenai izin pemanfaatan ruang merupakan hal yang sangat sakral. Saya tidak mungkin begitu saja berani mengeluarkan izin tanpa memenuhi syarat dan ketentuan yang berlaku, salah satunya pertimbangan teknis dari BPN. Saya mohon, tolong jangan ganggu BPMPT dengan pemberitaan-pemberitaan dari pernyataan yang bisa berpengaruh terhadap opini minor di tengah publik. Kita di sini lagi semangat-semangatnya bagaimana membangun pertumbuhan investasi di Karawang," ulang Okih masih bersuara tinggi.

Seperti diberitakan kemarin, anggota Komisi A DPRD, Ace Sopian Mustari, mengaku terkejut ketika membaca Radar Karawang edisi Rabu (30/10) yang mengabarkan bahwa PT Jui Shin Indonesia kembali mengeruk batu kapur di Desa Tamansari, Kecamatan Pangkalan untuk pabriknya yang berada di Bojongmangu, Bekasi. Ia curiga, apabila benar terjadi pembelian besar-besaran batu kapur dari para penambang tradisional tersebut bukan mustahil digunakan sebagai bahan baku produksi semen sebagaimana awal pengajuan ijin perusahaan ini yang pernah ditolak keberadaannya di Pangkalan.

Selanjutnya Ace juga mempertanyakan, jangan-jangan upaya BPMPT bersama Dinas Perindustrian Perdagangan Pertambangan dan Energi (Disperindag Tamben) membantu mengajukan permohonan dispensasi ijin penambangan bagi pengusaha setempat ke Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral ada keterkaitan dengan apa yang diinginkan Jui Shin. Apalagi pengusaha lokal yang sudah lama bergerak di penambangan batu kapur tradisional itu, diamininya, sudah banyak didengar publik punya kedekatan dengan orang penting di RDB (rumah dinas bupati). Termasuk dalam penguasaan lahan di wilayah Kecamatan Telukjambe Barat seluas 150 hektar peruntukan kawasan industri yang ijin penggunaan lahannya itu, Ace mendengar, sudah dikabulkan BPMPT kendati aspek pertimbangan teknisnya dari BPN Karawang belum turun. (vins)Diposkan olehDok Palawa Unpaddi04.00Tidak ada komentar:Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke PinterestLabel:gunung kapur karawang,karst jabar,karst karawang,karst pangkalan,save our karstPetani Tonjong Perlu Pasokan Air Sawah

Irigasi Tonjong Diharapkan Alirkan Air Secara Optimal

PANGKALAN, RAKA - Irigasi Tonjong diharapkan bisa mengalirkan air lebih baik dari sebelumnya pasca selesainya proyek rehabilitasi talang irigasi tersebut. Petani berharap kebutuhan air sawah untuk masa tanam musim ini bisa terpenuhi secara optimal.

Ketua Gabungan Perkumpulan Petani Pemakai Air (GP3A) Dewi Sri untuk daerah irigasi Tonjong, Ano Sukarno, baru-baru ini mengatakan, bertepatan dengan air akan dibutuhkan oleh petani perbaikan talang selesai, maka tinggal menunggu beberapa hari saja, air sudah bisa dialirkan. "Jika sekarang langsung dialirkan pekerjaanya sendiri baru selesai, dan khawatir terjadi kerusakan. Sebab kondisi lapisan semennya (aciannya, red) masih basah pada bagian atas, kalau untuk bagian dasarnya sudah direndam beberapa hari lalu," ucapnya.

Dijelaskan bahwa rendaman tersebut bertujuan ketika talang digunakan pada bagian bawahnya sudah corannya sudah benar-benar kering. Hingga tidak terjadi rembesan yang terkadang lama-kelamaan menjadi besar dan berbahaya. Maka dengan diuji menggunakan metode direndam diharapkan tidak terjadi rembesan, hingga talangnya sendiri menjadi awet. Sehingga jika saja pemerintah untuk kembali membangun sarana air untuk pertanian, maka ketika talang ini kokoh, berarti tinggal memperbaiki bagian lainnya, dan jika semuanya awet sesuai dengan umur ekonominya, semuanya bisa diperbaiki.Ditambahkan Ano, hal tersebut merupakan salah satu bentuk program Pemerintah Karawang melalui Dinas Bina Marga dan Pengairan untuk memperbaiki talang Bendung Tonjong, yang jebol di tahun 2012 lalu. Kalaupun tetap berfungsi dengan upaya swadaya Petani yang ada diwilayah kerja GP3A Dewi Sri. Namun mengingat pentingnya sarana tersebut dalam mengalirkan air di Daerah Irigasi (DI) Tonjong yang mengairi areal sawah hingga ratusan hektar, hingga kembali dibangun. Hal inipun menjadikan motivasi bagi ketua GP3A Dewi Sri ini untuk terus mempertahankan budaya iuran yang sudah di lakukan sejak terbentuk lembaga tersebut beberapa tahun yang lalu.

Menurutnya hal tersebut merupakan salah salah satu bentuk partisipasi masyarakat dalam pengelolaan dan perawatan daerah irigasi. Sebab jika saja selalu bergantung pada pemerintah, maka selama itulah petani tidak akan bisa mandiri. Dia juga mengaskan bahwa anggran pemerintah bukan hanya melayani satu program saja, akan tetapi melayani hingga ratusan program, maka jangan kaget ketika ada keterlambatan atau tidak sesuai keinginan.

Untuk mengantisipasi keterlembatan tersebutlah patani ini harus sudah siap karena pada hakekatnya yang menggunakan air itu adalah petani, dan ketika tidak ada bantuan dari luarpun (baik pemerintah maupun pengusaha) petani tetap membutuhkan air. Dari kondisi tersebutlah harapan ketua GP3A Dewi Sri ini bukan hanya dapat mempertahankan iuran yang sudah berjalan saja, akan tetapi dapat menambah program-program yang sekiranya mendukung pada kesadaran petani (dari segi administrasi) dan dapat meningkatkan kesejahteraan petani itu sendiri. Karena diyakini bahwa dari potensi daerah irigasi Tonjong mempunyai potensi yang cukup baik terutama dengan kondisi air yang sangat stabil, ditambah dengan daya dukung masyarakat yang masih mempunyai kekompakan. Hingga dengan menggulirkan program apapun yang bersifat untuk kemajuan masyarakatnya akan selalu merespon dengan baik.

Aleh (43) petani penerima manfaat dari Bendung Tonjong yang sekaligus bagian dari pengurus GP3A Dewi Sri ketika dimintai konfirmasinya berharap baik gambar teknik atau kontruksi untuk pembuatan talang akan lebih baik, dan merupakan hasil dari ananlisa pembuatan talang sebelumnya yang hanya bertahan dalam satu tahun. Apakah disebakan oleh cara pengerjaanya, atau kontruksinya yang jelas untuk saat ini pengerjaan tersebut bertepatan dengan kebutuhan petani yang akan kembali menggarap lahan pertaniannya. Dia juga menyebutkan keterlibatannya baik yang bersifat swakelola, atau oleh kontraktor maupun dalam pengerjaan kerja bakti yang digelar secara swadaya oleh petani melalui Iuran Penggunaan Air (Ipair). (ark)Diposkan olehDok Palawa Unpaddi03.40Tidak ada komentar:Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke PinterestLabel:gunung kapur karawang,karst jabar,karst karawang,karst pangkalan,save our karstTambang Kapur di Pangkalan Ciptakan Lahan KritisPANGKALAN, RAKA - Pemberian izin kepada pengusaha yang mengabaikan prinsip-prinsip lingkungan hidup, telah menghasilkan hamparan lahan kritis serta sungai yang mengering dan tercemar. Sementara peningkatan pendapatan pemerintah tidak memberikan pengaruh yang positif terhadap peningkatan kesejahteraan rakyat, di sekitar kawasan yang dikuras kekayaan alamnya itu.

