Home >Education >realita penjual koran dikota makassar

realita penjual koran dikota makassar

Date post:10-Aug-2015
Category:
View:55 times
Download:5 times
Share this document with a friend
Transcript:
  1. 1. REALITA PENJUAL KORAN DI LAMPU MERAH FLY OVERDAN MALL PANAKKUKANG KOTA MAKASSAROlehMusdalifah YusufGemerlap & ramainya suasana Lampu Merah dijalanan nan berdebu diIndonesia, merupakan suatu potret yang sudah menjadi santapan kita sebagaipengguna jalan raya setiap harinya. Entah itu pagi, siang, sore atau bahkanmalam hari tidak ada yang berubah dari waktu ke waktu selalu ramai dengansejuta aktivitas manusia yang tumpah ruah menjadi satu kesatuan yang salingmembaur seperti udara & polusi yang saling melekat memenuhi paru parumahluk hidup.Dibalik ramai & gemuruhnya suasana Lampu Merah, banyak sekali warnawarna negative & positif yang tertuang didalamnya. Mulai dari pengemis, anakjalanan, pengamen, tukang asongan, pedagang koran dll. Satu hal yangmembuat mereka bisa akrab kepada sesama walau berbeda suku, adat, agama,tua & muda adalah rasa sepenanggungan yang satu rasa dibawah gariskemiskininan.Dibalik sisi negatif & positif yang ada di kehidupan Lampu Merah, ada satumoment yang membuat kita jarang tahu & jarang peduli terhadap suasana diLampu Merah. Moment dimana kehidupan roda perekonomian di LampuMerah nan berputar deras dari hari ke hari. Karena secara langsung maupuntidak langsung, disana adalah salah satu pusat perekonomian masyarakat kelasmenengah kebawah pada umumnya tumbuh & berkembang.
  2. 2. Seakan semua manusia tua & muda berlomba lomba meraup pundi pundirupiah sedikit demi sedikit dengan dagangan yang ditawarkan. Ini adalah suatucerita nan sederhana dari kalangan bawah, yang menjadi titik mula harapan &mimpi dibangun kedepannya menjadi lebih baik atau lebih buruk mereka jugalahyang menentukan akhir cerita hidupnya.Walau terkadang mereka selalu dijadikan kambing hitam terhadap setiappermasalah yang ada di Lampu Merah, namun mereka tidak putus asa untukterus & terus mengais sesuap rejeki di Lampu Merah nan berdebu. Karena tidakada lagi tempat & solusi pasti yang mau menampung mereka untuk mencarinafkah dengan bebas selain di Lampu Merah.Alasan saya melakukan penelitian ini hanya untuk mengetahuimasyarakat menengah kebawah berprofesi sebagai penjual koran di lampumerah Ply Over Makassar dan lampu merah mall Panakkukang,
  3. 3. 1. Objek 1Fenomena Penjual Koran di Lampu merah Flay Over makassarAku menyaksikan seorang anak kecil yang mestinya berada dirumah untukbermain dan memperoleh kasih sayang dari orang tua serta bergaul dengan teman teman sebayanya, namun anak itu turun kejalanan menjual koran supaya bisamenyambung hidup. Boleh dikata mereka adalah petarung jalanan. Kehidupan kotabesar lebih ganas dibanding kehidupan dikampung, logika kehidupan kota; kalauseseorang kaya maka akan terus kaya tetapi kalau seseorang miskin akan terusmiskin. Pemerintah kota Makassar kurang perhatian terhadap derita anak jalananyang menjual koran dilampu merah flay over, kota Makassar termaksud terbaikdikawasan timur Indonesia ditinjau dari berdirinya gedung gedung pencakar langitdan pertumbuhan ekonomi yang pesat serta banyaknya investasi berbagai macamsektor.Mobil mobil mewah pemerintah Sulawesi Selatan terkhusus pemerintahkota Makassar selalu melintasi kawasan Flay over, seolah olah mereka tidak tidakmelihat anak anak penjual koran yang rata-rata berumur 7-12 tahun. Tidak hanyaitu banyak pengamen dan pengemis yang mangkal dilampu merah Flay over,sebagai rakyat biasa dikota Makassar merasa terguncang batin ketika melihatpetarung jalanan tersebut.Seharusnya pemerintah kota Makassar dan wakil rakyat yang prihatin terhadaprakyat miskin, jangan hanya ketika ada moment demokrasi berlomba lombaketempat kumuh warga miskin mencari simpati supaya dipilih. Mengharapkan
  4. 4. politisi melakukan perubahan merupakan harapan kosong, sebab profesipolitisi syarat kepentingan. Fenomena anak anak penjual koran di flay overmerupakan potret hitam pemerintah kota Makassar, kemajuan kota diukur dariseberapa kecil tingkat kemiskinan bukan seberapa banyak gedung gedungdibangun. Dan yang paling utama dibangun adalah manusianya, bukan gedungnya.Namun dikota Makassar dan kota kota lain yang diprioritaskan adalah gedung gedung mewahnya, inilah wajah Indonesia. Ditambah tebaran baliho - baliho yangmengumbar senyum manis terhadap rakyat terpampang di setiap sudut jaln raya dikota Makassar, namun sekali lagi saya ingin katakan; "percuma memasang balihodisetiap sudut jalan kota Makassar, kalau ternyata kemiskinan masih merajalela".Rambu-rambu lampu merah Flay over adalah pemberian isyarat lalu lintaskepada setiap pengendara kendaraan agar lebih tertib saat berkendara. Namun, dibalik simbol lampu merah yang memberhentikan setiap pengendara itu, terdapatsumber rezeki bagi penjual koran seperti Ardi, Riska, Nita, Awa dan seorang Nenekyang berusia 65 tahun yang tak lain adalah Nenek dari Riska dan Nita.Sengatan matahari pada Minggu(20 mei)seakan tidak terasa oleh Ardi, bocahsepuluh tahun yang bekerja sebagai penjual koran. Baginya yang terpenting adalahbagaimana dapat menawarkan koran demi koran kepada setiap pengendara yangberhenti di lampu merah flay over. Anak yang tidak lagi mengecam pendidikan ini,setiap harinya membawa puluhan koran dengan kedua tangannya, tangan sebelahkanan penuh dengan tumpukan koran, dan tangan kiri memegang satu koran yangdisodorkan kepada pengendara. Sudah 3 tahun dia menjual koran di lampu merahFlay over. Bersama dengan teman-teman sebayanya, ia menaruh harapan kepadasetiap pengendara agar kiranya membeli koran yang dibawa. Setiap hari iaberjualan koran mulai pukul 11.00 sampai pukul 15.00. Ia mampu menghabiskan
  5. 5. lebih dari 20 eksemplar koran. Ardi mendapatkan penghasilan Rp 500 per eksemplarkoran. Jika ditotalkan perharinya Ardi yang harus bekerja untuk membantuorangtuanya itu mendapatkan penghasilan Rp 20.000 dan bahkan lebih dari itu.Pendapatannya tidak tetap, biasa dapat banyak, biasa dapat sedikit, katanya.Pekerjaan ini dilakukan untuk membantu orang tua, menurutnya penghasilanorang tuanya belum mencukupi kebutuhan keluarga, Bapaknya bekerja sebagaitukang becak dan Ibunya sedang sakit terkena penyakit diabetes. Jadi tiap hariArdi mampu melawan kekejaman hidup hanya untuk satu tujuan yaitu mencariuang untuk hidup 1 hari. Walaupun yang didapat sedikit namun mereka tetapbersyukur dan tak mengenal kata putus asa untuk kembali berjuang pada hari -hariselanjutnya.Lain cerita dengan Nenek yang berumur 65 tahun, Nenek itu mulai jual koransejak kemematian suaminya sejak tahun 2000, harga koran saat itu Rp 100 pereksemplar hingga sekarang tahun 2012 dengan harga Rp 2000,- . keuntungan yangdidapat yaitu Rp 5000 Rp 10.000 sehari. Hasil penjual