Seperti diungkapkan toko masyarakat Desa Tamansari, Kecamatan Pangkalan, Abduloh SPd., MPd. "Jika saja pemerintah daerah ini serius, maka saya yakin lingkungan yang ada di wilayah Karawang selatan tidak separah saat ini. Mulai dari buruknya manajemen jalan Badami-Loji, hingga semakin maraknya galian," tutur Abduloh, beberapa waktu lalu.

Masih dikatakannya, sebenarnya sudah menjadi kewajiban pemerintah memenuhi dan melindungi hak-hak dasar rakyat. Sifat eksploitatif pemerintah, baik pemerintah pusat maupun daerah untuk mengejar pendapatan selama ini telah menjadikan rakyat kehilangan hak atas lingkungan hidup yang merupakan hak asasi rakyat.

Ditegaskan, kecamatan Pangkalan merupakan salah satu kecamatan di selatan Karawang yang letaknya tidak jauh dengan sumber air pegunungan. Namun akhir-akhir ini sebagian daerahnya mengalami kekeringan. Hal ini ironis, sebab kini malah semakin marak pertambangan batu kapur di Pangkalan, dan batu andesit di Tegalwaru.

Bahkan pola pertambangan tersebut bukan tradisional, melainkan menggunakan alat berat. Jika hal ini terus dibiarkan, maka sumber air akan semakin berkurang. "Penderitaan masyarakat ditambah dengan kemarau panjang. Masyarakat harus pintar-pintar menghemat pemakaian air. Beruntung mereka yang dekat dengan sungai Cigentis, dengan bermodalkan bensin dua liter saja bisa untuk menyedot air dari Cigentis itu untuk kebutuhan sehari-hari. Beda halnya dengan daerah yang jauh dari sumber air Cigentis, masyarakat hanya mengandalkan air sumur atau jika ada disuplai dari PDAM," kata aktivis lingkungan warga Kampung Jati, Desa Jatilaksana, Kecamatan Pangkalan, Marlina.Hal senada juga diungkapkan Lukman yang juga aktivis lingkungan. Kerusakan karts Pangkalan yang seolah dibiarkan, memperburuk kondisi alam di kecamatan tersebut. Alhasil, jangan aneh jika kemudian hari banyak terjadi bencana alam di Karawang selatan. (ark/rak)Diposkan olehDok Palawa Unpaddi03.37Tidak ada komentar:Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke PinterestLabel:gunung kapur karawang,karst jabar,karst karawang,karst pangkalan,save our karstRTH di Pangkalan BerkurangPANGKALAN, RAKA - Untuk meminimalisir terjadinya ekspansi industri yang dikhawatirkan akan mengurangi ruang terbuka hijau, hal yang harus dilakukan adalah memperketat pengawasan terhadap kawasan industri yang melakukan aktivitasnya di Karawang Selatan.

"Semakin berkurangnya ruang terbuka hijau di Karawang khususnya di karawang selatan, jelas memberikan dampak yang serius. Hal ini sudah dimulai sejak adanya zona industri. Bila tidak segera melakukan pengawasan ketat dikhawatirkan akan terjadi peningkatan pengurangan Ruang Tebuka Hijau (RTH)," ungkap pemerhati masalah lingkungan setempat, Abdullah, beberapa waktu lalu.

Ancaman pengurangan ruang terbuka hijau, dikatakn Abdullah, bisa mencapai hingga 5000 hektar dan salah satunya untuk pengadaan bandara. Dari luas tersebut belum lagi membutuhkan fasilitas pendukungnya yang pasti terjadi. "Diharapkan dengan kondisi seperti ini pemerintah daerah dapat memberlakukan atau menekan perusahaan agar mempunyai Ruang Terbuka Hijau (RTH) sesuai dengan aturan dan ketentuan yang berlaku. Sebab pengaruhnya sangat besar bagi kelangsungan hidup sebab Fungsi ekologis RTH yaitu dapat meningkatkan kualitas air tanah, mencegah banjir, mengurangi polusi udara dan pengatur iklim mikro," ucap warga kampung Citaman, Desa Tamasari ini.

Disebutkan juga ketentuan luasan 30 persen RTH di setiap perkotaan merupakan hasil kesepakatan dari Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bumi di Rio de Janeiro, Brazil (1992) dan dipertegas lagi pada KTT Johannesberg, Afrika Selatan 10 tahun. Namun Menurut Abdulah tampaknya untuk di selatan Karawang ini akan sulit terrealisir akibat terus adanya tekanan pertumbuhan dan kebutuhan sarana dan prasarana kota. Seperti pembangunan bangunan gedung, pengembangan dan penambahan jalur jalan yang terus meningkat serta peningkatan jumlah penduduk.

"Keberadaan RTH seringkali masih dikalahkan oleh berbagai kepentingan lain yang lebih menguntungkan dan cenderung berorientasi pada pembangunan fisik untuk kepentingan ekonomi. Akibatnya, kebutuhan ruang (khususnya RTH) untuk berlangsungnya fungsi ekologis kurang terakomodasi, dan berdampak pada permasalahan manajemen pengelolaan RTH," terang Abdullah. (raka)Diposkan olehDok Palawa Unpaddi03.36Tidak ada komentar:Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke PinterestLabel:gunung kapur karawang,karst jabar,karst karawang,karst pangkalan,save our karstMata Air Warga TerancamPANGKALAN, RAKA - Gempuran para pengusaha tambang yang terus merusak ekosistem kawasan perbukitan kapur (Karst) Pangkalan harus diselamatkan. Demikian amanat yang diberikan M Nashori SE kepada Usep Supriatna AP MSi, saat serah terima jabatan Camat Pangkalan, kemarin.

Disebutkan Nashori, Kecamatan Pangkalan merupakan daerah resapan air yang harus dijaga, sisi lain termasuk ke dalam zona industri. Bahkan desa yang masuk zona industri yaitu Desa Tamanmekar dan Desa Tamansari, merupakan desa yang memiliki karst kategori satu. "Seharusnya tidak digali, namun pada kenyataannya penggalian tersebut sudah dimulai sejak zaman penjajahan dulu. Namun bedanya dengan zaman sekarang, dulu pertambangan menggunakan alat manual, tapi saat ini menggunakan alat berat serta bahan peledak," ungkap Nashori.

Selain itu, digambarkan Nashori, sering terjadi perusahaan yang izin dan dokumennya belum lengkap sudah melakukan pertambangan. Malah lebih ironisnya lagi ketika tidak disetujui aktivitasnya, pihak pengusaha tetap menjalankan aksinya dengan alasan yang bekerja adalah penduduk setempat. "Saya berharap pada pejabat camat yang enggantikan saya senantiasa dapat melanjutkan program selama saya menjabat Camat Pangkalan. Karena sama-sama sebagai duta pemerintahan untuk melayani masyarakat," tutur Nashori yang kini menjadi Camat Jayakerta.

Menyikapi permasalahan tersebut, Usep Supriatna menyampaikan, akan melakukan konsolidasi dengan berbagai pihak terutama dengan para pegawai kecamatan. "Sebab seorang camat tidak akan ada artinya manakala kesepahaman ini tidak didukung oleh staf kecamatan sendiri," ungkapnya.

Diketahui, secara geologis, Karst Pangkalan merupakan bentang alam yang terbentuk pada formasi batu gamping berumur Miosen Tengah-Akhir, kira-kira 10 15 juta tahun yang lalu yang dinamakan Formasi Parigi. Batuannya berupa batu gamping terumbu. Hal itu menunjukkan bahwa pada kala itu, daerah Pangkalan merupakan laut dangkal yang ditumbuhi terumbu karang yang tumbuh subur pada kondisi iklim hangat dengan air laut yang jernih. Saat terangkat sekarang ini, terumbu itu telah berubah menjadi wilayah perbukitan dengan ketinggian 50 120 m di atas permukaan laut sekarang.

Karst Pangkalan, sebagaimana Kawasan Karst Kelas I lainnya, mempunyai nilai-nilai sos-ek-dik-bud yang tidak dapat dipisah sendiri-sendiri. Kawasan ini yang tersebar luas di Desa Tamansari diketahui mempunyai banyak gua yang belum banyak diteliti. Gua-gua yang merupakan gua vertikal dan berupa lubang di permukaan tanah umumnya merupakan ladang panen sarang walet yang potensial untuk peningkatan ekonomi masyarakat setempat.

Sedikitnya terdapat 17 gua dengan potensi sarang walet, yaitu Luweng Pangambuh, Cibunut, Cimiring, Sempit, Keman, Cisumur, Sitela, Gede, Sipeleng, Cileuwi, Haji, Situmeja, Silonong, Cibenda, Ja`in, Cikandil, dan Cimandor. Ada empat gua sebagai sarang lalay, yaitu di Luweng Bahu, Sikondang, Gua Lumpang, dan Masigit. Ada empat gua tempat masukan air dan sungai bawah tanah, yaitu di Luweng Gede, Cibadak, Baucinyusup, dan Sitamyang. Sebuah gua dikeramatkan oleh penduduk setempat yaitu di gua berbentuk ceruk Song Paseban.

Selain itu, kawasan karst ini mempunyai sedikitnya dua mata air potensial. Pertama adalah Ciburial yang mempunyai debit air lebih dari 5 liter/detik. Mata air ini dikelola oleh PDAM untuk didistribusikan di Kecamatan Pangkalan yang meliputi tiga desa besar, yaitu Ciptasari, Tamansari, dan Jatilaksana. Mata air lain sekalipun tidak sebesar Ciburial, banyak dijumpai di kaki-kaki perbukitan karst, misalnya Citaman, yang menjadi pemasok air bersih utama bagi kampung-kampung di sekitarnya.

Banyaknya mata air karst tidak lepas dari kondisi lingkungan yang masih cukup berhutan di wilayah perbukitan. Tentu saja keberlangsungan air bersih akan terjaga jika wilayah hutan dipertahankan. Maka jelaslah bagaimana fungsi antara hutan, lubang-lubang, dan gua-gua di permukaan tanah, serta gua-gua di dalam batuan menjadi satu sistem hidrologis yang kait-mengait. Satu unsur terganggu, seluruhnya akan binasa. (ark)

Diposkan olehDok Palawa Unpaddi03.34Tidak ada komentar:Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke PinterestLabel:gunung kapur karawang,karst jabar,karst karawang,karst pangkalan,save our karstBukit Di Kejauhan

Oktober 2013 |https://www.facebook.com/JuiShinIndonesia/photos_stream

Diposkan olehDok Palawa Unpaddi03.25Tidak ada komentar:Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke PinterestLabel:gunung kapur karawang,karst jabar,karst karawang,karst pangkalan,save our karstDEMO WARGA CIPTASARI - MASALAH BANJIRPada tanggal 22 Januari 2013PT. JUI SHIN Indonesia, Karawang, kedatangan massa yang terdiri dari warga desa. Mereka datang untuk berdemontrasi menyangkut persoalan banjir.Mereka adalah warga Desa Ciptasari.