koran digunakan untukmembeli beras 1 liter per hari. Nenek itu hidup bersama anak dan cucunya, merekasampai Pukul 22.00 WITA dan ditemani oleh kedua cucunya yaitu Nita dan Riska.Riska sekarang sudah berumur 9 tahun dan duduk dibangku kelas 3 sd.Riska anak pertama dari 4 bersaudara. Sedangkan Nita anak kedua yang berumur 8tahun. Riska dan Nita sekolah di sekolah di salah satu SD negeri di Makassar. DIsekolah Riska tergolong anak cerdas karena di kelas 1- kelas 3 Dia mampumemperoleh peringkat 1 dikelasnya. Riska dan Nita mendapat keuntungan Rp 8000 Rp 10.000 perharinya. Saat pulang sekolah, mereka istrahat dan sekitar jam 16.00WITA Dia pun berangkat ke Flay Over bersama Neneknya. Awalnya, Riska dan Nita
  6. 6. dilarang oleh kedua orang tuanya untuk menjual koran dengan alasan pelajaran disekolah terganggu, namun lama-kelamaan orang tua Nita dan Riska setuju untukmemperbolekan Riska dan Nita menjual koran di Flay Over saat pulang sekolah tapidengan syarat belajar saat pulang dari menjual koran. Desakan ekonomi pulamereka harus menjual koran, sebagaimana dikatakan oleh Riska bahwa Bapaknyahanya kerja sebagai tukang cuci motor di sebuah bengkel sedangkan ibunya tinggaldi rumah mengurus anaknya yang masih kecil. Jadi total pendapatan Riska, Nita danNeneknya setiap harinya adalah Rp 15.000 sampai Rp 25.000 sehari. Kata Riska,dia membeli beras 1 liter perhari dan Neneknya pun 1 liter perhari untuk dimakanbersama 1 keluarga.Penghasilan yang didapat dari penjualan koran tidak semuanya dipakai,sebagian dikasih orang tuanya untuk jajan, sebagian lagi ditabung. Menurutnya,sejak awal berjualan koran, penghasilan yang didapat di tabung yang nantinya akandigunakan sebagai biaya untuk meneruskan pendidikan yang lebih tinggi. Untukmembeli buku tulis dan seragam sekolah dia mendapat tambahan dari Bapaknya.Kata Nenek Nita, kalau koran banyak tidak laku, mereka tidak makan malam,menahan perihnya kelaparan untuk usia lanjut seperti Nenek Nita sangat susah olehkarenanya mereka selalu berbekal air dari rumah. Kalau koran banyak yang laku,Riska,Nita dan Neneknya membeli nasi harga Rp 3000,- dan tempe Rp 2000,-untuk makan malam bersama di Flay Over. Kegiatan itulah Yang dilakukan olehRiska dan Nita sepulang sekolah. Terkadang mereka malu setiap ada teman ataugurunya yang lewat di Flay over, namun mereka berusaha untuk tersenyum.
  7. 7. Cerita lain datang dari Awa yang berusia 12 tahun, menurut keterangandarinya, dia masih sekolah kelas 5 SD, Awa menjual koran sejak 3 tahun yang lalu.Dia memutuskan untuk menjadi seorang loper koran untuk memenuhi kebutuhansekolah dan untuk makan. Pendapatan Awa perharinya tidak menentu, tergantunghari dan waktu, biasanya dia mendapatkan Rp 8000 hingga Rp 10.000 perhari.Mereka mendapatkan uang lebih banyak pada hari sabtu dan minggu sore. Hargakoran per eksamplaradalah Rp 2000,- tapi kadang-kadang ada yang memberi uangRp 5000,- dan menolak mengambil kembaliannya.Sisa beli beras perharinya, Awa tabung untuk keperluan sekolah yang kadangmendadak. Awa memiliki saudara 7 orang. Ayahnya sudah menikah sedangkanibunya lumpuh. Awa sekarang tulang punggung keluarganya bersama kakaknyayang juga berprofesi sebagai pengamen.Banyak suka duka yang mereka alami selama menjadi loper koran di FlayOver. Sukanya karena mereka bisa mencari uang sendiri dan mengurangi bebanekonomi k

Click here to load reader

Embed Size (px)
Recommended