Diposkan olehDok Palawa Unpaddi03.14Tidak ada komentar:Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke PinterestLabel:gunung kapur karawang,karst jabar,karst karawang,karst pangkalan,save our karstSelamatkan Karst PangkalanLepas dari mulut harimau, masuk ke mulut buaya. Mungkin begitulah peribahasa yang paling tepat diterapkan kepada kawasan berbatu gamping dengan morfologi karst yang unik di Kecamatan Pangkalan, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Lepas dari rencana eksploitasi industri semen besar yang berbasis di Sulawesi Selatan, yaitu PT Semen Bosowa Karawang, sekarang diincar perusahan industri semen yang lain, yaitu PT Jui Shin Indonesia.Pertengahan 2006, suatu rekomendasi dikeluarkan Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Jawa Barat menanggapi usulan PT Semen Bosowa Karawang yang akan mengeksploitasi kawasan batu gamping di Desa Tamansari, Kecamatan Pangkalan, Kabupaten Karawang untuk industri semen. Dinas menyarankan untuk mencari kawasan lain karena kawasan yang diusulkan merupakan Kawasan Karst Kelas I, sesuai dengan Peta Klasifikasi Kawasan Karst Provinsi Jawa Barat yang telah tersusun pada 2006.Kawasan Karst Kelas I mengikuti Peraturan Gubernur Jawa Barat Nomor 20 Tahun 2006 merupakan kawasan yang wajib dilindungi dan tidak direkomendasikan untuk kegiatan budidaya yang merusak fungsi kawasan karst. Peruntukan Kawasan Karst Kelas I adalah sebagai kawasan lindung karena memiliki nilai strategis tinggi, dicirikan dengan adanya gua-gua, mata air, dan bentukan morfologi yang khas (Pasal 13).Pemanfaatan Kawasan Karst Kelas I hanya dapat dilakukan untuk kegiatan yang sifatnya tidak menurunkan mutu lingkungan dan biofisik. Hal itu juga sesuai dengan kriteria Kawasan Karst Kelas I mengikuti Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia No. 1456K/20/MEM/2000.Dengan kriteria yang telah ditentukan baik mengikuti Peraturan Gubernur Jawa Barat maupun Keputusan Menteri ESDM Republik Indonesia, Kawasan Karst Pangkalan Karawang telah ditentukan sebagai Kawasan Karst Kelas I sehingga merupakan kawasan lindung sumber daya alam dan di kawasan tersebut tidak boleh ada kegiatan pertambangan.Mengapa dilindungi?Karst adalah suatu wilayah geografis di permukaan bumi yang dicirikan oleh bentuk-bentuk yang khas, berupa bukit-bukit berbentuk kerucut atau kubah atau bahkan menara dengan lembah-lembah membulat atau lonjong di antaranya. Ciri morfologi yang paling spesifik adalah banyaknya gua, baik yang mempunyai bentuk mendatar ataupun vertikal.Morfologi unik tersebut adalah produk dari proses pelarutan batuan berpuluh ribu tahun. Proses itu terutama sangat signifikan pada jenis batuan yang mudah terlarut jika bereaksi dengan air, yaitu pada batu gamping atau batu kapur. Secara lebih khas proses pelarutan tersebut dikenal sebagai karstifikasi.Karstifikasi akan terjadi terutama pada batuan dengan kandungan karbonat CaCO3 tinggi, batuannya berlapis mendatar dengan banyak retakan, terjadi sirkulasi air tanah yang dinamis di dalam tubuh batuan, dan terletak pada wilayah dengan curah hujan tinggi. Hujan yang jatuh ke permukaan batuan karbonat akan meresap masuk ke tubuh batuan melalui retakan. Selama proses itu, air hujan, terutama yang kaya kandungan karbon dioksida CO2 akan bereaksi dengan karbonat menghasilkan unsur kalsium yang terlarut dan asam bikarbonat.Uniknya proses reaksi kimia tersebut berjalan dua arah. Jadi kalsium yang terlarut akan bereaksi balik membentuk kristal-kristal karbonat kembali, di antaranya membentuk stalaktit dan stalagmit. Proses-proses luar biasa tersebut tentu berlangsung tidak dalam waktu singkat. Misalnya, hasil penelitian ITB-Kyoto University di Gua Buniayu di Sukabumi menunjukkan bahwa satu batang stalagmit diketahui mempunyai kecepatan pertumbuhan hanya 1 cm dalam 25 tahun! Bahkan di Gua Petruk, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, sebuah stalaktit tumbuh dengan kecepatan 1 cm/60 tahun!Dengan cirinya yang dapat menyimpan dan mendistribusi air tanah dalam jumlah besar, kawasan karst adalah sumber air bersih yang sangat potensial. Gua-guanya selain berfungsi sebagai jalan bagi aliran sungai bawah tanah, hiasan guanya sangat indah dan unik, membuat banyak kolektor kesengsem untuk memotong dan membawanya pulang. Gua juga rumah bagi tumbuhan khas dan beribu-ribu walet dan lalay atau kelelawar pemakan serangga yang berfungsi sebagai penyeimbang ekologis. Belum lagi potensi gua sebagai kemungkinan situs-situs prasejarah atau sejarah, seperti di Gua Pawon di Padalarang Jabar, atau gua-gua di Gunung Sewu, Jateng-Jatim, serta gua-gua di seluruh dunia.Itulah beberapa alasan mengapa kita tidak boleh sembarangan mengeksploitasi kawasan karst.Uniknya Karst PangkalanSecara geologis, Karst Pangkalan merupakan bentang alam yang terbentuk pada formasi batu gamping berumur Miosen Tengah-Akhir, kira-kira 10 15 juta tahun yang lalu yang dinamakan Formasi Parigi. Batuannya berupa batu gamping terumbu. Hal itu menunjukkan bahwa pada kala itu, daerah pangkalan merupakan laut dangkal yang ditumbuhi terumbu karang yang tumbuh subur pada kondisi iklim hangat dengan air laut yang jernih. Saat terangkat sekarang ini, terumbu itu telah berubah menjadi wilayah perbukitan dengan ketinggian 50 120 m di atas permukaan laut sekarang.Karst Pangkalan, sebagaimana Kawasan Karst Kelas I lainnya, mempunyai nilai-nilai sos-ek-dik-bud yang tidak dapat dipisah sendiri-sendiri. Kawasan ini yang tersebar luas di Desa Tamansari diketahui mempunyai banyak gua yang belum banyak diteliti. Gua-gua yang merupakan gua vertikal dan berupa lubang di permukaan tanah umumnya merupakan ladang panen sarang walet yang potensial untuk peningkatan ekonomi masyarakat setempat.Sedikitnya terdapat 17 gua dengan potensi sarang walet, yaitu Luweng Pangambuh, Cibunut, Cimiring, Sempit, Keman, Cisumur, Sitela, Gede, Sipeleng, Cileuwi, Haji, Situmeja, Silonong, Cibenda, Ja`in, Cikandil, dan Cimandor. Ada empat gua sebagai sarang lalay, yaitu di Luweng Bahu, Sikondang, Gua Lumpang, dan Masigit. Ada empat gua tempat masukan air dan sungai bawah tanah, yaitu di Luweng Gede, Cibadak, Baucinyusup, dan Sitamyang. Sebuah gua dikeramatkan oleh penduduk setempat yaitu di gua berbentuk ceruk Song Paseban.Selain itu, kawasan karst ini mempunyai sedikitnya dua mata air potensial. Pertama adalah Ciburial yang mempunyai debit air lebih dari 5 liter/detik. Mata air ini dikelola oleh PDAM untuk didistribusikan di Kecamatan Pangkalan yang meliputi tiga desa besar, yaitu Ciptasari, Tamansari, dan Jatilaksana. Mata air lain sekalipun tidak sebesar Ciburial, banyak dijumpai di kaki-kaki perbukitan karst, misalnya Citaman, yang menjadi pemasok air bersih utama bagi kampung-kampung di sekitarnya.Banyaknya mata air karst tidak lepas dari kondisi lingkungan yang masih cukup berhutan di wilayah perbukitan. Tentu saja keberlangsungan air bersih akan terjaga jika wilayah hutan dipertahankan. Maka jelaslah bagaimana fungsi antara hutan, lubang-lubang, dan gua-gua di permukaan tanah, serta gua-gua di dalam batuan menjadi satu sistem hidrologis yang kait-mengait. Satu unsur terganggu, seluruhnya akan binasa.Perlu alternatifDengan kondisi tersebut, sudah pasti Karst Pangkalan diklasifikasi sebagai kelas I sehingga menjadi kawasan lindung yang tidak boleh dieksploitasi, termasuk untuk industri semen yang memerlukan 75% bahan bakunya dari batu gamping. Maka usulan PT Semen Bosowa Karawang pada 2006 yang akan mendirikan industri semen dipastikan akan mengganggu fungsi-fungsi ekologis Karst Pangkalan sehingga kemudian direkomendasi untuk mencari lokasi lain di luar Karst Pangkalan.Akan tetapi tiba-tiba muncul iklan kecil di harian ini 25 Juni 2008 yang mengumumkan keinginan PT Jui Shin Indonesia untuk melakukan studi Amdal Proyek Tambang dan Pabrik Semen di Desa Tamansari, Kecamatan Pangkalan, Kabupaten Karawang. Lokasi yang sama yang pernah diusulkan oleh PT Semen Bosowa Karawang. Iklan itu memang meminta masukan dari masyarakat tentang rencana eksploitasi Karst Pangkalan.Ada beberapa butir yang menarik untuk menanggapi iklan itu. Pertama, kawasan Karst Pangkalan sebagai Kawasan Karst Kelas I yang tidak boleh diapa-apakan, entah bagaimana prosesnya, telah menjadi Kawasan Karst Kelas II yang boleh dieksploitasi setelah melalui kajian analisis mengenai dampak lingkungan (amdal). Tentu saja ini aneh, karena Pergub Jabar 2006 belum pernah mengubah peta klasifikasi kawasan karstnya yang menjadikan Karst Pangkalan berubah kelas.Kedua, iklan itu menunjukkan kemungkinan PT Jui Shin telah mengantongi izin penguasaan wilayah untuk rencana pabrik semen. PT Jui Shin, seperti di tulis di iklan itu, akan membangun pabrik semen dengan kapasitas 2 x 2 juta ton dan diharapkan selesai dalam dua tahun. Rencananya akan mulai beroperasi pada pertengahan atau akhir 2010. Terkait butir pertama di atas, pengantongan izin ini tentunya telah menyalahi Pergub Jabar dan lebih luas Kepmen ESDM di atas.Ketiga, iklan itu meminta partisipasi masyarakat berupa saran dan tanggapan tentang rencana PT Jui Shin untuk mendirikan pabrik semen, sesuai SK Kepala Bapedal No. 08 Tahun 2000 tentang Peran Serta Masyarakat di Dalam Proses Penyusunan Amdal. Di luar dari kesalahan hukum pada butir pertama, dan saya meragukan proses kajian Amdal yang akan dilakukan, maka tanpa kajian amdal pun sudah pasti bahwa amdal tidak diperlukan, karena Karst Pangkalan adalah Karst Kelas I yang tidak bisa dieksploitasi!Maka ketika iklan itu meminta masukan masyarakat, melalui tulisan terbuka di harian ini, saya memberikan saran dan tanggapannya seperti buah pikiran saya yang tersebut di atas. Pada prinsipnya, carilah lokasi di luar kawasan Karst Pangkalan, karena kawasan itu adalah Kawasan Karst Kelas I. Lebih jauh dari itu, buatlah riset alternatif memproduksi semen dengan kandungan batu gamping yang secara bertahap mengurangi dari kebutuhan 75% ke arah yang lebih hemat. ***Penulis, staf pengajar di Kelompok Keilmuan Geologi Terapan, FITB, ITB, serta anggota Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) dan Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB).

Diposkan olehDok Palawa Unpaddi02.22Tidak ada komentar:Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke PinterestLabel:Budi Brahmantyo,gunung kapur karawang,karst jabar,karst karawang,karst pangkalan,save our karstPuluhan Penambang Pasir di Desa Tamansari, Kecamatan Pangkalan, Alih ProfesiPINDAHKAN PASIR: Tisna (35) penggali pasir Sungai Cibeet, warga Desa Tamansari, Kecamatan Pangkalan, memindahkan pasir dari perahu ke darat, Kamis (13/8) siang.

KARAWANG, RAKA - Puluhan penjarang pasir di Desa Tamansari, Kecamatan Pangkalan, terpaksa alih profesi menjadi kuli angkut kapur. Pasalnya, selama musim kemarau ini terjadi pendangkalan sungai sehingga perahu mereka tidak bisa beroperasi.

Tisna (35) adalah satu dari puluhan penjarang pasir yang mencoba tetap bertahan. Dia mengakui sebelum kemarau jumlah penjarang pasir di desa mencapai lima puluhan penjarang. Tetapi sejak musim kemarau jumlah itu menyusut hingga dua puluh lima penjarang.

"Musim kemarau sekarang, sangat menyulitkan semua penggali. Pasalnya perahu yang mengangkut para penggali pasir banyak yang karam, akibat menyusutnya air sungai cibeet. Karena hanya beberapa perahu saja yang bisa berlayar, membuat setengah dari penggali pasir yang jumlahnya lima puluh orang tidak bisa ikut menggali pasir ke tengah sungai cibeet," ucap Tisna, kemarin.

Sementara untuk menutupi kebutuhan, lanjut dia, banyak dari mereka akhirnya menjadi kuli angkut kapur dan kayu, pokoknya kegiatan yang bisa menghasilkan uang. Sebab kalau hanya mengandalkan pasir di bantaran sungai, penghasilan kami turun drastis. Hanya penggali yang sudah mencintai profesi yang bertahan.

Akibat pendangkalan sungai, pasir yang berhasil diangkut kedarat berkurang lima puluh persen, dari dua puluh kibik menjadi sepuluh kibik perhari. "Kalau sungai ini banjir, kami bisa menjelajahi sepanjang sungai cibeet dari hulu ke hilir untuk mencari pasir dengan menggunakan alat yang namanya penggaet.

Biasanya per satu perahu bisa mendapatkan dua puluh kibik dari pagi sampai sore hari. Penghasilan yang kami peroleh bisa mencapai Rp. 200.000,00 perhari. Untuk ukuran penjualan pasir, tidak dihitung perkibik, tapi ditakar oleh pembeli per satu bak truk," katanya.

Pasir yang diambil didasar sungai Cibeet, biasanya mereka jual ke Bekasi, Jakarta dan Banten. Menurut Tisna, pembeli datang sendiri ke penjarangan pasir di desanya. "Semenjak kualitas pasir menurun, mempengaruhi harga pasir. Kalau dulu harga pasir per satu bak bisa mencapai Rp. 300.000,00," lanjutnya.

Ketika disinggung apakah jumlah pasir di sungai tersebut menyusut, ia menhttp://www.blogger.com/img/blank.gifgaku, selama tiga puluh tahun ia menggeluti profesi sebagai penggali, jumlah pasir di sungai cibeet tidak pernah mengalami pengurangan.

"Sifat pasir disini tidak menetap, atau bisa dikatakan mengalir dari hulu ke hilir. Hulu sungai ini ada di Cariu Bogor sampai ke bendungan cibeet, jadi sepanjang cariu sampai bendungan cibeet jumlah pasir sangat melimpah. Bayangkan saja, selama tiga puluh tahun saya disini, selalu mendapatkan pasir yang melimpah," akunya.

Aman (40) penyalur pasir di Desa Tamansari, mengaku selama puluhan tahun, jumlah pasir tidak pernah berkurang. Namun penurunan jumlah pasir, lebih dikarenakan dangkalnya sungai Cibeet. Akibatnya penggali pasir tidak bisa menyusuri aliran sungai untuk mencari pasir.

Diposkan olehDok Palawa Unpaddi02.06Tidak ada komentar:Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke PinterestLabel:gunung kapur karawang,karst jabar,karst karawang,karst pangkalan,save our karstKades Taman Sari Serahkan Surat Pernyataan Dukungan 5000 Warga kepada Bupati KarawangKARAWANG,ReALITA OnlineKepala Desa (Kades) Taman Sari, Kec.Pangkalan, Kab. Karawang, Jawa Barat, H Udin Syarifudin, menyerahkan surat pernyataan dukungan 5.000 warga empat desa, yakni Taman Mekar, Taman Sari, Cipta Sari, dan Mulangsarikepada Bupati Karawang, Drs H Ade Swara,Msi, Selasa, (24/5//2011), perihal PT Jui Shin Indonesia (PT.JSI) di ruang kerja bupati Gedung Singa Perbangsa.

Seperti diberitakan sebelumnya bahwa 5.000 warga Desa Taman Mekar, Taman Sari, Cipta Sari dan Mulang Sari menyatakan dukungan mereka. Surat pernyataan dukungan tersebut Kades H Udin langsung menemui Bupati H Ade Swara tanpa melalui protokoler. Usai penyerahan berkas, Kades Taman Sari menjelaskan dengan rinci,adanya surat pernyataan dukungan tersebut yang sebenarnya tidak ada masalah bagi warga empat desa tersebut terutama menyangkut pembangunan jembatan yang menghubungkan Desa Taman Sari dan Desa Bojong Mangu Kabupaten Bekasi.

Dalam perbincangan, kata Kades H Udin, kepada Bupati H Ade menjelaskan pihaknya tidak lebih mengamankan kebijakan Bupati Karawang menyangkut kehadiran PT JSI yang melakukan investasi di Kabupaten Karawang.

Bola sudah di kaki kita, masa kita biarkan begitu saja orang menendangnya yang akhirnya merugikan kita sendiri. Karena itu saya minta perlindungan bapak bupati terhadap saya selaku Kades agar PT JSI sukses berinvestasi di Desa Taman Sari, Kabupaten Karawang. Kalau pak bupati tidak melindungi saya, lantas kepada siapa lagi saya minta perlindungan yang akhirnya membuat saya terpaksa lari untuk menghindar, ujar H Udin membuat Bupati H Ade terbahak-bahak.

Kades yang bertubuh gemuk dan bicaranya ceplas-ceplos itu juga mempertanyakan, mengapa ketika ijin prinsip dan lokasi dikeluarkan oleh Bupati Drs H Dadang S Muchtar tidak ada reaksi ormas, lantas kemudian pada saat H Ade menjadi Bupati Karawang justru mempermasalahkan. Sebelum saya menjadi Kades Taman Sari PT Jui Shin sudah mulai mengincar desa ini. Saya tidak habis pikir ada kepentingan apa di balik aksi-aksi demo ke kantor bupati masyarakat empat desa--terutama Taman Sari sendiri saya jamin tidak ada yang terusik kehadiran PT JSI termasuk pembangunan jembatan, tegas dia.

Terlepas dari kepentingan PT JSI dalam membangun jembatan, yang pasti keberadaan jembatan itu untuk kedepan sangat mendukung kelancaran ekonomi masyarakat empat desa tersebut.

Surat pernyataan dukungan tersebut juga melibatkan Ketua LSM Lini Bumi, Dedy Mulyadi, Barisan Muda PAN, Abdul Muchni, dan Pemuda Marhaen ,Yaki. Senada menyatakan dukungan terhadap PT JSI membangun jembatan.

H Adi salah satu tokoh masyarakat Desa Taman Sari dan Kades H Udin menyatakan salut dan bangga atas kesadaran masyarakat, para tokoh pemuda dan ulama, sehingga tercipta kenyamanan bagi perusahaan yang berinvest di empat desa itu.

Aksi-aksi yang terjadi adalah bagian dari pembelajaran berdemokrasi di negeri ini. Aksi-aksi tersebut tidak perlu dikuatirkan apalagi dibesar-besarkan, tapi pemerintah daerah harus menyikapi dengan arif bijaksana melalui penjelasan agar mereka paham dan mengerti bahwa kehadiran PT JSI membuka lapangan kerja bagi warga Kabupaten Karawang, khususnya di empat desa tersebut, kata H Adi.

Dia pun penuh harap kepada semua pihak ke depan tidak lagi ada aksi yang sampai membuat pihak PT JSI membatalkan niatnya berinvestasi di Kabupaten Karawang. Apalagi soal pencemaran dan mengakibatkan Kecamatan Pangkalan dan Tegalwaru sebagai daerah resapan air akan terancam.

Pemerintah pusat melalui Kementerian BKPM sudah terlebih dahulu mengkaji dampak-dampak lingkungan yang akan terjadi sebelum meloloskan perijinan yang diajukan oleh PT JSI. Kekuatiran itu memang perlu, tapi jangan berlebihan dan mengada-adaseolah kiamat mengancam desa yang ada di Kecamatan Pangkalan dan Tegal Waru, ujar dia.

Sementara itu, Kades H Udin juga berharap kepada pihak-pihak tertentu berkenan untuk mengurungkan niatnya membuat suasana kurang kondusif, sehingga menghambat kelancaran pihak perusahaan berinvestasi di Kabupaten Karawang. Mengeluarkan pendapat sah-sah saja. Tapi kalau terus diganggu, saya kuatir perusahan yang mau berinvestasi akan memilih hengkang dari Karawang, lantas siapa yang rugi. Masih banyak negara tetangga membuka lebar-lebar bagi perusahaan yang hendak berinvestasi. Maka itu, berdasarkan pernyataan dukungan 5000 warga terhadap keberadaan PT JSI yang telah saya serahkan kepada bapak Bupati Karawang tidak ada masalah lagi , tandas dia. EsiDiposkan olehDok Palawa Unpaddi02.02Tidak ada komentar:Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke PinterestLabel:gunung kapur karawang,karst jabar,karst karawang,karst pangkalan,save our karstHaji Udin Terpilih Kembali Jadi Kepala Desa TamansariPANGKALAN, RAKA- H. Udin Syarifudin, calon incumben Kepala Desa Tamansari, Kecamatan Pangakalan, terpilih kembali sebagai Kepala Desa Tamansari. Udin berhasil unggul cukup jauh dari ketiga calon lainnya.

Cece Kunadi SPd, Ketua Pelaksana Pilkades Tamansari mengatakan, jumlah partisipasi pemilih cukup bagus. Dari total hak pilih sebesar 4742 orang, yang tidak hadir sebanyak 175 orang. "Untuk pelayanan pada pemilih yang sudah tua renta atau pada penyandang cacat atau sakit bisa di antar oleh pihak keluarga dan jika pihak keluarga tidak bisa atau tidak ada baru diantar oleh pnitia itupun hanya memfasilitasi bukan mempengaruhi pemilih, selain itu tidak bisa mengantar. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga asas demokrasi pemilih,dan merupakan penghargaan pada pemilih yang berusaha datang untuk memilih," paparnya disela-sela pilkades, Minggu (30/6).

Adapun perolehan suara dalam Pilkades Tamansari, lanjutnya, dari jumlah total mencapai 4742 yang hadir dan memberikan hak pilihnya mencapai 4567 dengan rincian suara sah 4511 dan tidak sah 56 serta yang tidak hadir hanya 175. Adapun perolehan suara untuk masing-masing nomor diantaranya, nomor satu Juhadi memperoleh suara 1329, nomor dua H Udin Syaripudin memperoleh suara 1646, nomor tiga Memed memperolah suara 1320, dan nomor empat Hadi Syukur memperoleh 216. "Suara tertinggi diperoleh H. Udin Syarifudin dengan jumlah suara 1646," ucapnya.

Sebelumnya, Drs Usep Supriatna Camat Pangkalan menuturkan, siapapun yang akan menjadi kepala desa yang sah, diharapkan dapat menjalankan roda pemerintahan sebagaimana mestinya, serta dapat membawa masyarakatnya kearah yang lebih baik lagi. Sebab, bagi pemerintahan di tingkat kecamatan yang berfungsi dan berperan untuk melakukan pembinaan pada semua desa. "Siapaun yang terpilih untuk memimpin Desa Tamansari mendatang, diharapkan dapat bekerja sama. Sebab kalaupun seorang Kades di pilih langsung oleh masyarakatnya, akan tetapi pemerintahan kabupaten dalam pembianaan desanya merupakan tanggungjawab apatur pemerintah di tingkat kecamatan," ujarnya yang memantau pelaksanaan pilkades sampai selesai penghitungan suara.

Sementara itu, Ajun Komisaris Polisi Sutedjo, Kepala Polisi Sektor Pangkalan saat di tanya tentang pengamanan menjelaskan, selain anggota Polsek secara keseluruhan, dalam pengamanan inipun juga di perbantukan 60 personil Brimob ditambah dengan seumlah personil TNI AD. "Dalam pemilihan inipun berjalan lancar, sesuai dengan harapan Kapolsek hingga pemilihan berakhir, bahkan hingga ada pemenangnya dapat terus menjaga kondusif," tuturnya.

Dalam pilkades tersebut, sejumlah pemilih dibantu panitia karena kendala kesehatan. Salah satunya Kemin (50), warga Kampung Bunder yang mengalami sakit pada kakinya akibat bisa yang mengenai kakinya, hingga dalam melakukan pemilihannya pun di papah oleh panitia, bahkan sebelum sampai pada lokasi pemilihan di gendong. Uci (55) warga Kampung Citaman, pemilih tuna netra yang dalam melakukan pun dibantu oleh paniia. (ark)Diposkan olehDok Palawa Unpaddi01.57Tidak ada komentar:Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke PinterestSabtu, 07 Desember 2013Bukit Kapur Masih DieksploitasiKARAWANG, RAKA - 17 Juni 2013 | Kontribusi PT Jui Shin Cement diperebutkan dua kelompok masyarakat di dua daerah berbatasan, yakni Kabupaten Karawang dan Kabupaten Bekasi. Pasalnya, perusahaan tersebut membangun pabrik di Kabupaten Bekasi, sedangkan bahan bakunya berupa batu kapur mengambil dari Kabupaten Karawang, sehingga keduanya merasa menjadi tuan rumah.

Sebuah sumber di Desa Tamansari, Kecamatan Pangkalan menyebutkan, dua kelompok masyarakat antardaerah itu sempat bersitegang karena merasa paling berhak mengambil kontribusi dari PT Jui Shin Cement. Yang satu menganggap bahan baku berupa karst atau batu kapur diambil dari daerahnya di Kecamatan Pangkalan, Kabupaten Karawang, namun yang lainnya menganggap pabriknya dibangun di Kecamatan Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi.

Namun sumber yang enggan disebut namanya itu juga mengungkapkan, meski sempat bersitegang, namun keduanya kini akan segera melakukan perundingan. Ia tidak tahu apa yang akan mereka rundingkan tersebut.

Secara terpisah, anggota DPRD Karawang asal Pangkalan, Ace Sopian Mustari menegaskan, perselisihan kelompok dari dua daerah itu sangat aneh seperti memperebutkan pepesan kosong. Sebab, sampai hari ini Pemkab Karawang belum mengeluarkan izin pertambangan terhadap PT Jui Shin Cement yang memproduksi semen itu. Wah saya baru dengar (ada kelompok masyarakat bersitegang). Kalau berkaitan dengan bahan baku saya kira pemkab belum mengeluarkan izin pertambangan, kata Ace.

Ace mengakui bahwa Kecamatan Pangkalan memang memiliki potensi sumber daya alam berupa karst yang digunakan sebagai bahan baku industri semen. Meski demikian, Pemkab Karawang tidak bisa mengeluarkan izin penambangam kepada perusahaan manapun karena belum ada penetapan tata ruang bahwa Pangkalan menjadi lokasi pertambangan. Tidak mudah prosesnya menetapkan wilayah pertambangan. Karena harus ada izin dari Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), terangnya.

Dengan belum adanya restu pertambangan karst dari Pemkab Karawang, Ace menegaskan, tidak ada pertambangan yang dilakukan PT Jui Shin untuk mengolah menjadi semen. Hanya saja, ada pertambangan rakyat yang dilakukan warga sekitar.

Di tempat berbeda, aktivis Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Singaperbangsa Karawang, Tiska mengungkapkan, penambangan di Pangkalan hanya akan merugikan masyarakat Karawang karena dampak kerusakan lingkungan akan sangat besar. Banyak contoh kasus di luar Jawa yang lingkungannya sulit diperbaiki lagi akibat pertambangan. Akan besar sekali kerugiannya jika sampai pemerintah memberikan izin pertambangan di kawasan karst Citaman, tukasnya. (ops)

sumber:http://www.radar-karawang.com/2013/06/bukit-kapur-masih-dieksploitasi.htmlDiposkan olehDok Palawa Unpaddi06.01Tidak ada komentar:Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke PinterestLabel:gunung kapur karawang,karst jabar,karst karawang,karst pangkalan,save our karstJumat, 06 Desember 2013Soal Izin Pertambangan PT.Juishin, DPRD berbeda dengan BPMPT

Karawang, 30 November 2013 | Terkait izin penambangan PT.Juishin Indonesia di Kecamatan Pangkalan Kabupaten karawang, Sekretaris DPRD Ahmad Suroto membantah DPRD telah memberikan rekomendasi kepada BPMPT mengenai izin penambangan yang diajukan oleh PT.Juishin Indonesia di Kecamatan Pangkalan Kabupaten Karawang. Kepada pilarrepublik.com Suroto menyampaikan tidak benar DPRD telah memberikan rekomendasi penambangan untuk PT.Juishin Indonesia, DPRD hanya memberikan rekomendasi terkait kawasan industri bukan izin pertambanganSementara itu Kepala BPMPT Kabupaten Karawang H.Okih Hermawan mengatakan BPMPT tidak akan menindaklanjuti perizinan tambang PT.Juishin jika tidak ada rekomendasi dari DPRD, kita bisa buktikan itu Okih juga menambahkan rekomendasi itu dari pimpinan DPRD, BPMPT menunggu pertimbangan teknis dari Dinas Perindustrian dan pertambangan. Nah kalau semua persyaratan sudah lengkap, maka BPMPT hanya diberikan waktu dua minggu untuk mengeluarkan izin.Entah siapa yang benar dan bisa membuktikan pernyataannya, tetapi kenyataannya PT.Juishin Indonesia telah melakukan penambangan di area Kecamatan Pangkalan Kabupaten Karawang, yang diketahui adalah kawasan batuan karst.sumber:http://pilarrepublik.com/pilar/news/1030/Soal-Izin-Pertambangan-PT.Juishin,-DPRD-berbeda-dengan-BPMPT.pilarDiposkan olehDok Palawa Unpaddi08.10Tidak ada komentar:Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke PinterestLabel:Budi Brahmantyo,gunung kapur karawang,karst jabar,karst karawang,karst pangkalan,save our karstPT.Juishin Melanggar, Pemerintah Tak BerkutikKarawang, 30 November 2013 | Budi Brahmantyo menulis di koran harian Pikiran Rakyat tanggal 5 juli 2008, Lepas dari mulut harimau, masuk ke mulut buaya. Mungkin begitulah peribahasa yang paling tepat diterapkan kepada kawasan berbatu gamping dengan morfologi karst yang unik di Kecamatan Pangkalan, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Lepas dari rencana eksploitasi industri semen besar yang berbasis di Sulawesi Selatan, yaitu PT Semen Bosowa Karawang, sekarang diincar perusahan industri semen yang lain, yaitu PT Jui Shin Indonesia.

Pertengahan 2006, suatu rekomendasi dikeluarkan Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Jawa Barat menanggapi usulan PT Semen Bosowa Karawang yang akan mengeksploitasi kawasan batu gamping di Desa Tamansari, Kecamatan Pangkalan, Kabupaten Karawang untuk industri semen. Dinas menyarankan untuk mencari kawasan lain karena kawasan yang diusulkan merupakan Kawasan Karst Kelas I, sesuai dengan Peta Klasifikasi Kawasan Karst Provinsi Jawa Barat yang telah tersusun pada 2006.

Kawasan Karst Kelas I mengikuti Peraturan Gubernur Jawa Barat Nomor 20 Tahun 2006 merupakan kawasan yang wajib dilindungi dan tidak direkomendasikan untuk kegiatan budidaya yang merusak fungsi kawasan karst. Peruntukan Kawasan Karst Kelas I adalah sebagai kawasan lindung karena memiliki nilai strategis tinggi, dicirikan dengan adanya gua-gua, mata air, dan bentukan morfologi yang khas (Pasal 13).

Pemanfaatan Kawasan Karst Kelas I hanya dapat dilakukan untuk kegiatan yang sifatnya tidak menurunkan mutu lingkungan dan biofisik. Hal itu juga sesuai dengan kriteria Kawasan Karst Kelas I mengikuti Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia No. 1456K/20/MEM/2000.

Dengan kriteria yang telah ditentukan baik mengikuti Peraturan Gubernur Jawa Barat maupun Keputusan Menteri ESDM Republik Indonesia, Kawasan Karst Pangkalan Karawang telah ditentukan sebagai Kawasan Karst Kelas I sehingga merupakan kawasan lindung sumber daya alam dan di kawasan tersebut tidak boleh ada kegiatan pertambanganSekarang, nopember 2013. Kenyataannya, PT. Juishin Indonesia sudah hampir selesai membangun pabriknya di Kp. Madupati Desa Bojongmangu Kecamatan Bojongmangu Kabupaten Bekasi Jawa Barat, yang memiliki akses langsung ke Kecamatan Pangkalan Kabupaten Karawang melalui jembatan yang telah dibangun dengan kokoh. Pantauan pilarrepublik.com , bahan baku mulai digali, sampai ratusan truk perhari, dari wilayah karst tersebut. Produksi semen akan segera dimulai.

Kemana aparat penegak hukum ? pelanggaran yang dilakukaan oleh perusahaan itu jelas terlihat, sangat terbuka. Mustahil penegak hukum tidak mengetahuinya. Investasi trilyunan rupiah PT.Juishin Indonesia menjadi daya tarik tersendiri bagi oknum untuk terus memanfaatkannya demi kepentingan pribadi. nyatanya PT.Juishin Indonesia melanggar, Pemerintah seperti tak berkutik. (Cepyan)

sumber:http://pilarrepublik.com/pilar/news/1029/PT.Juishin-Melanggar,-Pemerintah-Tak-Berkutik.pilarDiposkan olehDok Palawa Unpaddi08.06Tidak ada komentar:Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke PinterestLabel:Budi Brahmantyo,gunung kapur karawang,karst jabar,karst karawang,karst pangkalan,save our karstGua Lalay

The ride then passing through traditional lime kilns. Along the way we can found more than twenty limestone kiln. These kiln been using reject products and used tires for burning, resulted in dramatic black smoke come out intermittently. Its kind of dramatic when you ride inside a (supposed to be) teak forest with a lot of black smoke around the track.

The double-track out of the main provincial road gives more pleasure to the ride. The track start to give uphill part. Strange. The track was not really a steep uphill, but it felt hard and long. The heat of the environment around the track start to give more additional taste to the track.

This track located in the Karst area, a geological therm of an area formed for thousand years. The karst area will be lack of surface water. Water will directly goes into the earth, flowing and gather in underwater rivers. Basically we will found a lot of stones on the ground, a lot of caves, and a hot and really dry environment. What we found in this track was an uphill part through bamboo forest up and up the hill. Until we found the opening of the cave. [http://antoix.wordpress.com/2012/09/]

Diposkan olehDok Palawa Unpaddi04.39Tidak ada komentar:Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke PinterestLabel:gunung kapur karawang,karst jabar,karst karawang,karst pangkalan,save our karstLegalisasi Penambangan Batu Kapur Dalam Raperda RTRW Memicu Rusaknya Sumber AirKARAWANG, (PRLM).- Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) Kab. Karawang yang akan melegalkan penambangan batu kapur di Kecamatan Pangkalan dan Tegalwaru ditentang banyak pihak. Pasalnya, penambangan batu kapur yang tidak terkendali akan memicu rusaknya sumber air di dua kecamatan tersebut.

"Saat ini saja belum dilegalkan sudah marak penambangan kapur. Akibatnya, beberapa mata air yang menjadi sumber air bagi warga dua kecamatan sudah mulai terancam. Dua mata air tersebut adalah mata air Ciburial dan Citaman yang menjadi tumpuan bagi warga untuk memenuhi kebutuhan air," kata salah seorang warga Pangkalan Ucang (32), Kamis (27/10).

Ucang mengatakan mata air Ciburial yang mempunyai debit air lebih dari 5 liter/detik kini juga mulai menurun. Bahkan, mata air yang dikelola oleh PDAM (Perusahaan Air Minum Daerah) untuk didistribusikan di Kecamatan Pangkalan yang meliputi tiga desa besar, yaitu Ciptasari, Tamansari, dan Jatilaksana, kini mulai mengering saat musim kemarau.

"Mata air Citaman yang menjadi pemasok air bersih utama bagi kampung-kampung di sekitarnya pun kini sudah tidak bersih lagi karena penyumbatan air dari pegunungan kapur sampai ke bawah hingga air yang kotor dan tergenang pun masih dimanfaatkan warga karena memang tidak ada sumber air lain lagi," ucapnya.

Salah seorang pemerhati lingkungan Karawang Selatan, Asep Toha menuturkan aturan penambangan kapur dalam Raperda RTRW Karawang sebenarnya melanggar aturan. Pasalnya, Raperda tersebut sudah bertentangan dengan peraturan perundangan yang ada di atasnya, yaitu UU No. 26 tahun 2007 tentang Tata Ruang menyebutkan karst merupakan kawasan lindung yang wilayahnya ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup.

"Jika Pemkab Karawang ingin melegalkan penambangan karst maka tidak boleh membuka celah seluas-luasnya bagi pengusaha besar untuk melakukan penambangan tanpa adanya reklamasi lahan. Sejauh ini seharusnya dievaluasi dulu adanya penambangan kapur berdampak seperti apa," tuturnya.

Asep mengatakan ada dua perusahaan besar yang melakukan penambangan kapur yang selama dia menambang tidak pernah mereklamasi lahannya, akibatnya sumber air warga terganggu. Hal tersebut, kata Asep, yang harus menjadi perhatian Pemkab Karawang.

"Jangankan perhatian agar mendorong perusahaan untuk mereklamasi lahan. Penggendalian dan pengawasan juga sepertinya tidak dilakukan Pemkab Karawang. Padahal, dampaknya masyarakat yang merasakan," tuturnya.

Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kab. Karawang, Agus Sundawiana mengatakan Raperda yang dirancang belum diputuskan dan masih dalam tahap pembahasan. "Pertimbangan melegalkan penambangan karena ada pergeseran RTRW nasional yang berdampak pada RTRW Karawang," katanya.

Selain itu, kata Agus, penambangan karst saat ini belum ada payung hukumnya sementara di lapangan sudah banyak yang menambang. Artinya, tanpa dilegalkan justru pemkab tidak akan mendapatkan apapun dari adanya penambangan kapur.

"Jika sudah ada payung hukum dimulai dari RTRW tentu saja ada sejumlah kewajiban yang akan kami kenakan kepada perusahaan yang melalakukan penambangan. Termasuk mungkin akan dikenakannya kompensasi reklamasi lahan," katanya.

Lebih lanjut Agus mengatakan meskipun penambangan kapur nanti dilegalkan, tidak semua pengajuan ijin penambangan akan disetujui. Semua harus ada analisis lingkungan, geologi, dan sosial budaya masyarakat setempat. "Misalnya saja lokasi penambang diperkirakan akan mengganggu sumber air warga ya tidak akan kami izinkan," ucapnya. (A-186/A-89)***Diposkan olehDok Palawa Un


Recommended